TINJAUAN PUSTAKA
2.10 Toksisitas dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)
Toksisitas adalah tingkat merusaknya suatu zat jika dipaparkan terhadap organisme. Toksisitas dapat mengacu pada dampak terhadap seluruh organisme, seperti hewan, bakteri, atau tumbuhan, dan efek terhadap substruktur organisme.
seperti sel (sitotoksisitas) atau organ tubuh seperti hati (hepatotoksisitas).
Metode Brine Shrimp Letality Test (BSLT) Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan toksisitas adalah metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), dengan menggunakan cara Meyer. Metode dilakukan dengan mengamati tingkat mortalitas larva udang Artemia salina Leach yang disebabkan oleh ekstrak uji. Hasil yang diperoleh dihitung sebagai nilai LC50 (Lethal Concentration) ekstrak uji, yaitu jumlah dosis atau konsentrasi ekstrak yang dapat menyebabkan kematian larva udang sejumlah 50% setelah masa inkubasi 24 jam.
2.11 Antibakteri
Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme (Sulistyo, 1971).
Menurut Madigan, et al (2000), berdasarkan sifat toksisitas selektifnya, senyawa antimikrobia mempunyai 3 macam efek terhadap pertumbuhan mikrobia yaitu:
1. Bakteriostatik memberikan efek dengan cara menghambat pertumbuhan tetapi tidak membunuh. Senyawa bakterostatik seringkali menghambat sintesis protein atau mengikat ribosom. Hal ini ditunjukkan dengan
penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total maupun jumlah sel hidup adalah tetap.
2. Bakteriosidal memberikan efek dengan cara membunuh sel tetapi tidak terjadi lisis sel atau pecah sel. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik.
Setelah penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total tetap sedangkan jumlah sel hidup menurun.
3. Bakteriolitik menyebabkan sel menjadi lisis atau pecah sel sehingga jumlah sel berkurang atau terjadi kekeruhan setelah penambahan antimikrobia. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik, jumlah sel total maupun jumlah sel hidup menurun. Mekanisme penghambatan antibakteri dapat dikelompokkan menjadi lima, Sata menghambat sintesis dinding sel mikrobia, merusak keutuhan dinding sel
Mikrobia, menghambat sintesis protein sel mikrobia, menghambat sintesis asam nukleat, dan merusak asam nukleat sel mikrobia (Sulistyo, 1971).
Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan metode difusi dan metode pengenceran. Disc diffusion test atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur diameter zona bening (clear zone) yang merupakan petunjuk adanya respon penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu senyawa antibakteri dalam ekstrak.
Syarat jumlah bakteri untuk uji kepekaan/sensitivitas yaitu 105-108 CFU/ml.
Daya antimikrobia diukur secara in vitro agar dapat ditentukan kemampuan suatu zat antimikrobia. Adanya fenomena ketahanan tumbuhan secara alami terhadap mikrobia menyebabkan pengembangan sejumlah senyawa yang berasal dari tanaman yang mempunyai kandungan antibakteri dan antifungi (Jawetz, 2001).
Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan.
Metode difusi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu metode silinder, metode lubang/sumuran dan metode cakram kertas. Metode lubang/sumuran yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri. Jumlah
dan letak lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian lubang diinjeksikan dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan inkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling lubang.
2.12 Antioksidan
Antioksidan merupakan molekul penting pada suatu senyawa yang berfungsi untuk meredam efek radikal bebas yang dapat menyebabkan munculnya penyakit degenerative di dalam tubuh. Reaksi radikal bebas dapat dihambat oleh senyawaan yang mengandung antioksidan dan perlu dilakukan pengujian aktivitasnya dalam menghambat radikal bebas.
