• Tidak ada hasil yang ditemukan

Toksisitas Merkuri dan Sianida dalam Kerang

TINJAUAN PUSTAKA

3. Toksisitas Merkuri dan Sianida dalam Kerang

perairan menyebabkan toksisitas bahan pencemar semakin besar, sedangkan peningkatan suhu menyebabkan toksisitas bahan pencemar juga meningkat. Arus permukaan perairan berpengaruh terhadap akumulasi bahan pencemar, semakin tinggi kecepatan arus maka akumulasinya pada sedimen akan semakin kecil (Anggraeny, 2010).

pada akhrinya akan menurunkan populasi kerang pada daerah tercemar (Palar, 2012).

Perubahan macam taksa maupun kelimpahan makrozoobentos (termasuk kerang) merupakan respon dari sensitivitas makrozoobentos dalam mencerminkan kondisi kualitas lingkungan perairan terhadap gangguan, misalnya pencemaran. Indeks keanekaragaman menggabungkan informasi jumlah taksa, kelimpahan, maupun kemerataannya. Oleh sebab itu indeks tersebut dapat digunakan sebagai indikator dalam mencerminkan gangguan di ekosistem perairan.

Sekilas tampak terjadi perubahan nilai indeks keanekaragaman mengikuti besarnya kontaminasi bahan pencemar di sedimen. Semakin tinggi nilai indeks menunjukkan kontaminasi bahan pencemar cenderung menurun (Jalius dkk., 2008).

Penelitian yang dilakukan di Perairan Teluk Jakarta pada tahun 2011 menunjukkan adanya bioakumulasi merkuri di perairan tersebut yang berdampak pada kerang hijau. Konsentrasi merkuri pada kerang hijau sebesar 88,89 µg/g. Jumlah ini terakumulasi dalam organ hepatopankreas kerang hijau. Dalam tubuh kerang, bahan pencemar akan mengalami biotransformasi dalam sel kerang, sehingga menyebabkan terjadinya mutasi gen. Keberadaan bahan-bahan pencemar juga mengakibatkan terjadinya kerusakan pada DNA dan mempengaruhi transkripsi DNA. Pada kerang, bahan pencemar juga dapat menyebabkan perubahan susunan gen-gen pada kromosom dan menyebabkan abrasi

kromosom sehingga mengakibatkan terjadinya malformasi pada kerang (Cordova dkk., 2011).

Penelitian sejenis juga pernah dilakukan di Teluk Jakarta, Banten dan Lada pada tahun 2008. Hasil penelitian menunjukan bahwa gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta telah terakumulasi logam merkuri 0,0092 ± 0,0085 ppb, sedangkan di Teluk Banten dan Lada keberadaan merkuri tidak ditemukan. Merkuri berpengaruh terhadap perkembangan spermatogenium (r = 0.68) dan spermatosit sekunder (r = 0.61) (Jalius dkk., 2008).

Selain mempengaruhi proses spermatogenesis, kontaminasi logam berat juga akan berdampak pada proses oogenesis dari kerang hijau. Penelitian yang sama juga pernah dilakukan di Teluk Jakarta, Banten dan Lada. Hasil penelitian menunjukkan dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta telah terjadi bioakumulasi logam merkuri 0,0222 ± 0,0264 ppb, sedangkan di Teluk Banten dan Lada keberadaannya tidak terdeteksi. Hasil analisis korelasi antara kandungan merkuri dan jumlah sel-sel dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta menunjukkan korelasi sangat nyata, yaitu merkuri berpengaruh terhadap perkembangan sel-sel oosit sekunder (r = 0,74), luas (r = 0,70), dan volume lumen folikel (r = 0,58). Dengan demikian terbukti bahwa merkuri berpengaruh terhadap proses oogenesis kerang hijau di Teluk Jakarta (Jalius dkk., 2008).

Penelitian lainnya dilakukan di perairan Baia Mare, Romania yang merupakan daerah pertambangan dan industri, diperoleh kandungan sedimen di perairan tersebut telah mengandung sianida yang tinggi yakni berkisar 0,33-15,86 mg/kg. Akibat dari tumpahan sianida tersebut sehingga mempengaruhi semua komponen ekosistem perairan. Banyak spesies moluska (termasuk kerang) tidak terlihat lagi (Cordos et al., 2003).

