INFORMAN I II : Halim Herwanto Tanggal : 26 April 2015 Pukul : 11.30 WIB
Tempat : Aek Nabara
---P : Peneliti
I : Informan (...) : Sikap Informan
---P : Assalamu’alaikum pak...
I : Wa’alaikumsalam dek..
P : Apa kabar pak?
I : Alhamdulillah baik dek.
P : Bisa bapak ceritakan tentang kejadian keguguran yang dialami istri bapak?
I : Begini dek ceritanya pas saat itu saya sedang di rumah lagi libur kerja tiba-tiba isri saya menjerit dari kamar mandi bahwa ada keluar darah dari kemaluannya. Ya saya langsung bawa ke tempat tidur. Saya tanya kok bisa keluar darah ya? Di jawab istri saya? Mungkin kecapekan bang? Saya pikir gak apa-apa namanya dia juga orang kesehatan.
Terus hari seninnya masih ada keluar juga darahnya. Ya langsung
bawa dia ke rumah sakit, kata dokter istri saya mengalami keguguran, saya tanya “kok bisa keguguran dok?” dijawab dokter “itu bisa terjadi pada ibu yang kecapekan kerja di rumah atau karena rahimnya lemah bisa banyak faktor penyebabnya pak. Terus dokter menganjurkan kuretase.
P : Bagaimana respon bapak terhadap istri bapak yang mengalami keguguran?
I : Ya sedih la dek namanya ini kehamilan anak pertama.
P : Pada saat kejadian itu bapak berada dimana?
I : Di rumah dek pas hari minggu libur kerja.
P : Apa yang bapak lakukan pada sat istri bapak mengalami keguguran.
I : Seperti yang saya bilang tadi dek saya bawa istri saya ke kamar saya suruh istirahat.
P : Apakah bapak mengantarkan istri bapak ke tempat pelayanan kesehatan?
I : Ya ikut la dek.
P : Apakah bapak menemani istri bapak pada saat pemeriksaan yang diberikan dokter?
I : Saya temani istri saya pada saat dilakukannya pemeriksaan sampai dengan selesai.
P : Apakah mempermasalahkan istri bapak karena keguguran ini?
I : Tidak dek, saya lihat istri saya sangat menjaga kehamilannya tapi Tuhan berkehendak lain.
P : Bagaimana sikap bapak terhadap istri bapak saat mengalami keguguran?
I : Ya sedih dek namanya ini anak pertama kami yang kami dambakan yang kami impikan ternyata harus dikuret dek .
P : Apakah bapak memberikan motivasi kepada istri bapak?
I : Gini dek ceritanya itu kan hamil anak kami yang pertama jadikan awak pulak suaminya awak la betul-betul menjaganya. Selalu abang bilang sama dia “udah la dek sabar aja, mungkin ini cobaan dari yang kuasa Tuhan itu memberikan cobaan kepada hamba-Nya tidak lebih dari kemampuan hamba-Nya berarti kita termasuk orang yang bisa menerima cobaan”. “adek harus kuat menjalani ini semua, biarpun adek sudah keguguran abang tetap di samping adek mendukung adek untuk bisa hamil lagi”. Kayak mana la pulak kan dek istri awak itu bidan juga tapi namanya manusia biasa gak la pulak semua tau dia itu gak boleh juga awak salahkan dia karena kegugurannya itu, mungkin dek udah jalannya seperti ini gak rezeki kami mungkin dek punya anak saat ini. Mudah-mudahan tahun depan kami dapat anak lagi aamiin.
P : Apakah memberikan dukungan fasilitator biaya atau waktu kepada istri bapak dalam proses kesembuhan pasca keguguran?
I : “Pada saat kejadian itu saya dengan suami langsung ke rumah sakit, suami saya yang langsung bawa saya didampingi oleh mamak saya sendiri. Begitu diberitahu dokter bahwa saya harus kuret karena kata dokter “ini harus dikuret segera buk kalau terlalu lama ibuk bisa infeksi”. Langsung suami saya berkata “ya udah dok lakukan yang terbaik untuk istri saya, kalau masalah biaya saya sudah siapkan”.
