• Tidak ada hasil yang ditemukan

Trafacon Office Building

Dalam dokumen Redesain Pasar Pancur Batu (Halaman 17-150)

BAB III ELABORASI TEMA

3.4. Studi Banding Tema Sejenis

3.4.3. Trafacon Office Building

Universitas Sumatera Utara | 56

Pada proyek ini hadirnya atap-atap hijau yang ditanami vegetasi berfungsi untuk menurunkan suhu mikro. Hadirnya atap hijau juga berfungsi menjadi taman untuk tiap lantainya yang menjadi ruang relaksasi.

3.4.3. Trafacon Office Building

Nama Proyek : Trafacon Office Building Lokasi : Jakarta, Indonesia

Luas Site : 1.883 m² Luas Lantai : 1.451 m² Firma Arsitektur : 12akitek

Arsitek Prinsipal : M. Hikmat Subarkah, Ginanjar Ramdhani Arsitek Proyek : M. Hikmat Subarkah

Gambar 3.5. Fasad Trafacon Office Building

Bangunan Trafacon Office dibangun dalam rangka melawan masalah bencana banjir di Jakarta, dan untuk mendemonstrasi arsitektur kontemporari dapat diaplikasikan tanpa mengorbankan prinsip dasar dari arsitektur tropis. Berlokasi pada lahan area hijau kota di Jagakarsa, Jakarta Selatan, bangunan ini merupakan kantor pusat Trafacon, perusahaan



Universitas Sumatera Utara | 57

konstruksi. Di dalamnya terdapat kantor pusat, kantor pemasaran, studio fotografi dan fasilitas pendukung lainnya.

Konsep utamanya adalah untuk menciptakan pencampuran suasana antara bangunan dan lingkungannya. Teknik pelipatan kertas digunakan untuk membentuk ruangan, menghasilkan bentuk yang dinamis dan tidak konvensional. Bagian luar bangunan ditutupi dengan green roof, hal ini juga merupakan strategi untuk mengganti area hijau yang terpakau oleh pembangunan bangunan ini. Prinsip dasar dari overhang, cahaya dan aliran udara diadaptasi dari fitur suistainable tradisional seperti sistem manajemen air sebaik teknik ventilasi silang terintegrasi ke arsitektur kontemporer untuk mendapatkan performa lingkungan yang baik.

Gambar 3.6. Proses Pembentukan Bangunan Trafacon Office Building

Fitur Green Architecture Energi

Fungsi yang sama di kelompokkan bersama untuk meningkatkan efisiensi. Melalui pengaturan zoning secara hati-hati, aktivitas manusia menjadi lebih kecil, yang berakibat menurunnya emisi panas. Terpisah dari zona kerja, semua zona lainnya bergantung pada ventilasi alami. Walaupun AC di gunakan di zona kerja, sistem di desain untuk membuat performa yang optimal, yang mengakibatkan terhindarnya pembuangan energi yang sia-sia. Dindingnya kaca yang besar membantu mengurangi kebutuhan cahaya.

Air

Metode konvensional dan hi-tech digunakan untuk menyimpan air. Green roof yang luas digunakan untuk menyimpan dan menyaring air



Universitas Sumatera Utara | 58

hujan, yang mana di salurkan ke ground water tank untuk keperluan flushing kloset dan pengairan tumbuhan. Sistem filtrasi di modifikasi seperti yang digunakan oleh rumah tradisional Indonesia. Terlepas dari ruang penyimpanan yang kecil dan saringan dari kelapa, tanah dan rumput digunakan sebagai lapisan filter yang biasa. Dipasangkan dengan penggunaan teknologi peralatan air lokal, yang mana mengurangi kontaminasi dari besi, magnesium, organic, dan zat ammonium, gabungan zat yang tidak diketahui, bau dan keruh, pengumpulan air hujan juga dapat di ubah menjadi air yang dapat di minum.

