Kelompok 1
Nama : - Dewi Indah Nurmalasari 12211210097 - Euis Yulianti 12211210604
Pendidik Memiliki Tanggung Jawab Terhadap Pelaksanaan dan Hasil Pekerjaannya
Tugas utama seorang guru diantaranya adalah menciptakan suasana atau iklim proses pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat (Djamarah, 1997: 1).
Menurut Rosmali (2005), tugas seorang guru itu mencakup beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
1. Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian.
Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan, dan bidang kemasyarakatan.
2. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
3. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadi dirinya sebagai orangtua kedua. Guru harus mampu menarik simpati sehingga guru tersebut menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam belajar.
4. Guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukkan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila (Usman, 1998: 7).
pergeseran nilai yang cenderung memberi nuansa kepada kehidupan yang menuntut ilmu dan seni dalam kadar dinamik untuk dapat mengadaptasikan diri.
Peters dikutip Sudjana (2002:15), menyebutkan tugas dan tanggungjawab guru, yaitu:
a) guru sebagai pengajar,
b) guru sebagai pembimbing, dan c) guru sebagai administrator.
Ketiga tugas guru di atas merupakan tugas pokok profesi guru. Dimana guru sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Sedangkan guru sebagai administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan antara pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya.
Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi pada dasarnya ialah tuntutan dan panggilan untuk selalu mencintai, menghargai, menjaga, dan meningkatkan tugas dan tanggung jawab profesinya. Guru harus sadar bahwa tugas dan tanggung jawab tidak bisa dilakukan orang lain, kecuali oleh dirinya. Demikian pula ia harus sadar bahwa dalam melaksanakan tugasnya selalu dituntut untuk bersungguh-sungguh dan bukan pekerjaan sambilan. Guru harus sadar bahwa yang dianggap baik dan benar saat ini, belum tentu benar di masa yang akan datang.
Oleh karena itu guru dituntut agar selalu meningkatkan wawasan dan pengetahuan, kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas profesinya. Ia harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Dunia ilmu pengetahuan tak pernah berhenti tapi selalu muncul hal-hal yang baru. Guru harus dapat mengikuti perkembangan tersebut, sehingga ia harus lebih dahulu mengetahuinya dari pada siswa dan masyarakat pada umumnya
Tanggung jawab guru menurut Hamalik (2004: 127), yaitu sebagai berikut:
3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah).
4. Memberikan bimbingan kepada murid.
5. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.
6. Menyelenggarakan penelitian.
7. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif.
8. Menghayati, mengamalkan, dan mengamankan Pancasila.
9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia.
10. Turut menyukseskan pembangunan.
Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru. Bertitik tolak dari tanggungjawab guru yang telah dikemukakan di atas maka dengan demikian guru sangat perlu meningkatkan peranan dan kemampuan profesionalnya. Tanpa adanya kecakapan yang maksimal yang dimiliki oleh guru maka kiranya sulit bagi guru tersebut mengemban dan melaksanakan tanggungjawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya.
Wijaya dkk. (1994:9), menyebutkan beberapa tanggung jawab yang memerlukan sejumlah kemampuan yang lebih khusus dari seorang guru, yaitu:
1. Tanggungjawab moral adalah setiap guru harus memiliki kemampuan menghayati perilaku dan etika yang sesuai dengan moral Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah adalah setiap guru harus menguasai cara belajar-mengajar yang efektif, mampu membuat satuan pelajaran, mampu dan memahami kurikulum dengan baik, mampu mengajar dikelas, mampu menjadi model bagi siswa, mampu memberikan nasihat, menguasai teknik-teknik pemberian bimbingan dan layanan, mampu membuat dan melaksanakan evaluasi dan lain-lain.
3. Tanggungjawab guru dalam bidang kemasyarakatan adalah turut serta menyukseskan pembangunan dalam bidang kemasyarakatan, untuk itu guru harus mampu membimbing, mengabdi kepada dan melayani masyarakat.
Perbedaan pokok antara profesi guru dengan profesi lainnya terletak dalam tugas dan tanggungjawabnya. Tugas dan tanggungjawab tersebut erat kaitannya dengan kompetensi atau kemampuan yang disaratkan untuk memangku profesi tersebut. Kemampuan dasar yang dimaksud adalah kompetensi guru.
Guru memiliki tugas dan tanggungjawab yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas guru dalam proses belajar-mengajar meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan, dan bidang kemasyarakatan. Sedangkan tanggung jawab guru adalah menuntut siswa untuk giat belajar, melakukan pembinaan dan bimbingan dan lain-lain.
Untuk itu guru harus memiliki kecakapan dalam membimbing peserta didik. Di dalam mengajar akan lebih berhasil kalau disertai dengan kegiatan bimbingan yang banyak berpusat pada kemampuan intelektual, guru perlu memiliki pengetahuan yang memungkinkan dapat menetapkan tingkat perkembangan setiap anak didiknya, baik perkembangan emosi, minat dan kecakapan khusus maupun dalam prestasi fisik dan sosial.
Kelompok 2:
Mia Syarifah Islamiati (1211210119) Vina Selfiana (12211210948)
Guru Harus Memilki Keadilan Kepada Siapa Saja Yang Menjadi Haknya
Pendidikan merupakan isu paling hangat di dunia manapun karena menyangkut penyiapan sumber daya manusia setiap bangsa. Pendidikan menjadi sangat penting setiap saat karena berhubungan langsung dengan zaman dan perubahannya yang tiada henti. Itulah mengapa pendidikan dewasa ini sangat erat hubungannya dengan pesatnya perkembangan ICT. Bagaimana pula guru-guru di era globalisasi ini harus menyikapinya?