Konsentrasi merkuri dalam kerang hijau yang diperbolehkan menurut SNI 7387-2009 adalah sebanyak 1,0 mg/kg (BSN, 2009) sedangkan sianida sebanyak 1,0 mg/kg menurut standar FAO/WHO (Tyas dkk., 2017).

Adanya bahan-bahan pencemar seperti merkuri dan sianida dalam perairan akan mempengaruhi kehidupan biota (termasuk kerang) di dalamnya. Salah satunya adalah dapat mempengaruhi proses gametogenesis. Keadaan ini terjadi karena adanya gangguan pada saat pembelahan sel-sel kelamin pada tahap metafase sebagai akibat adanya bahan pencemar dalam perairan (Jalius dkk., 2008).

Keadaan ini diduga pada tahap penggandaan sel-sel spermatogonium mempengaruhi proses pembelahan mitosis terutama pada fase metafase yang sangat sensitif terhadap perubahan kimia, suhu dan lingkungan, sehingga wajar jumlah spermatosit primer yang terbentuk rendah. Selanjutnya kontaminasi bahan pencemar akan mempengaruhi proses pembelahan meosis sehingga akan terbentuk populasi spermatosit sekunder, dan spermatozoa yang rendah. Dengan terjadinya akumulasi bahan pencemar akan mempengaruhi proses gametogenesis, yakni

lisosom tidak stabil dan akan mengalami degenerasi sehingga sel akan mati (Jalius dkk., 2008).

Kerang yang tercemar bahan-bahan pencemar (merkuri dan sianida) akan terganggu perkembangan gametnya bahkan gamet bisa mengalami degenerasi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa bioakumulasi logam berat dapat terjadi pada organel lisosom dan akan mengalami degenerasi.

Kehadiran bahan-bahan pencemar di perairan dapat menyebabkan tidak stabilnya membran organel lisosom dalam sel kerang. Selain itu, juga mempengaruhi proses oksidasi, kerja enzim, dan keseimbangan ion kalsium dalam sel. Pada akhirnya bahan pencemar yang bersifat toksik dan telah mengalami bioakumulasi akan menimbulkan biotransformasi dalam sel, sehingga akan mengakibatkan terjadinya mutasi gen, serta mengalami perubahan sensitif pada proses pembelahan sel-sel kelamin saat pembelahan metafase. Dengan demikian terjadi perubahan susunan gen-gen pada kromosom dan bahkan menyebabkan abrasi kromosom (Jalius dkk., 2008).

Penurunan kualitas biota yang hidup di perairan seperti kerang akan memberikan dampak terhadap kesehatan konsumennya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan merkuri dan sianida pada manusia yang mengkonsumsi kerang antara lain umur, jumlah konsumsi rokok/hari (Suramas, 2016), lama tinggal (Anwar, 2016), konsentrasi merkuri dan sianida dalam kerang hijau yang dikonsumsi, lama konsumsi kerang hijau (Siagian, 2012) dan frekuensi konsumsi singkong (Ningtyias dkk., 2015).

Umur dapat mempengaruhi kandungan merkuri dan sianida dalam tubuh. Semakin tua umur seseorang maka akan semakin tinggi kandungan merkuri dan sianida yang terakumulasi pada jaringan tubuhnya. Hal ini karena aktivitas enzim biotransformase yang berkurang seiring dengan peningkatan usia dan daya tahan organ-organ tertentu dalam menurunkan konsentrasi merkuri dan sianida (Palar, 2012).

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap bahan pencemar adalah umur. Janin, anak yang baru lahir dan masih berusia muda sangat rentan terhadap paparan merkuri karena sensitivitas dari perkembangan syaraf. Selain itu, neonatus juga dapat terpapar dari konsumsi ASI yang telah terkontaminasi merkuri.

Konsentrasi metil merkuri dalam darah janin adalah sekitar 1,5 – 2 kali lipat lebih besar dibandingkan ibunya, karena transport aktif metil merkuri ke janin melalui plasenta (UNEP & WHO, 2008). Efek keracunan merkuri tergantung dari kepekaan setiap individu, yakni anak dalam kandungan (prenatal), bayi, anak-anak, dan orang tua (Junita, 2013).

