• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.8 Pengolahan Koleksi Grey Literature

2.8.1 Pengertian Katalogisasi Deskriptif

2.8.1.1 Tujuan Katalogisasi Deskriptif

salah satu pekerjaan bagian di perpustakaan yang bertugas dan bertanggung jawab atas kegiatan mengadakan identifikasi dari ciri-ciri fisik suatu dokumen/bahan pustaka seperti pengarang, judul, tempat terbit, nama penerbit, jumlah halaman, dan lain sebagainya.

2.8.1.1 Tujuan Katalogisasi Deskriptif

Pengkatalogan dimaksudkan untuk mengelompokkan koleksi perpustakaan berdasarkan ciri tertentu. Pengelompokkan ini dimaksudkan untuk memudahkan pengorganisasian bahan pustaka sehingga mudah untuk ditemukan kembali jika sewaktu-waktu diperlukan. Pengatalogan bertujuan untuk memudahkan menemukan kembali bahan pustaka yang telah disimpan. Adapun tujuan pengatalogan dikemukakan oleh pustakawan C.A. Cutter yang dikutip oleh Suhendar (2007, 2) adalah sebagai berikut:

1. Memberikan kemudahan kepada pengguna untuk menemukan bahan pustaka yang telah diketahui pengarangnya, judul, subjeknya secara cepat, tepat dan akurat.

2. Menunjukkan bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan oleh pengarang tertentu berdasarkan subjek tertentu atau subjek-subjek yang berhubungan dan jenis atau bentuk literature tertentu.

3. Membantu dalam pemilihan bahan pustaka berdasarkan isi dan karakter.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa pengatalogan bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada pengguna untuk menemukan bahan pustaka, menunjukkan bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dan membantu dalam pemilihan bahan pustaka.

2.8.1.2 Standard dan Pedoman Katalogisasi Deskriptif

Pengatalogan bahan pustaka di perpustakaan dilaksanakan dengan menggunakan pedoman atau standar yang berlaku secara nasional dan internasional. Dalam buku Pedoman Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI (2002, 12) standard dan peraturan pengatalogan deskriptif yang digunakan dalam pengolahan bahan pustaka terdiri dari:

1. International Standard For Bibliographic Description (ISBD).

2. Peraturan Katalogisasi Indonesia yang disusun Perpustakaan Nasional RI.

3. Anglo American Cataloging Rules (AACR).

4. Standar dan peraturan pengatalogan deskriptif.

5. Daftar tajuk kendali kepengarangan.

6. Pedoman kebahasaan.

7. Pedoman format metadata.

Untuk mengkatalogkan bahan perpustakaan diperlukan alat bantu pengkatalogan bahan perpustakaan. Dalam buku Perpustakaan Perguruan Tinggi:

Buku Pedoman (2004, 60) dinyatakan bahwa alat bantu pengolahan bahan perpustakaan untuk deskripsi bahan perpustakaan, yaitu:

1. Anglo American Cataloging Rules (AACR).

2. Standar deskripsi untuk monograf.

3. Standar deskripsi untuk terbitan berseri.

4. Peraturan katalogisasi Indonesia.

5. Format MARC INDONESIA (INDOMARC).

6. Format Dublin Core.

7. Standar penentuan tajuk entri.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diketahui bahwa standar/pedoman atau alat bantu yang digunakan dalam pengolahan bahan pustaka untuk deskripsi bahan pustaka terdiri dari International Standard For Bibliographic Description (ISBD), peraturan katalogisasi Indonesia yang disusun Perpustakaan Nasional RI, Anglo American Cataloging Rules (AACR), standar dan peraturan pengatalogan

deskriptif, daftar tajuk kendali kepengarangan, pedoman kebahasaan, pedoman format metadata, format MARC INDONESIA (INDOMARC), format Dublin Core dan standar penentuan tajuk entri.

2.8.1.3 Langkah-Langkah Katalogisasi Deskriptif

Kegiatan pengatalogan deskriptif, meliputi penyajian deskripsi biblografi serta penentuan titik pendekatan berdasarkan pengarang dan judul. Saleh dan Yulia (1996, 86) menyatakan bahwa terdapat dua langkah kegiatan dalam melakukan pengatalogan, yaitu menyajikan deskripsi bibliografi dan menentukan titik pendekatan.

