• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM

1. Transisi dari Era Orde baru ke Era Reformasi

Ketika pertama kali Televisi Republik Indonesia (TVRI) mengudara, televisi pemerintah ini awalnya menampilkan liputan Asian Games IV. Ini artinya sejak awal TVRI sudah memerhatikan konsumsi berita untuk pemirsanya. Sebagai TV pemerintah akhirnya pola acara pemberitaan lebih pada acara yang sifatnya seremonial. Saat itu, berita semacam ini mengalir begitu saja, artinya masyarakat pasrah dan menerima apa saja yang disajikan oleh TVRI karena TVRI saat itu sangat monopolistis. 2

11

Askurifai Baksin, Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, (Bandung: Simbiosa

Rekatama Media, 2006), cet ke-1, h.15. 2

“Tidak ada siaran televisi selain TVRI saat itu, maka begitu kran deregulasi di bidang pertelevisian dibuka lebar-lebar dan muncul beberapa stasiun TV swasta barulah masyarakat mendapatkan beberapa alternatif tayangan, terutama acara berita. Terasa sekali setelah kurang lebih 32 tahun masyarakat Indonesia dijejali dengan

informasi „pesanan‟ yang disiarkan lewat pemberitaan TVRI, tiba-tiba disuguhi beragam berita yang tidak melulu mengenai seremonial. Bertahannya pemerintahan orde baru yang berkuasa hampir 32 tahun itu adalah contoh dari peran politik monopoli penyiaran di Indonesia yang begitu kuat yakni keleluasaan untuk menyajikan berita-berita pembangunan yang hanya bersumber dari pejabat negara.”3

Oleh karenanya, hampir 32 tahun selalu di suguhi model-model propaganda melalui program acara pembangunan di TVRI yang tidak lain hanya memberitakan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional. Bukanlah hal yang mustahil bila kelanggengan pemerintahan orde baru tidak lepas dari peran politik pemberitaan TVRI. Peran ini lebih ditonjolkan pada orientasi pemberitaan yang berbau seremonial. Mulailah kebebasan mendapatkan informasi yang transparan berlaku di negara ini, sampai akhirnya penonton atau masyarakat bisa memilih acara berita dari 11 stasiun televisi swasta. 4

Di era orde baru memang peran media khususnya media penyiaran baik RRI maupun TVRI belumlah menunjukkan fungsi sosial dengan sempurna karena intervensi politik kekuasaan pada waktu itu. Sebenarnya pada waktu itu Departemen Penerangan (Deppen) telah mengedepankan fungsi media RRI dan TVRI yang sebenarnya dalam rangka meningkatkan peran sosial RRI dan TVRI dengan melegitimasi forum media seperti kelompencapir sebagai media belajar masyarakat, tetapi dalam pelaksanaannya belumlah optimal karena masuknya

3

Askurifai Baksin, Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, (Bandung: Simbiosa Rekatama

Media, 2006), cet ke-1, h.27. 4

kepentingan politik di dalamnya. Sehingga keberadaan kelompencapir sering memunculkan pomeo sebagai upaya penggalangan massa cara untuk kepentingan politik dan kekuasaan. 5

Bila di bandingkan dengan negara-negara di barat, bahwa peran media di negara tersebut sangat penting. Sebagai alat kontrol, sehingga televisi di barat terbiasa dengan menampilkan berita-berita miring tentang beberapa elemen di pemerintahan. Hal ini sangat bertolakbelakang dengan media di Indonesia yang belum menonjol dalam menampilkan berita-berita seperti di Negara Barat tersebut.

“Dominasi TVRI mulai menunjukkkan tanda-tanda berakhir pada tahun 1988, setelah mengudaranya RCTI yang lahir sebagai TV swasta pertama di Indonesia. Stasiun televisi milik Bambang Trihatmojo Soeharto ini awalnya bersiaran melalui jaringan kabel untuk seputar Jakarta dengan sistem pay-television semacam TV berlangganan. Pada Agustus 1990, RCTI baru diizinkan mengudara secara bebas, setelah itu muncul TV swasta lainnya. Namun kelahiran TV swasta lainnya tidaklah semata-mata karena terbukanya iklim demokrasi, tetapi lebih karena adanya akses politik para pemiliknya. Sehingga kelahiran TV swasta tersebut tidaklah begitu berarti bagi masyarakat khususnya di dalam memberikan pelayanan informasi yang bebas dan terbuka. Kemunculan TV swasta lebih condong kepada tujuan bisnis di mana para pemiliknya selalu lebih mengedepankan isi programnya pada pendekatan ekonomi yang menguntungkan pasar. Karena itu, program-program TV swasta lebih banyak berorentasi kepada masyarakat di perkotaan yang menjual isi media dengan tema-tema yang memanipulasi selera pasar seperti war, sex and crime. Inilah menjadi konsekuensi jika media di kuasai oleh pemilik modal, sehingga isi programnya dikemas sedemikian rupa untuk memanjakan

selera pasar.”6

Pada sektor industri, media menimbulkan kontradiksi yang menarik khususnya di pertengahan pemerintahan orde baru, pers

5

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi

Aksara, 2004), cet ke-1, h.13.

