• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1.2 . Titik Sounding Desa Bantal 2

IV.1.13. Titik Sounding Desa Gudang

Lokasi titik sounding Desa Gudang pada posisi 70 44’11,42’’ LS dan 1140

13’ 8,58’’ BT. Lokasi titik sounding di jalan desa yang sampingnya berupa parit dan rumah penduduk. Hasil pengolah data titik sounding Desa Gudang disajikan pada Gambar 4.13.:

commit to user 1000 AB/2 100 100 10 10 1

Gambar 4.13 Kurva Resistivitas Batuan terhadap Kedalaman di Titik Sounding Desa Gudang

Hasil inversi data sounding Desa Gudang diperoleh informasi lima lapisan batuan, yaitu:

a. Lapisan 1 memiliki resistivitas 13 Ωm berada pada kedalaman 1,10 m

ditafsirkan sebagai batu pasir tufan.

b. Lapisan 2 memiliki resistivitas 60 Ωm berada pada kedalaman 2,69 m

ditafsirkan sebagai batu pasir.

c. Lapisan 3 memiliki resistivitas 4,95 Ωm berada pada kedalaman 3,46 m

ditafsirkan sebagai batu pasir.

d. Lapisan 4 memiliki resistivitas 10,30 Ωm berada pada kedalaman 55,6 m

ditafsirkan sebagai batu pasir tufan.

e. Lapisan 5 memiliki resistivitas 15,90 Ωm berada pada kedalaman 181 m

ditafsirkan sebagai batu pasir.

Hasil sounding Desa Gudang diperoleh rentang resistivitas 4,95-60,00 Ωm

dan kedalaman maksimum lapisan batuan terukur 181 m. Lapisan batuan

didominasi oleh batu pasir dengan resistivitas 15,90 Ωm. Secara geokimia, air

sumur bor di Desa Sumberejo (sebelah timur titik sounding Desa Gudang) berada pada lapisan batu pasir dengan kedalaman diatas 100 m terindikasi mengalami

Kedalaman (m)

commit to user

2,30 mg/kg (Sri sumarti, 1998). Hal inimenunjukkan bahwa lapisan batu pasir di Desa Gudang pada kedalaman 55,60-181,00 m terindikasi mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen.

Dari uraian hasil 13titik sounding di Kecamatan Asembagus, kecamatan

Jangkar, dan Kecamatan Banyuputih diperoleh rentang resistivitas 1,28 Ωm –

826,00 Ωm. Kedalaman maksimum terukur 196,30 m di Desa Perante. Secara regional kawasan penelitian didominasi oleh batu pasar dengan ketebalan maksimum 125,4m. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Daerah Asembagus, Jangkar dan Banyuputih tercemar oleh air Kawah Ijen yang diindikasikan olah kadar F yang tinggi pada air sumur warga. Berdasarkan hasil survei geolistrik diperoleh 12 titik sounding mengalami pencemaran elemen-elemen berbahaya Kawah Ijen pada kedalaman diatas 15 m.

Pada peneliatian ini, titik sounding Jangkar dipilih sebagai referensi karena air sumur di wilayah Jangkar netral dan tidak terkontaminasi ole air Kawah Ijen. Hal ini didukung penelitian geokimia pada air sumur bor di Jangkar tidak mengandung elemen-elemen berbahaya Kawah Ijen.

commit to user

Hasil penelitian geolistrik berupa nilai resistivitas batuan dan kedalaman lapisan batuan di bandingkan dengan data kedalaman sumur penduduk dan kadar F disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Tabel Resistivitas batuan dengan Sumur Penduduk di Area Irigasi Titik sounding Lokasi Kedalaman sumur (m) F (mg/Kg) Resistivitas (Ωm) batu pasir Kedalaman lapisan (m) TS 1 Perante 30-40 2,50 N5 31 29,01-196,30 TS 2 Bantal II 30-40 2,20 N4 23 4,65-169 TS 3 Awar-Awar I 30-40 3,50 N1 1,28 N4 8,96 N6 2,00 0-1,02 1,91-30,8 60,80-132 TS 4 Bantal III 30-40 2,20 N6 14,20 38,80- 91, TS 5 Awar-Awar II 30-40 3,50 N4 18,90 21,20-178 TS 6 Randu Agung 30-40 3,0 N6 9,71 30,70-138 TS 7 Trigonco I 30-40 3,50 N2 45,31 N4 9,59 1,09-5,70 56,50-87,90 TS 8 Trigonco II 30-40 3,50 N5 17,60 13,10-155 TS 9 Wringin Anom 20-30 2,60 N3 21,90 N4 1,95 2,73-29,20 46,50-122 TS 10 Jangkar (netral) >8 0 N4 65,60 40,40-88,30 TS 11 Sopet 30-40 0,50 N5 43,10 27-100 TS 12 Mojosari 20-40 0,50 N2 12,90 4,12 -25,20 TS 13 Gudang 2,6 2,60 N2 4,95 N5 15,90 2,69-3,46 55,60-181 Sumur bor di Desa

