BAB II KEBIJAKAN HUKUM INVESTASI ASING DI INDONESIA
D. Tujuan, Manfaat, Serta Dampak Negatif Investasi Asing
Tujuan utama penyelenggaraan penanaman modal adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional demi kesejahteraan sosial. Tujuan ini merupakan Keniscayaaan yang tak dapat dihindari karena dampak lansung dari kegiatan penanaman modal adalah injeksi positif bagi kegiatan ekonomi. Bahkan faktor penanaman modal menjadi unsur yang paling penting di dalam sistem perekonomian nasional maupun sistem ekonomi pada umumnya. Hal itu sesuai dengan makna pembangunan ekonomi menurut GBHN 1999-2004, yaitu:13
“Pembangungan ekonomi mempunyai arti pengolahan kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil melalui penanaman modal, penggunaan teknologi serta melalui penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen. Maka selama Indonesia belum memiliki sendiri faktor-faktor tersebut, dapat dimanfaatkan potensi-potensi modal asing, teknologi, dan keahlian dari luar negeri sepanjang tidak mengakibatkan ketergantungan yang terus-menerus serta tidak merugikan kepentingan nasional”.
Dengan demikian tujuan penting terselenggaranya penanaman modal asing adalah demi terwujudnya pembangunan ekonomi nasioanal di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. sehingga dapat meningkatkan kesempatan kerja, meraih teknologi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan sosial.
Hal ini juga selaras dengan yang disebutkan dalam pasal 3 ayat (2) UU No 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, bahwa:
“(2) Tujuan Penyelenggaraan penanaman modal, antara lain untuk:
13
Rosyidah Rakhmawati, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, (Malang: Bayumedia Publishing, 2004), h. 8
27
a. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional; b. Menciptakan lapangan kerja;
c. Meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan;
d. Meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional; e. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional; f. Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan;
g. Mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri; dan
h. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat”.
Terlepas dari pro kontra terhadap kehadiran investasi asing, namun secara teoritis kiranya dapat dikemukakan, bahwa kehadiran investor asing di suatu negara mempunya manfaat yang cukup luas (multiplier effect). Manfaat yang dimaksud, yakni kehadiran investor asing dapat menyerap tenaga kerja di negara penerima modal, dapat menciptakan demand bagi produk dalam negeri sebagai bahan baku, menambah devisa apalagi investor asing yang berorientasi ekspor, dapat menambah pengahasilan negara dari sektor pajak, adanya alih tekonologi (transfer of technology) maupun alih pengetahuan (transfer of know how).14
Penanaman modal asing untuk saat ini, masih menjadi salah satu alternatif penting dalam memperoleh dana, guna melaksanakan pembangunan ekonomi. Melalui penanaman modal asing, diharapkan investor yang tertarik menanamkan modal tidak saja membawa modal namun juga ilmu pengetahuan dan teknologi, keahlian dan keterampilan dalam berbagai bidang termasuk manajemen berorganisasi dan manajemen pemasaran. Dengan demikian diharapkan tidak saja memajukan industri ke arah modernisasi industri namun juga meningkatkan devisa,
14
meningakatkan pendapatan negara-pemerintah daerah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kegiatan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, terjadinya alih pengetahuan, alih teknologi, dan sebagainya.
John. W Head juga mengemukakan tujuh keuntungan investasi, khususnya investasi asing. Ketujuh keuntungan investasi asing itu adalah:15
1. Menciptakan lowongan kerja bagi penduduk negara tuan rumah sehingga mereka dapat meningkaatkan kualitas penghasilan dan standar hidup mereka;
2. Menciptakan kesempatan penanaman modal bagi penduduk negara tuan rumah sehingga mereka dapat berbagi dari pendapatan perusahaan-perusahaan baru; 3. Meningkatkan ekspor dari negara tuan rumah, mendatangkan pengahasilan
tambahan dari luar yang dapt dipergunakan untuk berbagai keperluan bagi kepentingan penduduknya;
4. Menghasilkan pengalihan peralihan pelatihan teknis dan pengetahuan yang dapat digunakan oleh penduduk untuk mengembangkan perusahaan dan industri lain; 5. Memperluas potensi keswasenbadaan negara taun rumah dengan memproduksi
barang setempat untuk menggantikan barang impor;
6. Menghasilkan pendapatan pajak tambahan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, demi kepentingan penduduk negara tuan rumah;
15
Rahayu Hartini, “Analisis yuridis UU No 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal”,
29
7. Membuat sumber daya negara tuan rumah baik sumber daya alam maupun manusia, agar lebih baik dari pemanfaatannya semula.
