ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Pemodelan Balok Tinggi
4.2.3. Truss Model-3
Truss model strut-and-tie ketiga yang digunakan adalah rekomendasi dari Zhi-Qi-He, 2012. Model rangka batang dapat dilihat pada Gambar 4.9. Untuk Model-3 ini, perhitungan dikaji dari satu sisi Truss model saja dikarenakan Truss model simetris dan gaya-gaya yang bekerja adalah sama pada bagian Truss tertentu sehingga dilakukan asumsi bahwa strut dan tie berikut memiliki hasil desain lebar yang sama yaitu elemen 1-2 dengan elemen 6-8, elemen 2-3 dengan elemen 7-8, elemen 1-3 dengan elemen 6-7, elemen 3-4 dengan elemen 5-7, dan elemen 2-4 dengan elemen 5-8.
Gambar 4.9: Geometri Truss Model-3
Pada model-3, perhitungan yang tidak dimuat dalam SNI 2847:2019 disesuaikan dengan ketentuan ACI 318-19. Gaya-gaya batang yang bekerja dihitung menggunakan bantuan program SAP2000. Hasil dari perhitungan gaya dalam model strut-and-tie dapat dilihat pada Lampiran 1. Nilai-nilai gaya dalam dari model tersebut disimpulkan dalam bentuk Tabel yang disajikan pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9: Gaya-gaya Rangka Batang Dalam Truss Model-3 Batang Jenis Gaya Gaya (kN)
F12 Tekan 500.007
F13 Tekan 1513.479
F23 Tarik 1428.443
F24 Tekan 1513.482
F34 Tekan 500.006
F45 Tekan 1428.569
F16 Tarik 1428.589
Gaya batang kemudian dihitung untuk menentukan lebar strut, tie, dan keamanan terhadap zona nodal sesuai dengan cara pengerjaan SNI 2847-2019.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 2 pada bagian model-3. Hasil lebar strut dan tie yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Untuk strut, dikaji masing-masing dua arah sehingga diperoleh lebar pada nodal yang berbeda.
Tabel 4.10: Hasil Perhitungan Lebar Strut dan Tie pada Truss Model-3
Batang Tipe Lebar (w) (mm)
Setelah memperoleh lebar masing-masing strut dan tie, harus dicek keamanan pada daerah nodal. Hasil perhitungan ini dapat dilihat pada lampiran 2.
Setelah memastikan lebar yang dipakai aman untuk kekuatan daerah nodal, kemudian desain penulangan pada daerah tie. Hasil penulangan pada daerah tie pada model-1 diaplikasikan ke daerah tarik utama yaitu pada elemen tie 1-6 yaitu menggunakan 2 baris 7D22. Sedangkan pada elemen tie 2-3 didesain penulangan baru berupa penulangan yang sejajar arah tie yaitu dari perhitungan diperoleh setiap sisi digunakan 9D19. Hasil penulangan juga harus dicek jarak bersihnya yaitu harus memenuhi syarat minimum 25 mm.
Desain penulangan badan vertikal dan horizontal pada model-3 didasari oleh penggunaan rumus sesuai dengan SNI 2847:2019. Hasil perhitungan untuk penulangan badan vertikal dan horizontal diperoleh yaitu sama-sama menggunakan besi ∅16 dengan jarak 125 mm dikedua sisi badan balok tinggi.
Setelah mendesain penulangan, maka perlu dicari kembali force ratio akibat desain penulangan pada strut dan tie. Force ratio merupakan perbandingan antara gaya yang terjadi dengan kapasitas strut atau tie. Tabel 4.11 menunjukkan hasil perhitungan secara manual efisiensi yang diperoleh pada setiap strut dan tie.
Karena pada strut dikaji masing-masing muka strutnya, maka diperoleh dua buah efisiensi yang berbeda akibat penggunaan lebar strut yang berbeda pula pada masing-masing muka strut. Hasil efisiensi yang kecil diperoleh akibat penggunaan lebar strut atau tie yang terlalu besar sehingga kapasitasnya menjadi besar.
