PEMBANGUNAN DAERAH
A. Tujuan Dan Ketentuan
Pembinaan dan Pengawasan Kebijakan Otonomi Daerah
Ketentuan Lain-lain Ketentuan peralihan
UU No. 18 Th. 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-undang No. 21 Th. 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua tetap berlaku.
BAB IV
PEMBANGUNAN DAERAH
Setelah membaca Bab ini, peserta Diklat diharapkan mampu menjelaskan pengertian dan menghayati dasar pemikiran dan tujuan pembangunan daerah serta memiliki kemauan, kemampuan serta tanggungjawab yang lebih besar untuk berperanserta dalam pembangunan daerah sesuai dengan fungsi dan bidang tugasnya.
Peserta dipacu untuk lebih berperan dalam pembahasan, terutama pembahasan mengenai dasar pemikiran, kemampuan dan keterbatasan daerah dalam melaksanakan pembangunan yang dikehendaki.
A. Tujuan Dan Ketentuan
Pembangunan setiap daerah adalah bagian dari pelaksanaan otonomi daerah. Adapun tujuan umum otonomi daerah adalah bagian dari tujuan umum pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti dinyatakan pada alinea ke-empat pembukaan serta bab-bab dan pasal-pasal dari Undang-undang Dasar tahun 1945. Alinea ke-empat tersebut menetapkan misi utama pendirian negara dan harus ditaati oleh setiap penyelenggara negara serta seluruh rakyat Indonesia. Alinea ke-empat Undang-undang dasar 1945 selengkapnya adalah sebagai berikut : “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Pada alinea ini menetapkan misi yang diberikan kepada Pemerintah Negara Indonesia dan dinyatakan secara jelas disertai prinsip-prinsip pelaksanaannya, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar negara yaitu Pancasila. Adapun visi yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia tercantum jelas dalam misi dan prinsip-prinsip pelaksanaan bernegaratersebut.
Tujuan otonomi daerah juga tercantum sebagai dasar, pertimbangan ditetapkannya Undang-Undang No. 32 tahun, 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagai berikut:
1. Sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UUD 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota dapat mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan;
2. Penyelenggaraan otonomi daerah adalah dalam rangka perjuangan negara Indonesia untuk mencapai:
a. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sepenuhnya merdeka, bebas dari segala bentuk penjajahan dan keter-gantungan baik dari negara lain maupun semua negara di dunia; b. Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia;
c. Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial; e. Barang dan jasa yang dihasilkan Indonesia mampu bersaing
di pasar dunia.
Pada dasarnya pembangunan daerah terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
1. Perencanaan;
2. Persiapan kelembagaan dan sarana untuk pelaksanaan; 3. Pelaksanaan pembangunan berdasarkan rencana;
4. Evaluasi pembangunan, mulai dan perencanaan sampai dengan hasil pembangunan.
Masing-masing bagian terdiri atas unsur-unsur yang perlu dirumuskan secara tepat, jelas dan mudah dimengerti agar dapat dilaksanakan secara baik oleh para pelaksana.
Otonomi yang dilaksanakan di Indonesia adalah otonomi pemerintahan (tugas-tugas ekskutif) di bidang ekonomi, politik (terbatas pada pilkada), administratif, sosial dan budaya serta ketertiban, sesuai dengan keragaman dan keunikan keadaan ekonomi, sosial dan budaya masing-masing daerah. Meskipun otonomi daerah tidak diarahkan untuk otonomi politik (penentuan nasib sendiri) dan pertahanan. Tidak berarti bahwa keadaan dan kebijaksanaan politik dan pertahanan di daerah otonom dikendalikan dan menjadi wewenang Pemerintah Pusat sepenuhnya tanpa memperhatikan kepentingan daerah dan tanpa koordinasi dengan Pemerintah Daerah. Untuk menunjang pembangunan daerah dan menjamin pelaksanaan otonomi maka seluruh aparat pemerintah yang di daerah berada di bawah koordinasi Kepala Pemerintahan Daerah. Tujuan pembangunan daerah adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan keadaan ekonomi daerah sehingga mandiri di dalam bidang ekonomi untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah;
2. Meningkatkan keadaan sosial daerah untuk mencapai kesejahteraan sosial secara adil dan merata bagi seluruh anggota masyarakat di daerah;
3. Mengembangkan setiap ragam budaya daerah sehingga menjamin kelestarian budaya daerah diantara budaya-budaya nasional Indonesia lainnya;
4. Meningkatkan dan memelihara keamanan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan peningkatan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, kualitas lingkungan hidup dan meningkatkan kesejahteraan seluruh anggota masyarakat seutuhnya;
5. Membantu pemerintah pusat dalam mempertahankan, memelihara dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Tujuan dan prinsip pelaksanaannya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Prinsip Pembangunan Daerah
Prinsip-prinsip pembangunan daerah adalah bagian dari rambu-rambu yang telah ditentukan bagi pelaksanaan pembangunan daerah. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. 33 Th. 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta ketentuan-ketentuan lain yang terkait dengan pelaksanaan pemerintahan daerah di berbagai bidang adalah rambu-rambu yang harus ditaati oleh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan daerah.
