• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Ibadah

5. Tujuan Ibadah

Allah swt. menciptakan manusia bukannya tanpa tujuan. Mahasuci Allah dari berbuat tanpa tujuan, bertindak serampangan, atau bersenda gurau. Allah swt. berfirman mengenai hal itu dalam al-Qur‟an surat al-Mu‟minun/23 ayat 115:



















Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (Q.S. al-Mu‟minun/23: 115)

Allah swt. menciptakan manusia sesungguhnya dengan tujuan tertentu. Dia telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia yaitu untuk menyembah-Nya atau beribadah kepada-Nya.

39

A. Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), Cet. I, h. 6-7.

Tujuan ibadah lainnya dapat dilihat dari segi kejiwaan manusia. Sepanjang sejarahnya terlihat bahwa manusia selalu terdorong oleh dirinya dan alam lingkungannya untuk mencari Tuhan guna dipuja dan disembahnya. Jika ia tidak menemukan Tuhan yang sebenarnya, ia akan menyembah (beribadah) kepada tuhan apa saja, baik yang ada di dalam alam, seperti matahari, bulan, bintang, batu atau kayu besar dan sebagainya maupun yang dibuatnya sendiri seperti patung (berhala) atau yang lainnya.40

Ibadah mempunyai tujuan pokok dan tujuan tambahan.

a. Tujuan pokoknya adalah menghadapkan diri kepada Allah yang Maha Esa dan mengkonsentrasikan niat kepada-Nya dalam setiap keadaan. Dengan adanya tujuan itu seseorang akan mencapai derajat yang tinggi di akhirat. b. Tujuan tambahan adalah agar terciptanya kemaslahatan diri manusia dan

terwujudnya usaha yang baik.

Salat umpamanya, disyariatkan pada dasarnya bertujuan untuk menundukkan diri kepada Allah swt. dengan ikhlas, mengingatkan diri dengan berzikir. Sedangkan tujuan tambahannya antara lain adalah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana dipahami dari firman Allah swt:













































“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. al-Ankabut/29: 45)

Selain itu menghindarkan diri dari kemungkaran dan kekejian. Masih banyak tujuan lain yang dapat diwujudkan melalui ibadah salat, seperti

40

beristirahat dari kesibukan dunia, membantu dalam memenuhi kebutuhan, membawa seseorang masuk surga dan menjauhkannya dari neraka.41

6. Hikmah Pelaksanaan Ibadah

Pada dasarnya ibadah membawa seseorang untuk mematuhi perintah Allah swt, bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya dan melaksanakan hak sesama manusia. Oleh karena itu tidak mesti ibadah itu memberikan hasil dan manfaat kepada kehidupan manusia yang bersifat material, tidak pula merupakan hal yang mudah mengetahui hikmah ibadah melalui kemampuan akal yang terbatas.

Ibadah merupakan pengujian terhadap manusia dalam menyembah Allah swt. Ini berarti ia tidak harus mengetahui rahasianya secara terperinci. Seandainya ibadah itu harus sesuai dengan kemampuan akal dan harus mengetahui hikmah atau rahasianya secara terperinci, tentu orang yang lemah kemampuan akalnya untuk mengetahui hikmah tersebut tidak akan melaksanakan atau bahkan menjauhi ibadah. Mereka akan menyembah akal dan nafsunya, tidak akan menyembah Tuhan.

Mengenai hikmah melaksanakan ibadah ini, al-Ghazali mengungkapkan bahwa ibadah bertujuan untuk menyembuhkan hati manusia, sebagaimana obat untuk menyembuhkan badan yang sakit. Sebagai contoh ibadah dapat menyembuhkan hati manusia, misalnya seseorang yang sedang resah dan gelisah, keresahan dan kegelisahannya dapat disembuhkan dengan salat. Begitu juga orang yang mempunyai penyakit tamak atau rakus dalam hal makan dan minum, penyakit tersebut dapat dikurangi bahkan dapat disembuhkan bila orang tersebut rajin berpuasa.

