0 TESIS
Oleh
RIKA HANDAYANI 137032101/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
PERAN SUAMI TERHADAP ISTRI YANG MENGALAMI ABORTUS DI RSUD RANTAU PRAPAT KABUPATEN LABUHANBATU
TAHUN 2015
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh
RIKA HANDAYANI 137032101/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
Judul Tesis : PERAN SUAMI TERHADAP ISTRI YANG MENGALAMI ABORTUS DI RSUD RANTAU PRAPAT KABUPATEN LABUHANBATU TAHUN 2015
Nama Mahasiswa : Rika Handayani Nomor Induk Mahasiswa : 137032101
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi : Kesehatan Reproduksi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Delfi Lutan, SpOG(K)) (Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes
Ketua Anggota
)
Dekan
(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)
Tanggal Lulus : Telah diuji Pada Tanggal :
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Delfi Lutan, SpOG (K) Anggota 1. Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes
2. Drs. Eddy Syahrial M.S
3. dr. Halinda Sari Lubis, MKKK
PERAN SUAMI TERHADAP ISTRI YANG MENGALAMI ABORTUS DI RSUD RANTAU PRAPAT KABUPATEN LABUHANBATU
TAHUN 2015
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Juli 2015
Rika Handayani 137032101/IKM
ROLE OF HUSBAND TO WIFE THAT HAVE ABORTION IN RANTAU PRAPAT LABUHANBATU DISTRICT HOSPITAL
2015
THESIS
By
RIKA HANDAYANI 137032101/IKM
S2 STUDY PROGRAM PUBLIC HEALTH SCIENCE FACULTY OF PUBLIC HEALTH
UNIVERSITY OF NORTHERN SUMATRA MEDAN 2015
ABSTRAK
Abortus (keguguran) adalah kegagalan kehamilan sebelum umur kehamilan 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram. Pada saat mengalami abortus seorang istri sangat membutuhkan motivasi dari suaminya. Peranan suami baik sebagai motivator, fasilitator dan edukator yang diberikan sejak awal masa terjadinya keguguran mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yaitu penilaian yang bertujuan memperoleh informasi spesifik mengenai perilaku dan konteks sosial menurut pengalaman informan. Penelitian dilakukan di RSUD Rantau Prapat Labuhan Batu pada bulan Januari sampai Juni 2015.Pengambilan informan dengan menggunakan metode purposive sampling dan bersifat snowball sampling didapatkan 5 suami yang menjadi informan. Metode analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian yang diperoleh persepsi tentang peran suami yaitu menyalahkan istri karena tidak bisa menjaga kehamilannya dan kurangnya dukungan suami seperti tidak mendampingi pasca abortus. Alasan suami tidak memberikan motivasi kepada istri mereka seperti suami sibuk dan takut melihat kondisi istri. Suami sebagai fasilitator ikut mengantar ke pelayanan kesehatan,memberikan biaya dan waktu pasca abortus. Suami sebagai edukator memberikan informasi tentang perawatan atau proses penyembuhan kepada istri yang mengalami abortus. Ikut berpartisipasi dalam perawatan istri pasca abortus.
Disarankan kepada Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat untuk meningkatkan penyuluhan kepada suami mengenai istri yang mengalami abortus sehingga suami lebih berperan aktif dalam mendampingi dan memotivasi istri. Bagi suami hendaknya lebih menguatkan dan memberikan perawatan kepada istri karena mendampingi istri pasca abortus dapat mempercepat proses pemulihan. Bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat mengadakan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan suami tentang peran suami terhadap istri yang mengalami abortus.
Kata Kunci : Peran Suami, Abortus, RSUD Rantau Prapat
i
7
ABSTRACT
Abortion (miscarriage) is the failure of a pregnancy before 28 weeks gestation or fetal weight less than 1000 grams. At the moment of abortion a wife desperately need motivation from her husband. Husband's role as both a motivator, facilitator and educator granted since the beginning of miscarriage simplify and lighten the couple in living and cope with the changes that occur in the body.
This study aims to determine the role of husband to wife who experience abortion in Rantau Prapat Labuhanbatu District Hospital in 2015.
This type of research is descriptive qualitative research design with a phenomenological approach that assessment aimed at obtaining specific information about behavior and social context according to the experience of informants. The study was conducted at Hospital Rantau Prapat Labuhan Batu in January to June 2015.Pengambilan informants using purposive sampling and snowball sampling is obtained 5 husband who became an informant. Methods of data analysis by means of data reduction, data presentation and conclusion.
The results obtained perception of the role of husband and wife is to blame because it could not keep her pregnancy and the lack of support did not accompany her husband as post-abortion.
Reason husband does not give motivation to their wives as busy husband and afraid to see her condition. Husband as facilitators participate drove to healthcare, providing cost and time post- abortion. Husband as educators provide information about treatment or healing processes to wives who experienced abortion. Participated in post-abortion care wife.
For suggested to the General Hospital of Rantauprapat to improve outreach to the husband of the wife of a husband who experienced abortion so that a more active role in assisting and motivating wife. For the husband should further strengthen and provide maintenance to the wife to be with his wife after the abortion can accelerate the recovery process. For health workers are expected to conduct activities to improve knowledge of the role of husband and husband to wife who experience abortion.
Keywords: Role husband, Abortion, Hospital Rantau Prapat
ii
KATA PENGANTAR
Segala Puji Syukur penulis dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Peran Suami terhadap Istri yang Mengalami Abortus di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015”.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Proses penulisan tesis dapat terwujud berkat dukungan, bimbingan, arahan dan bantuan moral maupun material dari banyak pihak. Untuk itu izinkan penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 FKM Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Delfi Lutan, SpOG (K), selaku Ketua Komisi Pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.
4. Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes, selaku Anggota Komisi Pembimbing dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.
5. Drs. Eddy Syahrial M.S, selaku Komisi Penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.
iii
6. Dr. Halinda Sari Lubis, MKKK, selaku Komisi Penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini
7. Direktur Rumah RSUD Rantau Parapat Kabupaten Labuhan Batu yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
8. Dr.Tun Ali,Sp.OG, yang telah memberikan dukungan kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan penelitian ini.
9. Ibunda Hj. Masrah Hasibuan, SPd, M.Kes, yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini.
10. Dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
11. Ayah Ir.Syafrizal dan ibunda Samsima yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini
12. Suami Heri Rahmadsyah dan anakku Raza Syah yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini.
13. Abanganda Rizki Zulkifli, adik-adikku Hendra Syahputra, Selvia Dewi dan Indah Marentina Br. Siregar yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini
14. Untuk rekan-rekan seperjuangan mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat tahun 2013 yang telah membantu dalam menjalani dan menyelesaikan pendidikan di Program Magister IKM FKM-USU.