Adapun prinsip-prinsip penyelenggaraan pembangunan daerah secara umum adalah sebagai berikut:
1. Tetap berada di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2. Tetap menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dan negara; 3. Demokratisasi dalam setiap bidang kehidupan bernegara; 4. Pemerataan dan keadilan dalam berperan serta pada
pembangunan daerah serta dalam memperoleh manfaat yang dihasilkannya;
5. Masyarakat, kelompok usaha kecil dan kelompok usaha menengah lebih dipacu untuk berperan serta secara aktif pada setiap kegiatan pembangunan;
6. Memanfaatkan secara bijaksana semua potensi sumberdaya nasional yang berada di daerah sesuai dengan fungsi dan keadaan masing-masing sumberdaya;
7. Sesuai dengan keragaman keadaan daerah;
8. Sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat, baik secara desentralisasi, dekonsentrasi maupun dalam rangka pembantuan;
9. Bekerjasama di bidang ekonomi, sosial, budaya dan bidang kegiatan yang lain dengan semua daerah lainnya;
10. Pemerintahan yang baik, berarti pemerintahan daerah otonom harus dilaksanakan secara tepat guna, efisien dan memiliki produktifitas yang tinggi serta lepas dari korupsi, kolusi dan nepotisme;
11. Investasi disertai ketentuan untuk meningkatkan penggunaan sumber daya yang dihasilkan dan yang berada di daerah masing-masing agar nilai tambah yang dihasilkan dari adanya investasi tersebut lebih banyak dinikmati masyarakat setempat dan membantu pembangunan daerah;
12. Pelaku pembangunan daerah adalah: a. Pemerintah Daerah;
b. Masyarakat;
c. Badan hukum swasta; d. Pemerintah Provinsi;
e. Pemerintah pusat dengan dana sendiri atau dan lain; f. Organisasi internasional dan negara lain.
Pembangunan daerah adalah pembangunan yang dibiayai oleh dana dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat.
B. Perencanaan
Pembangunan daerah berarti usaha untuk melakukan perubahan keadaan daerah menuju perbaikan. Pembangunan itu sendiri diharapkan berkelanjutan menuju peningkatan kemajuan daerah terutama kesejahteraan masyarakat penghuninya, oleh karenanya pembangunan itu sendiri perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya.
Untuk melaksanakan pembangunan daerah dengan cara dan untuk memperoleh hasil yang sebaik-baiknya, aparat pemerintahan daerah perlu memahami ketentuan-ketentuan mengenai wewenang pemerintahan daerah dalam urusan pemerintahan dan ketentuan serta metoda perencanaan. Sumber dana pembangunan dan pelaksanaan pembangunan daerah. Wewenang pemerintahan daerah pada urusan pemerintahan, ditetapkan dengan beberapa peraturan perundang-undangan, terutama:
a. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah;
b. PP. No.38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Pemerintahan Provinsi menyelenggarakan urusan pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi, sedangkan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dan pemerintahan daerah yang lebih rendah menyelenggarakan urusan pemerintahan berdasarkan asas desentralisasi dan tugas pembantuan.
