Pecahan Koin Berat Koin Kadar Diameter
TOTAL PENERIMAAN WAKAF TUNAI TW
2.1 08 .92 0.1 00 1.3 13 .55 9.2 80 1.9 40. 21 8.2 71 1.9 43. 49 5.7 77 3.6 37 .70 0.1 76 5.4 44 .84 7.0 55 0 1.000.000.000 2.000.000.000 3.000.000.000 4.000.000.000 5.000.000.000 6.000.000.000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 TAHUN (RU P IAH)
Tabel II diatas menggambarkan total penerimaan wakaf tunai yang berhasil dihimpun TWI dari tahun 2005 hingga Juni 2010. Meskipun terdapat sejumlah wakif yang berwakaf dengan koin dinar dan dirham, total penerimaan dana wakaf tunai ini telah di konversi kedalam bentuk mata uang rupiah. Hal tersebut dimaksudkan agar lebih mudah dalam penyampaiannya. Berdasarkan tabel diatas, penerimaan dana TWI dari tahun ketahun cenderung meningkat, hanya saja pada tahun 2006 sedikit menurun. Namun, sejak berdirinya Wakala Al- Wakif pada tahun 2008 jumlah dana yang berhasil dihimpun TWI terus meningkat hingga per Juni 2010, dari Rp. 1.943.495.777 pada tahun 2008 mencapai Rp. 5.444.847.055 di tahun 2010.
Sejak awal berdirinya pada tahun 2008 hingga Juni 2010, TWI berhasil mengumpulkan wakaf koin sebanyak 15 koin dinar dan 27 koin dirham. Sedangkan pada periode Juli 2009 hingga April 2010 TWI berhasil mengumpulkan wakaf koin sebanyak 7 koin dinar dan 24 koin dirham. Meskipun masih sangat sedikit jumlah koin yang diwakafkan dibandingkan dengan total penjualan koin dinar dan dirham diatas, koin-koin tersebut sangatlah berarti, terutama dari surplus yang dihasilkannya setelah beberapa tahun kemudian dikonversikan kedalam rupiah. Dengan banyaknya surplus yang dihasilkan tersebut maka akan semakin banyak mauquf ‘alaih yang dapat merasakan manfaatnya.
Pada tahun 2009 TWI telah memberikan 3 dinar untuk mauquf ‘alaih binaan Masyarakat Mandiri (MM). Koin tersebut diserahkan dengan akad hibah kepada MM. MM menjadikan tiga koin dinar tersebut sebagai tambahan modal bagi para pedagang bakso binaan MM yang ada di Cipinang.
C. PELUANG DAN HAMBATAN
Peluang dan hambatan merupakan faktor penting dalam kemajuan suatu perusahaan. Jika seseorang mampu membaca peluang dalam menjalankan usahanya, maka akan mudah baginya untuk mengembangkan usaha yang dijalankannya. Akan tetapi, jika terdapat hambatan dalam usaha yang dijalankannya maka hal ini tentu menjadi salah satu kendala sekaligus tantangan bagi usaha tersebut. Seseorang yang yang memiliki hamatan dalam usahanya, maka tentu ia akan mencari solusi untuk mengatasi masalahnya tersebut agar dapat terus mengembangkan usahanya. Dalam hal menjalankan usahanya, Tabung Wakaf Indonesia juga memiliki berbagai macam peluang dan hambatan. Adapun peluang yang ada adalah:
1. Respon masyarakat terhadap produk koin dinar dan dirham sangat tinggi, diiringi dengan tingginya respon masyarakat terhadap layanan bayar wakaf dengan koin dinar dan dirham.
2. Koin dinar dan dirham terbukti bebas riba dan inflasi, sehingga bisa menghasilkan surplus yang lebih besar, sehingga manfaatnya bisa lebih optimal bagi umat.
3. Kemandirian Wakala Al-Wakif akan sangat membantu usaha yang dijalankan TWI sehingga TWI kelak bisa mandiri.
Hambatan yang ada adalah:
1. Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai wakaf uang.
Meskipun undang-undang wakaf telah lama disahkan yaitu pada tahun 2004 yang lalu, masyarakat kita banyak yang belum mengerti betul dengan wakaf uang, karena pengertian yang lebih dulu ditanamkan kepada masyarakat kita adalah wakaf pada hakikatnya berbentuk asset atau benda tak bergerak seperti tanah, bangunan, dan masjid.
2. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi dengan koin dinar dan dirham.
Koin dinar dan dirham merupakan sesuatu yang baru dikenal dalam masyarakat kita. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi dengan koin dinar dan dirham berawal dari ketidaktahuan masyarakat terhadap produk koin tersebut. Selain itu, koin-koin ini belum diakui secara internasional, dimana tidak semua negara menggunakan koin-koin ini sebagai alat transaksi pada umumnya.
3. Koin dinar dan dirham tidak berlaku didunia internasional sebagaimana dollar.
Jika saja koin dinar dan dirham diakui secara internasional sebagaimana dollar, maka tentu hal ini akan lebih menarik minat masyarakat untuk segera berwakaf dengan dinar dan dirham.
4. Adanya spekulan-spekulan yang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak- banyaknya dari penjualan koin dinar dan dirham yang telah dimiliknya. Ketika rate atau nilai koin dinar dan dirham meningkat maka akan banyak sekali orang yang menukarkan kembali koin dinar dan dirham yang dimilikinya kedalam mata uang rupiah. Orang-orang tersebut biasa disebut spekulan. Saat rate dinar dan dirham sedang menurun mereka membeli sebanyak-banyaknya koin tersebut, mereka sengaja membelinya agar nilai uang yang mereka miliki ketika membeli koin tersebut bertambah banyak saat mereka tukarkan lagi dikemudian hari ketika rate koin tersebut naik. Untuk menyiasati hal ini, Wakala Al-Wakif harus memiliki stock atau cadangan yang cukup banyak terhadap koin-koin tersebut. Selain itu, Wakala Al-Wakif juga mengenakan biaya sekitar 4% dari penjualan kembali koin-koin tersebut.
A. KESIMPULAN
1. Wakala Al-Wakif merupakan salah satu anak perusahaan dari TWI. Wakala Al-Wakif didirikan oleh TWI sebagai salah satu upaya mengembangkan nilai wakaf uang yang dihimpunnya. Nilai pokok dari wakaf uang yang dihimpunnya diharapkan akan semakin banyak menghasilkan manfaat yang pada gilirannya bisa dinikmati oleh masyarakat banyak.
Selain melaksanakan fungsi utamanya sebagai lembaga pengelola mata uang dinar dan dirham, Wakala Al-Wakif juga ikut membantu TWI melalui layanan bayar wakaf dengan dinar dan dirham yang dimiliki TWI. Adapun pola kerja Wakala Al-Wakif dan TWI dapat diilustrasikan sebagai berikut.
1 WAKIF Wakala al Wakif TWI Mauquf ‘alaih Koin Dinar dan dirham Uang Rp. SDB 2 Mauquf ‘Alaih 8 6 7 3 4 5 73
Keterangan:
1. Wakif menukarkan mata uang rupiah ke koin dinar atau dirham.
2. Setelah ditukarkan wakif menyerahkan koin dinar dan dirham untuk diwakafkan ke TWI.
3. TWI memisahkan antara koin dinar atau dirham dengan uang rupiah. 4. Koin dinar atau dirham disimpan di Safe Deposit Box
5. Ketika akan digunakan koin tersebut ditukarkan kembali kedalam mata uang rupiah di Wakala Al-Wakif.
6. Kemudian setelah ditukarkan uang tersebut masuk ke dana wakaf TWI. 7. Setelah itu, TWI mulai mengelola wakaf uang yang diperolehnya tersebut
keberbagai program yang dimilikinya
8. TWI mendistribusikan surplus dari pengelolaan wakaf tersebut kepada mauquf ‘alaih.
2. Efektivitas peran Wakala Al-Wakif terhadap Perkembangan TWI dapat dilihat dari dua faktor, yaitu dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah wakif TWI dan dilihat dari penerimaan dana TWI tiap tahunnya. Berdasarkan hasil analisis, jumlah wakif TWI dan Penerimaan dana TWI dari tahun ke tahunnya cenderung meningkat, terlebih lagi sejak Wakala Al-Wakif didirikan, peningkatannya cukup signifikan. Respon yang tinggi dari masyarakat terhadap koin dinar dan dirham menjadi salah satu pemicu bagi peningkatan- peningkatan terhadap jumlah wakif dan penerimaan dana TWI. Mekipun
demikian, peningkatan-peningkatan tersebut juga banyak dipengaruhi oleh kinerja dari team manajemen fundraising.