Tabel 4.11: Hasil Efisiensi Tiap Strut dan Tie untuk Truss Model-3
Batang Tipe Efisiensi (%)
Hasil perhitungan manual seperti lebar strut, tie, zona nodal, dan tipe strut, tie, zona nodal dimasukkan ke dalam analisis menggunakan CAST. Hasil analisis melalui CAST dapat dilihat pada Gambar 4.10. Dari Gambar 4.10 dapat dilihat efisiensi tegangan yang terjadi pada strut dan tie. Pada Gambar 4.10 dapat dilihat bahwa ada dua hasil analisis, dimana masing-masing gambar mewakili penggunaan muka strut terkecil dan terbesar. Hasil analisis yang menggunakan strut terbesar menunjukkan efisiensi yang lebih kecil. Hasil resume analisis dapat dilihat pada Tabel 4.12. Pada CAST, lebar strut dan tie tidak bisa dibuat berbeda besarnya pada masing-masing muka sehingga digunakan lebar strut atau tie yang paling kecil.
Gambar hasil akhir desain dapat dilihat pada Gambar 4.11. Pada daerah tie 1-6 terlihat bahwa efisiensinya mendekati 1, hal ini berarti penggunaan tulangan utama seperti pada model-1 yakni 2 baris 7D22 adalah efisien. Karena nilai efisiensinya mendekati 1, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tulangan utama yang sama
dengan model-1 efektif digunakan pada Truss model-3. Dapat dilihat bahwa pada beberapa muka strut, perbandingan efisiensinya cukup jauh, hal ini dikarenakan pada bagian plate dipilih lebar yang paling besar yaitu dari kontrol terhadap lb.
Gambar 4.10: Hasil Analisis Menggunakan CAST untuk Truss Model-3 Tabel 4.12: Hasil Perbandingan Efisiensi pada Truss Model-3 Antara Perhitungan
Manual dan CAST Elemen
Batang Tipe Efisiensi (%)
Model-3 CAST
1-6 Tie 89.479 87.9
2-3 Tie 93.298 93.2
1-2 Strut 29.049 79.2
2-1 Strut 79.225 79.2
3-4 Strut 79.225 79.2
4-3 Strut 29.049 79.2
4-5 Strut 99.595 99.6
5-4 Strut 99.595 99.6
1-3 Strut 66.951 79.9
3-1 Strut 79.936 79.9
2-4 Strut 71.681 78.5
4-2 Strut 78.508 78.5
Gambar 4.11: Hasil Desain Penulangan Balok Tinggi Truss Model-3 4.2.4. Truss Model-4
Truss model strut-and-tie keempat yang digunakan adalah rekomendasi dari Agus Sugianto, 2019. Model rangka batang dapat dilihat pada Gambar 4.12.
Untuk Model-4 ini, perhitungan dikaji dari satu sisi truss model saja dikarenakan truss model simetris dan gaya-gaya yang bekerja adalah sama pada bagian truss tertentu sehingga dilakukan asumsi bahwa strut dan tie berikut memiliki hasil desain lebar yang sama yaitu elemen 1-2 dengan elemen 6-8, elemen 1-3 dengan elemen 8-7, elemen 2-3 dengan elemen 6-7, elemen 2-4 dengan elemen 5-6, dan elemen 3-4 dengan elemen 5-6.
Gambar 4.12: Geometri Truss Model-4
Pada Truss model-4, perhitungan manual mengacu kepada SNI 2847:2019.
Gaya-gaya batang yang bekerja dihitung menggunakan bantuan program SAP2000.
Hasil dari perhitungan gaya dalam model strut-and-tie dapat dilihat pada Lampiran 1. Nilai-nilai gaya dalam dari model tersebut disimpulkan dalam bentuk Tabel yang disajikan pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13. Gaya-gaya Rangka Batang Dalam Truss Model-4 Batang Jenis Gaya Gaya (kN)
F12 Tarik 999.993
F13 Tekan 1414.205
F23 Tarik 559.011
F24 Tekan 530.93
F34 Tekan 1346.287
F45 Tekan 1428.567
F26 Tarik 1428.567
Gaya batang kemudian dihitung untuk menentukan lebar strut, tie, dan keamanan terhadap zona nodal sesuai dengan cara pengerjaan SNI 2847-2019.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 2 pada bagian model-4. Hasil lebar strut dan tie yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.14.
Untuk strut, dikaji masing-masing dua arah sehingga diperoleh lebar pada nodal yang berbeda.
Tabel 4.14. Hasil Perhitungan Lebar Strut dan Tie pada Truss Model-4
Setelah memperoleh lebar masing-masing strut dan tie, harus dicek keamanan pada daerah nodal. Hasil perhitungan ini dapat dilihat pada lampiran 2.
