BAB I PENDAHULUAN
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Analisis Rasio Pasar Terhadap Harga Saham Syariah Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dalam bidang perbankan syariah berkaitan dengan rasio keuangan khususnya pada Analisis Rasio Pasar Terhadap Harga Saham Syariah Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi khususnya Bank Syariah agar dapat memperbaiki manajemen bank dalam menjalankan kegiatan operasional bank, terutama dalam menggunakan dana yang dimiliki sehingga dapat berpengaruh terhadap laba yang diinginkan dimasa yang akan datang.
F. Penelitian Relevan
Suci Yolanda “ Pengaruh Earning Per Share (EPS)Terhadap Harga Saham Pada Bnk Panin Syariah Indonesia” . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham dan juga hal ini ditunjukkan dengan signifikan diatas 0,05. Sehingga apabila terjadi keanaikan pada Earning Per Share (EPS) maka akan mempengaruhi harga saham dan juga hal ini menunjukkan bahwa Earning Per Share (EPS) bukan salah satu-satunya yang mempengaruhi harga saham bagi para peneliti lanjutan, sebaiknya perlu menambah variable variable lain yang memberikan pengaruh ddan tidak berpengaruh terhadap return saham sehingga dapat diketahui factor mana yang paling berpengaruh dan tidak berpengaruh dalam upaya meningkatkan harga saham.10
Tria Diana “ Pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham Bank Syariah Periode Tahun 2018-2019. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap Harga Saham pada
10 Suci Yolanda, “Pengaruh Earning Per Share (EPS)Terhadap Harga Saham Pada Bnk Panin Syariah Indonesia” , Skripsi, (Palembang: UIN Raden Fatah, 2017), 51
Perusahaan Bank Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode Mei 2018-November 2019 dengan Thitung 2,149 lebih besar dari Ttabel sebesar 2,045. Price Earning Ratio (PER) berpengaruh negative terhadap Harga Saham pada Perusahaan Bank Syariah yang terdaftar d Bursa Efek Indonesia periode Mei 2018- November 2019 dengan Thitung (-2,363) lebih besar dari Ttabel sebesar 2,045. Net Profi Margin (NPM) berpengaruh positif terhadap Harga Saham pada Perusahaan Bank Syariah yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode Mei 2018- November 2019 dengan Thitung 2,889 lebih besar dari T table sebesar 2,045. Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Net Profit Margin (NPM), secara bersama sama berpengaruh positif terhadap Harga Saham Bnk Syariah yang Terdafar di Bursa Efek Indonesia Periode Mei 2018- November 2019 dengan Fhitung 4,893 lebih besar dari Ftabel sebesar 2,90.11
Pada penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti terdapat persamaan dengan penelitian terdahulu, yaitu sama sama meneliti harga saham dengan menggunakan rasio pasar. Perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang adalah ada peneliti terdahulu menggunakan lebih dari satu jenis rasio keuangan yang digunakan.
Dengan demikian penelitian yang akan dilakukan dengan judul Pengaruh Earning Per Share ( EPS) Dan Price Earning Ratio (PER) Terhadap Harga Saham Bank Rakyat Indonesia Syariah Pada Periode Tahun 2015-2019 Belum pernah diteliti di IAIN Metro.
11 Tria Diana. “Pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham Bank Syariah Periode Tahun 2018-2019”, Skripsi, (Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2020), 100
A. Harga Saham
1. Pengertian Harga Saham
Saham adalah surat berharga yang menunjukan kepemilikan perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen ataau distribusi lain yang dilakukan perusahaan kepada pemegang sahamnya, termasuk hak klaim atas asset perusahaan dengan prioritas setelah hak klaim pemegang surat berharga lan dipenuhi jika terjadi liquiditas. Ssekuritas (saham) merupakan secarik kertas yang menunjukan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian sari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut mnjalankan haknya.1
Sedangkan harga saham adalah harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat terentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal. Harga pasar saham terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran di pasar modal. Harga saham merupakan salah satu indikator pengelolaan perusahaan. Keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan akan memberikan kepuasan bagi investor yang rasional. Harga
1 Suad Husnan, Manajemen Keuangan Teori dan Praktek. (Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada Yogyakarta, 2002), 303.
saham yang cukup tinggi akan memberikan keuntungan, yaitu berupa capital gain dan citra yang lebih baik bagi perusahaan sehingga memudahkan bagi manajemen untuk mendapatkan dana dari luar perusahaan.
