• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN KEHORMATAN DPR DALAM PARLEMEN INDONESIA PASCA REFORMASI (2004-2014)

B. Tugas dan Wewenang BK Serta Skema Tata-Beracara BK

Semua hal mengenai Badan Kehormatan diatur sepenuhnya dalam UU No.27 Tahun 2009 mengenai SUSDUK dalam pasal 123-129 dan Peraturan DPR RI No.2 Tahun 2011 mengenai Skema Tata-Beracara BK DPR.

B.1 Tugas dan Wewenang BK

Berdasarkan pasal 127 ayat (1) dan (2), BK bertugas melakukan penyelidikan & Verifikasi terhadap pengaduan atau peristiwa yang diduga dilakukan oleh anggota DPR sebagai suatu pelanggaran kode etik, karena6:

a. tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam undang-undang;

6

33

b. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai Anggota DPR RI selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa alasan yang sah7;

c. tidak menghadiri Rapat Paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPR RI yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah dan jelas;

d. tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon Anggota DPR RI sesuai dengan peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD; dan/atau

e. melanggar ketentuan larangan sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, Tata Tertib dan Kode Etik.

Tugas Kedua Badan Kehormatan yaitu menetapkan keputusan hasil penyelidikan dan verifikasi. Sebelum mengambil keputusan, seluruh hasil Sidang maupun Rapat Badan Kehormatan diverifikasi dan hasilnya ditulis dalam lembar keputusan. Isi putusan adalah terbukti atau tidaknya suatu pelanggaran, disertai dengan pemberian sanksi atau rehabilitasi. BK DPR juga melakukan evaluasi dan penyempurnaan DPR tentang kode etik.

Berdasarkan pasal 127 ayat (3) UU no.27 tahun 2009 wewenang BK DPR RI adalah memanggil pihak yang terkait, memangil teradu dan pengadu serta melakukan kerja sama dengan lembaga negara lain, seperti KPK, Kejaksaan dan Kepolisian. Hal tersebut diperlukan agar Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam menjalankan tugas dan fungsinya tetap konsisten mematuhi Kode Etik demi menjaga citra, martabat, kehormatan, dan kredibilitas Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

7

Pasal 2 ayat 2 dalam Peraturan DPR RI no.2 tahun 2011. Kehadiran sebagaimana dimaksud adalah kehadiran fisik Anggota DPR RI yang dibuktikan secara administratif melalui tanda tangan daftar hadir.

34 B.2 Skema Tata-Beracara BK DPR

Untuk Tata-Beracara BK DPR diatur sepenuhnya dalam peraturan DPR RI No.2 Tahun 2011 mengenai Tata-Beracara Badan Kehormatan DPR. Untuk mengetahui lebih jelas skema tata-beracara BK DPR Berikut penulis tampilkan visualisasi skema tata-beracara BK DPR RI.

Gambar 3.1

Visualisasi skema tata-beracara BK DPR

Sumber: Buku Panduan Kode Etik Anggota Dewan Tahun 2011

Mekanisme pengaduan dan tata cara pengaduan ke BK diatur dalam Pasal 6 sampai pasal 11 Tata beracara pelaksanaan tugas dan wewenang Badan kehormatan DPR. Penulis jelaskan sebagai berikut:

1. Pengaduan

Pengaduan kepada BK disampaikan pimpinan DPR, masyarakat dan/atau pemilih. Dalam hal pengaduan disampaikan oleh pimpinan DPR kepada BK berupa dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota DPR, berasal

35

dari masyarakat, anggota DPR dan/atau perkembangan yang telah diketahui secara luas dalam masyarakat melalui media. Pengaduan disampaikan kepada sekretariat BK secara tertulis dan dilengkapi identitas yang sah dalam pasal 4 ayat (3) yaitu:

a. nama lengkap;

b. tempat tanggal lahir/umur; c. jenis kelamin; d. pekerjaan; e. kewarganegaraan; dan f. alamat lengkap/domisili. 2. Verifikasi

Sekretariat BK DPR kemudian melakukan verifikasi terhadap unsur administrasi dan materi aduan dengan dibantu tenaga ahli. Sekretariat BK melakukan verifikasi terhadap unsur administratif, sedangkan tenaga ahli melakukan verifikasi terhadap unsur materi pengaduan. Dalam pasal 8 ayat (5) dan (6) Pengaduan telah dinyatakan lengkap secara administratif dan memenuhi ketentuan Tata Tertib, Kode Etik dan Tata Beracara maka, Pengaduan diterima oleh Sekretariat dan kepada Pengadu diberikan surat tanda penerimaan Pengaduan dan selanjutnya diajukan dalam Rapat Badan Kehormatan. Dalam hal Pengaduan belum lengkap, Sekretariat memberitahukan kepada pengadu tentang kekuranglengkapan pengaduan, dan pengadu diminta melengkapi pengaduan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya surat pemberitahuan kekuranglengkapan pengaduan. Pasal 9 menyatakan, pengaduan dinyatakan gugur apabila teradu meninggal dunia, telah mengundurkan diri dan recall (ditarik) oleh partai.

36 3. Penyelidikan

Setelah semua pengaduan diverifikasi oleh sekretarian BK dan tenaga ahli BK selanjutnya melakukan penyelidikkan. Dalam hal ini BK memanggil pengadu dan teradu. Penyelidikan dilakukan guna mencari kebenaran dari suatu pengaduan atau kebenaran Alat Bukti yang didapatkan dalam Sidang BK. Namun, yang amat disayangkan dalam hal penyelidikan adalah BK merahasiakan materi pengaduan dan verifikasi pengaduan sampai perkara diputuskan.

4. Rapat BK

BK dalam rapat dan sidang perkara bisa dilakukan baik didalam maupun di luar lingkungan parlemen. BK memutuskan untuk menindaklanjuti, atau tidak menindaklanjuti pengaduan berdasarkan kelengkapan data atau bukti-bukti pengaduan. Selain memutuskan untuk menindaklanjuti pengaduan berdasarkan kelengkapan data atau bukti-bukti pengaduan, BK dapat menindaklanjuti atau tidak menindaklanjuti pelanggaran yang tidak memerlukan pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.

5. Keputusan

Dalam Pasal 34 ayat (1), Rapat BK untuk mengambil keputusan dihadiri oleh lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah anggota BK dan terdiri atas lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah Fraksi pada BK. Ayat (2) berbicara dalam hal jumlah anggota BK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memenuhi kuorum, rapat ditunda paling banyak 2 (dua) kali dengan tenggang waktu masing-masing tidak lebih dari 24 (dua puluh empat) jam. Lalu ayat (3) menjelaskan Setelah 2 (dua)

37

kali penundaan, kuorum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum juga tercapai, cara penyelesaian kuorum diserahkan kepada Pimpinan DPR RI. Inilah point minus dalam peraturan DPR No. 2 tahun 2011 mengenai Tata-Beracara BK DPR

Peraturan tata beracara BK masih membiarkan adanya kedudukan dan wewenang yang kuat dari Pimpinan DPR dalam kerja BK terutama dalam memproses pengaduan. Definisi pengaduan hanya ditujukan kepada pelanggaran yang dilakukan oleh anggota DPR (Pasal 1 angka 8). Di sisi lain, definisi antara Pimpinan dan Anggota DPR dibuat terpisah (perhatikan ketentuan Pasal 1 angka 2 dan angka 6).