Universitas Sumatera Utara | 141
DAFTAR PUSTAKA
Republik Indonesia. 2007. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 112 Tahun 2007 Tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Sekretariat Kabinet RI, Jakarta.
Kementrian Dalam Negeri. 2012. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 20 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar. Jakarta : Departemen Dalam Negeri.
Kementrian Kesehatan. 2008. Keputusan Menteri Kesehatan No. 59 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyelanggaraan Pasar Sehat. Jakarta : Departemen Kesehatan.
Direktorat Jenderal Perhubungan. 1993. Keputusan Direktorat Jendral Perhubungan Darat No.31 Tahun 1993 Tentang Terminal Trasportasi Jalan. Jakarta : Dinas Perhubungan.
Republik Indonesia. 1993. Peraturan Pemerintah No.43 Tahun 1993 Tentang
Pedoman Teknis Pembangunan dan Penyelenggaraan Terminal Angkutan Penumpang dan Barang. Sekretariat RI, Jakarta.
Kementerian Pekerjaan Umum. 2007. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tanggal 16 Maret 2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Jakarta : Dinas Pekerjaan Umum. D.K. Ching, Francis. 2008. Arsitektur Bentuk, Ruang, dan Tatanan. Edisi
ke-3.Jakarta : Erlangga.
Neufer, Ernst. 1992. Data Arsitek. Edisi ke-2.Jilid 1.Cetakan ke-5.Jakarta :
Erlangga.
Neufer, Ernst. 1996. Data Arsitek. Edisi ke-33.Jilid 1.Jakarta : Erlangga.
Neufer, Ernst. 2002. Data Arsitek. Edisi ke-33.Jilid 2.Jakarta : Erlangga.
Universitas Sumatera Utara
BAB III
Universitas Sumatera Utara | 44
BAB III
ELABORASI TEMA
3.1. Pengertian Tema
Adapun pengertian tema yang diambil untuk diterapkan pada bangunan
Pasar Pancur Batu ini adalah Green Architecture (Arsitektur Hijau).
Istilah “green”, berasal dari Bahasa Inggris yang berarti hijau, dimana merupakan suatu simbol warna yang mewakili daun tumbuhan yang
berklorofil, atau mewakili lingkungan dan alam.
Kata “green” dalam arsitektur pada awalnya dianggap sebagai hal yang tabu seperti ketika kata postmodernisme dan dekonstruksi muncul beberapa
tahun lebih awal. Pada saat kemunculan istilah “green” menimbulkan kesalahpahaman serta memancing respon untuk membicarakan masalah green
itu sendiri. Namun setelah muncul beberapa kelompok atau lembaga yang
melakukan pendekatan dalam Green Movement dengan menekankan dan mengaplikasikannya sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan
masing-masing. Salah satunya dengan merancang sebuah rumah sementara yang
menunjukkan manusia tidak menjadi asing dengan lingkungannya yang
dilakukan oleh Walden Pond.
Kata Architecture berasal dari bahasa Yunani :
Arche : yang asli, yang utama, yang awal
Tektoon : sesuatu yang berdiri kokoh, tidak roboh, stabil, dsb.
Archetektoon : pembangunan utama, tukang ahli bangunan yang utama.
Arsitektur memiliki pengertian sebagai ilmu yang mempelajari tentang
Universitas Sumatera Utara | 45
Green Architecture adalah sebuah gerakan yang dilakukan dalam rangka menggunakan langkah – langkah yang berusaha semaksimal mungkin tidak
merusak alam dan mengembalikan manusia ke dalam kehidupan yang nyaman
serta sehat.
Beberapa pemahaman akan green architecture dikembangkan oleh beberapa teori dan kritik sebagai berikut :
a. Green Architecture oleh Brenda dan Robert Vale
o Penghematan Energi
- Meminimalkan penggunaan energi.
- Perlindungan terhadap sumber daya alam.
- Pendayagunaan alam sebagai sumber energi sebagai keperluan
studi dan rekreasi.
- Memanfaatkan limbah dengan sebaik-baiknya.
- Penentuan lokasi yang tepat guna dengan cara memilih
penggunaan sumber daya alam yang sesuai dengan kebutuhan dan
fungsi bangunan atau proyek.
o Bekerja dengan iklim
- Bekerja sama dalam pengunaan energi dari alam.
- Memanfaatkan energi yang tersedia dengan sebaik-baiknya.
- Pencahayaan alami pada siang hari.
- Penghawaan alami..
o Meminimalisasi penggunaan sumber daya alam baru
- Penggunaan material daur ulang.
- Penggunaan material yang dapat diperbaharui.
- Merancang bangunan dari sisa bangunan sebelumnya.
- Penggunaan material yang ramah lingkungan.
o Menghargai pengguna
Menyadari bahwa pengguna atau pemakai dari bangunan harus
Universitas Sumatera Utara | 46
memperhatikan kenyamanan penggunanya namun tetap selaras dengan
prinsip-prinsip green architecture.
o Menghargai Site
- Seminimal mungkin merubah tapak yang sudah ada. Memberi
pori-pori bagi tanah agar tetap memiliki aliran udara.
- Interaksi bangunan terhadap site.
o Holistik
Semua prinsip green architecture digabungkan dalam suatu pendekatan holistik pada lingkungan yang akan dibangun.
b. Green Architecture oleh standar Leadership in Energy and Enviromental
Design (LEED) :
o Penggunaan pengembangan lahan berkelanjutan, jika mungkin, dapat
menggunakan material – material dari bangunan yang telah dibangun
dan memelihara lingkungan sekitar. Penggunaan roof garden dan penanaman vegetasi di sekitar bangunan dan di dalam site sangat
mendukung.
o Penggunaan pendaur ulang air kotor (air yang telah digunakan) dan
penginstalasian bangunan yang dapat menampung air hujan.
Penggunaan dan penyediaan air perlu dimonitari.
o Efisiensi energi dapat ditingkatkan dengan cara yang bermacam –
macam, contohnya, pengorientasi bangunan untuk mendapatkan
keuntungan penuh dari perubahan musim dalam posisi matahari dan
menggunakan alternatatif energi seperti energi solar dan energi dingin
o Penggunaan material yang di daur ulang yang tidak memerlukan energi
yang banyak untuk membuatnya lagi. Selain itu dapat juga
meggunakan material lokal yang rendah polusi.
Universitas Sumatera Utara | 47
c. Menurut buku Green Architecture, terbitan Taschen, tahun 2008, standar dari bangunan eco – friendly adalah :
o Bangunan yang lebih kecil
o Penggunaan material daur ulang
o Penggunaan material hemat energi
o Penggunaan kayu hasil panen daerah sekitar (untuk masa
pembangunan dan furnishing) dan menghindari kayu impor.
o Menggunakan sistem penggunaan air alternatif.
o Perawatan bangunan yang murah
o Pendaur ulangan bangunan
o Pengurangan bahan kimia perusak ozon
o Pemeliharaan lingkungan sekitar
o Efisiensi energi
o Orientasi matahari
o Akses ke transportasi publik
Green Architecture merupakan salah satu aliran dalam arsitektur yang memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup di dalam melakukan
proses desain. Green Architecture muncul sebagai suatu solusi untuk melestarikan lingkungan hidup yang semakin rusak akibat pembangunan yang
tidak memperhatikan faktor-faktor lingkungan.
