• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transkrip Wawancara

15 September 2013

Bapak Rinto Simatupang

Beserta (Istri) Kostiana Pakpahan Beralamat di Jln. Blok Duku No.35 RT.04. RW.10 Cibubur Jakarta Timur

Tanggal lahir suami1 November 1965 Istri, 6 September 1965 Penganut agama Kristen.

Menikah Secara Agama Kristen, 6 September 2002 yang dilanjutkan dengan pesta adat pada hari yang sama di Gedung pertemuan Restu II (Jl. Mampang Prapatan Jakarta Selatan.

Foto di atas atas foto ketika mereka melangsungkan pernikahan dengan hasil wawancara sebagai berikut:

Ada berapa macam pernikahan secara adat Batak Toba yang anda ketahui?

Ada 2 (adat yang kecil dan adat yang besar) Adat Batak Toba itu sesuatu yang bagus.

Adat Batak juga sifatnya flexible, bahkan ada umpasa orang Batak yang mengatakan kalau “adat do na gelleng jala adat do nabalga” yang kira-kira artinya, adat itu tidak mengharuskan dan tidak memaksa harus besar-besaran dan dengan biaya yang besar. Tidak sama sekali. Itu tergantung kemampuan dan kemauan orang yang akan melaksanakan pesta adat. Bahkan ada juga satu konsep orang Batak yang mengatakan “unang masi pailaan” artinya jangan saling mempermalukan, tetapi saling menutupi kelemahan satu pihak dengan yang lain. Bahkan bila memungkinkan saling membantu, saling asah, asih dan asuh. Seperti umpasa yang mengatakan; Marsiamin-aminan,

Songon suhat di robean

Di zaman sekarang apakah pernikahan secara adat Batak itu masih sesuatu yang wajib menurut anda? Dan bagaimana pandangan anda mengenai pernikahan secara adat Batak Toba ?

Wajib tentunya

Mengapa anda memandang demikian?

Ya. Secara umum, sampai saat ini yang saya lihat, bagaimana orang tua menyampaikan kepada anak-anaknya. Ketika orang tua menyampaikan kepada anak-anaknya dengan pola fikir yang logis dan dengan pembelajaran yang terus menerus dan kontinyu, saya fikir secara umum pastinya keturunan Batak Toba yang di Jakarta menginginkan di nikahkan dengan pesta pernikahan secara Batak Toba. Sebab banyak hal dan banyak pembelajaran yang dapat kita ambil dari pelaksanaan adat yang menurut saya sampai sekarangpun masih relevan dalam kehidupan dan tatanan bermasyarakat.

Ada berapa macam prosesi yang dapat dipilih apabila pemuda/ pemudi dari suku Batak Toba akan melaksanakan pernikahan secara adat Batak Toba dengan calon pasangan dari luar suku Batak?

Sebenarnya harus prosesi mangain, walau belakangan ada orang yang dapat melaksanakan prosesi pernikahan bagi anaknya tanpa diain, tapi diulahon.

Bagaimana tahapan-tahapan dalam upacara pernikahan adat Batak Toba yang anda ketahui? 1. Sebelum pernikahan

Ada beberapa tahapan yang dilaksanakan berhubungan dengan pernikahan yang dilaksanakan menurut tatanan adat Batak Toba. Yaitu:

i.Marhori-hori ding-ding

Merupakan rapat internal kedua keluarga yang masing-masing anaknya telah memiliki hubungan istimewa dan ingin meningkatkannya pada jenjang yang lebih serius, yaitu memberitahukan kepada orang tua untuk di lakukan tindak lanjutnya dan melaksanakan acara adat yang relevan dengan situasi dimaksud.

Nah kegiatan marhori-hori ding-ding ini sudah termasuk urutan adat ii.Marhusip/ Patua hata

Konsep yang dilaksanakan pada waktu marhusip/ patua hata, yang sudah merupakan prosesi adat.

Acara ini dilaksanakan di kediaman orang tua calon pengatin wanita dengan aturan pelaksanaan sebagai berikut:

Terlebih dahulu ….

a) Paranak (orang tua) calon mempelai laki-laki; menyiapkan “pinahan”/ bisa daging babi atau kambing, domba (tergantung kesepakatan) namun untuk yang beragama kristen umumnya menggunakan daging babi. Lengkap dengan “namargoar” potongan/potongan khusus dari hewan yang digunakan. Misalnya bagian kepala harus kelihatan secara utuh, aliang-aliangleher/ seputar , ihur/ seputar pinggul sampai ekor, dll, berikut nasi dan beberapa hidangan yang sekiranya akan digunakan sebagai konsumsi untuk makan sebelum acara adat pada prosesi dimaksud dilaksanakan.

b) Parboru menyiapkan ikan mas dan juga berikut nasi yang juga akan digunakan sebagai hidangan untuk acara dimaksud sebelum membahas lebih jauh tentang hal-hal yang akan dilakukan sesuai dengan rentetan peristiwa yang akan dilaksanakan.