Kekhawatiran pun mulai diperhitungkan dari banyak sarjana tentang efek negatif yang dapat ditimbulkan akibat aktivitas penanaman modal asing dalam membiayai investasi di Indonesia. Antara lain tentang ketergantungan terhadap luar negeri, nasib penduduk khususnya penduduk yang termasuk angkatan kerja, tentang tanah dimana penanaman modal itu akan dilaksanakan dan ketentuan devisa yang berlaku karena pengusaha asing akan memanfaatkan bagian-bagian keuntungan di negara asalnya.16
Pandangan lain juga mengemukakan, bahwa kehadiran investasi asing di samping membawa dampat positif, senantiasa dapat membawa dampak negatif berupa motivasi komersial semata untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini terungkap dari pemikiran yang dilontarkan oleh Ushaa Dar dan Pratap K Dar:17
“it should, however, be clearly understood from the beginning that the foreign investor is not motivated by consideration of extendinng aid for development. The prime motivation is commercial, and expects return from his investment”.
16
G. Kartasapoetra, Kovensi-konvensi Internasional Tentang Paten Dalam Kaitannya Dengan Alih Tekonologi dan Kepentingan Nasional, (Bandung: Pionir Jaya, 1991), h. 87
17
Berbagai pihak juga berpandangan bahwa kehadiran investor asing tidak bisa dilepaskan dari dunia bisnis, yakni selalu menempuh cara apapun untuk mencari keuntungan yang besar . Sebagaimana yang dikemukakan oleh Panjdi Anoraga:18
“Banyak bukti menunjukan, bahwa betapapun juga, eksplorasi sumber daya alam adalah jenis industri yang bersifat ekstratif dengan ciri utama pada padat modal dan berteknologi tinggi. Dengan demikian, penanaman modal asing di sektor ini juga sangat sulit diharapkan dampak positifnya dalam penyerapan tenaga kerja yang justru menjadi salah satu tujuan pokok pihak Indonesia mengundang mereka datang ke negara ini”.
Persoalan lainnya dalam kontra manfaat investasi tersebut adalah dampak negatif dari investor asing yang notabene hadir dari deretan Perusahaan Multinasional dan Internasional yang menguasai moda global, yang memberikan efek waspada bagi kedaulatan negara kita, khususnya dalam penyelenggaraan penanaman modal asing adalah:19
1. Perusahaan multinasional berdampak negatif bagi perekonomian negara penerima; 2. Perusahaan multinasional melahirkan sengketa dengan negara penerima atau dengan penduduk asli miskin setempat, khususnya negara yang sedang berkembang;
3. Perusahaan multinasional dapat mengontrol atau mendominasi perusahaan-perusahaan lokal. Sebagai akibatnya, mereka dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan ekonomi atau bahkan kebijakan-kebijakan politis dari negar penerima;
18
Ibid, h. 44 19
31
4. Adanya realita perusahaan multinasional yang kegiatan usahanya ternyata telah merusak lingkungan di sekitar lokasi usahanya, terutama negara-negara yang sedang berkembang. Pasalnya perusahaan multinasional telah menggunakan zat-zat kimia dan menerapkan teknologi yang membahayakan lingkungan lingkungan. 5. Perusahaan multinasional dikritik telah merusak aspek-aspek positif dari
penanaman modal di negara-negara berkembang.
Mengantisipasi dampak-dampak di atas, diperlukan kebijakan pemerintah yang terencana dengan perangkat hukum yang sempurna sehingga kesimpangsiuran yang terjadi akibat lemahnya koordinasi antar instasi dalam mengawasi penyelenggaraan investasi asing ini tidaklah memperburuk dampak negatif yang dikhawatirkan terjadi. Dan juga peran dan konsistensi pemerintah dalam mencapai tujuan dan manfaat investasi asing haruslah benar-benar direalisasikan, agar dampak positif langsung maupun jangka panjang benar adanya dirasakan oleh segenap bangsa Indonesia.
