BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
B. Tujuan dan Sasaran Perencanaan Pembangunan
Sesuai dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004, dalam rangka mendorong proses pembangunan secara terpadu dan efisien , Perencanan Pembangunan Nasional di Indonesia mempunyai lima tujuan dan fungsi pokok, yaitu :
1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan;
Belum terpadunya antara kegiatan dalam institusi pemerintahan, dengan pihak swasta dan masyarakat secara keseluruhan dan masih kentalnya ego sektoral antara dinas dan instansinya,. Kondisi menjadi semakin buruk karna masih kentalnya budaya Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) dikalangan aparatur pemerintahan.
Keterpaduan antar pelaku pembangunan harus diwujudkan agar peran perencanaan pembangunan sebagai alat koordinasi terhadap kegiatan pembangunan baik antar dinas dan instasi dapat dimanfaatkan guna pencapaian sasaran pembangunan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rencana.
Wadah yang dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan koordinasi ini adalah Forum SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSREMBANG) yang dilakukan secara berkala.
2. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar daerah, waktu dan fungsi pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Integrasi , singkronisasi, dan sinergi antar daerah sangat penting artinya untuk dapat mendorong proses pembangunaan secaraa lebih cepat dan efisien dan mewujudkan pembangunan nasionaal yang terpadu, baik pada tingkat nasonal maupun tingkat daerah. Untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam menyusun dokumen perencanaan pembangunan perlu pula memperhatikan permasalahan dan program pembangunan daerah sekitar sehingga perumusan kebijakan dan program pembangunan dapat dilakukan secara terpadu dengan wilayah lainnya. Untuk keperluan singkronisasi antar waktu, perlu perlu disusun Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk periode 20 tahun yang berisikan arah pentahapan pembangunan. Dan selanjutnya diikuti dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk periode 5 tahunan, sesuai dengan jabatan presiden dan kepala daerah.
RPJM dijabarkan menjadi Rencana Kerja Pemerintah (RKP atau RKPD) yang berisikan rincian kegiatan yang akan dilakukan pada tahun bersangkutan pada tahun sesuai dengan dana yang tersedia.
Untuk keperluan singkronisasi antar fungsi pemerintah perlu di susun Rencana Strategis (RENSTRA) untuk masing-masing institusi baik pada tingkat pusat (RENSTRA KL) maupun tingkat daerah (RENSTRA SKPD).
Dengan demikian akan terwujud keterpaduan pembangunan antar dinas dan instansi pemerintah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (TUPOKSI).
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, Pelaksanaan dan pengawasan.
Pelaksanaaan pembangunan Literatur perencanaan perlu dijaga yakni keterkaitan antara Planning, Programming, and budgeting , bila keterkaitan antaraa literatur tidak terjaga maka kebanyakan dari program yang telah ditetapkan tidak akan dapat terlassana.
Keterkaitan antara perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sangat diperlukan juga untuk menjamin agar apa yang direncanakan dapat dilaksanakan (diimplementasikan) dengan baik. Pengawasan yang dimaksud tidaklah dalam arti pemeriksaan penggunaan keuangan (auditing), tetapi dalam bentuk pengendalian (Monitoring) dan evaluaasi untuk mengetaui factor-faktor yang menyebabkan program dan bersangkutan dapat memberikan hasil (autcome) sesuai dengan rencana.
4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan.
Perencanaan tidak akan dapat menghasilkan pembangunan secara baik jika tidak dapat mengoptimalkan partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan perencanaan. Oleh sebab itu sangat tepat bila pendekatan Perencanaan Partisipatif (Partisipatory Planning) adalah alat yang tepat untuk
Cara yang dapat dimanfaatkan mengoptimalkan partisipasi masyarakat yaitu:
1. Melakukan penjaringan aspirasi masyarakat (jaringan asmara), dalam bentuk pertemuan, diskusi, dan seminar guna mendapatkan pandangan masyarakat tentang visi dan misi pembangunan yang diinginkan.
2. Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSREMBANG), sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2004, tentang system Perncanaan Pembangunan Nasional.
5. Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, dan adil.
Sejak semula tujuan dan fungsi utama dari perencanaan pembanguan dalam literatur adalah menjamin menjamin terwujudnya sumber daya baik dana dan tenaga, secara efektif, dan efisien, dan adil sebagaimana yang diharapkan. Aspek yang perlu diupayakan pemerintah adalah agar perencanaan peembangunan tersebut dapat disusun dengan layak secara teknis dan mendapat dukungan dari sluruh masyarakat dan elit politik sehingga pelakanaannya dimasyarakat dapat terjamin.
