BAB III METODE PENELITIAN
4.4. Tujuan Komite AIDS HKBP
1. Meningkatkan kualitas spiritual anggota gereja untuk mampu memelihara dirinya mencegah penularan HIV dan AIDS dan juga tidak menularkan kepada orang lain.
2. Memotivasi para pelayan, anggota gereja atau masyarakat bertekad menghentikan suasana penolakan dan kebisuan (breaking silence) di tengah gereja dan masyarakat.
3. Mengupayakan Komite AIDS HKBP memiliki klinik IMS dan VCT sebagai aksi nyata penanggulangan HIV dan AIDS di masyarakat.
4. Mengupayakan RS HKBP Balige sebagai pusat rujukan penanggulangan HIV dan AIDS.
5. Merawat, mengobati, dan mendukung meningkatkan kualitas hidup ODHA dan penyalahgunaan narkoba.
4.5 Cakupan Program Kerja Lembaga 4.5.1 Divisi Capacity Building
1. Mengadakan pelatihan-pelatihan para pelayan dan warga menjadi kelompok relawan gereja dan konselor pendamping ODHA di tingkat jemaat, resort, distrik dan sinodal baik di dalam maupun di luar negeri.
2. Mengadakan program pembinaan untuk pelayan gereja di tingkat distrik.
3. Melatih menjadi pelatih (ToT) di tingkat distrik
4. Mengadakan pelatihan bagi remaja & pemuda untuk peduli dengan kesehatan reproduksi bagi warga gereja dan masyarakat terutama pelajar SMP dan SMU.
5. Mendidik medis dan tenaga medis untuk mengadakan keterampilan dalam merawat ODHA dalam bentuk pelatihan, kursus singkat dan sekolah di dalam dan di luar negeri.
4.5.2 Divisi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
1. Mengadakan program anti AIDS di tingkat resort, distrik dan masyarakat.
2. Mengadakan program KIE tentang kesehatan reproduksi di seluruh jemaat.
3. Mengadakan program KIE tentang penyakit menular seksual di gereja dan penanggulangannya.
4. Pengembangan mekanisme kerjasama lintas sektor dan lintas program dalam rangka penanggulangan penyalahgunaan narkoba terhadap pengguna.
5. Penyampaian KIE tentang bahaya HIV dan AIDS dan penyalahgunaan narkoba serta penanggulangannya.
6. Menyebarluaskan informasi melalui media HKBP.
7. Menerbitkan brosur, poster, leaflet dan modul.
4.5.3 Divisi Advokasi (pembelaan terhadap ODHA) dan Dukungan Masyarakat (Community Support)
1. Melakukan penyuluhan, sosialiasi dan orientasi gerakan anti stigma dan diskriminasi terhadap ODHA kepada masyarakat.
2. Advokasi kepada pucuk pimpinan HKBP.
3. Memotivasi pelayan dan anggota gereja atau masyarakat bertekad menghentikan suasana penolakan dan kebisuan (breaking silent) di tengah gereja dan masyarakat.
4. Pengembangan program Community Support (Dukungan Masyarakat).
5. Menyediakan pelatihan dan dukungan bagi mereka yang menderita HIV dan AIDS dengan cara mendengarkan mereka dan mengikut sertakan mereka dalam program.
6. Memberdayakan ODHA dan pengguna dalam berbagai kegiatan/ketrampilan.
7. Refleksi teologis mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan terkait dengan HIV dan AIDS dengan tidak lagi memperhatikan pertanyaan- pertanyaan moral.
4.5.4 Divisi Pengembangan Infrastruktur Pelayanan RS 1. Mengadakan program KIE kepada ODHA hamil.
2. Mengadakan program KIE tentang penanganan ODHA.
3. Mengupayakan pengadaan obat antiretroviral dengan harga terjangkau.
4. Pengembangan sarana, prasarana dan prosedur untuk pengadaan darah yang steril.
5. Mengembangkan mekanisme pelayanan, perawatan dan pengobatan di RS HKBP dan meningkatkan kemampuan RS HKBP menangani HIV dan AIDS.