Sebagaimana terdapat dalam kebijakan pembangunan pemerintah dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999 di bidang investasi yang menyatakan bahwa pembangunan investasi diarahkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat, memperkuat sumber dana pembiayaan nasional, memperluas pemerataan kesempatan berusaha dan peningkatan peran usaha nasional, terutama usaha kecil, usaha menengah, dan koperasi serta memperluas basis dan peningkatan peran usaha
nasional, terutama usaha kecil menengah, dan koperasi serta memperluas basis dan peningkatan daya saing perekonomian nasioanal menuju kemandirian ekonomi.20
20
33
A.Nasionalisasi Dalam Perspektif Hukum Nasional
Nasionalisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu proses, cara, atau perbuatan menjadikan sesuatu, terutama milik asing menjadi milik bangsa atau negara, biasanya diikuti dengan penggantian yang merupakan kompensasi.1 Sedangkan dalam kajian Politik Hukum Ekonomi Nasional, istilah nasionalisasi paling tidak mencakup tiga pengertian yaitu “konfiskasi”; “Onteigening/expropriation” dan “pencabutan hak”. Berbicara nasionalisasi berarti terkait suatu peraturan di mana pihak penguasa memaksakan semua atau segolongan tertentu untuk menerima bahwa hak-hak mereka atas semua atau beberapa macam benda tertentu beralih kepada negara. Dengan demikian nasionalisasi adalah suatu cara peralihan hak dari pihak pertekelir kepada negara secara paksa (Pencabutan Hak) dan disertai kompensasi. Dalam artian setiap onteigening dan pencabutan hak yang dilakukan tidak disertai dengan ganti rugi maka hal itu dapat disebut konfiskasi.2
1
Bambang Marjihanto, kamus Besar Bahasa Indonesia Populer, (Surabaya: Bintang Timur Offset, 1996) h. 256.Lihat jugaKamus Besar Bahasa Indoensia online Di akses pada 05/01/2015 dari
http//kbbi.web.id/nasionalisasi 2
Antonio Suhadi, dkk. “Studi Hukum Atas Nasionalisasi Perusahaan Asing; Dasar Hukum Tindakan Nasionalisasi Untuk Mencapai Kepastian Hukum Penanaman Modal”, Jurnal Ilmu Hukum dan Kenotariatan (Palembang: FH Universitas Sriwijaya, 2010), h. 155
34
Sedangkan dalam peraturan perundang-undangan Indonesia, Istilah Nasionalisasi telah dikenal sejak dikeluarkannya Undang-undang No. 86 Tahun 1958 Tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda. Pasal 1 UU No. 86 Tahun 58 menyebutkan bahwa Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang berada di wilayah Republik Indonesia yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dikenakan nasionalisasi dan dinyatakan menjadi milik penuh dan bebas Negara Republik Indonesia. selanjutnya dalam penjelasan umum undang-undang ini menjelaskan bahwa yang dinasionalisasikan adalah pada dasarnya segala perusahaan milik Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia, baik ia merupakan pusatnya maupun cabangnya.
