BAB II. KONGREGASI FRANSISKANES SANTA ELISABETH
C. Kebahagiaan Sejati Fransiskan
2. Tuhan Menuntun Fransiskus Menuju Kebahagiaan Sejati
Thomas dari Celano, salah satu dari penulis-penulis biografi St. Fransiskus Assisi, berkata bahwa Tuhan campur tangan dalam kegagalan Fransiskus menjadi kesatria. Celano berkata bahwa Tuhan mengendalikan mulutnya, menyerbu inderanya, mendatangkan kegelisahan batin dan gangguan badani. Tuhan mengendalikannya justru supaya ia tidak binasa dan sebaliknya mau menuntun dia mencapai kebahagiaan sejati melalui jalan yang diinginkan Tuhan yaitu menjadi alat untuk mewartakan kemuliaan-Nya. Tentu saja campur tangan dan rencana Allah ini tidak diketahui oleh Fransiskus (Celano, 1981: 1-4). Karena kehadiran Allah tidak dapat dilihat dan didengar oleh telinga dan mata secara fisik.
Bagi Fransiskus tampaknya berat untuk melepaskan seluruh kebiasaan lama. Maka, ketika ada tawaran dan kesempatan untuk ikut berperang ke Apulia, Fransiskus berpikir: ‘Siapa tau kali ini berhasil jadi kesatria’. Tetapi sekali lagi Tuhan mencegat dia. Dalam rangka memenuhi ambisi itu Fransiskus mengalami penglihatan di Spoleto, yang mengharuskan dia untuk kembali ke Assisi. Allah di Spoleto adalah Allah yang bersuara: artinya Fransiskus sungguh mendengar suara
yang berkata “Pulanglah ke tempatmu, di sana akan dikatakan kepadamu apa yang harus kaubuat” (Groenen, 2000:37). Maka Fransiskus kembali ke Assisi dengan gembira karena berharap bahwa kehendak Tuhan akan tersingkap baginya untuk kebahagiaannya.
Pada suatu ketika Fransiskus, tiba-tiba bertemu dengan orang kusta. Biasanya ia merasa jijik dan mau melempar uang saja kepada orang kusta, lalu melarikan diri. Tetapi tiba-tiba timbul keinginan dari dalam dirinya untuk mencoba merasakan kesusahan seperti orang kusta. Ia turun dari kuda, bergerak menuju orang kusta dan melepaskan uang pada tangannya yang tak berbentuk, dan Fransiskus merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Pada saat itu Fransiskus sungguh merasakan hakekat kekristenan: Fransiskus dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap orang, bahkan dalam diri orang yang menderita, seperti orang kusta tersebut. Dalam wajah orang-orang menderita Fransiskus mampu melihat Tuhan sendiri. Karena itu memberi sedekah saja rasanya tidak cukup, maka ia memberikan ciuman damai (Groenen,2000:47-51; bdk. Celano,1981:14-15).
Kebahagiaan dalam kemanisan persaudaraan Kristiani-Injili ini terekam kuat dalam hati dan ingatan Fransiskus sampai akhir hidupnya. Hal itu tertuang dalam Wasiatnya yang didiktekannya beberapa saat sebelum meninggalnya. Peristiwa misterius itu dilihatnya sebagai pembalikan tata nilai: yang dahulu pahit, sekarang menjadi manis (Ladjar, 2006: 193).