Sumberejo

100-200 m 2,30

commit to user

mengalami pencemaran elmenen-elemen Kawah Ijen memiliki rentang antara

1,28-43,10 Ωm sedangkan resistivitas di Jangkar (referensi) 65,60 Ωm.

Berdasarkan nilai resistivitas di 12 titik sounding dan resistivitas di Jangkar (netral) diketahui bahwa nilai resistivitas di daerah yang tercemar lebih rendah dibandingkan nilai resistivitas di daerah netral (Jangkar). Oleh karena itu

resistivitas batu pasir di bawah 65,60 Ωm terindikasi mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen.

Berdasarkan penelitian terdahulu diketahui bahwa air sumur di 12 titik sounding mengandung elemen-elemen Kawah Ijen berdasarkan kandungan F di dalamnya. Kandungan F pada air sumur warga berkisar antara 0,5-3,5 mg/kg. Berdasarkan WHO, kandungan F yang diperbolehkan dalam air sumur adalah 1,5 mg/kg. Sehingga daerah dengan F diatas 1,5 mg/kg diindikasikan mengalami pencemaran. Berdasarkan tabel 4.1. daerah yang mengalami pencemaran adalah Perante, Bantal, Awar-Awar, Trigonco, Randu Agung, Wringin Anom dan

Gudang dengan resistivitas batu pasir di daerah tersebut berkisar 1,28-31 Ωm.

Daerah yang mengalami pencemaran sebagian adalah Mojosari dan Sopet dengan

resistivitas batu pasir ~ 40 Ωm. Daerah yang tidak terindikasi mengalami

pencemaran adalah Jangkar.

Pencemaran yang terjadi di daerah penelitian berada pada lapisan batu pasir, yang memiliki porositas sedang dan permeabilitas yang tinggi. Oleh karena itu fluida pada lapisan batu pasir akan mudah bergerak dan meresap. Berdasarkan data korelasi sumur diketahui lapisan batu pasir yang terindikasi mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen berada pada lapisan tanah yang dalam. Namun pada lapisan atas juga terdapat lapisan batu pasir dengan resistivitas di

bawah 65,6 Ωm. Sehingga pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen bisa terjadi di lapisan tanah atas maupun lapisan tanah bawah. Sumber pencemaran untuk masing-masing lapisan berasal dari elemen-elemen Kawah Ijen yang di bawa oleh air irigasi Sungai Banyuputih dan air Sungai Bayuputih. Karena Sungai

commit to user

tanah yang lebih dalam karena adanya gaya grafitasi. Sehingga pencemaran pada lapisan yang dalam secara umum disebabkan karena air Sungai Banyuputih. Pencemaran lapisan yang dalam secara umum terjadi pada lapisan 10 m lebih. Pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen pada lapisan tanah atas dipengaruhi oleh air irigasi dari Sungai Banyuputih dan secara umum terjadi pada kedalaman ~ 1-9 m. Daerah yang mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen karena air Sungai Banyuputih adalah Randu Agung dan Bantal 2. Daerah yang terindikasi mengalami pencemaran karena air irigasi dan air Sungai Banyuputih adalah Perante, Awar-Awar 1 dan 2, Bantal 2, Trigonco 1 dan 2, Wringin Anom, Sopet, Mojosari dan Gudang.

Dalam penelitian ini diketahui tidak semua lapisan batuan dari permukaan hingga lapisan yang dalam tercemari oleh elemen-elemen Kawah Ijen. Pada kedalaman tertentu menunjukkan bahwa pada lapisan tersebut tidak mengalami pencemaran. Hal ini dikarenakan pada lapisan yang tercemar dibatasi oleh jenis batuan pasir tufaan yang bersifat kurang porus dan permeabilitas yang rendah sehingga fluida hanya akan tertampung pada lapisan tersebut dan kemungkinan merembes ke lapisan di bawahnya sangat kecil.