Hal-hal yang dibicarakan pada saat marhusip; a. Sinamot/ tuhor/ mahar

Keputusan tentang jumlah mahar sudah menjadi keputusan yang harus dilaksanakan apabila sudah disepakati dan diperdengarkan kepada hadirin ketika marhusip, karena sudah disaksikan oleh raja-raja.

b. Ulaon unjuk

Dalam hal ini dibahas apa yang menjadi hak dan kewajiban orang tua calon pengantin laki-laki, serta apa yang menjadi hak dan kewajiban orang tua calon pengantin wanita.

Hak Parboru (orang tua calon mempelai wanita); a) Sinamot/ Tuhor/ mahar

Namun dalam hal ini parboru tetap harus berbagi dengan tulang/ paman kandung calon pengantin laki-laki.

b) Panandaion

Sejumlah uang yang harus diberikan oleh orang tua calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon pengatin wanita di luar ketentuan mahar yang telah disepakati.

c) Pinggan panganan itu adalah peristilahan “piring untuk makan” (biasanya hanya satu diberi ke raja parhata maroppu-oppu)

d) Pinggan panukkunan

Ini merupakan satu piring yang berisi beras dan 4 (empat) lembar uang kertas. Biasanya yang digunakan adalah pecahan lembaran uang yang nominalnya Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah) atau Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) tergantung keadaan ekonomi pemilik pesta atau kerelaan “paranak” namun dengan nilai nominal yang sama ke-empat lembar uang dimaksud. Dari empat lembar uang kertas tersebut, maka 3 (tiga) lembar menjadi milik “parsinabung/ protokol calon mempelai wanita” dan didalam piring disisakan satu lembar serta diberikan kepada “parsinabung/ protokol calon mempelai laki-laki” serta diberi jawaban.

Hak Paranak (orang tua calon mempelai laki-laki); e) Ulos.

Untuk ulos harus ganjil, hal ini diambil dari falsapah adat Batak toba “dalihan na tolu” jadi ada ketentuan tertentu yaitu; harus ganjil. Jumlah yag biasa dipakai adalah 7 (tujuh), 11 (sebelas), 17 (tujuh belas). Untuk marga-marga tertentu ada ketentuan yang bersifat menyeluruh. Contoh: untuk marga Panjaita yang ada di Jakarta, jumlah ulos yang di pakai (baik jika sebagai pihak paranak maupun parboru adalah 7 (tujuh), sementara marga Sianturi untuk kepentingan yang sama adalah 11 (sebelas). Sesuai ketentuan dimaksud maka pihak parboru “orang tua calon mempelai wanita” harus menyiapkan jumlah dimaksud. Namun ada satu pengecualian, walau angka 9 (Sembilan), 13 (tiga belas), 15 (lima belas) adalah angka ganjil, namun untuk daerah Jakarta dan sekitarnya belum pernah menggunakan jumlah dimaksud untuk permintaan jumlah ulos pada pesta unjuk (pernikahan secara adat).

f) Ulos tinonun sadari

Yang arti harfiahnya adalah ulos yang ditenun selama satu hari. Ini adalah suatu peristilahan untuk sebutan “ulos yang diganti dengan uang”. Hal ini dilakukan mengingat keluarga besar laki-laki (paranak) tidak semua mendapatkan ulos, jadi diberilah pengganti ulos dalam bentuk uang.

g) Pinggan pangalusi

Ini merupakan kesinambungan dari pinggan panukkunan yang diberikan kepada keluarga parboru yang diwakili oleh “parsinabung/ protokol parboru” kemudian piring yang berisi beras dan uang yang disisakan 1 (satu) lembar diteruskan kepada

“parsinabung/ protokol paranak” dan selanjutnya uang yang tinggal 1 (satu) lembar itu adalah hak mereka.

