• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID-19

Dalam dokumen BAB III Peran Tradisi (Halaman 30-33)

Adanya pandemi COVID-19 mengakibatkan berbagai perubahan dalam segala aspek kehidupan tidak terkecuali aspek sosial budaya yakni berkaitan dengan tradisi Henge’do. Berdasarkan data pada November tahun 2022, kasus COVID-19 di wilayah Kabupaten Sabu berjumlah 2.306 dengan kasus aktif sebanyak 2 kasus, kemudian tingkat kesembuhan 2.278 dan kematian sebanyak 26.193 Sedangkan pada kecamatan Sabu Barat, berjumlah 1.353 dengan kasus aktif sebanyak 1 kasus, kemudian tingkat kesembuhan 1.3333 dan kematian sebanyak 19.194 Oleh karena itu Sejak Maret 2020 dikeluarkan peraturan pemerintah kabupaten Sabu yang mengatur protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus Pandemi COVID-19 menghimbaukan secara khusus untuk berhenti melakukan tradisi Henge’do sementara waktu.

Kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat kecamatan Sabu Barat.

Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga penelitian ini dilakukan akhir tahun 2022, dapat dilihat beradasarkan pembagian periode waktu berdasarkan kasus yang terjadi pada wilayah Sabu. Pada bulan November tahun 2020 kasus mengalami peningkatan hingga pada bulan Juli tahun 2021 sebanyak 24 kasus dan menurun hingga bulan februari 2022 menjadi 0 kasus. Namun kemudian mengalami peningkatan kembali pada bulan Maret 2022 sebanyak 23 kasus dan mulai menurun hingga bulan April tahun 2022.195 Pada periode waktu penelitian ini dilaksanakan pendataan kasus Covid tidak lagi dilakukan karena kasus yang terjadi sebanyak 0 kasus.

193 Lihat Lampiran kasus Data COVID-19 di Kab. Sabu-Raijua

194 Lihat Lampiran kasus Data COVID-19 di Kab. Sabu-Raijua

195Lihat Lampiran kasus Data COVID-19 di Kab. Sabu-Raijua

57

Berdasarkan data tersebut kenaikan dan penurunan kasus ini berpengaruh pada keadaan sosial masyarakat. Pada periode awal Pandemi Covid-19 seluruh masyarakat melaksanakan protokol kesehatan secara ketat dan seiring berjalannya waktu terjadi kelonggaran dalam menjalankan protokol kesehatan. Pada wilayah bagian yang tidak terlalu padat penduduk dan juga tidak terdapatnya kasus maka masyarakat menjalankan protokol kesehatan tidak terlalu ketat dibandingkan pada wilayah yang kepadatan penduduk dengan kasus yang cukup tinggi. Dalam wilayah kecamatan Sabu Barat yang terdiri atas beberapa desa. Desa yang berada pada pusat wilayah Sabu dengan tingkat mobilitas masyarakat yang padat melakukan protokol kesehatan secara ketat yakni desa Mebba, Menia, Raeloro, Nadawawi, Raedewa, Raemadia, Roboaba, Raemude,Raeloro, Raekore, Raenalulu, Ledekepaka, Raenyale, Ledeana dan Depe.196 Namun adapun juga sebagian masyarakat kecamatan Sabu Barat di tengah situasi pandemi juga tetap menjalankan tradisi Henge’do. Hal ini terjadi pada desa-desa dengan tingkat mobilitas rendah dan jumlah kasus COVID-19 yang juga rendah yakni, Djadu, Tininalede, Teriwu dam Delo.197 Tidak dapat disangkali bahwa tradisi ini sulit untuk dilarang sehingga sebagian besar masyarakat kecamatan Sabu Barat sehingga kemudian ada yang menjaga protokol secara ketat tetapi juga ada yang tetap melakukan tradisi ini terlebih pada acara kedukaan.198