Tujuan dari Green Architecture adalah menghasilkan suatu bangunan yang
bersahabat dengan lingkungannya dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Hal ini
dapat dicapai dengan menerapkan konsep-konsep Green Architecture pada bangunan yang akan dirancang.
Dengan menerapkan prinsip ini pada bangunan, maka dapat menjawab
beberapa isu global mengenai kerusakan lingkungan dan pemanasan global
Universitas Sumatera Utara | 48
3.2. Interpretasi Tema
Dari beberapa prinsip – prinsip Green Architecture dari beberapa tokoh yang telah di uraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pokok – pokok
pikiran atau prinsip Green Architecture itu sendiri adalah :
o Sumber energi alternatif
Bangunan dan lingkungannya dapat mensuplai energi sendiri. Energi
matahari dan angin merupakan alternatif yang biasa digunakan untuk
dimanfaatkan sebagai pengganti energi listrik
o Konservasi energi
Bangunan mempunyai pengkondisian udara yang baik, sehingga tidak
membuang-buang energi untuk pengkondisian udara buatan dalam
bangunan.
o Penggunaan material
Bangunan menggunakan material daur ulang dari bangunan yang telah
dibangunan. Selain itu, bangunan juga dapat menggunakan bahan material
dari daerah setempat.
o Peletakan bangunan pada site
Perletakan bangunan harus diperhatikan agar meminimalisasi perusakan
ekosistem lingkungan sekitar site.
Aplikasi bangunan menggunakan pendekatan Green Architecture dengan menggunakan fitur – fitur sebagai berikut :
o Meminimalisir perusakan terhadap site, bangunan mengikuti kemiringan kontur yang ada. Penggunaan material yang mudah diperoleh dan ramah
lingkungan.
o Penggunaan material yang berasal dari daerah setempat yang ramah
lingkungan, tidak mengandung zat-zat berbahaya yang dapat mencemari
lingkungan dan mengganggu kesehatan manusia.
o Pemakaian green roof ini tidak hanya mempertahankan daerah hijau yang
hilang, tetapi juga dapat menjadi wadah penampung air hujan yang
Universitas Sumatera Utara | 49
keperluan penyiraman tanaman bahkan untuk sanitasi bangunan seperti
flush kloset.
o Memanfaatkan panas matahari lalu mengubahnya menjadi energi listrik
yang dapat digunakan untuk pemakaian listrik bangunan.
Di beberapa negara maju telah dikeluarkan beberapa peraturan yang
berkaitan tentang lingkungan hidup seperti pembangunan suatu kawasan yang
harus ramah lingkungan, kontrol terhadap emisi yang dikeluarkan kendaraan
bermotor, hingga pembatasan jumlah kendaraan bermotor yang
mengakibatkan polusi terhadap lingkungan.
Departemen Lingkungan Hidup merupakan lembaga yang harus bertugas
untuk melakukan pengawasan terhadap perencanaan dan pembangunan
kawasan perkotaan.
Green Architecture Dalam Konteks Kota
Pemerintah kota Medan telah menetapkan Rencana Strategik (Restra) Kota
Medan sesuai dengan Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2002, dengan visi :
“Mewujudkan Kota Medan sebagai Kota Metropolitan bercirikan Masyarakat Madani yang menguasai Iptek, dan bermuatan Imtaq serta berwawasan
Lingkungan Hidup”
Terdapat beberapa isu lingkungan hidup di Kota Medan yang
menyebabkan diperlukannya konsep pendekatan “green” terhadap perencanaan dan perancangan arsitektur kotanya. Isu-isu tersebut diantaranya:
pencemaran akibat limbah industri, rumah sakit, hotel, pusat perbelanjaan,
restoran, sampah perkotaan, krisis persediaan air tawar, degradasi tanah dan
lahan pertanian, pencemaran udara, konflik sosial, lingkungan, transportasi,
dan ruang terbuka hijau.
Universitas Sumatera Utara | 50
o Mewujudkan suatu kawasan dengan perbandingan lahan hijau dengan
lahan terbangun yang sesuai.
Sesuai dengan peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007
tanggal 16 Maret 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan dijelaskan bahwa perbandingan antara lahan hijau dengan
lahan terbangun adalah 40:60. Hal tesebut tercantum dalam KDH
(Koefisien Dasar Hijau) yaitu persentase perbandingan antara luas seluruh
ruang terbuka diluar bangunan gedung diperuntukkan bagi pertamanan/
penghijauan dan luas tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai.
o Mengembangkan Tata Vegetasi yang baik
Tata vegetasi suatu kawasan juga sangat mempengaruhi kondisi
lingkungan bangunan yang terdapat pada kawasan tersebut. Dengan
adanya tata vegetasi yang baik diharapkan dapat memperbaiki iklim makro
dan mengurangi polusi udara terutama pada bangunan tempat manusia
beraktivitas. Dengan adanya tata vegetasi yang baik dapat mengurangi
emisi gas karbon dioksida yang secara otomatis akan mengurangi dampak
pemanasan global.
o Mengembangkan bangunan hijau (Green Building)
Dalam konsep green building pada bangunan dapat dilakukan berbagai
cara sebagai berikut :
- Membuat atap Hijau (Roof-Garden)
- Menempatkan bukaan sebagai tempat masuknya cahaya dan udara
pada tempat yang tepat.
- Menggunakan teknologi photovoltaic, water filtration, air filtration, dan sebagainya.
- Menghadirkan taman pada bangunan.
- Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan.
- Melakukan penanganan limbah yang efektif.
- Menggunakan perabot dalam bangunan yang hemat energi dan hemat
pemakaian air.
Universitas Sumatera Utara | 51
- Melakukan proses recycle dan reuse untuk air dan limbah
- Untuk mewujudkan konsep green pada bangunan perlu dilakukan proses pendaur-ulangan dan pemanfaatan kembali air dan limbah.
3.3. Keterkaitan Tema dengan Judul
Pasar tradisional merupakan salah satu topik yang sering diperbincangkan
saat ini. Banyaknya masalah yang disebabkan ketika beroperasi seperti
kemacetan hingga masalah seperti limbah, sehingga perlu perhatian khusus
dalam pemecahan masalahnya. Sebagai salah satu tempat publik, dimana
berlangsungnya transaksi jual-beli, maka diperlukan suatu pasar yang nyaman
bagi pengguna maupun pengunjung serta ramah terhadap lingkungan.
Selain itu isu krisis energi dan isu kerusakan lingkungan yang ada saat ini
mengharuskan adanya banguan-bangunan yang hemat energi dan dapat
memanfaatkan sumber energi alamiah. “Redesain Pasar Pancur Batu”
merupakan suatu alternatif pemecahan masalah untuk memperbaiki kondisi
pasar yang ada saat ini.
Dengan menerapkan kosep Green Architecture, desain yang ada akan mampu memecahkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti penghematan
energi sampai pengolahan limbah. Sesuai dengan rencana pemerintah yang
ingin memperbaiki kondisi pasar tradisional menjadi tempat yang dapat
menjadi alternatif bukan hanya untuk masyarakat menengah ke bawah
melainkan juga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat menengah ke atas.