Undang-undang di atas juga tidak dicantumkan secara jelas perihal batasan definisi dari makna tindakan nasionalisasi. Sehingga tidak hadirnya kepastian hukum dan tujuan keadilan dalam tindakan nasionalisasi ini. Hanya saja penyusun undang-undang ini mengisyaratkan melalui beberapa pasalnya dan penjelasan umumnya bahwa nasionalisasi adalah tindakan pengembilahan hak secara penuh terhadap seluruh aset asing berupa perusahaan dan modal asing peninggalan kolonial yakni Belanda.3
Ambiguitas dalam pendefinisian nasionalisasi di setiap negara berkembang pasti selalu timbul, begitu pun Indonesia. Dalam penyusunan UU Nasionalisasi ini,
3
Lihat penjelasan umum Undang-undang No. 86 Tahun 1958 Tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda
banyak kalangan pejabat dan ahli hukum masa itu berdebat mengenai batasan definisi dan hak pemberian ganti rugi. Dalam risalah sementara Kabinet Kerja Republik Indonesia yang telah menyusun UU Nasionalisasi No. 86 Tahun 1958 ini terjadi perbedaan pemahaman mengenai konsep nasionalisasi milik asing. Menteri Stabilisasi Ekonomi pada saat itu, Kolonel Suprajogi, Tertanggal 7 November 1958 kepada DPR mengatakan pendapatnya:
“Pemerintah memilih tindakan nasionalisasi karena tindakan ini diakui oleh hukum internasional. syarat sah terpenting adalah ganti kerugian dan ini akan dilakukan oleh pemerintah. Maka jelaslah bahwa tuduhan seolah-olah pemerintah telah mensita bahkan dikatakan mencuri adalah tidak benar.” Tidak hanya Kolonel Suprajogi, Mr. Sujarwo dan Ruslan Abdul Ghani juga berpendapat demikian bahwa nasionalisasi yang menjadi hak negara berkembang harus disertai ganti kerugian. Berbeda halnya dengan beberapa anggota DPR seperti H.A Chamid Widjaja, dan Nungtjik A.R yang berpendapat bahwa :
”Di dalam masyarakat ramai telah berkembang saran-saran dan pernyataan dari masyarakat luas yang diajukan, agara supaya perusahaan-perusahaan itu disita saja, dala artian diambil-alih tanpa diberikan ganti kerugian. Sehingga nasionalisasi yang diinginkan masyarakat luas adalah nasionalisasi tanpa memberikan ganti kerugian”.4
Dengan demikian, perbedaan pendefenisian dan aktualisasi nasionalisasi hanyalah berputar dalam hal pengambilalihan dengan pemberian ganti rugi dan penyitaan tanpa ganti rugi (konfiskasi).
4
Gouw Giok Siong, Segi-Segi Hukum Internasional Pada Nasionalisasi di Indonesia,
36
Selanjutnya pengaturan nasionalisasi terdapat pada Undang-undang No. 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing Pasal 21 dan pasal 22. Pasal 21 berbunyi bahwa Pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi/ pencabutan hak milik secara menyeluruh atas perusahaan-perusahaan modal asing atau tindakan-tindakan yang mengurangi hak menguasai dan/atau mengurus perusahaan yang bersangkutan, kecuali jika dengan Undang-undang dinyatakan kepentingan Negara menghendaki tindakan demikian. Selanjutnya Pasal 22 (1) jikalau diadakan tindakan seperti tersebut pada pasal 21 maka Pemerintah wajib memberikan kompensasi/ ganti rugi yang jumlah, macam dan cara pembayarannya disetujui oleh kedua belah pihak sesuai dengan azas-azas hukum internasional yang berlaku.
Dalam perkembangannya UU No. 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing ini dirubah dan digantikan dengan UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman modal. Perihal nasionalisasi dalam UU ini diatur dalam pasal 7 bahwa:
“(1) Pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan penanam modal, kecuali dengan undang-undang. (2) Dalarn hal Pemerintah melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan sebagaimana dimaksud pada ayat (I), Pemerintah akan rnemberikan kompensasi yang jurnlahnya ditetapkan bcrdasarkan harga pasar.5 (3) Jika diantara kedua belah pihak tidak tercapai kescpakatan tentang kompensasi atau ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (2),penyelesaiannya dilakukan melalui arbitrase”.
5
Lihat penjelasan pasal 7 ayat (2) UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Di mana harga pasar yang dimaksud dijelaskan sebagai harga yang ditentukan menurut cara yang digunakan secara internasional oleh penilai independen yang ditunjuk olch para pihak.
Sekilas tidak ada yang terlalu berbeda antara pengaturan mengenai tindakan nasionalisasi dalam kedua UU tersebut. Hanya saja pada pasal 7 UU No. 25 Tahun 2007 lebih terdapat penekanan bahwa nasionalisasi tidak akan dilakukan kecuali dengan undang-undang. Hal ini menunjukan kedudukan pasal ini sebagai konstitusional bersyarat dimana segala yang terkait dengan panafsiran dan pelaksanaanya akan diatur dalam undang-undang tersendiri. Dalam naskah akademik undang-undang ini disebutkan bahwa tindakan nasionalisasi tidak akan dilakukan kecuali dengan undang-undang adalah semata-mata untuk mewujudkan kepastian hukum bagi investor asing, sehingga kegiatan investasi yang dilaksanakan tidak dibayangi rasa takut akan diambilalih atau dinasionalisasi. Begitu pula dengan pengaturan ganti rugi atau kompensasi yang akan diberikan oleh pemerintah sebagai konsekuensi dari tindakan nasionalisasi akan ditetapkan sesuai dengan harga pasar yang diakui oleh hukum internasional. Hal ini adalah wujud dari penerapan asas keadilan dalam menjamin keamanan aset investor asing selama meninvestasikan modalnya di Indonesia.