4.5.5. Divisi Pengembangan Kemitraan
1. Mendukung gereja-gereja dalam menjalin jaringan dengan kelompok lain.
2. Peningkatan kerja sama antara gereja dengan lembaga di dalam dan di luar negeri.
3. Peningkatan kerja sama dengan lembaga pemerintah.
4.6. Gambar Bagan Struktur Program Komite AIDS HKBP Balige
Penangungjawab Organizing
Commiitee Steering
Committee Ketua
Ketua Konsultan
Sekretaris Sekretaris
Eksekutif
Anggota Bendahara
Devisi Komunikasi Informsai dan
Edukasi
Devisi Capacity Building
Devisi Advokasi dan Community
Support
Devisi Kemitraan
4.7. Pengorganisasian Komite AIDS HKBP 2017-2019 Penanggungjawab : Ephorus HKBP
Steering Committe
Ketua : Sekretaris Jenderal HKBP
Sekretaris : Kepala Departemen Diakonia HKBP Anggota : Preases Distrik II Silindung
Preases Distrik III Humbang Preases Distrik IV Toba Prepeases Distrik IX Sibolga
Preases Distrik V Sumatera Timur Preases Distrik VII Samosir Preases Distrik X Medan-Aceh Preases Distrik XI Toba Hasundutan Direktur RS. HKBP, Balige
Kabiro SMIRNA HKBP Kabiro pembinaan HKBP Ka. Biro Perempuan HKBP Organizing Committee
Ketua : dr. Tihar Hasibuan, MARS Konsultan : dr. Maya Damanik, MARS Sekretaris Eksekutif : Diak. Nurhayati Silalahi
Bendahara : 1. Bendahara Umum Kantor Pusat HKBP 2. Tamba U. Hutagaol, SE.
Divisi Informasi Komunikasi dan Edukasi : 1. Biro informasi
2. Direktur Radio Bona Pasogit HKBP 3. Direktur Radio Swara Diakonia HKBP 4. Diak Oka Nurhati Harianja
5. dr. Martin Pasaribu, Sp.PD
Divisi Capicity Building :
1. Diak. Matilda Nainngolan, M.Pd 2. Diak, Maida Siagian, M.Div 3. dr. Kristina Sitorus
Divisi Advokasi dan Communty Support : 1. Sekretaris Mitra
2. Ka. Biro Oikumene HKBP 3. Diak. Rosmauli Hutahean 4. Diak. Solide Siahaan Ditetapkan di : Pearaja Tarutung Pada tanggal : 14 Juni 2017
BAB V ANALISIS DATA
5.1. Pengantar
Pada bab ini akan dibahas data-data yang diperoleh dari lapangan. Data tersebut diperoleh dari hasil penelitian melalui observasi dan wawancara mendalam dengan informan. Analisis data adalah proses menjadikan data memberikan pesan kepada pembaca. Melalui analisis data, maka data yang diperoleh tidak lagi diam melainkan “berbicara”. Analisis data menjadikan data itu mengeluarkan maknanya sehingga para pembaca tidak hanya mengetahui data itu melainkan juga mengetahui apa yang ada di balik data itu.
Di bagian ini penulis mencoba menganalisis data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara yang diajukan kepada informan yakni para Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Yang menjadi informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang, dengan komposisi 1 orang informan kunci, 5 orang informan utama, dan 2 orang informan tambahan.
Pengumpulan data ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Studi kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data atau informasi menyangkut masalah yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku serta tulisan yang ada kaitannya terhadap masalah yang diteliti.
2. Peneliti melakukan observasi untuk memperoleh gambaran tentang kondisi fisik dan sosial lokasi penelitian dan selanjutnya untuk menggali
67
informasi tentang dampingan keluarga bagi ODHA di Komite AIDS HKBP.
3. Melakukan wawancara terhadap informan kunci, informan utama, dan informan tambahan.
Nurhayati berusia 37 Tahun, menduduki jabatan sebagai Program Manager di Komite AIDS HKBP Balige, mulai bekerja 14 tahun lalu tepatnya tahun 2004, di mana pada saat itu masih seorang staf di tempat yang sama.