Dengan adanya Redesain Pasar Pancur Baru yang menerapkan konsep
“green” ini, diharapkan akan dapat menciptakan suatu suasana yang alami, yang dapat membuat nyaman para pengguna, baik itu pedagang maupun
pembeli. Serta dapat memberi kontribusi dalam pemecahan permasalahan
lingkungan.
3.4. Studi Banding Tema Sejenis
Universitas Sumatera Utara | 52
Site terletak pada lembah yang mana harusnya menjadi paru-paru kota
pada masterplan dari kampus universitas seluas 200 Ha. Bangunan yang
digunakan sebagai kampus ini memiliki luas sekitar 202.357 kaki atau
sekitar 4,639 Ha. Pembangunan School of Art, Design and Media, Nanyang Technological University ini selesai pada Juni 2006, dan berkapasitas 900 mahasiswa.
Site Plan
Desain terdiri dari tiga blok terjalin dengan green roof pada seluruh atap yang menimbulkan kesan natural seperti di atas tanah. Blok-blok ini
mengelilingi untuk membuat Sunken Plaza yang indah, yang mana
meliputi kolam dengan air terjun dan lansekap yang indah.
Gambar 3.1. Site Plan School of Art, Design and Media, Nanyang Technological University
Floor Plan
Bentangan dari dua blok membentuk sebuah pintu masuk yang
mengundang bagi kampus ini. Pintu masuk ganda mengarahkan ke dalam
lobby yang luas dengan elemen sirkulasi seperti lift, tangga terbuka dan jembatan penghubung, dari area lobby tersebut, mahasiswa dapat langsung
Universitas Sumatera Utara | 53
Auditorium terdiri dari dua lantai, terdapat sebuah perpustakaan luas,
lengkap dengan ruang fotokopi, area santai (lounge) dan area belajar.
Entrance utama tapak ini terletak pada tapak drop-off yang mana dibuat oleh bentangan dari dua blok yang terjalin.
Gambar 3.2. Floor Plan School of Art, Design and Media, Nanyang Technological University
Universitas Sumatera Utara | 54
Fitur Green Architecture
Energi Matahari dan Pencahayaan Alami
Kaca yang menyelubungi bangunan membuat pencahayaan alami
dapat masuk ke dalam bangunan. Dalam studio, pencahaan alami
membantu dalam memberikan warna asli dalam rendering pada pekerjaan
para mahasiswa. Pencahayaan alami yang di filter melalui daun-daunan
dan pohon memberikan sensasi kenyamanan pada pengguna bangunan.
Elemen dan Bangunan Sustainable
Performa yang tinggi dari fasad kaca menghalangi panas matahari
yang masuk tetapi membiarkan cahaya masuk dan menerangi interior
bangunan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi energi yang di habiskan
pada pemakaian AC (pendingin ruangan). Atap yang seluruhnya ditanami
rumput Zoysia Matrella memberikan insulasi yang sangat bagus pada
space dibawahnya. Tempat penyiraman air di bawah tanah yang ringan
membantu untuk memberikan suplai yang konstan dalam rangka merawat
pertumbuhan rumput. Air hujan juga dikumpulkan dari atap dan disalurkan
ke dalam tangki penyimpanan untuk irigasi pada atap.
Penanda Lokal
Desain bangunan terinspirasi dari lahan yang berbukit-bukit dari
topografi yang berkontur dan lingkungan hutan sekitar kampus. Dengan
bentuk massa bangunan ini, bersama-sama dengan roof garden-nya, membantu untuk menyatukan bangunan dengan tapak sekitarnya.
Menghubungkan Komunitas
Kampus ini terletak pada jantung kota. Di samping menjadi sebuah
Universitas Sumatera Utara | 55
3.4.2. Fukuoka ACROS (Jepang)
Di Kota Fukuoka di Jepang, mereka memiliki sebuah bangunan yang
disebut “Fukuoka ACROS” terlihat sangat berbeda dari dua sisi: satu sisi seperti sebuah bangunan kantor konvensional dengan dinding kaca, namun
di sisi lain terdapat atap yang besar dan bertingkat dengan sebuah taman.
Gambar 3.4. Fasad Fukuoka ACROS di Jepang
Bangunan kompleks perkantoran ini merupakan pemecahan terhadap
masalah urban ruang terbuka. Dengan kepadatan pembangunan fisik yang
tinggi, arsitek mencoba menghadirkan bangunan yang dapat
mengakomodasi fungsi privat sekaligus publik. Di sebelah utara yang
menghadap jalan utama, dibuat fasade bangunan yang modern. Di sebelah
selatan yang menghadap ruang terbuka, dibuat atap teras yang menyerupai
sengkedan. Setiap lantai mempunyai taman yang berfungsi untuk meditasi
dan relaksasi. Desain yang menampilkan unsur tanaman ke dalam
bangunan ini berfungsi sebagai pemecah kesan keras pada bangunan.
Dengan integrasi terhadap unsur lingkungan, bangunan ini turut
menurunkan suhu mikro disekitarnya Teras taman yang mencapai hingga
sekitar 60 meter di atas tanah, berisi 35.000 tanaman yang mewakili 76
Universitas Sumatera Utara | 56
Pada proyek ini hadirnya atap-atap hijau yang ditanami vegetasi
berfungsi untuk menurunkan suhu mikro. Hadirnya atap hijau juga
berfungsi menjadi taman untuk tiap lantainya yang menjadi ruang
relaksasi.
3.4.3. Trafacon Office Building
Nama Proyek : Trafacon Office Building
Lokasi : Jakarta, Indonesia
Luas Site : 1.883 m²
Luas Lantai : 1.451 m²
Firma Arsitektur : 12akitek
Arsitek Prinsipal : M. Hikmat Subarkah, Ginanjar Ramdhani
Arsitek Proyek : M. Hikmat Subarkah
Gambar 3.5. Fasad Trafacon Office Building
Bangunan Trafacon Office dibangun dalam rangka melawan masalah
bencana banjir di Jakarta, dan untuk mendemonstrasi arsitektur
kontemporari dapat diaplikasikan tanpa mengorbankan prinsip dasar dari
arsitektur tropis. Berlokasi pada lahan area hijau kota di Jagakarsa, Jakarta
Universitas Sumatera Utara | 57
konstruksi. Di dalamnya terdapat kantor pusat, kantor pemasaran, studio
fotografi dan fasilitas pendukung lainnya.
Konsep utamanya adalah untuk menciptakan pencampuran suasana
antara bangunan dan lingkungannya. Teknik pelipatan kertas digunakan
untuk membentuk ruangan, menghasilkan bentuk yang dinamis dan tidak
konvensional. Bagian luar bangunan ditutupi dengan green roof, hal ini juga merupakan strategi untuk mengganti area hijau yang terpakau oleh
pembangunan bangunan ini. Prinsip dasar dari overhang, cahaya dan aliran
udara diadaptasi dari fitur suistainable tradisional seperti sistem manajemen air sebaik teknik ventilasi silang terintegrasi ke arsitektur
kontemporer untuk mendapatkan performa lingkungan yang baik.
Gambar 3.6. Proses Pembentukan Bangunan Trafacon Office Building
Fitur Green Architecture
Energi
Fungsi yang sama di kelompokkan bersama untuk meningkatkan
efisiensi. Melalui pengaturan zoning secara hati-hati, aktivitas manusia
menjadi lebih kecil, yang berakibat menurunnya emisi panas. Terpisah dari
zona kerja, semua zona lainnya bergantung pada ventilasi alami.
