27
BAB III
Peran Tradisi Henge’do dalam Sosial Kemasyarakatan dan Kemajemukan pada Kecamatan Sabu Barat di Tengah Pandemi COVID-19
Dalam bagian ini penulis akan menguraikan hasil temuan terkait dengan profil lokasi penelitian dan prespektif masyarakat Sabu Barat dalam kaitannya dengan pemaknaan nilai-nilai tradisi Henge’do dan konteks Pandemi COVID-19 yang turut menyertainya.
3.1 Profil Lokasi Penelitian
3.1.1 Letak Geografis dan Iklim
Gambar 1.
Peta Kabupaten Sabu-Raijua
Sumber: Sabu Raijua dalam angka 2022
Secara administratif, pulau Sabu merupakan bagian dari wilayah kabupaten Sabu-Raijua, Provinsi NTT. Luas kabupaten Sabu ialah 459.58 km2.117 Kabupaten Sabu terbagi atas tiga pulau yakni, Pulau Sawu (Timur), Pulau Raijua (Tengah) dan Pulau Dana (Barat) yang merupakan pulau
117 Kabupaten Sabu Raijua dalam angka 2022, diakses pada 13 September 2022, https://saburaijuakab.bps.go.id/
28
terkecil dan tidak berpenghuni. Batas-batas pulau Sabu ialah sebelah Utara berbatasan dengan laut Sabu, sebelah Selatan dan Timur berbatasan dengan Samudra Indonesia, sebelah Barat berbatasan dengan laut Sawu. Jumlah penduduk kabupaten Sabu Raijua berdasarkan data statistik tahun 2021 ialah sebanyak 89.327 dengan laju pertumbuhan penduduk ialah 2,04persen dengan kepadatan 194,00 per km2. Pada tahun 2008, Kabupaten Sabu-Raijua terbagi atas enam kecamatan yakni Raijua, Sabu Barat, Hawu Mehara, Sabu Timur, Sabu Liae dan Sabu Tengah. 118
Secara khusus, profil Kecamatan Sabu Barat yang menjadi lokasi penelitian merupakan pusat pemerintahan dan Menia merupakan ibukota kecamatan Kabupaten Sabu. Batas-batas kecamatan Sabu Barat ialah bagian utara dengan Laut Sabu, bagian Selatan berbatasan dengan Sabu Liae, bagian Timur berbatasan dengan Sabu Tengah dan bagian Barat berbatasan dengan Hawu Mehara dan Laut Sabu. Terdapat 18 Kelurahan/Desa yakni Raedewa, Ledeana, Teriwu, Raemude, Depe, Raekore, Raenyale, Nadawawi, Raeloro, Mebba, Menuam Jaddu, Ledekepaka, Titinalede, Deolo, Roboaba dan Raemedia.119
Gambar 2.
Peta Kecamatan Sabu Barat
Sumber: Kecamatan Sabu Barat dalam Angka 2022.
118 Kecamatan Sabu Barat dalam angka 2022, diakses pada 13 September 2022, https://saburaijuakab.bps.go.id/
119 Kecamatan Sabu Barat dalam angka 2022, diakses pada 13 September 2022, https://saburaijuakab.bps.go.id/
29
Keadaan iklim di kepulauan Sabu ialah musim kemarau yang relatif panjang dengan curah hujan yang singkat. Musim hujan terjadi 14 sampai 69 hari yakni bulan desember hingga Maret sedangkan musim kemarau terjadi selama tujuh hingga delapan bulan.120 Kondisi ini mengakibatkan permukaan tanah sangat rentan terhadap erosi. Jenis topografi ini Kondisi topografi wilayah ini ialah bergunung-gunung dan berbukit-bukit dengan derajat kemiringan hingga 450.121 Pada wilayah bagian Utara pulau Sabu relatif lebih subur dikarenakan memiliki sumber mata air dari beberapa sungai.
Sedangkan pada wilayah Sabu bagian Selatan cenderung lebih tandus dan kering dengan jenis tanah putih/ kapur yang berbukit-bukit dan tanah merah. Situasi iklim berdampak pada flora dan fauna yang dapat hidup dan tumbuh di wilayah Sabu. Flora pada kabupaten Sabu Raijua termasuk wilayah kecamatan Sabu Barat sebagian besar terdiri dari padang rumput, pohon lontar dan kelapa. Sedangkan fauna ternak besar terdiri dari: kerbau, sapi, kuda dan ternak kecil terdiri dari: kambing, babi, domba dan unggas ayam.122
3.1.2 Mata Pencaharian
Masyarakat Sabu hidup bergantung pada alah sehingga mata pencaharian orang Sabu sebagian besarnya ialah petani. Padi, kacang-kacangan, jagung dan sayur-sayuran merupakan jenis tanaman yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Aktivitas bercocok tanam dilakukan pada musim hujan. Doka ialah yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan aktivitas bercocok tanam dengan jenis yakni mengelola ladang, kebun dan sawah. Kegiatan ini dilakukan sesuai dengan aturan adat yakni sebelum musim tanam utama pada musim hujan.123 Oleh karena itu pola kegiatan pertanian juga dipengaruhi oleh siklus kegiatan menurut kalender tahunan masyarakat adat Sabu yang berkaitan dengan konsep religinya.
120 Diakses pada 1 September 2022, https://saburaijuakab.go.id/halaman/_iklim_dan_kondisi_alam
121 Diakses pada 1 September 2022, https://saburaijuakab.go.id/halaman/_iklim_dan_kondisi_alam
122 Kecamatan Sabu Barat dalam angka 2022, diakses pada 13 September 2022, https://saburaijuakab.bps.go.id/
123 Bernard, L Tanya, Hukum di Ruang Sosial (Yogyakarta:Genta Publising,2011),43.
30
Selain melakukan aktivitas bercocok tanam masyarakat Sabu juga menggantungkan hidup pada keberadaan pohon lontar124 yang banyak tumbuh subur di wilayah Sabu. Pohon lontar dimanfaatkan oleh masyarakat Sabu mulai dari daun, batang, pelepah dan buah lontar. Aktivitas menyadap pucuk pohon lontar dilakukan demi memperoleh nira yang akan diolah menjadi gula sebagai konsumsi utama masyarakat Sabu. Aktivitas menyadap pucuk pohon lontar dilakukan pada musim kemarau yang terjadi pada bulan Agustus, September dan Oktober. Aktivitas ini juga diatur dalam kalender adat masyarakat yang akan dijelaskan lebih jelas dibagian sistem agama dan kepercayaan masyarakat Sabu.
3.1.3 Jumlah Penduduk di Kecamatan Sabu Barat
Berikut merupakan data kependudukan kecamatan Sabu Barat menurut jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin kecamatan Sabu barat.
Tabel 1.
Jumlah Penduduk Kecamatan Sabu Barat menurut Umur dan Jenis Kelamin
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0-14 5 604 5343 10 947
15-64 10 306 9508 19 814
65+ 1 146 1318 2 464
Sabu barat 17 056 16 169 33. 225
Sumber: Kecamatan Sabu Barat dalam Angka 2021, BPS
Berdasarkan data di atas, masyarakat kecamatan Sabu Barat diominasi oleh kelompok umur yang produktif yakni usia antara 15-64.
124 Pohon Lontar merupakan jenis tanaman yang tumbuh subur di pulau Sabu dengan keadaan iklim yang kering dan tanah yang tandus. Pohon lontar dapat menyimpan air dan menjadi bahan makanan utama masyarakat Sabu ketika menghadapi kekeringan dan kelaparan. Masyarakat Sabu dapat memanfaatkan pohon lontar mulai dari batang, daun, hingga buahnya. Buah pohon lontar dapat menghasilkan air nira atau tuak yang akan diolah menjadi gula yang mana merupakan sumber makanan bagi orang Sabu.