Oleh karena itu, menurut al-Ghazali, ibadah wajib diikuti sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Nabi, karena mereka dapat mengetahui rahasianya berdasarkan inspirasi kenabian, bukan dengan kemampuan akal.42

41

A. Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqih Ibadah..., h. 9. 42

29

BAB III

TAFSIR AL-QUR’AN SURAT Al-HAJJ AYAT 41

Surah al-Hajj adalah surah yang ke-105 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah al-Qur‟an. Dia turun sesudah surah an-Nur dan sebelum surah al-Munafiqun. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 77 ayat, menurut perhitungan pakar-pakar qira’at Mekkah dan Madinah.

Nama al-Hajj adalah satu-satunya nama yang dikenal untuk surah ini. Penamaan tersebut agaknya disebabkan karena dalam surah ini diuraikan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim as agar mengumandangkan panggilan berkunjung ke Baitullah serta beberapa uraian tentang ibadah haji dan manfaatnya.

Surat ini dimulai dengan mengajak seluruh manusia agar bertakwa dan mempersiapkan diri menghadapi kedahsyatan kiamat. Ajakan kepada seluruh manusia mengesankan bahwa surat ini Makkiyah, karena salah satu ciri ayat-ayat Makkiyah adalah ajakannya yang berbunyi ( ). Di dalam surah ini juga ditemukan ajakan kepada kaum musyrikin untuk mempercayai prinsip-prinsip pokok ajaran Islam sambil mengancam mereka dengan siksa yang pedih. Ini juga adalah ciri-ciri ayat-ayat Makkiyah. Tetapi adanya ayat-ayat yang memerintahkan salat serta uraian tentang haji dan izin berperang, mengesankan bahwa ayat-ayat ini turun setelah Nabi saw berhijrah ke Madinah, karena persoalan syariat banyak

dibicarakan oleh ayat-ayat yang turun di Madinah, apalagi dalam surah ini ada uraian tentang izin berperang yang tentu saja baru dapat terlaksana setelah terbentuk masyarakat Islam yang memiliki kemampuan berperang. Dari sini, maka para ulama berbeda pendapat menyangkut masa turun surah ini, apakah sebelum Nabi berhijrah atau sesudahnya.1

Secara garis besar surat al-Hajj ayat 41 berkaitan dengan dua ayat sebelumnya dan tiga ayat setelahnya, yang berisikan tentang diizinkan membela diri dari serangan orang yang memeranginya, keterusiran kaum muslim dari tempat tinggal mereka, peritah menjalankan ibadah setelah diberikan kekuasaan, dan perintah untuk bersabar. Kemudian disaat penulis menjalani proses perkuliahan dalam mata kuliah tafsir tarbawi, terpampanglah surat al-Hajj ayat 41 sebagai salah satu ayat pendidikan diantara banyak ayat lain yang menjelaskan tentang pendidikan. Dengan dasar inilah, maka penulis mengangkat skripsi yang berjudul sebagaimana tertuang di Bab I.

A.

Teks Ayat dan Terjemahnya



































“Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Q.S. Al-Hajj/22: 41)

B. Tafsir Ayat

Menurut Abu al-Aliyah, orang yang disebutkan dalam ayat ini ialah para sahabat Muhammad saw. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Utsman bin

Affan, dia berkata, “Mengenai kamilah ayat, “orang-orang yang jika Kami

teguhkan kedudukan mereka di muka bumi” ini diturunkan. Kami diusir dari

kampung halaman kami sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karena kami

1

Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an”, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Cet. VIII, Vol. IX, h. 3-4.

mengatakan bahwa Tuhan kami adalah Allah. Kemudian kami teguhkan di bumi, lalu kami mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang

ma‟ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Kepunyaan Allahlah

kesudahan segala perkara. Jadi, ayat ini diturunkan berkenaan dengan aku dan

para sahabatku.”