h) Jumlah undangan

Hal ini berfungsi untuk menentukan jumlah konsumsi, jumlah tikar/ kursi atau besarnya tenda/ gedung yang harus disiapkan. Untuk jumlah undangan biasanya tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak. Apakah skala 50:50 atau 60:40, dst. (tergantung kesepakatan), namun umumnya posisi pesta dimana (diparanak atau diparboru) turut menentukan jumlah skala dimaksud.

i) Membicarakan langkah selanjutnya, jangka panjang atau jangka pendek. Jangka pendek yang paling dekat adalah acara “partuppolon.

j) Pembagian uang ingot-ingot

Acara martuppol diakhiri diakhiri dengan pembagian uang ingot-ingot. Bertujuan untuk mengingatkan kepada hadirin tentang hasil kesepakatan yang telah diperoleh waktu marhusip. Pembagian uang ingot-ingot biasanya dilakukan setelah parsinabung/ protocol membacakan hasil akhir hasil kesepakatan yang diperoleh pada saat marhusipMartuppol/ Pra nikah

Acara ini dilakukan di gereja (biasanya hanya dilakukan oleh masyarakat Batak Toba yang beribadah di gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) sedangkan yang beragama lain atau Kristen dengan tempat ibadah yang berbeda, misalnya Pantekosta, Katolik, dan demikian juga dengan agama Islam, Malim dan agama lain, dalam hal ini secara umum masyarakat Batak Toba menganut agama Kristen dengan spesifikasi HKBP.

Acara martuppol biasanya dimulai dengan ibadah di gereja (bisa digereja pihak perempuan atau di gereja pihak laki-laki, tergantung klasifikasi adat yang akan dilaksanakan dan juga tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Selesai acara ibadah dan martuppol di gereja, maka masing-masing pihak (paranak dan parboru) mengadakan acara yang berhubungan dengan rencana pelaksanaan pernikahan namun dengan konteks yang berbeda dan juga berada pada tempat yang berbeda yaitu:

a) Paranak

Megadakan acara “Martonggo Raja” ini merupakan simbolisasi member makan para “Raja-raja”, yaitu suatu rapat yang membahas dan membicarakan rencana pernikahan “mematangkan” dan acara ini juga dihadiri oleh dongan sahuta, namun untuk “tulang/ hula-hula orang tua” tidak diperkenankan hadir, karena pada acara ini mereka belum memiliki hak yang spesifik.

b) Parboru

Mengadakan acara “Marria Raja”, marria artinya; membuat kesepakatan, agar orang yang melaksanakan “marria” seia, sekata; satu ucapan dan satu pelaksanaan. Konteksnya sama dengan “martonggo raja” yaitu memberi makan juga para “Raja” dari pihak mereka/ parboru. Unsur-unsurnya tentu saja dengan posisi yang sama di pihak paranak. Pada waktu “Marria Raja” juga dibicarakan pembagian tugas, misalnya saja siapa yang akan mengurusi makanan, marsibuha-buhai apa yang harus dipersiapkan dan yang akan menyiapkannya dll.

2. Saat Pernikahan

Pesta pernikahan kita mulai dari pagi hari yaitu: i. Marsibuha- buhai

Arti harfiahnya adalah; bangun dipagi hari dan membangunkan semua unsur yang berhubungan dengan persiapan pelaksanaan pesta yang akan dilakukan.

Sejatinya acara “marsibuha-buhai” dilaksanakan di rumah atau kediaman parboru/ orang tua calon pengantin wanita dengan tujuan menjemput calon pengantin wanita dengan sopan.

Pada acara marsibuha-buhai yang umumnya dilaksanakan adalah;

a) Calon mempelai permisi dan pamit pada masing-masing orang tua dan juga kepada orang tua calon pasangan juga masing-masing.

b) Calon mempelai laki-laki memberi bunga tangan kepada calon pengantin wanita sebagai bukti kasih sayang, yang juga dibalas oleh calon mempelai wanita dengan member bunga saku kepada calon pengantin laki-laki.

c) Pengambilan gambar perdana dalam sebelum prosesi pernikahan, dll yang sifatnya bukan merupakan acara adat namun sudah umum dilaksanakan di wilayah Jakarta dan di tanah Batak sendiri.

ii. Pemberkatan pernikahan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. iii. Pelaksanaan pesta unjuk

Dalam hal ini, tentu disesuaikan dengan konsep awal waktu “marhusip”. Pesta unjuk itu sendiri ada 2 (dua) versi yaitu:

a) Alap jual b) Taruhon jual

Adapun perbedaan diantara keduanya adalah sbb; a) Alap jual

Maksudnya; yang mengadakan pesta adalah keluarga parboru/ orang tua calon pengantin wanita. Untuk acara ini, yang masuk ke lokasi pesta (baik gedung maupun halaman) lebih dahulu adalah; pengantin perempuan & pihak pengantin laki-laki sama-sama masuk ke pelaminan.