Anak-anak adalah harapan bangsa, untuk itu mereka mempunyai hak memperoleh pendidikan, sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UUD 1945 (amandemen) ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Bahkan dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 49 menegaskan bahwa Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. Dalam pasal ini malah tidak boleh ada satupun hal yang bisa menghambat anak untuk memperoleh pendidikan. Termasuk di dalamnya keluarga dan orang tua.
UU No. 20 Tahun 2003 Sisdiknas Pasal 5, ayat (1) menjelaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk itu, jika memang guru bertekad memberikan keadilan bagi semua anak bangsa, maka guru wajib memberikan mutu terbaik untuk peserta didik. Mutu yang baik tidak harus dilaksanakan di sekolah mahal.
Adil secara harfiyah bermakna sama. Menurut kamus Bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan yang sepatutnya.
Dalam kontek pengertian tersebut, menjadi guru yang adil berarti guru harus berpandangan bahwa semua anak didik mempunyai kedudukan yang sama di hadapannya. Secara umum memperlakukan mereka sama dan tidak membeda-bedakan. Guru hanya berpihak kepada kepentingan dan kebutuhan anak didik, bagaimana memberikan “sesuatu” yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak. Guru harus berpegang teguh kepada kebenaran dan bertindak atas dasar kepatutan dan kepantasan. Sebagaimana pepatah dalam bahasa jawa, guru tidak boleh berlaku “Mban cinde mban siladan”. Maksud dari ungkapan ini adalah, menjadi guru yang adil berarti guru tidak sepantasnya memperlakukan satu atau beberapa anak didik secara istimewa dan terhadap yang lainnya biasa-biasa saja bahkan cenderung tidak memberikan perhatian.
Hakikat Keadilan
Dari banyaknya etimologi dan terminologi tentang adil dapat disimpulkan, sekurang-kurangnya ada tiga hakikat keadilan. Ketiganya adalah :
1. Adil dalam pengertian sama (al-musawat)
2. Adil dalam pengertian keseimbangan (at-tawazun) dan
3. Adil dalam pengertian “perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikann hak-hak itu kepada setiap pemiliknya.
Implentasi Adil Dalam Proses Menjadi Guru Yang Adil
Keadilan tidak hanya harus ditegakkan dalam dunia hukum dan pemerintahan. Keadilan dapat ditegakberdirikan di mana saja, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Dan dalam dunia pendidikan, salah satu pilar penegak keadilan adalah guru. Maka, menjadi guru yang adil adalah sebuah keniscayaan.
Agar dapat menjadi guru yang adil maka tiga hakikat keadilan sebagaimana yang tersebut sebelumnya harus diimplementasikan dalam proses pembelajaran dengan anak didik.
1. Perlakukan yang sama
Anak didik mempunyai hak diperlakukan sama oleh guru. Oleh karenanya guru harus bertindak dengan tidak membedakan di antara anak didiknya dalam hal kesempatan mendapatkan ilmu. Laki-laki atau prempuan, kaya atau miskin, sempurna atau berkebutuhan khusus, kota atau desa, dan sebagainya mempunyai hak yang sama dalam hal mendapatkan memperoleh pembelajaran yang maksimal dari guru.
Termasuk dalam kontek ini, guru harus tidak membeda-bedakan asal usul suku, ras, agama dan golongan anak didik. Apapun warna kulitnya, berasal dari suku dan ras apapun mereka, mempunyai keyakinan dan agama apapun yang dianut serta dari golongan manapun, anak didik berhak mendapat pembelajaran apapun dari guru tanpa pengecualian.
Untuk menjadi guru yang adil maka langkah pertama adalah memberikan pembelajaran kepada seluruh siswa tanpa kecuali dengan kualitas yang sama.
2. Adil dalam keseimbangan
Proses pembelajaran bertujuan menghasilkan output yang sebaik-baiknya. Siapapun anak didik yang terlibat dalam proses pembelajaran diharapkan menjadi lulusan yang berkualitas. Dalam kontek inilah, adil dalam keseimbangan dapat diterapkan oleh guru yang ingin menjadi guru yang adil.
antara mereka ada anak yang tergolong berkebutuhan khusus. Terhadap mereka, tentu guru harus memberikan “perlakuan khusus”.
Kepada anak didik yang mempunyai daya tangkap dan kecerdasan rendah, siapapun yang ingin menjadi guru yang adil, maka ia harus memberikan perhatian lebih dan memberikan pembelajaran dengan intensitas dan kualitas yang lebih pula. Mereka harus diperlakukan “berbeda” dengan anak-anak yang berkecerdasan tinggi. Demikian juga terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan keuletan yang cukup dalam memberikan pembelajaran kepada mereka.
3. Adil dalam hak-hak individu
Anak didik diciptakan Allah dengan segala keberbedaan antara satu dan yang lainnya. Mereka mempunyai potensi, bakat, minat dan kecenderungan yang berbeda. Tentu saja dalam kontek ini, hak-hak yang harus mereka dapatkan menjadi berbeda. Oleh karenanya, guru sesuai kemampuan harus dapat memfasilitasi segala keberbedaan yang dimiliki anak didik.
Dengan memberikan fasilitas yang memadai maka anak didik akan berkembang sesuai dengan potensi, bakat, minat dan kecenderungan mereka. Mengarahkan anak didik agar berkembang namun tidak sesuai dengan potensi, bakat, minat dan kecenderungan merupakan tindakan memaksakan kehendak dan tindakan ketidakadilan.
Untuk anak didik SLTA, memberikan banyak pilihan jurusan adalah bentuk keadilan dalam kontek ini. Anak didik diberi kebebasan untuk memilih jurusan sesuai potensi yang dimiliki adalah tindakan adil. Guru memberikan bimbingan secukupnya agar anak didik tepat dalam jalur potensi yang dimiliki.
Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah dipaparkan, dapat diambil kesimpulannya sebagai berikut:
2. Menjadi guru yang adil berarti guru harus berpandangan bahwa semua anak didik mempunyai kedudukan yang sama di hadapannya.