Ash-Shabah bin Suwadah al-Kindi berkata, “Aku mendengar Umar bin

Abdul Aziz berkhutbah. Dia membaca ayat, „Orang-orang yang Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi.‟ Kemudian berkata, „Ketahuilah,

ayat ini bukan hanya ditunjukkan kepada pemimpin semata, namun ditunjukkan kepada pemimpin dan rakyatnya. Ketahuilah, aku akan memberitahukan kepadamu kewajiban pemimpin kepada rakyatnya dan kewajiban rakyat kepada pemimpinnya. Sesungguhnya yang menjadi hak kamu dan kewajiban pemimpin ialah memperlakukan kamu dengan ketentuan Allah yang telah diwajibkan atasmu, memperlakukan sebagian kamu karena sebagian yang lain dengan ketentuan Allah, dan menunjukkan kamu kepada jalan yang lurus sesuai dengan kemampuan pemimpin. Adapun kewajiban kamu ialah menaati pemimpin tanpa terpaksa dan tidak bertentangan antara ketaatan perkataan dan perbuatan dengan ketaatan hati.”

Zaid bin Aslam berkata, “Dan kepada Allahlah kembali segala urusan”

berarti pada sisi Allahlah pahala atas apa yang telah mereka lakukan.2

Orang-orang yang jika Kami anugerahkan kepada kemenangan dan

Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yakni Kami berikan mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam keadaan mereka merdeka dan berdaulat niscaya mereka yakni masyarakat itu mendirikan sembahyang

secara sempurna rukun, syarat dan sunah-sunahnya dan mereka juga

menunaikan zakat sesuai kadar waktu, sasaran dan cara penyaluran yang ditetapkan Allah, serta mereka menyuruh anggota-anggota masyarakatnya agar berbuat yang ma’ruf, yakni nilai-nilai luhur serta adat istiadat yang diakui baik dalam masyarakat itu, lagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai

2

Muhammad Nasib Ar-Rifa‟i, Kemudahan Dari Allah “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir”,

Ilahiah dan mereka mencegah dari yang mungkar; yakni yang dinilai buruk lagi diingkari oleh akal sehat masyarakat, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. Dialah yang memenangkan siapa yang berhak dimenangkan-Nya dan Dia pula yang menjatuhkan kekalahan bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia juga yang menentukan masa kemenangan dan kekalahan itu.

Ayat di atas mencerminkan sekelumit dari ciri-ciri masyarakat yang diidamkan Islam, kapan dan di mana pun, dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad saw. dan para sahabat beliau.

Masyarakat itu adalah yang pemimpin-pemimpin dan anggota-anggotanya secara kolektif dinilai bertakwa, sehingga hubungan mereka dengan Allah swt. baik, jauh dari kekejian dan kemungkaran, sebagaimana dicerminkan oleh sikap mereka yang selalu melaksanakan salat dan harmonis pula hubungan anggota masyarakat, termasuk antar kaum berpunya dan kaum lemah yang dicerminkan oleh ayat di atas dengan menunaikan zakat. Di samping itu mereka juga menegakkan nilai-nilai yang dianut masyarakatnya, yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang mungkar. Pelaksanaan kedua hal tersebut menjadikan masyarakat melaksanakan kontrol sosial, sehingga mereka saling ingat mengingatkan dalam hal kebajikan, dan saling mencegah terjadinya pelanggaran.

Adapun al-ma’ruf, yang merupakan kesepakatan umum masyarakat, ini sewajarnya diperintahkan, demikian juga al-munkar seharusnya dicegah. Baik yang memerintahkan dan mencegahnya adalah penguasa maupun bukan.

