• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tuhan sebagai Keindahan Abadi, Ego Mutlak, dan Hakikat Spiritual

Tuhan seperti yang disebut Iqbal pada pembahasan sebelumnya memiliki arti bahwa Tuhan memiliki haq dan kehendak mencipta secara bebas tanpa adanya batasan, tujuan, ruang dan waktu. Tuhan ditemukan melalui pengalaman religius karena Tuhan memilki kesamaan-kesamaan kepada manusia. Tuhan sebagai Kehendak Kreatif karena Iqbal menyebutnya sebagai suatu Pribadi/Ego Mutlak.

22

M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 35-36. 23 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 36.

Tidak seperti pendapat kosmologi bahwa Tuhan adalah seorang pencipta kreatif yang terbatasi oleh ruang dan waktu. Iqbal menolak karena Tuhan adalah Kehendak Kreratif tanpa batas.

Akan tetapi sangatlah sukar untuk menjelaskan dan memahami arti sebenarnya dari suatu Ego/Pribadi. Iqbal mengutip pendapat Henry Bergson dalam bukunya Creative Evolution yang menyatakan bahwa suatu diri atau individual merupakan suatu taraf yang tidak mudah untuk dipahami secara penuh sekalipun dalam hal kesatuan yang terlihat seperti suatu kebulatan diri manusia. Bergson berpendapat:

In particular, it may be said of individuality, that while the tendency to individuate is everywhere present in the organized in the world, it is always opposed by the tendency towards reproduction. For the individuality to be perfect, it would be necessary that no detached part of the organism could live separately. But then reproduction whould be impossible. For what is reproduction but the building up of a new organism with a detached fragment of the old? Individuality, therefore, harbours its own enemy at home.24

Khususnya, dapat dikatakan bahwa individualitas merupakan kecenderungan sementara untuk pribadi, di mana hal itu (suatu pribadi) mampu menghadirkan diriNya dimanapun. KehadiranNya terorganisir di dunia ini. Hal tersebut selalu ditentang oleh berbagai pihak karena Ia memiliki kecenderungan ke arah pergerakan/turun menurun. Suatu Pribadi dapat dikatakan sempurna, apabila tidak ada dalam diriNya tidak ada bagian yang terpisah, sedangkan apabila suatu individu itu bergerak, ia akan menjadi

terpisah dengan bagian-bagian yang lain. Tetapi kemudian

pergerakan/perubahan itu menjadi tidak mungkin. Lalu untuk apa ada pergerakan tanpa henti tetapi antara bagian yang baru dengan bagian yang lama terpisah? Suatu Pribadi tidak mungkin memelihara sekutuNya di rumahNya sendiri.

Menurut pendapat Iqbal, Bergson benar saat ia menganggap pengalaman merupakan masa lalu yang bergerak mengalir ke masa kini. Namun bagi Iqbal, Bergson tidak sepenuhnya benar mengenai hal tersebut. Bergson bagi Iqbal

mengabaikan berbagai hal, di antaranya ia telah melakukan kesalahan dengan dengan menempatkan hakikat sebagai suatu vitalitas kreatif dari kemauan dan menjadikannya sebagai pecahan pluralitas benda-benda dari pemikirannya dalam menciptakan dualisme pemikiran kemauan. Di satu pihak, Bergson benar dalam pendapatnya yakni, intelek merupakan kegiatan meruang dari suatu pribadi yang

terbatas.25 Menurut Iqbal, intelek tidak sebatas hal tersebut, ia juga merupakan

bentuk dari Ego Terakhir. Dia bukanlah kemauan murni tetapi bagi Iqbal, individualitas/Pribadi merupakan pertumbuhan organis yang sadar serta bergerak bebas ke depan dengan sadar, suatu gerak kreatif yang di dalamNya pemikiran dan keberadaan menjadi satu.