Pandemi COVID-19 yang mengakibatkan pemberhentian sementara pelaksanaan praktik tradisi Henge’do sehingga berdampak pada perilaku masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Dalam menjalankan protokol tersebut maka cara melakukan tradisi Henge’do menjadi hanya menaruh tangan didada bagian kanan atau didepan dada sambil menundukkan kepala. Adapun sebagian yang tetap melakukan cium diatas masker walaupun sebenarnya tetap melanggar protokol kesehatan. Seiring berjalannya waktu tindakan itu disebut sebagai “Cium Korona”.199 Istilah ini merujuk pada usaha masyarakat untuk tetap mempertahankan tradisi Henge’do yang disebabkan oleh adanya aturan yang mengikat. “Cium Korona” menandai sikap untuk meminta saling pengertian untuk tidak melakukan tradisi Henge’do sebagaimana mestinya. Upaya tersebut dilakukan karena

196 Hasil wawancara dengan Daud A. L. Para tanggal 13 September 2022

197 Hasil wawancara dengan Daud A. L. Para tanggal 13 September 2022

198 Hasil wawancara dengan Nahari Hede tanggal 16 September 2022

199 Hasil wawancara dengan Lasarus S. Gie tanggal 28 September 2022

58

tradisi yang telah dihidupi sekian lama secara tiba-tiba diberhentikan membuat masyarakat seperti kehilangan identitas sebagai orang Sabu. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu narasumber,

bahwa ketika tidak melakukan cium hidung terdapat perasaan yang janggal karena ada perasaan yang tidak tersampaikan secara utuh.200 Tradisi Henge’do biasanya menjadi simbol saapaan hangat pada perjumpaan pertama yang dapat menjadikan situasi dan relasi menjadi lebih intens. Namun pada saat pandemi memberikan pengaruh bagi pelaku tradisi karena ada perasaan yang tidak sepenuhnya dapat tersampaikan.201

Masyarakat kecamatan Sabu Barat berusaha untuk tetap merawat tradisi Henge’do tetapi dengan penyesuaian baru sebagai bagian dari perilaku mematuhi protokol kesehatan. Masyarakat kecamatan Sabu Barat mengalami kesulitan berkaitan dengan kebijakan terhadap tradisi Henge’do karena tidak dapat secara utuh hadir dalam perjumpaan masyarakat. Salah satu kesulitan ialah ketika masyarakat menghadiri kedukaan tradisi Henge’do tidak dapat dipakai untuk memberikan tanda berbelasungkawa sehingga adapun yang hanya mengalungkan selendang atau kain sabu sebagai tanda berduka cita. pengalungan kain dapat berarti seperti sedang merangkul layaknya saat melakukan tradisi Henge’do.202 Diungkapkan oleh salah satu narasumber bahwa bahwa, ketika menghadiri acara-acara adat terutama dalam acara-acara kedukaan, sebagai orang Sabu tidak dapat berbagi rasa megungkapkan belasungkawa secara utuh. Cium hidung yang merupakan momen berbagi kehidupan yang dimakanai sebagai mencium aroma kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama melalui pangkal hidung tidak dapat terlaksana. 203 Situasi ini memaksa masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk saling menahan diri sehingga masyarakat merasakan bagaimana sulitnya melalui situasi pandemi sebagai orang Sabu yang tidak dapat melaksanakan tradisi yang telah menjadi identitas dan kebiasaan yang tidak mungkin untuk ditinggalkan.

Pada situasi Pandemi COVID-19 solidaritas masyarakat kecamatan Sabu Barat justru makin kokoh demi menjaga kehidupan bersama. Pelarangan terhadap tradisi Heng’do tidak membuat

200 Hasil wawancara dengan Mawanyi Manu Djami 20 September 2022

201 Hasil wawancara dengan Mawanyi Manu Djami 20 September 2022

202 Hasil wawancara dengan Malede Wunu Hire tanggal 13 Septemberr 2022

203 Hasil wawancara dengan Adriaunus Terubara tanggal 13 September 2022

Dalam dokumen BAB III Peran Tradisi (Halaman 30-33)

Dokumen terkait