2. Jenis-jenis Harga Saham
Saham atau sekuritas merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemilik kertas tersebut untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan perusahaan yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi untuk melaksanakan hak tersebut. Selembar saham mempunyai nilai atau harga dan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu: 2
a. Harga Nominal
Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena deviden minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
b. Harga Perdana
Harga ini merupakan harga saat saham itu dicatat di bursa efek.
Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga saham itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
2 Suad Husnan, Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang), (Yogyakarta: BPFE UGM, 1996), 27
c. Harga Pasar
Harga Pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Transaksi di sini tidak lagi melibatkan emiten dan penjamin emisi harga, ini disebut sebagai harga pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitannya, karena transaksi di pasar sekunder, kecil sekali terjadi negoisasi harga investor dengan perusahaan penerbit.
3. Pembentukan atau Pertumbuhan Harga Saham
Ada banyak factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pertumbuhan harga sahan adalah sebegai berikut :3
a. Kondisi Fundamental Emiten
Faktor Fundamental merupakan faktor yang erat kaitannya dengan kondisi perusahaan yaitu kondisi dimana manajeman organisasi sumber daya manusia, kondisi keuangan perusahaan yang tercermin dalm kinerja keuangan perusahaan .
b. Hukum Permintaan dan Penawaran
Setelah faktor fundamental, faktor permintaan dan penawaran menjadi faktor kedua yang memperngaruhi harga saham. Dengan asumsi bahwa begitu investor mengetahui kondisi fundamental perusahaan mereka akan melakukan transaksi jual beli. Transaksi-transaksi inilah yang akan memepengaruhi flutuasi harga saham.
3 Tria Diana. “Pengaruh Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham Bank Syariah Periode Tahun 2018-2019” , Skripsi, (Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2020), 17-18
c. Tingkat Suku Bunga
Adanya perubahan suku bunga, tingkat pengembalian hasil berbagai sarana investasi akan mengalami perubahan. Bunga yang tinggi akan berdampak pada alokasi dana investasi pada investor.
Investor produk bank seperti deposito atau tabungan jelas lebih kecil resikonya jika dibandingkan dengan investasi dalam bentuk saham, karena investor akan menjual saham dan dananya akan ditempatkan di bank. Penjualan saham secara serentak akan berdampak pada penurunan harga saham secara signifikan.
d. Valuta Asing
Mata uang Amerika Serikat (Dollar) merupakan mata uang dunia pada saat ini. Apabila dolar naik maka investor asing akan menjual sahamnya dan dtempatkan dibank dalam bentuk dolar sehingga menyebabkan harga akan naik.
e. Dana Asing di Bursa
Mengamati jumlah dana investasi asing merupakan hal yang penting, karena demikian besarnya dana yang ditanamkan, hal ini menandakan bahwa kondisi investasi di Indonesia telah kondusif yang berarti pertumbuhan ekonomi tidak lagi negative, yang tentu saja akan merangsang kemampuan emiten untuk mencetak laba. Sebaliknya jika investasi asing berkurang, ada pertimbangan bahwa mereka sedang ragu atas negeri ini, bai katas keadaa social politik maupun
keamanannya. Jadi besar kecilnya investasi dana asing di bursan akan berpengaruh pada kenaikan atau penurunan harga saham.
f. Indeks Harga Saham
Kenaikan indeks harga saham gabungan sepanjang waktu tertentu, tentunya mendatangkan kondisi investasi dan perekonomian negara dalam keadaan baik. Sebaliknya jika turun berarti iklim investasi sedang buruk. Kondisi demikian akan mempengaruhi naik turunnya harg saham dipasar bursa.
g. News and Rumors
Berita yang beredar di masyarakat yang menyangkut beberapa hal baik itu masalah ekonomi, social, politik keamanan, hingga berita seputar reshuffle cabinet. Dengan adanya berita tersebut, para investor bisa memprediksi seberapa kondusif keamanan negeri ini sehingga kegiatan investasi dapat dilaksanakan. Ini akan berdampak pada pergerakan harga saham dibursa.
B. Rasio Pasar
1. Pengertian Rasio Pasar
Rasio Pasar adalah rasio yang memperhitungkan harga saham dengan laba, nilai buku per saham hingga arus kas. Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat menghargai perusahaan, sehingga
mereka membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham.4
Sementara, menurut Fahmi (2012: 70) rasio nilai pasar digunakan untuk menilai kondisi pasar saham pada periode tertentu.