31
Selanjutnya merupakan data kependudukan kecamatan Sabu Barat menurut jumlah KK, Luas Wilayah dan agama pada kecamatan Sabu barat
Tabel. 2
Jumlah Penduduk Kecamatan Sabu Barat menurut Jumlah KK, Luas Wilayah dan Agama
Sesuai tabel di atas menunjukan bahwa pada wilayah kecamatan Sabu Barat tingkat kepadatan penduduk yang paling tinggi ada di desa Menia dengan persentase penduduk sebanyak 7,68 persen dan jumlah penduduk yang paling sedikit berada pada desa Jaddu. Walaupun penduduk kecamatan Sabu Barat lebih banyak beragama Kristen, para pengikut aliran kepercayaan masih cukup banyak sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat kecamatan Sabu Barat masih sering diselengarakan berbagai ritus-ritus adat.
no Desa/kel Jumlah KK
Luas Wilayah
Persentase (%)
Islam Katolik Protestan Hindu Budha Aliran kepercayaan
1 Raedewa, 616 10,44 6,85 14 9 2201 - - 79
2 Ledeana 472 9,63 6,32 4 9 1947 - - 12
3 Teriwu 273 14,53 9,53 - - 1219 - - 33
4 Raenalulu 443 10,447 6,87 - 5 1752 - - 49
5 Depe 380 7,15 4,69 - 9 1567 - - 39
6 Raemude 486 7,10 6,66 1 - 2068 - - -
7 Raekore 438 6,76 4,43 - - 1865 - - 3
8 Raenyale 561 5,53 3,63 - 2 2147 - - -
9 Nadawawi 540 18,87 12,38 5 4 2271 - - -
10 Raeloro 542 8,49 5,57 20 43 204 - - 1
11 Mebba 784 2,11 1,38 716 365 1716 - - -
12 Menia 975 11,70 7,68 29 33 3531 - - 1
13 Jaddu 184 6.30 4,13 3 667 - - 28
14 Ledekepaka 281 6,90 4,53 15 928 - - 94
15 Titinalede 275 7,14 4,68 - 812 - - -
16 Delo 329 10,21 6,70 4 1 1343 - - 6
17 Roboaba 346 7,12 4,67 26 42 1279 - - 2
18 Raemadia 630 1,99 1,31 53 37 2589 - - -
Sabu Barat 8525 152,44 100,00 875 375 31944 - - 347
32 3.2 Sosial Kemasyarakatan
3.2.1 Sejarah dan Kepercayaan Masyarakat Sabu
Sawu juga dikenal dengan nama Savu atau Sabu, penduduk yang mendiami pulau itu sendiri menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu atau tanah dari Hawu sedangkan sebagai penduduk yang tinggal di Rai Hawu mereka disebut sebagai Do Hawu.125 Menurut cerita yang tersebar di tengah masyarakat Sabu bahwa penyebutan tersebut berasal dari tokoh mitos yakni Hawu Ga sebagai tokoh yang dianggap mula-mula mendiami pulau Sabu. Menurut tuturan lisan masyarakat Sabu bahwa leluhur orang sabu berasal dari Majapahit.126 Berkaitan dengan kedatangan Majapahit terdapat dua versi. Versi Pertama, Majapahit muncul dari dalam laut dengan membawa banyak sekali air dan berjalan mengelilingi seluruh pulau Sabu. Pada setiap tempat yang dikunjungi oleh Majapahit air itu di bagi-bagikan disetiap wilayah Sabu.127 Namun ketika sampai pada wilayah Mesara air yang dibawa oleh Majapahit telah habis. Berdasarkan cerita inilah masyarakat mempercayai bahwa kondisi kekeringan di wilayah Mesara sekarang disebabkan oleh Majapahit. Selanjutnya Majapahit memilih untuk menetap pada sebuah pulau kecil bernama Raijua dan menikah dengan dewi bernama Banni Kedo dan memilik anak Niki Maja.128 Versi kedua, Majapahit dan Beni Kedo turun dari langit dan mendiami pulau Raijua. Pada saat itu diyakini jarak langit dan bumi sangat dekat namun ketika keduanya memiliki anak yakni Hila dan Naga yang membuat bumi dan langit terpisah karena kedua anak mereka menggunakan tongkat untuk mengangkat langit sehingga makin tinggi dan terpisah. 129
Selanjutnya salah satu penduduk dari Raijua yang bernama Hawu Miha yang disebut juga Hawu menyeberang dari Raijua ke pulau yang lebih besar.130 Ia ditemani saudara perempuannya bernama Piga Rai. Hawu Miha dikaruniai kemampuan melakukan hal-hal ajaib yakni dapat membelah laut untuk menuju ke pulau besar yakni namata yang terletak di wilayah Seba. Pada wilayah Namata
125 Nico L. Kana, Dunia orang Sabu (Jakarta: Sinar Harapan, 1975),6.
126 Ebenhaizer I. Nuban Timo, Sabu Punya Cerita, (Salatiga: UKSW, 2014), 52.
127 Ebenhaizer, Sabu Punya, 137.
128 Ebenhaizer, Sabu Punya, 137.
129 Ebenhaizer, Sabu Punya, 138.
130 Ebenhaizer, Sabu Punya,139.
33
terdapat batu yang menjadi tanda bagi tempat yang didatangi oleh Hawu Miha.131 Masyarakat Sabu melakukan banyak upacara adat pada lokasi Namata dekat batu tersebut. Dari Hawu Miha inilah lahir berbagi suku yang sekarang mendiami pulau Sabu.
Suku Sabu terbagi atas Suku-suku atau yang disebut Klen-klen. Klen-klen terdiri dari kesatuan kelompok kekerabatan yang berasal dari satu keturunan atau yang disebut Udu. 132 Udu-udu tersebut terbagi lagi menjadi Kerogo-kerogo atau sub suku keturunan.133 Nama-nama Udu diberikan berdasarkan dengan nama yang dimiliki oleh para leluhur mereka. Berdasarkan pembagian wilayah adat, maka kelompok-kelompok Udu ini terbagi atas lima lokasi wilayah adat yakni:
1. Wilayah adat Seba (heba) dan Menia didiami oleh: Udu Nataga Lulu Weo, UduNataga Djo Hina, Udu Namata, Udu Nahupu, Udu Teriwu,Udu Naradi, Udu Nalodo Wawa, Udu Kekoro, Udu Nahoro dan Udu Naliru.
2. Wilayah Mehara didiami oleh: Udu Nobelu, Udu Nahipa, Udu Aelungi, Udu Nopupudo, Udu Rue, Udu Napupepun, Udu Gea, Udu Haba Diada dan Udu Ballu.
3. Wilayah Liae didiami didiami oleh: Udu Napujara, Udu Nadega, Udu Nanawa, Udu Naliru, Udu Nahupa, Udu Nahai, Udu Kolirae dan Udu Gopo.
4. Wilayah Dimu (Timur) didiami oleh: Udu Nawolo, Udu Napuru, Udu Nadowu, Udu Najuii, Udu Natoda, Udu Nilaike, Udu Kalorae, Udu Nabire dan Udu Naelie.
5. Wilayah Raijua didiami oleh: Udu Nodo Ibu, Udu Wei, Udu Ledeke, Udu Rohaba, Udu Nadega, Udu Jela, Udu Kelita, Udu Loborae, Udu Melaho, Ulu Mediri dan Udu Roboliu.
3.2.2 Sistem Agama dan Kepercayaan Masyarakat Kecamatan Sabu Barat
Sebagian besar masyarakat Sabu memeluk agama Kristen, tetapi jauh sebelum kekristenan masuk dan berkembang di wilayah Sabu, masyarakat asli telah memiliki kepercayaan yang disebut
131 Ebenhaizer, Sabu Punya,139.
132 Ebenhaizer, Sabu Punya, 52., 139-140.
133 Ebenhaizer, Sabu Punya, 52., 139-140.
34
Jingitiu.134 Pada awalnya kepercayaan ini tidak memiliki sebutan khusus, sampai ketika datangnya penginjil dan pendeta dari Portugis ke pulau Sabu pada tahun 1625 maka kepercayaan ini disebut sebagai Jingitiu.135 Para penginjil menganggap aliran kepercayaan suku Sabu sebagai agama kafir yang berarti tidak percaya kepada Allah yang ada dalam konsep kepercayaan agama Katolik dan Kristen. Oleh karena itu aliran kepercayaan ini diartikan secara harafiah yakni Jingi artinya melanggar atau menolak, Ti artinya dari dan Au artinya engkau (Tuhan). Sehingga Jingitiu berarti yang menolak Tuhan atau melanggar titah Tuhan.136 Sebutan lainnya terhadap aliran kepercayaan ini ialah Gentios yang berarti orang kafir atau orang yang tidak patuh.137 Sebutan tersebut diberikan juga oleh para penginjil terhadap orang yang tidak mengikuti ajaran agama Kristen. Para pemuka aliran kepercayaan Jingitiu pada awalnya tidak mengetahui sebutan Gentios sehingga tidak menolak istilah tersebut yang sebenarnya mengandung konotasi negatif tetapi karena telah terlanjur menjadi identitas dan banyak orang telah terbiasa dengan istilah tersebut maka digunakan hingga sekarang.138
Jingitiu juga memiliki konsep kosmologi dengan dasar kepercayaan akan adanya suatu zat Ilahi yang di sebut sebagai Deo Ama.139 Nama sebenarnya Deo Ama ialah A’ji Mone Telu yang berdiam disebuah tempat yang jauh dari bumi. Deo Ama merupakan menciptakan setiap unsur dalam alam semesta. Deo Ama yang membentuk bumi dari keadaan awal berupa sesuatu yang kacau menjadi tempat yang dapat dihuni. Konsep kepercayaan atas Deo Ama tidak merujuk pada pribadi yang bersifat tunggal namun dalam tiga pribadi. Tiap diri Ilahi dari tiga kepribadian ini disembah secara bersama-sama dalam satu kesatuan Deo Ama. Ketiganya terdiri atas Deo Ama, Knuke, Do Heleo.