C. Partisipasi Masyarakat Dalam Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah
Prinsip penyelenggaraan otonomi daerah ditujukan guna mewujudkan Masyarakat yang sejahtera di daerah bersangkutan. Pentingnya partisipasi
masyarakat dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan Pemerintah Daerah dapat dijelaskan seperti (Josef 2001) :
1. Ditinjau dari segi organisasi yang bersifat terbuka (open system) menurut Kaszdu (1995), organisasi seperti ini ditandai dengan adanya impor energy dari lingkungan agar dapat berfungsi sebaik-baiknya.
2. Partisipasi masyarakat difungsikan sebagai subtitusi energi pusat dan sebagai sumber energy alternatif bagi daerah, sehingga secara bertahap mampu melepaskan diri dari ketergantungan pemerintah pusat.
3. Partisipasi masyarakat juga sebagai penentu terhadap etika politik yang menempatkan rakyat sebagai sumber kekuasaan dan kedaulatan
Parisipasi masyarakat didasarkan pada pertimbangan :
Bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat yang melaksanakannya melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan dan menentukan organisasi – organisasi yang akan memegang tampuk pemimpin untuk masa berikutnya. Ini berarti konsep partisipasi terkait secara langsung dengan ide demokrasi dimana prinsip dasar semokrasi “dari oleh dan untuk rakyat”
Upaya membangunan bangsa dalam segala aspek kehidupan, partisipasi masyarakat memainkan peranan penting.
Tjokroamidjojo (1976) menegaskan “pembangunan yang meliputi segala segi kehidupan, politik, ekonomi, sosial, budaya, itu akan berhasil
merupakan kegiatan yang melibatkan partisipasi dari seluruh rakyat didalam suatu Negara.
(Katz 1995), menempatkan partisipasi sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan disamping faktor – faktor tenaga terlatih, biaya, informasi, peralatan dan kewenangan yang sah.
Sanit (1995) menandaskan apabila kita berbicara mengenai pembangunan yang dibicarakan ialah keterlibatan keseluruhan masyarakat sebagai sistem masalah yang dihadapinya dan pencarian jawaban dari masalah tersebut. Penyelenggaraan otonomi daerah tanpa partisipasi masyarakat tidak dapat disebut berhasil, sekalipun daerah tersebut telah disebut maju.
D. Bentuk Partisipasi Masyarakat
Bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat penerima program pembangunan, menurut Cohen dan Syamsi (1986:114) terdiri dari :
1. partisipasi dalam pengambilan keputusan 2. (decision making), implementasi,
3. pemanfaatan (benefit) dan 4. evaluasi program pembangunan.
Kempat macam partisipasi tersebut merupakan suatu siklus yang dimulai dari decision making, implementasi, benefit dan evaluasi, kemudian merupakan umpan-balik bagi decision making yang akan datang. Namun dapat pula dari
decision making langsung ke benefits atau pada evaluasi, begitu pula mengenai umpan baliknya.
Disamping kempat bentuk partisipasi tersebut dari Cohen, Conyers (1992:154) perlu menambahkan satu lagi, yaitu masyarakat sebagai penerima program perlu dilibatkan dalam identifikasi masalah pembangunan dan dalam proses perencanaan program pembangunan.
Sementara Ndraha (1990:103-104) membagi bentuk atau tahap partisipasi menjadi 6 bentuk/tahapan, yaitu:
1. partisipasi dalam/melalui kontak dengan pihak lain (contact change) sebagai salah satu titik awal perubahan sosial.
2. patisipasi dalam memperhatikan/menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi, baik dalam arti menerima (mentaati, memenuhi, melaksanakan), mengiyakan, menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolaknya.
3. partisipasi dalam perencanaan pembangunan, termasuk pengambilan keputusan.
4. partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan.
5. partisipasi dalam menerima, memelihara dan mengembangkan hasil pembangunan. dan
6. partisipasi dalam menilai pembangunan, yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai sejauh mana pelaksanaan pembangunan sesuai dengan rencana dan sejauh mana hasilnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Terjadinya partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah menurut Cohen dan Syamsi (1986:122-123) disebabkan karena 4 hal yaitu :
1. dari segi basisnya, yaitu partisipasi karena desakan (impetus) dan partisipasi karena adanya insentif.