15. Untuk sahabat-sahat kantor Akbid Ika Bina Labuhanbatu Rantau Prapat yang telah memberikan bantuan serta dukungan moril kepada penulis untuk tetap semangat hingga akhir penyelesaian tesis ini
iv
Penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.
Medan, Juli 2015 Penulis
Rika Handayani 137032101/IKM
v
11
RIWAYAT HIDUP
Rika Handayani lahir pada tanggal 10 Oktober 1988 di Rantau Prapat. Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Ayanda Ir. Syafrizal Siregar dan Ibunda Samsimah.
Pendidikan formal penulis dimulai dari pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 112135 Rantau Prapat selesai tahun 2000, Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Rantau Prapat selesai tahun 2003, Sekolah Muhamaddiah 10 Rantau Prapat selesai tahun 2006, D3 Akbid Ika Bina Labuhan Batu Tahun 2009, mengambil pendidikan D4 bidan pendidik di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara selesai tahun 2011 dan saat ini sedang menyelesaikan Program Studi S2 di FKM USU.
Penulis mulai bekerja tahun 2009-2010 sebagai ibu asrama di Akbid Ika Bina Labuhan Batu dan tahun 2011-hingga saat ini bekerja sebagai dosen tetap di Akbid Ika Bina Labuhan Batu.
vi
DAFTAR ISI
Halaman PERSETUJUAN PROPOSAL
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Permasalahan ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1. Peran Suami ... 8
2.2.1. Peran Suami pada Istri yang Mengalami Abortus ... 9
2.2.2. Proses Terbentuknya Peran Suami ... 11
2.2.3. Faktor yang Memengaruhi Terbentuknya Peran ... 11
2.2. Abortus ... 12
2.2.1. Etiologi Abortus ... 13
2.2.2. Patofisiologi Abortus ... 15
2.2.3. Klasifikasi Abortus ... 15
2.2.4. Diagnosa ... 18
2.2.5. Komplikasi Abortus ... 19
2.2.6. Penanganan Abortus ... 19
2.3. Teori Perilaku ... 21
2.4. Landasan Teori ... 25
2.5. Kerangka Konsep ... 27
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 28
3.1. Jenis Penelitian ... 28
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 28
3.2.2. Waktu Penelitian ... 28
3.3. Informan Penelitian ... 29
vii
13
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 30
3.5. Definisi Konsep ... 31
3.6. Metode Analisis Data ... 31
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 33
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 33
4.1.1 Letak Geografis ... 33
4.1.2 Data Demografi ... 34
4.1.3 Sarana Kesehatan ... 35
4.1.4 Tenaga Kesehatan ... 35
4.2 Karakteristik Informan ... 36
4.3 Kejadian Abortus ... 36
4.4 Informan ... 40
4.4.1 Peran Suami sebagai Motivator ... 40
4.4.2 Peran Suami sebagai Fasilitator ... 43
4.4.3 Peran Suami sebagai Edukator ... 45
BAB 5 PEMBAHASAN ... 48
5.1 Peran suami terhadap istri yang mengalami abortus ... 48
5.2 Peran suami sebagai Motivator ... 50
5.2 Peran suami sebagai Fasilitator ... 52
5.3 Peran suami sebagai Edukator ... 54
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN... 56
6.1 Kesimpulan ... 56
6.2 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 58 LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
4.1 Distribusi Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan
Penduduk di Kecamatan Rantau Selatan tahun 2013 ... 34
4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin di Kecamatan Rantau Selatan ... 35
4.4 Distribusi Sarana Kesehatan di Kecamatan Rantau Selatan Tahun 2013 ... 35
4.5 Distribusi Tenaga Kesehatan di Kecamatan Rantau Selatan Tahun 2013 ... 36
4.6 Karakteristik Informan di Kecamatan Rantau Selatan Tahun 2015 ... 36
ix
15
DAFTAR LAMPIRAN
1. Pedoman Wawancara Informan 2. Transkrip Wawancara Informan
3. Surat Izin Survey Pendahuluan dari USU 4. Surat Izin Penelitian dari USU
5. Surat Keterangan Survey dari RSUD Rantau Prapat Labuhanbatu 6. Surat Izin Penelitian dari RSUD Rantau Prapat Labuhanbatu
x
ABSTRAK
Abortus (keguguran) adalah kegagalan kehamilan sebelum umur kehamilan 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram. Pada saat mengalami abortus seorang istri sangat membutuhkan motivasi dari suaminya. Peranan suami baik sebagai motivator, fasilitator dan edukator yang diberikan sejak awal masa terjadinya keguguran mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yaitu penilaian yang bertujuan memperoleh informasi spesifik mengenai perilaku dan konteks sosial menurut pengalaman informan. Penelitian dilakukan di RSUD Rantau Prapat Labuhan Batu pada bulan Januari sampai Juni 2015.Pengambilan informan dengan menggunakan metode purposive sampling dan bersifat snowball sampling didapatkan 5 suami yang menjadi informan. Metode analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian yang diperoleh persepsi tentang peran suami yaitu menyalahkan istri karena tidak bisa menjaga kehamilannya dan kurangnya dukungan suami seperti tidak mendampingi pasca abortus. Alasan suami tidak memberikan motivasi kepada istri mereka seperti suami sibuk dan takut melihat kondisi istri. Suami sebagai fasilitator ikut mengantar ke pelayanan kesehatan,memberikan biaya dan waktu pasca abortus. Suami sebagai edukator memberikan informasi tentang perawatan atau proses penyembuhan kepada istri yang mengalami abortus. Ikut berpartisipasi dalam perawatan istri pasca abortus.
Disarankan kepada Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat untuk meningkatkan penyuluhan kepada suami mengenai istri yang mengalami abortus sehingga suami lebih berperan aktif dalam mendampingi dan memotivasi istri. Bagi suami hendaknya lebih menguatkan dan memberikan perawatan kepada istri karena mendampingi istri pasca abortus dapat mempercepat proses pemulihan. Bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat mengadakan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan suami tentang peran suami terhadap istri yang mengalami abortus.