Gambar 3.7. Fitur Green Architecture pada Trafacon Office Building

Material

Material rendah energi seperti beton, kaca dan bingkai aluminium anodized digunakan dalam bangunan ini, material dengan zat kimia seperti emulsi cat dihindarkan, meminimalisir dampak negatif pada lingkungan. Dinding kaca transparan diorientasikan sepanjang utara-selatan untuk menghindari sinar matahari langsung. Hal ini meminimalisir radiasi matahari dan perolehan panas, menurunkan temperatur dalam ruangan. Kantilever atap yang besar digunakan untuk keperluan shading, dan green roof yang bertingkat digunakan sebagai lapisan pendingin. Halaman gedung memiliki air mancur dan pohon yang mana berfungsi membantu



Universitas Sumatera Utara | 59

menjaga temperatur dan kelembaban sekitar. Semua faktor tersebut berkontribusi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman. Dengan mendesain fitur tapak yang besar yang juga dapat digunakan sebagai area sosial, sebuah area interaksi outdoor alternatif dibuat disamping ruangan bersama indoor, pantry, dll. Area interaksi hijau menyediakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengkontribusi psikologi yang baik bagi pengguna dimana dapat berubah menjadi efek positif pada kesehatan mereka dan performa kerja.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV



Universitas Sumatera Utara | 60

BAB IV

ANALISA

4.1. Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan 4.1.1. Analisa Lokasi dan Keberadaan Site

Site berada di Jalan Lenjend. Jamin Ginting, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Luas site

 Pasar Atas : 63 m x 80 m = 5040 m2

 Pasar Bawah : 100 m x 130 m = 13000 m2

 Terminal : 17 m x 130 m = 2210 m2 Batas Site

 Utara : Jalan Pelita I dan rumah penduduk

 Selatan : Jalan Pelita II dan rumah penduduk

 Timur : Jalan Lau Buatan dan rumah penduduk

 Barat : Rumah penduduk Lebar Jalan

 Jalan Letjend Jamin Ginting : 7 m

 Jalan Pelita I & II : 5 m

 Jalan Lau Baru : 5 m

GSB :4,5 m KDB : 65% : 0,65 x 20250 : 13162,5 m2 KLB : 2-3 lantai RTH : 30%

Berdasarkan data-data site di atas, maka dapat dikatakan bahwa site terletak di sekitar pemukiman penduduk, sehingga letak site ini sangat



Universitas Sumatera Utara | 61 DARI MEDAN

DARI SIBOLANGIT

mendukung terhadap persentase penjualan pasar. Keberadaan pasar sendiri juga dapat mendukung perekonomian masyarakat sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Selain itu dikarenakan site berada di jalan lintas yang ramai dilalui terutama di hari-hari libur, hal ini dapat menjadi daya tarik pengunjung pasar dari luar kota atau daerah.

Namun keadaan ini tidak hanya bersifat menguntungkan, tetapi juga mempunyai efek negatif, antara lain dengan dekatnya pasar dengan pemukiman penduduk menyebabkan padatnya lalu lintas di sekitar pasar yang berujung kepada kemacetan.



Universitas Sumatera Utara | 62

4.1.2. Analisa Pencapaian Site  Kendaraan

Kondisi

Untuk kendaraan roda 2 dan roda 3 maupun angkutan umum dapat mencapai site melalui jalan utama, yakni Jl. Letjend. Jamin Ginting. Jalan ini merupakan jalanan yang sangat padat dan banyak dilalui oleh berbagai jenis angkutan mulai dari pribadi maupun umum seperti becak, angkot, dan bus. Hal ini dikarenakan jalan ini merupakan jalan lintas yang menghubungkan Kota Medan dan Kota Sibolangit.

Potensi

Site merupakan kawasan yang dapat dilalui oleh berbagi jenis kendaraan, baik itu kendaraan pribadi maupun segala jenis angkutan umum. Hal ini mempermudah masyarakat untuk mencapai kawasan pasar, ditambah dengan adanya terminal pada site.

Masalah

Banyaknya kendaraan yang melalui kawasan ini menimbulkan kemacetan, terutama di akhir pekan. Selain itu, angkutan umum yang melintas seperti angkot dan bus yang melintasi kawasan ini sering berhenti sembarangan untuk menaikan atau menurunkan penumpang mereka. Selain itu,penyebab lain adalah belum adanya area khusus parkir baik untuk pengunjung maupun angkutan umum yang menyebabkan banyak kendaraan pribadi maupun maupun becak yang parker sembarangan dijalan.

Solusi

Untuk mengatasi kemacetan yang disebabkan oleh angkutan umum, maka akan di buat halte ataupun jalur khusus angkutan umum yang menjorok kedalam site sehingga para pengguna kendaraan lain yang melintas di kawasan ini tidak terganggu oleh aktifitas tersebut.selain itu untuk kendaraan pengunjung ataupun becak dan angkutan yang parker menunggu penumpang, akan disediakan parkir



Universitas Sumatera Utara | 63

kendaraan pribadi serta parkir khusus becak mesin dan becak dayung khusus.