Menurut Frans Susilo, SJ dkk (2007, 61) kegiatan katalogisasi deskriptif terdiri dari dua diantaranya:

1. Penentuan tajuk entri 2. Deskripsi bibliografis 1. Penentuan tajuk entri

Tajuk merupakan titik akses pertama pada cantuman katalog koleksi perpustakaan. Titik akses yang terdapat pada cantuman katalog, terdiri dari tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan. Menurut Frans Susilo, SJ dkk (2007, 61) menyatakan bahwa “Tajuk entri utama (TEU) berarti tajuk yang terdapat pada awal suatu entri utama. Sedangkan Tajuk entri tambahan (TET) berarti tajuk yang terdapat pada awal suatu entri tambahan.”

Menurut Yulia dan Mustafa (2009, 3.5) ketentuan dalam penentuan tajuk entri adalah sebagai berikut:

a. Karya pengarang tunggal

Karya pengarang tunggal adalah karya yang disusun atau dikarang oleh seorang pengarang.

Contoh:

Judul : Pengantar Ilmu Perpustakaan Pengarang : Sulistyo-Basuki

Tajuk entri utama : Sulistyo-Basuki b. Karya pengarang ganda

Karya pengarang ganda adalah karya yang ditulis oleh lebih dari satu orang pengarang, yang bersama-sama menciptakan suatu kerya, baik secara terintegrasi maupun terpisah sebagai karya kumpulan.

1) Karya pengarang ganda dengan pengarang utama

Bila suatu karya dikarang oleh dua pengarang atau lebih dan seorang di antaranya merupakan seorang pengarang utama, sedangkan pengarang lain bertindak sebagai pembantu, maka tajuk ditentukan pada pengarang utama. 2) Karya oleh tiga orang pengarang

Bila suatu karya dikarang oleh sebanyak-banyaknya 3 pengarang tanpa ada pengarang utama, tajuk ditentukan pada pengarang yang namanya disebut pertama kali pada halaman judul.

Contoh:

Judul : Cabai Hot Beauty Pengarang : Abdjad Asih Nawangsih

Heri Purwanto Imdad Agung Wahyudi

Tajuk entri utama : Abdjad Asih Nawangsih 3) Karya oleh lebih dari tiga orang

Yang termasuk pada jenis karya ini apabila suatu karya dikarang oleh lebih dari 3 orang tanpa ada pengarang utama. Bila suatu karya dikarang oleh lebih dari 3 orang tanpa ada pengarang utama, tajuk ditentukan pada judul karya bila ada, atau pada pengarang karya yang pertama kali disebut pada halaman judul bila ada, atau pada judul karya yang pertama kali disebut pada halaman judul. Entri tambahan dibuat pada nama pengarang yang pertama kali disebut.

Tajuk entri utama : Sejarah Minangkabau c. Karya redaktur

Karya redaktur adalah hanya karya pengarang ganda yang terdiri dari lebih dari 3 pengarang dan berada di bawah pimpinan seorang Tajuk entri utama : Modern Spanish d. Karya campuran

Karya campuran adalah apabila beberapa pengarang telah menyumbangkan isi intelektualnya ataupun isi artistik pada suatu karya, dengan fungsi yang berbeda-beda (penerjemah, penyandur, penggubah, pewawancara dan sebagainya) maka sifat kepengarangannya adalah campuran.

1) Karya saduran

Yang termasuk pada jenis karya ini apabila suatu karya disadur atau ditulis dalam bentuk atau gaya sastra yang berbeda.

Contoh: diterjemahkan ke dalam bahasa lain.Tajuk ditentukan pada pengarang asli, dan tajuk entri tambahan dibuat pada penerjemah.

Contoh:

Karya anonym adalah karya yang tidak diketahui pengarangnya ataupun nama pengarangnya tidak jelas.

Contoh:

Judul : Arts and crafts in Indonesia Pengarang : (tidak disebut namanya) Tajuk entri utama : Arts and crafts in Indonesia

2. Deskripsi Bibliografis

Deskripsi bibliografi merupakan pencatatan data bibliografi dan fisik koleksi dengan mengikuti peraturan standar pengatalogan yang berlaku yaitu Anglo American Cataloguing Rules 2nd edition (AACR 2) tahun 1998.