Jadi dapat dipahami bahwa rasio pasar adalah rasio yang dapat memperhitungkan harga saham yang dapat digunakan oleh masyarakat atau investor untuk membeli saham dengan harga yang lebih.
2. Jenis jenis Rasio Pasar a. Price Earning Ratio (PER)
Menurut Tandelilin, “ PER adalah rasio yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah Earning perusahaan. PER melihat harga pasar saham relative terhadap earningnya.”
Menurut Hanafi “ Perusahaan diharapkan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tinggi (yang berarti mepunyai prospek yang baik), biasanya mempunyai PER yang tinggi. Sebaliknya perusahaan yang diharapkan mempunyai pertumbuhan yang renda, akan mempunyai PER yang rendah juga” .
Menurut Poernamawatie, “ Pada prinsipnya PER memberikan indikasi mengenai jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan dana pada tingkat harga saham dan keuntungan pada suatu periode tertentu” .5
4 Sutrisno, Manajemen Keuangan Teori Konsep & Aplikasi, (Yogyakarta: Ekonesia, 2013), 230
5 Jajang Badruzaman, “Pengaruh Earning Per Share Terhadap Harga Saham”, Jurnal Akuntansi Vol. 12 No. 1, Januari- Juni 2017
Jadi pengertian PER (Price Earning Ratio) adalah perbandingan harga saham dengan perbandingan laba bersih suatu perusahaan sehingga dapat diketahui keuntungan yang akan diperoleh suatu perusahaan tersebut.
Price Earning Ratio (PER) adalah nilai per lembar saham, indikator ini secara praktis telah diaplikasikan dalam laporan keuangan laba rugi bagian akhir dan menjadi bentuk standar pelaporan keuangan bagi perusahaan publik di Indonesia. Oleh, karena itu pemahaman terhadap PER penting dilakukan dan bisa dijadikan sebagai salah satu indikator nilai perusahaan dalam model penelitian. PER disebut juga sebagai pendekatan earning multiplier, menunjukkan seberapa besar investor menilai harga saham terhadap kelipatan earning. Misalnya nilai PER sebesar 10, artinya harga saham merupakan kelipatan dari 10 kali earning perusahaan. Jika earning tahunan dan semua dibagikan dalam bentuk dividen, maka nilai PER 10 kali menunjukkan lama investasi pembelian saham akan kembali dalam waktu lama investasi pembelian saham akan kembali dalam waktu 10 tahun.6
PER digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Kesediaan para investor untuk menerima kenaikan PER sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat perumbuhan yang tinggi, biasanya memilki PER yang tinggi. Sebaliknya perusahaan
6 Harmono, Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), 57
dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memilki PER yang rendah pula.
Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan tinggi biasanya mempunyai price earning ratio yang tinggi pula, dan hal ini menunjukkan bahwa pasar mengaharpkan pertumbuhan laba di masa mendatang. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung mempunyai price earning ratio yang rendah pula.
Semakin rendah price earning ratio suatu saham maka semakin baik atau murah harganya untuk diinvestasikan, Price Earing Ratio menjadi rendah nilainya bisa karena harga saham cenderung semakin turun atau karena meningkatkannya laba bersih perusahaan. Jadi semakin kecil nilai price earning ratio maka semakin murah saham tersebut untuk dibeli dan semakin baik pula kinerja per lembar saham dalam menghasilkan laba rugi perusahaan.
Semakin baik kinerja per lembar saham akan mempengaruhi banyak investor untuk membeli saham tersebut. Menurut Tandelilin, rumus untuk menghitung PER suatu saham adalah dengan membagi harga saham perusahaan terhadap earning per lembar saham. Secara matematis, rumus untuk menghitung PER adalah sebagai berikut:7
PER = Market Per Share Earning Per Share
7 Bhekti Fitri Prasetyorini, “Pengaruh Ukuran Perussahaan, Leverage, Price Earning Ratio dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Manajemen Vol. 1, Januari 2013Universitas Negeri Surabaya
Earning per lembar saham dapat diperoleh dengan earning perusahaan dibagi dengan jumlah saham yang beredar. PER menunjukkan seberapa besar investor bersedia membayar untuk setiap rupiah dari keuntungan yang dilaporkan. Price Earning Ratio yang rendah akan memberikan konstribusi tersendiri bagi investor. Selain dapat membeli saham dengan harga murah dan kemungkinan capital again yang diraih semakin besar, investor dapat mempunyai banyak saham dari berbagai perusahaan yang go public. Dari segi investor Price earning ratio yang terlalu tinggi barangkali tidak menarik karena harga saham tidak naik lagi, yang berarti kemungkinan memperoleh capital again akan lebih kecil
b. Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share (EPS) merupakan rasio untuk mrngukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Semakin tingg nilai Earning Per Share (EPS) tentu saja mengembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Rasio laba menunjukkan dampak gabungan dari likuiditas serta manajemen aktiva dan kewajiban terhadap kemampuang perusahaan menghasilkan laba.8
Selain kebijakan mengenai kegiatan investasinya, harga saham juga dapat dipengaruhi oleh usaha perusahaan dalam meningkatkan laba per saham perusahaan.