PP No. 38 tahun 2007 adalah salah satu penjabaran dari dari UU No. 32 tahun 2004. Pembagian urusan pemerintahan tercantum pada Bab III, terdiri atas 8 pasal, pasal 4 sampai dengan pasal 12. Ketentuan yang lebih rinci mengenai kegiatan urusan pemerintahan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi dan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota tercantum pada lampiran PP ini. Sedangkan bidang kegiatan sebagai sasaran penyelenggaraan urusan pemerintahan masih tetap terbagi atas sektor-sektor sesuai dengan ketetapan peraturan perundang-undangan sebelumnya.
Pasal 4
(1) Pembagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan;
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengaturan teknis untuk masing-masing sub-bidang dan sub-sub bidang urusan pemerintahan diatur dengan peraturan menteri/kepala lembaga pemerintahan non-departemen yang membidangi urusan pemerintahan yang bersangkutan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri.
Selanjutnya, dengan pasal 6 dan 7 ditetapkan bahwa urusan pemerintahan yang menjadi wewenang pemerintahan daerah Provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota terdiri atas urusan
wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib adalah urusan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah. Urusan wajib meliputi bidang-bidang: a. pendidikan; b. kesehatan; c. pertanahan; d. pekerjaan umum; e. penataan ruang; f. perencanaan pembangunan; g. perumahan;
h. kepemudaan dan olah-raga; i. penanaman modal;
j. kependudukan dan catatan; k. ketenagakerjaan; l. ketahanan pangan; m. sosial; n. perhubungan; o. statistik; p. kebudayaan;
q. komunikasi dan informatika; r. lingkungn hidup;
s. kearsipan; t. perpustakaan;
u. pemberdayaan masyarakat dan desa;
v. koperasi, usaha kecil dan usaha menengah; w. keluarga berencana dan keluarga sejahtera; x. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; y. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;
z. otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian. Urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.
Urusan pilihan meliputi bidang: a. kelautan dan perikanan; b. pertanian;
c. kehutanan;
d. energi dan sumberdaya mineral; e. pariwisata;
f. industri;
g. perdagangan; dan h. keimigrasian.
Penentuan urusan pilihan ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan pada pasal 7.
Urusan pemerintahan lintas daerah adalah urusan pemerintahan yang menimbulkan dampak pada lebih dari satu daerah. Urusan pemerintahan lintas daerah diselenggarakan oleh pemerintahan daerah yang terkait berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, sesuai dengan ketentuan pada pasal 13. Dampak yang ditimbulkan dapat menguntungkan atau merugikan kedua-belah atau salah satu pihak.
Urusan pemerintahan sisa adalah urusan pemerintahan yang tidak tercantum pada PP 38 ini. Untuk mengelola penyelenggaraan urusan sisa, pemerintahan daerah perlu terlebih dahulu mengusulkan Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri.
Pemerintah Pusat berkewajiban melakukan pembinaan kepada pemerintahan daerah untuk mendukung kemampuan pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Apabila setelah dibina secara memadai, pemerintahan daerah masih juga belum mampu menyelenggarakan, maka penyelenggaraan urusan pemerintahan wewenang peme rintahan daerah yang dimaksud untuk sementara diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Provinsi. Pemerintahan Daerah Provinsi melaksanakan penyelenggaraan urusan peme-rintahan pada skala wilayah Provinsi, sedangkan Pemepeme-rintahan Daerah Kabupaten/Kota melaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan pada skala wilayah kabupaten/kota.
Peraturan mengenai perencanaan pembangunan daerah yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat antara lain adalah:
a. UU no. 25 th.2004 tentang perencanaan pembangunan; b. PP.no. 39 th.2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan;
c. PP no. 40 th. 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;
d. UU no.17 th. 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005 – 2025;
Ketentuan tersebut menetapkan sistematika perencanaan sebagai berikut:
Skala Nasional:
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional berjangka waktu 20 tahun;
b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional, jangka waktu 5 tahun;
c. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) ,berjangka waktu satu tahun.
Skala Kementerian/Departemen (K) dan Lembaga Pemerintah non-Departemen (L):
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kementerian/ Departemen/LPND, jangka waktu 20 tahun;
b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kementeri-an/Departemen/LPND, disebut Renstra Kementerian/ Departemen/LPND, jangka waktu 5 tahun;
c. Rencana Kerja Tahunan disebut Renja Kementerian/ Departemen/LPND, jangka waktu satu tahun.
