• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)

DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2010 (MATA UANG RUPIAH INDONESIA)

KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 25.535.552.239 25.491.548

32. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)

Faktor-faktor Risiko Keuangan (lanjutan)

a. Risiko Pencabutan Izin Usaha (lanjutan)

Untuk mencegah hal ini, Perusahaan berusaha sangat berhati-hati dalam menjalankan kegiatan usaha, agar tidak mengalami kegagalan atau kelalaian dalam memenuhi ketentuan undang- undang dan peraturan pasar modal, yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia dan Bapepam- LK, maupun peraturan dan undang-undang yang dikeluarkan oleh intansi lain dan negara yang berlaku umum, yang menpunyai akibat terhadap risiko pencabutan izin usaha sebagai perusahaan.

b. Risiko Perdagangan Efek

Aktivitas perdagangan efek erat hubungannya dengan kondisi bursa efek secara keseluruhan. Kapitalisasi pasar, jumlah saham, pertumbuhan keuangan Perusahaan, sistem perdagangan dan sarana merupakan faktor utama bagi pemodal dalam melaksanakan investasi. Dan yang tidak kalah penting adalah perkembangan indeks (Indeks Harga Saham Gabungan) yang dinamis, indeks yang melemah membuat pemodal menunggu untuk melakukan transaksi, sebaliknya kenaikan indeks mendorong pemodal untuk melakukan transaksi. Faktor suku bunga pasar dan kestabilan nilai tukar mata uang valuta asing, merupakan acuan yang dapat menentukan harga efek, akibatnya pendapatan Perusahaan yang berasal dari komisi perdagangan efek dan jasa penjaminan emisi efek dapat berubah-ubah dengan fluktuasi yang signifikan. Dalam mengatasi fenomena tersebut, Perusahaan berusaha memberikan informasi dan riset kepada nasabah untuk menerapkan strategi yang tepat, agar baik pada saat indeks menurun maupun indeks menguat

nasabah tetap memperoleh return, menjaga dan memelihara sistem perdagangan (remote

trading), jaringan dan sarana dan prasarana perdagangan lainnnya agar berjalan lancar.

c. Risiko Penyelesaian Transaksi Efek

Bursa Efek Indonesia dapat melakukan ketentuan denda dan penghentian sementara (suspensi) perdagangan atas keterlambatan dalam penyelesaian transaksi efek. Keterlambatan dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti kesalahan sistem teknologi informasi, keterlambatan dalam kliring bank, cidera janji dari pembeli atau penjual efek, hal ini mengakibatkan kerugian pada Perusahaan.

Untuk mencegah hal tersebut, Perusahaan setiap hari melakukan pembaharuan terhadap hutang piutang transaksi perdagangan, dan Perusahaan membatasi transaksi nasabah sesuai dengan

trading limit nasabah, dengan demikian nasabah hanya dapat melakukan transaksi sesuai dengan

jaminannya. Perusahaan juga menerapkan Pengenaan denda bunga dan force sell terhadap

nasabah sebagai akibat dari keterlambatan pembayaran dan cidera janji dari nasabah.

d. Risiko Modal

Perusahaan mengelola modal ditujukan untuk memastikan kemampuan Perusahaan melanjutkan usaha secara berkelanjutan dan memaksimumkan imbal hasil kepada pemegang saham melalui optimalisasi saldo hutang dan ekuitas. Untuk memelihara atau mencapai struktur modal yang optimal, Perusahaan dapat menyesuaikan usulan jumlah pembayaran dividen, pengurangan modal, penerbitan saham baru atau membeli kembali saham beredar, mendapatkan pinjaman baru atau menjual aset untuk mengurangi pinjaman.

DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2010

(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)

32. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)

Faktor-faktor Risiko Keuangan (lanjutan)

d. Risiko Modal (lanjutan)

Perusahaan juga diwajibkan untuk memelihara persyaratan minimum modal kerja bersih seperti yang disebutkan dalam peraturan BAPEPAM-LK No. V.D.5 dan peraturan BAPEPAM-LK No. X.E.1, yang antara lain, menentukan Modal Kerja Bersih Disesuaikan untuk perusahaan efek yang beroperasi sebagai perantara perdagangan efek dan penjamin emisi sebesar Rp 25 milyar. Jika hal ini tidak dipantau dan disesuaikan, tingkat modal kerja sesuai peraturan dapat berada di bawah jumlah minimum yang ditetapkan oleh regulator, yang dapat mengakibatkan berbagai sanksi mulai dari denda sampai dengan penghentian sebagian atau seluruh dengan penghentian sebagian atau seluruh kegiatan usaha. Untuk mengatasi risiko ini, Perusahaan terus mengevaluasi tingkat kebutuhan modal kerja bersih yang disyaratkan dan mempersiapkan peningkatan batas minimum yang diperlukan sesuai peraturan yang mungkin terjadi dari waktu ke waktu di masa datang.

