• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Triangulasi Data Penelitian

Triangulasi data wawancara antara guru matematika dan siswa di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3

Pertanyaan Data Hasil Wawancara Guru Matematika

Data Hasil Wawancara Siswa I dan Siswa II 1. Apakah pendidikan

karakter itu?

“Pendidikan karakter itu

adalah suatu usaha yang sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik agar kelak mampu mengembangkan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup

S1 : “Pendidikan

karakter mungkin adalah pendidikan yang mengutamakan

karakter-karakter baik”.

S2 : “Pendidikan

karakter adalah pendidikan yang ada

bangsa Indonesia, agama, sosial budaya, dan nilai-nilai yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan

nasional”.

karakter-karakternya misalnya budi pekerti

yang baik gitu”.

2. Apakah nilai-nilai yang ada dalam pendidikan

karakter?

“Macam-macam mbak

1) agama, agama itukan penting tidak hanya dari pendidikan sekolah tetapi juga penting dari rumah, keluarga terutama orangtua. Yang kedua, pancasila, pancasila sendiri kan merupakan prinsip dari kehidupan kebangsaan dan Negara kita. Yang ketiga, budaya. Budaya kita kalau bisa kan harus sesuai dengan apa yang tertanam. Selain itu juga

harus sesuai

kemanusiaan. Optimis, sikap optimis sangat penting agar dia mencapai apa yang dicita-citakan hingga kelak menjadi peserta didik yang dapat menerapkan dan

S1 : “Misalnya jujur,

baik kepada guru dan orang tua, tidak menyontek, disiplin, ya seperti itulah menurut

saya kak”.

S2 : “Karakter yang baik

itu ya patuh pada guru, tidak membolos, tidak mencontek, dan tidak

mengembangkan tidak hanya dilingkungan sekolah tetapi juga dikehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara”. 3. Nilai-nilai karakter apakah yang ditunjukkan guru dalam proses pembelajaran matematika?

“Dalam Matematika ya?

Menurut saya selama ini macam-macam yang pastinya agama, disiplin, masuk tepat waktu, baris berbaris, kemudian mengerjakan PR di rumah, termasuk disiplin, jujur, misalnya dia itu belajar dulu dirumah dengan cara membaca kemudian pantang menyerah, rasa ingin tahu tinggi terutama dalam pelajaran. Saya sebagai guru juga sangat ingin anak-anak memiliki karakter pejuang, ketika dia merasa sulit mereka harus berusaha secara maksimal atau dengan kata lain karakter yang saya tanamkan adalah

sikap pantang

S1 : “Iya kak, misalnya

guru selalu datang tepat waktu ke kelas enggak

pernah telat”.

S2 : “Sudah, karena bu

guru selalu mengajarkan kita untuk tidak

menyerah”.

4. Bagaimana respon dan aktivitas siswa pada saat kegiatan belajar mengajar?

“Respon siswa sangat

baik, hal ini terlihat dari antusias mereka untuk mengerjakan soal-soal

yang saya berikan”.

S1 : “Menyenangkan,

walaupun kadang siswa yang duduk di belakang

ramai sendiri kak”.

S2 : “Ya biasa saja sama

dengan pembelajaran pada pelajaran lainnya”.

5. Bagaimana suasana pembelajaran di kelas yang menerapkan pendidikan karakter? “Suasananya lebih menyenangkan, pembelajaran tidak bosan, siswa lebih aktif, tekun, rasa ingin tahu yang tinggi, demokrasi, saling bekerja sama, dan rasa tanggung jawab

yang tinggi”.

S1 : “Sebelumnya kan

guru pasti menjelaskan materi dengan ceramah, abis itu biasanya kita mengerjakan soal-soal dengan kelompok terus sebelum pelajaran

berakhir di kasih PR”.

S2 : “Ceramah, tugas, dan berkelompok”.

6. Metode apa yang dipakai oleh guru untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa?

“Paling pertama

ceramah, tanya jawab,

dan latihan”

S1 : Karena saya merasa pelajaran Matematika susah jadi dengan adanya kerja kelompok sangat membantu sekali. Teman-teman dalam kelompok saya biasanya mengajari saya jika saya tidak bisa mengerjakan soal. Jadi, kami saling bekerjasama”.