3. Dalam menjalankan usahanya tersebut, TWI tentu memiliki peluang-peluang dalam mengembangkan usahanya. Peluang tersebut antara lain:
a) Respon masyarakat terhadap produk koin dinar dan dirham sangat tinggi, diiringi dengan tingginya respon masyarakat terhadap layanan bayar wakaf dengan koin dinar dan dirham.
b) Koin dinar dan dirham terbukti bebas riba dan inflasi, sehingga bisa menghasilkan surplus yang lebih besar.
c) Kemandirian Wakala Al-Wakif akan sangat membantu usaha yang dijalankan TWI sehingga TWI kelak bisa mandiri.
Selain peluang yang ada, TWI juga mendapatkan berbagai macam hambatan dalam menjalankan usahanya, antara lain:
a) Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai wakaf uang.
b) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi dengan koin dinar dan dirham.
c) Koin dinar dan dirham tidak berlaku didunia internasional sebagaimana dollar.
d) Adanya spekulan-spekulan yang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari penjualan koin dinar dan dirham yang telah dimiliknya.
B. SARAN
1. Bagi Wakala Al-Wakif
a. Wakal Al-Wakif sebagai penjual koin dinar dan dirham, diharapkan agar memperbanyak promosi atau iklan di berbagai media cetak/ elektronik agar banyak masyarakat yang lebih mengenal koin dinar dan dirham.
b. Menjalin kerjasama ke berbagai instasi keagamaan untuk bisa mengembangkan atau menyebarluaskan koin dinar dan dirham.
2. Bagi TWI
a. TWI selaku nazhir wakaf diharapkan dapat menghimpun, mengelola, dan mengalokasikan harta wakaf dengan baik, yakni sejalan dengan aturan syariah Islam, baik dalam bentuk wakaf beda bergerak dan benda tak bergerak.
b. Harta wakaf yang dihimpun TWI diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kearah yang lebih baik lagi, sehingga dapat mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan permasalahan- permasalahan ekonomi lainnya.
c. TWI diharapkan dapat lebih giat dalam hal mensosialisasikan wakaf uang dan terus menarik masyarakat agar mau berwakaf dengan dinar dan dirham ebagaimana layanan bayar wakaf dengan dinar dan dirham yang disediakannya.
d. Pada akhirnya, wakaf diharapkan menjadi penggerak perekonomian umat seperti efek bola salju, semakin lama semakin besar membawa kemaslahatan umat.
3. Bagi Pemerintah
a. Pemerintah hendaknya terus mendukung keberadaan lembaga-lembaga sosial keagamaan seperti lembaga perwakafan, karena lembaga-lembaga seperti ini berpeluang besar dalam membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan ekonomi dalam negara.
b. Mengingat terdapat banyak kegunaan atau manfaat dari koin dinar dan dirham, diantaranya nilai inflasi yang dimilikinya adalah nol, hendaknya pemerintah dapat menjadikan kedua uang bimetal ini sebagai alternatif mata uang negara kita.
4. Bagi Kalangan Akademisi
a. Para akademisi diharapkan agar mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai dinar dan dirham, agar dinar dan dirham dimasa mendatang semakin berkembang dan dapat diterima sebagai mata uang alternatif negara kita. Begitu juga dengan tema-tema perwakafan kontemporer, agar wakaf bisa lebih berkembang.
b. Para akademisi diharapkan ikut menginformasikan kepada masyarakat mengenai koin dinar dan dirham dari segala sisinya.
2010. pdf.
“WAKAF TUNAI”, artikel diakses pada 8 Juli 2010 dari http://www.bimasislam.depag.go.id/wakaf-tunai. html.
Agustianto, “WAKAF UANG DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN UMAT”.
Artikel diakses pada 8 juli 2010 dari http://www.google.com/2010/08/wakaf- uang-dan- peningkatan-kesejahteraan-umat. html.
Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, Tahqiq Dr. Mahmud Mathraji, Juz IX. Beirut: Dar Al-Fikr, 1994.
Amin, A. Riawan, Satanic Finance. Jakarta: Celestial Publishing, 2008.
Amirullah, Haris Budiyono, Pengantar Manajemen, ed. Ke-2. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004.