Skala Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi atau Kabupaten/ Kota, jangka waktu 20 tahun; b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Provinsi atau Kabupaten/ Kota jangka waktu 5 tahun;
c. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi atau Kabupaten/Kota, jangka waktu satu tahun.
Skala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) SKPD Provinsi atau Kabupaten/Kota, jangka waktu 20 tahun;
b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) disebut Renstra SKPD Provinsi atau Kabupaten/ Kota, jangka waktu 5 tahun.
Rencana Kerja Tahunan SKPD disebut Renja SKPD Provinsi atau Kabupaten/ Kota, jangka waktu satu tahun.
Berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 menggariskan, bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan daerah disusun secara berjangka meliputi:
1. Rencana pembangunan jangka panjang dengan RPJP daerah untuk jangka waktu 20 (dua puluh tahun) yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan daerah yang mengacu kepada RPJP Nasional;
2. Rencana pembangunan jangka menengah daerah yang selanjut-nya disebut RPJM daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional;
3. RPJM daerah memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program satuan kerja perangkat daerah, lintas satuan kerja perangkat daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif; 4. Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) merupakan penjabaran dari RPJM daerah untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat, dengan mengacu kepada rencana kerja Pemerintah.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga menggariskan bahwa satuan kerja perangkat daerah menyusun rencana strategis (Renstra
SKPD) memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya berpedoman pada RPJM Daerah. Renstra SKPD dirumuskan dalam bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat daerah yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Ruang lingkup rencana pembangunan daerah pada dasarnya mencakup semua rencana pembangunan yang dilakukan terhadap daerah yang bersangkutan, termasuk semua rencana kegiatan pembangunan yang dibiayai oleh dana dari pemerintah pusat, pemerintah daerah Provinsi, pemerintah daerah kabupaten atau kota, badan usaha pemerintah, swasta, masyarakat dan lain sebagainya. Metoda yang digunakan dalam perencanaan sesuai dengan sistem pembangunan daerah yang akan diterapkan. Terdapat dua sistem pembangunan yang berbeda, yakni: Pertama, sistem pembangunan “agregative”: pembangunan daerah adalah gabungan dari semua kegiatan pembangunan di semua sektor, dan wilayah dalam bidang kegiatan yang hidup di daerah yang bersangkutan. Adapun kegiatan pada masing-masing sektor, bahkan sub-sektor dan sub-sub sektor dan wilayah ditetapkan masing-masing mandiri. Kedua, adalah sistem pembangunan terpadu dan terencana. Setiap kegiatan pembangunan secara kuat terkait dengan kegiatan pembangunan lain, baik dalam kelompok kegiatan, sub sektor, bahkan dengan kegiatan dalam sektor lain. Keterkaitan tersebut bersifat saling tergantung atau saling mendukung.
Berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 2001, perencanaan pembangunan terdiri dan empat tahapan, yakni: penyusunan rencana; penetapan rencana; pengendalian pelaksanaan rencana; dan evaluasi pelaksanaan rencana.
Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang terdiri dari 4 (empat) langkah. Pertama, penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik, menyeluruh, dan terukur. Kedua, masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang yang telah disiapkan. Ketiga, melibatkan masyarakat dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Keempat, penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan.
Penetapan rencana merupakan tahapan perencanaan pembangunan yang menetapkan rencana menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. Rencana pem-bangunan jangka panjang nasional/daerah ditetapkan sebagai undang-undang/ peraturan daerah; rencana pembangunan jangka menengah nasional/ daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah, dan rencana pembangunan tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah.
Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. Selanjut-nya, Menteri/ Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah. Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan. Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang sudah tercantum.
Perencanaan memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam pembangunan daerah. Perencanaan yang baik menjadikan kegiatan pembangunan daerah:
1. dilaksanakan secara sistematis, terarah sesuai dengan tujuan pembangunan, dan berkelanjutan;
2. lebih efisien di dalam penggunaan dana, tenaga dan sumber daya yang lain pada setiap kegiatan;
3. lebih tepat guna bagi peningkatan kesejahteraan daerah dan pemeliharaan lingkungan serta sumber daya yang lain untuk tetap mendukung kesejahteraan;
4. memiliki dasar-dasar untuk pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan;
5. memiliki sarana untuk mencatat dan menilai pelaksanaan dan manfaat kegiatan pembangunan daerah.