 Pejalan Kaki Kondisi

Kawasan ini cukup banyak dilalui oleh pejalan kaki, terutama pagi hingga sore hari yang merupakan puncak aktifitas jual-beli berlangsung di daerah tersebut. Terdapat pedestrian pada eksisting site, namun sayang tidak dapat digunakan karena banyaknya pedagang kaki lima menggunakannya sebagai lapak jualan mereka. Masalah

Jalan yang menjadi jalur pejalan kaki dipenuhi oleh pedangan kaki lima. Selain itu, sering terjadi konflik antara pejalan kaki, kendaraan pribadi dan angkutan umum, karena pedestrian digunakan sebagai lahan parkir serta tempat naik-turun penumpang. Hal ini juga didukung belum adanya lahan parkir yang tersedia. Selain itu belum ada fasilitas seperti halte ataupun jembatan penyeberangan pada site ini menyebabkan site rawan kecelakaan dan kemacetan dikarenakan pengunjung pasar yang sembarangan menyeberang sambil membawa barnag belanjaanya. Solusi

Pedestrian yang ada di sterilkan dari para pedagang dan diberlakukan larangan berjualan di sepanjang pedestrian itu sendiri. Untuk menanggulangi masalah pedagang kaki lima, dapat disediakan oleh pihak pasar lahan khusus disekeliling area pasar. Hal ini dikarenakan rata-rata pedagang kaki lima merupakan pedagang yang berjualan hanya diakhir pecan. Selain itu juga ada baiknya ditambah fasilitas lain yang bermanfat bagi pejalan kaki seperti halte, jembatan penyeberangan maupun zebra cross.



Universitas Sumatera Utara | 64

4.1.3. Analisa Sirkulasi  Kendaraan

Kondisi

Terdapat empat jalan yang berada di sekitar site yaitu Jalan Jamin Ginting, Jalan Pelita I & II, Jalan Lau Baru. Jalan Jamin Ginting merupakan jalan yang bersifat 2 arah, merupakan jalan lintas yang padat dilalui oleh kendaraan dari arah Medan-Sibolangit. Jalan Pelita I, II dan Lau Baru sendiri merupakan jalan kecil yang mengelilingi Pasar Bawah dan bersifat 2 arah. Jalan Jamin Ginting memiliki lebar jalan 7m, Jalan Pelita I, II, dan Lau Baru memiliki lebar 5 m. Entrance masuk pasar yaitu melalui Jalan Jamin Ginting, sedangkan entrance terminal masuk melalui Jalan Pelita I dan keluar melalui Jalan Pelita II.

Gambar 4.2. Jalur Sirkulasi Kendaraan Umum di Terminal

Daftar angkutan umum yang melintasi kawasan site CV. Mitra Transport

- 141, Rute: Pancur Batu / Bts Kota – P. Mandala / Bts Kota. PP - 142, Rute: Pancur Batu / Bts Kota – Gabion Belawan. PP CV. Hikma (warna putih)

- 63, Rute: T. Belawan – P. Batu / Bts Kota. PP PT. Rahayu Medan Ceria

- 103. Ikip / Medan Estate – Pancur Batu – PP - 107. Pancur Batu – Perumnas Mandala – PP



Universitas Sumatera Utara | 65

CV. Laju Deli Sejahtera

- 04. P. Batu / Bts Kota – Tembung Psr X / Bts Kota. PP

Masalah

Banyaknya kendaraan yang melalui kawasan ini menimbulkan kemacetan. Kemacetan lalu lintas di jalan Jamin Ginting pada hari Sabtu dan Minggu terjadi hampir setiap jam mulai pukul 08.00-18.00, kemacetan maksimum terjadi pada pukul 16.00-17.00 dengan nilai LOS 0.80. Selain itu kemacetan juga berasal dari angkutan umum dan kendaraan pribadi yang berhenti atau parkir sembarangan di pinggir jalan.

Solusi

Mengatur sirkulasi yang baik didalam site dengan tetap menggunakan Jalan Jamin Ginting sebagai satu-satunya akses utama. Membuat aturan mengenai larangan keras bagi angkutan umum ataupun pribadi untuk berhenti dan parkir sembarangan. Mempertahankan jalur masuk terminal namun mengubah jalur masuk pasar untuk menghindari kepadatan dengan mengarahkan masuk melalui Jalan Pelita I dan keluar melalui Jalan Pelita II.