Suami saya juga bertanya sama dokternya “kira-kira bisa hamil lagi gak dok?” kata dokternya bisa saya lihat dari raut wajahnya dia senang.
P : Apakah memberikan dukungan edukator seperti pemberian informasi tentang penyembuhan istri bapak akibat keguguran ini?
I : “Selama menjalani perawatan di rumah sakit mulai dari di ruangan sampai pulang ke rumah abang selalu mendampingi istri abang”.
“abang perhatikanlah perawat mengasih obat makan sama dia pas di rumah sakit”. “Setiap jadwal memberi obat abang ingatkan sama perawat taula kan dek perawat ini kadang tak tepat waktu memberikan obat, terus itu abang la mengganti pembalutnya, abang bersihkan badannya, abang kasih minyak wangi, abang bedaki, abang sisir rambutnya, terus abang bawa bercanda-canda biar hilang rasa sakit trus stres juga karena udah keguguran itu. Abang suapi makan la dek”.
Jarak 2 minggu abang lihat sudah mulai pulih kondisi kesehatannya
abang ajak jalan-jalan ke Prapat. Ya udah sampai situ ya tenang senang bahagia, semakin dekat abang sama dia.
P : Bagaimana hubungan bapak dengan istri setelah keguguran istri bapak ini?
I : Semakin abang tunjukkan peratian abang, kasih sayang abang sama dia dek.
P : Ooo begitu pak terima kasih ya pak atas informasinya.
I : Ya dek sama-sama dek terima kasih kembali.
TRANSKIP WAWANCARA
INFORMAN I V : M.Royyan Hasibuan Tanggal : 3 Juli 2015
Pukul : 14.00
Tempat : Jln.Gatot Subroto
---P : Peneliti
I : Informan (...) : Sikap Informan
---P : Assalamu’alaikum pak...
I : Wa’alaikumsalam dek..
P : Apa kabar pak?
I : Alhamdulillah baik dek...
P : Tidak sibuk kan pak?
I : Gak dek, apa itu dek?
P : Gak dikasih ibuk rupanya pak kalau saya mau datang?
I : Ooo yang ituuu?? Ok dek ok dek siap aku ditanya.
P : Bisa bapak ceritakan tentang kejadian keguguran yang dialami istri bapak?
I : Wiii dek yang panjangan ceritanya tu istilahnya panjang kali lebar la dek karena sakin panjangnya (sambil tertawa)
P : Biarpun panjang yang bapak ingat aja la pak.
I : Begini dek ceritanya ini kan anak kami yang kedua karena yang besar itu udah umur 4 tahun jadi rasaku kalauistriku hamil gak masalah dek Cuma itu la tak bisa dia mempertahankannya gak bisa dia menjaganya dengan baik jadi itulah pas dikasih taunya pas aku lagi kerja dibilangnya ada keluar darah dari kemaluannya katanya agak banyak pulak itu jadi kusuruh dia pergi dulu ke rumah sakit sama mamakku itu la dek.
P : Bagaimana respon bapak saat mengetahui kejadian itu?
I : Tersonggot au baya dek (sambil tertawa) terkejut la dek mendengar itu karena kok bisa dia keguguran padahal dia orang kesehatan.
P : Pada saat itu bapak berada dimana pak?
I : Aku sedang bekerja dek banyak boronganku pulak waktu itu untuk masang batu bata.
P : Apa yang bapak lakukan pada saat istri bapak mengalami keguguran?
I : Ya kusuruh dia langsung ke rumah sakit dikawani mamakku. Aku pulak mana tau-tauku dek.
P : Apakah ikut mengantar istri bapak ke tempat pelayanan atau ke rumah sakit?
I : Ikut dek.
P : Bapak ikut menemani istri bapak saat melakukan pemeriksaan keguguran?
I : Ikut dek tapi Cuma sebentar, kusuruh mamakku di dalam mengawani istriku waktu itu.
P : Bagaimana sikap bapak terhadap istri bapak yang mengalami keguguran?
I : Kesal juga dek ya kayak kubilang tadi dek masak orang kesehatan gak bisa jaga kehamilannya. Itu la dek..