Konsep Deo Ama yang memiliki tiga kepribadian di dalam satu diri seperti layaknya konsep kepercayaan Tri Tunggal yang ada pada ajaran Kristen. Konsep kepercayaan itu tidak lepas dari pengaruh Portugis ketika melakukan penginjilan sebagai upaya memperkenalkan konsep Ilahi kepada
134 Yuda Hawu Haba, Injil dan Jingitiu, Menelusuri Jejak-jejak Kekristenan dan Perjumpaannya dengan kepercayaan Jingitus di Pulau Sabu Raijua, Propinsi NTT-Indonesia” (The South east Asia Graduate School of Theology. 2006), 53.
135 Haba, Injil dan Jingitiu, 53.
136 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
137 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
138 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
139 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
35
mereka. Oleh karena itu konsep Deo Ama memiliki kemiripan dengan konsep Allah yang ada dalam kekristenan.
Selanjutnya aliran Jingitiu memiliki kepercayaan terhadap para dewa-dewa yang juga merupakan hasil ciptaan dari Deo Ama. Dewa-dewa ini terdiri atas tiga jenis yakni Rai Balla yang menjaga bumi, Dahi Balla yang menjaga laut dan Riru Balla yang menjaga langit.140 Ketiganya mengatur berbagai aspek kehidupan manusia seperti mengatur musim hujan, mengatur panen nira atau tuak, mengatur musim kemarau, mengembangbiakan hewan, menjaga kesuburan tanah dan menumbuhkan tanaman. Ketiganya dipercayai sebagai dewa pengatur dalam berbagai aspek kehidupan manusia suku Sabu seperti mengatur musim hujan, mengatur nira, mengatur musim kemarau, melindungi dan mengembangbiakan hewan, menjaga kesuburan tanah dan menumbuhkan tanaman.141 Oleh karena itu apabila terjadi bencana seperti kekeringan kelaparan dan gagal panen dilakukannya ritus-ritus adat yang ditujukan kepada ketiga dewa ini untuk mendatangkan hujan dan kesuburan.
Para pengikut aliran kepercayaan Jingitiu terus memelihara berbagai ritus atau yang disebut sebagai Uku. Dalam sistem adat suku Sabu memiliki dewan adat yang bertugas untuk memimpin berbagai upacara adat yang telah diatur sebelumnya oleh para leluhur. Dewan adat tertinggi disebut sebagai Mone Ama yang telah diangkat sebagai Dou Pehami atau disebut sebagai orang yang telah diurapi. Mone Ama dipercayai memiliki kekuatan spiritual dalam melakukan Uku. Dalam pelaksanaan Uku, Mone Ama membagi tugas kepada kepada Anggotanya yang disebut ”Dewan Mone Ama” yang meliputi: Deo rai (kepala adat) sebagai pemimpin upacara yang tertinggi, bertanggung jawab atas penyelengaraan upacra adat. Pulodo Wadu pemimpin upacara dimusim kemarau. Do heleo bertanggung jawab mengawasi setiap pelaksanaan setiap upacara secara tepat. Tugasnya ia mengamati peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai bala atas penyelenggaraan adat yang salah sehingga bertanggung jawab juga untuk menyelenggarakan upacara pengusiran bala. Rue ialah
140 L. Kana, Dunia Orang, 17
141 L. Kana, Dunia Orang, 18-20.
36
pemimpin upacara yang menyelenggarakan upacara untuk menghapuskan hal buruk atau kemalangan.
Pulo’do Muhu bertanggung jawab atas penyelenggaraan upacara yang berkaitan dengan peperangan yang juga dikaitkan dengan sabung ayam. Raga Dimu bertugas melakukan upacara untuk menangkal angin timur pada musim kemarau yang terjadi pada saat transisi musim kemarau yakni angin Barat ke Timur.
Salah satu upacara adat ialah mengatur berbagai hasil alam berdasarkan upacara yang disebut sebagai upacara sepanjang takwim adat.142 Upacara ini sebagai usaha mengatur pola kehidupan manusia untuk menentukan waktu menanam hingga memanen. Upacara sepanjang takwim adat dibagi dalam kurun musim hujan dan musim kemarau. Upacara musim kemarau berkaitan dengan aktivitas menyadap pucuk pohon lontar untuk meghasilkan nira serta memanfaatkan pohon lontar untuk pembangunan rumah, pagar membuat periuk dan sebagainya diatur oleh jadwal adat yang berlangsung sekitar Agustus hingga Oktober.143 Pada bulan pertama musim kemarau itu, yaitu bulan pertengahan Mei dan pertengahan Juni, kemudian ditutup diakhir musim pertengahan Oktober sampai pertengahan November. Masyarakat melakukan aktivitas memproduksi Lontar. Dalam proses menyadap pucuk pohon lontar agar dapat menghasilkan air nira yang banyak maka dilakukannya ritus yang disebut “Memanggil Nira”. Melalui ritus ini masyarakat mengharapkan agar proses menyadap pucuk pohon akan menghasilkan air nira yang banyak, berlimpah dan manis. Kegiatan penyadapan pucuk pohon lontar tidak boleh ketika terjadi mendung atau hujan sehingga hanya dapat dilakukan ketika langit cerah atau pada musim kemarau karena dapat mempengaruhi keberhasilan dan kualitas nira yang dihasilkan.
Selanjutnya hasil nira akan diproses dan dimasak menjadi gula. Dalam upacara ini terjadi pada saat Wadu Ae (Kemarau Besar) yang merupakan puncak dari upacara ini sehingga tidak boleh adanya kebisingan ketika proses memasak gula. Ketenangan tersebut melambangkan bentuk kehati-hatian untuk menyiapkan persediaan pangan masyarakat saat kemarau. Upacara pada musim peralihan yakni
142 Upacara Sepanjang Takwim Adat merupakan tata penanggalan masyarakat Sabu yang telah ditetapkan oleh para ketua adat untuk mengatur ativitas pertanian sesuai musim dan ritus-ritus yang harus dilakukan.
143 L. Kana, Dunia orang, 75.
37
kemarau ke hujan terjadi pada bulan Agustus ditandai dengan upacara “Memeluk Teluk” yang dilakukan di tepi pantai melambangkan pemisahan antara musim kemarau atau kering serta dimulainya kegiatan masyarakat untuk membersihkan dan menyiapkan tanah.144 Ketika hujan pertama masyarakat menganggapnya sebagai Hujan Asin yang digunakan untuk membuang segala hal yang jahat pada tanah.145 Hujan pada hari kesembilan dilanjutkan dengan upacara mengusir penyakit, kemalangan, angin ribut dan sebagainya ke laut sehingga berbagai kegiatan pertanian dan peternakan dapat berhasil. Upacara dimusim hujan dilakukan sebagai ungkapan masyarakat mensyukuri segala hasil usaha tani dan dilanjutkan dengan membersihkan dan mempersiapkan ladang pada bulan pertama musim hujan yakni pertengahan November sampai pertengahan Desember. Upacara ini dilakukan secara gotong royong sehingga pemilik ladang juga harus berbagi hasil pertanian ataupun juga peternakan bersama dengan masyarakat yang turut membantu. Selanjutnya upacara menanam ladang didahului dengan menggemburkan tanah agar hasil panen terhindar dari serangan hama. Hal ini dilakukan dengan mengelilingi ladang dan perkampungan dengan Gong yang telah diminyaki yang melambangkan permohonan terhadap turunnya hujan. Selanjutnya setelah menanam dilakukan upacara panen hasil sebagai bentuk kebahagiaan karena telah memperoleh hasil yang dipercaya bahwa keberhasilan tersebut berasal dari kebaikan alam.
Pada upacara yang terakhir yang dilaksanakan pada bulan April hingga Mei ialah upacara pengantaran hasil panen (hole) yang dilakukan untuk memohon kemakmuran bagi manusia sekaligus menjadi upacara perayaan atas berbagai siklus upacara yang telah dilaksanakan.146 Upacara ini dianggap waktu terbaik sehingga masyarakat melakukan “tabur kebun” seperti menanam kapas, kacang-kacangan. Pada bulan ini juga terjadi aktivitas saling mengawinkan ternak milik masyarakat.