Berdasarkan penelitian terdahulu dan hasil survei geolistrik, diketahui daerah yang mengalami pencemaran hingga kedalaman diatas 100 m adalah Perante, Bantal 2, Awar-Awar 1 dan 2, Randu Agung, Trigonco 2, Wringin Anom dan Gudang. Daerah-daerah tersebut mengalami pencemaran hingga lapisan tanah yang dalam dikarenakan lapisan batu pasir di daerah tersebut berada pada kedalaman di atas 10 m dan memiliki ketebalan hingga lebih dari 30 m.

commit to user 10 m 20 m 30 m 80 m 50 m 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 U

Nilai resistivitas hasil sounding dan posisi serta kedalaman dari titik sounding diplot dengan menggunakan software surfer. Hasil pengeplotan disajikan pada Gambar 4.14.

Gambar 4.14. Peta kontur resistivitas terhadap Kedalaman

commit to user

warna kontur yang gelap. Untuk warna kontur terang menunjukkan resistivitas yang tinggi.

Berdasarkan peta kontur resistivitas, penampang geologi pada kedalaman 10 m menunjukkan bahwa semakin ke selatan resistivitas batuan semakin mengecil hal ini dikarenakan semakin ke selatan dari daerah telitian, wilayah tersebut dekat dengan Sungai Banyuputih dan dam dari Sungai Banyuputih sehingga pengaruh air Sungai Banyuputih di daerah bagian selatan telitian lebih besar di bandingkan daerah utara telitian. Pada kedalaman 10 m, daerah telitian yang terindikasi mengalami pencemaran elemen Kawah Ijen adalah Awar-Awar I, Trigonco II, Bantal II, Wringin Anom, dan Mojosari dengan resistivitas batuan

8,96-23,00 Ωm.

Untuk kedalaman 20 meter terlihat penampang geologi di kedalaman ini hampir sama dengan penampang geologi pada kedalaman 10,00 m. Pada kedalaman 20,00 m terlihat beberapa daerah telitian dan daerah di bagian utara dan barat dari daerah telitian mengalami penurunan resistivitas. Hal ini dikarenakan pada kedalaman 20,00 m hampir seluruh regional didominasi batuan pasir tufaan yang menyebabkan air irigasi dari Sungai Banyuputih sulit untuk merembes ke dalam lapisan tanah, sehingga air irigasi hanya mencemari di permukaan saja. Daerah telitian yang terkontaminasi elemen-elemen Kawah Ijen pada kedalaman 20,00 m adalah Bantal II, Awar-Awar I, Wringin Anom, Trigonco II, dan Mojosari dengan resistivitas batuan di aerah tersebut adalah

8,96-23,00 Ωm.

Penampang geologi dari barat ke timur pada kedalaman 30 m menunjukkan bahwa hampir seluruh regional memiliki nilai resistivitas yang rendah. Dengan resistivitas yang rendah menunjukkan bahwa hampir semua regional mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen. Hal ini didukung

commit to user

yang terindikasi mengalami pencemaran berada pada rentang 9,71 – 43,10 Ωm.

Untuk penampang pada kedalaman 50 m menunjukkan resistivitas rendah berada di selatan dan Barat dari daerah telitian daerah telitian, sedangkan daerah di sekitar lokasi telitian, nilai resistivitas hampir tidak mengalami perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin dalam lapisan tanah, regional daerah yang terindikasi mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen semakin sedikit, pada peta kontur resistivitas ditunjukkan di daerah-daerah telitian saja. Hal ini dikarenakan elemen-elemen Kawah Ijen yang mencemari lapisan tanah dalam dan air tanah dibawa oleh air Sungai Banyuputih. Air Sungai Banyuputih meresap kedalam lapisan tanah melalui lapisan batu pasir dan bergerak melalui pori-pori batuan yang ada di dalam batuan tersebut. Sehingga air Sungai Banyuputih akan mencemari lapisan batuan yang sama dalam hal ini adalah batu pasir. Pada kedalaman 50 m banyak didominasi oleh batuan pasir tufaan sedangkan batu pasir hanya berada disekitar daerah telitian, sehingga untuk daerah telitian mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen yang dibawa oleh Sungai Banyuputih,. Daerah telitian yang terindikasi mengalami pencemaran pada kedalaman 50 m adalah Perante, Bantal 2, Bantal 3, Awar-Awar 2, Randu Agung, Trigonco 2 dan Sopet. Pada kedalaman 50 m resistivitas batuan yang mengalmi pencemaran

elemen-elemen Kawah Ijen berada pada rentang 9,71-43,1 Ωm.

