• Tidak ada hasil yang ditemukan

tourism review

Dalam dokumen 1 - TRAVELCLUB - JUNI 2021 (Halaman 29-32)

Memasuki Bulan Juni, peristiwa bersejarah yang selalu kita peringati yaitu Hari Lahir Pancasila yang bertepa-tan pada bertepa-tanggal 1 Juni. Tercetusnya 1 Juni menjadi Hari Lahir Pancasila tentu bukan sebuah proses yang singkat me-lainkan sudah melalui rentetan-rentetan peristiwa hingga tercetuslah ideologi bangsa Indonesia yaitu, Pancasila.

Namun saat ini, di zaman yang serba canggih dan berkembangnya penggunaan internet, kebanyakan kaum muda tidak lagi tertarik mempelajari sejarah dari membaca buku, sehingga alternatif lain agar sejarah bangsa ini tidak dilupakan begitu saja, maka perlu adanya ajakan berwisata ke lokasi-lokasi sejarah untuk mengenalkan mereka kepada para pahlawan bangsa.

Salah satu destinasi sejarah tersebut adalah, Monumen Pancasila Sakti yang dibangun atas gagasan Presiden Ke-2 Indonesia yaitu Bapak Soeharto pada pertengahan Agustus tahun 1967.

Monumen ini dibangun di atas tanah seluas 14,6 hektar dengan tujuan mengingat, mengenang, menghor-mati serta menghargai jasa-jasa para Pahlawan Revolusi

yang telah berjuang mempertahankan ide-ologi Negara Kesatu-an Republik Indonesia dari ancaman ideologi komunis.

Ketujuh Pahl-awan Revolusi terse-but adalah Jenderal Ahmad Yani, Jenderal S. Parman, Jenderal Suprapto, Jenderal Sutoyo, Jenderal MT Haryono, Jenderal Panjaitan, dan Kapten P. Tendean.

Ke m u d i a n , ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut dia-badikan dalam bentuk patung yang berdiri pada sebuah alas yang berbentuk lengkung

dengan relief yang menggambarkan peristiwa, mulai prolog, kejadian, serta epilog dan penumpasan G30S/PKI oleh ABRI dan rakyat.

Patung-patung para Pahlawan Revolusi tersebut terbuat dari perunggu dengan tinggi sekitar kurang lebih 2,5 meter, relief dibuat setinggi 1,5 meter sepanjang 20 meter dengan bahan batu cor atau artificial stone. Lalu kemudian Monumen ini diresmikan pada tanggal

1 Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto, bertepatan dengan hari Peringatan Kesaktian Pancasila.

Menurut pengelola Monumen Pancasila Sakti ini, memang ada be-berapa benda peninggalan sejarah yang sudah diganti dengan replika atau bukan merupakan benda asli pening-galan sejarah, namun material yang digunakan sebagai pengganti tetap serupa dengan yang asli.

Sumber Foto : andalaska.comSumber Foto : ebudayaan.kemendikbud.go.id

Salah satu benda tersebut ada-lah mobil yang digunakan kelompok PKI untuk menculik dan mengangkut jenazah Brigjen TNI DI Panjaitan. Selain itu, objek yang telah menggunakan material pengganti adalah tiga unit bangunan rumah tinggal yang menjadi lokasi penculikan dan penyiksaan tujuh jenderal. Benda lainnya yang masih orisinal adalah mesin jahit dan lemari, serta ubin dan pilar yang masih utuh.

Selain itu ada ada lagi 4 unit kendaraan klasik yang masih utuh dan dirawat sangat baik, namun setelah sekian tahun tentu saja mesinnya sudah tidak berfungsi dengan sem-purna. Di antara kendaraan tersebut adalah truk Dodge 500 buatan tahun 1961 dengan nopol B2982L yang kini sudah diganti menggunakan replika.

Sedangkan tiga kendaraan lainnya yakni GM Old Mobile yang menjadi mobil dinas Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani, mobil dinas Panglima Kostrad Mayjen Soe-harto jenis Toyota Land Cruiser, serta panser batalyon Kavaleri 3 Kodam VIII Brawijaya seluruhnya masih orisinal.

Terdapat juga baju dinas, hingga dompet milik pahlawan revolusi yang tersimpan di dalam kaca dan untuk benda ini tidak boleh disentuh oleh

pengunjung. Bahkan untuk perawatan-nya agar selalu terlihat awet, pengelola Museum harus berkoordinasi dengan Museum Tekstil, untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.

Berpindah ke area lainnya, Anda akan menemukan lokasi penguburan jasad tujuh jenderal yang familiar den-gan sebutan Sumur Maut. Sumur yang tampak begitu terawat memiliki keda-laman sekitar 12 meter dan didekorasi menggunakan cungkup dan dihiasi dengan ukiran kayu serta pembatas marmer yang dipasang sejak pemuga-ran pertama pada tahun 1967.

Selain itu, pada mulut sumur juga dikasih lampu sekitar 2,5 meter dari atas marmer, dan dipasangi semacam besi pengaman untuk menghindari agar tidak ada pengunjung yang sampai nekad mendekat ke lubang tersebut karena ditakutkan jatuh ke dalam sumur.

Di tepi lubang sumur, di dalam cungkup, terdapat batu tulis berisi per-nyataan tekad pejuang Pancasila yang berbunyi : “Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya den-gan mengubur kami di dalam sumur ini. Lubang Buaya, 1 Oktober 1965”.

Perlu dicatat bahwa salah satu benda yang tidak boleh tertinggal

ke-tika Anda mengunjungi lokasi wisata sejarah tentunya adalah kamera. Karena dengan kamera Anda bisa mengabadi-kan benda-benda peninggalan sejarah yang ada di sana, dan mempelajarinya ketika pulang ke rumah.

Selain itu, tentu Anda pun juga harus mengabadikan kunjungan Anda agar menjadi sebuah cerita yang tidak terlupakan hingga ke anak cucu kelak.

Dan tidak kalah penting adalah, tetap mematuhi aturan yang berlaku, seperti tidak merusak barang-barang yang ada di museum atau iseng melaku-kan perbuatan melanggar aturan lain-nya, dan tentu saja selama kunjungan di masa pandemi, tetap patuhi semua protokol kesehatan.

Fasilitas Umum

Jika Anda datang dari luar kota Jakarta dan merencanakan un-tuk menginap di sekitar lokasi wisata, sudah tersedia penginapan dan hotel yang bisa Anda sewa setiap saat. Un-tuk fasilitas lainnya, Anda tidak perlu khawatir karena semua area parkir, warung makan, toilet, tempat istira-hat semuanya lengkap dan tersedia kapan saja.

Jam Operasional

Jika Anda akan berkunjung ke lokasi wisata sejarah ini, Anda bisa datang mulai dari pukul 09.00 wib hingga pukul 21.00 wib. Namun untuk jam kunjungan yang disarankan ada-lah pada jam 11.00 wib hingga pukul 14.00 wib.

Harga Tiket Masuk

Untuk masuk ke lokasi Monumen Pancasila Sakti ini Anda hanya akan dipungut biaya masuk sekitar Rp5.000/

orang. Wah, cukup murah bukan?

Lokasi

Museum Pancasila Sakti ini ber-lokasi di Jl. Monumen Pancasila Sakti, RT.1/RW.9, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. (Yulia Gumay)

Sumber Foto : agar.id

tourism review

KEINDAHAN ALAM

Dalam dokumen 1 - TRAVELCLUB - JUNI 2021 (Halaman 29-32)

Dokumen terkait