3. Implentasi adil dalam proses menjadi guru yang adil yaitu: memberikan perlakuan yang sama, adil dalam keseimbangan, dan adil dalam memberikan hak-hak indiviu.
Kelompok 4:
Bustanul firdaus ( 12211210046) M. Ghazian Lutfi (12211210101)
MENDIDIK AGAR EFECTIVE HARUS DI JIWAI DENGAN NILAI – NILAI YANG HIDUP DALAM LINGKUNGAN PROFESI ITU SENDIRI. Cara Mendidik Efektif
Tujuan akhir pendidikan adalah terbentuknya karakter, yaitu mengetahui yang benar dan bertindak mulia. Mendidik dan mengajar yang efektif adalah mendidik yang dapat membangun karakter. Seoarng pendidik akan mendidik dengan efektif jika pendidik menguasai materi pelajaran yang akan di ajarkannya, memnetukan strategi pembelajaran dengan kebutuhan perkembangan siswa, membuat desain pembelajaran, ahli dalam memotivasi, ahli dalam berkomunikasi, bekrja secara efktif denagn siswa yang berasal dari latar belakang kultur yang berlainan, menguasai teknologi, memiliki komitmen dan motivasi.
Pengertian pembelajaran efektif bukanlah sesuatu yang sederhana atau tentu tidak memadai lagi jika hanya diartikan sebatas transfer of knowledge, justru menjadi penting ketika diartikan sebagai pembelajaran konstruktivistik yang lebih berorientasi pada siswa (student centries). Dalam arti, peserta didik atau si belajar menjadi pusat pembelajaran. Sementara teaching-learning berada melingkari peserta didik tersebut. Keberhasilan teaching learning tergantung pada; (1) enabling environment; (2) knowledge infrastructure; (3) human and physical resource, and (4) school management and governance. Akhirnya hal tersebut di atas sangat ditentukan oleh sebuah kebijakan pendidikan.
Pendapat senada menyatakan bahwa, “Mutu pendidikan ditentukan oleh “Effective Teaching and Learning (ETL)”. ETL itu sendiri dipengaruhi oleh; (1) teacher supply, training, and profesional development support;(2) school leadership internal organization and culture; (3) quality assurance and support system; (4) accountability mechanisms and processes, including school governence; (5) the physical environment of the school; (6) the curriculum and it’s assessment:instructional aid; (7) links and partnerships with parent and the community; and (8) the well-being attendance and motivation of all pupils.
Santrok (2007) mengemukakan bahwa untuk enjadi guru yang efektif perlu di perhtaikan beberapa hal:
1. Pengajaran yang efektif mensyaratkan agar guru menguasai secara utuh ilmu yang diajarkannya, contohnya guru fisika harus menguasai seluruh materi fisika yang diajarkannya.
2. Memperluas perspektif, guru harus yakin bahwa dirinya dapat menjadi guru yang efektif sebagaimana diinginkannya, contohnya guru fisika harus memiliki kepercayaan diri ketika mendidik murid-murid.
3. Guru perlu meningkatkan diri secara terus menerus, contoh; guru fisika terus belajar dan berlatih untuk meningkatkan ilmunya.
1. Pengetahuan dan Keahlian Professional meliputi; Penguasaan terhadap Materi Pelajaran
Guru yang efektif harus memiliki pengetahuan, fleksibel dan memahami materi pelajaran yang di ampu. Penguasaan subjek materi tidak hanya mencakup fakta, istilah dan konsep umum, tetapi mencakup pengetahuan tentang dasar-dasar pengorganisasian materi, mengaitkan berbagai gagasan, cara berfikir dan berargumentasi, pola perubahan dalam satu mata pelajaran, dan kemampuan untuk mengaitkan satu gagasan dari suatu disiplin ilmu ke disipiln ilmu lainnya.
Strategi Pengajaran.
Kontruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun (to construct) pengetahuan dan pemahamannnya. Menurut pandangan konstruksivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran aank, akan tetapi guru mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis. Konstruksivis juga menekankan pada kolaborasi, anak-anak saling bekerja sama untuk menegtahui dan memahami materi pelajaran.
Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Intruksioal.
Guru yang efektif tidak sekadar mengajar di kelas, baik ia menggunakan prespektif tradisional maupun konstruksivis. Namun, guru harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut. Guru juga harus menyusun kriteria tertentu agar sukses. Guru secara matang menyusun rencana instruksional, mengorganisasikan pelajaran agar siswa meraih hasil maksimal dari kegiatan belajarnya. Dalam menyusun rencana pembelajaran, guru harus memikirkan tentang cara agar pelajaran bias menantang sealigus menarik.
Keahlian Manajemen Kelas.
tugas-tugas yang telah dipersiapkan guru untuk mengaktifkan siswa. Guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. Agar lingkungan belajar optimal, guru perlu senantiasa meninjau ulang strategi penataan dan prosedur pengajaran, pengorganisasian kelompok, monitoring, dan mengaktifkan kelas, serta menangani tindakan siswa yang mengganggu kelas.
Keahlian Motivasional.
Guru yang efektif memiliki strategi yang baik untuk memotivasi siswa agar mau belajar. Para ahli psikologi pendidikan semakin percaya bahwa motivasi ini paling baik didorong dengan memberi kesempatan siswa untuk belajar di dunia nyata, agar setiap siswa berkesempatan menemukan sesuatu yang baru dan sulit. Guru yang efektif mengetahui bahwa siswa akan termotivasi saat mereka bias memilih sesuatu yang sesuai dengan minatnya. Guru yang baik akan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir kreatif dan mendalam untuk proyek mereka sendiri.
Keahlian Komunikasi.