2. segi bentuk yaitu partisipasi terjadi secara terorganisasi, ada pengarahan dari pimpinan kelompok, dan partisipasi yang dilakukan secara langsung oleh individu itu sendiri.
3. segi keluasannya, yaitu partisipasi terjadi dengan mengorbankan waktu dan dengan menambah kesibukan di luar untuk kepentingan pribadinya.
4. dari segi efektivitasnya, yaitu dengan menjadi partisipan berharap bisa memberikan masukan/saran atau kontribusi yang tentunya pada akhirnya akan memberi manfaat terhadap dirinya.
Dilihat dari keempat segi partisipasi tersebut di atas bila dilihat dari prakarsa terjadinya partisipasi maka bisa digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu partisipasi yang datang dari atas (with initiative coming from the top down), dan partisipasi yang datang dari bawah (with initiative coming from the bottom up).
E. Syarat Terjaminnya Terlaksananya Pelaksanaan Rencana Daerah
Menurut (Sjafrizal 2014) dalam bukunya tentang perencanaan daerah dalam era otonomi daerah untuk terjaminnya pelaksanaan suatu perencanaan diperlukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi . persyaratan tersebut antara lain :
1. Perencanaan Harus Berorientasi Pada Paksanaan Rencana 2. Perlu Adanya Stabilitas Politik
3. Perencanaan Itu Harus Layak Secara Teknis 4. Kemampuan Administrasi Daerah Bersangkutan
5. Melakukan Penyesuaian Rencana (Planning Adjustment) 6. Menjaga Konsistensi Perencanaan Dan Penganggaran 7. Optimalisasi Peran Serta Masyarakat
8. Melakukan Monitoring Dan Evaluasi
F. Reorientasi Perencanaan Pembangunan Daerah
Perubahan orientasi perencanaan pembangunan daerah dilakukan dalam era otonomi daerah agar lebih terarah dan efisien.(Sjafrizal,2014) Perubahan orientasi tersebut meliputi :
a. Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah.
Perubahan sistem dan orientasi perencanaan pembangunan daerah dilakukan sejalan dengan prinsip Undang-undang No. 32 Tahun 2004, otonomi daerah dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Penerapan Konsep Wilayah Pembangunan
Penerapan konsep wilayah pembaangunara otonomi daerah pada tingkat nasional sudah dimulai sejak REPELITA II (1974), dan dalam era otonomi daerah penerapan konsep wilayah pembangunan semakin intensif dilakukan.
c. Penetapan Program Dan Kegiatan Pembangunan Daerah
Dalam era otonomi daerah, penetapan program dan proyek pembanguna melalui RAKOR-BANG akan sangat berkurang.
Alasannya adalah karna otonomi daerah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk menetapkan program dan kegiatan pembangunan yang dibutuhkan oleh masing-masing daerah.
G. Fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, telah mengukuhkan legitimasi formal bagi institusi perencanaan di daerah (BAPPEDA) yang merupakan salah satu sarana penting untuk mewujudkan sistem perencanaan yang efektif dan bertanggungjawab.
Perencanaan hendaknya mampu menjamin bahwa pembangunan daerah menuju kearah yang tepat sesuai dengan tuntutan internal dan eksternal, ditunjang oleh potensi sumberdaya yang tersedia. BAPPEDA merupakan singkatan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang mana badan ini menurut PP RI No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah pasal 6 dijelaskan bahwa:
1. Badan perencanaan pembangunan daerah merupakan unsur perencana penyelenggaraan pemerintahan daerah.
2. Badan perencanaan pembangunan daerah mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang perencanaan pembangunan daerah.
3. Badan perencanaan pembangunan daerah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyelenggarakan
fungsi:
a. perumusan kebijakan teknis perencanaan;
b. pengoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan;
c. pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang perencanaan pembangunan daerah; dan
d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.