Kata Kunci : Peran Suami, Abortus, RSUD Rantau Prapat
i
7
ABSTRACT
Abortion (miscarriage) is the failure of a pregnancy before 28 weeks gestation or fetal weight less than 1000 grams. At the moment of abortion a wife desperately need motivation from her husband. Husband's role as both a motivator, facilitator and educator granted since the beginning of miscarriage simplify and lighten the couple in living and cope with the changes that occur in the body.
This study aims to determine the role of husband to wife who experience abortion in Rantau Prapat Labuhanbatu District Hospital in 2015.
This type of research is descriptive qualitative research design with a phenomenological approach that assessment aimed at obtaining specific information about behavior and social context according to the experience of informants. The study was conducted at Hospital Rantau Prapat Labuhan Batu in January to June 2015.Pengambilan informants using purposive sampling and snowball sampling is obtained 5 husband who became an informant. Methods of data analysis by means of data reduction, data presentation and conclusion.
The results obtained perception of the role of husband and wife is to blame because it could not keep her pregnancy and the lack of support did not accompany her husband as post-abortion.
Reason husband does not give motivation to their wives as busy husband and afraid to see her condition. Husband as facilitators participate drove to healthcare, providing cost and time post- abortion. Husband as educators provide information about treatment or healing processes to wives who experienced abortion. Participated in post-abortion care wife.
For suggested to the General Hospital of Rantauprapat to improve outreach to the husband of the wife of a husband who experienced abortion so that a more active role in assisting and motivating wife. For the husband should further strengthen and provide maintenance to the wife to be with his wife after the abortion can accelerate the recovery process. For health workers are expected to conduct activities to improve knowledge of the role of husband and husband to wife who experience abortion.
Keywords: Role husband, Abortion, Hospital Rantau Prapat
ii
1 1.1. Latar Belakang
Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar. Berdasarkan data UNICEF, WHO, UNFPA dan Bank Dunia tren angka kematian ibu dari tahun 1990 sampai 2010 menunjukkan bahwa setiap hari sekitar 800 perempuan meninggal dunia karena komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Rasio kematian ibu (MMR) di Afrika berkisar 500 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup dan Asia Selatan berkisar 220 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Secara global, Afrika dan Asia Selatan menyumbang 85% dari kematian ibu sedangkan negara-negara berkembang lainnya sebesar 99% dari kematian. Penurunan persentase tahunan rata-rata MMR global sebesar 3,1% dan lebih rendah dari target MDGs sebesar 5,5% (Childinfo, 2013).
Rasio kematian ibu merupakan salah satu indikator Millenneum Developmet Goals (MDG’s) yang harus dicapai tahun 2015 yaitu 102 per 100.000 kelahiran hidup, maka AKI saat ini masih belum memenuhi target atau perlu diturunkan lagi (Kemenkes RI, 2013). Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi apalagi dibandingkan dengan SDK 2007. Padahal ditahun 2011 Program Jaminan Persalinan diluncurkan oleh Pemerintah sebagai usaha untuk
menurunkan angka kematian ibu di Indonesia dan untuk mencapai target MGDs tahun 2015 (Kemenkes RI, 2013).
Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2013, AKI maternal sebesar 268 per 100.000 kelahiran hidup. Hasil Sensus Penduduk 2010, AKI di Sumatera Utara sebesar 328 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini masih cukup tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional hasil SP 2010 sebesar 259 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Pemprovsu, 2014).
Kehamilan merupakan suatu peristiwa yang sangat membahagiakan bagi setiap pasangan suami dan istri, karena dengan kehamilan menandakan akan bertambahnya anggota keluarga, namun hal-hal yang tidak terduga dapat terjadi pada awal kehamilan (mester pertama), seperti berakhirnya kehamilan yang dikenal dengan abortus. Abortus (keguguran) adalah kegagalan kehamilan sebelum umur kehamilan 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram (Manuaba, 2008).
Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (30%), eklamsia (25%), partus lama (5%), komplikasi aborsi (8%), dan infeksi (12%). Resiko kematian meningkat bila ibu menderita anemia, kekurangan energi kronik dan penyakit menular. Kematian ibu karena hamil dan melahirkan juga merupakan akibat dari adanya ”empat terlalu” yaitu terlalu muda (usia kurang dari 20 tahun), terlalu tua (usia lebih dari 35 tahun), terlalu banyak/sering hamil dan melahirkan (jumlah anak lebih dari 4 orang), serta terlalu dekat/rapat jarak antar kelahiran dimana jarak antar kehamilan kurang dari 2 tahun (Kemenkes RI, 2013).
Abortus sulit di tentukan karena kadang-kadang seorang wanita dapat mengalami abortus tanpa mengetahui bahwa ia hamil dan tidak mempunyai gejala yang hebat sehingga hanya dianggap sebagai menstruasi yang terlambat (siklus memanjang). Beberapa kepustakaan menyebutkan adanya resiko abortus seperti yang dilaporkan oleh rumah sakit sebagai rasio dari jumlah abortus terhadap jumlah kelahiran hidup (Krisnadi, 2005). Kehamilan diketahui secara klinis sebanyak 15% - 25%, diantara kehamilan ini mengalami komplikasi perdarahan pada trimester pertama, 50% mengalami abortus (Handono, 2009).
Di Indonesia gejala-gejala yang terkait dengan aborsi, jumlahnya meningkat secara signifikan berdasarkan data Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi (POGI).
Menurut Handono (2009) saat ini setidaknya terdapat dua juta aborsi setiap tahun dimana 700.000 diantaranya adalah pengguguran yang disengaja (induksi). selain aborsi spontan banyak aborsi yang dilakukan dengan cara tak aman, terutam terhadap kasus-kasus kehamilan diluar nikah dan akibatnya rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap resiko aborsi.
Abortus dapat mengancam nyawa istri, penyebab kematian karena abortus dapat dibedakan menjadi penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung bisa diakibatkan karena komplikasi abortus dapat menyebabkan terjadinya perdarahan dan infeksi yang diperkirakan 11% dari seluruh kematian karena abortus, sedangkan penyebab tidak langsung seperti sosial budaya, ekonomi, pendidikan, status gizi istri hamil, anemia dan perilaku kesehatan yang diperkirakan 85%
(Haryono, 2005).
