BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.4 Trending Topic Twitter dalam Menentukan Agenda Pemberitaan di
Kompas TV
Fenomena masifnya penggunaan media sosial oleh publik, disadari atau tidak, ikut berimbas pada proses pemberitaan di media massa. Kini terjadi perubahan cara orang mendapatkan informasi, sebagaimana pemahaman yang diungkapkan manajer pemberitaan Kompas TV, Alexander Wibisono. Menurutnya, informasi kini tidak selalu didapat dari televisi. Anak-anak muda atau generasi ke depan mungkin akan lebih banyak mendapatkan informasi melalui Twitter, YouTube, dan sebagainya. Dalam beberapa kasus publik bahkan menghasilkan, memproduksi dan mendistribusikan informasi itu sendiri. Alex memberikan pandangannya demikian:
“Media massa kini tidak selalu bersaing dengan sesama media massa, tapi kompetitor sesungguhnya adalah publik, melalui jurnalisme warga, melalui Twitter itu sendiri. Ketika ada isu atau terjadi suatu peristiwa, pihak-pihak terkait atau mereka yang tertarik akan peristiwa itu bisa langsung mengirim
Informasi atau berita pada media massa tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Ada proses dan perencanaan yang dilakukan untuk menentukan layak atau tidaknya informasi dimuat oleh media sebagai berita. Sekalipun ada isu atau informasi yang tiba-tiba muncul dan beredar ramai di media sosial, misalnya, belum tentu membuatnya layak dan seketika dimunculkan sebagai agenda pemberitaan oleh media massa.
Untuk membahas bagaimana trending topic Twitter menentukan agenda pemberitaan di Kompas TV, peneliti mencoba mengkaji dengan menggunakan teori agenda setting, yang pertama kali dicetuskan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw (1972). Teori agenda setting didasari oleh asumsi bahwa media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi agenda media kepada agenda publik atau masyarakat, menunjukkan kepada publik isu-isu yang penting; apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi publik.
Managing Editor detikhot, Ismujiarso, dalam blog-nya berpendapat soal pergeseran peran agenda setting komunikasi massa. Menurutnya, peran dan pengaruh dari media massa sebenarnya masih ada, dan boleh dibilang tetap besar, namun, dalam batas dan kasus tertentu peran itu sudah bergeser, terbagi dengan
blog dan situs-situs jejaring sosial di internet. Tidak hanya agenda media yang selalu memiliki pengaruh terhadap agenda publik, tetapi sebaliknya, agenda publik, melalui media sosial, kini mampu mempengaruhi agenda media,
menentukan agenda pemberitaan di media massa.79 Bersumber pada informasi tersebut serta melihat fakta dan hasil observasi langsung di lapangan, penulis kemudian menemukan bahwa teori agenda setting ini ternyata juga berlaku secara resiprokal atau timbal balik.
Manajer pemberitaan Kompas TV, Alexander Wibisono, membahas lebih lanjut soal penentuan agenda media di Kompas TV. Menurutnya, jenis informasi atau berita yang dipilih Kompas TV adalah yang benar-benar perlu diketahui oleh masyarakat. Informasi dengan nilai-nilai berita seperti audience, impact, kedekatan (proximity), kemasyhuran (prominence), konflik, seperti yang dirinci Brian S. Brook (2007), termasuk yang menjadi kriteria suatu informasi atau berita untuk tayang di Kompas TV. Namun, yang lebih penting dan menarik bagi Kompas TV adalah human interest, yakni isu atau informasi yang melibatkan kepentingan publik. Ketika sebuah peristiwa terjadi dan berkaitan dengan kepentingan manusia, itu pasti memiliki nilai berita. Alex menjelaskan sebagai berikut:
“Ada banyak berita, tapi untuk menentukan prioritas itu ada alat ukurnya. Untuk Kompas, editorial yang paling penting adalah humanis, human interest. Kita bercerita bukan fokus hanya kepada isu atau peristiwanya, tetapi kita lebih penting fokus kepada manusianya, cerita tentang manusia. Itu yang disebut humanis. Jadi ketika ada berita tawuran, berita apa, oke peristiwanya kita liput, tetapi setelah itu apa yang terjadi dengan manusianya? Itu yang beda dari Kompas.”