Walaupun AC di gunakan di zona kerja, sistem di desain untuk membuat
performa yang optimal, yang mengakibatkan terhindarnya pembuangan
energi yang sia-sia. Dindingnya kaca yang besar membantu mengurangi
kebutuhan cahaya.
Air
Universitas Sumatera Utara | 58
hujan, yang mana di salurkan ke ground water tank untuk keperluan
flushing kloset dan pengairan tumbuhan. Sistem filtrasi di modifikasi
seperti yang digunakan oleh rumah tradisional Indonesia. Terlepas dari
ruang penyimpanan yang kecil dan saringan dari kelapa, tanah dan rumput
digunakan sebagai lapisan filter yang biasa. Dipasangkan dengan
penggunaan teknologi peralatan air lokal, yang mana mengurangi
kontaminasi dari besi, magnesium, organic, dan zat ammonium, gabungan
zat yang tidak diketahui, bau dan keruh, pengumpulan air hujan juga dapat
di ubah menjadi air yang dapat di minum.
Gambar 3.7. Fitur Green Architecture pada Trafacon Office Building
Material
Material rendah energi seperti beton, kaca dan bingkai aluminium
anodized digunakan dalam bangunan ini, material dengan zat kimia seperti
emulsi cat dihindarkan, meminimalisir dampak negatif pada lingkungan.
Dinding kaca transparan diorientasikan sepanjang utara-selatan untuk
menghindari sinar matahari langsung. Hal ini meminimalisir radiasi
matahari dan perolehan panas, menurunkan temperatur dalam ruangan.
Universitas Sumatera Utara | 59
menjaga temperatur dan kelembaban sekitar. Semua faktor tersebut
berkontribusi untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman.
Dengan mendesain fitur tapak yang besar yang juga dapat digunakan
sebagai area sosial, sebuah area interaksi outdoor alternatif dibuat disamping ruangan bersama indoor, pantry, dll. Area interaksi hijau menyediakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengkontribusi
psikologi yang baik bagi pengguna dimana dapat berubah menjadi efek
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
Universitas Sumatera Utara | 60
BAB IV
ANALISA
4.1. Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan
4.1.1. Analisa Lokasi dan Keberadaan Site
Site berada di Jalan Lenjend. Jamin Ginting, Kecamatan Pancur Batu,
Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia.
Luas site
Selatan : Jalan Pelita II dan rumah penduduk
Timur : Jalan Lau Buatan dan rumah penduduk
Universitas Sumatera Utara | 61 DARI MEDAN
DARI SIBOLANGIT
mendukung terhadap persentase penjualan pasar. Keberadaan pasar sendiri
juga dapat mendukung perekonomian masyarakat sekitar yang sebagian
besar berprofesi sebagai pedagang. Selain itu dikarenakan site berada di
jalan lintas yang ramai dilalui terutama di hari-hari libur, hal ini dapat
menjadi daya tarik pengunjung pasar dari luar kota atau daerah.
Namun keadaan ini tidak hanya bersifat menguntungkan, tetapi juga
mempunyai efek negatif, antara lain dengan dekatnya pasar dengan
pemukiman penduduk menyebabkan padatnya lalu lintas di sekitar pasar
yang berujung kepada kemacetan.
Universitas Sumatera Utara | 62
4.1.2. Analisa Pencapaian Site Kendaraan
Kondisi
Untuk kendaraan roda 2 dan roda 3 maupun angkutan umum dapat
mencapai site melalui jalan utama, yakni Jl. Letjend. Jamin Ginting.
Jalan ini merupakan jalanan yang sangat padat dan banyak dilalui oleh
berbagai jenis angkutan mulai dari pribadi maupun umum seperti
becak, angkot, dan bus. Hal ini dikarenakan jalan ini merupakan jalan
lintas yang menghubungkan Kota Medan dan Kota Sibolangit.
Potensi
Site merupakan kawasan yang dapat dilalui oleh berbagi jenis
kendaraan, baik itu kendaraan pribadi maupun segala jenis angkutan
umum. Hal ini mempermudah masyarakat untuk mencapai kawasan
pasar, ditambah dengan adanya terminal pada site.
Masalah
Banyaknya kendaraan yang melalui kawasan ini menimbulkan
kemacetan, terutama di akhir pekan. Selain itu, angkutan umum yang
melintas seperti angkot dan bus yang melintasi kawasan ini sering
berhenti sembarangan untuk menaikan atau menurunkan penumpang
mereka. Selain itu,penyebab lain adalah belum adanya area khusus
parkir baik untuk pengunjung maupun angkutan umum yang
menyebabkan banyak kendaraan pribadi maupun maupun becak yang
parker sembarangan dijalan.
Solusi
Untuk mengatasi kemacetan yang disebabkan oleh angkutan
umum, maka akan di buat halte ataupun jalur khusus angkutan umum
yang menjorok kedalam site sehingga para pengguna kendaraan lain
yang melintas di kawasan ini tidak terganggu oleh aktifitas
tersebut.selain itu untuk kendaraan pengunjung ataupun becak dan
Universitas Sumatera Utara | 63
kendaraan pribadi serta parkir khusus becak mesin dan becak dayung
khusus.
Pejalan Kaki
Kondisi
Kawasan ini cukup banyak dilalui oleh pejalan kaki, terutama
pagi hingga sore hari yang merupakan puncak aktifitas jual-beli
berlangsung di daerah tersebut. Terdapat pedestrian pada eksisting
site, namun sayang tidak dapat digunakan karena banyaknya
pedagang kaki lima menggunakannya sebagai lapak jualan mereka.
Masalah
Jalan yang menjadi jalur pejalan kaki dipenuhi oleh pedangan
kaki lima. Selain itu, sering terjadi konflik antara pejalan kaki,
kendaraan pribadi dan angkutan umum, karena pedestrian
digunakan sebagai lahan parkir serta tempat naik-turun
penumpang. Hal ini juga didukung belum adanya lahan parkir yang
tersedia. Selain itu belum ada fasilitas seperti halte ataupun
jembatan penyeberangan pada site ini menyebabkan site rawan
kecelakaan dan kemacetan dikarenakan pengunjung pasar yang
sembarangan menyeberang sambil membawa barnag belanjaanya.
Solusi
Pedestrian yang ada di sterilkan dari para pedagang dan
diberlakukan larangan berjualan di sepanjang pedestrian itu sendiri.
Untuk menanggulangi masalah pedagang kaki lima, dapat
disediakan oleh pihak pasar lahan khusus disekeliling area pasar.
Hal ini dikarenakan rata-rata pedagang kaki lima merupakan
pedagang yang berjualan hanya diakhir pecan. Selain itu juga ada
baiknya ditambah fasilitas lain yang bermanfat bagi pejalan kaki
Universitas Sumatera Utara | 64
4.1.3. Analisa Sirkulasi Kendaraan
Kondisi
Terdapat empat jalan yang berada di sekitar site yaitu Jalan
Jamin Ginting, Jalan Pelita I & II, Jalan Lau Baru. Jalan Jamin
Ginting merupakan jalan yang bersifat 2 arah, merupakan jalan
lintas yang padat dilalui oleh kendaraan dari arah
Medan-Sibolangit. Jalan Pelita I, II dan Lau Baru sendiri merupakan jalan
kecil yang mengelilingi Pasar Bawah dan bersifat 2 arah. Jalan
Jamin Ginting memiliki lebar jalan 7m, Jalan Pelita I, II, dan Lau
Baru memiliki lebar 5 m. Entrance masuk pasar yaitu melalui Jalan
Jamin Ginting, sedangkan entrance terminal masuk melalui Jalan Pelita I dan keluar melalui Jalan Pelita II.