Sisi lain yang tak kalah pentingnya dalam mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari siswa, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. Keahlian komunikasi bukan hanya penting untuk bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orangtua siswa. Guru yang efektif menggunakan keahlian komunikasi yang baik saat mereka berbicara dengan siswa, orangtua, administrator, dan lainnya, serta memiliki gaya komunikasi asertif bukan agresif.
Bekerja secara Efektif dengan Siswa dari Latar Belakang Kultural
Berbeda.
Keahlian Teknologi.
Guru yang efektif mampu mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer ke dalam proses belajar mengajar di kelas, menggunakan alat komunikasi melalui komputer seperti internet, mendesain media pembelajaran berbasis komputer, serta menggunakan media ICT lainnya untuk keperluan pembelajaran.
2. Komitmen dan Motivasi.
Menjadi guru yang efektif membutuhkan komitmen dan motivasi. Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada siswa. Guru yang efektif memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya dan tidak membiarkan emosi negatif melunturkan motivasi dirinya.
Cara mendidik efktif terletak pada kunci-kunci berikut ini: A. Proses belajar mengajar yang menyenangkan
Belajar yang menyenangkan tentu saja akan membuat anak tertarik dan tidak akan membuat mereka jenuh. Terutama bagi anak usia dini. Lebih baik untuk menunda kegiatan belajar apabila kita belum bisa menciptakan suasana menyenangkan bagi anak. Karena apabila kita memaksa anak untuk belajar dalam situasi yang menegangkan, hal itu dapat membuat anak frustasi dan menjadi tidak mau belajar, karena merasa trauma dan ketakutan. Pemaksaan bahkan bisa melumpuhkan sel syaraf yang terdapat di otak anak. Setiap pendidik pasti mengharapkan agar anak mendapatkan hasil belajar yang optimal, dan hal itu hanya akan didapatkan apabila anak mempunyai ketertarikan pada apa yang kita ajarkan. Caranya yaitu dengan belajar sambil bermain, bercerita,bernyanyi dan lain sebagainya.
B. Kasih Sayang
sampai kasih sayang yang ia dapatkan setelah ia lahir dan tumbuh dewasa. “Autis” adalah salah satu contoh sebagai akibat dari kurangnya kasih sayang. (Autis terjadi akibat kurang terhubungkannya syaraf –syaraf di pusat otak yang berisi emosi yang mengisi gerakan rasional dan pikiran logis). Hilangnya perasaan cinta pada awal kehidupan juga dapat melemahkan kekuatannya dan membuat pengaruh yang fatal pada otak. Pernyataan ini diperkuat oleh hasil penelitian bahwa ukuran otak anak yang jarang tersiram kasih sayang dan jarang diajak bermain lebih kecil 30% daripada anak normal pada usia yang sama.
C. Disiplin
Disiplin merupakan salah satu elemen penting agar terciptanya efektifitas belajar. Namun disiplin juga harus diterapkan secara konsisten dan ber”sinergi”. Konsisten atau istiqomah diperlukan dalam proses penerapan disiplin. Hilangnya konsistensi akan menghancurkan upaya kita dalam menegakkan disiplin.Satu contoh ,misalnya kita menginginkan satu bentuk tertentu pada sebuah pohon. Kita dapat membentuknya dengan mengikat dahan pohon tersebut dengan tali atau kawat. Namun bayangkan apa yang akan terjadi apabila dalam waktu yang singkat kita telah membuka ikatan itu ? tentu dahan pohon yang diikat tadi akan kembali seperti keadaan semula, bahkan mungkin akan bergerak lebih jauh dari posisi semula. Akan tetapi dengan kesabaran dan ketelatenan kita akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan kita. Itulah sebabnya kenapa pendidikan anak harus dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit sampai anak memahami apa yang kita ajarkan. Karena pendidikan adalah sebuah proses yang sangat panjang dan tak berujung. Selanjutnya kita akan menjelaskan tentang arti dari kata “sinergi”. Sinergi adalah satu bentuk penyatuan energi dari semua pihak yang berkepentingan, dalam hal ini yaitu kerjasama yang berkesinambungan antara orang tua,pihak sekolah serta lingkungan (kakek nenek, saudara, teman bermain, dll). Artinya pendidikan bukan hanya merupakan tanggung jawab orang tua saja, atau tanggung jawab sekolah saja, akan tetapi telah menjadi tanggung jawab bersama,sehingga dalam pelaksanaan disiplinpun harus ada koordinasi yang baik dari semua pihak.
Hukuman dapat diterapkan apabila anak tidak mematuhi aturan yang telah disepakati / tidak disiplin, dengan tujuan agar anak tidak mengulangi perbuatannya.
Ganjaran / hadiah diberikan kepada anak ketika anak berhasil melakukan perbuatan yang baik (menurut norma agama ataupun norma yang berlaku di masyrakat), dengan tujuan untuk memotivasi anak agar mereka mempertahankan bahkan meningkatkan perilaku baiknya menjadi lebih baik.
Kelompok 5 Adnan hidayat Rahmat iskandar
GURU HARUS BERPEGANG PADA RUMUSAN ATURAN ATAU NORMA DALAM MENGEMBAN PROFESI
Pengertian Etika
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat diperlukan suatu sistem atau pedoman yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bargaul atau berhubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Sistem pengaturan pergaulan tersebut dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, adat, dan lain-lain. Secara etismologis, kata etika berasal dari bahasaa Yunani “ethos”, yang artinya adat kebiasaan atau watak kesusilaan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ke-empat), etika diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Etika memuat tentang apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang baik, dan apa yang buruk. Dengan adanya etika perilaku-perilaku baik diatur berdasarkan nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat.
rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, etika dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya. Dengan demikian, etika dapat diartikan sebagai kumpulan nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat tertentu setelah melalui pengkajian secara kritis. Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia.
1. Etika Deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
2. Etika Normatif, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. Etika normatif dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Etika Umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
itu, penerapan lainnya adalah cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tindakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya. Etika khusus dibagi lagi menjadi dua bagian:
1). Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
2). Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.
Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangana dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup. Berikut adalah contoh etika sosial.
a. Sikap terhadap sesama b. Etika profesi
c. Etika politik d. Etika lingkungan e. Etika idiolog
Dengan demikian etika profesi merupakan cabang dari etika khusus yang merupakan produk dari etika sosial.
Prinsip-prinsip etika profesi
1. Tanggung jawab. Etika profesi harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan profesi dan hasilnya, serta bertanggungjawab terhadap dampak dari profesi terhadap masyarakat.
2. Keadilan. Etika profesi dapat menjamin hak siapa saja.
3. Otonomi. Setiap kaum profesional memiliki dan diberi hak kebebasan dalam menjalankan profesinya. Namun, dibatasi oleh tanggung jawab dan komitmen profesional dan tidak mengganggu kepentingan umum.
Kode Etik Profesi
Secara harfiah, kode etik adalah sumber etika, aturan, sopan santun, atau suatu hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Menurut Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian. Pasal 28 undang-undang ini dengan jelas menyatakan bahwa “pegawai negeri sipil mempunyai kode etik sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam dan di luar kedinasaan.” Dalam penjelasan undang-undang tersbut dinyatakan bahwa dangan adanya kode etik ini, pegawai negeri sipil sebagi aparatur Negara, abdi Negara, dan abdi masyarakat mempunyai pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dari uraian tersebut terlihat bahwa kode etik profesi adalah norma-norma, pedoman sikap, tingkah laku yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidup di masyarakat .
Tujuan Kode Etik Profesi
Pada dasarnya tujuan merumuskan kode Etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi profesi itu sendiri. Menurut E. Mulyasa (2009: 44-45), secara umum tujuan mengadakan kode etik adalah sebagai berikut.
a. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak luar atau masyarakat, agar mereka jangan sampai memandang rendah atau remeh terhadap profesi yang bersangkutan. Oleh karena itu, setiap kode etik suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak tanduk atau kelakuan anggota profesi yang dapat mencermakan nama baik profesi terhadap dunia luar. Dari segi ini, kode etik juga sering kali disebut kode kehormatan.
kesejahteraan batin para anggota profesi, kode etik umumnya memberi petunjuk-petunjuk kepada para anggotanya untuk melaksanakan profesinya.
c. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
Tujuan lain kode etik profesi dapat juga berkaitan dengan peningkatan kegiatan pengabdian profesi, sehingga bagi para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdiannya dalam melaksanakan tugasnya.
d. Untuk meningkatkan mutu profesi.
Untuk meningkatkan mutu profesi kode etik juga memuat norma-norma dan anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pengabdian para anggotanya.
e. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi, maka diwajibkan setiap anggota untuk secara aktif berpartisipasi dalam membina organisasi profesi dan kegiatan-kegiatan yang di rancang organisasi.
Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan suatu profesi menyusun kode etik adalah untuk menjunjung tinggi martabat profesi, menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.menjadi pedoman perilaku, meningkatkan pengabdian aggota profesi, dan meningkatkan mutu profesi dan mutu organisasi profesi.
Penetapan Kode Etik
profesi secara otomatis tergabung di dalam suatu organisasi atau ikatan profesional, maka barulah ada jaminan bahwa profesi tersebut dapat dijalankan secara murni dan baik, Karena setiap anggota profesi yang melakukan pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan sanksi.
Kode Etik Profesi Guru Indonesia
Kode etik guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru Indonesia sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksakan tugas sebagai pendidik, anggota masyarakat, dan warga negara. Adapun tujuan mengapa kode etik guru harus ditaati, ialah agar:
1. Para guru memiliki pedoman dalam dalam bertingkah laku sebagai pendidik.
2. Para guru dapat becermin diri mengenai tingkah lakunya. 3. Para guru dapat menjaga perilaku.
4. Guru dengan cepat akan memperbaiki diri apabila melakukan kesalahan.
5. Agar guru menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat umum. Kode etik guru Indonsia ditetapkan dalam suatu kongres, yaitu kongres PGRI XIII di Jakarta pada tahun 1973, kemudian disempurnakan dalam kongres PGRI XVI tahun 1989 di Jakarta. Adapun kode etik Guru Indonesia yang telah disempurnakan adalah sebagai berikut.
Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa, dan negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945, turut bertanggungjawab atas terwujdunya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan mendominasi dasar-dasar sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar-mengajar.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat di sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.
8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
9. Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan.
Berkaitan hubungan guru dengan peserta didik, orang tua/wali, masyarakat, sekolah, profesi, organisasi profesi, dan pemerintah, maka dibuatlah nilai-nilai operasional yang harus dijalannkan oleh guru sebagai berikut.
Hubungan Guru dengan Peserta Didik:
1. Guru berprilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.
2. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak dan kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.
3. Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran. 4. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya
untuk kepentingan proses kependidikan.
yang menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.
6. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
7. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.
8. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.
9. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat peserta didiknya.
10. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
11. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta didiknya.
12. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.
13. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.
14. Guru tidak membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.
15. Guru tidak menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
Hubungan Guru dengan Orangtua/Wali Murid:
1. Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan orangtua/wali siswa dalam melaksanakan proses pendidikan. 2. Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan
objektif mengenai perkembangan peserta didik.
3. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan orangtua/walinya.
4. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpartisipasi dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan. 5. Guru bekomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai
kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.
6. Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi denganya berkaitan dengan kesejahteraan, kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.
7. Guru tidak melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
Hubungan Guru dengan Masyarakat:
1. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif, dan efisien dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.
2. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.
3. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. 4. Guru bekerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan
prestise dan martabat profesinya.
6. Guru mememberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.
7. Guru tidak membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada masyarakat.
8. Guru tidak menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupan bermasyarakat.
Hubungan Guru dengan Sekolah dan Rekan Sejawat:
1. Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
2. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses pendidikan.