Pemikiran Iqbal mengenai Tuhan ini tidak semerta-merta hadir begitu saja, akan tetapi melalui fase-fase yang bertingkat. Pemikiran Iqbal mengenai ketuhanan dibagi menjadi tiga fase, di mana setiap fase merupakan proses perjalanan pemikirannya dan menjelaskan dasar pemikiran Iqbal mengenai keberadaan Tuhan. Pada masa pertama, berlangsung sekitar tahun 1901 sampai 1908, Iqbal meyakini bahwa Tuhan adalah Keindahan Abadi. Dia berada tanpa bergantung pada sesuatu tetapi mendahului segala sesuatu dan karena itu menampakkan diri dalam semuanya itu. Tuhan sebagai Keindahan Abadi adalah

penyebab gerak segala sesuatu.26 Tuhan adalah Keindahan Abadi. EksistensiNya

tanpa ketergantungan ataupun didahului oleh siapa pun dan sehingga, Tuhan menampakkan diri kepada semua yang ada di dunia ini. Hal ini terjadi tidak hanya pada apa yang terlihat oleh manusia, bahkan pada apa yang tidak terjangkau oleh

25

M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 42.

26 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, terj. Yusuf Jamil (Bandung: Mizan, 1989), h.28.

makhlukNya, seperti permasalahan setelah kematian dan peristiwa Hari Akhir. Maka dari itu Tuhan sebagai Keindahan Abadi adalah Penggerak Pertama segala sesuatu.

Konsep Tuhan pada fase pertama ini bersifat Platonis. Plato berpendapat Tuhan adalah Keindahan Abadi, sebagai alam universal yang mendahului segala sesuatu serta terwujud pada segala sesuatu itu sebagai bentuk. Dengan demikian apa yang di dunia ini pasti bersifat fana, kecuali Tuhan. Konsepsi tentang Tuhan dalam fase pertama ini tidak begitu asli, karena konsep Platonis pada awal-awal masa Skolastik tampak telah dicangkokkan ke dalam panteisme oleh para mistikus panteistik. Selanjutnya pandangan ini menurun pada Iqbal dan muncul sebagai tradisi lama dalam puisi Parsi dan Urdu. Konsep ketuhanan yang pertama ini bersifat imanen, yaitu Tuhan dalam pemikiran Iqbal adalah Keindahan Abadi dan eksistensiNya tiada yang mendahului dan tak tergantung pada siapa pun, seperti yang ia katakan bahwa:

Tuhan sebagai Zat Nan Indah mewujudkan segala sesuatu di alam semesta ini. Tenaga dan daya dalam obyek-obyek fisik, tumbuh dalam tanaman, instink pada hewan, dan kemauan pada manusia, itu semua adalah bentuk cinta bagi Tuhan. Maka Tuhan sebagai Keindahan Abadi itu menjadi sumber, esensi dan idea dari segala sesuatu. Atau Tuhan itu seperti

matahari.27

Pada masa kedua, berlangsung sekitar tahun 1908 sampai 1920, kunci untuk memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal ke arah perbedaan yang ia tarik antara keindahan sebagaimana di situ tampak pada segala sesuatu (Tuhan), dan

cinta pada keindahan pada pihak lainnya.28 Di masa ini, pikirannya dibimbing

27 Muhammad Iqbal, Asrar-i Khudi Rahasia-Rahasia Pribadi, terj. H. Bahrum Rangkuti. (Jakarta: Bulan Bintang, 1953), h. 21.

28

oleh konsep tentang pribadi sebagai pusat yang bersifat dinamis, terdiri dari hasrat, upaya, aspirasi, kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu, melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Dunia yang terindera adalah ciptaan pribadi. Karena itu, segala keindahan alam merupakan

bentukan hasrat-hasrat kita sendiri.29 Hasratlah yang menciptakan mereka, bukan

mereka yang memunyai hasrat. Tuhan Sang Hakikat Terakhir adalah Pribadi Mutlak, Ego Tertinggi. Tuhan dianggap sebagai Kemauan Abadi dan keindahan disusutkan menjadi sebutan yang sekarang mencakup nilai estetis dan moral sekaligus. Iqbal mengatakan bahwa:

Pribadi bukan lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri yang menjadi dinamisme pribadi. Pribadi itu adalah hidup dan hidup adalah pribadi. Tuhan menciptakan sifat-sifatNya bukanlah di alam ini dengan sempurna, tetapi pada para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan

sifat-sifatNya dalam diri, sebagaimana sesuai dengan Ḥadīts Nabi yakni

“Tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah”.30

Kemudian pada masa ketiga, perkembangan mental Iqbal berlangsung sekitar tahun 1920 sampai 1938 (tahun wafat). Jika pada masa kedua sebagai masa pertumbuhan, maka di masa ketiga ini adalah masa pendewasaan. Di sini Iqbal hanya menerima suatu pengaruh yang oleh kejeniusannya diizinkan untuk diterima. Dalam masa ini Tuhan menurut Iqbal adalah “Hakikat”, sebagai sesuatu keseluruhan yang pada dasarnya bersifat spiritual dalam arti individu dan suatu ego.31

Menurutnya, Tuhan dianggap sebagai ego karena seperti manusia, bahwa Dia adalah suatu prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat

29 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 34.

30 Muhammad Iqbal, Asrar-i Khudi Rahasia-Rahasia Pribadi, h. 23. 31

satu sama lain yang berpangkal pada fitrah kehidupan organismeNya untuk suatu tujuan konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita, karena ujian yang paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada

panggilan pribadi yang lain.32 Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi

segalanya, dan tidak ada sesuatu pun di luar Dia. Pemikiran Iqbal pada masa ketiga ini menegaskan bahwa Tuhan bersifat imanen karena Tuhan bersifat mutlak meliputi segalanya.

Pada fase ketiga tersebut, Iqbal hendak menegaskan melalui falsafatnya tentang pembuktian eksistensi Tuhan, realitas diri, serta kebebasan dan keabadian. Dan dia hendak menegaskan kebenaran akan Tuhan itu, bukan an sich melalui teori dan pengalaman, tetapi melalui apa yang disebutnya sebagai “intuisi”. Realitas dan eksistensi yang Mutlak tersebut, beserta kepastian sifat dasarnya, dapat diperoleh hanya melalui sebuah pengalaman luar biasa yang disebut sebagai intuisi. Intuisi, dengan demikian, bertujuan untuk memahami keseluruhan

realitas.33 Ia berpendapat:

Suatu kritik falsafat yang komprehensif tentang fakta-fakta pengalaman, baik yang bersifat efisien maupun apresiatif, membawa kita pada satu kesimpulan bahwa Realitas Yang Terakhir adalah suatu kehidupan kreatif yang terarah secara rasional. Menafsirkan kehidupan ini sebagai suatu ego.... Intuisi memerlihatkan hidup sebagai suatu ego yang bersifat memusatkan dan fakta-fakta akan pengalaman akan membenarkan kesimpulan. Realitas sesungguhnya adalah rohaniah, dan harus

digambarkan sebagai suatu ego.34

32 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 37. 33

Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal: Pengantar untuk Memahami The Reconstruction of

Religious Thought in Islam (Bandung: Pustaka Pelajar, 2004), h. 5.

34 Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, terj. Ali Audah dkk (Jakarta: Tintamas, 1966), h. 62-63.

Pembuktian keberadaan Tuhan Iqbal secara gamblang terdapat pada fase pemikiran Iqbal yang kedua dan ketiga, di mana ia menyatakan Tuhan sebagai Ego Mutlak dan Hakikat Spiritual. Tuhan sebagai suatu Ego dan Hakikat Spiritual tidaklah mampu didekati dengan sesuatu yang bersifat non-spiritual, Ia hanya mampu didekati dengan sesuatu yang bersifat spiritual pula, yakni intuisi. Intuisi ini terdapat dalam suatu pribadi, di mana pribadi ini yang akan membawa manusia kepada hakikat Tuhan.