Untuk mencegah beberapa penyebab kematian tersebut, maka keluarga/
suami harus memberikan dukungan dari awal kehamilan, karena pada beberapa kasus tiga terlambat sering terulang akibat keluarga/suami merasa perannya sudah memadai. Abortus merupakan berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar tanpa mempersoalkan penyebabnya. Menurut Lewellyn (2005) istri yang mengalami keguguran tidak mempunyai pasangan dan yang kurang dukungan sosial, mengalami depresi antara 5-10% karena tiidak kesiapan istri menerima kegagalan kehamilan sehingga istri menjadi tidak tenang, takut, keadaaan tersebut dapat mengganggu pemulihan kondisi istri (Kartono, 1998).
Kurangnya dukungan atau motivasi suami dapat menjadi penyebab untuk terjadinya abortus, Hal ini dikarenakan dukungan suami merupakan upaya dalam menentramkan kejiwaan istri dalam menjalani kehamilan, begitu juga motivasi suami kepada istri dalam menghadapi abortus, penting bagi istri pada saat mengalami abortus dan berfungsi sebagai strategi preventif untuk mengurangi stress (Ingela, 1999).
Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan ekstrensik. Motivasi instrinsik yaitu hal dan keadaan yang datang dari dalam diri dan merupakan pendorong untuk melakukan kegiatan, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu dan merupakan pengaruh dari orang tua atau lingkungan, misalnya seorang
istri yang gagal hamil atau keguguran yang harus dibawa ke rumah sakit karena ada dorongan dari suami, keluarga dan orang lain (Purwanto, 1999).
Motivasi suami dalam masa keguguran membantu istri dalam menjalani dan mengatasi perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Istri yang menerima motivasi sosial dan psikologis selama keguguran lebih kecil kemungkinan perasaan negatif tentang keguguran yang di alaminya, dibandingkan istri yang tidak menerima motivasi atau dukungan (Lewellyn, 2005). Menyiapkan mental suami istri untuk punya anak bisa menjadi lebih mudah bila keduanya memang menginginkan kehadiran anak sesuai dengan harapan mereka. Jika istri tidak siap mental menghadapi keguguran kehamilan menjadi seorang istri, akibatnya istri menjadi tertekan sehingga istri gampang marah, hal ini mengganggu hubungan suami istri (Dagun, 2002).
Pemeriksaan kegagalan kehamilan memiliki peran yang sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan pada istri. Tujuan perawatan kegagalan kehamilan setiap calon istri tetap menjaga kesehatannya, perawatan kegagalan kehamilan yang cermat merupakan spencegahan yang terbaik untuk mengatasi kematian istri sewaktu mengalami keguguran (Lewellyn, 2005).
Hubungan dan komunikasi yang baik di antara istri dan suami, membuat istri yang mengalami keguguran kehamilan lebih siap untuk menghadapinya (Salmah, 2006). Suami sebagai pendamping, selama kehamilan meningkatkan kesiapan istri dalam menghadapi terjadinya keguguran, bahkan juga memicu keterlibatan suami sejak awal masa terjadinya keguguran mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
Keikutsertaan suami secara aktif dari masa kehamilan membantu proses terjadinya keguguran hal ini sangat di tentukan oleh seberapa besar motivasi suami dalam masa- masa terjadinya keguguran (Bibilung, 2008).
Peran suami sebagai motivator suami terhadap istri, dapat memberikan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri dan istri akhirnya menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dalam situasi terjadinya keguguran. Suami adalah orang pertama memberi dorongan atau dukungan kepada istri sebelum pihak lain memberi dorongan (Dagun, 2002). Masalah lain orang sulit termotivasi untuk berperilaku sehat adalah karena perubahan perilaku dari yang tidak sehat menjadi sehat tidak menimbulkan dampak langsung yang cepat. Memotivasi orang sehat jauh lebih sulit daripada memotivasi orang sakit. Karena pada saat sehat, menghindari penyakit adalah bukan tujuannya (Notoatmodjo, 2007). Sumber motivasi bisa dari dalam diri individu sendiri ataupun dari luar individu tersebut. Dalam mengubah perilaku, motivasi yang berasal dari dalam individu lebih kuat mengembangkan minat seseorang terhadap sesuatu (Uno, 2012).
Hasil survei pendahuluan yang penulis lakukan di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu tahun 2014, didapatkan data dari 54 orang istri yang mengalami abortus yang datang berobat dan hanya 18 orang ditemani suami, 14 orang ditemani keluarga, 12 orang bersama teman wanita dan 10 istri datang sendiri.
Dari hasil wawancara dengan istri yang datang tanpa ditemani suami mengataka sangat ingin ditemani oleh suami saat memeriksakan kondisinya di rumah sakit, karena dengan adanya suami, istri merasa mendapat perhatian dan dorongan.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang peran suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSUD Rantau Prapat Labuhanbatu Tahun 2015.
1.2. Permasalahan
Permasalahan penelitian dapat dirumuskan berdasarkan uraian diatas yaitu:
Bagaimana peran suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015?
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peran suami terhadap istri yang mengalami abortus di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2015
1.4. Manfaaat Penelitian
1. Bagi petugas Rumah Sakit Umum Daerah Rantau Prapat Labuhanbatu diharapkan sebagai pertimbangan perumusan kebijakan program dalam menurunkan AKI dan AKB khususnya yang disebabkan abortus.
2. Sebagai masukan untuk petugas puskesmas agar dapat mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan, dan membuat perencanaan yang lebih tepat guna dalam mengatasi ibu hamil yang mengalami abortus.
8 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Peran Suami
Peran Suami Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan bahwa suami adalah pria yg menjadi pasangan hidup resmi seorang wanita (istri) yg telah menikah.
Sedangkan peran adalah perangkat tingkah yg diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat (KBBI, 2008). Peran juga merupakan suatu kumpulan norma untuk perilaku seseorang dalam suatu posisi khusus, seperti seorang istri, suami, anak, guru, hakim, dokter, perawat, rohanian, dan sebagainya (Marasmis, 2006)
Teori Peran (Role Theory) Menurut Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan seharihari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya.
Perilaku ditentukan oleh peran sosial (Admin, 2009).
Suami juga berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya (Effendi, 1998, hlm. 34).
Peran Sebagai Suami Menurut BKkbN Tahun 2009 Seorang suami memiliki peran sebagai berikut :
1. Melindungi istri dan anak-anaknya.
2. Menyerahkan harta dan menugaskan istri sepenuhnya mengurus rumah tangga serta urusan agama bagi keluarga
3. Menjamin hidup dengan memberi nafkah istri bila karena suatu urusan penting ia meninggalkan istrinya keluar daerah
4. Memelihara hubungan sesuciannya dengan istri dan saling percaya mempercayai sehingga terjalin hubungan/kasih sayang dan keharmonisan rumah tangga
5. Berupaya agar istri selalu ceria dan bahagia ditengah keluarga guna dapat mewujudkan kewibawaan keluarga
6. Menggauli istinya, mengusahakan agar tidak timbul perceraian, dan masingmasing tidak melanggar kesucian.
2.1.1. Peran Suami pada Istri yang Mengalami Abortus
Peran suami banyak memberikan kebebasan dan mendukung pilihan istri.