Umur berhubungan erat dengan tingkat imunitas (Nurfadillah, 2016). Pada beberapa orang terdapat suatu mekanisme unik yang menyebabkan paparan dosis letal tidak menimbulkan kematian. Kondisi ini dikenal dengan nama imunitas rasputin. Daya toleransi yang tinggi pada orang ini karena daya detoksifikasinya yang berlebihan. Hal ini di dapat dicapai dengan mengubah CN menjadi sianat dan sulfosianat atau tidak terurainya garam CN yang tertelan menjadi HCN, karena pH lambung

yang basa. Teori lain yang dikemukakan adalah berubahnya bentuk sianida menjadi garam karbonat dalam penyimpanan sehingga menjadi tidak toksik (Kamilah dkk., 2014).

Selain umur, lama tinggal juga akan mempengaruhi kandungan merkuri dan sianida dalam tubuh. Semakin lama orang bermukim dan menetap di daerah yang terkontaminasi bahan pencemar, maka semakin tinggi akumulasinya dalam tubuh. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian di Desa Tahi Ite yang menunjukkan bahwa konsentrasi bahan pencemar dalam urin dengan lama tinggal > 5 tahun, 73,9% telah melebihi ambang batas sedangkan 26,1% masih dalam batasan normal (26,1%).

Sedangkan konsentrasi bahan pencemar dalam urin dengan lama tinggal

≤5 tahun keseluruhan responden (100,0%) masih dalam batasan normal (Anwar, 2016).

Konsentrasi merkuri dan sianida dalam kerang hijau yang dikonsumsi dapat mempengaruhi kandungan merkuri dan sianida dalam tubuh manusia. Besarnya toksisitas bahan pencemar (merkuri dan sianida) berbanding lurus dengan konsentrasi. Semakin besar konsentrasinnya maka semakin besar pula tingkat toksisitasnya (Junita, 2013). Sama halnya juga dengan lama konsumsi kerang hijau. Semakin lama seseorang mengonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi bahan pencemar maka kandungan bahan pencemar tersebut juga akan semakin meningkat dalam tubuh (Siagian, 2012; Suramas, 2016).

Jumlah konsumsi rokok/hari juga mempengaruhi kandungan merkuri dan sianida dalam tubuh manusia. Penyebab utama racun dalam rokok adalah merkuri. Sifat merkuri yang membuat senyawa disekelilingnya menjadi radikal bebas (sensitizer) dan sulit dideteksi karena sensitif terhadap cahaya dan alat-alat ukur selalu berbasis sinar.

Di samping itu, merkuri kuat dalam golongan alkaloid nikotin yang bermetal (seperti kalsium, nikel, timbal dan kadmium) dalam daun tembakau. Hasil penelitian di Desa Tahi Ite menunjukkan bahwa dari 28 (87,5%) responden yang mengkonsumsi rokok terdapat 31 (96,9%) responden memiliki kadar merkuri yang melebihi standar UNEP dan WHO tahun 2008 yaitu ≤ 4 µg/l dalam urinnya. Dengan demikian ada hubungan antara konsumsi rokok dengan kadar merkuri dalam urin dengan p value 0,0001 (Suramas, 2016).

Sianida juga merupakan salah satu bahan kimia dalam asap rokok. Sianida dalam asap rokok berbentuk asam sianida (HCN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata sianida dalam urin masyarakat yang tidak terpapar dengan asap rokok (bukan perokok) yaitu 2,16 mg/l sedangkan pada perokok sebesar 3,2 mg/l (ATSDR, 2006).

Frekuensi konsumsi singkong juga dapat mempengaruhi kandungannya dalam tubuh manusia. Tingginya konsentrasi bahan pencemar (toksikan) dalam urin berkaitan dengan banyaknya toksikan yang diterima responden. Keracunan sianida yang paling banyak dilaporkan adalah setelah mengkonsumsi singkong. Hal ini karena bahan

makanan tersebut pada beberapa negara yang baru berkembang masih menjadi makanan pokok Hasil penelitian di Jember tahun 2015 menunjukkan bahwa kadar sianida pada singkong segar sebanyak 0,4 ppm dan tidak ditemukan setelah dilakukan perebusan dan dikulub (Ningtyias dkk., 2015).

Hasil penelitian menyebutkan bahwa sianida atau racun pada singkong dapat hilang setelah pencucian, perendaman, pemasakan dan pengeringan selama proses produksi beras singkong semi instan. Dengan pemilihan cara pengolahan yang tepat, kadar sianida pada bahan makanan dapat dikurangi sehingga menjadi aman untuk dikonsumsi (Sasongko, 2009).

Dokumen terkait