Kelompok 13: Ersi Syaulla
A. Tujuan dan Manfaat Psikologi a Tujuan Psikolog
Psikologi peserta didik bertujuan :
J Memberikan, mengukur dan menerangkan perubahan dalam tingkah laku serta kemampuan yang sedang berkembang sesuai dengan tingkat usia dan yang mempunyai ciri-ciri universal, dalam
artian yang berlaku bagi anak-anak di mana saja dan dalam lingkungan social-budaya mana saja.
Mempelajari karakteristik umum perkembangan peserta didik, baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial.
Mempelajari perbedaan-perbedaan yang bersifat pribadi pada tahapan atau masa perkembangan tertentu.
Mempelajari tingkah laku anak pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang berbeda.
Khusus bagi guru, berguna untuk:
1. Dapat memilih dan memberikan materi pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik pada tiap tingkat perkembangan tertentu.
2. Dapat memilih metode pengajaran dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan pemahaman murid – murid. b. Manfaat Psikologi
Psikologi perkembangan peserta didik adalah sebuah disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari tentang perkembangan tingkah peserta didik dalam interaksinya dengan lingkungan. Manfaat mempelajari perkembangan peserta didik diantaranya:
Pengetahuan tentang perkembangan dapat membantu kita dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu seorang anak.
Pengetahuan tentang perkembangan peserta didik dapat membantu guru mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya dimulai.
Dengan mengetahui pola normal perkembangan, memungkinkan para guru untuk sebelumnya mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.
Pengetahuan tentang perkembangan memungkinkan para guru memberikan bimbingan belajar yang tepat kepada anak.
Studi perkembangan dapat membantu kita memahami diri sendiri. B. Tujuan dan Manfaat Psikologi
c. Tujuan Psikologi
Psikologi peserta didik bertujuan :
J Memberikan, mengukur dan menerangkan perubahan dalam tingkah laku serta kemampuan yang sedang berkembang sesuai dengan tingkat usia dan yang mempunyai ciri-ciri universal, dalam artian yang berlaku bagi anak-anak di mana saja dan dalam lingkungan social-budaya mana saja.
Mempelajari karakteristik umum perkembangan peserta didik, baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial.
Mempelajari perbedaan-perbedaan yang bersifat pribadi pada tahapan atau masa perkembangan tertentu.
Mempelajari tingkah laku anak pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang berbeda.
Khusus bagi guru, berguna untuk:
3. Dapat memilih dan memberikan materi pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik pada tiap tingkat perkembangan tertentu.
4. Dapat memilih metode pengajaran dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan pemahaman murid – murid. d. Manfaat Psikologi
Psikologi perkembangan peserta didik adalah sebuah disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari tentang perkembangan tingkah peserta didik dalam interaksinya dengan lingkungan. Manfaat mempelajari perkembangan peserta didik diantaranya:
Pengetahuan tentang perkembangan dapat membantu kita dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu seorang anak.
Pengetahuan tentang perkembangan peserta didik dapat membantu guru mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya dimulai.
Dengan mengetahui pola normal perkembangan, memungkinkan para guru untuk sebelumnya mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.
Pengetahuan tentang perkembangan memungkinkan para guru memberikan bimbingan belajar yang tepat kepada anak.
Studi perkembangan dapat membantu kita memahami diri sendiri.
C. Pengaruh Lingkungan terhadap Individu Peserta Didik
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar.
Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraian berikut :
a. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial
Yang dimaksud dengan lingkungan pada uraian ini hanya meliputi orang-orang atau manusia-manusia lain yang dapat memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi, sehingga kenyataannya akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya.
Terputusnya hubungan manusia dengan masyarakat manusia pada tahun-tahun permulaan perkembangannya, akan mengakibatkan berubahnya tabiat manusia sebagai manusia. Berubahnya tabiat manusia sebagai manusia dalam arti bahwa ia tidak akan mampu bergaul dan bertingkah laku dengan sesamanya.
Dapat kita bayangkan andaikata seorang anak manusia yang sejak lahirnya dipisahkan dari pergaulan manusia sampai kira-kira berusia 10 tahun saja, walaupun diberinya cukup makanan dan minuman, akan tetapi serentak dia dihadapkan kepada pergaulan manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mampu berbicara dengan bahasa yang biasa, canggung pemalu dan lain-lain. Sehingga kalaupun dia kemudian dididik, maka penyesuaian dirinya itu akan berlangsung sangat lambat sekali.
b. Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu
Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai :
1) Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh: air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu teman ketika berkunjung ke rumah.
2) Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh: air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara-cara untuk mengatasinya.
3) Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh: seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin.
4) Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh: dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga di kamarnya menjadi sejuk. Dalam hal ini, individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh: seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.
2. Wawasan Budaya Peserta Didik
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya melalui belajar. Pengembangan budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk pembentukan sikap peserta didik serta seluruh stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh warga sekolah. Pengembangan budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh
kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan stakeholder sekolah baik itu kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Pengembangan budaya sekolah pada akhirnya juga berkaitan sangat erat dengan pembentukan sikap peserta didik dan menciptakan suasana sekolah yang kondusif bagi seluruh peserta didik dilingkungan sekolah.