Dukungan suami antara lain dapat terlihat dari sikapnya yang pengertian dan tidak mempersalahkan istrinya terhadap kejadian abortus yang dialmi istrinya, menemani istri dalam melakukan perawatan abortus dan juga tidak membebani istrinya dengan pekerjaan rumah masih dalam proses pemulihan. Peran suami saat istri menalami saat
abortus sangatlah penting dalam memotivasi istri untuk bengkit kembali darii peristiwa yang menggunjang hatinya. Peran suami saat istri mengalami abortus dapat dilakukan dalam 3 hal antara lain:
1. Peran suami sebagai motivator
Motivator menurut KBBI adalah orang (perangsang) yang menyebabkan timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu, memberi dukungan, pendorong, penggerak untuk mempengaruhi istri agar menerima dengan lapang dada kejadian abortus yang menimpa dirinya
2. Peran suami sebagai fasilitator (Sebagai orang yang menyediakan fasiliatas)
Memberi semua kebutuhan istri dalam pelayanan abortus. Sehingga pelaksanaan abortus dan proses penyembuhan istri dapat berjalan dengan baik. Hal ini dapat terlihat saat suami menyediakan waktu untuk mendampingi istri melakukan perawatan abortus, suami bersedia memberikan biaya khusus untuk penyembuha, dan membantu istri menentukan tempat pelayanan atau tenaga kesehatan yang sesuai
3. Peran suami sebagai Edukator
Selain peran penting dalam mendukung keputusan, dalam memberikan informasi juga sangat penting bagi istri, suami dapat mencari informasi tentang perawatan abortus dan memberikan informasi itu pada istrinya sehingga istri dapat dengan cepat pulih kondisi kesehatannya
2.1.2. Proses Terbentuknya Peran Suami
Proses terbentuknya peran suami (ayah) berkembang sejalan dengan peran ibu. Secara umum ayah yang stres menyukai anak-anak, isteri senang berperan sebagai ayah dan senang mengasuh anak, percaya diri, dan mampu menjadi ayah, membagi pengalaman tentang kehamilan dan melahirkan dengan pasangannya (Salmah, 2006)
2.1.3. Faktor yang Memengaruhi Terbentuknya Peran
Adapun faktor yang mempengaruhi terbentuknya peran dalam diri seseorang adalah :
1. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyidikan epidemiologi.
Angka-angka kesakitan maupun angka kematian didalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur. Persoalan yang dihadapi adalah umur yang tepat, apakah panjang intervalnya didalam pengelompokan cukup untuk menyembuyikan peranan umur pada pola kesakitan atau kematian, apakah pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan pada penelitian orang lain.
2. Pekerjaan
Pekerjaan akan menimbulkan reaksi fisiologi bagi yang melakukan pekerjaan itu, reaksi ini dapat bersifat positif misalnya senang, bergairah, ataupun reaksi yang bersifat negatif misalnya bosan, acuh tak acuh, tidak serius, dan sebagainya.
Melakukan pekerjaan secara efisien tidak hanya bergantung kepada kemampuan
atau keterampilan tetapi juga dipengaruhi oleh penguasaan prosedur kerja, uraian kerja, peralatan kerja yang tepat atau sesuai dengan lingkungan kerja, dan lain- lain.
3. Pendidikan
Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan ini terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih matang pada diri individu, kelompok, dan masyarakat. Konsep ini berangkat dari asumsi manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupan untuk mencapai nilai-nilai hidup di dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain. Yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu, dan sebagainya) dalam mencapai tujuan seorang individu, kelompok, dan masyarakat tidak terlepas dari kegiatan belajar (Notoadmojo, 2003)
2.2 Abortus
Beberapa pendapat tetang abortus, di antaranya, Abortus (keguguran) adalah kegagalan kehamilan sebelum umur kehamilan umur 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram (Manuaba, 2008). Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan penyebabnya (Krisnadi, 2005).
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (Wiknjosastro, 2005). Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasinya belum mencapai 20-28 minggu. Dan beratnya
kurang dari 500 gram. Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu hidup di luar rahim (Achadiat, 2004). Abortus (keguguran) adalah penghentian kehamilan sebelum umur 20 minggu kehamilan lengkap (Benson, 2009).
Menurut Dorland (2012), abortus adalah janin yang dikeluarkan dengan berat kurang dari 500 gram atau memiliki usia gestasional kurang dari 20 minggu pada waktu dikeluarkan dari uterus sehingga tidak memiliki angka harapan untuk hidup.
Sedangkan menurut Prawirohardjo (2008) abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
2.2.1 Etiologi Abortus
Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor. Umumnya abortus di dahului oleh kematian janin (Krisnadi 2005). Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya abortus, yaitu :
1. Faktor Janin
Kelainan yang paling sering di jumpai pada abortus adalah gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama.
2. Faktor Maternal
a. Infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yang sedang berkembang, terutama pada akhir semester pertama atau awal trimester.
b. Penyakit vaskuler misalnya hipertensi.kelainan endokrin
Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid, difiensi insulin.
c. Faktor imunologis
Ketidakcocokan sistem Human Leukocyte Antigen d. Trauma
Khasusnya jarang terjadi, umumnya abortus terjadi segera setelah trauma tersebut.
e. Kelainan uterus
Hipoplasia uterus, mioma (terutama mioma sub mukosa), serviks inkommpletus.
3. Faktor Eksternal a. Radiasi
Dosis 1-10 radiasi bagi janin pada kehamilan sembilan minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran.
b. Obat-obatan
Sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan enam belas minggu, kecuali telah dibuktikan bahwa obat tersebut tidak membahayakan janin atau untuk pengobatan penyakit ibu yang parah.
c. Bahan-bahan kimia
Seperti bahan yang mengandung arsen dan benzena.
Katagori dan gambaran klinis abortus adalah: Bercak darah pada kehamilan muda biasa menjadi perdarahan yang mengakibatkan janin gugur sehingga perlu
diwaspadai. Munculnya bercak darah biasa berasal dari perdarahan di rahim atau di luar rahim (Hestiantoro, 2008).