Menurut Yulia dan Mustafa (2009, 2.12) ada 8 daerah deskripsi yaitu:

a. Daerah judul dan keterangan penanggung jawab b. Daerah edisi

c. Daerah data khusus

d. Daerah penerbitan dan distribusi e. Daerah deskripsi fisik

f. Daerah seri g. Daerah catatan

h. Daerah ISBN dan harga

Selanjutnya, Yulia dan Mustafa (2009, 2.12) menyatakan bahwa ketentuan umum untuk masing-masing daerah bibliografi tersebut adalah sebagai berikut:

1) Sumber informasi

Sumber informasi untuk masing-masing daerah deskripsi dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Sumber Informasi Daerah Deskripsi Bibliografis

No. Daerah Sumber Informasi

1. Judul dan pernyataan

5. Deskripsi fisik Terbitan yang besangkutan

6. Seri Halaman judul seri, halaman judul

Tanda baca untuk masing-masing daerah deskripsi bibliografi dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut:

Tabel 2.2 Garis Besar Susunan Deskripsi

No Daerah Tanda Baca Unsur

1. Judul dan pernyataan tanggung jawab

1.1 Judul sebenarnya [] (kurung siku) 1.2 Pernyataan jenis

bahan umum

= (sama dengan) 1.3 Judul paralel

: (titik dua) 1.4 Judul lain/anak judul / (garis miring) 1.5 Pernyataan

tanggung jawab

; (titik koma) Pernyataan tanggung jawab yang kedua dan seterusnya

2. Edisi .- 2.1 Pernyataan edisi

/ (garis miring) 2.2 Pernyataan tanggung jawab

; (titik koma) Pernyataan tanggung jawab yang kedua dan seterusnya, sehubungan dengan edisi ybs.

3. Data khusus Digunakan untuk terbitan

berseri, kartografi, : (titik dua) 5.2 Pernyataan ilustrasi

; (titik koma) 5.3 Ukuran

2.8.1.4 Katalog Perpustakaan

Perpustakaan memerlukan suatu daftar yang berisikan informasi bibliografis dari koleksi yang dimilikinya. Daftar tersebut biasanya disebut katalog perpustakaan. Hasugian (2009, 150) menyatakan bahwa “Katalog adalah daftar koleksi dari suatu perpustakaan tertentu yang disusun secara sistematis.”

Sedangkan Suhendar (2007, 1) mendefinisikan bahwa “Katalog adalah daftar bahan pustaka baik berupa buku maupun non-buku seperti majalah, surat kabar, microfilm, slide dan lain-lain yang dimiliki dan tersimpan pada suatu atau sekelompok perpustakaan.” Menurut Purwono (2010, 121) “Katalog merupakan himpunan rujukan atau berkas yang teratur untuk mencatat dokumen (pustaka atau koleksi).”

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa katalog merupakan daftar koleksi dari suatu perpustakaan baik berupa buku maupun non-buku seperti majalah, surat kabar, microfilm, slide serta himpunan rujukan atau berkas yang teratur untuk mencatat koleksi yang dimiliki dan tersimpan dan disusun secara sistematis pada sekelompok perpustakaan.

Katalog perpustakaan bertujuan untuk membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan koleksi yang sesuai dengan kebutuhannya. Yulia dan Mustafa (2009, 8.15) “Tujuan utama katalog perpustakaan adalah membantu pengguna perpustakaan untuk memperoleh bahan pustaka seefisien mungkin.” Sedangkan Purwono (2010, 122) menyatakan bahwa tujuan katalog adalah:

1. Identifikasi dokumen primer.

2. Menentukan lokasi dokumen serta proses temu kembalinya.

3. Temu kembali dokumen primer untuk memenuhi permintaan pemakai dengan berdasarkan ancangan pengarang, subjek, judul dan sebagainya.

4. Administrasi kumpulan dokumen.

Menurut Hasugian (2009, 151) “Fungsi katalog perpustakaan adalah sebagai sarana temubalik informasi, sistem komunikasi dan sebagai daftar inventaris koleksi di suatu perpustakaan.”