Perusahaan telah memenuhi persyaratan Modal Kerja Bersih Disesuaikan pada tanggal 31 Desember 2011.

Nilai Wajar Instrumen Keuangan

Nilai tercatat dan taksiran nilai wajar dari instrumen keuangan Perusahaan yang dicatat di laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:

2011

Nilai tercatat Nilai wajar

Aset Keuangan

Kas dan setara kas 25.535.552.239 25.535.552.239

Deposito berjangka 9.068.000.000 9.068.000.000

Portofolio efek - bersih 6.212.421.202 6.212.421.202

Deposito pada lembaga kliring dan penjaminan 611.085.571 611.085.571

Piutang lembaga kliring dan penjaminan 1.476.194.500 1.476.194.500

Piutang nasabah - pihak ketiga 34.151.481 34.151.481

Efek beli dengan janji jual kembali 7.020.439.795 7.020.439.795

Piutang lain-lain 38.344.339 38.344.339

Penyertaan pada bursa efek 135.000.000 135.000.000

Aset lain-lain 7.290.000 7.290.000

Jumlah Aset Keuangan 50.138.479.127 50.138.479.127 Liabilitas Keuangan

Hutang lembaga kliring dan penjaminan 737.188.000 737.188.000

Hutang nasabah - pihak ketiga 976.991.620 976.991.620

Biaya harus dibayar 36.384.205 36.384.205

Hutang lain-lain 11.379.421 11.379.421

DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2010

(DISAJIKAN DALAM RUPIAH, KECUALI DINYATAKAN LAIN)

32. TUJUAN DAN KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN (lanjutan)

Nilai Wajar Instrumen Keuangan (lanjutan)

2010

Nilai tercatat Nilai wajar

Aset Keuangan

Kas dan setara kas 25.491.548.052 25.491.548.052

Deposito berjangka 8.991.000.000 8.991.000.000

Portofolio efek - bersih 1.493.688.392 1.493.688.392

Deposito pada lembaga kliring dan penjaminan 578.187.110 578.187.110

Piutang lembaga kliring dan penjaminan 3.962.840.500 3.962.840.500

Piutang nasabah - pihak ketiga 1.148.478.066 1.148.478.066

Efek beli dengan janji jual kembali 10.892.542.475 10.892.542.475

Piutang lain-lain 43.772.877 43.772.877

Penyertaan pada bursa efek 135.000.000 135.000.000

Aset lain-lain 7.290.000 7.290.000

Jumlah Aset Keuangan 52.744.347.472 52.744.347.472 Kewajiban Keuangan

Hutang lembaga kliring dan penjaminan 3.591.951.000 3.591.951.000

Hutang nasabah - pihak ketiga 1.773.468.269 1.773.468.269

Biaya harus dibayar 54.524.638 54.524.638

Hutang lain-lain 7.571.885 7.571.885

Jumlah Kewajiban Keuangan 5.427.515.792 5.427.515.792

Nilai wajar aset dan liabilitas keuangan ditentukan berdasarkan jumlah dimana instrumen tersebut

dapat dipertukarkan dalam transaksi kini antara pihak-pihak yang berkeinginan (willing parties) dan

bukan merupakan penjualan yang dipaksakan atau likuidasi.

Instrumen keuangan yang disajikan di dalam laporan posisi keuangan dicatat sebesar nilai wajar, atau disajikan dalam jumlah tercatat baik karena jumlah tersebut adalah kurang lebih sebesar nilai wajarnya atau karena nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal.

Metode dan asumsi berikut ini digunakan untuk mengestimasi nilai wajar untuk setiap kelompok instrumen keuangan yang praktis untuk memperkirakan nilai tersebut:

Aset dan liabilitas keuangan

Instrumen keuangan terdiri dari kas dan setara kas, deposito berjangka, portofolio efek - bersih, deposito pada lembaga kliring dan penjaminan, piutang lembaga kliring dan penjaminan, piutang nasabah - pihak ketiga, efek beli dengan janji jual kembali, piutang lain-lain, penyertaan pada bursa efek, aset lain-lain, hutang lembaga kliring dan penjaminan, hutang nasabah - pihak ketiga, biaya harus dibayar dan hutang lain-lain, diasumsikan sama dengan nilai tercatatnya karena akan jatuh tempo dalam waktu singkat.

Dokumen terkait