• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transpuan Dan Media: Pergulatan Klasik Pasar dan Ideologi

Dalam dokumen Daftar Isi. Page 1 of 56 (Halaman 34-37)

III.2. Situasi Transpuan Dalam Bingkai Sosial Budaya Indonesia

3.2.4. Transpuan Dan Media: Pergulatan Klasik Pasar dan Ideologi

Keberadaan media sebagai alat untuk menyampaikan pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi dan internet51 tidak bisa dilepaskan dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap kelompok transpuan di Indonesia. Dalam hal pemberitaan masih banyak media yang tidak menggunakan kode etik jurnalistik dan perspektif hak asasi manusia. Sehingga banyak berita yang sarat dengan stigma dan fokus pada hal-hal yang lebih sensasional saja serta mengaitkan tindakan mereka dengan SOGIESC-nya. Hal ini disampaikan oleh narasumber dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Endah Lismartini yang menekankan banyak pemberitaan yang lebih mengeksplorasi ranah privat seseorang. “Dalam hal transpuan misalnya, lebih menitikberatkan pada sensasionalnya saja. Misalnya terkait operasi kelamin.” Jelas Lismartini lebih lanjut.

Bentuk pemberitaan seperti yang disampaikan oleh Lismartini diatas tidak dapat dilepaskan dari perspektif para penggiat media terhadap kelompok LGBTI. Para penggiat media sebagai bagian dari masyarakat secara umum menggunakan pandangan-pandangan yang dianut di masyarakat seperti yang telah dibahas sebelumnya. Narasumber dari Kompas.com, Kristian Erdiantoro, menyatakan bahwa di kalangan jurnalis masih banyak yang seksis dan cenderung mendiskreditkan kelompok LGBTI. “Mungkin karena masyarakat memandang LGBT sebagai “kesalahan”, entah itu kesalahan menurut agama.” Meski mengakui bahwa juga ada beberapa media yang memiliki perspektif yang cukup baik terkait Hak Asasi Manusia dan juga isu LGBTI, namun Erdiantoro mengungkapkan jika hal tersebut lebih cenderung didorong oleh perspektif pribadi jurnalis. Bahkan narasumber dari Tirto.id pun mengakui jika di kalangan redaktur masih banyak yang belum baik perspektifnya untuk HAM maupun isu LGBTI. “Yang sangat (baik

51

Page

34

of

56

pemahaman) human rights banyak tapi minim perspektif gender.” Demikian jelas Aulia Adam dari Tirto.id. Tim konsultan pun ketika akan mewawancara salah seorang redaktur di Harian Kompas juga mendengar kendala seperti ini. Salah seorang redakturnya mengungkapkan masih sangat awam dengan isu LGBTI. Dengan demikian dapat dipastikan kecenderungan media untuk memberitakan kelompok LGBTI pun masih banyak didorong oleh trend isu dan peristiwa.

Pemberitaan yang sarat dengan stigma terhadap transpuan ini semakin menguat sejak 4 tahun terakhir sejak tahun 2015 Qanun jinayat di aceh dan semakin menguat pada tahun 2016 yang disebut kelompok LGBTI sebagai masa crack down ketika terjadi beberapa serangkaian peristiwa yang berkenaan terkait LGBTI. Mulai dari pelegalan pernikahan homoseksual di Amerika, kasus SGRC UI hingga kasus-kasus lain lagi. Sejak itu terminologi LGBTI menjadi booming di Indonesia. Booming-nya terminologi ini berdampak pada pergesaran posisi terminologi waria menjadi LGBTI. Pergeseran peran penghibur menjadi penyimpangan memberikan dampak bagi kelompok transpuan itu sendiri. Media mainstream, media alternative hingga media sosial beramai-ramai menyampaikan opini yang sangat menstigma bagi kelompok transpuan. Yofanda Arif, narasumber dari Remotivi mengatakan ketika pada saat yang sama masuk frame LGBT, di saat yang sama juga terjadi peningkatan kelompok Islam yang sangat anti LGBT. “Akhirnya berdampak pada framing transpuan sebagai kelompok yang menakutkan.”