Adapun kutipan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan kunci sebagai berikut:
“Pihak komite AIDS selalu memberikan sosialisasi itu ke masyarakat Tobasa sekitarnya dan Rumah sakit. Kita langsung turun ke setiap desa kecamatan, khususnya masyarakat yang ada di pelosok Tobasa, yang kurang mendapat infolah tentang HIV/AIDS. Setiap daerah/Rumah Sakit itu, kami rujuk satu orang staf dari Komite AIDS. Disana kita mensosialisasikan tentang informasi HIV/AIDS, apa dan bagaimana ODHA itu sebenarnya, dapat menular dari apa saja. Banyak lah, pokoknya paling utama itu informasi yang bisa mencegah munculnya stigma dan diskriminasi yang baru. Sudah cukup selama ini para ODHA memperoleh anggapan dan perlakuan seperti itu, maunya jangan
ditambah lagi, terlebih agar ODHA tersebut mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitarnya”.
Kemudian peneliti menanyakan apakah dengan kegiatan atau sosialisasi tersebut dapat meningkatkan dukungan yang diberikan masyarakat/keluarga kepada ODHA, dan berikut pernyataan informan:
“Kalau masyarakat/keluarga mau bekerja sama dengan pihak lain (LSM, Rumah Sakit, Pemerintah), dukungan keluarga dapat ditingkatkan dan dimaksimalkan. Apalagi dengan informasi yang selama ini diberikan kepada masyarakat mengenai HIV/AIDS, sekarang kuncinya itu ada ditangan masyarakat. Ada terkadang masyarakat yang sudah memperoleh informasi dan mengerti tentang penyakit itu, malah diri mereka sendiri yang mendoktrin oranglain untuk menjauhi ODHA.
Padahal dia itu tau loh, bagaimana HIV itu nularnya. Karena masyarakat sudah terdoktrin seperti stereotip yaitu keyakinan mendalam kalau HIV/AIDS itu penyakit yang sangat menular yang ditularkannya sangat mudah. Sebenarnya mereka pengetahuannya juga mulai ada kalau ternyata HIV/AIDS tidak tertular ketika kita bersalaman, berbicara, berenang, maupun makan bersama. Tetapi stereotip keyakinan mendalam kalau ODHA itu penyakit yang kotor”.
14 tahun bekerja, menjadikan informan mengetahui rintangan yang sering dihadapi pada ODHA selama ini. Dimana informan yang mengatakan kalau tekanan terbesar bagi ODHA itu bukan berasal dari penyakitnya melainkan dari lingkungan luar. Berikut kutipan wawancaranya:
“Ini pengalaman dari staf yang bekerja. Setiap pasien disini dirujuk ke Rumah Sakit yang ada di Medan. Jadi pernah ada salah satu staf yang bercerita bahwa ada seorang ODHA yang dipecat dari pekerjaannya, diusir/dijauhi keluarganya sendiri, keluarga belum bisa menerima. Kita (Komite AIDS) memberikan informasi kepada keluarganya. Bagaimana ya, mereka (keluarga ODHA) itu stereotipnya masih sangat tinggi.
Bagaimana mengubah stereotip itu sangat susah dan perlu tahap-tahap
tertentu. Karena itu, sosialisasi keluarga untuk mendapatkan dukungan sangat diperlukan sehingga dapat berpengaruh positif kepada ODHA”.
Dukungan keluarga/masyarakat yang diterima para ODHA sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, yang tanpa disadari dukungan yang diberikan itu dapat menimbulkan efek psikologis yang baik tentang bagaimana ODHA melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong dalam beberapa kasus meningkatnya semangat hidup, percaya diri, dan bersikap positif.
Sama halnya seperti yang dirasakan FD sekarang ini. Berikut cakupan wawancara dengan informan
“Kalau orang begitu tau bahwa dia sudah HIV positif, mereka itu kebanyakan meninggal bukan karena penyakitnya tapi karena stress.
Stres yang bagaimana? Karena masih kurang dukungan dari keluarga/masyarakat. Mereka berpandangan bahwa ODHA adalah orang nakal dan berperilaku menyimpang, padahal tidak semua kena HIV/AIDS dikarenakan hal yang tidak-tidak tadi. Jadi bagaimana dengan mereka yang terkena HIV/AIDS dari suaminya? Kan kasihan kalau mereka juga ikut-ikutan dianggap seperti itu. Namun jika ODHA mendapatkan dukungan keluarga/masyarakat, mereka dapat menjalani hidup lebih baik, bebas berkarya, melakukan pekerjaan layaknya orang- orang pada umumnya. Karena itu, saya sangat berterima kasih kepada komite AIDS HKBP yang telah membantu saya dan teman-teman senasib dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat/keluarga sehingga kami (ODHA) mendapatkan dukungan positif”.