b) Taruhon jual

Yang mengadakan pesta adalah keluarga calon mempelai laki-laki. Nah dengan taruhon jual; pengantin perempuan & pihak pengantin laki-laki sama-sama masuk ke pelaminan, tapi pihak pengantin wanita keluar lagi untuk menyambut kedatangan paranak dan keluarga besarnya.

iv. Selajutnya adalah memanggil hula-hula dari parboru/ orang tua pengantin wanita (saudara laki-laki dari ibu) beserta robongannya. Hal ini juga tergantung pesta di tempat siapa. Tuan rumahlah yang lebih dahulu memanggil hula-hulanya. Kemudian baru dilanjutkan sebaliknya (hula-hula orang tua mempelai laki-laki).

v. Paranak menyampaikan tudu-tudu ni sipanganon (pinahan atau ternak ke keluarga parboru) dipotong sedemikian rupa dengan aturan yang telah jelas dan baku.

Tudu-tudu ni sipanganon menyiratkan; makanan yang disajikan mempunyai maksud tertentu dan dengan tujuan yang jelas untuk menghormati keluarga besar calon pengantin wanita.

Kemudian dilanjutkan dengan “parboru”/ orang tua calon mempelai wanita pasahat dekke/ ikan mas kepada orang tua calon mempelai laki-laki.

vi. Paranak orang tua mempelai laki-laki dan parboru orang tua mempelai wanita sama-sama marbagi jambar sesuai dengan yang disampaikan pada “tudu-tudu ni sipanganon”. Misalnya saja untuk keluarga paranak; berbagi dekke/ ikan mas yang disebut dengan” jambar ikkau mangan” (pembagian hidangan/ makanan). Pelaksanaannya ; ikan yang diberikan oleh keluarga mempelai wanita disodorka di piring dan dibagi secara langsung (dengan membawa piring berkeliling dan berbagi dari piring yang sama).

Hal ini menyimbolkan kalau pemilik pesta sangat menghormati tamu/ undangannya, dan tidak akan memakan sendiri hidangan yang dibawa oleh hula-hulanya dan hidangan dari orang tua mempelai wanita, dan sebaliknya. Hanya saja kalau keluarga mempelai wanita yang dibagi adalah daging yang berasal dari keluarga mempelai laki-laki.

vii. Papungu tuppak

Keluarga paranak/ mempelai laki-laki memanggil undangan dan handaitaulannya untuk datang memberi bantuan yang seiklasnya pada mereka atas pesta yang mereka selenggarakan. Bantuan bisa berupa uang atau barang atau kado/ gift, namun yang umum diberikan adalah uang yang tujuannya untuk membantu pelaksanaan pesta.

viii. Pengantin perempuan mengambil, uang ala kadarnya dari appang (wadah bantuan para hadirin yang datang ke pesta adat pernikahan). Hal ini mengisyaratkan bahwa keluarga yang baru terbentuk akan mandiri, dan wanita yang mengambil adalah mengisyaratkan bahwa keluarga yang baru terbentuk ini sudah memiliki system yang jelas dan si mempelai wanitalah yang akan memanagement keuangan mereka.

ix. Menjalankan pinggan panukkunan & pinggan pangalusi

Yaitu; piring yang digunakan untuk wadah atau sarana dalam bertanya dan menjawab pertanyaan tentang maksud dan tujuan semua acara yang telah dilaksanakan dan yang akan dilaksanakan. Pertama disampaikan dahulu ke keluarga parboru/ parsinabung dari orang pengantin wanita untuk kemudian diteruskan kepada parsinabung dari orang pengantin laki-laki.

x. Mardalan sinamot/ Paranak menyampaikan sinamot ke parboru

Umumnya “sinamot”/ tuhor/ mahar sebagian besar sudah disampaikan ketika marhusip, yang tujuannya agar bisa membantu segala rangkaian acara yang akan dilaksanakan sehubungan dengan rencana pelaksanaan yang telah dirancang jauh sebelumnya. Sediannya menurut adat Batak Toba yang sesungguhnya memang menyampaikan “sinamot” adalah pada saat pesta “unjuk” namun karena adat Batak Toba itu memang flexible dan ada unsur “si dapot soluk do na ro” yang arti harfiahnya adalah mausyawarah untuk mufakat. Maka dalam hal ini yang dilakukan adalah “manggohi”. Namun dalam hitungan tetap di hitung secara utuh sesuai kesepakatan waktu marhusip (walau sifatnya hanya simbolis). Hal ini mengisyaratkan kalau pihak pengatin laki-laki telah membayarnya secara lunas dan tuntas.

xi. Panandaion

Ini merupakan sejumlah uang yang telah disepakati yang harus diberikan oleh keluarga pengantin laki-laki pada keluarga pengantin perempuan.