Penentuan agenda media atau pemberitaan di setiap media massa pada dasarnya tidak dapat terlepas dari keberadaan tim redaksi. Bagian redaksi atau yang di Kompas TV lebih dikenal dengan newsroom merupakan pusat atau inti
79
dalam sebuah media massa yang mengurusi kegiatan pemberitaan; berbagai hal yang terkait dengan bidang redaksional seperti kebijakan redaksi, editing, dan penayangan berita. Redaksi news Kompas TV dipimpin oleh seorang pemimpin redaksi, yang dalam menjalankan kerjanya dibantu oleh anggota tim redaksi lain seperti produser eksekutif, produser, koordinator liputan, editor, periset, tim multimedia, dan sebagainya. Bagian redaksi bekerja sama, menunjang satu sama lain, untuk dapat menjalankan tugas dengan tetap berpegang pada visi misi serta idealisme dan independensi sebuah media massa. Susunan redaksi news Kompas TV dapat dilihat pada Gambar 4.8 berikut:
Gambar 4.8
Redaksi News Kompas TV (Sumber: Hasil Penelitian)
Pemimpin Redaksi
Wakil Pemimpin Redaksi
Manajer Pemberitaan Produser Eksekutif Produser Asisten Produser Koordinator Liputan (Nasional/Daerah) - Editor - Periset - Multimedia - Grafis - Reporter
- Juru Kamera, Video Journalist
- Kontributor, koresponden
Proses pembuatan berita biasanya dimulai dari rapat redaksi; rapat proyeksi dan rapat evaluasi. Rapat proyeksi dilakukan sebelum wartawan mencari berita. Rapat proyeksi merupakan rapat perencanaan di mana redaksi membahas isu atau topik yang kemungkinan bisa diliput; menentukan narasumber, angle, deadline, tim liputan, serta arah redaksional dan editorial yang diinginkan. Agenda media di Kompas TV ditentukan lewat rapat proyeksi ini. Sedangkan rapat evaluasi di Kompas TV dilakukan pada malam hari, setelah program berita tayang. Rapat ini membahas evaluasi komponen kerja dari para jurnalis selama satu hari itu. Evaluasi tersebut di antaranya juga melaporkan kekurangan kinerja jurnalis sampai mencari solusi bersama agar kekurangan tadi nantinya tidak terjadi lagi. Di akhir rapat, tim redaksi kemudian membahas materi berita apa yang akan ditayangkan untuk esok hari.
Rapat redaksi di Kompas TV diadakan pada pukul 09:00. 14:00, dan 18:30 WIB. Rapat tiga kali dalam sehari tersebut dilakukan karena Kompas TV memiliki program berita reguler yang tiap harinya ditayangkan, yakni Kompas Pagi, Sapa Indonesia (Pagi-Siang), Kompas Siang, Kompas Petang, dan Kompas Malam. Rapat redaksi ini biasanya dihadiri oleh pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, penanggung jawab liputan, produser eksekutif, koordinator liputan, periset, tim multimedia, dan seorang juru tulis. Namun, khusus untuk rapat evaluasi yang dilakukan pada malam hari biasanya diikuti hampir dari keseluruhan tim, termasuk reporter hingga juru kamera yang bertugas di hari itu.
Rapat redaksi menurut key informan, Herlan Primasto, dapat diibaratkan sebagai dapur, tempat di mana bahan-bahan atau informasi-informasi itu diolah
sebelum nantinya disajikan sebagai berita. Rapat redaksi menjadi rumusan pasti dan penting bagi setiap media massa dalam merencanakan dan menentukan berita yang ingin diliput untuk kemudian ditayangkan.
Sedangkan proses produksi berita di Kompas TV sendiri terbagi menjadi dua tahap, yakni peliputan berita (news gathering) dan pengolahan berita (news processing). Langkah pertama adalah proses pembuatan berita mentah (raw news) menjadi sebuah item berita atau salinan berita (news copy). Langkah kedua terjadi ketika pengolah berita memodifikasi dan menyatukan item atau bagian-bagian menjadi produk yang lengkap, yaitu siaran berita.