8 Kasmir, Pengantar Manajemen Keuangan, (Jakarta: Kencana, 2010), 112
Menurut Zaki Baridwan yang dimaksud dengan Earning per Share (EPS) atau laba per saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk setiap lembar saham yang beredar.
Laba per lembar saham dapat memberikan informasi bagi investor untuk mengetahui perkembangan dari perusahaan.
Menurut Eduardus Tandelilin informasi Earning per Share (EPS) suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan.
Jadi Earning Per Share (EPS) adalah rasio yang digunakan perusahan untuk menunjukkan besarnya laba bersih yang diperoleh perusahaan dan laba tersebut siap dibagikan kepda seluruh pemegang saham.
Earning per Share atau pendapatan per lembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki. Adapun menurut Van Home dan Wachowicz earning per share adalah “Earning after taxes (EAT) divided by the number of common share outstanding” . Adapun rumus Earning per Share (EPS) sebagai berikut:
EPS = Earning After Tax Jumlah Saham yang Beredar
Alat ukur yang paling sering digunakan adalah Earning per Share (EPS). Angka yang ditunjukkan dari Earning per Share (EPS) Inilah yang sering dipublikasikan mengenai performance perusahaan
yang menjual sahamnya ke masyarakat luas (go public) karena investor maupun calon investor berpandangan bahwa Earning per Share (EPS) mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai mengenai besarnya dividen per saham dan tingkat harga saham dikemudikan hari, serta earning per share (EPS) juga relevan untuk menilai efektivitas manajemen dan kebijakan pembayaran dividen.9 Faktor faktor yang mempengaruhi EPS sebagai berikut : 1) Pengguna Hutang
Dalam menentukan sumber dana untuk menjalankan perusahaan, manajemen dituntut untuk mempertimbangkan kemungkinan perusahaan dalam struktur modal yang mampu memaksimumkan harga saham perusahaannya. Perubahan dalam pengguna hutang akan mengakibatkan harga saham. Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa perubahan penggunaan hutang merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat besaran EPS.
2) Tingkat Laba Bersih Sebelum Bunga dan Pajak (EBIT)
Dalam memenuhi sumber dananya, manajemenpun dihadapkan pada beberapa alternatif sumber pendanaan, apakah dengan modal sendiri atau dengan pinjaman (modal asing). Dalam memilih alternatif sumber dana, perlu diketahui pada tingkat profit sebelum bunga dan pajak (EBIT) berapa apabila dibelanjai dengan modal sendiri atau hutang menghasilkan EPS yang sama. Dari
9 Eduardus Tandelilin, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, (Yogyakarta: 2001), 24
penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat laba berish sebelum bunga dan pajak (EBIT) merupakan Faktor yang mempengaruhi besarnya laba per saham.10
Jadi dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa Earning Per Share adalah alat ukur yang biasa digunakan oleh perusahaan untuk menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan.
C. Hubungan Rasio Pasar dan Harga Saham
Earning Per Share (EPS) merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan bank syariah dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Semakin tinggi nilai EPS bank syariah maka investor menganggap prospek bank syariah sangat baik untuk kedepannya sehingga mempengaruhi tingkat permintaan terhadap saham bank syariah tersebeut.11
Price Earning Ratio (PER) merupakan rasio digunakan untuk memprediksi kemampuan Bank Syariah dalam menghasilkan laba dimasa yang akan dating. Semakin rendah price earning ratio suatu saham maka semakin baik atau murah harganya untuk diinvestasikan, Price Earing Ratio menjadi rendah nilainya bisa karena harga saham cenderung semakin turun atau karena meningkatkannya laba bersih bank syariah. Jadi semakin kecil nilai price earning ratio maka semakin murah saham tersebut untuk dibeli dan semakin baik pula kinerja per lembar saham dalam menghasilkan laba
10 Ibid
11 Kasmir, Pengantar Manajemen Keuangan, (Jakarta: Kencana, 2010), 112
rugi bank syariah. Semakin baik kinerja per lembar saham akan mempengaruhi banyak investor untuk membeli saham tersebut.