Setelah memastikan lebar yang dipakai aman untuk kekuatan daerah nodal, kemudian desain penulangan pada daerah tie. Hasil penulangan pada daerah tie pada model-1 diaplikasikan ke daerah tarik utama yaitu pada elemen tie 1-2 dan 2-6 yaitu menggunakan 2 baris 7D22. Sedangkan pada elemen tie 2-3 didesain penulangan baru berupa penulangan yang sejajar arah tie yaitu dari perhitungan diperoleh setiap sisi digunakan 4D19. Hasil penulangan juga harus dicek jarak bersihnya yaitu harus memenuhi syarat minimum 25 mm.
Desain penulangan badan vertikal dan horizontal pada model-4 didasari oleh penggunaan rumus sesuai dengan SNI 2847:2019. Hasil perhitungan untuk penulangan badan vertikal dan horizontal diperoleh yaitu sama-sama menggunakan besi ∅16 dengan jarak 125 mm dikedua sisi badan balok tinggi.
Setelah mendesain penulangan, maka perlu dicari kembali force ratio akibat desain penulangan pada strut dan tie. Force ratio merupakan perbandingan antara gaya yang terjadi dengan kapasitas strut atau tie. Tabel 4.15 menunjukkan hasil perhitungan secara manual efisiensi yang diperoleh pada setiap strut dan tie.
Karena pada strut dikaji masing-masing muka strutnya, maka diperoleh dua buah efisiensi yang berbeda akibat penggunaan lebar strut yang berbeda pula pada masing-masing muka strut. Hasil efisiensi yang kecil diperoleh akibat penggunaan lebar strut atau tie yang terlalu besar sehingga kapasitasnya menjadi besar.
Tabel 4.15. Hasil Efisiensi Tiap Strut dan Tie untuk Truss Model-4
Hasil perhitungan manual seperti lebar strut, tie, zona nodal, dan tipe strut, tie, zona nodal dimasukkan ke dalam analisis menggunakan CAST. Hasil analisis melalui CAST dapat dilihat pada Gambar 4.13. Dari Gambar 4.13 dapat dilihat efisiensi tegangan yang terjadi pada strut dan tie. Pada Gambar 4.13 dapat dilihat bahwa ada dua hasil analisis, dimana masing-masing gambar mewakili penggunaan muka strut terkecil dan terbesar. Hasil analisis yang menggunakan strut terbesar menunjukkan efisiensi yang lebih kecil. Hasil resume analisis dapat dilihat pada Tabel 4.16.
Pada CAST, lebar strut dan tie tidak bisa dibuat berbeda besarnya pada masing-masing muka sehingga digunakan lebar strut atau tie yang paling kecil.
Gambar hasil penulangan akhir desain dapat dilihat pada Gambar 4.8. Pada daerah tie 1-2 terlihat bahwa efisiensinya kecil, hal ini berarti penggunaan tulangan utama seperti pada model-1 yakni 2 baris 7D22 adalah tidak efisien, meskipun begitu dengan adanya efisiensi yang nilainya dibawah 1, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tulangan utama yang sama dengan model-1 efektif digunakan pada Truss model-4. Dapat dilihat bahwa pada beberapa muka strut, perbandingan efisiensinya cukup jauh, hal ini dikarenakan pada bagian plate dipilih lebar yang paling besar yaitu dari kontrol terhadap lb.
Gambar 4.13: Hasil Analisis Menggunakan CAST untuk Truss Model-4 Tabel 4.16. Hasil Perbandingan Efisiensi pada Truss Model-4 Menggunakan
Perhitungan Manual dan CAST Elemen
Batang Tipe Efisiensi (%)
Model-4 CAST
1-2 Tie 62.634 61.5
2-3 Tie 82.151 82
2-6 Tie 89.478 87.9
1-3 Strut 58.687 68.1
3-1 Strut 68.090 68.1
2-4 Strut 32.583 32.6
4-2 Strut 25.146 32.6
3-4 Strut 66.284 66.3
4-3 Strut 51.458 66.3
4-5 Strut 99.595 99.6
5-4 Strut 99.595 99.6
Gambar 4.14: Hasil Desain Balok Tinggi Model-4 4.2.5. Truss Model-5
Truss model strut-and-tie kelima yang digunakan adalah rekomendasi dari Hong Kuok dan Adolfo (2003). Pada model rangka ini diasumsikan pada daerah aliran tegangan akan diberi penulangan vertikal dan horizontal. Model rangka batang dapat dilihat pada Gambar 4.15. Model-5 ini, perhitungan dikaji dari satu sisi Truss model saja dikarenakan Truss model simetris dan gaya-gaya yang bekerja adalah sama pada bagian Truss tertentu sehingga dilakukan asumsi bahwa strut dan tie berikut memiliki hasil desain lebar yang sama yaitu elemen 1-2 dengan 11-12, elemen 1-3 dengan elemen 8-12, elemen 1-4 dengan elemen 12-7, elemen 1-6 dengan elemen 10-12, elemen 2-5 dengan elemen 11-7, elemen 2-6 dengan elemen 11-10, elemen 5-6 dengan elemen 7-10, dan elemen 4-5 dengan elemen 7-9.