Gambar 4.9
Penjabaran Model Arus Berita (Sumber: McQuail & Windahl, 1985:159)80
80
Denis Mcquail & Sven Windahl. Communication Models for the Study of Mass
.Communications, 2nd Edition. Singapore: Longman. 1996. Hal 185
Pengolah Berita Listing peristiwa Peristiwa Pengumpul Berita Reporter Juru kamera Video Journalist Kontributor, koresponden Copy Berita Produser Eksekutif Produser Editor Berita yang telah jadi
Kompas TV memiliki beberapa cara dalam memperoleh informasi atau berita. Sumber berita melalui paper trail, people trail, dan electronic trail, sebagaimana yang diklasifikasikan Errol Jonathan (Haris Sumadiria, 2006:98), berlaku pula dalam proses pencarian berita di Kompas TV. Pertama, yakni berdasarkan peristiwa yang sedang terjadi; agenda presiden maupun agenda pemerintahan seperti dari agenda yang sudah diatur oleh beberapa kementerian resmi, misalnya. Kompas TV punya kontributor atau koresponden yang akan menghubungi ketika ada peristiwa terjadi. Ada pula reporter yang bertugas langsung di lapangan mencari informasi mengenai suatu kejadian kemudian menyampaikannya ke tim redaksi untuk diedit dan dikembangkan. Cara yang kedua melalui internet, yaitu dengan mengamati perkembangan yang terjadi di media online dan media sosial. Media sosial Twitter dilirik sebagai salah satu sumber yang potensial bagi Kompas TV. Proses jurnalistik, termasuk peliputan dan produksi berita masih tetap sama, hanya saja caranya kini sedikit diperlengkap, yaitu dengan memanfaatkan keberadaan new media, media sosial, yang terus dimonitor dan menjadi salah satu sumber informasi bagi Kompas TV dalam menentukan agenda pemberitaannya.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Maverick bekerja sama dengan Departemen Komunikasi Universitas Paramadina,81 salah satunya membahas soal penggunaan media sosial oleh jurnalis Indonesia pada umumnya. Beberapa di antaranya yaitu menemukan ide untuk penulisan berita, menemukan data untuk
81
Maverick Indonesia. 47% of Indonesian Journalists are Active Contributors in Social Media – Technographics Survey Report 2013, 23 Mei 2013.
http://maverick.co.id/47-of-indonesian-journalists-are-active-contributors-in-social-media- technographics-survey-report-2013/ diakses pada 9 September 2015 pukul 13.00 WIB
penulisan berita, memverifikasi data, memantau perkembangan isu, dan mengetahui pandangan publik (tokoh, publik figur, atau pemimpin) terkait isu-isu tertentu. Sedangkan Eddyono dalam jurnalnya, "Twitter: Kawan, Sekaligus Lawan bagi Redaksi Media", memerincikan peran Twitter dalam ruang redaksi, di antaranya sebagai sumber informasi atau berita, sebagai media sosialisasi sekaligus melihat respons publik dan mengukur tren serta untuk memantau atau mengamati dinamika isu selama proses peliputan (gathering informasi) dan sebelum berita siap naik atau tayang.82 Ditunjukkan bahwa Twitter selalu ada di berbagai proses pemberitaan, mulai dari awal informasi hingga penayangan.