Setiap staf yang bekerja di Komite AIDS, diwajibkan mengikuti aturan yang ada, seperti salah satunya melakukan pendampingan kepada para ODHA.
Dimana pendampingan ini dilakukan ketika ODHA melakukan tes ARV di Rumah Sakit, Komite AIDS juga memberikan bantuan secara moril dan materi
secara langsung kepada ODHA, sehingga mereka mendapat dukungan keluarga/masyarakat. Seperti kutipan wawancara dibawah ini:
“Ada beberapa Rumah Sakit, Puskesmas juga, mereka dibina di Rumah Sakit sendiri. Komite AIDS sebagai supporting, konseling, terkhusus mereka yang mendapat stigma dan diskriminasi dari masyarakat/keluarganya sendiri. Banyak juga ODHA yang konsultasi dengan staf di Komite AIDS. Bagaimana kita melakukan pendampingan?
Ketika ODHA dirujuk ke layanan untuk melakukan tes ARV yang diadakan secara berskala. Melalui sosialisasi itu kita memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi atau yang disebut KIE kepada masyarakat. Masyarakat kita beri pelatihan sehingga yang belum tahu tentang HIV/AIDS jadi tahu, yang tahu kemudian mau untuk dilatih dan kemudian menjadi mampu untuk menyalurkan ilmu atau informasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat lainnya. Komite AIDS juga memberikan bantuan materil, bukan hanya sekedar memberikan obat, konseling, ataupun sosialisai keluarga. Namun dalam bentuk bantuan seperti memberikan donasi dari pemerintah, gereja, LSM ataupun lembaga Internasional, untuk keperluan modal usaha seperti ternak ikan lele, ternak babi, ternak ayam potong, usaha ikan keramba, usaha tani,
ST adalah seorang anak yang tinggal bersama orang tuanya. Orang tua ST tidak tau tentang apa yang dialami anaknya ini, ST adalah anak yang sering
berdiam dirumah kurang dikenal orang lain. Berikut kutipan wawancara dengan saudara ST:
”Pertama kali didiagnosa seperti ini pas waktu saya ulang tahun yang ke 30, disitu saya senang nya karena Tuhan masih kasih pertambahan usia sampai kepala 3 ini, sekaligus terkejut ketika kak Frida (Dokter) mendiagnosa kalau saya itu terinfeksi HIV. Untuk beberapa hari ke depan saya kebanyakan diam, gak tau mau lakukan tindakan kayak mana. Saya belum berani ngomong ke orang mamak/bapak.”
ST baru mengetahui mengenai HIV/AIDS semenjak dia terinfeksi.
Selama melakukan konsultasi di Komite AIDS HKBP, dia diberi masukan dan pengetahuan serta arahan tentang HIV. Dari 3 cara penularan HIV/AIDS yang diketahuinya, yang menyebabkan ST terinfeksi itu melalui seks bebas (sesama jenis). Selanjutnya ST pun menceritakan awal mula dia masuk ke jalan ini.
“Seks bebas dek, kalau dari jarum suntik saya gak berani sampai sekarang. SD ntah kelas berapa waktu itu saya lupa, mulai berbaur ke arah pergaulan bebas. Pergaulan bebasnya bukan langsung melakukan hubungan seks ya. Melainkan hanya pelukan, ciuman tapi itu sesama lelaki. Awal nya hanya ajang coba-coba, kayak kita makan permen gitu dek ketagihan. Bukan karena orang bapak/mamak sering berkelahi atau mukulin saya, tapi karena uang jajan. Waktu saya SD itu, uang jajan yang dikasih orangtua cuma goceng. Berhubung kerja mamak/bapak hanya jual sayur di pasar ya saya gak mau nuntut lebih, makanya saya jadi lari kesini. Pas SMA lah saya baru mulai seks bebas, itupun juga karena ada teman yang ngajak, sama kayak tadi juga ajang coba-coba dek.”
5 bulan lamanya keluarga ST belum mengetahui penyakitnya, sejauh itu tidak ada yang mencurigakan dari sikap dan tingkah lakunya. Sampai suatu hari, dia tidak mampu lagi menahan bebannya seorang diri, kemudian pihak RS serta Komite AIDS yang meminta nomor telepon orangtua nya. Sebelum pihak RS
ataupun Komite AIDS yang memberitahu orangtuanya, dia berinisiatif untuk lebih dulu memberitahukan kepada mereka.