Gambar 4.15: Geometri Truss Model-5
Pada truss model-5, perhitungan yang tidak termuat dalam SNI 2847-2019 disesuaikan dengan ketentuan ACI 318-19. Gaya-gaya batang yang bekerja dihitung menggunakan bantuan program SAP2000. Hasil dari perhitungan gaya dalam model strut-and-tie dapat dilihat pada Lampiran 1. Nilai-nilai gaya dalam dari model tersebut disimpulkan dalam bentuk Tabel yang disajikan pada Tabel 4.17.
Tabel 4.17. Gaya-gaya Rangka Batang Dalam Model-5 Batang Jenis Gaya Gaya (kN)
F12 Tekan 151.603 keamanan terhadap zona nodal sesuai dengan cara pengerjaan SNI 2847-2019.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 2 pada bagian model-5. Hasil perhitungan lebar strut dan tie yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.18. Untuk strut, dikaji masing-masing dua arah sehingga diperoleh lebar pada nodal yang berbeda.
Tabel 4.18. Hasil Perhitungan Lebar Strut dan Tie pada Truss Model-5
Setelah memperoleh lebar masing-masing strut dan tie, harus dicek keamanan pada daerah nodal. Hasil perhitungan ini dapat dilihat pada lampiran 2.
Setelah memastikan lebar yang dipakai aman untuk kekuatan daerah nodal, kemudian desain penulangan pada daerah tie. Hasil penulangan pada daerah tie pada model-1 diaplikasikan ke daerah tarik utama yaitu pada elemen tie 1-3 dan 3-8 yaitu menggunakan 2 baris 7D22. Sedangkan pada elemen tie 2-6 dan 3-4 didesain penulangan baru berupa penulangan yang sejajar arah tie yaitu dari perhitungan diperoleh masing-masing setiap sisi berturut-turut digunakan 3D19 dan 5D19.
Hasil penulangan juga harus dicek jarak bersihnya yaitu harus memenuhi syarat minimum 25 mm.
Desain penulangan badan vertikal dan horizontal pada model-5 didasari oleh penggunaan rumus sesuai dengan SNI 2847:2019. Hasil perhitungan untuk
penulangan badan vertikal dan horizontal diperoleh yaitu sama-sama menggunakan besi ∅16 dengan jarak 125 mm dikedua sisi badan balok tinggi.
Setelah mendesain penulangan, maka perlu dicari kembali force ratio akibat desain penulangan pada strut dan tie. Force ratio merupakan perbandingan antara gaya yang terjadi dengan kapasitas strut atau tie. Tabel 4.19 menunjukkan hasil perhitungan secara manual efisiensi yang diperoleh pada setiap strut dan tie.
Karena pada strut dikaji masing-masing muka strutnya, maka diperoleh dua buah efisiensi yang berbeda akibat penggunaan lebar strut yang berbeda pula pada masing-masing muka strut. Hasil efisiensi yang kecil diperoleh akibat penggunaan lebar strut atau tie yang terlalu besar sehingga kapasitasnya menjadi besar.
Tabel 4.19. Hasil Efisiensi Tiap Strut dan Tie untuk Truss Model-5
Batang Tipe Efisiensi (%)
Hasil perhitungan manual seperti lebar strut, tie, zona nodal, dan tipe strut, tie, zona nodal dimasukkan ke dalam analisis menggunakan CAST. Hasil analisis melalui CAST dapat dilihat pada Gambar 4.16. Dari Gambar 4.16 dapat dilihat efisiensi tegangan yang terjadi pada strut dan tie. Pada Gambar 4.16 dapat dilihat bahwa ada dua hasil analisis, dimana masing-masing gambar mewakili penggunaan
muka strut terkecil dan terbesar. Hasil analisis yang menggunakan strut terbesar menunjukkan efisiensi yang lebih kecil. Hasil resume analisis dapat dilihat pada Tabel 4.20.