Menurut catatan entografi yang ditulis oleh Hegarty52 mengatakan bahwa pada decade 1950-1960 kelompok waria khususnya yang berdandan feminin mendapatkan stigma dan kekerasan. Bahkan sebelum Orde Baru, kelompok waria menghadapi tekanan besar yang harus turut pada standar gender dan maskulinitas modern yang didefinisikan secara nasional. Hal ini menunjukan bahwa yang menjadi persoalan bukan terletak pada terminologi waria, wadam, transpuan ataupun LGBTI. Tetapi bagaimana terminologi yang dilekatkan kepada kelompok ini dikonstruksikan menjadi terminologi yang menakutkan lalu diberitakan oleh media secara massif dan ditangkap oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran. “Sedihnya itu di situ, di sisi lain esensi LGBTI orang tahu tapi di sisi lain berujung pada tindakan represif. Bagaimana media men-framing isu LGBTI dan tindakan persekusi yang dilakukan oleh Negara akhirnya melegitimasi masyarakat melakukan hal yang sama.” Jelas Vinaa, narasumber dari Sanggar Swara. Bentuk relasi media dan masyarakat bukanlah relasi yang dilihat satu arah tetapi relasi yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pada satu sisi, media dapat membentuk pandangan masyarakat sedangkan disisi lain, masyarakat dapat membentuk opini media dalam memberitakan fenomena dan fakta sosial. Relasi ini sangat erat hubungannya dengan persoalan bisnis media.

Media sebagai institusi bisnis juga melihat peluang pasar untuk meningkatkan keuntungan. Beberapa media mainstream mengambil target pasar kelompok mayoritas agama Islam untuk meraup keuntungan. Seperti yang sudah dibahas diatas bagaimana Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia berperan penting dalam membentuk pandangan masyarakat terkait transpuan. Hal ini berdampak pada

framing pemberitaan terhadap kelompok transpuan yang sangat diskriminatif, stigma dan tidak cover both sides. Hal ini sejalan dengan pernyataan salah satu narasumber dari salah satu media Islam di

52

Artikel ini ditulis oleh Benjamin Hegarty dalam Transgender Studies Quarterly dengan Vol.5, 2018 diterbitkan oleh Duke University Press dengan judul berjudul Under the Lights, Onto the Stage Becoming Waria through National Glamour in New Order Indonesia.

Page

35

of

56

Indonesia. Ia menyatakan bahwa pemilihan target pasar utamanya merupakan strategi bisnis. “Segmen pembaca media kami umumnya menolak LGBT, sehingga akhirnya media kami pun dalam pemberitaan jelas menolak LGBT.”

Persoalan bisnis media dan transpuan tidak memulu menghasilkan pemberitaan yang diskriminatif. Ada juga media yang tetap mempertimbangkan aspek bisnis tetapi memberitakan transpuan dengan perspektif Hak Asasi Manusia. Hal ini dikarenakan situasi masyarakat atau pembaca sudah sudah mulai terbuka dengan isu Hak Asasi Manusia. Hal ini diakui oleh narasumber Kompas.com dan juga tirto.id. Mereka menilai justru ada trend belakangan di mana pembaca semakin memiliki perspektif yang baik dan juga kritis. “Secara benefit dan bisnis bagus.” Jelas Adam Aulia, narasumber dari Tirto. Saat ini setidaknya media seperti Tirto, Tempo dan Kompas dinilai sudah memiliki perspektif yang baik terhadap pemberitaan kelompok LGBTI. Demikian juga perwakilan media asing seperti BBC dan CNN di Indonesia, sejauh pengamatan tim konsultan, media-media ini juga punya perspektif yang baik dalam pemberitaan terkait kelompok LGBTI.

Secara komposisi kelompok masyarakat yang mendukung transpuan belum sebanding dengan kelompok yang menolak. Persepsi ini memang belum pernah diuji secara kuantitatif. Tetapi paling tidak situasi ini dapat dilihat dari postingan terkait transpuan yang tersebar di sosial media. Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan paling tidak ada tiga alasan utama yang muncul mengapa dominasi narasi negative masih lebih dominan di media sosial. Alasan pertama adalah karena jumlah pendukung masih jauh tertinggal dari yang menyerang. Kedua adalah efektivitas bahasa kampanye yang digunakan para pendukung transpuan ataupun kelompok LGBTI tidak tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Sedangkan alasan ketiga adalah kelompok yang mendukung banyak memilih diam (silent majority) sedangkan kelompok yang menolak terus bersuara secara massif di sosial media. Tiga alasan ini dikemukan oleh beberapa narasumber dari media.

Pemberitaan terhadap kelompok transpuan terus diproduksi oleh media secara massif di Indonesia baik oleh industri media maupun masyarakat melalui media sosial. Pemberitaan yang bervariasi mulai dari yang menstigma hingga yang mendukung. Meskipun fakta yang terjadi bahwa narasi yang stigma masih lebih dominan. Situasi ini menunjukan bahwa isu transpuan masih menjadi konsumsi publik yang dibutuhkan untuk menjalankan dan melancarkan kepentingan individu, masyarakat, politik, hingga ekonomi dan bisnis. Kelompok ini dibutuhkan tetapi tidak diinginkan keberadaanya di Indonesia.

Page

36

of

56

Dalam dokumen Daftar Isi. Page 1 of 56 (Halaman 34-37)

Dokumen terkait