Pada kedalaman 80 m menunjukkan bahwa resistivitas batuan di regional bagian barat, barat daya dan utara dari daerah telitian mengalami peningkatan resistivitas, sehingga untuk daerah di bagian barat dan barat daya dari daerah telitian pada kedalaman 80 m hampir tidak mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen. Pencemaran elemen-elemen-elemen-elemen Kawah Ijen masih terkonsentrasi di daerah telitian dan regional sebelah selatan dari daearah telitian. Daerah-daerah telsitian yang terindikasi mengalami pencemaran elemen Kawah Ijen adalah Perante, Bantal 2, Awar-Awar 1, Bantal 3, Awar-Awar 2, Randu Agung, Trigonco 1, Trigonco 2, Sopet dan Gudang. Resistivitas batuan pada kedalaman 80 m yang terindikasi mengalami pencemaran elemen-elemen kawah Ijen adalah 2-43,10 m.

commit to user

pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen dengan konsentrasi yang tinggi adalah Awar-Awar I. Hal ini ditunjukkan dengan resistivitas batuan pada kedalaman 80

m di daerah Awar-Awar adalah 2 Ωm.

Hasil pendugaan geolistrik menunjukkan bahwa pola penyebaran pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen dari selatan ke utara mengalami penurunan pada kedalaman 10-20 m. Pada kedalaman 10-20 m daerah telitian di sebelah selatan masuk dalam daerah yang terindikasi mengalami pencemaran. Pencemaran yang terjadi di permukaan hingga kedalaman 10 m, disebabkan karena air irigasi. Selanjutnya pola pencemaran mengalami perluasan hingga merata ke seluruh daerah regional pada kedalaman 30 m. Karena pada kedalaman 30 m, daerah regional didominasi oleh lapisan batu pasir yang membawa elemen-elemen Kawah Ijen dari Sungai Banyuputih. Sifat dari batu pasir yang porus dan memiliki sifat permeabilitas 10,42-187,5 cm/jam sehingga fluida dari air Sungai Banyuputih akan mudah terdistribusi keseluruh daerah yang tercakup di regional termasuk di dalamnya daerah telitian. Pada kedalaman 50 m pola penyebaran pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen mulai menyempit yang mencakup sebagian daerah teltian bagian selatan dan timur. Untuk wilayah regional di sebelah barat mengalami penurunan tingkat pencemaran, hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan resistivitas di daerah bagian barat termasuk di dalamnya daerah telitian yaitu Desa Mojosari.

Semakin dalam lapisan tanah menunjukkan pola penyebaran pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen dari timur ke barat mengalami penurunan yang diunjukkan dengan peningkatan resistivitas di beberapa daerah regional di sebelah barat. Daerah regional bagian selatan yang mencakup daerah telitian yaitu Desa Bantal, Awar-Awar, Randu Agung, Trigonco, dan Perante hampir di setiap kedalaman menunjukkan pola penyebaran pencemaran yang relatif sama, sehingga pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen yang dibawa oleh air Sungai Banyuputih banyak terjadi di regional selatan.

commit to user

commit to user

SIMPULAN

Dari hasil penelitian berdasarkan survey geolistrik di Kecamatan Asembagus, Jangkar dan Banyuputih diperoleh nilai resistivitas batuan antara

1,28 Ωm – 826,00 Ωm.. Titik Sounding Jangkar memiliki resistivitas batu pasir

65,6 Ωm digunakan sebagai referensi. Nilai resistivitas lebih rendah dibandingakan resistivitas di Jangkar menunjukkan daerah tersebut tercemar.

Hasil pemetaan resistivitas menunjukkan pola resistivitas pada kedalaman 20-30 m secara regional memiliki resistivitas yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut tercemar air Kawah Ijen. Desa Trigonco, Awar-Awar dan Wringin Anom terindikasi mengalami pencemaran yang signifikan dengan

resistivitas batu pasir pada kedalaman tersebut di bawah 10 Ωm.

Berdasarkan interpresi data sounding daerah yang mengalami pencemaran elemen-elemen Kawah Ijen karena air Sungai Banyuputih adalah Randu Agung dan Bantal 2. Daerah yang terindikasi mengalami pencemaran karena air irigasi dan air Sungai Banyuputih adalah Perante, Awar-Awar 1 dan 2, Bantal 2, Trigonco 1 dan 2, Wringin Anom, Sopet, Mojosari dan Gudang.

Dokumen terkait