Pada CAST, lebar strut dan tie tidak bisa dibuat berbeda besarnya pada masing-masing muka sehingga digunakan lebar strut atau tie yang paling kecil.
Gambar hasil penulangan akhir desain dapat dilihat pada Gambar 4.17. Pada daerah tie 1-3 terlihat bahwa efisiensinya kecil, hal ini berarti penggunaan tulangan utama seperti pada model-1 yakni 2 baris 7D22 adalah tidak efisien, meskipun begitu dengan adanya efisiensi yang nilainya dibawah 1, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tulangan utama yang sama dengan model-1 efektif digunakan pada Truss model-5. Dapat dilihat bahwa pada beberapa muka strut, perbandingan efisiensinya cukup jauh, hal ini dikarenakan pada bagian plate dipilih lebar yang paling besar yaitu dari kontrol terhadap lb.
Gambar 4.16: Hasil Analisis Menggunakan CAST untuk Truss Model-5
Tabel 4.20. Hasil Perbandingan Efisiensi pada Truss Model-5 Menggunakan Perhitungan Manual dan CAST
Elemen
Batang Tipe Efisiensi (%)
Model-5 CAST
1-3 Tie 58.304 57.3
2-6 Tie 84.861 84.7
3-4 Tie 81.916 81.8
3-8 Tie 89.478 87.9
1-2 Strut 8.808 77.7
2-1 Strut 77.715 77.7
5-6 Strut 8.807 77.7
6-5 Strut 77.713 77.7
1-4 Strut 41.001 64.3
4-1 Strut 64.328 64.3
1-6 Strut 27.390 80
6-1 Strut 79.979 80
2-5 Strut 64.500 64.5
5-2 Strut 43.945 64.5
3-5 Strut 48.143 50.4
5-3 Strut 50.420 50.4
4-5 Strut 78.861 98.6
5-4 Strut 98.576 98.6
5-7 Strut 99.595 99.6
7-5 Strut 99.595 99.6
Gambar 4.17: Hasil Desain Balok Tinggi Model-5 4.2.6. Truss Model-6
Truss model strut-and-tie keenam yang digunakan adalah rekomendasi dari Agus Sugianto (2019). Model rangka batang dapat dilihat pada Gambar 4.18. Untuk Model-6 ini, perhitungan dikaji dari satu sisi Truss model saja dikarenakan Truss model simetris dan gaya-gaya yang bekerja adalah sama pada bagian Truss tertentu sehingga dilakukan asumsi bahwa strut dan tie berikut memiliki hasil desain lebar yang sama yaitu elemen 1-2 dengan elemen 7-9, elemen 2-6 dengan elemen 6-7, elemen 4-6 dengan elemen 5-6, elemen 1-3 dengan elemen 8-7, elemen 2-3 dengan elemen 7-8, elemen 2-4 dengan elemen 5-7, dan elemen 3-4 dengan elemen 5-8.
Gambar 4.18: Geometri Truss Model-6
Pada model-6, perhitungan manual sesuai dengan ketentuan SNI 2847-2019. Gaya-gaya batang yang bekerja dihitung menggunakan bantuan program SAP2000. Hasil dari perhitungan gaya dalam model strut-and-tie dapat dilihat pada Lampiran 1. Nilai-nilai gaya dalam dari model tersebut disimpulkan dalam bentuk Tabel yang disajikan pada Tabel 4.21.
Tabel 4.21. Gaya-gaya Rangka Batang Dalam Truss Model-6 Batang Jenis Gaya Gaya (kN)
F12 Tarik 500.002
F13 Tekan 1118.027
F23 Tarik 1102.503
F24 Tekan 1102.51
F34 Tekan 964.282
F45 Tekan 1428.566
F26 Tarik 1428.564
Karena elemen batang 4-6 dan 6-5 gaya batangnya adalah 0, maka dalam perhitungan selanjutnya dapat diabaikan lebar strut dan tienya.
Gaya batang kemudian dihitung untuk menentukan lebar strut, tie, dan keamanan terhadap zona nodal sesuai dengan cara pengerjaan SNI 2847-2019.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 2 pada bagian model-6. Hasil lebar strut dan tie yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.22.
Untuk strut, dikaji masing-masing dua arah sehingga diperoleh lebar pada nodal yang berbeda.