Gambar 4.2. Jalur Sirkulasi Kendaraan Umum di Terminal
Daftar angkutan umum yang melintasi kawasan site
CV. Mitra Transport
- 141, Rute: Pancur Batu / Bts Kota – P. Mandala / Bts Kota. PP
- 142, Rute: Pancur Batu / Bts Kota – Gabion Belawan. PP
CV. Hikma (warna putih)
- 63, Rute: T. Belawan – P. Batu / Bts Kota. PP
PT. Rahayu Medan Ceria
- 103. Ikip / Medan Estate – Pancur Batu – PP
Universitas Sumatera Utara | 65
CV. Laju Deli Sejahtera
- 04. P. Batu / Bts Kota – Tembung Psr X / Bts Kota. PP
Masalah
Banyaknya kendaraan yang melalui kawasan ini menimbulkan
kemacetan. Kemacetan lalu lintas di jalan Jamin Ginting pada hari
Sabtu dan Minggu terjadi hampir setiap jam mulai pukul
08.00-18.00, kemacetan maksimum terjadi pada pukul 16.00-17.00
dengan nilai LOS 0.80. Selain itu kemacetan juga berasal dari
angkutan umum dan kendaraan pribadi yang berhenti atau parkir
sembarangan di pinggir jalan.
Solusi
Mengatur sirkulasi yang baik didalam site dengan tetap
menggunakan Jalan Jamin Ginting sebagai satu-satunya akses
utama. Membuat aturan mengenai larangan keras bagi angkutan
umum ataupun pribadi untuk berhenti dan parkir sembarangan.
Mempertahankan jalur masuk terminal namun mengubah jalur
masuk pasar untuk menghindari kepadatan dengan mengarahkan
masuk melalui Jalan Pelita I dan keluar melalui Jalan Pelita II.
Manusia
Sirkulasi Dalam
Masalah
Sirkulasi didalam belum tertata dengan baik. Sirkulasi antar
loods ataupun kios merupakan sirkulasi dua arah. Lebar sirkulasi
cukup luas namun namun pengunjung kesulitan melewatinya
ketika kondisi pasar sedang ramai dikunjungi. Hal ini dikarenakan
banyak pedagang ataupun pembeli yang embawa masuk motor atau
becak sehingga mempersempit jalur ini. Selain itu penempatan
Universitas Sumatera Utara | 66
pengunjung sering kesulitan mencari atau kesasar. Selain itu, pasar
ini masih belum memiliki jalur loading dock (area bongkar muat).
Solusi
Mengatur sirkulasi yang baik di dalam bangunan guna memberi
kenyamanan bagi pengunjung pasar. Selain itu membuat larangan
keras membawa kendaran masuk ke dalam area loods ataupun kios.
Menyediakan area bongkar muat untuk mempermudah proses
keluar masuknya barang dagangan.
Gambar 4.3. Kondisi sirkulasi yang terdapat di Pasar Atas
Gambar 4.4. Kondisi sirkulasi yang terdapat di Pasar Atas
Sirkulasi Luar
Kondisi
Terdapat pedestrian sepanjang Jalan Jamin Gnting. Namun
pada area jalan sekeliling site yaitu Jalan Pelita I, Pelita II, dan Lau
Baru tidak terdapat pedestrian.
Solusi
Universitas Sumatera Utara | 67
4.1.4. Analisa Vegetasi
Kondisi
Vegetasi hanya terdapat didepan site Pasar Bawah yaitu sepanjang
Jalan Jamin Ginting. Vegetasi ini sendiri berfungsi sebagai pembatas jalur
terminal pasar dengan jalan raya.
Masalah
Dikarenakan minimnya vegetasi pada site, meyebabkan penghawaan di
dalam site tidak baik. Hal ini mengakibatkan site panas ketika cuaca panas
dan basah serta becek ketika cuaca hujan.
Gambar 4.5. Kondisi vegetasi pada site
Solusi
Direncanakan penambahan open space atau vegetasi rindang dibeberapa titik pasar seperti pohon glodogan dan akasia untuk menambah
kesan sejuk pada site serta mengurangi kebisingan dan polusi yang
dihasilkan dari jalan raya.
Universitas Sumatera Utara | 68
4.1.5. Analisa Utilitas Sampah
Kondisi
Tidak terdapat bak sampah yang cukup menampung seluruh
sampah pasar. Selain itu masih banyak pedagang yang tidak pedulu
dengan lingkungan dengan membuang sampah sembarangan seperti
misalnya di selokan dan jalan.
Masalah
Kondisi diatas menyebabkan ketika musim penghujan, pasar
menjadi becek, berlumpur serta banyak air menggenang. Sedangkan
ketika musim kering banyak lalat yang berterbangan serta bau tidak
sedap yang menguap.
Gambar 4.7. Kondisi sampah pada site
Solusi
Disediakannya TPS di beberapa titik pasar untuk memudahkan
pedagang membuang sampah dagangannya. Mensosialisikan budaya
go-green kepada para pedagang untuk memisahkan sampah organik dan non-organik untuk merawat lingkungan. Selain itu dibuatnya
peraturan dari pihak pengelola yang melarang keras pembuangan
sampah sembarangan dan menhimbau partisipasi pedagang untuk
Universitas Sumatera Utara | 69
Air Kotor
Kondisi
Dari hasil survey yang diperoleh, sumber air buangan yang
terdapat pada Pasar Pancur Batu bersumber dari air buangan toilet, air
hujan, sisa air yang berasal dari loods basah. Sistem distribusinya
sendiri sangat buruk, karena banyak saluran buangan tersumbat dan
rusak sehingga menimbulkan bau yang tidak enak. Banyaknya saluran
yang rusak mengganggu kenyamanan para pejalan kaki yang sedang
berbelanja, karena umumnya saluran pembuangan air kotor berada
tepat di atas jalur pejalan kaki
Masalah
Ketika hujan datang, sering menimbulkan genangan dan
bahkan banjir, selain itu sampah yang menumpuk di saluran
buangan air kotor dapat menimbulkan bau yang tidak enak.
Gambar 4.8. Kondisi selokan di sekitar pasar
Solusi
Pada pasar ini dirancang sebuah area peresapan yang
dilengkapi dengan filter agar limbah cair yang diproduksi oleh
pasar dikembalikan kedalam tanah dalam keadaan bersih. Curah
hujan yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih
yang sebelumnya dapat diolah atau di filterisasi agar dapat
Universitas Sumatera Utara | 70
4.1.6. Analisa Parkir
Kondisi
Belum terdapat lahan parkir tersedia baik untuk pengunjung maupun
penghuni pasar.
Masalah
Belum adanya fasilitas lahan parkir baik untuk pengunjung maupun
mobil barang. Sehingga banyak kendaraan yang parkir sembarangan pada
badan jalan. Hal ini juga memancing warga sekitar pasar menyewakan
lahan rumahnya sebagai tempat parkir.