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa katalog perpustakaan bertujuan untuk identifikasi dokumen primer serta membantu pengguna dalam menentukan, menemukan dan memperoleh bahan pustaka seefisien mungkin serta berfungsi sebagai daftar inventaris koleksi perpustakaan dan sarana temubalik informasi.

Selaras dengan perkembangan perpustakaan yang semakin maju, katalog sebagai bagian dari sistem perpustakaan semakin maju. Dilihat dari perkembangannya, fisik katalog dapat dibedakan, diantaranya terdiri dari katalog buku, katalog berkas, katalog kartu dan komputer atau katalog komputer terpasang. Katalog komputer terpasang sering disebut dengan online public access catalog (OPAC) adalah bentuk katalog terbaru yang telah digunakan pada sejumlah perpustakaan tertentu. Hasugian (2009, 155) menyatakan bahwa OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi berbasis komputer yang digunakan oleh pengguna untuk menelusur koleksi suatu perpustakaan atau unit informasi lainnya.

2.8.2 Pengertian Katalogisasi Subjek

Katalogisasi subjek adalah tahap penentuan subjek utama suatu koleksi.

Menurut Yulia dan Mustafa (2009, 4.3) “Pengindeksan subjek adalah kegiatan

melakukan identifikasi tentang subjek atau pokok persoalan yang dibahas dalam suatu bahan pustaka.” Sedangkan Purwono (2010, 143) menyatakan bahwa

“Pengkatalogan subjek yaitu kegiatan mengadakan identifikasi tentang subjek atau pokok persoalan/isi yang dibahas dalam satu dokumen.”

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa katalogisasi subjek/pengindeksan subjek merupakan suatu kegiatan untuk melakukan identifikasi tentang subjek berdasarkan isi/pokok persoalan yang dibahas dan terdapat pada suatu bahan pustaka/dokumen yang dimiliki oleh perpustakaan.

2.8.2.1 Tujuan Katalogisasi Subjek

Pengatalogan subjek berkaitan dengan apa isi sebuah materi perpustakaan, misalnya subjek apa yang dibahas oleh sebuah buku atau apa isi buku tersebut.

Sulistyo-Basuki (2011, 14) meyatakan bahwa “Tujuan pengatalogan subjek adalah menentukan subjek apa saja yang dimiliki sebuah perpusttakaan dengan menentukan istilah atau frasa yang seragam.” Sedangkan menurut Yulia dan Mustafa (2009, 7.3) “Pengatalogan subjek bertujuan untuk menggunakan kata-kata (istilah) yang seragam untuk materi perpustakaan mengenai subjek tertentu.”

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tujuan katalogisasi subjek adalah kegiatan menentukan subjek dengan menggunakan istilah atau frasa yang seragam untuk materi perpustakaan mengenai subjek tertentu yang dimiliki suatu perpustakaan.

2.8.2.2 Standard dan Pedoman Katalogisasi Subjek

Pengindeksan subjek bahan pustaka di perpustakaan dilaksanakan dengan menggunakan pedoman yang berlaku secara nasional maupun internasional.

Dalam buku Pedoman Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI (2002, 21) pedoman tersebut terdiri dari kelompok/jenis berikut:

1. Skema klasifikasi 2. Daftar tajuk subjek 3. Pedoman kebahasaan.

Setelah melakukan analisis subjek bahan pustaka, kegiatan selanjutnya adalah subjek tersebut diterjemahkan ke dalam suatu kode atau bahasa indeks tertentu. Menurut Yulia dan Mustafa (2009, 4.12 – 4.13) ada beberapa sistem bahasa indeks, yaitu:

1. Daftar tajuk subjek, yaitu mendaftarkan sejumlah istilah atau kata-kata dengan memberikan acuan atau penunjukan, seperti istilah “see”, dan

“see also”, atau “lihat” dan “lihat juga”.

Contoh:

Medical Subject Headings (MeSH) dari National Library of Medicine Daftar Tajuk Subjek untuk Perpustakaan, (1994)

Sear’s List Subject Headings, (1997)

2. Thesaurus, yaitu suatu daftar kosa kata atau istilah dengan menyebutkan hubungan-hubungannya dengan menggunakan istilah UF (Used For), NT (Nerrower Term), BT (Broader Term), RT (Related Term) dan lain-lain.

Contoh:

CAB Thesaurus, CABI, (1990)

INSPEC Thesaurus of the Institution of Electrical Engineers

3. Skema klasifikasi, yaitu bahasa indeks yang istilah-istilahnya disusun berkelas yang diberi kode atau lambing tertentu. Umumnya skema klasifikasi terdiri dari tiga unsur, yaitu: (1) bagan, (2) tabel dan (3) indeks.

Contoh:

Dewey Decimal Classification, oleh Melvil Dewey (1876) Universal Decimal Classification (1905)

Library of Congress Classification (1899)

Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa pedoman dan sistem bahasa indeks yang digunakan untuk menentukan suatu subjek bahan pustaka terdiri dari skema klasifikasi, daftar tajuk subjek, pedoman kebahasaan dan thesaurus.

2.8.2.3 Langkah-Langkah Katalogisasi Subjek

Katalogisasi subjek biasanya dikaitkan dengan tajuk subjek, maupun bagan klasifikasi. Subjek yang telah ditentukan akan menjadi acuan untuk mencari tajuk subjek pada pedoman tajuk subjek. Siregar (2014, 2) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam pengindeksan subjek adalah sebagai berikut:

1. Langkah pertama dalam pengindeksan subjek adalah melakukan analisis subjek atau analisis konsep yang menyangkut penentuan mengenai topik apa yang dibahas dalam dokumen yang diolah.

2. Langkah kedua adalah penerjemahan yang mencakup pemilihan istilah-istilah untuk menyatakan materi apa yang dibahas dalam dokumen tersebut. Istilah-istilah tersebut dikenal dengan istilah indeks atau deskriptor karena yang digambarkan istilah tersebut adalah materi subjek dokumen.

Menurut Purwono (2010, 100-102) proses pengindeksan subjek sebagai berikut:

1. Pengindeksan kata

Semua kata yang tercantum dalam dokumen biasanya disebut bahasa alamiah sebagai dasar pembuatan indeks kecuali yang termasuk stop list. Stop list adalah semua kata yang tidak termasuk dalam keyword atau tidak dapat didekati, misalnya semua artikel (kata sandang) seperti: an, a, the dan lain-lain juga kata penghubung seperti with, and dan lain-lain. Untuk pemakaian kosakata yang diambil dari dokumen (judul) kita harus mengetahui sinonimnya untuk mendapatkan banyak dokumen dalam proses penemuan kembali. Untuk menyatakan semua iu (sinonim) dalam sistem computer, ada tanda-tanda tertentu misalnya dengan or, and atau dengan tanda titik dua (:) atau mengadakan pemotongan, misalnya teacher menjadi teach.

2. Pengindeksan konsep

Dalam pengindeksan ini yang diindeks adalah konsep bukan kata.

Dalam pengindeksan konsep dapat menggunakan bahasa artificial yang disesuaikan dengan kebutuhan pengindeksan. Bahasa artificial adalah bahasa indeks berstruktur (structured index languages) yang terdiri dari satu daftar istilah indeks yang terawasi yang disebut kosakata terawasi atau daftar kendali (authority list). Pengindeksan dengan menggunakan kosakata terawasi disebut assiggnet indexing.

Dari tiap dokumen harus dikenali konsepnya, dan konsep itu diterjemahkan kedalam suatu istilah indeks atau kelas yang diambil dari suatu daftar kendali (kosakata terawasi). Kosakata terawasi

menghasilkan pengindeksan yang taat asas dan penyesuaian kosakata antara pengindeksan dan penelusur informasi. Kosakata terawasi mengendalikan kata sinonim, yang mendekati sinonim, homograf dan mempermudah penelusuran generick dengan memperlihatkan hubungan antar kata (untuk memperbanyak recall=perolehan).

3. Pengindeksan bahasa alami dengan mesin

 KWICK (Key word in contact), kata yang digunakan sebagai kunci terletak di tengah, tetap pada kalimat. Misalnya:

University of Marylin library

Library Introduction to library classification Library Library education

Library Manual of library classification Library Public library administration Library University of Marylin library Selain itu ada bentuk indeks yang lain yaitu:

Unmanipulated catchword indexing, misalnya:

Dari kedua uraian di atas dapat diketahui bahwa langkah-langkah dalam katalogisasi/pengindeksan subjek adalah melakukan analisis subjek atau konsep dan penerjemahan kedalam bahasa indeks.

2.8.2.4 Analisis Subjek

Pengindeksan subjek menghasilkan deskripsi indeks yang merupakan deskripsi ringkas mengenai isi dokumen. Masalah dalam pengindeksan subjek adalah menetapkan isi dokumen, yang didasarkan pada analisis subjek (subject

analysis). Dalam buku Panduan Klasifikasi Di Perpustakaan Nasional RI (2007, 3) dinyatakan bahwa “Analisis subjek yaitu proses meneliti, mengkaji dan mengumpulkan isi yang dibahas dalam bahan perpustakaan.”

Subrata (2009, 1) mendefinisikan analisis subjek adalah:

Kegiatan menganalisa subyek atau pokok bahasan dari suatu bahan pustaka secara konseptual dan menterjemahkan dalam notasi sehingga akan diperoleh suatu kata atau kosa kata atau lambang-lambang yang terdapat dalam bahasa indeks.

Menurut Yulia dan Mustafa (2009, 4.1) “Analisis subjek adalah setiap bahan pustaka yang masuk ke perpustakaan harus dilakukan analisis terlebih dahulu, mengenai apa atau tentang apa bahan pustaka tersebut.”

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa analisis subjek merupakan suatu proses meneliti, mengumpulkan dan menganalisa subjek/isi atau pokok bahasan mengenai apa atau tentang apa bahan pustaka tersebut dibahas dan diterjemahkan dalam notasi yang akan memperoleh suatu kosa kata yang terdapat dalam bahasa indeks.

Pada kegiatan analisis subyek, dibutuhkan kemampuan dalam menentukan subyek apa yang dikandung dalam bahan pustaka yang diolah. Menurut Yulia dan Mustafa (2009, 4.4) untuk melaksanakan kegiatan analisis subjek ada dua hal yang perlu dikenali atau dipahami tentang suatu bahan pustaka, yaitu:

1. Jenis konsep 2. Jenis subjek 1. Jenis konsep

Subjek suatu bahan pustaka tidak selalu menampilkan ketiga konsep secara bersamaan. Dalam analisis subjek, terdapat tiga jenis konsep yaitu:

a. Disiplin ilmu adalah istilah yang digunkan untuk satu bidang pengetahuan yang meliputi subjek bahan pustaka.

Contoh:

Pengantar ekonomi

Hanya menunjukkan adanya konsep disiplin : ILMU EKONOMI b. Fenomena adalah benda atau wujud yang menjadi objek kajian dari

satu disiplin ilmu.

Contoh:

Peternakan ayam

Konsep disiplin : ILMU PETERNAKAN

Fenomena atau konsep subjek : AYAM

c. Bentuk adalah cara bagaimana suatu subjek disajikan Contoh:

Direktori Perpustakaan Perguruan Tinggi

Ketiga jenis konsep secara bersamaan terdapat juga dalam sebuah buku

Konsep disiplin : ILMU PERPUSTAKAAN

Fenomena atau konsep subjek : PERGURUAN TINGGI

Konsep bentuk : DIREKTORI

b. Subjek sederhana adalah subjek yang hanya terdiri dari satu faset yang berasal dari satu subjek dasar. Menampilkan fenomena atau konsep subjek, yang mengkaji satu fokus dari satu faset dalam disiplin atau subjek dasar terkait.

Contoh:

1) Peternakan ayam

Subjek dasar : PETERNAKAN

Fenomena : faset P : AYAM

Urutan Sitiran : PETERNAKAN/AYAM 2) Pengantar pengindeksan subjek

Subjek dasar : ILMU PERPUSTAKAAN

Fenomena : faset E : PENGINDEKSAN SUBJEK Urutan Sitiran : ILMU PERPUSTAKAAN/

PENGINDEKSAN SUBJEK

c. Subjek majemuk adalah suatu subjek yang terdiri dari subjek dasar disertai focus-fokus dari dua atau lebih faset. Menampilkan fenomena atau konsep subjek yang mengkaji gabungan beberapa fokus dari beberapa faset dalam disiplin atau subjek dasar terkait.

Contoh:

1) Kurikulum Sekolah Dasar

Di sini terdapat satu subjek dasar, dan dua faset Subjek dasar : PENDIDIKAN

Fenomena : faset P (jenis) – SEKOLAH DASAR Fenomena : faset E (masalah) – KURIKULUM

d. Subjek kompleks, yaitu bila ada dua atau lebih subjek dasar yang berinteraksi antara satu sama lain. Dalam melakukan analisis subjek, untuk subjek kompleks harus dapat dilakukan pemilihan secara taat asas subjek mana yang akan diutamakan. Hubungan interaksi antara subjek tersebut disebut dengan istilah fase. Dalam subjek kompleks terdapat empat fase yaitu: fase bias, fase pengaruh, fase alat dan fase perbandingan.

Dalam buku Panduan Klasifikasi Di Perpustakaan Nasional RI (2007, 3-7) Untuk melakukan analisis subjek, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Memahami konsep subjek

Dalam konsep subjek dokumen/bahan pustaka terdiri dari tiga unsur yaitu:

a. Disiplin ilmu b. Fenomena dan c. Bentuk

2. Memahami jenis subjek

Untuk nengurangi subjektivitas dalam melakukan analisis subjek dan agar dapat dilakukan secara taat azas, maka perlu dikenali jenis-jenis subjek yang terdapat dalam bahan pustaka yang dianalisis. Dalam analisis subjek isi bahan perpustakaan ada empat jenis subjek, yaitu:

a. Subjek dasar b. Subjek sederhana c. Subjek majemuk dan d. Subjek kompleks.

3. Memahami subjek kompleks

Dalam melakukan analisis subjek terhadap subjek kompleks, harus dapat dilakukan pemilihan secara taat azas subjek-subjek yang diutamakan atau perlu dihimpun di perpustakaan. Yang perlu diperhatikan adalah hubungan interaksi (phase relations) atau hubungan fase antar subjek-subjek yang ada. Untuk menentukan subjek yang diutamakan dalam subjek kompleks terdapat empat fase, yaitu:

a. Fase bias b. Fase pengaruh c. Fase alat dan d. Fase perbandingan.

Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang diperhatikan dalam melakukan analisis subjek antara lain konsep subjek/jenis konsep, jenis subjek dan subjek kompleks.

2.8.2.5 Cara Menentukan Subjek

Dalam upaya menentukan suatu subjek yang terkandung dalam buku, maka perlu dilakukan penelaahan terlebih dahulu terhadap isi buku. Dalam buku Panduan Klasifikasi Di Perpustakaan Nasional RI (2007, 8) dinyatakan bahwa cara menentukan subjek tersebut mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Melalui judul buku, seringkali melalui judul saja suatu bahan perpustakaan sudah dapat ditentukan subjeknya, hal ini kebanyakan untuk buku-buku ilmiah.

2. Melalui daftar isi, adakanya dengan melihat daftar isi suatu bahan perpustakaan sudah diketahui subjeknya.

3. Melalui daftar bahan perpustakaan atau bibliografi yang digunakan oleh pengarang untuk menyusun karya tersebut.

4. Dengan membaca kata pengantar atau pendahuluan dari bahan perpustakaan tersebut.

5. Apabila langkah-langkah di atas masih belum dapat membantu hendaklah dengan membaca sebagian atau keseluruhan dari isi bahan perpustakaan tersebut.

6. Menggunaka sumber lain seperti bibliografi, ensiklopedia, tinjauan buku dan lain-lain.

7. Seandainya cara terdahulu masih belum juga dapat membantu untuk menentukan subjek bahan perpustakaan, hendaknya menanyakan

7. Seandainya cara terdahulu masih belum juga dapat membantu untuk menentukan subjek bahan perpustakaan, hendaknya menanyakan

Dokumen terkait