Masyarakat menggunakan setangkai daun dan melambai-lambaikan sebagai ungkapan permohonan terakhir agar akan datang lagi masa panen selanjutnya. Upacara ini berakhir pada bulan Mei dan akan dimulai kembali sesuai dengan peraturan kalender adat yang sesuai denganjadwal musim kemarau. Di
144 L. Kana, Dunia orang, 75
145 L. Kana, Dunia orang, 77
146 L. Kana, Dunia orang, 79
38
luar dari upacara yang ditetapkan pada jadwal kalender adat masyarakat dilarang melakukan ativitas seperti menanam, menyiapkan lahan dan hal lainnya yang berkaitan dengan ativitas pertanian.147
Konsep kepercayaan Jingitiu tidak hanya memengaruhi dalam aspek religius saja tetapi juga cara pandang terhadap keberadaannya sebagai individu di tengah masyarakat Sabu. Manusia merupakan ciptaan dari Deo Ama melalui proses penciptaan alam raya. Manusia memiliki tempat dan peranannya baik di dalam keluarga, masyarakat dan juga alam semesta. Manusia yang mendiami alam semesta harus dapat menjaga keharmonisan didalamnya berdasarkan hukum harmoni yang di sebut Uku Rai Hawu, atau hukum tanah Sabu. Tugas manusia ialah tukke pake wahhu, lule pakattu habu lidara lkewahhu Deo para muri mada, yang artinya nasihat, petuah, serta perintah Deo Ama haruslah diikat, dipelihara dan dijadikan pedoman.148 Sedangkan yang menjadi kewajiban ialah pe are pe loje le ae mengarru, merade dau rai haba la’a, badda dahi artinya pelihara dan jaga kebaikan, kesuburan tanah, hewan dan laut sehingga tidak boleh melakukan tindakan yang merusak lingkungan baik di darat maupun di laut seperti kehendak Deo Ama.149 Manusia sebagai mahluk ciptaan yang ada memiliki hubungan saling timbal balik yakni saling membutuhkan, menjaga, melengkapi, merawat dan saling bergantung oleh karena itu dalam tata kehidupan tidak boleh ada hubungan yang saling merugikan atau merusak.
Keharmonisan tidak hanya mengatur hubungan manusia dan alam tetapi juga manusia dan sesamanya manusia. Motto yang terkenal dalam kehidupan masyarakat sabu ialah ie ta lowe wini do memude pa dara lai jaru nga lalu yang berarti betapa bahagianya apabila memiliki banyak saudara karena dapat meringankan beban disaat duka.150 Apabila ada pelanggaran maka dapat menimbulkan kemalangan bagi kehidupan bersama sehingga mengganggu keseimbangan dunia. Sebaliknya jika dapat menjaga tatanan kosmos dengan baik maka dapat mendatangkan kesuburan dan kemakmuran.
Tidak hanya hubungan dengan ciptaan tetapi masyarakat sabu juga diharuskan menjaga hubungan dengan menghormati arwah para leluhur dengan memberikan sesajen pada upacara-upacara adat.
147L. Kana, Dunia orang, 85-90.
148 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
149 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
150 Hasil wawancara dengan Malvinus Raja Hawu tanggal 15 September 2022
39
Bentuk penghormatan lainnya ialah dengan tetap menjaga keutuhan tanah sabu atau Rai Hawu dari kehancuran karena itu merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur.151
3.3 Hakikat, Makna, Fungsi dan Pelaksanaan Tradisi Henge’do pada Masyarakat Kecamatan Sabu Barat
3.3.1 Sejarah, Hakikat dan Makna Filosofis Tradisi Henge’do
Gambar 3.
Tradisi Henge’do
Sumber: Google
Menelusuri asal mulanya kapan tradisi Henge’do dilakukan oleh para leluhur masyarakat Sabu, tidak memiliki penjelasan yang dapat divalidasi kebenarannya. Kurangnya kejelasan tentang asal usulnya dikarenakan tidak ada bukti tertulis. Namun, adapun beberapa informasi bahwa tradisi ini berkaitan dengan cerita masyarakat tentang cerita perpisahan antara kakak beradik yakni Jawa Miha dan Awu Miha.152 Kedua tokoh ini berasal dari cerita rakyat yang dipercayai sebagai para leluhur pertama yang mendiami pulau Sabu. Awu Miha yang adalah adiknya keluar dari wilayah Sabu dalam kurun waktu yang lama. Ketika pulang kembali orang tua dan kakaknya Jawa Miha menyambut
151 L. Kana, Dunia orang, 41.
152 Hasil wawancara dengan Jefrison Haryanto Fernando tanggal 12 September 2022
40
adiknya dengan mencium hidung. 153Inilah mengapa tradisi Henge’do menjadi simbol perpisahan dan pertemuan pada awal mulanya.
Adapun versi cerita tentang asal-usul tradisi Henge’do lainnya bahwa, tradisi Henge’do sering dikatakan sebagai tradisi kikaliru atau sebuah tradisi yang datang dari seberang. Penyebutan ini didasarkan pada sejarah masuknya bangsa Portugis yang memberikan pengajaran Kekristenan namun karena terhalangnya bahasa maka diwujudkan melalui tindakan mencium hidung yang menyimbolkan ajaran tentang kasih. Tradisi Henge’do kemudian dimaknai sebagai simbol perwujudan kasih terhadap sesama. Agar supaya pengajaran kasih ini tidak dengan mudah dilupakan maka diadopsi oleh para leleuhur masyarakat dan diwariskan pada masyarakat di pulau Sabu. Para leluhur yang belum dapat menulis kemudian mewariskannya juga dalam bentuk tradisi lisan sehingga menjadikan tradisi Henge’do menjadi simbol yang digunakan pada setiap perjumpaan dengan orang lain sebagai bentuk menyatakan rasa kasih sayang dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu pola pewarisan tradisi Henge’do terjadi secara lisan sebagai bentuk pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat sebagai ajaran tata krama. Tradisi Henge’do selanjutnya berkembang dan terus terpelihara bahkan menjadi menjadi ciri khas sekaligus identitas bagi masyarakat Sabu.154
Henge’do merupakan tindakan saling mencium pangkal hidung yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Sabu ketika saling bertemu. Henge’do merupakan salah satu Had’da atau adat kebiasaan bagi masyarakat Sabu. Cium juga hidung disebut Henge’do Hewangnga.155 Henge’do yang berarti tindakan mencium dan Hewanga yang berarti hidung. Namun tradisi ini lebih sering disebut sebagai tradisi Henge’do. Bagi masyarakat Sabu Henge’do merupakan Had’da atau kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang Sabu sebagai tata krama masyarakat ketika ada sebuah perjumpaan walaupun itu merupakan pertemuan untuk pertama kalinya.156 Tradisi Henge’do dilakukan dengan siapa pun tanpa memandang apa pun latar belakang sosialnya. Henge’do menjadi perilaku respontif yang secara spontan dilakukan oleh masyarakat yang mendiami wilayah Sabu baik oleh masyarakat
153 Hasil wawancara dengan Jefrison Haryanto Fernando tanggal 12 September 2022
154 Hasil wawancara dengan Adriaunus Terubara tanggal 13 September 2022
155 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
156 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
41
asli Sabu ataupun para pendatang ketika saling bertemu. Henge’do memberi tanda bahwa semua yang ada dan tinggal di wilayah Sabu merupakan bagian dari keluarga yang disebut sebagai Do Hawu di tanah Rai Hawu.
Tradisi Henge’do memuat filosofi yang penting bagi kehidupan masyarakat sabu. Pertama, filosofi tersebut berangkat dari pandangan masyarakat sabu fungsi hidung berfungsi sebagai alat pernapasan. Nafas hidup yang keluar dari hidung mengartikan bahwa ketika masyarakat melakukan tradisi Henge’do maka mereka sedang membagi kehidupan secara bersama-sama. Berbagi kehidupan diartikan bahwa secara bersama-sama masyarakat Sabu tanpa membedakan suku, agama, gender dan status sosial akan saling membagi setiap peristiwa kehidupan baik itu suka maupun duka.157 Hidung yang saling bertemu berarti sikap menerima kehidupan orang lain dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya. Kedua, filosofi ketika bola mata yang bertemu ketika melakukan Henge’do, mengartikan bahwa lewat tradisi Henge’do tatapan tersebut melambangkan relasi yang dilandasi oleh komitmen terhadap kejujuran dan ketulusan tanpa ada motivasi yang tersembunyi apalagi adanya kepura-puraan.158 Ketiga, rangkulan pundak yang dilakukan oleh yang orang lebih dewasa ketika mencium hidung menandai relasi yang akur sebagai ungkapan rasa persaudaraan untuk bersedia pe dharru atau saling menopang satu dengan yang lain.159 Membuka tangan untuk merangkul mengartikan kesiapan orang Sabu untuk hemme we ko penau helau yang berarti menerima dan melangkahkan kaki secara bersama.160
3.3.2 Fungsi Tradisi Henge’do
Tradisi Henge’do yang digunakan pada saat memulai ataupun mengakhiri sebuah perjumpaan baik yang bersifat formal maupun non formal. Dalam pertemuan tersebut tahapan dilakukannya tradisi Henge’do secara umum ialah saling menempelkan pangkal hidung dengan mata yang saling bertatapan dan kemudian adanya rangkulan yang diberikan oleh pihak yang lebih dewasa. Namun
157 Hasil wawancara dengan Adriaunus Terubara tanggal 13 September 2022
158 Harinu E. M. Bangungu, “Henge’do Seni Menggungkapkan”, 195.
159 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
160 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
42
pada kalangan masyarakat Sabu yang masih sangat tradisional memiliki beberapa ragam tradisi Henge’do yang memengaruhi makna dan fungsi tradisi Henge’do. Ragam Henge’do ini juga telah diteliti sebelumnya, pada penelitian ini penulisan mendapatkan narasumber yang menjelaskan ragam tradisi Henge’do menggunakan dua sudut pandang yakni pihak yang mencium dan pihak yang dicium. Dengan demikian penting untuk dijelaskan demi memperkaya makna tradisi Henge’do, walaupun sebagian banyak masyarakat hanya mengetahui satu ragam yang biasanya telah dilakukan sehari-hari. Terdapat 21 ragam Henge’do yang digunakan tergantung dari kepentingan sosial yang ingin dicapai oleh pelaku tradisi. 21 ragam Henge’do diantaranya yakni:
Tabel 3.