Solusi
Disediakannya lahan parkir bagi pengunjung maupun mobil barang
sehingga tidak menambah kemacetan dengan parkir sembarangan di jalan.
Lahan parkir dapat diambil dari site pasar sendiri. Selain itu juga dibuat
aturan yang melarang keras adanya parkir sembarangan.
4.1.7. Analisa Keberadaan Terminal
Kondisi
Terdapat terminal yang berada di depan site Pasar Bawah. Terminal ini
menjadi tempat berhenti angkutan umum dari berbagai jurusan menunggu
penumpang. Terminal yang berada di dalam site pasar merupakan terminal
dengan tipe B.
Universitas Sumatera Utara | 71
Masalah
Adanya terminal ini menjadi salah satu faktor kemacetan. Terminal
belum terorganisir dengan baik dan tidak diperhatikan oleh dinas
perhubungan, Selain itu terminal ini tidak memenuhi aturan yang dibuat
oleh pemerintah.
Solusi
Mempertimbangkan pemindahan site terminal tidak jauh dari lokasi
pasar guna mendukung kelancaran lalu lintas.
4.2. Analisa Fungsional
4.2.1. Analisa Pengguna dan Aktifitas
a. Pedagang Loods
Diagram 4.1. Skema Aktifitas Pedagang Loods
b. Pedagang Kios
Diagram 4.2. Skema Aktifitas Pedagang Kios
c. Pengunjung/Pembeli
Diagram 4.3. Skema Aktifitas Pengunjung/Pembeli
Universitas Sumatera Utara | 72
Diagram 4.4. Skema Aktifitas Pengelola
e. Petugas Kebersihan/Servis
Diagram 4.5. Skema Aktifitas Petugas Kebesihan/Servis
4.2.2. Analisa Kegiatan dan Besaran Ruang
No Pemakai Ruang Aktivitas Kebutuhan Ruang Besaran Ruang
1 Produsen
Kios pedagang perlengkapan sekolah 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang kain 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang perlengkapan sholat 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang tilam/kasur 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang tikar 3 x 3 = 9 m
Universitas Sumatera Utara | 73
Kios pedagang sembako 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang alat-alat rumah
tangga 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang pecah belah 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang plastik 3 x 3 = 9 m
Kios pedagang perlengkapan
pertanian 3 x 3 = 9 m
Tabel 4.1. Analisa Kegiatan dan Kebutuhan Ruang
4.2.3. Analisa Daya Tampung Pasar Jumlah Pengunjung Pasar
Asumsi
- Dianggap dalam satu keluarga, rata-rata terdiri dari 5 orang
- Dianggap dalam satu keluarga, ada satu anggota keluarga yang
berbelanja
- Dianggap tiap keluarga berbelanja 1 kali untuk kebutuhan 2 hari.
- Setiap pasar memiliki jumlah pengunjung yang sama.
Jumlah Penduduk Kecamatan Pancur Batu :
2001 : 71.089 jiwa
2006 : 79.740 jiwa
2010 : 87.267 jiwa
2015 : 95.000 jiwa
2020 : 103.000 jiwa
Jumlah Kepala Keluarga : ± 20.600 KK
Universitas Sumatera Utara | 74
Jumlah per hari : ± 5.150 org
Jumlah pengunjung per jamnya tahun 2020 : ± 515 org
Jumlah Kebutuhan Parkir
Asumsi
Karena, Pasar Pancur Batu dimulai dari pagi hingga sore hari mulai
pukul 08.00-18.00, maka minimal pengunjung berbelanja paling lama
adalah 2 jam. Maka jumlah pengunjung dibagi 5 menurut waktunya,
setiap 2 jam berganti pembeli.
Di asumsikan 40% jumlah pengunjung berjalan kaki
Parkir Mobil : 10% x 5150
4.2.4. Analisa Kebutuhan Ruang
Universitas Sumatera Utara | 75
Universitas Sumatera Utara | 76
Universitas Sumatera Utara | 77
Musholla
Universitas Sumatera Utara
BAB V
Universitas Sumatera Utara | 78
BAB V
KONSEP
5.1. Konsep Tapak
Gambar 5.1. Konsep Tapak
Konsep tapak yang ingin dicapai adalah bagaimana cara pengolahan tapak
agar bangunan Pasar Pancur Batu terlepas dari pemasalahan yang selama ini
dialami, diantaranya adalah masalah kemacetan, kumuh dan ketidakteraturan
sistem pasar. Entrance pasar berasal dari Jalan Pelita I dan keluar melalui
Jalan Pelita II. Jalur transportasi umum dibagi menjadi tiga, yaitu jalur untuk
Universitas Sumatera Utara | 79
oleh kendaraan umu ketika berhenti atau menaik-turunkan penumpang.
Kemudian area parkir dibuat di sekeliling bangunan dengan menggunakan
lahan site yang menjorok kedalam. Untuk pedestrian juga dibuat disekeliling
site dan ditata senyaman mungkin.
5.2. Konsep Zoning
Gambar 5.2. Konsep Zoning Luar Bangunan
Massa bangunan dibagi menjadi dua yaitu pasar basah dan pasar
kering. Hal ini utnuk mempermudah pembuangan sampah yang dihasilkan
oleh pasar. Selain itu juga untuk mempermudah pengunjung mencari
barang keperluaannya karena sudah terorganisir berdasarkan
Universitas Sumatera Utara | 80
Gambar 5.3. Konsep Zoning Ground
Universitas Sumatera Utara | 81
Gambar 5.5. Konsep Zoning Lantai 3
Gambar 5.6. Konsep Zoning Lantai 4
5.3. Konsep Sirkulasi
a. Konsep Sirkulasi Pengunjung dengan Kendaraan Umum
Pasar dapat diakses menggunakan kendaraan umum maupun
kendaraan pribadi. Kendaraan umum tersebut diantaranya adalah becak
bermotor, angkot, ataupun bus kecil trans. Oleh karena itu, maka dibuat
tiga jalur tersendiri untuk masing-masing kendaraan pada Pasar Basah dan
satu jalur pada Pasar Kering. Jalur dibuat menjorok ke dalam site,
sehingga tidak menggunakan jalan raya. Hal ini untuk menghilangkan
kemacetan yang dihasilkan oleh angkutan umum yang suka menaikkan
Universitas Sumatera Utara | 82
juga fasilitas pendukung tambahan seperti halte untuk mendukung
kenyamanan pengguna kendaraan umum tersebut.
Gambar 5.7. Konsep Sirkulasi Pengunjung dengan Kendaraan Umum
b. Konsep Sirkulasi Pengunjung dengan Kendaraan Pribadi
Tersedia parkir untuk pengendara mobil dan motor pada kedua pasar.
Jumlah parkir di Pasar Basah
Jumlah parkir mobil : 122
Jumlah parkir motor : 194
Jumlah parkir di Pasar Kering
Jumlah parkir mobil : 32
Universitas Sumatera Utara | 83
Gambar 5.8. Jalur Sirkulasi Pengunjung dengan motor
Universitas Sumatera Utara | 84
c. Konsep Sirkulasi Mobil Barang
Gambar 5.10. Konsep Sirkulasi Mobil Barang
Pada kedua pasar didesain area bongkar muat dilantai dua. Hal ini
dilakukan agar aktifitas pada ground tidak terlalu padat.