Perencanaan tidak berarti hanya pembuatan proyek-proyek atau pengesahan usulan proyek atau kegiatan, dan juga bukan hanya untuk membagi-bagi dana dan sarana yang disediakan untuk pembangunan daerah.
Pelaku pembangunan daerah adalah pemerintah daerah, masyarakat, badan hukum swasta, pemerintah Provinsi, pemerintah pusat dengan meng- gunakan dana dari pemerintah pusat sendiri atau sumberdaya dari luar negeri. Oleh karenanya perencanaan pembangunan daerah juga harus mencakup semua rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh semua pelaku pembangunan daerah. Kegiatan perencanaan sendiri juga harus dikendalikan dan diawasi agar tidak menjadikan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah lebih berbelit-belit, lebih mahal dan lebih birokratis.
Penyusunan rencana pembangunan dan pelaksanaan pembangunan daerah adalah kegiatan terus menerus tanpa henti. Seluruh kegiatan tersebut membentuk siklus umum seperti terlukis pada gambar 1.
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mengatur masalah susunan, kedudukan, tugas pokok organisasi perangkat daerah dengan besaran organisasi perangkat daerah ditetapkan berdasarkan variabel:
1. jumlah penduduk; 2. luas wilayah; dan
3. jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan berpedoman kepada peraturan pemerintah No. 41/2007. Dalam mengatur dan mengurus perencanaan pembangunan daerah, pemerintah dapat membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) (menurut nomenklatur PP No. 41/2007). Bappeda merupakan unsur perencana penyelenggaraan pemerintahan daerah. Bappeda mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. Bappeda dalam melaksanakan tugas tersebut di atas menyelenggarakan fungsi: 1. perumusan kebijakan teknis perencanaan;
2. pengoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan; 3. pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang perencanaan
pembangunan daerah; dan
4. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Bappeda dipimpin oleh Kepada Badan. Kepala Badan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur melalui Sekretaris Daerah.
Di samping tugas dan fungsi seperti yang digariskan pada Pasal 6 PP 41/2007 di atas, Bappeda juga harus merujuk kepada Keputusan Presiden No. 35 Tahun 1973 di mana Bappeda dapat menjalankan tugas dan fungsi sebagai berikut:
1. Menyusun rencana-rencana pembangunan daerah untuk jangka panjang, jangka sedang, maupun jangka tahunan;
2. Melakukan koordinasi perencanaan dan mengusahakan keserasian di antara rencana-rencana bagian sektoral maupun wilayah dan mengadakan pengintegrasian rencana-rencana tersebut ke dalam rencana Pembangunan Daerah;
3. Menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) bersama-sama dengan organisasi teknis dan organisasi fungsional yang setara dalam koordinasi Sekretaris Pemerintah Daerah;
4. Menyusun kebijaksanaan perkreditan dan kebijaksanaan penanaman modal bersama-sama dengan lembaga-lembaga yang bersangkutan;
5. Menyusun kebijaksanaan penerimaan dan penggunaan kredit dan bantuan dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Pusat dan bantuan lain, untuk pembangunan bersama-sama dengan lembaga-lembaga yang bersangkutan;
6. Mengamati persiapan dan perkembangan pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah serta mengusahakan sinkronisasi di antara program-program serta proyek-proyek;
7. Melakukan penilaian pelaksanaan rencana pembangunan daerah dengan mempertimbangkan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan pada program-program dan proyek-proyek;
8. Melakukan usaha-usaha survey dan penelitian yang diperlukan di dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas perencanaan serta penilaian Pembangunan Daerah;
9. Melakukan kegiatan-kegiatan lain yang ditugaskan oleh Kepala Pemerintah Daerah.
Secara teknis, perencanaan pembangunan daerah terdiri atas kegiatan-kegiatan yang dapat dikelompokan menjadi unsur-unsur perencanaan sebagai berikut:
1. Persiapan perencanaan; 2. Pengumpulan dan analisis data;
3. Penentuan hasil yang diharapkan dari pembangunan daerah