B.Nasionalisasi Dalam Perspektif Hukum Internasional
Setiap negara-negara berkembang berkeinginan untuk melepaskan diri dari kekangan perusahaan multinasional raksasa yang menguasai perekonomian dan perpolitikan, hal ini adalah sejalan dengan proses perkembangan pembebasan daripada apa yang terkenal dengan istilah “underdeveloped countries”. Friedman 0mengemukakan bahwa diwaktu sekarang ini soal nasionalisasi adalah “a most
38
pressing problem”, yang menyebabkan hingga masalah ini merupakan “question of very real moment” bahwa nasionalisasi adalah bagian “the growth of chauvinis following the rise of extreme nationalist movements, and the spread of communism in many countries formely under tutelage of the great powers”.6
Dalam perkembangan Hukum ekonomi internasional istilah nasionalisasi, ekspropriasi dan konfiskasi sering dipertukarkan dan dianggap mempunyai makna serupa sebagai tindakan pengambilalihan “taking”, sebenarnya terdapat perbedaan di antara ketiganya. Nasionalisasi adalah pengambilalihan secara menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan asing dengan tujuan untuk mengakhiri penanaman modal asing di dalam ekonomi atau sektor-sektor ekonomi dalam negeri, sedangkan ekspropriasi mengacu pada pengambilalihan perusahaan tertentu demi kepentingan umum atau kepentingan ekonomi tertentu. Sementara itu konfiskasi adalah pengambilalihan hak milik yang dilakukan penguasa demi kepentingan pribadi. Konfiskasi biasa terjadi dinegara-negara yang dipimpin oleh diktator terhadap para pedagang-pedagang asing yang merambah antar mancanegara. Perlakuan konfiskasi ini selalu tidak diiringi dengan ganti rugi atau kompensasi diakibatkan pengambilalihannya secara paksa. Dengan demikian jelas Sornarajah berpendapat bahwa ketiga hal ini harus lah dibedakan dalam pendefenisian, pengaturan dan penerapannya.7
6
Gouw Giok Siong, Segi-Segi Hukum Internasional Pada Nasionalisasi di Indonesia, h. 1 7
M. Sornarajah, The International Law Of Foreign Invesment, Third edition, (New York: Cambridge University Press, 2010), h. 364-367
Adriaanse sebagaimana telah dikutip oleh Sunarhayati memberikan perbedaan antara kofiskasi, eksproriasi dan nasionalisasi. Bahwa Confiscation merupakan “any gevernmental action by which private property is seized without compensation, no matter in what form or under what name.” Sedangkan expropriation adalah dipakai dalam arti expropriation for public utility against just compensation. Sedangkan dalam mengartikan nationalization, andriaanse sepaham dengan Gillian White bahwa “Nationalization is the term used to describe the process whereby property, and rights and interest in property are transfered from private public ownership by agents of the state acting on the authority of a legislative of executive measure. After transfer, the property remains in the ownership of, and is exploited by the state.”8
Dalam Hukum Internasional, tindakan nasionalisasi dirasakan sebagai ancaman bagi setiap penanam modal asing yang sedang mengembangkan bisnisnya. Akan tetapi wujud nasionalisasi merupakan bukti kedaulatan suatu negara dalam pembangunan ekonomi dimana hal itu diakui dan dihormati oleh dunia internasional sebagai wujud kemandirian dan kedaulatan bangsa. Akan tetapi dalam hal ini perlu diketahui pula, bahwa ada pandangan tradisional yang berpendapat bahwa seorang pemilik dengan cara dan alasan bagaimanapun juga tidak boleh dicabut hak miliknya (karena hal ini merupakan suatu hak asasi), sehingga berdasarkan doktrin vested
8
Sunayati Hartono, Beberapa Masalah Transnasional Dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia, (Bandung: Penerbit Binacipta, 1972), h. 174
40
right hak milik seseorang, baik warga negara maupun orang asing tidak dapat dinasionalisasi.9
Begitu sakral hak milik seseorang sebagai hak asasi yang tidak dapat diambil oleh siapapun telah mengalami perubahan sejak ditinggalkannya politik laisez faire10 dan digantikan dengan konsep negara kesejahteraan (walfare state). Maka peranan pemerintah dalam menentukan dan menyelenggarakan kepentingan masayarakat sosial menjadi lebih besar. Akibatnya hak milik yang merupakan hak mutlak asasi baik warga negara maupun asing lambat laun dapat digugat jika hal itu melanggar ketertiban umum dan memiliki peran untuk melengkapi kepentingan sosial.