Selain peritiwa di atas Fransiskus juga dituntun Allah ketika ia berjalan lewat dekat Kapel San Damiano, yang hampir roboh dan telah lama ditinggalkan
orang. Ketika Fransiskus masuk untuk berdoa, Fransiskus berada persis didepan Salib. Secara tiba-tiba Fransiskus merasa lain. Ia melihat gambar Kristus yang tersalib memanggilnya. “Fransiskus, pergilah, perbaikilah rumahku, yang hampir roboh”. Fransiskus sangat terkejut dan takut. Sejak saat itu dalam hatinya timbul rasa iba pada Dia yang tersalib. Allah yang dialami St. Fransiskus di Kapel San Damiano adalah Allah yang bersuara dan berwajah Yesus Kristus yang tersalib. Dengan suka cita ia mengambil kain-kain dari tokoh ayahnya dan bersama kudanya dijualnya di Foligno, lalu seluruh uang diberikan kepada pastor di gereja tua itu (Groenen, 2000: 52-53)
Setelah peritiwa kedua di atas perjumpaan dengan orang kusta dan mendengar suara dari salib, maka di depan Uskup Assisi dan ayahnya, dalam sebuah Pengadilan Gereja, Fransiskus menegaskan pilihan hidup selanjutnya. Adapun pilihan hidup yang ditegaskan Fransiskus yaitu mengabdi Allah saja. Pada saat itu Fransiskus berkata demikian: Dengarlah kalian semua, sampai sekarang Pietro Bernardone adalah ayah saya, tetapi selanjutnya, Bapa kami yang ada di surga. Lalu setelah dikenakan uskup mantol kepada Fransiskus, karena ia telah melepaskan semua pakaian di badannya, ia berlari ke dalam hutan sambil bernyanyi gembira, memuji Allah. Ia berbahagia secara mendalam, justru ketika ia melepaskan semua yang diandalkannya selama ini yaitu materi, uang, kekuasaan, kemuliaan, dan hanya mengandalkan Bapa di surga (Groenen, 2000: 65-67).
Ketika mendengar penjelasan dari pastor tentang maksud Injil yang dibacakan pada pesta Rasul Matias, yaitu tentang perutusan para murid Yesus,
Fransiskus bersorak kegirangan dan berkata: “Inilah yang kucari, inilah yang akan kulakukan dengan dengan segenap hatiku” (Celano, 1981: 18). Walaupun Fransiskus telah membuat keputusan di depan uskup Assisi yang telah diungkapakan di atas, sesungguhnya ia belum tahu bagaimana bentuk kehidupan pengabdian kepada Allah. Fransiskus telah mencoba hidup di beberapa biara, tetapi merasa bahwa bentuk kehidupan itu tidak cocok baginya. Akan tetapi setelah penjelasan yang didengarnya pada pesta Rasul Matias tersebut Fransiskus tahu apa yang harus dilakukannya. Maka Fransiskus berkeliling mewartakan Kerajaan Allah dan pertobatan tanpa membawa apa-apa sebagai bekal hidup. Ia sangat bergembira dengan penemuan ini dan dilaksanakannya tanpa menunda- nunda.
Dari penyampaian singkat proses panjang pertobatan Fransiskus di atas jelas bagaimana Allah menuntun Fransiskus secara tahap demi tahap menuju kebahagiaan sejati. Secara singkat dapat dipaparkan sebagai berikut
a) Di Spoleto Allah menuntun Fransiskus dengan dengan seruan untuk tidak meneruskan ambisinya menjadi pahlawan perang dan menyuruh dia kembali ke Assisi. Ia kembali ke Assisi dengan gembira sambil mengharapkan bahwa rencana Tuhan baginya akan tersingkap di Assisi.
b) Dalam perjumpaan dengan orang kusta ada dorongan dari dalam diri Fransiskus untuk melakukan sesuatu yang tidak lazim dan kemudian ia mengalami kemanisan persaudaraan bersama dengan orang kusta. Kebahagiaan itu terekam kuat dalam hati dan ingatan Fransiskus sampai akhir hidupnya, dan hal ini merupakan suatu pembalikan tata nilai dalam diri Fransiskus.
c) Fransiskus segera menempatkan diri pada undangan Kristus tersalib: “Fransiskus, pergilah perbaikilah rumahku, yang hampir roboh “. Dengan suka cita ia mengambil kain-kain dari toko ayahnya dan bersama kudanya dijualnya di Foligno, lalu seluruh uang diberikan kepada pastor di gereja tua itu. Fransiskus sungguh menanggapi suara tersebut secara harafiah.
d) Keputusan definitif di depan uskup untuk mengandalkan Allah saja dan ketika melepaskan semua andalan duniawi justru membuat Fransiskus mengalami kegembiraan yang mendalam. Kebahagiaan Fransiskus terletak pada Persatuan dengan Allah sebagai jaminan kebahagiaan sejati.
e) Setelah mendapatkan penjelasan pastor tentang Injil yang dibacakan pada pesta Rasul Matias Fransiskus bersorak gembira: “Inilah yang kucari, inilah yang ingin kulakukan dengan segenap hatiku”. Ia sangat bergembira karena ia menemukan bentuk dan cara untuk mengabdi kepada Allah.