Maka, tantangan utama kepala sekolah dalam mengembangkan budaya sekolah adalah membangun suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, staf, orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. Komunikasi dan interaksi yang sehat memilki dua indikator yaitu intensitas dan kedalaman materi yang dibahas. Di samping itu, kepala sekolah perlu mengembangkan komunikasi multi arah untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya secara optimal. Dalam menunjang pengembangan budaya sekolah kepala sekolah hendaknya menegakkan lima prinsip sebagai berikut:
a. Selalu berorientasi pada pencapain tujuan; mengembangkan visi misi dengan jelas.
b. Menerapkan kepemimpinan partisipatif dengan memperluas peran pendidik dalam pengambilan keputusan.
c. Berperan sebagai kepala sekolah yang inovatif dengan meningkatkan keyakinan bahwa pendidik dapat mengembangkan prilaku yang mendukung perubahan.
d. Memerankan kepemimpinan yang meyakinkan pendidik sehingga mereka berpendapat bahwa kepala sekolahnya “benar” menunjang efektivitas mereka bekerja.
e. Mengembangkan kerja sama yang baik antar pendidik dalam interaksi formal maupun informal. Keberhasilan pengembangan budaya sekolah ditentukan dengan efektivitas komunikasi dan interaksi kepala sekolah dengan pemangku kepentingan sehingga membangkitkan kepatuhan, disiplin, dan motif berpartisipasi untuk mewujudkan keunggulan.
3. Wawasan Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri individu. Adapun lingkungan pengajaran merupakan segala apa yang bisa mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat digunakan sebagai “sumber pengajaran” atau “sumber belajar”. Bukan hanya guru dan buku / bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar.
Apa yang dipelajari peserta didik tidak hanya terbatas pada apa yang disampaikan guru dan apa yang ada dalam textbook. Banyak hal yang dipelajari dan dijadikan sumber belajar peserta didik. Pengajaran yang tidak menghiraukan prinsip lingkungan akan mengakibatkan peserta didik tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan tempat ia hidup. Pengetahuan yang mungkin ia kuasai belum menjamin pada bagaimana ia menerapkan pengetahuannya itu bagi lingkungan yang ia hadapi (Asia, 2007:15). Ada dua macam cara menggunakan lingkungan sebagai sumber pengajaran / belajar:
a. Membawa peserta didik dalam lingkungan dan masyarakat untuk keperluan pelajaran (karyawisata, service projects, school camping, interviu, survei)
b. Membawa sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas pengajaran untuk kepentingan pelajaran (resource persons, benda-benda seperti pameran atau koleksi)
Usaha – usaha lain yang dapat dilakukan untuk melaksanakan prinsip lingkungan diantaranya sebagai berikut:
1. Memberi pengetahuan tentang lingkungan peserta didik
2. Mengusahakan agar alat yang digunakan berasal dari lingkungan yang dikumpulkan baik oleh guru maupun peserta didik
3. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melaksanakan penyelidikan sesuai dengan kemampuannya melalui bacaan-bacaan dan observasi, kemudian mengekspresikan hasil penemuannya dalam bentuk percakapan, karangan, gambar, pameran, perayaan, dan sebagainya.
Interaksi antara sains, teknologi, dan lingkungan mengakibatkan berkembangnya pemikiran tentang proses belajar baik menyangkut tujuan dan teknik mengajar. Melalui pendidikan fisika , peserta didik harus dilatih
menghadapi masalah yang menyangkut kehidupan di masyarakat agar kemampuan intelektual dan keterampilannya dapat berkembang.Pendidikan sains/ fisika dalam era globalisasi ini mengemban dua tujuan ialah mengembangkan intelektual dan meningkatkan kesiapan untuk hidup bermasyarakat. Untuk maksud itu proses belajar mengajar fisika harus dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mensintesakan pengetahuan fisika dengan isu di masayarakat dan mengambil keputusan yang ilmiah, logis dan dapat diterima masyarakat umum. Pendekatan pendidikan fisika harus ditekankan pada pembentukan keseimbangan diantara:
1) fakta, prinsip dan konsep fisika
2) penggunaan proses intelektual dalam kegiatan pendidikan fisika 3) memanipulasi keterampilan dalam kegiatan pendidikan fisika 4) interaksi antara fisika, teknologi dan masyarakat
5) sistem nilai-nilai yang terkandung dalam sains / fisika 6) minat dan sikap individu terhadap masalah sains / teknologi
Holman mengajukan suatu model pembelajaran fisika berwawasan lingkungan. Menurut model Holman pembelajaran dimulai dari penjelasan keilmuwannya (sains) kemudian aplikasi dan membahas peristiwa di alam sekitar. Menurut model tersebut terdapat 4 fase yang harus dilalui dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
Fase 1. Mengundang peserta didik untuk mempelajari suatu masalah sains dan