2.2.2 Patofisiologi Abortus
Pada permulaan abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan bagian benda asing dalam uterus.
Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8-14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan.
Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah janin, disusul beberapa waktu kemudian oleh plasenta yang telah lengkap tertentu. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan ndalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas, mungkin pula janin lahir-mati atau dilahirkan hidup.
2.2.3 Klasifikasi Abortus
Menurut terjadinya, Prawirohardjo (2008) membagi abortus menjadi tiga jenis yaitu :
1. Abortus provokatus didefinisikan sebagai prosedur untuk mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan baik oleh orang-orang yang tidak memiliki ketrampilan yang diperlukan atau dalam lingkungan yang tidak memenuhi standar medis minimal atau keduanya.
2. Abortus terapeutik adalah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik.
Pertimbangan demi menyelamatkan nyawa ibu dilakukan oleh minimal 3 dokter spesialis yaitu Kebidanan dan Kandungan, spesialis Penyakit dalam, dan spesialis Jiwa. Bila perlu dapat ditambah pertimbangan oleh tokoh agama terkait.
3. Abortus Spontan adalah abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa adanya tindakan apa pun. Berdasarkan gambaran kliniknya, dibagi menjadi berikut : a. Abortus Immunens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
b. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil kosnepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran.
c. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal. Batasan ini juga masih terpancang pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
d. Abortus Kompletus
seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
e. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu namun keseluruhan hasil konsepsi itu tertahan dalam uterus selama 6 minggu atau lebih.
f. Abortus Habitualis
Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. Penderita abortus habitualis pada umunya tidak sulit untuk menjadi hamil kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran/abortus secara berturut-turut.
g. Abortus Infeksiosus
Abortus Infeksius ialah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia.
Abortus spetik ialah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh. Kejadian ini merupakan salah satu komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi apalagi bila dilakukan kurang memperhatikan asepsis dan antisepsis.
h. kehamilan Anembrionik
kehamilan anembrionik merupakan kehamilan patologi dimana mudigah tidak terbentuk sejak awal walaupun kantong gestasi tetap terbentuk. Disamping
mudigah, kantong kuning telur juga tidak ikut terbentuk. Kelainan ini merupakan suatu kelaianan kehamilan yang baru terdeteksi setelah berkembangnya ultrasonografi.
2.2.4 Diagnosa 1. Klinis
Dapatkan anamnesis lengkap dan lakukan pemeriksaan fisik umum (termasuk panggul) pada setiap pasien untuk menentukan kemungkinan diperlukannya pemeriksaan laboratorium tertentu atau pemeriksaan lainnya untuk mendeteksi adanya penyakit atau status defisiensi. Secara klasik, gejala-gejala abortus adalah kontraksi uterus (dengan atau tanpa nyeri suprapublik) dan perdarahan vagina pada kehamilan dengan janin yang belum viabel.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Pada banyak kasus, pemeriksaan serum untuk kehamilan sangat berguna.
Pemeriksaan laboratorium paling sedikit, harus meliputi biakan dan uji kepekaan mukaso serviks atau darah (untuk mengidentifikasi patogen pada infeksi) dan pemeriksaan darah lengkap. Pada beberapa kasus, penentuan kadar progesteron berguna untuk mendeteksi kegagalan korpus luteum. Jika terdapat perdarahan, perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah dan pencocokan silang serta panel koagulasi. Analisis genetik bahan abortus dapat menentukan adanya kelainan kromosom sebagai etiologi abortus.
2.2.5 Komplikasi Abortus
Adapun komplikasi yang terdapat terjadilah adalah sebagian berikut : 1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.Karena kematian janin dapat terjadi apa bila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada bulan uterus dalam posisi hiperreefio fleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti.
3. Infeksi
Infeksi ini terjadi dalam uterus, dan infeksi menyebar ke miometrium, tuba, peritoneum.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoregik) dan karena infeksi berat (Wiknjosastro, 2005).
2.2.6. Penanganan Abortus Penanganan pada abortus : 1. Penilaian awal
a. Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien, termasuk tanda-tanda vital.
b. Periksa tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan tekanan sistolik
˂ 90 mmHg, nadi ˃ 112 x/menit).
c. Bila syok disertai dengan masa lunak di adneksa, nyeri perut bagian bawah, adanya cairan bebas dalam kavum pelvis; pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik yang terganggu.
d. Periksa apakah ada tanda-tanda infeksi atau sepsis.
e. Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat ditatalaksana pada fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk (setelah dilakukan stabilisasi), (Saifuddin, 2008)
2. Penanganan Abortus Insipien, Abortus Inkompletus dan Abortus kompletus a. Terapi :
1) Pasang infus-cairan pengganti 2) Transfusi darah
3) Persiapan kuretase
a) mempercepat pengambilan jaringan-hasil konsepsi b) mempercepat perhentian perdarahan
c) mengurangi infeksi b. tambahan terapi
1) Antibiotika 2) Uterotonika 3) Terapi suportif
3. Abortus Imminen penatalaksanaaanya dengan cara:
a. Bed rest b. Tokolitik
c. Plasetogenik hormonal d. ANC- hamil aterm
4. Abortus Habitualis penatalaksanaaanya dengan cara:
a. Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan.
b. Pada serviks inkompeten terapinya adalah operasi dengan cara cervical cerclage
5. Abortus Septik penatalaksanaaanya dengan cara:
a. Keseimbangan caiaran tubuh
Pemberian antibiotik yang adekuat sesuai dengan hasil kultur kuman yang diambil dari darah dan cairan fluksus/ fluor yang keluar pervaginam. Tahap pertama Penisilin 4x 1,2 juta unit atau Ampisilin 4x 1 gram Gentamisin 2 x 80mg dan Metronidazol 2 x 1 gram. Selanjutnya antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur.
b. Tindakan kuretase dilaksanakan apabila keadaan tubuh membaik minimal 6 jam setelah pemberian antibiotik yang adekuat.