3. Guru menciptakan suasana sekolah yang kondusif.
4. Guru menciptakan suasana kekeluargaan di didalam dan luar sekolah. 5. Guru menghormati rekan sejawat.
6. Guru saling membimbing antar sesama rekan sejawat.
7. Guru menjunjung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan dengan standar dan kearifan profesional.
8. Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk tumbuh secara profesional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.
9. Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan pendapat-pendapat profesional berkaitan dengan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran.
10. Guru membasiskan-diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan dalam setiap tindakan profesional dengan sejawat.
11. Guru memiliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat meningkatkan keefektifan pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional pendidikan dan pembelajaran.
13. Guru tidak mengeluarkan pernyataan-keliru berkaitan dengan kualifikasi dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.
14. Guru tidak melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan marabat pribadi dan profesional sejawatnya.
15. Guru tidak mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas dasar pendapat siswa atau masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
16. Guru tidak membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.
17. Guru tidak menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau tidak langsung akan memunculkan konflik dengan sejawat.
Hubungan Guru dengan Sejawat:
1. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.
2. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan mata pelajaran yang diajarkan.
3. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya.
4. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas profesional dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.
5. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya. 6. Guru tidak melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan
merendahkan martabat profesionalnya.
7. Guru tidak menerima janji, pemberian, dan pujian yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan profesionalnya.
Hubungan Guru dengan Organisasi Profesinyaa (sekolah):
1. Guru menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.
2. Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan.
3. Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.
4. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.
5. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
6. Guru tidak melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan martabat dan eksistensi organisasi profesinya.
7. Guru tidak mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya.
8. Guru tidak menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hubungan Guru dengan Pemerintah:
1. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan perundang-undangan lainnya.
2. Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang berbudaya.
4. Guru tidak menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.
5. Guru tidak melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian negara.
Kesimpulan
Guru harus berpegang pada rumusan norma dalam mengemban profesi. Karena seorang guru akan berinteraksi langsung dengan murid, masyarakat, sesama guru, maupun organisasi profesinya dan pemerintah. Dimana ada aruran dan norma berlaku yang harus dipatuhi. Ada sanksi bilamana guru melanggar aturan. Guru juga memberikan contoh kepada murid dan kemungkinan akan diikuti oleh murid. Guru harus sesuai dengan tujuan kode etik profesi.
Kelompok : 06
Nama : Diah Wulandari 12211210915
Nurhabibah 12211210914
TOLAK UKUR PERBUATAN PENDIDIKAN YANG SUKSES Konsep belajar menurut UNESCO, menuntu setiap satuan pendidikan untuk dapat mengembangkan empat pilar pendidikan baik untuk sekarangdan masa depan, yaitu : (1) learning to know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini peserta didik dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).
tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi bisa mengerjakan sesuatu yang semuanya itu merupakan hasil dari pengalaman atau interaksi dengan lingkungan yang dilakukan secara sengaja. Dengan demikian, perubahan-perubahan yang terjadi pada peserta didik sebagai akibat dari proses belajar mengajar tersebut merupakan hasil dari belajar atau dengan kata lain disebut hasil belajar.
Keberhasilan belajar merupakan prestasi peserta didik yang dicapai dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui keberhasilan belajar tersebut terdapat beberapa indikator yang dapat diketahui bahwa proses belajar mengajar tersebut dianggap berhasil atau tidak. Maka indikator keberhasilan belajar peserta didik dapat diketahui dari kemampuan daya serap peserta didik terhadap bahan pengajaran yang telah diajarkan serta dari perbuatan atau tingkah laku yang telah digariskan dalam tujuan pembelajaran telah dicapai oleh peserta didik, baik secara individual maupun kelompok.
Penilaian Keberhasilan Belajar
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan menggunakan tes prestasi belajar, tes merupakn suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatanpengukuran, yang didalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pertanyaan atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik guna mengukur aspek prilaku peserta didik.
Adapun tes prestasi belajar yang dapat digunakan sebagai penilaian keberhasilan peserta didik, yaitu : (1) tes formatif,(2) tes subsumatif, dan(3) tes sumatif. Tes prestasi belajar tersebut secara sederhan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Tes formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencapai umpan balik (feed back), yang selanjutnya penilaian tersebutdapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah dilakukan.
memperoleh gambaran daya serap peserta didik untuk meningkatkan tingakat prestasi belajar peserta didik.
c) Tes sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar peserta didik terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah tujuan, guru, peserta didik, kegiatan pembelajaran, bahan dan alat evaluasi.dari beberapa faktor tersebut tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi membentuk suatu kesatuan guna mencapai keberhasilan belajar mengajar yang tinggi.
Kelompok : 07 Badrina Alfi Wildatunnisa
Upaya-upaya Pencegahan Perilaku Tidak Etis Seorang Pendidik
Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, sedangkan dalam pandangan masyarakat pendidik adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat – tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di mesjid, di surau/musala, di rumah, dan sebagainya. Pendidik bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, serta bertanggung jawab untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan datang.
yang menunjukkan bahwa sebagian pendidik memiliki ijazah perguruan tinggi. Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak pendidik yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:
1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, 2. Menunggu peserta didik berperilaku negatif, 3. Menggunakan destruktif discipline,
4. Mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,
5. Merasa diri paling pandai di kelasnya, 6. Tidak adil (diskriminatif), serta 7. Memaksakan hak peserta didik.
Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:
1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,
2. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,
3. Kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,
4. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Upaya lain yang dapat dilakukan agar sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya:
2. Guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. 3. Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah.
4. Adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.
Upaya selanjutnya adalaah menerapkan enam belas pilar dalam pembentukan karakter seorang guru, antara lain:
1) kasih sayang,2) penghargaan, 3) pemberian ruang untuk mengembangkan diri, 4) kepercayaan, 5) kerjasama, 6) saling berbagi, 7) saling memotivasi, 8) saling mendengarkan, 9) saling berinteraksi secara positif, 10) saling menanamkan nilai-nilai moral, 11) saling mengingatkan dengan ketulusan hati, 12) saling menularkan antusiasme,13) saling menggali potensi diri, 14) saling mengajari dengan kerendahan hati, 15) saling menginsiprasi, 16) saling menghormati perbedaan.