Siapapun diantara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya (menjadikannya ma’ruf) dengan tangan / kekuasaannya, kalau dia tidak mampu (tidak memiliki kekuasaan) maka dengan lidah / ucapannya, kalau (yang inipun) dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah melalui Abû

Sa‟îd al-Khudri).3

Jadi, janji Allah yang ditegaskan dan dikuatkan dengan realisasi yang tidak akan meleset adalah bahwa Dia pasti menolong orang-orang yang

3

menolong-Nya. Maka, siapapun yang menolong Allah pasti berhak akan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, dimana orang-orang yang ditolong-Nya tidak mungkin terkalahkan. Jadi siapa mereka? Mereka adalah:4

Mereka mendirikan sembahyang dan memberikan zakat.” Dengan

susunan ayat seperti ini bukanlah berarti mereka baru mendirikan sembahyang dan kokoh di muka bumi, atau setelah mereka menang menghadapi musuh-musuhnya, bahkan sejak semula perjuangan keyakinan dan keimanan kepada Tuhan itulah pegangan teguh mereka. Dalam pengalaman kita dimasa perjuangan melawan penjajahan Belanda, pada umumnya orang shalih dan taat sembahyang lima waktu mereka kerjakan dengan tekun. Zakat mereka berikan, tetapi setelah kedudukan kokoh di muka bumi orang mulai melalaikan zakat.

Mereka menunaikan kewajiban harta yang dibebankan kepada mereka. Mereka dapat menguasai sifat bakhil mereka. Mereka menyucikan diri dari sifat tamak. Mereka berhasil menghalau godaan dan bisikan setan. Mereka menambal kelemahan-kelemahan jamaah, dan mereka menjamin kehidupan para dluafa dan orang-orang yang membutuhkan. Sesungguhnya mereka benar-benar mewujudkan tubuh jamaah yang hidup, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Berkata Amir: Aku mendengar Nu’man bin Basyir berkata: Bersabda Nabi saw: Kamu melihat orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka adalah laksana sebuah tubuh yang bila salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuhnya tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(H.R Bukhari)

4

Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an “Di Bawah Naungan Al-Qur’an”, penerjemah.

Dan mereka menyuruh berbuat yang ma’ruf.” Maka timbullah berbagai

anjuran agar sama-sama berbuat yang ma‟ruf. Artinya yang ma‟ruf ialah anjuran-anjuran atau perbuatan yang diterima baik dan disambut dengan segala senang hati oleh masyarakat ramai. Bertambah banyak anjuran kepada

yang ma‟ruf bertambah majulah masyarakat.

Dan mereka mencegah dari berbuat yang mungkar.” Artinya yang mungkar ialah segala anjuran atau perbuatan yang masyarakat bersama tidak senang melihat atau menerimanya, karena tidak sesuai dengan garis-garis

kebenaran. Maka dengan terbiasanya masyarakat dapat anjuran yang ma‟ruf,

perasaannya akan lebih halus dalam menolak yang mungkar. Lantaran itu maka amr ma‟ruf nahi mungkar hendaklah seimbang, atau dengan sendirinya

timbul keseimbangan di antara keduanya. Karena keduanya jadi hidup subur sebab dipupuk oleh iman kepada Allah. Ini dijelaskan di dalam ayat yang lain, yaitu surat al-Imran/3 :110 sebagai berikut:

























...

(

لا

ار ع

/

:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...”(Q.S. al-Imran/3 : 110)

Sebab itu maka yang menjadi dasar yang mengokohkan kedudukan umat itu ialah iman kepada Allah. Kalau iman tidak ada lagi, kendurlah amr ma‟ruf

nahi munkar, bahkan bisa terbalik menjadi “nahi „anil ma’ruf amr bil

munkar.”

Dan kepada Allah jualah akibat dari segala urusan.” Artinya walau

bagaimanapun keadaan yang dihadapi, baik ketika lemah yang menghendaki kesabaran, atau menghadapi perjuangan yang amat sengit dengan musuh karena mempertahankan ajaran Allah atau seketika kemenangan telah

tercapai, sekali-kali jangan lupa, bahwa keputusan terakhir adalah pada Allah jua.5