2.3 Teori Perilaku
Model perilaku kesehatan telah disampaikan beberapa ahli, antara lain:
1. Teori Lawrence Green
Menurut Notoatmodjo (2012) faktor perilaku ditentukan oleh tiga faktor yang utama, yaitu:
a. Faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor yang memotivasi suatu perilaku atau mempermudah terjadinya perilaku seseorang. Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap seseorang terhadap kesehatan, kepercayaan terhadap hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistim nilai di masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.
b. Faktor pemungkin (enabling factor)
Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas pelayanan kesehatan. Keterjangkauan sarana dan prasarana pendukung untuk berperilaku sehat, yaitu perilaku aborutus. Istri yang akan melakukan abortus tidak hanya karena dia tahu dan sadar dampak abortus, melainkan istri tersebut dengan mudah mendapatkan fasilitas untuk melakukan abortus yang mendukung terwujudnya perilaku kesehatan.
c. Faktor penguat (reinforcing factor)
Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama dan petugas kesehatan, termasuk undang-undang, peraturan yang terkait dengan kesehatan serta program pemerintah yang sedang berjalan.
Menurut Anderson (1974) dalam Notoatmodjo (2012) ada tiga kategori utama yang bisa mempengaruhi perilaku kesehatan, yaitu:
a. Faktor predisposisi (predisposing factor)
Karakteristik ini menggambarkan bahwa setiap individu cenderung memanfaatkan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda karena adanya perbedaan demografi serta keyakinan bahwa pelayanan kesehatan tersebut dapat menolongnya menyembuhkan penyakit (termasuk di dalamnya sikap terhadap pelayanan kesehatan dan pengetahuan tentang penyakit).
b. Faktor pendukung (enabling factor)
Faktor ini menggambarkan kemampuan individu untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan, termasuk didalamnya sumber daya keluarga (tingkat pendapatan keluarga, ada/tidaknya asuransi kesehatan dan lainnya) serta sumber daya masyarakat (ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan).
c. Faktor kebutuhan (need factors)
Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung menggunakan pelayanan kesehatan bila faktor predisposisi dan pendukung ada. Komponen kebutuhan dibagi menjadi 2 kategori yaitu perceived need (persepsi seseorang terhadap kesehatannya) dan evaluated gejala dan diagnosa penyakit).
2. Health Belief Model
Berdasarkan model kepercayaan kesehatan atau sering disebut Health Belief Model yang dikemukakan oleh Sheeran dan Abraham dalam Notoatmodjo (2012) ada beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan.
a. Keyakinan tentang dampak penyakit dan konsekuensinya (persepsi ancaman) yang tergantung pada persepsi kerentanan atau keyakinan tentang betapa rentannya seseorang menganggap dirinya untuk terkena suatu penyakit dan persepsi keparahan penyakit serta konsekuensinya.
b. Motivasi kesehatan atau kesiapan dalam memperhatikan hal-hal kesehatan.
c. Keyakinan tentang konsekuensi dari praktek kesehatan dan tentang kemungkinan usaha untuk membuat individu melakukan praktek kesehatan.
Evaluasi perilaku tergantung pada persepsi manfaat tindakan preventif dan terapeutik serta persepsi hambatan yang ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut.
d. Isyarat atau tanda yang meliputi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tindakan, misalnya peran media massa, nasihat, anjuran teman atau keluarga dari orang yang sakit.
e. Kepercayaan dan motivasi kesehatan dikondisikan oleh variabel-variabel demografi (sosial demografi, usia dan sebagainya) SSSdan oleh karakteristik psikologis dari individu (kepribadian, tekanan kelompok).
Perilaku abortus merupakan masalah yang sangat penting karena dapat mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Perilaku, menurut Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2012) merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus rangsangan dari luar. Stimulus abortus bisa dari fasilitas-fasilitas yang ada yang dimudahkan untuk melakukan abortus sehingga diharapkan lebih banyak istri yang melakukan abortus. Keputusan seorang istri untuk abortus dipengaruhi oleh pemahaman istri tersebut tentang abortus.
2.4 Landasan Teori
Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter.
Jadi karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran sosial Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu memperluas penggunaan teori peran. Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori- kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Peran suami saat istri mengalami abortus dapat dilakukan dalam 3 hal antara lain:
1. Peran suami sebagai motivator
Motivator menurut KBBI adalah orang (perangsang) yang menyebabkan timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu, memberi dukungan, pendorong, penggerak untuk mempengaruhi istri agar menerima dengan lapang dada kejadian abortus yang menimpa dirinya
2. Peran suami sebagai fasilitator (Sebagai orang yang menyediakan fasiliatas) Memberi semua kebutuhan istri dalam pelayanan abortus. Sehingga pelaksanaan abortus dan proses penyembuhan istri dapat berjalan dengan baik. Hal ini dapat terlihat saat suami menyediakan waktu untuk mendampingi istri melakukan perawatan abortus, suami bersedia memberikan biaya khusus untuk penyembuha, dan membantu istri menentukan tempat pelayanan atau tenaga kesehatan yang sesuai.
3. Peran suami sebagai Edukator
Selain peran penting dalam mendukung keputusan, dalam memberikan informasi juga sangat penting bagi istri, suami dapat mencari informasi tentang perawatan abortus dan memberikan informasi itu pada istrinya sehingga istri dapat dengan cepat pulih kondisi kesehatannya.
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian Peran Suami
Edukator Motivator
Fasilitator
2.5. Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian latar belakang dan landasan teori tersebut, maka rumusan kerangka konsep penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Karakteristik suami:
Umur Pendidikan Pekerjaan
Peran Suami:
Motivator Fasilitator edukator
Istri yang mengalami abortus
28 METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriprif dengan rancangan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yaitu penilaian yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang spesifik mengenai perilaku dan konteks sosial menurut pengalaman informan (Creswell, 2002). Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui peran suami terhadap istri yang mengalami abortus di Rantau Prapat Labuhanbatu tahun 2015.
3.2. Lokasi Dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan di RSUD Rantau Prapat Labuhanbatu. Adapun alasan pemilihan lokasi ini berdasarkan pertimbangan ditemukannya istri yang mengalami abortus yaitu 145 orang dan belum pernah dilakukan penelitian tentang peran suami terhadap istri yang mengalami abortus.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2015. Adapun pelaksanaan penelitian dimulai dari pengajuan judul dan survei melakukan penyusunan proposal dan konsul bimbingan proposal, ujian proposal, penelitian hingga ujian tesis.
3.3. Informan Penelitian
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Selanjutnya, bilamana dalam proses pengumpulan data sudah tidak lagi ditemukan variasi informasi, dengan perkataan lain bahwa data yang dikumpulkan sudah mencukupi (data yang dikumpulkan sudah cukup bervariasi dan sudah terjadi penanggulangan informasi) untuk menggambarkan seluruh fenomena yang berkaitan dengan topik penelitian, maka peneliti tidak perlu lagi untuk mencari informan baru (Maleong, 2006).