21 Ragam Tradisi Henge’do
No Ragam tradisi Henge’do dari Pihak yang mencium
Makna Henge’do
1 Mencium hidung tanpa memegang anggota tubuh lainnya.
Merupakan sapaan biasa.
2. Mencium hidung dengan satu tangan memegang bahu yang dicium.
Menyatakan keinginnan untuk memiliki relasi yang lebih akrab atau dekat.
3 Mencium hidung dengan dua tangan dua tangan saling memegang bahu.
Menyatakan hubungan
kekeluargaan yang siap menanggung beban bersama.
4 Mencium mencium dengan satu tangan memegang kepala bagian samping.
Pihak yang dicium membutuhkan bimbingan .
5 Mencium hidung dengan dua tangan memegang kepala bagian samping.
Pihak yang mencium membutuhkan bimbingan secara lebih mendalam dari hanya sekedar pencerahan.
43 6 Mencium hidung dengan satu tangan
memegang bahu pihak yang dicium kemudian dipeluk.
Pihak yang mencium memohon bantuan secara material.
7 Mencium hidung dengan dua tangan memegang kepala pihak yang dicium kemudian memeluk.
Pihak yang mencium membutuhkan bantuan secara materil yang sifatnya sangat terdesak.
8 Mencium hidung dengan satu tangan memegang kepala bagian samping dan setelah itu memeluk.
Pihak yang mencium membutuhkan pertolongan non materil.
9 Mencium hidung sambil dua tangan memegang kepala bagian samping setelah itu memeluk.
Pihak yang mencium membutuhkan pertolongan non materil yang sifatnya sangat terdesak.
No Ragam tradisi Henge’do dari Pihak yang dicium
Makna Henge’do
1 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan pihak yang dicium memegang bahu pihak yang mencium dengan satu tangan.
Pihak yang dicium bersedia memberikan batuan jika terdapat kesulitan.
2 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan pihak yang dicium memegang bahu pihak yang mencium dengan dua tangan.
Pihak yang dicium menerima secara sukacita sebagai bagian keluarganya.
3 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan setelah itu pihak yang dicium memegang kepala pihak yang mencium dengan satu tangan dan mencium
Pihak yang dicium membutuhkan bimbingan dari pihak yang mencium.
44 4 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh
lainnya dan setelah itu pihak yang dicium memegang kepala pihak yang mencium dengan dua tangan dan mencium.
Pihak yang dicium menginginkan adanya saling diskusi.
5 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan pihak yang dicium memegang bahu pihak yang mencium dengan satu tangan setelah itu memeluknya.
Pihak yang dicium bersedia membantu pihak yang mencium secara material.
5 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan pihak yang dicium memegang bahu pihak yang mencium dengan dua tangan.
setelah itu memeluknya.
Pihak yang dicium menerima secara sukacita sebagai bagian keluarganya dan siap berkorban.
6 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan pihak yang dicium memegang kepala pihak yang mencium dengan satu tangan, setelah itu memeluknya.
Pihak yang dicium merindukan pihak yang mencium.
7 Cium hidung tanpa menyentuh anggota tubuh lainnya dan setelah itu pihak yang dicium memegang kepala pihak yang mencium dengan dua tangan dan mencium. Setelah itu memeluknya.
Pihak yang dicium menyatakan rasa rindu terhadap orang yang benar- benar berjasa bagi dirinya.
8 Cium hdung dengan saling memegang bahu. Menyatakan perasaan yang siap saling berbagi rasa susah dan senang.
9 Cium hidung dengan saling memegang kepala dengan dua tangan.
Pihak yang berciuman ingin duduk bersama saling menukar pikiran
45
atau berdiskusi.
10 Cium hidung dengan saling memegang bahu dan setelah itu berpelukan.
Menyatakan perasaan saling merindukan dan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan (bersifat materil).
11 Cium hidung dengan saling memegang kepala dan setelah itu berpelukan.
Menyatakan perasaan saling merindukan dan rasa terima kasih atas bantuan yang telah diberikan (bersifat non materil).
Sumber: Berdasarkan hasil enelitian yang dilakukan oleh Welser Dimu Nadju, sebagai pegiat kebudayaan di Sabu.
Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa tradisi Henge’do merupakan tindakan yang membutuhkan keterlibatan yang utuh agar makna yang termuat didalamnya dapat diwujudkan sebagai tindakan yang menggambarkan sikap timbal balik. Pihak yang mencium membutuhkan respon dari pihak yang dicium begitupun sebaliknya. Dengan demikian maksud dan tujuan yang hendak dicapai melalui tradisi Henge’do dapat diwujudkan dan dialami secara bersama-sama.
3.3.3 Pelaksanaan Tradisi Henge’do dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Sabu Barat
Dalam pemahaman masyarakat kecamatan Sabu Barat, tardisi Henge’do merupakan tradisi dengan nilai luhur tertinggi. Pemahaman ini berangkat dari pernyataan bahwa pada pangkal hidung orang Sabu terdapat intan dan permata yang berharga sehingga tradisi Henge’do tidak dapat ditukar dengan nilai mata uang atau benda apapun yang mana itu menunjukan kewibawaan tradisi ini bagi masyarakat.161 Intan dan permata ini mejadikan tradisi Henge’do sebagai bentuk tindakan yang mewajibkan setiap masyarakat harus saling menghargai harkat dan martabat sebagai sesama manusia
161 Hasil wawancara dengan Maria Hede tanggal 16 September 2022
46
atau Kebuhue ngi’u dii yang diartikan sebagai adanya keberhargaan pada diri orang Sabu sebagai manusia yang utuh.
Salah satu bentuk nyata kewibawaan tradisi Henge’do ialah pada saat adanya proses pembangunan dan pengembangan dibidang ekonomi dan infrastruktur. Pemerintah akan melakukan pelebaran jalan dan pembuatan embung-embung sehingga masyarakat harus mengorbankan tanah sawah, rumah, mamar, pohon lontar dan sebagainya demi pembangunan. Pada masa pemerintahan Bupati periode 2011 hingga 2016 yakni, Marthen Luther Dira Tome pada tahun 2014 dalam program pembangunan tata kota, bermaksud kerumah-rumah masyarakat untuk memberikan ganti rugi untuk meminta permohonan ijin dalam pembangunan. Namun masyarakat menolak pemberian berupa ganti rugi dan hanya melakukan Tradisi Henge’do sebagai tanda merestui jalannya pembangunan tersebut.162 Tidak hanya itu, dalam hal seperti adanya denda-denda adat tradisi Henge’do sering digunakan sebagai lambang pelunasan akan hutang yang harus dibayar.163 Inilah yang dimaksudkan oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat tentang keluhuran yang ada pada tradisi Henge’do yang tidak dapat ditukar dengan bentuk materil apapun sehingga masyarakat kecamatan Sabu Barat akan merasa berhutang baik dalam hal jasa mau barang apabila belum melakukan tradisi Henge’do.
Apabila dalam sebuah perjumpaan tidak melakukan tradisi Henge’do berarti dianggap tidak adanya rasa saling menghargai atau juga berarti terdapat perselisihan atau masalah. Pada dasarnya tradisi Henge’do juga mengungkapkan bentuk penghormatan atau penghargaan akan harkat dan martabat terhadap kehidupan seseorang.164 Perasaan sukacita yang timbul ketika melakukan tradisi Henge’do menjadi ungkapan rasa syukur dan penerimaan akan kehidupan dari orang lain sebagai sesama ciptaan karena masih dapat dipertemukan.165 Lewat tradisi Henge’do, penerimaan bukanlah hanya bentuk tata kerama tetapi harus bersedia untuk menerima segala bentuk kekurangan dan keterbatasan dari orang lain sehingga pertemuan tersebut tidak boleh dilandasi oleh rasa kebencian.