Metode yang paling sering digunakan pada antioksidan adalah metode DPPH (2,2-diphenil 1-pichrylhidrazyl) yang bertujuan untuk mengetahui efek aktivitas antioksidan sebesar 50% atau biasa disebut IC50. Menurut Prakash (2001) metode DPPH merupakan metode yang mudah, cepat dan sensitive untuk pengujian aktivitas antioksidan senyawa atau ekstrak tanaman. Radikal bebas dapat terbentuk dari sebuah proses yang tak terelakkan dan berkesinambungan, yang dihasilkan dari metabolisme normal.
2.13 FTIR (Fourier Transformn Infra Red (FTIR)
Alasan suatu senyawa atau molekul diuji menggunakan FT-IR adalah karena senyawa atau molekul tersebut mampu menyerap radiasi inframerah yaitu yang terletak padapanjang gelombang 10-6- 10-4 nm. Spectrum serapan inframerah suatu material mempunyai pola khas, sehingga berguna untuk identifikasi material dan identifikasi keberadaan gugus-gugus fungsi yang ada.
Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu pada panjang gelombang 2,5-50 m atau bilangan gelombang 4000 - 200 cm-1 (Sagala, 2013).
Komponen dasar spektrofotometer IR sama dengan UV tampak, tetapi sumber detektor dan komponen optiknya sedikit berbeda. Mula-mula sinar infra marah di lewatkan melaui sampel dan larutan pambanding kemudian di laewatkan
pada monokromator untuk menghilangkan sinar yang tidak diinginkan. Berkas ini kemudian dididspersikan melalui prisma.
Alat IR biasanya dapat merekam sendiri absorbansinya. Temperatur dan kelembaban juga harus di atur yaitu maksimum 50% dan apabial melebihi batas tersebut maka menbuat permukaan prisma dan sel alkali halida menjadi suram.
Sumber radiasi yang sering digunakan adalah Nernest atau lampu Glower yang di buat dari oksida-oksida zirkonium dan natrium, berupa batang berongga dengan diameter 2 mm dan panjang 30 mm. Batang ini di panaskan sampai suhu 1500-2000 °C dan akan memberikan radiasi diatas 7000 cm. Sumber Glower juga di gunkan dalam instrumen dengan absorbansi sekitar 5200 cm.
Monokromator yang di gunakkan dalam infra merah terbuat dari berbagai macam bahan antara lain gelas, lelehan silika, LiF, CaF2, BaF2,NaCl, AgCl, KBr, Csl. Tetapi pada ummnya prisma NaCl di gunakan untuk daerah 4000-6000cm”
dan prisma Kbr untuk 400 cm. Untuk detektor dalam infra merah digunakan detektor termal. Di antara detektor termal, termokopellah yang banyak di gunakan. Bolometer memberikan sinyal listrik sebagai hasil perubahan dalam tahanan konduktor metal dengan temperatur.
Untuk intrumen yang di gunakan umumnya ada 2 macam intrumen yaitu untuk analisis kuantitatif dan untuk analisis kualitatif. Karena kompleksnya spektrum IR maka di gunakan recorder. Umunya alat IR digunaka berkas ganda yang di rancang lebih sederhana drai pada berkas tunggal. Dalam semua instrumen selalu ada chopper frekuensi rendah untuk menyesuaikan output sumber. Rancangan optisnya mirip denga spektrofotometer UV-tampak kecuali tempat sampel dan pembandingan di tempatkan di antara sumber dan monokromator untuk menghamburkan sinar yang berasal dari sampel dan untuk mencegah terjadinya penguraian secara fotokimia. Sumber sinar dibagi menjadi dua berkas, satu dilewatkan pada sampel dan yang satu melewati pembanding, kemudain secara berturt-turut melewati attenuator dan chopper. Setelah melalui prisma, berkas jatuh pad detektor dan di ubah menjadi sinyal listrik yang di rekam oleh recorder. Kadang-kadang diperlukan amplifier bila sinyal lemah. Pada pengukuran kuantitatif model berkas ganda kurang begitu memuaskan karena
banyak ganguan dari sirkuit elektronik dan pengaturan titik nol besar sehinngga menyebabkan kesalahan.