 Manusia

Sirkulasi Dalam Masalah

Sirkulasi didalam belum tertata dengan baik. Sirkulasi antar loods ataupun kios merupakan sirkulasi dua arah. Lebar sirkulasi cukup luas namun namun pengunjung kesulitan melewatinya ketika kondisi pasar sedang ramai dikunjungi. Hal ini dikarenakan banyak pedagang ataupun pembeli yang embawa masuk motor atau becak sehingga mempersempit jalur ini. Selain itu penempatan loods ataupun kios-kios belum terorganisir dengan baik sehingga



Universitas Sumatera Utara | 66

pengunjung sering kesulitan mencari atau kesasar. Selain itu, pasar ini masih belum memiliki jalur loading dock (area bongkar muat). Solusi

Mengatur sirkulasi yang baik di dalam bangunan guna memberi kenyamanan bagi pengunjung pasar. Selain itu membuat larangan keras membawa kendaran masuk ke dalam area loods ataupun kios. Menyediakan area bongkar muat untuk mempermudah proses keluar masuknya barang dagangan.

Gambar 4.3. Kondisi sirkulasi yang terdapat di Pasar Atas

Gambar 4.4. Kondisi sirkulasi yang terdapat di Pasar Atas

Sirkulasi Luar Kondisi

Terdapat pedestrian sepanjang Jalan Jamin Gnting. Namun pada area jalan sekeliling site yaitu Jalan Pelita I, Pelita II, dan Lau Baru tidak terdapat pedestrian.

Solusi



Universitas Sumatera Utara | 67

4.1.4. Analisa Vegetasi Kondisi

Vegetasi hanya terdapat didepan site Pasar Bawah yaitu sepanjang Jalan Jamin Ginting. Vegetasi ini sendiri berfungsi sebagai pembatas jalur terminal pasar dengan jalan raya.

Masalah

Dikarenakan minimnya vegetasi pada site, meyebabkan penghawaan di dalam site tidak baik. Hal ini mengakibatkan site panas ketika cuaca panas dan basah serta becek ketika cuaca hujan.

Gambar 4.5. Kondisi vegetasi pada site

Solusi

Direncanakan penambahan open space atau vegetasi rindang dibeberapa titik pasar seperti pohon glodogan dan akasia untuk menambah kesan sejuk pada site serta mengurangi kebisingan dan polusi yang dihasilkan dari jalan raya.



Universitas Sumatera Utara | 68

4.1.5. Analisa Utilitas  Sampah

Kondisi

Tidak terdapat bak sampah yang cukup menampung seluruh sampah pasar. Selain itu masih banyak pedagang yang tidak pedulu dengan lingkungan dengan membuang sampah sembarangan seperti misalnya di selokan dan jalan.

Masalah

Kondisi diatas menyebabkan ketika musim penghujan, pasar menjadi becek, berlumpur serta banyak air menggenang. Sedangkan ketika musim kering banyak lalat yang berterbangan serta bau tidak sedap yang menguap.

Gambar 4.7. Kondisi sampah pada site

Solusi

Disediakannya TPS di beberapa titik pasar untuk memudahkan pedagang membuang sampah dagangannya. Mensosialisikan budaya go-green kepada para pedagang untuk memisahkan sampah organik dan non-organik untuk merawat lingkungan. Selain itu dibuatnya peraturan dari pihak pengelola yang melarang keras pembuangan sampah sembarangan dan menhimbau partisipasi pedagang untuk menjaga kebersihan pasar.



Universitas Sumatera Utara | 69

 Air Kotor Kondisi

Dari hasil survey yang diperoleh, sumber air buangan yang terdapat pada Pasar Pancur Batu bersumber dari air buangan toilet, air hujan, sisa air yang berasal dari loods basah. Sistem distribusinya sendiri sangat buruk, karena banyak saluran buangan tersumbat dan rusak sehingga menimbulkan bau yang tidak enak. Banyaknya saluran yang rusak mengganggu kenyamanan para pejalan kaki yang sedang berbelanja, karena umumnya saluran pembuangan air kotor berada tepat di atas jalur pejalan kaki

Masalah

Ketika hujan datang, sering menimbulkan genangan dan bahkan banjir, selain itu sampah yang menumpuk di saluran buangan air kotor dapat menimbulkan bau yang tidak enak.