Universitas Sumatera Utara | 85 Pedestrian
d. Konsep Sirkulasi Pejalan Kaki
Jalur pedestrian didesain mengelilingi site pasar terutama pada Pasar
Basah. Demi menambah kenyamanan pejalan kaki, diletakkan pohon
peneduh disamping jalur pedestrian.
Gambar 5.12. Suasana Pedestrian
Universitas Sumatera Utara | 86
e. Konsep Sirkulasi Ruang Dalam
Konsep yang ingin diterapkan adalah pengelompokkan loods dan kios
berdasarkan fungsinya dan barang yang dijual. Misalnya pengelompokan
loods daging dengan loods ikan. Hal ini bertujuan agar pembeli tidak
bingung saat akan berbelanja. Selain itu juga memudahkan pembuangan
limbah. Loods ikan dan daging tidak diletakan berdekatan dengan loods
sayur. Loods sayur diletakkan berdekatan dengan loods buah.
Universitas Sumatera Utara | 87
Gambar 5.15. Konsep Sirkulasi Kios dan Loods Lantai 3
Gambar 5.16. Konsep Sirkulasi Kios dan Loods Lantai 4
Akses menuju kedua pasar dapat dilalui langsung melalui skybridge. Hal ini untuk mempermudah pengunjung serta menanggulangi
permasalahan kemacetan akibat banyaknya pedagang maupun pembeli
menyeberang sambil membawa barang.
Gambar 5.17. Skybridge yang menghubungkan kedua pasar
5.4. Konsep Bentukan Massa
Bentukan dasar bangunan untuk pasar ini adalah bentukan persegi, karena
Universitas Sumatera Utara | 88
sebagai sirkulasi pengunjung dan loading dock. Bangunan pada bagian depan sebagai penerima dan dibuat semenarik mungkin. Pada bagian tengah dibuat
pencahayaan alami, berupa shaft besar untuk mensuplai cahaya matahari yang
cukup, sehingga bagian tengah pasar tidak gelap dan sumpek serta dapat
menghemat energi. Selain itu bangunan juga menggunakan atap jengki yang
bertujuan menangkap sinar matahari masuk kedalam bangunan yang dapat
difungsikan sebagai pencahayaan alami. Untuk konsep pengudaraan dalam
ruang digunakan dinding yang tidak masif agar angin dapat masuk dari segala
arah, sehingga sirkulasi udara dalam ruang berjalan dengan lancar.
Gambar 5.18. Bentukan massa bangunan
Universitas Sumatera Utara | 89
5.5. Konsep Sistem Utilitas
a. Sistem Elektrikal
Diagram 5.1. Skema Sistem Elektrikal
b. Sistem Air Bersih
Diagram 5.2. Skema Sistem Air Bersih
c. Sistem Air Kotor
- Sistem Air Kotor Ringan
Universitas Sumatera Utara | 90
- Sistem Air Kotor Berat
Diagram 5.4. Skema Sistem Air Kotor Berat
d. Sistem Pembuangan Sampah
Diagram 5.4. Skema Sistem Pembuangan Sampah
5.6. Konsep Ruang Terbuka
Ruang terbuka dibuat mengelilingi bangunan pasar dengan maksud untuk
menampung para pedagang kaki lima yang biasa berjualan secara liar di depan
area pasar. Hal inilah juga yang menjadi salah satu masalah lama yang
dihadapi setiap pasar tradisional. Penataan lapak pedagang kaki lima ini juga
akan diperhatikan guna mejauhi kesan kumuh dan kurang nyaman. Bentukan
kanopi menambah estetika lapak PKL.
Universitas Sumatera Utara | 91 Area PKL
Universitas Sumatera Utara
BAB VI
Universitas Sumatera Utara
BAB VII
Universitas Sumatera Utara | 137
BAB VII
KESIMPULAN
Kesimpulan daripada perancangan “Redesain Pasar Pancur Batu” adalah
sebagai berikut:
1. Mengevaluasi kondisi eksisting Pasar Pancur Batu dari segi lokasi,
kelayakan desain dan sirkulasi
a. Pasar Pancur Batu berada pada lokasi yang strategis yaitu berada di
Jalan Letjend. Jamin Ginting yang padat dilalui oleh kendaraan
terutama pada hari libur. Selain itu, lokasinya yang berada di
tengah-tengah permukiman penduduk sangat strategis sebagai pusat
pedagangan pusat dan dapat mendukung perekonomian masyarakat
sekitar.
b. Pasar Pancur Batu terutama Pasar Bawah belum memiliki bangunan
tetap, sedangkan untuk Pasar Atas sudah terdapat bangunan tetap.
c. Sirkulasi kendaraan terutama kendaraan umum belum didesain dengan
baik terutama belum adanya lahan parkir yang tersedia sehingga
banyak kendaraan yang parkir sembarangan pada bahu jalan.
d. Sirkulasi mobil barang sendiri belum ada dengan tidak adanya area
bongkar muat (loading dock) pada kedua pasar.
e. Terminal yang berada di depan Pasar Bawah tidak berfungsi dengan
baik. Sirkulasi kendaraan umum sendiri juga masih berantakan.
Banyak kendaraan umum yang sembarangan parkir di bahu jalan,
ataupun sembarang menaik-turunkan penumpang menjadi biar kerok
kemacetan pasar saat ini. Hal ini juga berlaku untuk kendaraan umum
lainnya seperti becak dayung maupun bus kecil.
f. Ruko peninggalan Belanda masih dalam keadaan bagus sehingga
Universitas Sumatera Utara | 138
g. Belum adanya fasilitas pedestrian yang layak dan juga fasilitas umum
lainnya yang menunjang kenyamanan pejalan kaki seperti jembatan
penyebrangan, zebra cross, ataupun halte bis.
h. Untuk pengelompokan ruang dalam pasar saat ini tidak tertata dengan
baik. Kios tidak terorganisir dengan baik sehingga sering
membingungkan pengunjung mencari kebutuhannya. Selain itu
pembuangan limbah masalah masih belum baik sehingga pasar terlihat
sangat kumuh dan jorok.
2. Mendesain kembali pasar dengan konsep dan suasana baru sehingga dapat
berperan baik secara fungsional, yang konteks dan tanggap terhadap
manusia serta lingkungan di sekitarnya dengan menerapkan tema
Arsitektur Hijau.
a. Massa bangunan menjadi dua yaitu Pasar Basah dan Pasar Kering. Hal
ini dibagi berdaasarkan limbah sampah yang dihasilkan oleh aktifitas
pasar.
b. Terminal dipindahkan ke area yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
Hal ini mengingat terminal tidak memenuhi syarat yang ditetapkan
oleh pemerintah.
c. Bentukan dasar bangunan untuk pasar ini adalah bentukan persegi,
karena memiliki orientasi yang jelas dan sederhana. Pada bagian
tengah dibuat pencahayaan alami, berupa shaft besar untuk mensuplai
cahaya matahari yang cukup, sehingga bagian tengah pasar tidak gelap
dan sumpek serta dapat menghemat energi. Selain itu bangunan juga
menggunakan atap jengki yang bertujuan menangkap sinar matahari
masuk kedalam bangunan yang dapat difungsikan sebagai
pencahayaan alami. Untuk konsep pengudaraan dalam ruang
digunakan dinding yang tidak masif agar angin dapat masuk dari
segala arah, sehingga sirkulasi udara dalam ruang berjalan dengan
lancar. Hal ini merupakan penerapan dari tema pasar yaitu Arsitektur
Universitas Sumatera Utara | 139
3. Menciptakan lingkungan pasar yang mampu mengatasi permasalahan
sirkulasi kendaraan, pejalan kaki dan masalah perparkiran.
a. Mendesain jalur khusus yang dilalui oleh angkutan umum pada site.