4. Badan perencanaan pembangunan daerah dipimpin oleh kepala badan.
5. Kepala badan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur melalui sekretaris daerah.
Hal ini berarti bahwa Bappeda merupakan suatu unsur perencana dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah, dimana BAPPEDA bertanggung jawab terhadap kepala daerah melalui sekretaris daerah. Hal ini merupakan Badan Perencanaan Pembangunan tidak berdiri sendiri diluar daripada tanggung jawab dari Kepala Daerah yang bersangkutan, tetapi Badan tersebut dibentuk adalah untuk bekerja dan membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan pekerjaan sebagai kepala daerah yang bertugas untuk merencanakan pembangunan serta mengadakan penilaian atas pelaksanaannya.
Dibentuknya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, maka tugas pembangunan, pengawasan dan penilaian menjadi tugas daripada Bappeda tersebut, artinya bahwa badan itu bukan hanya bertugas sebagai perencanaan saja
tetapi harus turut serta aktif dalam mengadakan pengawasan dan pelaksanaan dari yang sudah direncanakan semula. Hanya saja perlu diingat bahwa melalui pengawasan, badan ini akan dapat menyusun perencanaan pembangunan berikutnya dengan mempelajari hal-hal yang telah dilihat melalui pelaksanaan yang sudah dilakukan.
Oleh sebab itu, Bappeda tidak boleh terlepas dari semua badan-badan maupun instansiinstansi yang ada di daerah itu dalam melakukan tugasnya sebagai Badan Perencanaan Pembangunan di daerah. Kunarjo menjelaskan bahwa :
“untuk menampung keinginan masyarakat dalam pembangunan ditempuh sistem perencanaan dari bawah ke atas. Inilah yang sebenarnya merupakan perencanaan partisipatif. Tahap yang paling bawah dalam rapat koordinasi pembangunan daerah akan diusulkan pada tingkat yang lebih tinggi dimulai dengan :
1. Musyawarah Pembangunan Tingkat Desa / Kelurahan
Musyawarah pembangunan desa dipimpin oleh oleh kepala desa atau lurah yang dibimbing oleh camat dan di bantu oleh Kepala Urusan Pembangunan Desa.
Musyawarah desa ini menginvetarisasi potensi desa, permasalahan desa, menyusun usulan program dan proyek yang dibiayai dari swadaya desa bantuan pembangunan Desa, APBD Kabupaten, APBD Provinsi, dan APBN.
2. Temu Karya Pembangunan Tingkat Kecamatan
Temu karya dipimpin oleh camat dan dibimbing oleh BAPPEDA kabupaten / kota yang bersangkutan. Tujuan temu karya ini adalah untuk membahas kembali rencana program yang telah dihasilkan Musbang Desa.
3. Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Kabupaten
Rapat Koordinasi ini membahas hasil Temu Karya Pembangunan Tingkat Kecamatan yang dipimpin oleh Ketua Bappeda Kabupaten. Dalam rapat ini usulan – usulan program dan proyek dilengkapi dengan sumber – sumber dana yang berasal dari APBD kabupaten, APBD propinsi, APBN, program bantuan pembangunan, maupun bantuan luar negeri, dan sumber dana dari perbankan.
Usulan dari BAPPEDA kabupaten / kota disampaikan kepada gubernur, ketua BAPPENAS, dan mendagri.
4. Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Propinsi
Hasil rumusan dari Rakorbang Kabupaten / Kota dan usulan proyek pembangunan dibahas bersama – sama dengan Biro Pembangunan dan Biro Bina Keuangan, Sekretariat Wilayah atau Provinsi, serta Direktorat Pembangunan Desa Provinsi. Ketua BAPPEDA provinsi mengkoordinasikan usulan rencana program dan proyek untuk dibahas dalam Rakorbang provinsi yang dihadiri lembaga vertikal dan BAPPEDA kabupaten / kota.
5. Konsultasi Nasional Pembangunan
Hasil Rakorbang Provinsi kemudian diusulakn ke Pemerintah Pusat melalui forum Konsultasi Nasional. Forum ini dipimpin oleh BAPPENAS dan dihadiri oleh wakil – wakil BAPPEDA provinsi serta wakil Depdagri dan departemen teknis tertentu. Hasil dari forum ini dibahas BAPPENAS sebagai masukan untuk penyusunan proyek – proyek yang dibiayai APBN. Daftar proyek yang telah dipadukan antara kebijakan sektoral dan keinginan daerah disusun dalam buku BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Selayar mempunyai tugas
membantu Bupati dalam menentukan kebijaksanaan serta penilaian atas pelaksanaan di bidang perencanaan pembangunan daerah. Untuk melaksanakan tugas tersebut di atas badan ini mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D) b. Menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMDaerah)
c. Menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
d. Menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENSTRA-SKPD)
e. Menyusun Kebijakan Umum APBD (KU-APBD)
f. Menyusun Rencana Kerja Tahunan Daerah dan Rancangan APBD g. Melakukan Koordinasi Perencanaan Sektor, Antar Wilayah, dan Antar
Lembaga baik Pemerintah maupun Swasta dan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar
h. Memfasilitasi Perencanaan Pembangunan di Kabupaten/Kota i. Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi Kinerja Pembangunan
j. Melaksanakan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan Perencanaan sesuai arahan Bupati.