Gambar 4.8. Kondisi selokan di sekitar pasar

Solusi

Pada pasar ini dirancang sebuah area peresapan yang dilengkapi dengan filter agar limbah cair yang diproduksi oleh pasar dikembalikan kedalam tanah dalam keadaan bersih. Curah hujan yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih yang sebelumnya dapat diolah atau di filterisasi agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih yang ada di pasar.



Universitas Sumatera Utara | 70

4.1.6. Analisa Parkir Kondisi

Belum terdapat lahan parkir tersedia baik untuk pengunjung maupun penghuni pasar.

Masalah

Belum adanya fasilitas lahan parkir baik untuk pengunjung maupun mobil barang. Sehingga banyak kendaraan yang parkir sembarangan pada badan jalan. Hal ini juga memancing warga sekitar pasar menyewakan lahan rumahnya sebagai tempat parkir.

Solusi

Disediakannya lahan parkir bagi pengunjung maupun mobil barang sehingga tidak menambah kemacetan dengan parkir sembarangan di jalan. Lahan parkir dapat diambil dari site pasar sendiri. Selain itu juga dibuat aturan yang melarang keras adanya parkir sembarangan.

4.1.7. Analisa Keberadaan Terminal Kondisi

Terdapat terminal yang berada di depan site Pasar Bawah. Terminal ini menjadi tempat berhenti angkutan umum dari berbagai jurusan menunggu penumpang. Terminal yang berada di dalam site pasar merupakan terminal dengan tipe B.



Universitas Sumatera Utara | 71

Masalah

Adanya terminal ini menjadi salah satu faktor kemacetan. Terminal belum terorganisir dengan baik dan tidak diperhatikan oleh dinas perhubungan, Selain itu terminal ini tidak memenuhi aturan yang dibuat oleh pemerintah.

Solusi

Mempertimbangkan pemindahan site terminal tidak jauh dari lokasi pasar guna mendukung kelancaran lalu lintas.

4.2. Analisa Fungsional

4.2.1. Analisa Pengguna dan Aktifitas a. Pedagang Loods

Diagram 4.1. Skema Aktifitas Pedagang Loods

b. Pedagang Kios

Diagram 4.2. Skema Aktifitas Pedagang Kios

c. Pengunjung/Pembeli

Diagram 4.3. Skema Aktifitas Pengunjung/Pembeli



Universitas Sumatera Utara | 72

Diagram 4.4. Skema Aktifitas Pengelola

e. Petugas Kebersihan/Servis

Diagram 4.5. Skema Aktifitas Petugas Kebesihan/Servis

4.2.2. Analisa Kegiatan dan Besaran Ruang

No Pemakai Ruang Aktivitas Kebutuhan Ruang Besaran Ruang

1 Produsen

(Pedagang)

Berdagang atau Bejualan

Pedagang Basah

Loods pedagang ikan 2 x 2 = 4 m

Loods pedagang daging 2 x 2 = 4 m

Loods pedagang sayur 2 x 2 = 4 m

Loods pedagang buah 2 x 2 = 4 m

Kios pedagang bumbu dapur 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang sembako 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang rempah 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang kelontong 3 x 3 = 9 m

2 Produsen

(Pedagang)

Berdagang atau Bejualan

Pedagang kering

Kios pedagang pakaian 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang sendal dan sepatu 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang mainan anak-anak 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang tas 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang obat tradisional 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang kue kering 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang perlengkapan sekolah 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang kain 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang perlengkapan sholat 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang tilam/kasur 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang tikar 3 x 3 = 9 m



Universitas Sumatera Utara | 73

Kios pedagang sembako 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang alat-alat rumah

tangga 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang pecah belah 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang plastik 3 x 3 = 9 m

Kios pedagang perlengkapan

pertanian 3 x 3 = 9 m

3

Pengelola Pasar

Mengelola pasar

Ruang pengelola pasar 6 x 6 = 36 m

Pimpinan pasar Pos Satpam* 3 x 2.5 = 7.5 m

Pegawai Klinik 4 x 4= 16 m

Satpam Gudang 6 x 10 = 60 m

Konsumen Bongkar muat 12 x 6 = 72 m

Produsen Depot es 3 x 3 = 9 m

Tukang parkir Toilet 1.5 x 2 = 3 m

Area parkir

- parkir roda dua

- parkir roda empat atau lebih

Tabel 4.1. Analisa Kegiatan dan Kebutuhan Ruang

4.2.3. Analisa Daya Tampung Pasar  Jumlah Pengunjung Pasar

Asumsi

- Dianggap dalam satu keluarga, rata-rata terdiri dari 5 orang

- Dianggap dalam satu keluarga, ada satu anggota keluarga yang berbelanja

- Dianggap tiap keluarga berbelanja 1 kali untuk kebutuhan 2 hari. - Setiap pasar memiliki jumlah pengunjung yang sama.