“Pertama kali yang tau itu mamak, baru saya kasih tau ke bapak.
Terkejut saya lihat mata mereka itu udah mau nangis gitu. Terdiam mereka dek, semakin membuat saya merasa bersalah aja. Adik gak tau, hanya mereka 2 aja. Itupun yang mereka tau hanya saya kenak penyakit itu saja, kalau yang suka sejenis gak sama sekali. Sempat saya beritahu tentang itu gak tau mau gimana lagi. Semenjak itu, semua sikap mereka berubah mbak (mau nangis) berubah total pun saya rasa. Mereka itu gak ngusir saya untuk keluar dari rumah, gak dek. Tapi mereka kayak membatasi saya gitu, gak boleh satu peralatan mandi, makan sama pun mereka gak mau lagi (sambil hapus air mata), mereka itu gak pernah lagi ngajak makan. Semenjak 2 tahun lalu sampai sekarang.”
Orangtua yang berperan penting juga dalam hal ini, seharusnya mampu mendorong atau memotivasi ST. Baik itu dari ucapan, maupun tindakan. Bukan sebaliknya seperti ini. Selanjutnya peneliti langsung menanyakan kalau perlakuan diskriminasi dari masyarakat itu bagaimana terhadap ST.
“Kalau mereka itu saya gak open dek, bahkan gak ada tetangga yang tau status saya ini. Keluarga ini nya sekarang, gak tau mau gimana lagi.
Gara-gara uda gak nyaman lagi, makanya saya itu lebih sering ke sini dari pada dirumah. Mereka itu welcome-welcome aja orangnya, nyaman, gak ada yang namanya anggapan negatif atau yang kayak adek bilang tadi perlakuan diskriminasi dari mereka itu gak ada. Dirumah itu, beda, tersiksa dek, kayak gak dirumah sendiri, banyak aturan. Seperti tadi lah pas saya mau ke sini, saya minta ongkos sama uang obat ke bapak, bapak itu gak ngasih, diam aja. Malah sempat saya gak jadi pergi gara- gara itu, karena lihat air muka saya uda beda gitu, baru lah bapak kasih, cukuplah untuk nebus obat tadi.”
Selama konsultasi ST selalu mengeluh tentang sikap orangtua. Pihak Komite AIDS menghubungi orangtua dari ST agar datang ke Komite AIDS
HKBP Balige, untuk memberitahu kendala ataupun kemajuan yang dialami ST selama konsultasi. Hasilnya nihil tidak ada perubahan sama sekali.
“Tetep aja dek, udah saya jelasin semua tentang HIV/AIDS, tertular tidak tertular nya bagaimana itu uda dek. Sampai-sampai pihak Komite AIDS juga udah jelasin sama orangtua. Tapi ya, gak berubah juga, masih sama. Ada lah dek, dari perlakuan mereka itu, saya merasa terasingkan, lebih tertutup sama mereka. Semangat untuk hidup gak ada lagi. Biarpun perlakuan diskriminasi itu hanya dari keluarga yang saya terima, tapi kan dek menurut saya, keluarga lah yang seharusnya memberi semangat, dukungan, dorongan, bukan malah kayak gini, membuat perbedaan antara saya sama adek-adek saya.”
5.2.3. Informan utama II
Nama : Dosma Panjaitan
Umur : 53 Tahun
Alamat : Sosordolok
Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Penjahit
D adalah seorang ibu yang berusia 53 tahun. Pekerjaannya sehari-hari adalah menjahit. Beliau memiliki dua orang anak (satu laki-laki dan satu perempuan) dan suaminya adalah seorang petani. Selama dua tahun terakhir kondisi ibu itu semakin menurun. Meskipun sering berobat ke salah satu rumah sakit di Tapanuli, tetapi kondisi kesehatannya semakin menurun. Melalui kerjasama dengan Puskesmas D, akhirnya dianjurkan tes darah (tes HIV) karena adanya batuk menetap selama beberapa bulan, jamur di mulut, muntah-muntah
dan diare kronis. Setelah diadakan pemeriksaan darah, hasilnya adalah Reaktif HIV (HIV+). Saat ini D sangat membutuhkan pendampingan dari semua pihak.
“Suami saya meninggal gara-gara penyakit ini juga, saya kenak dari dia. Gak tau menahu saya tentang HIV/AIDS ini, pas suami terinfeksi itu baru saya cari tahu ditambah buku pedoman seputar HIV/AIDS dari Komite AIDS. Semua keluarga itu tau dek, keluarga suami pun tau status saya ini. Saya belum kasih tau mereka aja, mereka uda tau sendiri status saya, karena pas suami saya meninggal kemarin mereka tau gara-gara apa dia meninggal. Jadi mereka langsung berprasangka saya juga pasti bakalan kenak. Itu pihak keluarga suami ya dek, kalau dari keluarga saya belum tau pada saat itu.”
Setelah keluarga mengetahui bahwa D pun didiagnosa terinfeksi virus yang sama dengan suaminya, keluarga D langsung menjauhkan diri. Bahkan setelah suami D meninggal, pihak keluarga suami tidak pernah berhubungan lagi.
Sama halnya seperti ibu dari D sendiri, hingga akhir hidup ibu nya, barulah D bisa bersentuhan tangan dengan beliau. D diterima kembali oleh keluarga setelah ibu nya meninggal dunia dan sekarang D tinggal bersama dengan keluarga adiknya.
“Gak terceritakan terkadang dek (sedih). Sampai sekarang itu saya gak terima kena penyakit ini. Saya itu perempuan baik-baiknya, gak pernah sekalipun nyoba “jajan” sembarangan, pulang kerja langsung ke rumah.
Gak adil saya rasa, saya korban dari suami saya, saya gak tau sama sekali status suami saya kemarin. Ada, tapi dulu ya dek, keluarga langsung menjauh pas saya kasih tau status saya, mereka gak mau peralatan makan dan mandi saya itu sama dengan punya mereka. Tapi sekarang gak kayak gitu lagi, yaa walau gak sampai 100% ya. Mereka mulai mau menerima status saya ini. Dan sejauh ini, masyarakat ataupun keluarga gak tau sampai sekarang. Jadi kalau anggapan negatif
atau perlakuan diskriminasi dari mereka ga ada yang saya terima, hanya keluarga saja.”
Memperoleh kabar bahwa informan mengidap penyakit yang berbahaya dan tidak dapat disembuhkan hingga meninggal, membuat D lebih sadar arti hidup sebenarnya dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Jauh dari sebelum D terinfeksi, D berkata bahwa dia dulu tidak dekat dengan Tuhan, jarang beribadah.
“Dulu saya itu jauh kali dari Tuhan, gak pernah sekalipun berdoa sebelum/sesudah tidur, jarang ke gereja. Tapi setelah terinfeksi ini semuanya berubah. Karena awal-awalnya keluarga semua menjauh gitu, jadi kalau sempat lagi saya jauh dari Tuhan gak tau bagaimana lagi hidup ini. Jadi kalau saya ada untung rugi nya dek. Untungnya, saya jadi lebih dekat lagi bersekutu sama Tuhan. Kalau ruginya, ya kena ini lah.
Gak tau saya lagi kalau saya gak terinfeksi ini, bisa jadi saya makin gak kenal Tuhan.”
Walaupun D tidak menerima perlakuan diskriminasi lagi dari keluarganya, bukan berarti D bisa bernafas lega. Tetapi, perlakuan diskriminasi yang sempat dirasakan beliau masih berbekas dalam hatinya. D lebih tertutup dan langsung menarik diri. Seperti yang terdapat dalam kutipan wawancara berikut:
“Ya ada lah dek, walaupun keluarga gak ada kasih perlakuan seperti itu lagi sama saya, tapi efek dari anggapan dan perlakuan diskriminasi yang mereka berikan kemarin pada saya itu masih ada sampai sekarang.
Cemoohan/omongan mereka yang gak-gak itu, membuat saya lebih banyak terdiam/termenung. Setelah keluar omongan seperti itu saya selalu menangis di kamar, menutup diri dari keluarga, sama orang lain pun saya jadi lebih tertutup. Bahkan, saya yang lebih dulu menarik diri dari mereka. Bagaimana supaya status saya ini gak kena sama mereka, saya tau malunya, sakitnya gimana, jadi saya simpan sendiri jepit kuku, sisir saya. Kalau yang lain saya dengar, keluarga mereka yang memperlakukan seperti itu. Beda kalau saya semenjak mereka menerima