Kenyataan tersebut ditemukan penulis selama menjalani job training di Kompas TV. Lewat pengamatan secara langsung, penulis melihat bagaimana proses kerja tim redaksi dalam memproduksi berita. Berkenaan dengan peran Twitter di tengah redaksi Kompas TV, sebagai salah satu sumber informasi atau ide penulisan berita, Twitter kerap diakses oleh jurnalis baik yang berada di luar redaksi maupun yang berada di dalam ruang redaksi. Penulis sering mendapati anggota tim redaksi, khususnya tim multimedia, berseru seraya memberi kabar kepada anggota redaksi news lainnya perihal kejadian yang tiba-tiba terjadi dan langsung menjadi topik hangat di Twitter. Pada beberapa kasus, misalnya ada pelapor yang mengunggah informasi atau berita ke media sosial lalu menautkannya (mention) lewat akun resmi Kompas TV; admin menerima informasi dan memverifikasi kebenaran laporan tersebut, sebelum akhirnya dibawa ke rapat redaksi dan disetujui layak atau tidaknya diangkat menjadi sebuah
82
berita. Twitter dalam hal ini membantu kerja redaksi dengan kemampuannya memberi akses cepat kepada saksi. Selain itu, dalam setiap rapat redaksi, tim multimedia juga selalu diminta untuk mempresentasikan lima topik unggulan yang paling banyak diperbincangkan; trending topics di media online maupun media sosial, khususnya Twitter, sebagaimana yang dikutip dari hasil wawancara dengan manajer pemberitaan Kompas TV, Alexander Wibisono, demikian:
“Media sosial ini terus kita pantau, bahkan setiap rapat redaksi pasti desk
multimedia itu kita minta mempresentasikan lima topik yang paling hot
yang paling banyak dibicarakan, trending topics hari itu. Bisa jadi kita akan ambil itu sebagai agenda kita atau kita punya agenda, tapi Twitter, media sosial, itu menjadi semacam pembanding atau semacam ukuran bahwa yang kita lagi dorong ini ternyata responsnya juga cukup ramai di media sosial.” Kemudian pada saat proses penyuntingan dan pengerjaan, penulis juga kerap melihat bagaimana produser meminta tim periset untuk memeriksa keakuratan informasi, menelusuri serta mencari data pendukung melalui informasi yang beredar di Twitter. Pada penayangannya, biasanya informasi yang bersumber dari media sosial ini sengaja dimunculkan di tengah-tengah berita headline untuk dijadikan sebagai data pendukung, namun khusus untuk program berita Sapa Indonesia memang terdapat segmen tersendiri yang menayangkan pemberitaan populer dari media online maupun media sosial: trending topics di media online, Twitter, Google trend, maupun video viral yang berasal dari YouTube.83
Sebagai media sosialisasi dan publikasi, Twitter juga dimanfaatkan oleh Kompas TV untuk berinteraksi dan berbagi informasi dengan publik. Tim multimedia Kompas TV sesekali ikut melempar pertanyaan melalui tweet dengan menggunakan tagar tertentu untuk mengetahui pendapat dan respons publik
83
(tokoh, publik figur, atau pemimpin) terkait suatu isu. Itulah sebabnya periset dan multimedia Kompas TV seringkali dianjurkan untuk mengikuti (follow) beberapa akun khusus untuk memantau sejumlah figur atau tokoh ternama berdasarkan ketertarikan maupun kepentingan mereka terhadap suatu isu atau peristiwa yang terjadi. Dalam hal ini, Twitter juga digunakan sebagai pengingat bagi pengikut akun bahwa media yang bersangkutan telah memperbarui atau meng-update
berita. Perincian tersebut kurang lebihnya dapat diilustrasikan pada Gambar 4.10 berikut:
Gambar 4.10
Alur Pemberitaan di Kompas TV dengan adanya New Media
(Sumber: Hasil Penelitian) News conference
listing peristiwa:
peristiwa yang terjadi di lapangan, isu atau
trending topics di media
online dan media sosial
Tim Multimedia
Ideas/raw news: media
online, trending topics, status atau tweet
seseorang di media sosial
Play decisions
News processing editing dan proses
redaksional
Berita yang telah jadi
Tim Multimedia
Periset Kompas TV, Gita Paramitha, berbicara soal isu yang beredar di media sosial. Selain nilai-nilai berita seperti faktual dan human interest, menurut Gita, ada beberapa kecenderungan lain yang mendukung berita dari media sosial nantinya akan diangkat menjadi berita atau tidak oleh Kompas TV. Pertama, mengenai rating, apakah berita tersebut menyedot perhatian masyarakat atau tidak. Kedua, mengenai manfaat atau kegunaan dari berita tersebut. Ketiga, berita itu harus menghibur, menarik secara entertainment. Pernyataan Gita tersebut berkenaan dengan dimensi-dimensi agenda media: visibilitas, audience salience, dan valensi, sebagaimana yang dikutip oleh Apriadi Tamburaka dalam bukunya,