Dari data diatas, dapat di ambil kesimpulan bahwa seorang pendidik yang mana diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, serta membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan datang.
Dari data diatas disebutkan bahwa pemerintah juga ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa, contohnya dengan meningkatkan kualitas seorang pendidik yang mana dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan. Walaupun dalam kenyataannya banyak pendidik yang melakukan kesalahan, terdapat beberapa upaya yang dapat mengatasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pendidik itu.
Upaya pertama adalah menerapkan empat kompetensi dasar yang mana tertuang didalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni: 1) Kompetensi Pedagogik, 2) Kompetensi Kepribadian, 3) Kompetensi Profesional, dan 4) kompetensi Sosial.
profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh, memberikan kesadaran bahwa guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti peserta didik maka hendaknya guru dapat menjaga image dalam bersikap dan berperilaku, menjadikan budi pekerti sebagai mata pelajaran khusus di sekolah, dan mengadakan kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.
Upaya ketiga yang dapat dilakukan dalam pencegahan perilaku buruk seorang pendidik adalah menerapkan enam belas pilar dalam pembentukan karakter seorang pendidik.Jika para pendidik menyadari dan menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.
Kelompok : 08
Regina Maudy Octaviana Qisthi
PERWUJUDAN MORAL YANG HAKIKI PENDIDIK YANG TIDAK DAPAT DIPAKSAKAN DARI LUAR
Pengertian Profesi
penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.
Belum ada kata sepakat mengenai pengertian profesi karena tidak ada standar pekerjaan/tugas yang bagaimanakah yang bisa dikatakan sebagai profesi. Ada yang mengatakan bahwa profesi adalah “jabatan seseorang walau profesi tersebut tidak bersifat komersial”. Secara tradisional ada 4 profesi yang sudah dikenal yaitu kedokteran, hukum, pendidikan, dan kependetaan.
Etika Profesi
Sebelum Membahas mengenai etika Profesi alangkah baiknya kita bahas dulu apa yang dimaksud dengan etika ;
Etika adalah : Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasaYunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atauadat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengankonsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip prinsip moralyang ada.
pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
professional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agara mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya.
Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Kode etik profesi
Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari- hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN) Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Kode Etik Profesi
Etika profesi merupakan standar moral untuk profesional yaitu mampu memberikan sebuah keputusan secara obyektif bukan subyektif, berani bertanggung jawab semua tindakan dan keputusan yang telah diambil, dan memiliki keahlian serta kemampuan. Terdapat beberapa tujuan mempelajari kode etik profesi adalah sebagai berikut.
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota. 3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi. 4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. 6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat. 8. Menentukan baku standarnya sendiri
Faktor yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika • Kebutuhan individu.
• Perilaku dan kebiasaan individu.
• Kebiasaan yang terakumulasi tak dikoreksi. • Lingkungan tidak etis.
• Pengaruh dari komunitas. • Perilaku orang yang ditiru.
• Efek primordialisme yang kebablasan. Sangsi Pelanggaran Etika
• Sanksi Sosial
Skala relative kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat “dimaafkan”. • Sanksi Hukum
Skala besar, merugikan hak pihak lain. Hukum pidana menempati prioritas utama, diikuti oleh hukum Perdata.
Pengertian Profesionalisme
Profesionalisme berasal dan kata profesional yang mempunyai makna yaitu berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (KBBI, 1994). Sedangkan profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau kualitas dan seseorang yang professional (Longman, 1987).
Biasanya dipahami sebagai suatu kualitas yang wajib dipunyai oleh setiap eksekutif yang baik. Ciri-ciri profesionalisme:
Biasanya dipahami sebagai suatu kualitas yang wajib dipunyai oleh setiap eksekutif yang baik. Ciri-ciri profesionalisme:
1. Punya ketrampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidang tadi
2. Punya ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan
3. Punya sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya
4. Punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya
Kode etik profesional
Kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh sekelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu profesi itu dimata masyarakat.
Apabila anggota kelompok profesi itu menyimpang dari kode etiknya, maka kelompok profesi itu akan tercemar di mata masyarakat. Oleh karena itu, kelompok profesi harus mencoba menyelesaikan berdasarkan kekuasaannya sendiri. Kode etik profesi merupakan produk etika terapan karena dihasilkan berdasarkan penerapan pemikiran etis atas suatu profesi.
Kelompok 9 :
Marsiti (12211210059)
Nurjamilah aryani (12211210051)
GURU MEMILKI KEPRIBADIAN YANG TANGGUH YANG BERCIRIKAN BERTAQWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA DAN
BERAKLAK MULIA
Peranan guru adalah luas. Guru adalah pendidik, pembimbing dan pendorong. Dia juga penyampai ilmu, penggerak dan penasihat. Ini bermaksud, guru atau pendidik mempunyai tugas dan tanggungjawab yang mencabar, kepentingan peranan guru itu memang tidak dapat dinafikan kerana boleh dikatakan setiap ahli masyarakat pada zaman ini melalui pendidikan yang diberikan oleh guru.