P : Apakah bapak memberikan motivasi atau dukungan pak untuk istri bapak yang mengalami keguguran?
I : Kubilang sama dia dek “Kau orang kesehatan tapi kau gak bisa menjaga kehamilan kau. Udah tau perjalanan kerja kau itu jau.
Seminggu 4 kali kau ke puskesmas. Dulu waktu hamil pertama sebulan 4 kali kau masuk pinomat teken kau absen itu kau bilang sama abang. Kupikir kau sudah tau lah menjaga kehamilanmu kayak mana terbaiknya rupanya lebih parah kau dari aku kupikir karna kau orang kesehatan tak perlu lagi kau kukasih arahan, kata-kata untuk menjaga kehamilan kau. Kemarin itu kau bilang kau jatuh dari kereta waku mau pergi kerja. Kutanya juga nya sama kau gak apa-apakan perutmu? Kau jawab tidak, lusanya kesakitan kau. Gitu udah kubilang sama dia kak.
Bukannya dia istirahat malah lusanya kerja dia. Kakak pikir pulang kerja mengadu lagi dia samaku katanya sakit perutnya ya kujawab la
“minum obat itu” kaunya yang tau obatnya aku tak tau-tauku itu.
Besoknya keluar darah ditunjukkannya samaku darah itu “tengoklah
bang darah itu” kujawab la “kenapa bisa begitu?’ malah dijawabnya
“mungkin karena aku kecapekan bang” kubilang juga la “apa perlu kita ke rumah sakit?” dijawabnya “tunggu besok ajalah bang, keluar lagi apa gak darahnya besok”. Rupanya keesokan harinya makin banyak darahnya keluar. Pala dibilangnya “aku sudah keguguran ini bang” dibilangnya gitu samaku. Diam aja aku kak. Gak tau-tauku lagi tu. Begitu pun sabar ya dek mungkin tidak rezeki kita punya anak tahun ini.
P : Bapak memberikan dukungan biaya dan waktu untuk istri bapak pada saat kesembuhan istri bapak?
I : “Kau taulah kan dek, kerjaku tukang bangunan. Pada saat dibilangnya dia keguguran gak bisa aku mengantarnya ke rumah sakit karena pas pulak ada kerjaanku saat itu, minta tolonglah aku sama mertuaku untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Sampai dia di rumah sakit sama mertuaku, ditelponnya la kau bahwasanya kehamilannya tidak bisa dipertahankan ya kujawab sama dia” ya sudahlah kalau memang begitu apa yang harus dilakukan?” jadi dibilangnya harus dikuret ntah apalah namanya dengan biaya 4 juta kubilang sama dia “Yang mahallah itu, sementara bukannya ada lagi jabang bayi itu, hanya membuang saja harus 4 juta, ydah la uang kita kan gak ada mengutang la dulu untuk itu” begitu lah dek ceritanya.
P : Apakah bapak memberikan dukungan ntah itu dalam bentuk informasi untuk kesembuhan istri bapak?
I : “Setelah istriku ditangani oleh dokter dan sudah masuk ke ruangan baru aku datang kata dokter harus dirawat 1 hari di rumah sakit.
“Kubilang sama mertuaku, “ibuklah dulu menjaga di rumah sakit ya!
Kalau sudah di rumah baru aku yang menjaga” . sudah 1n hari di rumah sakit besoknya kubawa istriku ke rumah. Kubilang sama dia
“istirahat aja la dulu untuk berapa hari ini gak usah masuk kerja kan ada surat sakit dari dokter, pokoknya di rumah aja la dulu untuk beberapa minggu ini, kau kan orang kesehatan pasti kau tau merawat orang sakit kayak mana begitu juga la merawat dirimu” gitu la kubilang sama dia dek. Makanya kubilang sama dia “kalau hamil lagi di jaga hati-hati jangan seperti ini lagi”.
P : Bagaimana hubungan bapak dengan istri setelah istri bapak mengalami keguguran?
I : Seperti biasa la dek gak kayak-kayak mana dek.
P : Oww begitu pak makasih ya pak atas informasinya.
I : Iya dek sama-sama.
TRANSKIP WAWANCARA