S2 : “Biasanya kalau

sudah dibentuk kelompok oleh guru,

kami saling

bekerjasama, diskusi untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan nanti hasilnya bisa kita presentasikan di depan

kelas”.

Berdasarkan data hasil wawancara antara guru matematika dan siswa I serta siswa II dapat ditarik kesimpulan bahwa data hasil wawancara tersebut valid. Peneliti dapat menyimpulkan hasil triangulasi wawancara tersebut valid dengan membandingkan hasil kedua data wawancara dari sumber yang berbeda dan dilaksanakan pada waktu yang berbeda sehingga mengarah pada hasil atau jawaban-jawaban yang konsisten (peneliti mengajukan pertanyaan yang sama kepada dua sumber yang berbeda dan jawaban dari masing-masing sumber saling berkaitan).

Triangulasi data wawancara antara Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4

Pertanyaan

Data Hasil Wawancara Kepala

Sekolah

Data Hasil Wawancara Wakil Kepala Sekolah 1. Apa tujuan program

pendidikan karakter ini?

“Tujuannya adalah

untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur, sehingga

“Mengubah pola siswa

sekarang ke yang lebih baik atau meluruskan ke hal-hal yang positif”.

siswa dapat berperilaku yang terpuji dan sesuai dengan norma-norma yang ada”. 2. Bagaimanakah persiapan dalam melaksanakan pendidikan karakter?

“Ya, kita persiapkan

jauh-jauh hari misalnnya dengan membuat silabus yang didalamnya sudah ada nilai-nilai karakter kemudian membuat RPP baru persiapan mengajar oleh para

guru”.

“Yang perlu

dipersiapkan oleh guru dalam pendidikan karakter yaitu membuat silabus (didalamnya harus ada nilai-nilai karakter) dan membuat RPP (memasukkan lagi nilai-nilai karakter tersebut)”. 3. Apakah yang menjadi kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pendidikan karakter? “Pendidikan karakter ditanamkan melalui setiap mata pelajaran meskipun menurut saya tidak cukup hanya disisipkan saja tapi perlu waktu tersendiri sehingga penanaman dan pengembangan karakter siswa bisa

terfokuskan”.

“Pelaksanaannya

berjalan lancar tanpa

adanya kendala”.

4. Apa saja yang dievaluasi dalam pembelajaran yang menerapkan

pendidikan karakter?

”Evaluasi pasti ada,

misalnya sejauh mana siswa dapat menyerap apa yang diterangkan, melaksanakan, dan

“Belum ada kisi-kisinya. Untuk mengevaluasi pendidikan karakter kita hanya bisa melihat hasilnya misalnya siswa

menjadikan sebagai kebiasaan. Kita dapat melihat pendidikan karakter berhasil tidaknya kan bisa lewat pengamatan terhadap perilaku anak apakah sudah ada nilai

karakternya belum”.

tidak mencontek, siswa memiliki rasa tanggung jawab, sportivitas, dan lain-lain dalam

kesehariannya”.

5. Bagaimana cara mengevaluasinya?

“Evaluasi dilakukan

setiap saat, jika anak menunjukkan karakter yang baik maka dapat dinilai anak tersebut dapat menyerap nilai-nilai karakter yang diberikan oleh guru atau sebaliknya. Sedangkan untuk monitoring dilakukan setiap bulan sesuai

kebutuhan”.

“Tergantung pada

kebutuhan, bisa dilakukan evaluasi setiap sebulan sekali, bisa juga lebih, tergantung pada

kebutuhan siswa”

Berdasarkan data hasil wawancara antara Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah dapat ditarik kesimpulan bahwa data hasil wawancara tersebut valid. Peneliti dapat menyimpulkan hasil triangulasi wawancara tersebut valid dengan membandingkan hasil kedua data wawancara dari sumber yang berbeda dan dilaksanakan pada waktu yang berbeda sehingga mengarah pada hasil atau jawaban-jawaban yang konsisten (peneliti mengajukan pertanyaan yang sama

kepada dua sumber yang berbeda dan jawaban dari masing-masing sumber saling berkaitan).