162 Hasil wawancara dengan Karel Lobo tanggal 15 September 2022
163 Hasil wawancara dengan Malede Wunu Hire tanggal 13 Septemberr 2022
164 Hasil wawancara dengan Malede Wunu Hire tanggal 13 Septemberr 2022
165 Hasil wawancara dengan Neta Riwu tanggal 19 September 2022
47
Tradisi ini bertujuan untuk menyadari akan keberadaan sesama sebagai manusia yang terhormat sekaligus sebagai indikator utama yang digunakan untuk menandai sebuah relasi yang akur.166
Tradisi Henge’do hanya akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya apabila didasari oleh kejujuran dan ketulusan.167 Ketulusan dan kejujuran selalu diungkapkan oleh setiap informan sebagai hal yang diutamakan untuk menghargai dan menjaga kesakralan dari tradisi Henge’do itu sendiri.
Ketulusan dan kejujuran juga menjadikan proses komunikasi yang terjalin melalui tradisi Henge’do akan dapat tersampaikan secara lebih mendalam hingga ke lubuk hati karena dapat memengaruhi seseorang secara aspek emosional. Kedua dasar itu dengan sendirinya juga mempengaruhi pelaku tradisi untuk secara sungguh saling memberi diri dan menerima individu yang lain dengan sepenuh hati tanpa saling mengharapkan balasan. Tradisi ini tidak hanya dilakukan hanya sebuah formalitas tetapi membutuhkan sebuah harmonisasi antara logika dan nurani sebagai perwujudan dari apa yang dipikirkan dan dirasakan kepada orang lain.168 Cara masyarakat menjaga keluhuran dan kewibawaan tradisi ini ialah dengan menghilangkan berbagai motivasi tersembunyi yang sifatnya demi kepentingan diri sendiri agar tidak disalahgunakan. Tradisi Henge’do harus berangkat dari Mola Mira atau kebersihan hati atau ketulusan.169 Apabila Henge’do ditempatkan secara tepat maka nilai sejatinya akan sangat luhur tanpa kepura-puraan karena memiliki kewibawaan untuk mengikat, mengatur bahkan memperbaiki relasi sosial di masyarakat. 170 Oleh karena itu kejujuran dan ketulusan menjadi ketentuan utama dalam pelaksanaan tradisi Henge’do agar tujuan dan harapan bersama yang diinginkan dapat terlaksana secara efektif bagi pelaku tradisi yakni masyarakat kecamatan Sabu Barat.
Tradisi Henge’do telah sangat melekat dengan setiap aspek dalam siklus kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat. Tradisi ini selalu hadir dalam berbagai macam perayaan siklus kehidupan masyarakat Sabu. Pada bagian ini penulis hanya akan menguraikan beberapa peristiwa
166 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
167 Hasil wawancara dengan Malede Wunu Hire tanggal 13 Septemberr 2022
168 Hasil wawancara dengan Demus Heke tanggal 18 September 2022
169 Hasil wawancara dengan Elo Lado tanggal 13 September 2022
170 Hasil wawancara dengan Malede Wunu Hire tanggal 13 Septemberr 2022
48
diantaranya yakni pernikahan, kematian dan proses rekonsiliasi konflik masyarakat. Dengan demikian fungsi tradisi Henge’do dapat dipahami secara lebih konkret.
1. Pernikahan
Tradisi pernikahan pada masyarakat Sabu disebut sebagai Kennoto.171 Dalam tahapannya kedua keluarga memulai percakapan untuk mengajukan beberapa syarat yang berkaitan dengan urusan adat. Pokok percakapan ini ialah mengenai mas kawin yang telah ditentukan terlebih dahulu oleh pihak mempelai wanita. Mas kawin tersebut merupakan jumlah mata uang atau barang yang nantinya harus diberikan kepada ibu dari mempelai perempuan yakni Worara atau uang perak dan Roro atau kalung perak. Penentuan mas kawin biasanya ditentukan atas beberapa faktor yakni seperti: Status sosial, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Semakin tinggi kedudukannya maka mas kawin juga akan semakin tinggi.172 Penentuan mas kawin terkadang menyebabkan adanya hambatan berupa ketidaksanggupan pihak mempelai laki-laki memenuhi permintaan dari pihak mempelai perempuan. Selanjutnya maka kedua belah pihak akan melakukan proses percakapan untuk menentukan kesepakatan tentang mas kawin yang dapat disangguppi oleh kedua belah pihak.
Tradisi Henge’do pada peristiwa pernikahan adat ini akan dilakukan oleh mempelai laki-laki sebagai bentuk pengakuan atas ketidaksanggupan untuk memenuhi syarat yang telah diajukan oleh pihak keluarga mempelai perempuan sehingga memohon adanya pengertian.173 Dalam proses pembicaraan menjadi ruang terbuka untuk saling mengakui dan meminta adanya pengertian dari pihak keluarga mempelai perempuan agar memahami ketidaksanggupan mempelai laki-laki.
Kedua belah pihak keluarga akan membuat kesepakatan baru agar dapat diterima secara bersama- sama. Pada saat keluarga pihak mempelai laki-laki menghampiri pihak perempuan dan mencium hidung dan kemudian keluarga mempelai perempuan merespon ciuman tersebut maka berarti kesepakatan yang baru telah disetujui. Inilah salah satu peran penting tradisi Henge’do dalam
171 Ebenhaizer, Sabu punya, 167.
172 Hasil wawancara dengan Frans Tudemata tanggal 17 September 2022
173 Hasil wawancara dengan Frans Tudemata tanggal 17 September 2022
49
peristiwa perkawinan untuk menyatukan pendapat diantara kedua pihak keluarga agar dapat saling mengerti dan saling melengkapi. Tradisi Henge’do menandakan bahwa kedua pihak elaurga telah menyepakati untuk saling berbagi beban dan menanggung bersama demi memperkuat kekeluargaan atau dara amu.
2. Kematian
Kematian merupakan peristiwa yang menyebabkan rasa duka yang mendalam oleh karena itu masyarakat kecamatan Sabu Barat sebagai bentuk berbagi rasa empatinya diwujudkan dalam tindakan Henge’do. Bagi masyarakat kecamatan Sabu Barat dengan melakukan tradisi Henge’do maka disaat itulah mereka saling berbagi rasa duka dan sepenanggungan dalam merasakan dukacita.174 Keluarga yang mengalami duka juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua yang hadir dalam acara kematian tersebut lewat tradisi Henge’do. Dalam peristiwa kematian juga menjadi momen pertemuan dengan kerabat yang telah lama tidak berjumpa sehingga tradisi Henge’do yang dilakukan sebagai ungkapan rasa rindu juga berperan untuk kembali memperkuat tali persaudaraan. Oleh karena itu setiap individu yang hadir dalam acara kematian wajib melakukan tradisi Henge’do kepada semua yang hadir tanpa melewatkan satu orang pun.
3. Rekonsiliasi Konflik
Proses rekonsiliasi yang ada pada masyarakat kecamatan Sabu Barat sebenarnya telah diatur menurut ketetapan hukum adat namun dalam prosesnya tradisi Hege’do berperan dalam rangkaian rekonsiliasi sebagai sarana yang mempermudah bahkan menyelesaikan proses rekonsiliasi secara lebih kekeluargaan. Apabila dalam kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat terjadi perselisihan maka biasanya menghadirkan pihak ketiga yang berfungsi sebagai mediator.175 Tradisi Henge’do dapat lakukan hanya apabila pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut telah bersedia untuk mau duduk bersama tanpa ada paksaan.
174 Hasil wawancara dengan Adriaunus Terubara tanggal 13 September 2022
175 Hasil wawancara dengan Herry Logo tanggal 7 September 2022
50
Tradisi Henge’do dilakukan pada saat awal memulai proses resolusi berperan untuk mengendalikan situasi dan sekaligus menekan ego dari kedua pihak yang terlibat konflik.
Henge’do yang dilakukan pada awal pembicaraan menjadi langkah awal agar adanya saling keterbukaan untuk mengakui secara jujur dan rendah hati terhadap hal-hal apa yang mendasari konflik yang terjadi.176 Mediator menggunakan tradisi Henge’do untuk dapat memperbaiki situasi menjadi lebih kondusif yang mana dapat meredam amarah dan keegoisan sehingga kemudian dapat menciptakan ruang bersama untuk saling mengungkapkan diri secara jujur. Tradisi Henge’do menjadi langkah awal untuk memudahkan proses rekonsiliasi. Tradisi Henge’do dilakukan ketika setiap pihak tidak lagi dapat mengungkapkan apa yang menjadi isi hati. Tradisi ini meluluhkan perasaan gengsi dan malu untuk mau mengakui kesalahan. Melalui pengakuan inilah yang juga nantinya membuat pihak lain juga turut mengakui untuk mengerti dan terbuka untuk memberikan pengampunan atau pengertian.177 Tradisi sebagai bentuk pengakuan terhadap diri sendiri sebagai pihak yang bersalah. Apabila pihak-pihak yang bertikai telah mengungkapkan semua keinginan maka dilakukan lagi tradisi Henge’do sebagai penutup percakapan tersebut sekaligus menjadi simbol kesepakatan. Biasanya pihak yang mengakui kesalahannya kemudian akan berdiri terlebih dahulu untuk mencium. Tradisi Henge’do akan dilakukan dilakukan hanya jika mediator telah berhasil mempertemukan pendapat-pendapat dan berbagai pertimbangan.