Suatu Pribadi atau Ego Mutlak bagi Iqbal adalah kesatuan intuitif atau titik kesadaran pencerah yang menjadi pusat pikiran dan perasan dan kehendak manusia. Dalam hal ini Kant juga mengemukakan hal yang serupa bahwa suatu ego atau diri substansi yang tetap melandasi dan substansi tetap yang menjadi pusat dan dasar pluralitas pengalaman. Berangkat dari pemikiran Bergson di atas, Iqbal menyatakan bahwa individualitas itu adalah satu kebulatan diri, tanpa ada

yang menyamaiNya dan bersifat tunggal.35 Dan Ia tidak dapat digagaskan sebagai

Zat yang memunyai sekutu. Ia harus digagas sebagai superior, penguasa segala sesuatu baik yang terlihat ataupun tidak. Sifat seperti ini adalah sifat diri yang sempurna yang unsur-unsur ZatNya yang paling azasi telah tercantum dalam al-Qur‟ān mengenai Tuhan, dan al-al-Qur‟ān berulang kali menyatakan hal tersebut bukan semata-mata untuk membahas keberadaan Tuhan yang ada dalam agama-agama lain, tetapi hanya untuk memberi penekanan terhadap pandangan– pandangan tentang Individu Sempurna. Sama halnya seperti Bergson, Iqbal

meyakini bahwa gerak sebagai inti Hakikat, dan intuisi sebagai sumber

pengetahuan. 36

Tetapi dalam sejarah pemikiran agama, Individu Sempurna atau Hakikat Mutlak (Tuhan) digagaskan sebagai unsur kosmik yang samar, luas, dan menyusup, misalnya seperti cahaya. Iqbal mengakui bahwa sejarah agama telah

mengungkapkan pemikiran yang cenderung ke arah pantheisme,37 tetapi mengenai

indentifikasi Tuhan dengan cahaya sebagaimana yang diajarkan di dalam

al-Qur‟ān38

, maka pendapat di atas tidaklah benar. Sangat jelas pada kalimat pembuka dalam al-Qur‟ān Surat Al-Nūr ayat 35 ini yang memberi kesan tentang suatu penjauhan diri dari konsep individualistis mengenai Tuhan. Tetapi jika kita ikuti metafora kata cahaya tersebut di dalam ayat sesudahnya, maka di situ sangat tegas memberi sebuah kesan sebaliknya. Metafora dalam kata cahaya itu sesungguhnya ditujukan untuk mengeluarkan sugesti tentang unsur kosmik yang tiada berbentuk dengan memusatkan cahaya itu. Iqbal berpendapat:

Menurut saya sendiri, penggambaran tentang Tuhan sebagai cahaya dalam kitab–kitab suci Agama Yahudi, Kristen, dan Islam haruslah ditafsirkan secara berlainan. Dalam ajaran ilmu fisika modern kecepatan cahaya itu

36 M.M. Sharif, Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, h. 33.

37 Panteisme berasal dari kata Yunani, Pan yang berarti semua dan Theos yang berarti Tuhan, dan diartikan secara harfiah sebagai semua adalah Tuhan. Ini merupakan pendapat yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini baik yang hidup ataupun yang mati merupakan manifestasi dari Tuhan. Segala sesuatu yang ada di alam ini pada hakikatnya hanyalah bayangan belaka, tidak memiliki wujud yang sebenarnya, karena secara keseluruhannya merupakan wujud Tuhan. Pencetus teori ini di antaranya adalah Ibn „Arabī.

38 Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah

seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang dia kehendaki, dan allah memerbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. al-Nūr ayat 35)

tidak pernah bisa dilampaui dan teori ini berlaku untuk semua peninjau gerakan alam semesta. Karena dalam alam perubahan, cahaya adalah pendekatan yang paling dekat dengan Yang Mutlak. Maka dari itu, metafora cahaya sebagai gambaran tentang Tuhan menurut pandangan ilmu pengetahuan modern, harus dianggap sebagai Kemutlakan Tuhan dan wujud

keberadaan Tuhan.39

Tetapi timbul sebuah pertanyaan mengenai penjelasan di atas, apakah individualitas itu mengandung keterbatasan? Jika Tuhan itu adalah suatu diri karena Ia suatu individu, lalu bagaimakah menggagaskanNya sebagai suatu individu yang tidak terbatas? Mengenai pertanyaan di atas Iqbal menjawab:

Bahwa Tuhan tidaklah dapat digagaskan sebagai tiada berkesudahan, dalam artian kesudahan ruang (spatial infinity) karena dalam penilaian spiritual yang luas tanpa batas pun itu tidak berarti apa-apa. Apalagi, seperti kita,

tiada kesudahan ruang dan waktu itu tidaklah Mutlak.40

Menurut Iqbal dalam pandangan ilmu pengetahuan modern, alam itu bukanlah sebagai suatu yang statis, yang hanya terletak dalam suatu kehampaan yang tiada berbatas, melainkan sebagai suatu susunan dari peristiwa-peristiwa yang saling berhubungan, dan dari hubungan-hubungan itu munculah pengertian-pengertian ruang dan waktu, dan ini adalah sebuah cara lain untuk mengatakan bahwa ruang dan waktu itu adalah penafsiran-penafsiran yang diberikan pikiran bagi kegiatan kreatif dari Ego Mutlak.

Pembuktian keberadaan Tuhan juga bisa dilihat dari dalam diri manusia seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa Tuhan memberikan tanda-tanda kepada manusia agar manusia mampu untuk menemukan dan mengerti diriNya. Manusia juga sebagai makhluk individu yang memiliki ego dan keinginan untuk membuktikan keberadaan diri/bereksistensi. Ini dibuktikan dengan banyak

39 Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, h. 76. 40 Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, h. 77.

manusia yang ingin selalu terlihat menonjol dan mendapatkan perhatian dari sesamanya dengan menyiptakan karya-karya.

Manusia sebagai individu yang memiliki keinginan tentu memiliki Zat yang mengatur dan mengabulkan semua keinginanya. Zat ini haruslah memiliki keinginan untuk membuat karya tanpa batas dan tidak terikat oleh waktu dan ruang. Menurut Iqbal, Zat tersebut dianggap sebagai Ego tertinggi/Mutlak karena Ia seperti manusia memiliki keinginan.

Lebih jauh lagi mengenai Ego Mutlak dalam hal ini karena Dia bersifat meliputi segalanya, dan tidak ada sesuatu pun di luar Dia. Ego Mutlak tidaklah bersifat statis seperti alam raya ini. Tetapi Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis, karena tidak ada satu pun pembatas bagiNya selain Dia yang membatasiNya. Dengan demikian Ego Mutlak itu adalah tenaga yang Maha Kuasa, suatu gerak ke depan, yang bebas, dan gerak kreatif. Sesuatu dapat berasal dari gerak, akan tetapi gerak tidak dapat berasal dari sesuatu yang tidak bergerak. Gerak itu bersifat asli, sedangkan statis bersifat turunan. Apa yang disebut statis berasal dari gerakan pikiran-pikiran terbatas yang bekerja untuk konsep-konsep. Pandangan ini mendapat dukungan dari para pakar ilmu fisika modern, yang

menyusutkan benda yang maujud menjadi pusat-pusat energi.41

Jika Ego Mutlak adalah gerak yang meliputi semua, apakah Dia akan berubah terus menerus? Iqbal menjawab tidak dan Iya. Tidak, karena menurut Iqbal perubahan itu tidak bisa disifatkan bagiNya. Perubahan itu hanya bisa dilekatkan pada manusia atau sesuatu selain Dia. Ini karena sebagai perubahan

serial yang terus mengalami perubahan dari satu keadaan ke dalam keadaan berikutnya, dalam kasus perubahan yang ada pada manusia perubahan serial ini adalah yang menyiratkan suatu keinginan, keterbatasan dan ketidaksempurnaan. Tetapi Ego Mutlak adalah keseluruhan Hakikat itu semua, yang hanya bisa ditentukan oleh usaha dari diri kita sendiri dalam melahirkan suatu perubahan tersebut. Dijawab iya, karena menurut Iqbal perubahan itu adalah salah satu sifatNya dalam makna yang lain.

Tuhan sebagai ego mutlak merupakan jiwa kreatif yang memiliki kehendak tanpa henti. Dia merupakan zat yang berkreasi terus menerus karena itu, perubahan sebagai gerak dari keadaan yang tidak sempurna menjadi sempurna tidak berlaku bagiNya. Gerak yang terjadi padaNya merupakan suatu aliran energi untuk selalu mencipta secara terus menerus, hal ini tidak menyiratkan adanya suatu ketidak sempurnaan pada diri Tuhan. Iqbal berpendapat:

Kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang telah dilakukan oleh Ibnu Hazm dan Aristoteles yang mengangap kesempurnaan sebagai tahap akhir keselesaian. Tahapan ini mestinya menjadikan Tuhan tiada memiliki tindakan. Dalam hal ini, memikirkan Ego Terakhir sebagai sempurna yang tak lagi bergerak sama saja memerlakukan Dia sebagai suatu netralitas pasif,

tanpa motivasi dan suatu Kehampaan Mutlak.42

Pribadi yang sempurna bagi Iqbal merupakan suatu kesempurnaan organis

yang bagian-bagiannya tidak dapat hidup secara terpisah. Karena itu, perubahan yang ada pada Tuhan merupakan wujud kreatif tak terbatas. Dia sempurna sebagai wujud yang tak putus dalam mencipta, yang meliputi segalanya. Ego Mutlak itu bersifat sempurna, kesempurnanya itu memerjelas ketidakterbatasan cakupan visi kreatifNya. Kesempurnaan Ego Mutlak itu berarti tidak ada reproduksi dalam

diriNya Oleh sebab itulah, Dia tidak beranak maupun diperanakkan. Jika Tuhan (Ego Mutlak) bersifat bebas, tidak terbatas, dan bersifat kreatif, suatu gerak yang maha kuat, maka dapat kita katakan bahwa dia meliputi segalanya dalam kejahatan maupun kebaikan. Iqbal mengatakan ;

Kebaikan dan kejahatan, meskipun itu adalah suatu hal yang berlawanan tetapi harus termasuk dalam keseluruhan yang sama. Namun di sini kita telah diberitahu bahwa kita telah melampaui batas-batas pemikiran murni dan dapat melihat jalan kita hanya dengan keyakinan atas kemenangan

kebaikan pada akhirnya kelak.43

Akan tetapi kata Iqbal permasalahan di atas ini tidaklah bisa dikatakan sudah selesai pada tahap pengetahuan kita tentang alam semesta sekarang ini, di mana banyak sekali kejahatan-kejahatan yang lahir dari pribadi-pribadi yang saling bersengketa, karena kita selaku pribadi adalah sesuatu yang terbatas, yang tidak pernah bisa terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Tuhan sebagai Ego Mutlak tidaklah statis seperti alam semesta seperti pandangan Aristoteles. Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang terindra seperti dalam pergerakan alam ataupun kehidupan. Melainkan Ia menyatakan diriNya dalam pribadi. Oleh karena itu untuk menemukan keberadaan Tuhan harus melalui pribadi juga. Dengan demikian, mencari keberadaan Tuhan bersifat kondisional terhadap pencarian diri sendiri, manusia harus mencariNya dengan kekuatan dan kemauanNya sendiri ia harus menangkap bukti-bukti keberadaanNya dengan cara yang sama sebagaimana seorang pemburu menangkap buruanNya. Akan tetapi menurut Iqbal apabila seseorang menemukan Tuhan dalam dirinya, ia tidak boleh membiarkan dirinya terserap dalam Diri Tuhan menjadi tiada, seperti para sufi

klasik.44 Menurut Iqbal, manusia seharusnya menyerap Tuhan dalam dirinya dan menumbuhkan ego menjadi super ego, maka ia akan dekat dengan diri Tuhan dan

menemukan hakikat keberadaan Tuhan yang sebenarnya.45 Ego yang telah

ditemukan manusia dalam dirinya atau yang disebut Ego Terakhir merupakan tenaga yang Maha Kuasa, bergerak ke depan dengan kreatif dan merdeka. Tetapi gerak Tuhan di sini tidak seperti gerak yang digagas oleh kaum kosmologis karena Ia bersifat asli dan merupakan keseluruhan dari hakikat.

Meskipun demikian, tidak benar jika menggambarkan Ego Terakhir dalam kerangka ruang. Sebab, ia merupakan perlangsungan murni, hakikat yang ditunjukan oleh suatu analisa yang dalam atas kemauan sadar atas diri manusia. Dalam proses kehidupan ego, keadaan-keadaan kesadaran melebur menjadi satu. Penyatuan ego ini seperti penyatuan benih dimana pengalaman–pengalaman