5

36

BAB IV

NILAI-NILAI PENDIDIKAN IBADAH YANG TERKANDUNG

DALAM SURAT AL-HAJJ AYAT 41

Ibadah dalam Islam secara garis besar terbagi kepada ibadah umum dan khusus. Ibadah yang dikategorikan umum adalah segala jenis amal kebajikan yang dilakukan oleh seorang muslim dengan niat yang tulus karena Allah swt, seperti memberi nasihat, melarang orang lain berbuat jahat, serta amr ma’ruf nahi munkar. Sedangkan ibadah yang dikategorikan khusus adalah segala jenis amal yang disebutkan oleh nash-nash al-Qur’an yang disertakan dengan ketentuan-ketentuan tertentu tanpa adanya penambahan atau pengurangan, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan ditinjau dari segi pelaksanaannya, ibadah terbagi kepada tiga bagian, yaitu:

1. Ibadah jasmaniyah dan ruhaniyah, seperti salat. 2. Ibadah ruhaniyah dan maliyah, seperti zakat.

3. Ibadah jasmaniyah, ruhaniyah, dan maliyah, seperti haji dan amr ma’ruf dan nahi munkar.

Oleh karena itu ibadah sangat memperhatikan penataan individual dan sosial yang membawa penganutnya pada pengamalan ibadah secara komprehensif.

Dengan luasnya cakupan ibadah, maka penulis berusaha untuk lebih menspesifikasikannya lagi sesuai dengan intisari yang tertera dalam surat al-Hajj ayat 41, yaitu: salat, zakat, dan amr ma’ruf nahi munkar.

Tiga jenis ibadah ini tidak hanya berkaitan dengan si pelakunya saja, akan tetapi juga berkaitan dengan masyarakat di sekitarnya. Agar tiga jenis ibadah ini dapat terlaksana dengan baik dan benar, maka si pelaku harus dapat memahami tiga jenis ibadah tersebut dan mengetahui keberadaan referensi tiga jenis ibadah tersebut. Yang dimaksud dengan referensi tersebut adalah al-Qur’an dan a l-Sunnah.

Berdasarkan isi kandungan surat al-Hajj ayat 41, penulis berusaha mengangkat nilai-nilai pendidikan ibadah yang terkandung dalam surat al-Hajj ayat 41, karena ayat tersebut memiliki makna yang luas dan mendalam dalam pembahasan nilai pendidikan salat, nilai pendidikan zakat, dan nilai pendidikan amr ma’ruf nahi munkar. Penulis sangat berharap kiranya dari nilai-nilai pendidikan yang akan menjadi pembahasan skripsi ini dapat bermanfaat dalam menambah khazanah ilmu terutama dalam kaitannya dengan pembinaan pendidikan, serta dapat dijadikan pedoman bagi pelakunya untuk senantiasa

istiqomah (konsisten) pada tiga jenis ibadah tersebut. Adapun penjabaran nilai pendidikan salat, nilai pendidikan zakat, dan nilai pendidikan amr ma’ruf dan nahi munkar akan penulis sampaikan berikut ini:

1. Nilai Pendidikan Salat

Di antara alasan mengapa Allah ciptakan manusia adalah untuk beribadah. Ibadah yang ditetapkan bermacam-macam, akan tetapi yang menjadi sentral dari itu semua adalah salat. Hal ini didukung oleh banyak hadits yang menyatakan bahwa salat adalah sentral dari segala jenis ibadah. Jikalau salat seseorang rusak baik secara tinjauan fiqh (dzahir) maupun

tasawuf (bathin), maka ibadah-ibadah lain yang dilakukan orang tersebut kemungkinan besar tidak akan benar apalagi bermanfaat.