Tuntutan akan kepentingan dan hak dalam proses rekonsiliasi seringkali menjadi persoalan dalam menentukan hasil kesepakatan. Hege’do memengaruhi pertimbangan-pertimbangan agar tetap dilandasi oleh kasih sebagai saudara sehingga mempermudah adanya saling pengertian antara pihak yang bertikai. Tradisi Henge’do digunakan untuk mengungkapkan kasih tetapi tidak pilih kasih sehingga semua dapat menikmati kasih secara bersama-sama atau hela’u mira, bole le ko do woi wala.178 Hasil rekonsiliasi selalu berusaha menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat. Kesepakatan yang dihasilkan tentu mempengaruhi akan
176Hasil wawancara dengan Yenny Riwu tanggal 14 September 2022
177 Hasil wawancara dengan Herry Logo tanggal 7 September 2022
178 Hasil wawancara dengan Elisabeth Baromata 14 September 2022
51
kualitas hubungan dimasa depan. Tradisi Henge’do memainkan peran penting dalam proses rekonsiliasi untuk menentukan sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan yang dihasilkan haruslah berdasarkan pe nau pe dhara mola nga woiye, ketarra pehe ujhu pehade atau kesepakatan yang lahir kesungguhan dan ketulusan hati yang mendatangkan kebaikan bersama bagi semua saudara.179 Setiap individu akan berusaha untuk yang mengejar ataupun menuntut sebuah keadilan. Ketika tradisi Henge’do dilakukan dapat menciptakan sebuah situasi dimana adanya perubahan status dari “Ya atau Aku“ dan “No atau Dia” menjadi “Dii atau Kita”. 180 Dengan status baru itulah diyakni bahwa ada situasi perasudaraan atau Aa Ari Tu ahhu yang diartikan situasi dimana bersama-sama sebagai saudara dan saudari, sehingga tuntutan dan kesepakatan yang dihasilkan dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat dengan status yang sama sebagai saudara untuk menjamin kesejahteraan bersama sebagai keluarga.
Pentingnya keterbukaan atau kejelasan dalam proses rekonsiliasi dipandang penting oleh masyarakat kecamatan Sabu Barat karena setelah adanya kesepakatan dan perdamaian kemudian ditandai dengan tradisi Henge’do maka tidak boleh diungkit lagi dikemudian hari. Tradisi Henge’do menjadi simbol bahwa semua pertikaian dianggap telah benar-benar selesai dan setiap pihak telah mendapatkan kepentingannya masing-masing. Tradisi ini bukan berperan sebagai penyelesaian masalah tetapi menjadi lambang perdamaian atas kesepakatan bersama berlandasakan kasih sayang yang menuju kehidupan bersama dalam damai sejaterah atau pe nuhi lua pe dhei.181 Tradisi Henge’do menjadi bukti bahwa masalah itu telah benar-benar selesai dengan situasi yang telah diperbaiki. Situasi perdamaian telah berhasil dicapai disebabkan karena Semua pihak yang melakukan Henge’do telah berhasil mengurus hati atau Pemane ade dengan menyingkapkan rasa amarah, keegoisan, kekecewaan dan ketidakpuasan.182 Henge’do menawarkan perbaikan relasi untuk menjamin komitmen dalam merajut kembali tali persaudaraan
179 Hasil wawancara dengan Elisabeth Baromata 14 September 2022
180 Hasil wawancara dengan Yenny Riwu tanggal 14 September 2022
181 Hasil wawancara dengan Herry Logo tanggal 7 September 2022
182 Hasil wawancara dengan Herry Logo tanggal 7 September 2022
52
yang tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahan.183 Oleh karena itu melalui tradisi Henge’do masyarakat kecamatan Sabu Barat dapat membangun, memperbaiki dan mempertahankan relasi sosial yang mengindikasikan kesetaraan agar keutuhan dan keharmonisan masyarakat kecamatan Sabu Barat tetap terjaga.
3.4 Tradisi Henge’do Mendidik Masyarakat Kecamatan Sabu Barat dalam Kemajemukan
Masyarakat kecamatan Sabu Barat memiliki keberagaman jenis latar belakangan baik secara sosial, suku maupun agama. Kecamatan Sabu Barat sebagai pusat kota menjadi tempat pertemuan kemajemukan secara lebih intens. Perjumpaan ini terutama terjadi di pasar tradisional karena sebagian besar pendatang berasal suku Jawa, Batak, Madura dan Bugis yang merupakan pedagang. Selanjutnya kehidupan kemajemukan dipengaruhi oleh aktivitas pernikahan campuran yang dilakukan antar masyarakat Sabu asli dan para pendatang sehingga juga menyebabkan adanya kemajemukan pada aspek keagamaan karena sebagian besar masyarakat Sabu asli beragama Kristen. Relasi sosial kemasyarakatan pada masyarakat Kecamatan Sabu Barat cukup menggambarkan keharmonisan namun juga tidak disangkali bahwa potensi konflik dapat mengancam sebuah masyarakat yang sifatnya heterogen. Berkaitan dengan situasi kemajemukan maka kondisi sosial kemasyarakatan kecamatan Sabu Barat akan dijelaskan berdasarkan pengaruh tradisi Henge’do yang berfungsi di tengah masyarakat kecamatan Sabu barat dalam konteks kemajemukan.
Tradisi Henge’do dalam penjelasan sebelumnya memainkan peran sentral dalam dalam membangun sikap masyarakat karena telah mengatur tingkah laku masyarakat kecamatan Sabu Barat secara tidak langsung dalam segala aspek kehidupan. Kehidupan sosial masyarakat kecamatan Sabu Barat ditandai oleh berbagai relasi sosial yang terjalin dengan tetap mengutamakan berbagai pelaksanaan adat istiadat atau yang disebut Adda yang termasuk didalamnya tradisi Henge’do.184 Pola hidup masyarakat kecamatan Sabu barat masih menjunjung berbagai tradisi para leluhur sehingga peran-peran ketua adat masih bersifat dominan. Masyarakat kecamatan Sabu Barat memahami
183 Hasil wawancara dengan Herry Logo tanggal 7 September 2022
184 Hasil wawancara dengan Frans Tudemata tanggal 17 September 2022
53
kehidupan di Rai Hawu adalah merupakan warisan para leluhur yang dilihat sebagai kediaman dimana kehidupan bersama juga menjadi tanggung jawab bersama sehingga memerlukan penjagaan yang ketat terutama terhadap faktor-faktor yang dapat menghancurkan peradaban. Masyarakat kecamatan Sabu Barat menjunjung tinggi rasa persaudaraan hal ini terlihat dari kebiasaan masyarakat Sabu yang selalu memberikan nama kesayangan atau Ngara Waje185 kepada seseorang yang baru pertama kali datang ke pulau Sabu, tanpa memandang dari mana asal sukunya, apa agamanya dan latar belakang sosial lainnya. Proses pemberian nama ini dilakukan setelah melakukan tradisi Henge’do dan mengindikasikan bahwa orang tersebut telah menjadi bagian dari orang sabu Do Di (orangnya kita atau orang sabu) yang telah berbagi kehidupan bersama dan siap untuk saling menerima tanpa memandang perbedaan.186
Masyarakat kecamatan Sabu Barat mewarisi berbagai adat istiadat salah satunya ialah tradisi Henge’do melalui pendidikan keluarga yang dibawa sebagai modal dasar untuk membangun relasi sosial dimasyarakat. Pola pewarisan melalui pendidikan keluarga mempersiapkan setiap individu yakni anak-anak untuk memahami indentias mereka sebagai orang Sabu. Tradisi Henge’do sebagai kebiasaan khas orang Sabu sekaligus menegaskan identitas diri yang memiliki watak dan karakter yang mengutamakan kasih persuadaraan. Heng’do harus dilakukan dengan percaya diri tanpa adanya keraguan karena lewat tradisi Henge’do ada penegasan identitas sebagai orang Sabu, dimana ia berada dan bagaimana cara menepatkan diri. Orang Sabu memahami sesama sebagai saudara sehingga harus mengutamakan kasih persaudaraan yang tidak memicu konflik tetapi menyatukan perbedaan menjadi satu tujuan yang mendatangkan kebaikan bersama.187
Adanya perkawinan campur menyebabkan kemajemukan di tengah masyarakat kecamatan Sabu Barat. Perkawinan campur juga menyebabkan perindahan agama yang terjadi sehingga dalam
185 Pemebrian nama kesayangan ini merupakan bentuk sikap penerimaan. Masyarakat Sabu memberikan nama-nama sesuai dengan nama para leluhur ataupun dengan bahasa Sabu mendalam yang menyimpan makna. Nama inilah yang akan digunakan sebagai sapaan di Rai Hawu dan telah menjadi bagian dari Do Hawu.