Jumlah Penduduk Kecamatan Pancur Batu : 2001 : 71.089 jiwa

2006 : 79.740 jiwa 2010 : 87.267 jiwa 2015 : 95.000 jiwa 2020 : 103.000 jiwa

Jumlah Kepala Keluarga : ± 20.600 KK Jumlah KK per pasar : ± 10.300 org



Universitas Sumatera Utara | 74

Jumlah per hari : ± 5.150 org

Jumlah pengunjung per jamnya tahun 2020 : ± 515 org

 Jumlah Kebutuhan Parkir Asumsi

Karena, Pasar Pancur Batu dimulai dari pagi hingga sore hari mulai pukul 08.00-18.00, maka minimal pengunjung berbelanja paling lama adalah 2 jam. Maka jumlah pengunjung dibagi 5 menurut waktunya, setiap 2 jam berganti pembeli.

Di asumsikan 40% jumlah pengunjung berjalan kaki Parkir Mobil : 10% x 5150 : 515 : 5 : 103 Parkir Motor : 15% x 5150 : 772.5 : 5 : 155 Sepeda : 5% x 5150 : 257.5 : 5 : 52 Becak : 10% x 5150 : 515 : 5 : 103 Angkutan Umum : 20% x 5150 : 1030 : 5 : 206

4.2.4. Analisa Kebutuhan Ruang

No Nama Ruang Jumlah Unit Luasan (m2)

Luas Keseluruhan

(m2)



Universitas Sumatera Utara | 75

1 Pasar Basah Utama

Loods 221 4 884 2 x 2 Asumsi

Kios 180 6 1080 2 x 3 Asumsi

PKL 188 4 752 2 x 2 Asumsi

Area Makan 50 org 240

Jumlah 2956 Sirkulasi 886.8 30% Total 3842.8 Pendukung K. Pengelola R. Pimpinan 1 16 4 x 4 R. Pegawai 10 org 96 8x12 R. Arsip 1 16 4 x 4 Janitor 4 16 64 4 x 4 Asumsi KM/WC 8 16 128 4 x 4 Asumsi Jumlah 320 Sirkulasi 96 30% Total 416 Ruang Terbuka 576 Jumlah 576 Sirkulasi 172.8 30% Total 748.8 Toilet 32 2 64 1 x 2 Jumlah 64 Sirkulasi 19.2 30% Total 73.2 Musholla

R. Shalat 50 org 1.25 36 Asumsi

R. Wudhu 2 6 12 Asumsi Jumlah 48 Sirkulasi 14.4 30% Total 62.4 Dok Bongkar Muat Truk 1 buah 24.5 24.5 3.5 x 7 Data Arsitek Pick Up 3 buah 37.5 112.5 2.5 x 5 Data Arsitek Rg. Penerima 1 4 4 2 x 2 Jumlah 141 Sirkulasi 42.3 30%



Universitas Sumatera Utara | 76

Total 183.3 Tambahan Gudang 1 9 9 3 x 3 Pos Satpam 2 16 32 4 x 4 Jumlah 41 Sirkulasi 12.3 30% Total 56.3 Ruang Mesin Ruang Panel 1 16 16 4 x 4 Ruang Genset 1 16 16 4x 4 Ruang Pompa 1 16 16 4x 4 Ruang Tangki 1 16 16 4x 4 Jumlah 64 Sirkulasi 19.2 30% Total 83.2 Total keseluruhan 5466

No Nama Ruang Jumlah Unit Luasan (m2) Luas Keseluruhan (m2) Keterangan Sumber 2 Pasar Kering Utama Kios 357 6 2142 2 x 3 Asumsi Area Makan 50 160 Jumlah 2302 Sirkulasi 690.6 30% Total 2992.6 Pendukung K. Pengelola R. Pegawai 5 64 8x8 R. Arsip 1 4 2 x 2 Janitor 4 16 64 4 x 4 Asumsi KM/WC 8 16 128 4 x 4 Asumsi Jumlah 260 Sirkulasi 78 30% Total 338 Toilet 64 2 128 1 x 2 Jumlah 128 Sirkulasi 38.4 30% Total 166.4