Pada penelitian ini pengambilan informan dengan menggunakan metode purposive sampling dan bersifat snowball sampling. Teknik sampling dengan purposive sampling artinya, bahwa teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yakni, informan yang penulis pilih adalah orang-orang yang terlibat secara langsung terhadap permasalahan yang sedang diteliti. Snowball sampling digunakan apabila dalam proses penggumpulan data masih ada lagi pendapat yang bervariasi, maka peneliti akan mencari informan lagi sehingga data yang diperlukan sudah mencukupi untuk menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan tujuan penelitian ini. Penelitian ini mengambil informan adalah istri yang mengalami abortus di RSUD Rantau Prapat Labuhanbatu.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data penelitian, terutama untuk penelitian deskriptif, peneliti akan melakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Teknik Pengumpulan Data Primer yaitu :
Wawancara Mendalam (Depth Interview) yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya-jawab secara langsung kepada pihak-pihak yang terkait secara mendalam.
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder yaitu :
a. Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan- catatan atau dokumen yang ada dilokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang relevan dengan obyek penelitian
b. Studi Kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan berbagai literatur, seperti buku, majalah, jurnal, dan laporan penelitian serta yang lainnya.
Data primer dan data sekunder pada penelitian kualitatif disebut dengan rapport. Pengembangan rapport ini diartikan sebagai membina hubungan baik sedemikian rupa sehingga orang lain (informan) percaya dan nyaman dengan kita (peneliti). Sebelum dilakukan proses pengumpulan data disusun pedoman wawancara yang bertujuan untuk memberikan kemudahan pada penulis supaya pertanyaan yang diajukan terarah dan sesuai dengan tujuan penelitian. Bentuk pertanyaan yang digunakan pada umumnya adalah pertanyaan terbuka, yang memungkinkan informan bebas mengekspresikan diri, serta mengatakan apa yang mereka pikir, dan informasi
penting yang sebelumnya tidak terpikir oleh peneliti. Supaya hasil wawancara dan observasi dapat terekam dengan baik, dimiliki bukti telah melakukan wawancara kepada subjek maka digunakan alat bantu yaitu alat tulis dan tape recorder, kemudian hasil rekaman dari tape recorder dituliskan dalam bentuk transkrip.
Uji keabsahan dilakukan dengan teknik trianggulasi data. Proses triangulasi dilakukan terus-menerus sepanjang proses mengumpulkan data dan analisis data, sampai suatu saat peneliti yakin bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan, dan tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasi kepada informan.
3.5. Definisi Konsep
Definisi konsep pada penelitian ini antara lain:
1. Istri adalah seorang wanita yang telah memililki suami
2. Abortus adalah kegagalan kehamilan sebelum umur kehamilan umur 28 minggu 3. Peran suami adalah dukungan yang diberikan oleh seorang laiki-laki kepada
istrinya yang mengalami abortus.
3.6. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan hal yang agak rumit kerena variasi data yang cukup banyak dan belum ada pola yang baku. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Menurut Moleong (2006) analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam
pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Analisis data dilakukan dalam suatu proses. Analisis data kualitatif menurut miles (2010) terdiri dari 3 bagian yaitu:
1. Reduksi Data adalah proses pemilihan, pemusatan, perhatian, pada penyerderhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatn tertulis lapangan
2. Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penulisan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
3. Penarikan kesimpulan merupakan diversifikasi selama penelitian berlangsung.
33 4.1.1 Letak Geografis
Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat adalah sarana kesehatan yang terletak di Kelurahan Dewi Sartika Kecamatan Rantau Selatan yang berjarak kira-kira
± 3000 m dari jalan utama Kota Rantau Prapat dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Rantau Utara b. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Panai Hilir c. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bilah Hulu d. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Marbau
Luas wilayah Kecamatan Rantau Selatan 64.32 Km2. Desa-desa di kecamatan di Rantau Selatan berada di dataran sedang. Secara administratif Kecamatan Rantau Selatan terdiri dari 9 kelurahan sebagai berikut :
a. Kelurahan Bakaran Batu b. Kelurahan Danobale c. Kelurahan Lobu Sona d. Kelurahan Perdamean e. Kelurahan Sidorejo f. Kelurahan Sigambal
g. Kelurahan Sioldengan h. Kelurahan Ujung Bandar i. Kelurahan Urung Kompas
4.1.2 Data Demografi
Berdasarkan data profil Kecamatan Rantau Selatan tahun 2013, jumlah penduduk 61.492 jiwa (2013) dengan kepadatan penduduk sebesar 956,03 jiwa/km2. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Bakaran Batu sebanyak 12.488 jiwa sedangkan penduduk paling sedikit terdapat di Kelurahan Lobusona.
Tabel 4.1 Distribusi Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Rantau Selatan tahun 2013
No Kelurahan/Desa
Luas Wilayah
(km2)
Jumlah Penduduk
Jumlah Rumah Tangga
Kepadatan Penduduk
Per km2
1 Bakaran Batu 10,02 12.488 10.600 1384,5
2 Danobale 4,25 4.491 621 1057,4
3 Lobusona 4,13 1.748 547 423,3
4 Perdamean 7,20 8.566 2.234 1381,7
5 Sidorejo 8,68 4.652 2.854 609,7
6 Sigambal 9,41 6.235 3781 741,4
7 Sioldengan 8,90 9.557 5328 1073,9
8 Ujung Bandar 5,82 5.664 3789 973
9 Urung Kompas 6,32 8.071 4384 1277
Sumber :Profil Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2013
Berdasarkan jenis kelamin, penduduk yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 31.008 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan 30.484 jiwa. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin di Kecamatan Rantau Selatan
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1 Laki-laki 31.008 50,43
2 Perempuan 30.484 49,43
Sumber :Profil Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2013
4.1.3 Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada wilayah Kecamatan Rantau Selatan terdiri Rumah Sakit Umum Daerah, Puskesmas, Puskesmas Keliling,Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Praktek Dokter Perorangan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Distribusi Sarana Kesehatan di Kecamatan Rantau Selatan Tahun 2013
No Sarana Kesehatan Jumlah (Unit)
1 Rumah Sakit Umum Daerah 1
2 Puskesmas Sigambal 1
3 Puskesmas Keliling 1
4 Pukesmas Pembantu 5
5 Praktek Dokter Perorangan 12
4.1.4 Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan yang terdapat di Kecamatan Rantau Selatan pada Tahun 2013 secara rinci dapat dilihat pada tabel 4.4.