6

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi

Indonesia berada di persimpangan antara fungsi pers sebagai instrumensi hegemoni negara dengan fungsi pers sebagai institusi kapitalis. Di satu sisi pemerintahan mulai mengadopsi prinsip-prinsip pers liberal namun di sisi lain mempertahankan kebijakan-kebijakan sektor media yang bertentangan dengan semangat liberitarianisme.7

Dampak kapitalisme kroni terhadap industri penyiaran televisi cukup jelas, yakni pola kepemilikan media yang memusat dan monopolistik, beserta dampak buruknya terhadap monopoli dan rekayasa informasi seperti yang telah kita rasakan bersama pada pemerintahan orde baru yang lalu.8

“Problem yang muncul pada media televisi pada saat akhir era orde baru lebih menunjukkan pada dinamika media yang telah menjadi instrument industri kapitalis yang berdamapak pada moda isi program media yang bersangkutan, yakni apa dan bagaimana acara-acara yang harus diproduksi dan di tayangkan lebih di tentukan berdasarkan korelasinya dengan pihak sponsor dan selera khalayak. Akibatnya di lain pihak, para pengelolah televisi dihadapkan pada permasalahan pada pengelolah televisi dihadapkan pada permasalahan SDM yang berkualitas dan teknologi pendukung, ketika harus memenuhi tuntutan-tuntutan produksi manakala televisi memasuki entitas komersial.” 9

Memasuki era paska keruntuhan rezim orde baru pada revolusi Mei 1998, media penyiaran belum beranjak mengalami perubahan yang signifikan. Walaupun dari sisi perkembangan kepemilikan media, bisnis penyiaran tidak lagi berpusat kepada keluarga Cendana. Nama-nama anak Soeharto memang tidak terlihat lagi dalam kacah kepemilikan stasiun televisi. Para pemain baru bermunculan, baik

7

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi

Aksara, 2004), cet ke-1, h.14. 8

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, cet ke-1, h.13-14.

9

dengan mengakusisi stasiun televisi lama maupun dengan mendirikan stasiun televisi baru. Namun ini tidak berarti otomatis keluarga Cendana dan para kroni tidak lagi memegang kontrol atas bisnis penyiaran karena situasi politik yang berubah paska orde baru sudah tentu mereka harus menggunakan strategi yang tepat untuk menghindari tekanan publik, pemerintah dan sentiment pasar yang negatif terhadap usaha-usaha bisnis yang mengandung keterlibatan keluarga Cendana. Salah satu strateginya dengan menggunakan peran pihak lain untuk mempertahankan kepemilikan asset-aset penting dalam industri penyiaran yang terjadi dalam konteks ini adalah kepemilikan saham secara tidak langsung terhadap sejumlah stasiun televisi. 10

Pada era reformasi ini, perkembangan televisi swasta masih stagnan dalam arti belum ada peningkatan kualitas program acara karena penekanan masih pada entitas komersial. Untuk itu stasiun televisi swasta membeli program impor seperti meteor garden yang di beli Trans TV seharga US $ 20.000 program import tersebut di nilai akan mempertahankan jumlah penonton sekaligus memelihara rating untuk memancing pemasang iklan. Stasiun televisi swasta belum berani memproduksi acara sendiri, mengingat keterbatasan SDM yang berkualitas. Biaya produksi, misalnya untuk sebuah sinetron bisa mencapai lebih dari 400 juta rupiah, karena harga artis melambung tinggi. Sedang honor artis bisa mencapai separuh dari biaya produksi.

10

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi

Di lain pihak banyak industri televisi swasta memanfaatkan production house untuk membeli program guna menopang kebutuhan program stasiun televisi. Namun kalangan production house pada akhirnya tak

dapat menghindari dari kecenderungan „mencangkok‟ format dan

logika cerita asing ala opera sabun atau film India. Bila sampai titik kebutuhan tayangan televisi tetap belum terpenuhi, maraklah pemutaran ulang serial-serial yang sudah di siarkan atau daur ulang film layar lebar dalam bentuk sinetron.11

Di lain pihak, karena strategi pemasaran program media di era paska orde baru ini masih mengandalkan jenis pemasaran following marketing, maka homogenisasi program acara televisi swasta tidak terhindarkan dan menjadi fenomena yang memprihatinkan. Ketika satu stasiun sukses dengan program infotainmentnya maka stasiun lain pun ramai-ramai mengikutinya. Tayangan gossip-gosip artis saat ini yang membanjiri layar kaca pemirsa setiap harinya dengan format, genre dan sajian yang „sama dan sebangun‟, misalnya ketika RCTI sukses dengan program acara Cek & Ricek, maka diikuti pula oleh Indosiar dengan acara serupa KISS, kemudian SCTV dengan Potret Orang Terkenal (Portal), selanjutnya Trans TV dengan Kros Cek dan seterusnya. Demikan pula ketika stasiaun televisi swasta sukses dengan program dangdut, televisi swasta lain segera segera mencangkoknya ramai-ramai. Dengan banyaknya tayangan serupa menyebabkan persaingan antar media semakin ketat, keterbatasan dan

11

Agus Sudibyo, Ekonomi Politik Media Penyiaran, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi

kemampuan rumah produksi masing-masing stasiun televisi untuk memenuhi persaingan itu, menyebabkan begitu banyak program yang secara kualitas sangat memprihatinkan.12

Dari sisi jurnalistik, pemberitaan media belum menunjukkan ada peningkatan kualitas penyajian khususnya yang menyangkut berita-berita kriminal. Umumnya berita-berita kriminal bersumber dari kepolisian, namun kadang-kadang dalam sajian informasinya telah menggiring pelaku seolah-olah telah menjadi terdakwa, sehingga program ini di tuding mengabaikan prinsip azas praduga tak bersalah.

Dokumen terkait