• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Tokoh dan Penokohan

Sama halnya dengan plot dan latar, tokoh dan penokohan juga merupakan unsur penting dalam sebuah karya sastra. Tokoh cerita (character), menurut Abrams (dalam Burhan Nurgiantoro, 1995 : 165) adalah orang(-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Menurut Burhan Nurgiantoro (1995 : 165) istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya sebagai jawab

terhadap pertanyaan : “siapakah tokoh utama novel itu?”, atau “ada

berapa jumlah pelaku novel itu?”, atau “siapakah tokoh protagonis dan antagonis dan antagonis dalam novel itu?”. Sedangkan watak,

perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang telah ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh.

Jones (dalam Burhan Nurgiantoro, 1995 : 165) menyatakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah orang yang ada dalam sebuah cerita naratif, sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran watak dari seorang tokoh dalam sebuah cerita naratif atau karya sastra.

a) Pembedaan Tokoh

1. Tokoh utama dan tokoh tambahan

Dilihat dari segi peranan pembedaan tokoh dibagi menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh yang disebut pertama adalah tokoh utama cerita (central character, main character), sedangkan yang kedua adalah tokoh tambahan (peripheral character). Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Ia sangat mempengaruhi perkembangan plot secara keseluruhan. Di pihak lain, pemunculan tokoh-tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita hanya sedikit, tidak

13

dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitan dengan tokoh utama.n Tokoh utama adalah yang dibuat sinopsisnya, yaitu dalam kegiatan pembuatan sinopsis, sedangkan tokoh tambahan biasanya diabaikan.

Pembedaan antara tokoh utama dan tokoh tambahan tak dapat dilakukan secara eksak. Pembedaan itu lebih bersifat gradasi, kadar keutamaan tokoh itu bertingkat : tokoh utama (yang) utama, utama tambahan, tokoh tambahan utama, tambahan (yang memang) tambahan.

b) Teknik penulisan Tokoh a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori, yang sering juga disebut sebagai teknik analitis, pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan cerita fiksinya. Pengarang tidak hanya memperkenalkan latar dan suasana dalam rangka

“menyituasikan” pembaca, melainkan juga data-data kedirian tokoh cerita. Dalam hal ini, pengarang harus mempertahankan konsistensi tentang jatio diri tokoh tersebut yang artinya tokoh

tak dibiarkan berkembang keluar jalur sehingga sikap dan tingkah lakunya tetap mencerminkan kediriannya.

Deskripsi kedirian tokoh yang dilakukan secara langsung oleh pengarang akan berwujud penuturan yang bersifat deskriptif pula. Hal inilah yang menyebabkan pembaca akan dengan mudah memahami kedirian tokoh tanpa harus menafsirkan sendiri dengan kemungkinan kurang tepat.

b. Teknik Dramatik

Penampilan tokoh cerita dalam teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan pada drama, dilakukan secara tidak langsung. Artinya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verballewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi. Berhubung sifat kedirian tokoh tidak dideskripsikan secara jelas dan lengkap, ia akan hadir kepada pembaca secara sepotong-sepotong dan tidak sekaligus.

Penampilan tokoh secara dramatik dapat dilakukan dengan sejumlah teknik, yaitu : 1) teknik cakapan, 2) teknik tingkah laku, 3) teknik pikiran dan perasaan, 4) tekniuk arus kesadaran,

15

5) teknik reaksi tokoh, 6) teknik reaksi tokoh lain, 7) teknik pelukisan latar dan, 8) teknik pelukisan fisik.

2.2.2 Latar

Tahap awal karya fiksi pada umumnya berisi penyituasian, pengenalan terhadap berbagai hal yang akan diceritakan. Misalnya, pengenalan tokoh, pelukisan keadaan alam, lingkungan, suasana tempat, mungkin juga hubungan waktu, san lain-lain yang dapat menuntun pembaca secara emosional kepada situasi cerita. Tahap awal suatu karya pada umumnya berupa pengenalan, pelukisan atau penunjukan latar (Burhan Nurgiantoro, 1995 : 217).

Abrams (dalam Burhan Nurgiantoro, 1995 : 216) latar atau seting yang disebut juga landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Nurgiantoro (1995 : 227) membedakan unsur latar ke dalam tiga unsur pokok, di antaranya adalah:

1) Latar tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak bertentangan dengan , sifat, dan kadaan geografis

tempat yang bersangkutan. Tempat menjadi sesuatu yang bersifat khas, tipikal, dan fungsional.

2) Latar waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan”

terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan dngan waktu faktual, waktu yang ada kaitanya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.

3) Latar sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istidat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spritual seperti yang dikemukakan sebelumnya.

Sudjiman (1988 : 44) dalam bukunya Memahami Cerita Rekaan mengungkapkan bahwa, peristiwa-peristiwa di dalam cerita itulah terjadi pada suatu waktu atau di dalam suatu rentang tertentu dan pada suatu tempat tertentu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang,

17

dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya membangun suatu cerita.

2.2.3 Tema

Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiantoro, 2009 : 68) menyatakan bahwa, tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur sematis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedan-perbedaan.

Tema menjadi dasar pengembangan sebuah cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas, dan abstrak. Dengan demikian, tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel. Gagasan dasar umum yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Dengan kata lain, cerita tentunya akan “setia”

mengikuti gagasan dasar umum yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga berbagai peristiwa-konflik dan pemilihan berbagai unsur intrinsik yang lain seperti penokohan, pelataran, dan penyudutpandangan diusahakan mencerminkan gagasan dasar umum tersebut (Burhan Nurgiantoro, 2009 : 68 – 69).

Dokumen terkait