H. Koordinasi Dalam Perencanaan Pembangunan a. Pengertian Koordinasi
Kata coordination berasal dari co – dan ordinare yang berarti to regulate.
Ada beberapa pendekatan dalam koordinasi, yaitu dilihat dari pendekatan empirik, dikaitkan dengan segi etimologi, koordinasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak yang sederajat (equal in rank or order, of the same rank order, not subordinate) untuk saling memberi informasi dan mengatur bersama (menyepakati) hal tertentu, sehingga di satu sisi proses pelaksanaan tugas dan keberhasilan pihak yang satu tidak mengganggu proses pelaksanaan tugas dan keberhasilan pihak yang lain.
Jika dilihat dari sudut normatif, koodinasi diartikan sebagai kewenangan untuk menggerakkan, menyerasikan, menyelaraskan, dan mengimbangkan kegiatan – kegiatan yang spesifik atau berbeda – beda, agar semuanya terarah pada pencapaian tujuan tertentu pada saat yang telah ditetapkan.
Dari sudut fungsional, koordinasi dilakukan guna mengurangi dampak negatif spesialisasi dan mengektifkan pembagian kerja. Koordinasi adalah usaha penyesuaian bagian-bagian yang berbeda, agar kegiatan daripada bagian-bagian itu selesai pada waktunya, sehingga masing-masing dapat memberikan sumbangan usahanya secara maksimal, agar memperoleh hasil secara keseluruhan. Koordinasi terhadap sejumlah bagian-bagian yang besar pada setiap usaha yang luas dari pada organisasi demikian pentingnya sehingga beberapa kalangan menempatkannya di dalam pusat analisis.
Koordinasi yang efektif adalah suatu keharusan untuk mencapai administrasi / manajemen yang baik dan merupakan tanggungjawab yang langsung dari pimpinan. Koordinasi dan kepemimpinan tidak bisa dipisahkan satu sama lain oleh karena itu satu sama lain saling mempengaruhi. Kepemimpinan yang efektif akan menjamin koordinasi yang baik sebab pemimpin berperan sebagai koordinator.
G.R. Terry mengungkapkan bahwa :
“koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat, dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan
harmonis pada sasaran yang telah ditentukan”. Lebih lanjut Mc. Farland (Handayaningrat, 1985:89) mengatakan bahwa: “koordinasi adalah suatu proses di mana pimpinan mengembangkan pola usaha kelompok secara teratur di antara bawahannya dan menjamin kesatuan tindakan di dalam mencapai tujuan bersama”. Selanjutnya menurut E.F.L. Brech :
“koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri”. Lebih lanjut Handoko (2003:195) mendefinisikan koordinasi (coordination) sebagai :
“proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien”.
1. Sebagai suatu proses kegiatan menyatu padukan kegiatan unit – unit organisasi.
2. Upaya menyatu padukan dapat mengangkat kegiatan, waktu maupun biaya.
Dengan demikian koordinasi dapat didefinisikan sebagai proses penyepakatan bersama secara mengikat berbagai kegiatan atau unsur yang berbeda – beda sedemikian rupa sehingga di sisi yang satu semua kegiatan atau unsur itu terarah pada pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan dan di sisi lain, keberhasilan kegiatan yang satu tidak merusak keberhasilan kegiatan yang lain.
Dalam pelaksanaan koordinasi tentunya ada sasaran yang hendak dicapai khususnya bagaimana supaya tercipta suatu keserasian dan keselarasan kerja sehingga segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap satuan organisasi dapat berjalan dengan baik sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas masing – masing. Pengertian tentang koordinasi di atas menyiratkan bahwa koordinasi bertujuan :
1. Menciptakan dan memilihara efektivitas organisasi setinggi mungkin melalui sinkronisasi, penyerasian, kebersamaan, dan kesinambungan,antar berbagai kegiatan dependen suatu organisasi.