D. Kerangka Konseptual Penelitian
Sesuai dengan judul yang penulis ambi yaitu Analisis Rasio Pasar Terhadap Harga Saham Syariah Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Maka dapat ditentukan beberapa konsep meliputi:
Harga saham mencerminkan indikator adanya keberhasilan dan dalam mengelola perusahaan. Jika harga saham suatu perusahaan selalu mengalami kenaikan, maka investor atau calon investor menilai bahwa perusahaan selalu mengalami kenaikan, maka investor atau calon investor menilai bahwa perusahaan berhasil dalam mengelolah usahanya.12
Rasio yang banyak digunakan untuk pengambilan keputusan investasi adalah rasio Earning Per Share (EPS) dan rasio harga saham terhadap laba bersih per sahamnya (Price Earning Ratio). Earning Per Share (EPS) merupakan bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para
12 Kusdiyanto, “Analisis Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham Bank-Bank Go Publik di Indonesia”, Emrika, No. 17, 1996, 39-49
Price Earning Ratio (PER) X2
Harga Saham Y Earning Per Share (EPS)
X1
pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki. 13 Price Earning Ratio (PER) atau ratio laba atas saham merupakan salah satu cara mengukur prestasi kerja saham biasa di bursa yang paling lazim digunakan. Price earing ratio (PER) yang tinggi mencerminkan rendahnya kapasitas pemilik saham untuk memperoleh kembali nilai sahamnya.14
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara dari pernyataan penelitian atau jawaban sementara terhadap masalah yang telah dijabarkan dalam rumusan masalah dan kebenarannya perlu dibuktikan lebih lanjut.15 Berdasarkan kerangka teori di atas maka hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ho1 : Earning Per Share (EPS) secara parsial berpengaruh tidak
13 Irham Fahmi, Rahasia Saham dan Obligasi Strategi Meraih Keuntungan Tak Terbatas Dalam Bermain Saham dan Obligasi, (Bandung: Alfabeta, 2013), 52
14 Yeye Susilowati, “ Pengertian Price Earning Ratio (PER) Terhadap Faktor Fundamental Perusahaan (Dividen Pay Out, Earning Per Share dan Risiko) Pada Perusahaan publik di BEJ” , Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol. 10 No. 1 Maret 2013, 51-56
15 Dedy Takdir Syaifuddin, Manajemen Keuangan (Teori dan Aplikasi), (Sulawesi Tenggara: Kampus Bumi Tridharma, 2008), 47
3. Ho3 : Earning Per Share (EPS) dan Price Earing Ratio (PER) secara simultan berpengaruh tidak signifikan terhadap Harga Saham.
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian menjelaskan tentang bentuk, jenis dan sifat penelitian. Rancangan penelitian diartikan sebagai strategi penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan peneliti.
Jenis penelitian ini adalah library research atau penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian terdahulu.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan penelitian deskriptif. Metode pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data yang berupa angka. Data yang berupa angka tersebut kemudian diolah dan dianalisis untuk mendapatkan suatu informasi ilmiah dibalik angka-angka tersebut. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan data untuk menguji dan menjawab pertanyaan mengenai status terakhir suatu objek yang diteliti.
Jadi penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penelitian mengenai status akhir suatu objek yang menunjukkan keadaan berdasarkan angka yang sudah dihitung. Dari penjabaran di atas penelitian deskriptif kuantitatif dalam penelitian ini menganalisis data- data dalam
laporan keuangan yang dipublikasian untuk mengetahui bagaimana pengaruh Earning Per Share (EPS) Dan Price Earning Ratio (PER) Terhadap Harga Saham di Bank Rakyat Indonesia Syariah Periode 2015-2019
Data adalah segala informasi yang dijadikan dan diolah untuk suatu kegiatan penelitian sehingga dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, biasanya sudah dalam bentuk publikasi.1
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Syariah periode 2015-2019 meliputi laporan neraca, laporan laba rugi dan informasi lainnya yang dipublikasikan pada situs www.bi.go.id serta literature yang berkaitan dengan
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Syariah periode 2015-2019 meliputi laporan neraca, laporan laba rugi dan informasi lainnya yang dipublikasikan pada situs www.bi.go.id serta literature yang berkaitan dengan