Universitas Sumatera Utara | 77

Musholla

R. Shalat 50 org 1.25 36 Asumsi

R. Wudhu 2 6 12 Asumsi Jumlah 48 Sirkulasi 14.4 30% Total 62.4 Dok Bongkar Muat Truk 1 buah 24.5 24.5 3.5 x 7 Data Arsitek Pick Up 3 buah 37.5 112.5 2.5 x 5 Data Arsitek Rg. Penerima 1 4 4 2 x 2 Jumlah 141 Sirkulasi 42.3 30% Total 183.3 Tambahan Gudang 1 9 9 3 x 3 Pos Satpam 2 16 32 4 x 4 Jumlah 41 Sirkulasi 12.3 30% Total 56.3 Ruang Mesin Ruang Panel 1 16 16 4 x 4 Ruang Genset 1 16 16 4x 4 Ruang Pompa 1 16 16 4x 4 Ruang Tangki 1 16 16 4x 4 Jumlah 64 Sirkulasi 19.2 30% Total 83.2 Total keseluruhan 3882.2

Universitas Sumatera Utara

BAB V



Universitas Sumatera Utara | 78

BAB V

KONSEP

5.1. Konsep Tapak

Gambar 5.1. Konsep Tapak

Konsep tapak yang ingin dicapai adalah bagaimana cara pengolahan tapak agar bangunan Pasar Pancur Batu terlepas dari pemasalahan yang selama ini dialami, diantaranya adalah masalah kemacetan, kumuh dan ketidakteraturan sistem pasar. Entrance pasar berasal dari Jalan Pelita I dan keluar melalui Jalan Pelita II. Jalur transportasi umum dibagi menjadi tiga, yaitu jalur untuk bus, angkot, dan becak. Hal ini untuk mencegah kemacetan yang dihasilkan



Universitas Sumatera Utara | 79

oleh kendaraan umu ketika berhenti atau menaik-turunkan penumpang. Kemudian area parkir dibuat di sekeliling bangunan dengan menggunakan lahan site yang menjorok kedalam. Untuk pedestrian juga dibuat disekeliling site dan ditata senyaman mungkin.

5.2. Konsep Zoning

Gambar 5.2. Konsep Zoning Luar Bangunan

Massa bangunan dibagi menjadi dua yaitu pasar basah dan pasar kering. Hal ini utnuk mempermudah pembuangan sampah yang dihasilkan oleh pasar. Selain itu juga untuk mempermudah pengunjung mencari barang keperluaannya karena sudah terorganisir berdasarkan kelompoknya.



Universitas Sumatera Utara | 80

Gambar 5.3. Konsep Zoning Ground



Universitas Sumatera Utara | 81

Gambar 5.5. Konsep Zoning Lantai 3

Gambar 5.6. Konsep Zoning Lantai 4

5.3. Konsep Sirkulasi

a. Konsep Sirkulasi Pengunjung dengan Kendaraan Umum

Pasar dapat diakses menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Kendaraan umum tersebut diantaranya adalah becak bermotor, angkot, ataupun bus kecil trans. Oleh karena itu, maka dibuat tiga jalur tersendiri untuk masing-masing kendaraan pada Pasar Basah dan satu jalur pada Pasar Kering. Jalur dibuat menjorok ke dalam site, sehingga tidak menggunakan jalan raya. Hal ini untuk menghilangkan kemacetan yang dihasilkan oleh angkutan umum yang suka menaikkan atau menurunkan penumpang sembarangan dijalan. Selain itu ditambah



Universitas Sumatera Utara | 82

juga fasilitas pendukung tambahan seperti halte untuk mendukung kenyamanan pengguna kendaraan umum tersebut.

Gambar 5.7. Konsep Sirkulasi Pengunjung dengan Kendaraan Umum

b. Konsep Sirkulasi Pengunjung dengan Kendaraan Pribadi

Tersedia parkir untuk pengendara mobil dan motor pada kedua pasar.

Dalam dokumen Redesain Pasar Pancur Batu (Halaman 17-150)

Dokumen terkait