Tentang jumlah tidak ditentukan, namun biasanya sudah dibahas waktu “marhusip” dan pada dasarnya tentang jumlah sudah tertera pada buku acara atau semacam proposal yang telah dibuat oleh kedua belah pihak. Jadi tentang hal ini sudah tidak ada tawar menawar tentang jumlah amplop dan besaran isi uang amplop. Secara harfiah artinya adalah sejumlah uang yang diberikan kepada keluarga parboru sebagai sarana dan simbolisasi untuk berkenalan secara adat dan secara resmi.

xii. Panandaion tu tulang/ Tit-tin marakkup

Tulang atau saudara ibu atau yang oleh Dalihan Na Tolu, disebut sebagai hula-hula, menduduki posisi tertinggi dalam adat Batak Toba, oleh karena itu panandaion khusus untuk tulang diberikan secara terpisah. Dalam hal ini juga sekaligus diberikan “tit-tin marakkup” yang kalau diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, kira-kira maknannya adalah “cin-cin yang merupakan pertanda kebersamaan”. Praktik pelaksanaannya adalah; paranak & parboru berjalan menghampiri tulangnya pengantin laki-laki yang intinya menyampaikan bahwa orang tua perempuan menyatakan bahwa pengantin wanita adalah boru/ anak perempuan mereka bersama yang artinya pengantin laki-laki menikahi paribannya (anak perempuan saudara laki-laki ibunya/ tulang).

xiii.Mangulosi hela

xiv.Orang tua pengantin wanita memberikan ulos hela kepada pengantin laki-laki beserta pengantin wanita, menandakan restu dari orang tua pengantin wanita terhadap pasangan dan rumah tangga yang baru terbentuk.

xv.Manjou horong ni hula-hula

Tentang ini juga cara masuknya tergantung pesta ditempat laki-laki atau perempuan. xvi.Olop-olop

Ini menyimbolkan kalau pesta inti pelaksanaan pernikahan secara adat Batak Toba telah selesai dan kedua belah pihak bersuka cita (paranak dan parboru) karena pesta telah usai dan mengucapkan terima kasih pada semua hadirin. Dalam praktik pelaksanaannya sama dengan uang ingot-ingot yang diberikan waktu “marhusip” dan diberikan oleh kedua belah pihak (paranak & parboru) kemudian saling bertukar kedua belah pihak untuk kemudian dibagi-bagi pada hadirin yang masih ada ditempat pelaksanaan pesta pernikahan yang oleh sebagian orang disebut dengan uang “pangusir rongit” atau uang untuk menyenangkan hati hadirin yang telah setia mengikuti acara pesta yang berlangsung seharian.

3. Sesudah pernikahan

i. Paulak Une

Sejatinya acara ini dilakukan kurang lebih 1 (satu) minggu setelah pesta adat dilakukan dengan tata cara sbb;

Orang tua mempelai laki-laki datang berkunjung beserta sanak saudara yang terdekat (kurang lebih 10 Kepala keluarga) beserta pasangan pengantin yang baru melaksanakan pesta pernikahan, untuk mengatarkan pengantin wanita ke rumah orang tuanya, tentu karena rindu karena di hari sebelumnya dia ada di rumah orang tuannya. Ketentuan umum yang dilakukan ketika paulak une:

a) Orang tua pengantin laki-laki datang dengan membawa daging babi atau kambing (sesuai dengan agama dan kepercayaan pihak penyelenggara) kira-kira beratnya 20 s.d. 25 kg. Lengkap dengan na margoar/ potongan-potongan khusus yang punya aturan yang baku, beserta nasi ala kadarnya dan sedikit minuman tuak (aren) atau bir (untuk zaman sekarang)

b) Orang tua mempelai wanita mengundang keluarga dekat, (kalau memungkinkan Dalihan Na Tolu) dan beberapa orang warga sekampung dengan jumlah keseluruhan 10 s.d. 15 Kepala keluarga.