Islam meletakkan tugas sebagai guru yang melaksanakan tugas tarbiyah adalah ditempat yang sungguh mulia, seluruh masa yang digunakan dikira sebagai ibadah, setiap langkah dari rumah ke sekolah dan pulang kerumah dari sekolah akan mendapat satu pahala dan dihapuskan satu dosa, menyampaikan ilmu secara hikmah dan ikhlas semata-mata kerana Allah merupakan jihad yang paling tinggi pada pandangan Islam seperti mana yang dituntut dalam syariat Islam.
Firman Allah s.w.t. maksudnya : “Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik”.( Surah al-Nahl ayat 125)
Dalam Islam terdapat 4 martabat guru atau pendidik iaitu:
1) Mudarris : yang bermaksud guru yang hanya mengajar mata pelajaran kemahiran mereka sahaja.
3) Murabbi : yang bermaksud guru yang mendidik, memelihara, mengasuh, mentarbiyyah anak didiknya menjadi manusia yang berilmu, bertaqwa dan beramal soleh.
Sebagai seorang guru yang beriman dan bertaqwa keempat-empat ciri di atas hendaklah fahami dan dihayati di dalam kehidupannya sebagai pendidik terutama ciri keempat iaitu mendidik, memelihara, mengasuh, mentarbiyyah anak didiknya menjadi manusia berilmu, bertaqwa dan beramal soleh.
Beberapa Definisi Mengenai Guru Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru, yang mempunyai makna "Digugu dan ditiru"artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti.Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang pekerjaannya (matapencahariannya, profesinya) mengajar.
Menurut Ngalim Purwanto bahwa guru ialah orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang atau sekelompok orang.Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa guru ialah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensiafektif, kognitif maupun psikomotorik.
Dalam pengertian umumGuru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal,pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacamkualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang barudapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antaralain: Dosen, Mentor dan Tutor.
Hal penting yang juga perlu difahami oleh seseorang yang akan menjadi seorang guru adalah pilar dasar pendidikan. Menurut Ki Hadjar Dewantara ada lima asas dalam pendidikan yaitu :
1) Asas Kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
2) Asas Kemerdekaan; kemerdekaan sebagai karunia Tuhan kepada semua makhluk manusia yang memberikan kepadanya “hak untuk mengatur dirinya sendiri”, dengan selalu mengingat syarat-syarat tertib damainya hidup bersama (masyarakat).
3) Asas Kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudAyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri). 4) Asas Kabangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka
dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
berarti di tengah-tengah, yang berarti dalam pergaulan dan hubungannya sehari-hari secara harmonis dan terbuka. Jadi ing madya mangun karsa mengandung makna bahwa pamong atau pendidik sebagai pemimpin.
Sistem pendidikan yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara juga merupakan warisan luhur yang patutdiimplementasikan dalam perwujudan masyarakat yang berkarakter. Jika para pendidik sadar bahwa keteladanan adalah upaya nyata dalam membentuk anak bangsa yang berkarakter, semua kita tentu akan terus mengedepankan keteladanan dalam segala perkataan dan perbuatan. Sebab dengan keteladanan itumaka karakter religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, cinta damai, peduli sosial, dan karakter laintentu akan berkembang dengan baik.
Begitu pula jika kita sadar bahwa berkembangnya karakter peserta didik memerlukan dorongan danarahan pendidik, sebagai pendidik tentu kita akan terus berupaya menjadi motivator yang baik. Sebab dengan dorongan dan arahan pendidik maka karakter kreatif, mandiri, menghargi prestasi, dan pemberani peserta didik akan terbentuk dengan baik..
Organisator Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini memiliki kegiatan pengelolaan kegiataan akademik dan lain sebagainya.8. Inisator Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam pengajaran.
Tugas Dan Peran GuruTugas Guru.
Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap dan keterampilankeguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya
1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman- pengalaman.
2. Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan dasar negara kita Pancasila.
3. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik. 4. Sebagai prantara dalam belajar.
5. Guru adalah sebagai pembimbing untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan.
6. Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat.
7. Sebagai penegak disiplin. Guru menjadi contoh dalam segala hal, tata tertib dapat berjalan apabila guru menjalaninya terlebih dahulu.
8. Sebagai adminstrator dan manajer Guru sebagai perencana kurikulum. 9. Guru sebagai pemimpin.
10. Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing.
Sebagai pendidik guru harus berlaku membimbing dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah yang baik dan mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, termasuk dalam hal ini yang terpenting ikut memecahkan persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak didik. Dengan demikian diharapkan menciptakan perkembangan yang lebih baik pada diri siswa, baik perkembangan fisik maupun mental.
Dari uraian di atas secara rinci peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat disebutkan sebagaiberikut :
a) Fasilitator Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar mengajar. b) Motivator Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak
didik agar bergairah dan aktif belajar.
d) Pembimbing Peran guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah sebagai pembimbing.
e) Korektor Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan buruk.
f) Organisator Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan oleh guru dalam bidang ini memiliki kegiatan pengelolaan kegiataan akademik dan lain sebagainya.
g) Inisator Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetur ide-ide kemajuan dan pendidikan dalam pengajaran.
h) Demonstrator Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran anak didik pahami. mempergakan apa yang diajarkan secara diktatis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tujuan pengajaran tercapai dengan efektif dan efisien.
i) Pengelolaan kelas Guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.
j) Mediator Guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya baik media non material maupun material.
k) Supervisor Guru hendaknya dapat membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
l) Evaluator Guru dituntut untuk menjadi evaluator yang baik dan jujur dengan memerikan penilaian yang menyentuh aspek intrinsik dan ekstrinsik.
Sedangkan menurut WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu:
a. pendidik (nurturer), b. model,
c. pengajar dan pembimbing d. pelajar (learner),
g. kesetiaan terhadap lembaga.
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugasmemberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) sertatugas-tugas-tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Tugas-tugas ini berkaitan denganmeningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebihlanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan danhidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual.
Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dannegara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harusmemberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapanperkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual danmemilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah lakusosial anak.
Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuaidengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilanagar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman.