• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tren di Pasar Uni Eropa

Dalam dokumen Peluang Pasar Penganan Manis di Spanyol (Halaman 34-38)

III. PELUANG PASAR BAHAN BAKU UNTUK INDUSTRI PENGANAN MANIS DI SPANYOL

3.2 Tren dan Segmen

3.2.1 Tren di Pasar Uni Eropa

Memposisikan gula sebagai bahan makanan yang sehat sulit untuk dilakukan

Konsumen Uni Eropa lebih dari sadar akan pentingnya nutrisi yang sehat. Mereka semakin banyak mengadopsi gaya hidup sehat dan mencari makanan yang sehat. Sayangnya bagi producen gula, banyak spesialis kesehatan menganggap gula tidak sehat. Gula telah dihubungkan dengan banyak masalah kesehatan, terutama obesitas. Walaupun demikian, permintaan untuk gula tetap kuat. Tren kesehatan hanya memberikan dorongan bagi pasar alternatif untuk pemanis yang lebih sehat.

Peluang untuk memposisikan gula kelapa sebagai bahan makanan yang sehat tergolong terbatas. Kekhawatiran konsumen mengenai kesehatan bahan pemanis terutama berhubungan dengan nilai kalori dan gula kelapa memiliki kandungan kalori yang tinggi. Manfaat kesehatan dari gula kelapa, dibandingkan dengan jenis-jenis gula lainnya, adalah

Glycemic Index (GI)-nya yang rendah dan kandungan mineralnya yang tinggi. Riset

mengindikasikan bahwa makanan dengan GI rendah dapat membantu mencegah diabetes sehingga menawarkan alternatif yang lebih sehat dibandingkan dengan makanan dengan GI yang tinggi.

ITPC BARCELONA [Peluang Pasar Penganan Manis di Spanyol 2013] 32 Akan tetapi, hanya sekelompok kecil konsumen (terutama terdiri dari penderita diabetes) yang peduli akan GI. Informasi mengenai makanan diabetes akan dibahas lebih lanjut pada bagian di bawah ini. Kandungan mineral yang lebih tinggi pada gula kelapa lebih menarik bagi konsumen secara umum yang memiliki ketertarikan terhadap manfaat-manfaat kesehatan.

Kandungan mineral dalam gula kelapa (mg/1-ppm, kering)

Sumber: CBI (2012)

Manfaat dari permintaan untuk bahan-bahan alami

Berdasarkan daftar inventoris produk-produk baru di supermarket Eropa, terlihat jelas bahwa konsumen Eropa mencari produk-produk alami. Saat ini ‘alami’ sedang menjadi tren. Shelley Balanko dari Hartman Group, sebuah perusahaan riset ethnografi, mengatakan bahwa berdasarkan perspektif konsumen, ‘alami’ adalah simbolis – mereka mencari ‘alami’ yang ideal ynag berarti bahwa makanan dan minuman yang mereka beli sehat, utuh, nyata, dan diproses secara minimal.

Skandal makan yang terjadi baru-baru ini dan riset makanan kritis telah berujung pada citra negatif dari bahan makanan yang dimanufaktur secara sintetis. Konsumen lebih menyukai produk-produk asli. Dalam hal ini, gula kelapa memenuhi tren alami. Proses produksi dari gula kelapa tergolong pendek dan sederhana.

Promosikan gula kelapa sebagai produk alami untuk membedakannya dari gula putih konvensional dan pemanis buatan. Perlu dicatat bahwa hal ini saja tidak cukup untuk dapat memenangkan persaingan dengan gula palem yang lebih murah, yang juga alami. Terlebih

ITPC BARCELONA [Peluang Pasar Penganan Manis di Spanyol 2013] 33 lagi, gula kelapa akan menghadapi kompetisi dari stevia, yaitu ekstrak tumbuhan yang baru-baru ini mendapatkan akses ke pasar Uni Eropa dan dirancang untuk meraih pangsa yang signifikan dari pasar pemanis alami.

Membawa pihak ketiga untuk sertifikasi produksi organik

Kepedulian konsumen akan kesehatan, keamanan makanan, dan lingkungan telah menstimulasi permintaan untuk produk-produk organik. Untuk beberapa tahun, penjualan produk orgnaik Uni Eropa telah tumbuh pada tingkat 10-15%. Bahkan pada saat crisis ekonomi global, penjualan produk-produk organik tetap kuat.

Pasar untuk makanan organik yang paling mapan berada di negara-negara Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, dan Skandinavia (Norwegia, Swedia, dan Denmark). Jerman adalah pasar Uni Eropa terbesar untuk makanan organik, mengambil bagian hampir sepertiga fari nilai penjualan total di Uni Eropa. Denmark, dengan 7,2% dari total pasar makanan pada tahun 2010, menunjukkan pangsa tertinggi untuk penjualan organik (FiBL, 2012). Negara-negara Eropa Selatan dan Timur menyediakan peluang pertumbuhan, walaupun penjualan masih terbilang kecil, terutama di Eropa Timur.

“Konsumen beranggapan bahwa gula organik itu berwarna cokelat”, ungkap Stegmann dari Care Natur, perusahaan importir penting untuk makanan organik di Jerman. Konsekuensinya, terdapat pangsa yang relatif besar untuk permintaan atas gula organik yang terdiri dari gula tebu mentah. Gula kelapa juga dapat mengambil keuntungan dari persepsi konsumen ini.

Sebagai tambahan untuk sertifikasi organik, eksportir gula kelapa dari Indonesia juga dapat merespon permintaan Uni Eropa akan produk-produk sustainable dengan cara mengurangi konsumsi energi selama pengolahan dan dengan mengurangi sampah. Eksportir dapat melaporkan langkah-langkah ini dalam promosi mereka.

Fairtrade

Untuk dapat memperoleh keuntungan dari semakin berkembangnya minat konsumen akan perdagangan etis, produsen Indonesia perlu memperoleh sertifikasi Fairtrade untuk sistem produksi mereka.

Pada tahun 2010, pasar Uni Eropa untuk produk-produk bersertifikasi Fairtrade meningkat lagi sebesar 29%. Konsumsi Uni Eropa untuk produk-produk Fairtrade berjumlah € 2,7 miliar. Inggris Raya merupakan pemimpin di pasar Fairtrade, bertanggung jawab untuk 49% dari

ITPC BARCELONA [Peluang Pasar Penganan Manis di Spanyol 2013] 34 penjualan Uni Eropa. Tingkat pertumbuhan tertinggi terdaftar di pasar-pasar Eropa Timur: Republik Ceko (+386%), Latvia (+177%), Lithuania (+138%), dan Estonia (+105%). Pertumbuhan absolut di pasar-pasar ini sebenarnya kecil, karena Fairtrade baru akhir-akhir ini diperkenalkan di negara-negara tersebut.

Gula adalah kategori produk terbesar ketiga di pasar Fairtrade. Pada tahun 2010, pasar global untuk gula tebu Fairtrade meningkat sebesar 41% sehingga mencapai 127 ribu ton. Skala yang besar dari pasar gula Fairtrade terutama merupakan hasil dari langkah strategis yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan gula Inggris. Pada tahun 2008, Tate & Lyle memutuskan untuk menjual semua gula mereka di bawah label Fairtrade.

Sertifikasi Fairtrade terutama relevan di segmen psar konvensional daripada di pasar makanan fungsional (contoh: makanan diabetes). Di pasar konvensional, pembedaan dari produk-produk substitusi, dengan cara mengaplikasikan label Fairtrade, menawarkan posisi kompetitif bagi pemasok. Pada saat ini, Fiartrade International belum memiliki standar untuk gula kelapa. Maka dari itu, eksportir perlu meminta standar yang baru kepada

Standards Unit sebelum produk-produk mereka dapat disertifikasi. Formulirnya dapat

diunduh di sini: www.fairtrade.net/setting_the_standards.html.

Perkembangan teknologi terus mengancam gula kelapa

Dalam usaha untuk menemukan pemanis yang lebih murah, mudah, dan sehat, pemanufaktur makanan mengembangkan banyak proses untuk mensintesakan pemanis buatan, seperti aspartam dan sucralose. Perusahaan CJ Toyota Tsu Sho Philippines juga mengembangkan pemanis buatan semacam ini (xylose coco sugar), yang terbuat dari batok kelapa. Maka dari itu, banyak pemanis buatan lebih murah dan mudah untuk digunakan. Terlebih lagi, pemanis buatan menawarkan beberapa manfaat kesehatan yang berkaitan dengan manajemen berat badan, perawatan gigi, dan diabetes.

Walaupun banyak pemanis buatan memiliki manfaat kesehatan, pada saat ini pemanufaktur makanan memformulakan kembali banyak produk mereka untuk menggantikan pemanis buatan. Semakin banyaknya permintaan untuk produk-produk alami mendorong pemanis buatan ke posisi yang kurang menguntungkan.

Sayangnya, pemanufaktur makanan tidak dapat menggunakan gula kelapa sebagai substitusi untuk pemanis buatan untuk berbagai produk mereka. Karakteristik dari konsistensi, rasa, dan pengolahan gula kelapa sangat jauh berbeda dari pemanis buatan, ditambah lagi perbedaan-perbedaan dalam hal manfaat kesehatan.

ITPC BARCELONA [Peluang Pasar Penganan Manis di Spanyol 2013] 35 Industri makanan Uni Eropa merespon permintaan untuk pemanis alami dan persyaratan untuk pemanufaktur makanan dengan cara mengembangkan teknologi untuk produksi pemanis buatan seperti stevia. Pemanufaktur makanan terus memperbaiki teknologi ekstraksi menggunakan air dan etanol.

Para produsen yang terorganisir

Pembeli Uni Eropa semakin banyak mencantumkan konsistensi kualitas dalam persyaratan mereka. Sampel produk tidak cukup untuk menunjukkan kemampuan perusahaan pemasok untuk memasok gula kelapa berkualitas seragam dalam jumlah besar. Maka dari tu, pembeli Uni Eropa semakin membutuhkan informasi mengenai manajemen kualitas. Sertifikasi, contohnya yang menunjukkan ketaatan perusahaan terhadap HACCP, dapat menjadi alat untuk meyakinkan pembeli akan kemampuan perusahaan untuk memberikan konsistensi kualitas.

Pembentukan organisasi produsen (OP) memfasilitasi manajemen kualitas. OP dapat menerapkan standardisasi dan penyeragaman sistem produksi untuk menjamin konsistensi dari pasokan kelompok ini dalam hal kualitas dan kuantitas. Perbaikan semacam ini juga akan memperkuat daya tawar eksportir Indonesia dalam negosiasi dengan pembeli dari Uni Eropa.

Merek

Di pasar Uni Eropa, pencitraan merek individual untuk gula kelapa tidak menawarkan peluang untuk memberikan nilai tambah yang signifikan. Gula kelapa telah dianggap sebagai produk yang eksotis dan unik karena ketersediaannya yang terbatas di pasar Uni Eropa. Maka dari itu, merek sebagai alat pembeda produk tidak dapat diterapkan. Dalam hal ini, merek perusahaan adalah yang paling sesuai bagi eksportir gula kelapa. Merek perusahaan dapat meyakinkan pembeli Uni Eropa akan keandalan pemasok.

Dalam dokumen Peluang Pasar Penganan Manis di Spanyol (Halaman 34-38)

Dokumen terkait