c) Orang tua mempelai wanita menyiapkan ikan mas yang telah dimasak sedemikian rupa (diarsik), sebagai “tudu-tudu/ ikan khusus untuk membalas “namargoar” dari pihak keluarga pengantin laki-laki, yaitu berupa ikan mas 3 (tiga) ekor dengan berat keseluruhan kira-kira 5 (lima) kg.

d) Orang tua mempelai wanita juga menyiapkan ikan mas yang telah diarsik sebanyak 5 (lima) ekor untuk diisi ke panci atau tempat “paranak” meletakkan daging yang mereka bawa sebagai “bekal”yang akan mereka bawa pulang ke kediaman keluarga mempelai laki-laki.

e) Setelah selesai acara makan bersama, “marbagi jambar” dan rentetan adat yang relevan, yaitu; (i) Parboru bertanya jawab dengan paranak, kira-kira apa gerangan

maksud dari kedatangan paranak dengan membawa makanan lengkap dengan “namargoar” (ii) paranak menjawab bahwa mereka ingin berkunjung “mebat” serta minta doa kepada keluarga parboru dst. Dalam hal ini acara dimulai dengan do’a dari paranak dan ditutup dengan do’a dari parboru. Paranak pulang kekediamannya dengan dibekali ikan mas (arsik), namun pasangan pengantin masih tinggal bersama orang tua mempelai wanita selama kurang lebih 7 hari (satu minggu) untuk pengantin wanita melepaskan rindu pada orang tua dan keluarganya.

ii. Maningkir tangga

Dilakukan oleh orang tua mempelai wanita yang arti harfiahnya adalah melihat kehidupan pengantin baru dengan kehidupan yang baru di kampung orang tua pengantin laki-laki. Pada tahap ini hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut;

a) Parboru (orang tua mempelai wanita) datang dengan robongan yang terdiri dari; dongan tubu/ saudara atau yang pihak laki-laki semarga dengan ayah, boru/ yang istrinya semarga dengan ayah, pariban/ keluarga ibu kakak beradik, dan dongan sahuta/ perwakilan teman sekampung yang keseluruhan kurang lebih 10 (sepuluh) Kepala keluarga.

b) Parboru datang dengan membawa “tudu-tudu” ni si panganon, berupa ikan mas yang telah matang “diarsik 5 (lima ekor) atau kira-kira 7 (tujuh) kg, sedikit nasi dan beras di tandok (tempat menyimpan beras) yang dianyam terbuat dari pohon pandan dan untuk belakangan ini ada juga yang dianyam tetapi terbuat dari bahan plastik dan diberi manik-manik sehingga kelihatan lebih indah.

c) Parboru juga datang sekaligus mengantarkan borunya/ pengantin wanita, pulang ke rumah mertuanya/ orang tua pengantin laki-laki. Parboru juga membekali borunya/ pengantin wanita dengan “hombung”/ yaitu peti yang terbuat dari kayu yang didalamnya terdapat emas dan uang sebagai bekal untuk memulai hidup baru di rumah mertuanya. Untuk saat ini “hombung” sudah jarang atau hampir tidak pernah terlihat, jadi lebih kepada istilah dalam adat.

d) Paranak menyiapkan hidangan (dari daging babi kurang lebih 15 s.d.20 kg beratnya, atau kambing lengkap dengan “namargoar/ potongan-potongan khusus untuk bagian-bagian tertentu) untuk menyambut hula-hulanya/ orang tua mempelai wanita.

e) Paranak juga mengundang; dongan tubu/teman satu marga, dongan sahuta/ perwakilan warga satu kampung, boru/ saudara perempuan ayah, bere/keponakan dan pariban/ saudara perempuan istri, kesemuannya itu adalah orang yang telah menikah, karena dalam adat Batak Toba hanya orang yang sudah beradat dan diadatkan (telah menikah secara adat) yang berhak menjalankan adat.

f) Marbagi jambar

Jambar dalam bahasa Batak sama dengan bagian. Dalam adat Batak Toba “marbagi jambar” artinya membagi-bagikan makanan sesuai dengan fungsi dan sasarannya masing-masing, dan tiap posisi mutlak mendapatkan bagiannya sesuai dengan aturan yang telah jelas.

iii. Paranak mangampu

Menyampaikan ucapan terima kasih kepada parboru (orang tua mempelai wanita) dan kepada hadirin atas kehadirannya dalam acara yang dimaksud, sehingga acara adat bisa

Dokumen terkait