2. Mencegah konflik dan menciptakan efisiensi setinggi – tingginya setiap kegiatan intardependen yang berbeda – beda melalui kesepakatan – kesepakatan yang mengikat semua pihak yang bersangkutan.
b. Aspek – Aspek Koordinasi
E. Koswara, berpendapat ada beberapa aspek koordinasi yang perlu diperhatikan guna mencapai efektivitas dalam penyelenggaraan pembangunan, antara lain :
1. Aspek Fungsional
Yang dimaksud dengan koordinasi fungsional disini adalah bahwa kegiatan pelaksanaan koordinasi harus terdapat ikatan dan keterpaduan secara fungsional antara instansi vertikal dan dinas – dinas daerah, antara instansi yang satu dengan yang lain, harus ada keterkaitan dan keterpaduan antara program sektoral dan program daerah, antara program yang satu dengan peogram yang lain, demikian pula harus terdapat keterkaitan dan keterpaduan secara fungsional antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain.
2. Aspek Formal
Di dalam aspek formal dimaksudkan bahwa dalam pelaksanaan koordinasi yang efektif dituntut adanya keterkaitan dan konsistensi antara pengaturan yang satu dengan yang lain. Pengaturan dan ketentuan – ketentuan yang dikeluarkan oleh instansi daerah harus
terkait dan konsisten dengan pengaturan yang dikeluarkan oleh pusat, demikian pula yang diterbitkan oleh instansi yang satu dengan instansi yang lain.
3. Aspek Struktural
Aspek struktural dalam organisasi diartikan bahwa di dalam setiap bentuk penegasan oleh suatu instansi hendaknya terdapat kaitan dan konsistensi penegasan dengan instansi lain.
4. Aspek Material
Aspek material dalam koordinasi dimaksudkan bahwa program / proyek yang bersifat lintas sektoral dalam usaha mencapai sasaran atau mengatasi masalah yang dihadapi supaya terdapat keterkaitan, saling tergantung dan saling
menunjang, demikian pula halnya antara program / proyek sektoral dan regional / daerah.
5. Aspek Operasional
Aspek fungsional dimaksudkan bahwa dalam menentukan langkah – langkah pelaksanaan kegiatan, baik menyangkut waktu, kebutuhan material lokasi dan lain sebagainya, bagaimanapun juga harus terdapat kaitan dan keterpaduan sehingga tidak terdapat duplikasi dan saling menghambat dalam pelaksanaannya. Aspek – aspek operasional di atas harus dipertimbangkan dalam menentukan langkah – langkah dan pendekatan guna merumuskan pola mekanisme koordinasi sebagai suatu SOP (standart of operation) yang harus menjadi komitmen bagi siapan pun yang berkepentingan. Guna mencapai efektivitas dalam organisasi pemerintahan, Forland (1967:394) mengemukakan ada 4 (empat) faktor penentu, yaitu :
a. Kewenangan dan tanggung jawab yang jelas b. Pengawasan dan pengamatan yang seksama c. Fasilitas – fasilitas yang efektif
d. Menggunakan kemampuan / kualitas pemimpin
I. Devinisi Operasional Variabel
Untuk memberikan suatu pemahaman agar lebih mempermudah pelaksanaan penyusunan perencanaan pembangunan daerah, maka perlu adanya batasan penelitian yang dioperasionalkan dan indicator yang digunakakan dalam mempermudah dalam penelitian.
a. Perencanaan merupakan cara, teknik atau metode untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara cepat, terarah, dan efisien sesuai dengan sumberdaya yang tersedia.
b. Keterpaduan merupakan program atau sistem yang saling mendukung antara satu dengan yang lain dalam suatu perencanaan.
c. Partisipasi masyarakat ialah keikutsertaan masyarakat atau keterlibatan masyarakat dalam suatu kegiatan pembangunan.
d. Pelaksanaan ialah realisasi dari suatu perencanaan yang telah disusun untuk mencapai suatu sasaran pembangunan.
e. Evaluasi ialah pemantauan objek pembangunan untuk memastikan apakah
e. Evaluasi ialah pemantauan objek pembangunan untuk memastikan apakah