Assauri, Sofyan. Manajemen Pemasaran: dasar, konsep, strategi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1992.
Budianto, Herman, “Masa Depan Wakaf Indonesia”. Artikel diakses pada 10 April 2008 dari http//www.google.com/2008/10/masa-depan-wakaf-Indonesia. html. Cholid Hendra, “Data Tanah Wakaf”. Artikel diakses pada 10 April 2008 dari
http://infowakaf.net/2008/10/data-tanah-wakaf.html.
Departemen Agama Republik Indonesia, Fiqh Wakaf. Jakarta:Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, 2005.
Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf. Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf-Dirjen Bimmas Islam, 2006. Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai,
Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf-Dirjen Bimmas Islam, 2006. DIP1 Ec Taufiq Ridho, Lc, Panduan Wakaf Praktis. Jakarta. 2006.
Hamiwanto, Saikul, dan Bayu, “Dinar dan Dirham: Dua Sejoli yang Direkomendasikan Nabi,” Suara Hidayah, 6 Oktober 2002.
J. Moleong, Lexy, Metode Penelitian Kualitatif. Cet.XVIII. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
M Iqbal, Dinar The Real Money: Dinar emas uang dan investasiku. Cet. I. Depok: Spiritual Learning Centre dan Dinar Club, 2007.
M. Iqbal, “Mengenal Dinar Islam”, artikel diakses pada 8 juli 2010 dari http://geraidinar.com/2008/02/mengenal-dinar-islam.html.
M. Iqbal, Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham. Cet. I. Depok: Spiritual Learning Centre dan Dinar Club, 2007.
Munjid, cet ke-34. Beirut : Darul Machred-Sarl, 1994.
Nafis, H.M. Cholil “Menghitung Potensi Wakaf Uang”, artikel diakses pada 8 Juli 2010 dari http//www.google.com/2010/8/ menghitung-potensi-wakaf-uang. html.
Nasution, Mustafa Edwin, dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam.Jakarta: Kencana, 2007.
Nasution, Mustafa Edwin, Uswatun Hasanah, Wakaf Tunai: Inovasi Finansial Islam. Jakarta: Kencana, 2007.
Nazir, Moh, Metode Penelitian. cet.V.Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003.
Ribat Jakarta, “Apa Itu Wakala: Amal dan Penjelasannya”. Artikel diakses pada 8 Juli 2010 dari http//www.google.com/2007/08/apa-itu-wakala-amal-dan- penjelasannya. html.
Rochaety, Ety dan Ratih Tresnati, Kamus Istilah Ekonomi. Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
Rozalinda, “Pengelolaan Wakaf Uang pada Tabung Wakaf Indonesia (TWI) Dompet Dhuafa Republika”, Artikel diakses pada 10 Agustus 2010 dari http//www.google.com/2010/05/pengelolaan-wakaf-uang-pada-tabung-wakaf- indonesia-dompet-dhuafa-republika. html.
Sadili, Hasan, Ensiklopedi Bahasa Indonesia. Jilid. II. Jakarta: Ichtiar baru-Van Hoeve, 1980.
Saidi, Zaim “Kembalinya Wakaf Dirham dan Dinar”. Artikel diakses pada 8 juli 2010 dari http://zaimsaidi.org/tag/wakaf/kembalinya-wakaf-dirham-dan-dinar.html. Saidi, Zaim, Kembali Ke Dinar: Tiggalkan Riba Tegakkan Muamalah. Depok:
Pustaka Adina, 2005.
Sujadi F.X.O & M, Penunjang Berhasilnya Proses Manajemen. Cet. III. Jakarta: CV. Masagung, 1990.
Suryabrata, Sumadi, Metodelogi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004. T. Hani Handoko, Manajemen. Ed.II, Yogyakarta: BPEF, 1993.
TWI, “Tentang Tabung Wakaf Indonesia”. Artikel diakses pada 10 Agustus 2010 dari http//www.twi.com/2008/08/ tentang-tabung-wakaf-indonesia. html.
Umar, Husein, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Rajawali Pers, 2004.
Zallun, Abdul Qadim, Sistem Keuangan di Negara Khalifah. Bogor: Pustaka Thariq Al-Izzah, 2002.
Zunaidi, Acham, Thobieb A-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif: Sebuah Upaya Progresif Untuk Kesejahteraan Umat, Cet. III. Jakarta: Mitra Abadi Press, 2006.