Tiga jalur berada di depan Pasar Basah yaitu jalur untuk bus, angkut,
dan becak. Satu jalur khusus berada di depan Pasar Kering yang bebas
diakses baik oleh bus, angkot dan becak. Jalur ini bertujuan
meminimalisir kemacetan yang selama ini disebabkan oleh angkutan
umum baik becak, angkot atau bus yang sembarangan berhenti di jalan
untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.
b. Entrance kendaraan pribadi dan mobil barang menuju Pasar Basah
masuk melalui Jalan Pelita I dan keluar melalui Jalan Pelita II.
Sedangkan untuk Pasar Kering sendiri, entrance dan jalur keluar kendaraan pribadi dan mobil barang sama-sama melalui Jalan Jamin
Ginting. Untuk entrance masuk pengunjung dengan kendaraan umum dan pejalan kaki sama-sama melalui Jalan Jamin Ginting dan
diarahkan masuk langsung menuju lantai dua kedua pasar.
c. Disediakannya lahan parkir yaitu pada sisi kiri, kanan, dan belakang
serta area ground Pasar Bawah. Pada Pasar Kering sendiri disediakan lahan parkir pada area ground. Hal ini guna mengatasi permasalahan mengenai parkir sembarangan pada bahu jalan dan penyalahgunaan
lahan milik warga sekitar.
d. Loading dock atau area bongkar muat dibuat pada lantai dua pada
kedua bangunan untuk mengurangi kepadatan sirkulasi pada ground.
e. Kios dikelompokkan berdasarkan fungsinya dan barang yang dijual.
Hal ini bertujuan memudahkan pengunjung mencari barang yang
dicari. Selain itu juga mempermudah pembuangan sampah yang
dihasilkan.
f. Untuk menghubungkan Pasar Basah dan Pasar Kering itu sendiri
didesain skybridge untuk mempermudah pengunjung serta menanggulangi permasalahan kemacetan akibat banyaknya pedagang
Universitas Sumatera Utara | 140
g. Pedestrian didesain mengelilingi site pada Pasar Bawah dan didesain
Universitas Sumatera Utara
BAB II
Universitas Sumatera Utara | 7
BAB II
DESKRIPSI PROYEK
2.1. Deskripisi Proyek
Adapun penjelasan deskripsi proyek secara umum adalah :
a. Judul Proyek : Redesain Pasar Pasar Pancur Batu
b. Tema Proyek : Arsitektur Hijau
c. Lokasi Proyek : Jalan Lenjend. Jamin Ginting, Kecamatan Pancur Batu,
Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia.
d. Batas Site
Utara : Jalan Pelita I dan rumah penduduk
Selatan : Jalan Pelita II dan rumah penduduk
Timur : Jalan Lau Buatan dan rumah penduduk
g. Pemilik Proyek : Swasta
2.2. Lokasi Proyek
Lokasi proyek Tugas Akhir “Redesain Pasar Pancur Batu” ini terletak di Jalan Lenjend. Jamin Ginting, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang,
Propinsi Sumatera Utara, Indonesia.
No Kriteria Pemilihan Lokasi Keterangan
Universitas Sumatera Utara | 8
kota pusat kota, dengan pertimbangan unsur
sejarah kawasan, komersil dan berskala
kota
2 Pencapaian Lokasi harus dapat dicapai dari
berbagai arah dan dengan segala
alternative (kendaraan umum, pribadi
dan pejalan kaki)
3 Area pelayanan Lokasi memiliki area pelayanan ±1 km
dari berbagai fasilitas umum
4 Persyaratan lain Lokasi harus jelas kepemilikannya,
terkait dengan pembebasan lahan,
potensi dan peraturan yang berlaku
Tabel 2.1. Kriteria pemilihan proyek
Universitas Sumatera Utara | 9
2.3. Terminologi Judul
Redesain/Redesign, adalah sebuah proses perencanaan dan
perancangan untuk melakukan suatu perubahan pada struktur dan
fungsi suatu benda, bangunan, maupun sistem untuk manfaat yang
lebih baik dari desain sebelumnya.
Pasar, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, antara lain :
Tempat orang berjual-beli; pekan, tempat berjual beli yang
diadakan oleh perkumpulan dan sebagainya dengan maksud
mencari derma.
Tempat berbagai pertunjukan yang diadakan malam hari untuk
beberapa hari lamanya.
Pancur Batu, salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang yang
memiliki luas wilayah 122.53 km2. Kecamatan ini berjarak sekitar 18
km dari Medan.
Jadi Redesain Pasar Pancur Batu adalah perencanaan dan
perancangan kembali Pasar Tradisional Pancur Batu dengan tujuan
meningkatkan vitalitas serta kualitas lingkungan tersebut.
2.4. Tinjauan Umum
2.4.1. Pengertian Pasar
Pasar sebagai area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih
dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional,
pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya.
(Peraturan Presiden Republik Indonesia no. 112 thn. 2007).
Pasar dalam pengertian ekonomi adalah situasi seseorang atau lebih
pembeli (konsumen) dan penjual (produsen dan pedagang) melakukan
Universitas Sumatera Utara | 10
terhadap sejumlah (kuantitas) barang dengan kualitas tertentu yang
menjadi objek transaksi.
Jadi, berdasarkan pernyataan diatas pasar adalah area tempat jual-beli
barang/jasa antara dua orang atau lebih, yang didalamnya terjadi proses
interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) sehingga
menetapkan harga dan jumlah yang disepakati oleh penjual dan pembeli.
2.4.2. Fungsi Pasar
Pasar berfungsi sebagai tempat atau wadah untuk pelayanan bagi
masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari berbagai segi atau bidang,
diantaranya :
a. Segi ekonomi
Merupakan tempat transaksi atara produsen dan konsumen yang
merupakan komoditas untuk mewadahi kebutuhan sebagai demand
dan supply.
b. Segi sosial budaya
Merupakan kontrak sosial secara langsung yang menjadi tradisi
suatu masyarakat yang meruoakan interaksi antara komunitas pada
sektor informal dan formal.
c. Arsitektur
Menunjukan ciri khas daerah yang menampilkan bentuk-bentuk
fisik bangunan dan artefak yang dimiliki.
2.4.3. Klasifikasi Pasar
o Berdasarkan jenis pelayanannya, yaitu :
Pasar Tradisional; Pasar yang ada pada masa kini, yang masih
memiliki karakter atau ciri-ciri pada masa lalu dimana salah satu
adalah adanya interaksi sosial langsung antara penjual dan pembeli
yang sifatnya tawar menawar harga barang dan jasa.
Pasar Modern; Suatu kompleks toko eceran dan dihubungkan