Tabel 4.22. Hasil Perhitungan Lebar Strut dan Tie pada Truss Model-6
Setelah memperoleh lebar masing-masing strut dan tie, harus dicek keamanan pada daerah nodal. Hasil perhitungan ini dapat dilihat pada lampiran 2.
Setelah memastikan lebar yang dipakai aman untuk kekuatan daerah nodal, kemudian desain penulangan pada daerah tie. Hasil penulangan pada daerah tie pada model-1 diaplikasikan ke daerah tarik utama yaitu pada elemen tie 1-2 dan 2-6 yaitu setiap sisi digunakan 7D19. Sedangkan pada elemen tie 2-3 didesain penulangan baru berupa penulangan yang sejajar arah tie yaitu dari perhitungan diperoleh 2 baris 5D22. Hasil penulangan juga harus dicek jarak bersihnya yaitu harus memenuhi syarat minimum 25 mm.
Desain penulangan badan vertikal dan horizontal pada model-2 didasari oleh penggunaan rumus sesuai dengan SNI 2847:2019. Hasil perhitungan untuk penulangan badan vertikal dan horizontal diperoleh yaitu sama-sama menggunakan besi ∅16 dengan jarak 125 mm dikedua sisi badan balok tinggi.
Setelah mendesain penulangan, maka perlu dicari kembali force ratio akibat desain penulangan pada strut dan tie. Force ratio merupakan perbandingan antara gaya yang terjadi dengan kapasitas strut atau tie. Tabel 4.23 menunjukkan hasil perhitungan secara manual efisiensi yang diperoleh pada setiap strut dan tie.
Karena pada strut dikaji masing-masing muka strutnya, maka diperoleh dua buah efisiensi yang berbeda akibat penggunaan lebar strut yang berbeda pula pada masing-masing muka strut. Hasil efisiensi yang kecil diperoleh akibat penggunaan lebar strut atau tie yang terlalu besar sehingga kapasitasnya menjadi besar.
Tabel 4.23. Hasil Efisiensi Tiap Strut dan Tie untuk Truss Model-6
Hasil perhitungan manual seperti lebar strut, tie, zona nodal, dan tipe strut, tie, zona nodal dimasukkan ke dalam analisis menggunakan CAST. Hasil analisis melalui CAST dapat dilihat pada Gambar 4.19. Dari Gambar 4.19 dapat dilihat efisiensi tegangan yang terjadi pada strut dan tie. Pada Gambar 4.19 dapat dilihat bahwa ada dua hasil analisis, dimana masing-masing gambar mewakili penggunaan muka strut terkecil dan terbesar. Hasil analisis yang menggunakan strut terbesar menunjukkan efisiensi yang lebih kecil. Hasil resume analisis dapat dilihat pada Tabel 4.24. Pada CAST, lebar strut dan tie tidak bisa dibuat berbeda besarnya pada masing-masing muka sehingga digunakan lebar strut atau tie yang paling kecil.
Gambar hasil penulangan akhir desain dapat dilihat pada Gambar 4.20. Pada daerah tie 1-2 terlihat bahwa efisiensinya kecil, hal ini berarti penggunaan tulangan utama seperti pada model-1 yakni 2 baris 7D22 adalah tidak efisien, meskipun begitu dengan adanya efisiensi yang nilainya dibawah 1, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tulangan utama yang sama dengan model-1 efektif digunakan pada Truss model-6. Dapat dilihat bahwa pada beberapa muka strut, perbandingan efisiensinya cukup jauh, hal ini dikarenakan pada bagian plate dipilih lebar yang paling besar yaitu dari kontrol terhadap lb.
Gambar 4.19: Hasil Analisis Menggunakan CAST untuk Truss Model-6 Tabel 4.24. Hasil Perbandingan Efisiensi pada Truss Model-6 Antara Perhitungan
Manual dan CAST
Elemen
Batang Tipe Efisiensi (%)
Model-6 CAST
1-2 Tie 31.318 30.8
2-3 Tie 92.583 92.4
2-6 Tie 89.478 87.9
1-3 Strut 58.342 69.6
3-1 Strut 69.594 69.6
2-4 Strut 43.672 55.9
4-2 Strut 55.860 55.9
3-4 Strut 79.277 98.9
4-3 Strut 98.863 98.9
4-5 Strut 99.595 99.6
5-4 Strut 99.595 99.6
Gambar 4.20: Hasil Desain Penulangan Balok Tinggi Truss Model-6