Oleh karena itu, salat merupakan sebuah komponen penting dalam diri seorang muslim. Penggunaan kalimat “komponen penting” oleh penulis di

sini lebih dikarenakan karena banyaknya orang yang berpandangan bahwa salat hanyalah sebuah kewajiban. Dengan kalimat tersebut penulis menuangkan pendapat bahwa salat bukanlah hanya sebagai sebuah kewajiban saja melainkan sebuah kebutuhan dasar yang mau tidak mau harus terpenuhi. Jika diilustrasikan dalam kehidupan nyata, maka penulis ingin

mengilustrasikan dengan “makan”. Bagaimana pentingnya arti “makan” bagi

seseorang. Makan bukanlah hanya sebuah kewajiban saja bagi kelangsungan hidup seseorang, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan yang mau tidak mau harus terpenuhi. Jika arti sebuah makanan saja dirasa sangat penting bagi bagian tubuh yang dzahir, apalagi salat yang menjadi pondasi dari segala amal perbuatan seorang muslim.

a. Pengertian Salat

Pengertian salat sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Arab artinya doa.1 Demikianlah makna salat dalam pengertian bahasa Arab.

Sedangkan salat secara terminologi banyak dikemukakan oleh para ahli, di antaranya:

a) Imran Abu Umar

Salat menurut pengertian syara sebagaimana kata imam al-Rafi’i ialah

“ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan takbir dan

ditutup dengan salam disertai beberapa syarat yang sudah ditentukan.”2

Pengertian salat menurut Imam al-Rafi’i ini adalah definisi yang

umum digunakan oleh para ulama dari mazhab Syafi’i untuk

mendefinisikan tentang salat. Dari definisi ini dapat dimengerti bahwa salat adalah merupakan sebuah ibadah yang awal ibadahnya dimulai dengan

takbir (kalimat “Allahu Akbar”) kemudian diisi dengan rukun-rukun yang

telah ditentukan, baik rukun-rukun tersebut berbentuk qouliy, maupun fi’liy

serta diakhiri dengan mengucapkan salam (kalimat “Assalaamu’alaikum”)

dan tidak melupakan syarat-syarat yang menentukan kesahan ibadah ini.

b) Sayyid Sabiq

1

Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia..., h. 792. 2

Salat ialah “ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan membaca takbir bagi Allah dan disudahi dengan

mengucapkan salam.”3

Pendapat dari Sayyid Sabiq ini lebih kurang sama dengan apa yang didefinisikan oleh Imam al-Rafi’i yang menyatakan ibadah yang terangkai dari ucapan dan perbuatan serta dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan perbedaan bahwa Imam al-Rafi’i lebih memperhatikan juga faktor-faktor (syarat-syarat) yang berkaitan dengan salat dalam definisinya.

c) Muhammad Abdul Malik Az-Zaghabi

Salat adalah “tali hubungan yang kuat antara seorang hamba dengan

Tuhan-nya. Hubungan yang mencerminkan kehinaan hamba dan keagungan Tuhan ini bersifat langsung tanpa perantara segala dari siapa pun.”4

Dari penjelasan ini disimpulkan bahwa salat adalah sebuah ibadah langsung yang tanpa memerlukan perantara siapapun dari orang yang melaksanakan salat kepada Allah. Karena di dalam salat terkandung dialog langsung antara seorang hamba dengan Allah.

d) Ibnu Amir Yasin dan Abu Yasmin

Salat adalah “beribadah hanya untuk Allah saw, baik dengan perkataan maupun perbuatan yang telah ditentukan, diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam, disertai niat, dan syarat-syarat tertentu.”5

Pada definisi ini tertera bahwa yang dinamai dengan salat adalah penyembahan kepada Allah dengan ucapan dan perbuatan yang diiringi dengan niat, dimulai dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.

e) Ensiklopedi Islam

3

Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, t.t), Jilid I, h. 125.

4

Muhammad Abdul Malik Az-Zaghabi, Malang Nian Orang yang Tidak Shalat, penerjemah. Abdul Rosyid Shiddiq, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), h.17.

5

Ibnu Amin Yasin dan Abu Yasmin, Fikih Shalat Lengkap, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2010), h. 1.

Salat adalah “suatu ibadah yang terdiri dari atas ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratulihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.”6

Definisi ini tidak berbeda jauh dengan definisi-definisi yang telah disebutkan di atas, yaitu ibadah yang tersusun dengan ucapan dan perbuatan, serta dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan

Dokumen terkait