Namun di era kekinian dari ketiga istilah pengambilalihan modal asing, hukum internasional hanya mengenal tindakan nasionalisasi dan ekspropriasi sebagai perbuatan yang legal jika dipenuhi beberapa persyaratan sesuai customary international law. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) secara tegas mengakui sebuah kedaulatan ekonomi bangsa untuk melakukan tindakan nasionalisasi atau ekspropriasi sebagai hak negara tuan rumah penerima modal (host country). Pengakuan ini merupakan penghormatan terhadap kedaulatan negara yang bersangkutan. (United Nations General Assembly Resolutin on Permanent Sovereignty over Natural Reource) menyatakan bahwa:
9
Hilman Panjaitan dan Anner Mangatur Sianipar, Hukum Penanaman Modal Asing, h. 207 10
laisez faire adalah adalah sebuah frasa bahasa Perancis yang berarti "biarkan terjadi" (secara harfiah "biarkan berbuat"). istilah ini dimengerti sebagai sebuah doktrin ekonomi yang tidak menginginkan adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Laissez-faire berarti bahwa mahzab pemikiran ekonomi neoklasik memegang pandangan pasar yang murni atau liberal secara ekonomi: bahwa pasar bebas sebaiknya dibiarkan pada seperti apa adanya.
“Nationalization, expropriation or requistioning shall be based on grounds or reasons of public utility, security or the national interest which are recognized as overriding purely individual or private interest, both domestic and foreign. In such cases the owner shall be paid appropriate compensation, in accordance with the rules in force in the state taking such measures in the exercise of its sovereignty and in accordance with international law. In any case where the question of compensation gives rise to a controversy, the national jurisdiction of the state taking such measures shall be exhausted. However, upon agreement by sovereignty states and other parties concerned, settlement of the dispute should be made through arbitration or international adjudication”.11
Demikian pula halnya dalam UNCTAD Series on issues in international investment agreements, dijelaskan bahwa pengambilalihan milik asing (taking of foreign property) telah diakui dalam dunia hukum internasional, dan dapat bersumber dari tindakan pengambilalihan oleh pemerintah terhadap aset asing di negara host country, dan pemilik perusahaan terhadap aset-asetnya di negara-negara penerima investasi dengan alasan penurunan nilai aset, signifikasi aset dan lain sebagainya. Pengambilalihan milik asing dapat berbentuk secara langsung (direct taking such nationalization) maupun tidak langsung (indirect taking such creeping expropriation).12 Hal ini lebih lanjut dijelaskan bahwa:
“The taking of foreign property by a host country has constituted, at least in the past, one of the most important risks to foreign investment. The taking of property by Governments can result from legislative or administrative acts that
11
Lihat Paragraf 4 Resolusi Majelis Umum PBB Tentang kedaulatan Permanen Atas Sumber Daya Alam, Nomor 1803 Tahun 1962 (United Nations General Assembly Resolutin on Permanent Sovereignty over Natural Reource)
12
Creeping expropriation adalah suatu kondisi dimana pengambilalihan tidak langsung dilaksanakan, kondisi di mana serangkaian tindakan langkah demi langkah yang merugikan investor karena menyebabkan operasi bisnis investor asing merugi. Dalam hal ini tindakan-tindakan ini harus dilakukan demi kepentingan umum, tidak diskriminatif dan disertai dengan jadwal divestasi yang