186 Hasil wawancara dengan Muhamad Yasin Alboneh tanggal 14 September 2022
187 Hasil wawancara dengan Muhamad Yasin Alboneh tanggal 14 September 2022
54
sebuah rumpun keluarga terdapat lebih dari satu agama.188 Namun hal itu tidak membuat tali kekeluargaan menjadi rusak justru masyarkat Sabu tetap menjunjung nilai-nilai dalam adat istiadat atau uku dalam menjaga kehamonisan di Rai Hawu sebagai tanah leluhur orang Sabu. Setiap pertemuan upacara adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan atau Takwim Adat yang dilaksanakan di masyarakat kecamatan Sabu Barat diawali dan diakhri dengan tradisi Henge’do, dihadiri oleh semua masyarakat tanapa dibatasi oleh perbedaan suku maupun agama. Melalui tradisi Henge’do masyarakat kecamatan Sabu Barat menyadari tanggung jawab bagi orang yang hidup pada Rai Hawu untuk terus menjaga keutuhan masyarakat.
Tradisi Henge’do yang telah dihidupi oleh masyarakat memengaruhi kehidupan bersama yang dilandasi oleh kasih persaudaraan. Sebagai sebuah kekayaan, kemajemukan seringkali mengakibatkan pertentangan bahkan perpecahan apabila tidak dihadapi secara arif. Melalui tradisi Henge’do masyarakat kecamatan Sabu Barat memahami kehidupan bersama perlu dilakukan upaya seperti meredam ego, memiliki keikhlasan untuk menerima, dapat menempatkan diri pada kedudukan yang sama, menghargai sesama, bersedia mengakui kesalahan dan kekurangan serta selalu berusaha memiliki rasa saling pengertian. Tradisi Henge’do mengikat kecamatan Sabu Barat untuk memiliki keintiman relasi tanpa memandang status sosial yang melatarbelakanginya. Keintiman itu tersingkap dengan jelas dalam tradisi Henge’do sehingga telah melatih bahkan mendidik masyarakat kecamatan Sabu Barat untuk hidup tanpa ada sekat.189 Henge’do dapat diakatan sebagai pengetahuan awal masyarakat kecamatan Sabu Barat tentang bagaimana membangun kehidupan bersama dalam rasa persaudaraan dan kekeluargaan.
Tradisi Henge’do tidak hanya bertahan karena telah menjadi kebiasaan masyarakat tetapi karena masyarakat kecamatan Sabu Barat menyadari tradisi ini membawa pengaruh positif terutama menjaga keutuhan masyarakat. Tradisi ini membutuhkan usaha masyarakat yang bertindak secara timbal balik atau saling memberi diri sebagai bentuk kebersamaan. Masyarakat kecamatan Sabu Barat
188 Hasil wawancara dengan Karel Lobo tanggal 15 September 2022
189 Hasil wawancara dengan Yenny Riwu tanggal 14 September 2022
55
menggunakan tradisi ini sebagai bentuk dari pernyataan kasih sayang yang membiasakan orang Sabu untuk mengutamakan sikap yang tidak hanya menerima tetapi juga memberi yakni dia menjaga saya saya pun menjaga dia. Dia merangkul saya maka saya pun merangkul dia. Dia melindungi saya maka saya pun melindungi dia. Dia mengasihi saya maka saya pun mengasihi dia.190
Realitas dan historis kemajemukan seperti yang telah penulis uraikan pada latar belakang sebelumnya masyarakat kecamatan Sabu Barat pernah mengalami gesekan konflik yang mengancam persatuan masyarakat. Tradisi Henge’do kemudian digunakan sebagai media oleh para pemuka agama yang mengadakan sebuah forum resmi untuk menyelesaikan dan memperjelas kesalahpahaman yang menyebabkan konflik masyarakat tersebut. Konflik yang menimbulkan kesalahpahaman diselesaikan secara kekeluargaan dengan menggunakan tradisi Henge’do sebagai simbol perdamaian sehingga meredam situasi ketegangngan di tengah masyarakat. Masyarakat Muslim yang berada di Pulau Sabu memperjelas bahwa dalam kaitan dengan aksi penyerangan yang terjadi sama sekali tidak memiliki korelasi dengan identitas agama maupun suku. Berbagai upaya dan proses mediasi yang dilakukan kemudian diakhiri dengan melakukan Henge’do sehingga permasalahan tersebut menjadi selesai.191 Tradisi Henge’do menjadi tanda perdamaian yang telah disepakati untuk memprioritaskan keharmonisan masyarakat. Tradisi Henge’do merupakan karya para leluhur yang diciptakan dengan cinta kasih yang digunakan untuk merawat kehidupan kekeluargaan dan menyatukan masyarakat kecamatan Sabu Barat sejak dahulu bahkan sebelum adanya perbedaan-perbedaan sosial yang ada saat ini. Oleh karena itu tradisi ini tidak boleh dihalangi oleh perbedaan, tetapi justru memiliki pengaruh untuk mengatur masyarakat dalam situasi perbedaan itu.192
Masyarakat kecamatan Sabu Barat membiasakan diri saling memberi diri dengan yang lain melalui tindakan Henge’do. Melalui tradisi Henge’do memperlihatkan kerukunan tidak hanya berada pada tataran ide atau konsep bersama tetapi telah melalui tindakan nyata yang diperlihatkan dalam kebiasaan perilaku sehari-hari sebagai Uku yang harus dijalankan. Dari kehidupan sosial yang terlihat
190 Hasil wawancara dengan Pdt. Maltheda Djawa Gigi tanggal 13 September 2022
191 Hasil wawancara dengan Jefrison Haryanto Fernando tanggal 12 September 2022
192 Hasil wawancara dengan Muhamad Yasin Alboneh tanggal 14 September 2022
56
bahwa masyarakat kecamatan Sabu Barat saling berupaya untuk menghadirkan solidaritas dan kebersamaan, serasa dan sepenanggungan dalam kesetaraan tanpa ada sekat yang membatasi. Tradisi Henge’do mengikat sekaligus mempengaruhi kehidupan masyarakat kecamatan Sabu Barat serta seluruh masyarakat yang mendiami wilayah Sabu agar tetap merawat tradisi ini sebagai semangat hidup bersama dalam ikatan kekeluargaan.
3.5 Tradisi Henge’do di tengah Pandemi COVID-19
Adanya pandemi COVID-19 mengakibatkan berbagai perubahan dalam segala aspek kehidupan tidak terkecuali aspek sosial budaya yakni berkaitan dengan tradisi Henge’do. Berdasarkan data pada November tahun 2022, kasus COVID-19 di wilayah Kabupaten Sabu berjumlah 2.306 dengan kasus aktif sebanyak 2 kasus, kemudian tingkat kesembuhan 2.278 dan kematian sebanyak 26.193 Sedangkan pada kecamatan Sabu Barat, berjumlah 1.353 dengan kasus aktif sebanyak 1 kasus, kemudian tingkat kesembuhan 1.3333 dan kematian sebanyak 19.194 Oleh karena itu Sejak Maret 2020 dikeluarkan peraturan pemerintah kabupaten Sabu yang mengatur protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus Pandemi COVID-19 menghimbaukan secara khusus untuk berhenti melakukan tradisi Henge’do sementara waktu.
Kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat kecamatan Sabu Barat.
Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga penelitian ini dilakukan akhir tahun 2022, dapat dilihat beradasarkan pembagian periode waktu berdasarkan kasus yang terjadi pada wilayah Sabu. Pada bulan November tahun 2020 kasus mengalami peningkatan hingga pada bulan Juli tahun 2021 sebanyak 24 kasus dan menurun hingga bulan februari 2022 menjadi 0 kasus. Namun kemudian mengalami peningkatan kembali pada bulan Maret 2022 sebanyak 23 kasus dan mulai menurun hingga bulan April tahun 2022.195 Pada periode waktu penelitian ini dilaksanakan pendataan kasus Covid tidak lagi dilakukan karena kasus yang terjadi sebanyak 0 kasus.
193 Lihat Lampiran kasus Data COVID-19 di Kab. Sabu-Raijua
194 Lihat Lampiran kasus Data COVID-19 di Kab. Sabu-Raijua
195Lihat Lampiran kasus Data COVID-19 di Kab. Sabu-Raijua