Agenda Setting Media Massa.84 Visibilitas merupakan jumlah atau tingkat menonjolnya berita, peristiwa apa yang tengah ramai diperbincangkan dan terjadi berdasarkan realita; audience salience merupakan tingkat kepentingan berita bagi khalayak, relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak; sedangkan valensi berarti menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
Tidak semua agenda publik di Twitter, apa yang ramai diperbincangkan di Twitter, otomatis menjadi agenda pemberitaan di Kompas TV. Apalagi melihat
trending topics Twitter yang kini semakin mengawur dan tidak jelas, termasuk kemungkinan munculnya akun-akun robot yang menggerakkan atau mengarahkan publik terhadap isu-isu tertentu. Di saat seperti itulah Kompas TV akan kembali merujuk kepada ideologi serta visi misi yang dianutnya. Pada dasarnya, ideologi Kompas TV yang tegas, terarah, dan menumbuhkan harapan, selaras dengan
84
ideologi pendiri terdahulunya, harian Kompas, yakni "Amanat Hati Nurani Rakyat". Ideologi ini juga sejalan dengan apa yang diisyaratkan oleh UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Informan, Alexander Wibisono, mengaitkan ideologi tersebut dengan peranan media seharusnya. Menurutnya, media harus hadir untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat; edukatif, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan harus dalam posisi independen. Independen ini yang menentukan objektivitas media dalam pemberitaannya. Bagi Kompas TV, selama itu berdasarkan fakta dan memiliki nilai berita, terutama yang berhubungan dengan kepentingan publik, pasti akan terus diperbarui dan dijadikan referensi. Alex menambahkan penjelasannya dengan memberi pandangan sebagai berikut:
“Pada dasarnya kita tidak mencari sensasi, Kompas TV yang paling penting adalah substansi. Media sosial atau Twitter itu kita jadikan satu sebagai informasi awal. Ketika ada yang ramai diperbincangkan di media sosial, di Twitter, kita harus terlebih dulu melakukan disiplin verifikasi. Intinya kita harus cek. Kita tidak bisa gunakan itu secara serta merta tanpa ada ada pengecekan. Kemudian sumbernya harus jelas, karena kan media sosial, Twitter, kebanyakan sumbernya anonim dan ngaco namanya. Nah, itu harus kita cek. Di situ peran kita. Kalau fakta sudah ada ya kita angkat fenomena di Twitter-nya. Tapi, ya itu, cek terlebih dulu. Disiplin verifikasi harus dilakukan. Setelah itu baru bisa tayang di layar Kompas TV dan dijadikan sebagai agenda pemberitaan di Kompas TV.”
Media sosial akan selalu bergantung pada media mainstream, begitu pun sebaliknya, media mainstream, juga tidak bisa lepas dari peran media sosial di dalamnya. Jurnalisme kini punya tuntutan lebih. Breaking news, unsur siapa, apa, di mana, dan kapan, kini banyak datang dari publik melalui media sosial seperti Facebook, Twitter. Sudah menjadi tugas media massa untuk memberi nilai tambah pada berita, menambahkan analisis politik atau musibah. Tantangan bagi
jurnalis adalah verifikasi fakta berita. Itu kendala terbesarnya. Tetap harus memegang prinsip mendasar untuk selalu memverifikasi fakta.85
Selama wawancara, Alex berkali-kali menegaskan soal konfirmasi atau disiplin verifikasi yang menjadi prinsip dasar bagi setiap media massa sebagai lembaga yang bertanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik. Menurutnya, media massa saat ini menjadi konfirmator dari semua isu atau informasi yang beredar. Isu di media sosial belum bisa disebut berita, selama tidak ada proses redaksional atau konfirmasi dari media massa. Media sosial ke depannya akan semakin membantu, selama orang mau kritis untuk memverifikasi informasi yang beredar di media sosial.
85
Kutipan pernyataan jurnalis Al Jazeera Inggris, Steve Chao, dalam tayangan Kompas Petang, 7 Juli 2015, https://www.youtube.com/watch?v=ny5zvlp6Mkw diakses pada 2 Februari 2016 pukul 10:02 WIB
89