BAB II KAJIAN TEORI
A. Full Day School
4. Tujuan Pelaksanaan Full Day School
Penerapan sistem full day school mempunyai tujuan utama yaitu membentuk kualitas akhlak siswa. Dan agar tujuan dari sistem full day school tercapai dilakukan bimbingan khusus keagamaan yaitu antara lain dengan bimbingan shalat di sekolah.
Sistem full day school banyak diterapkan di sekolah yang berbasis agama, yang memiliki keunggulan tersendiri, diantaranya adalah Pertama, anak mendapat pengetahuan umum antisipasi terhadap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua, anak memperoleh pendidikan keIslaman secara layak dan proporsional. Ketiga, anak mendapatkan pendidikan kepribadian yang bersifat antisipatif terhadap perkembangan sosial budaya yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan globalisasi yang membutuhkan nilai saring. Empat, potensi anak tersalurkan melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Lima, perkembangan minat, bakat, dan kecerdasan anak terpantau dari sejak dini melalui program bimbingan dan konseling.
Garis-garis besar program full day school adalah sebagai berikut:
1. Membentuk sikap yang Islami a. Pembentukan sikap yang Islami
1) Pengetahuan dasar tentang Iman, Islam, dan Ihsan 2) Pengetahuan dasar tentang akhlak terpuji dan tercela 3) Kecintaan kepada Allah dan Rasulnya
4) Kebanggaan kepada Islam dan semangan memperjuangkannya b. Pembiasaan berbudaya Islam
1) Gemar beribadah 2) Gemar belajar
3) Disiplin 4) Kreatif 5) Mandiri
6) Hidup bersih dan sehat 7) Adab-adab Islam
2. Penguasaaan pengetahuan dan ketrampilan
a. Pengetahuan materi-materi pokok program pendidikan b. Mengetahui dan terampil dalam beribadah sehari-hari
c. Memahami secara sederhana isi kandungan amaliyah sehari-hari Kenakalan remaja semakin hari semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari media massa yang tidak jarang memuat berbagai penyimpangan yang dilakukan kaum pelajar, seperti seks bebas, miras, dan lain sebagainya. Inilah yang memotivasi orangtua untuk mencari sekolah formal sekaligus mampu meberikan kegiatan-kegiatan yang positif (informal) pada anak mereka.Maka dipilihlah sekolah dengan sistem full day school, dengan mengikuti full day school, orang tua dapat mencegah dan menetralisasi kemungkinan dari kegiatan-kegiatan anak yang menjurus pada kegiatan negatif.Alasan memilih dan memasukkan anaknya ke full day school, salah satu pertimbangannya adalah dari segi edukasi peserta didik.
Baharudin (2009 : 230) menyatakan bahwa untuk memaksimalkan waktu luang anak-anak agar lebih berguna, maka diterapkanlah system full day school dengan tujuan:
1. Membentuk akhlak dan akidah dalam menanamkan nilai-nilai yang positif.
2. Mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai khalifah fil Ard dan sebagai hamba Allah.
3. Memberikan dasar yang kuat dalam belajar di segala aspek.
Dalam rangka memaksimalkan waktu luang anak-anak agar lebih berguna, maka diterapkanlah sistem full day school dengan tujuan pembentukan akhlak dan akidah dalam menanamkan nilai-nilai yang positif, serta memberikan dasar yang kuat dalam belajar di segala aspek. Agar semua dapat terakomodir, kurikulum dalam system (Siregar: 2017: 315).
Kenakalan Remaja semakin hari semakin meningkat, hal ini dapat dilihat dari berbagai media massa dan koran-koran yang di dalamnya tak jarang memuat tentang penyimpangan-penyimpangan yang di lakukan oleh kaum pelajar, seperti adanya seks bebas, minum-minuma keras, konsumsi obat-obat terlarang dan sebagainya. Hal ini karena tidak adanya kontrol guru terutama dari orang tua, dan hal lain disebabkan oleh banyaknya waktu luang sepulang sekolah, dan waktu luang tersebut dipergunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Berikut ini beberapa alasan mengapa sekolah menerapkan sistem full day school :
a. Banyaknya aktivitas orang tua yang berakibat pada kurangnya perhatian untuk anaknya terutama yang berhubungan dengan aktivitas anak-anak sepulang dari sekolah.
b. Kemajuan IPTEK yang begitu cepat, sehingga apabila tidak dicermati, akan membawa dampak negatif, terutama dari teknologi komunikasi. Dengan banyaknya program televisi serta menjamurnya Play Station (PS) membuat anak-anak lebih menikmati untuk duduk di depan tv dan bermain play station daripada harus belajar.
c. Upaya untuk meningkatkan efisiensi waktu.
d. Perubahan sosial-budaya yang terjadi di masyarakat, dari masyarakat agraris menuju ke masyarakat industri. Perubahan tersebut jelas berpengaruh pada pola pikir masyarakat.
Dari kondisi seperti yang telah ditunjukkan di atas, akhirnya para praktisi pendidikan mempunyai inisiatif untuk merencanakan sesuatu paradigma baru dalam pendidikan. Dalam rangka memaksimalkan waktu luang anak-anak agar lebih berguna, maka diterapkanlah sistem full day school.
Dalam penerapan full day school sebagian waktunya harus digunakan untuk program-program pembelajaran yang suasananya bersifat informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa, yang tentunya sangat mengharapkan kreativitas dan inovasi dari seorang guru. Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan di atas, jadi penerapan full day school di tingkat menengah pertama lebih baiknya melakukan kegiatan belajar sambil bermain, karena dengan metode belajar sambil bermain sisa tidak akan jenuh berada seharian penuh di sekolah, mereka akan menikmati semua pelajaran yang diberikan guru.
Hal ini sesuai dengan teori belajar Natural Unfoldmen atau self Actualization dari Maslow, bahwa belajar itu berpusat pada kehendak, kesadaran dan aktivitas peserta didik serta minat yang cukup darinya. Jadi menurut teori tersebut belajar tidak lepas dari timbulnya situasi dari dalam diri peserta didik, keinginan dan hasrat dari dalam merupakan pokok terjadinya apa yang dinamakan belajar yang membawa keberhasilan.
Siswa yang sekolah di lingkungan full day school diharapkan mempunyai minat yang besar untuk lebih giat dan meningkatkan prestasinya. Karena itu dibutuhkan dorongan-dorongan dari dalam diri atau lingkungan siswa agar memunculkan hasrat dan keinginan siswa untuk belajar (Lisnawati Soapatty, 2014: 723).
5. Manajemen Pembelajaran Full Day School
Full day school sebagai suatu sekolah unggulan harus dikelola sehingga anak didiknya menjadi kader masa depan yang berkualitas. Di sinilah pentingnya manajemen penglolaan full day school sebagai standar eksitensi dan barometer kesuksesan full day school. Selain itu manajemen ini bisa menjadi panduan kualitas input dan output secara transparan dan akuntabel.
Menurut Gaffar (1989), manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik, dan komprehensit dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pada dasarnya, manajemen full day school tidak berbeda dengan manajemen sekolah yang half day school. Sebab, keduanya sama-sama mengelola lembaga pendidikan sehingga manajemennya tidak berbeda (Jamal Ma’murasmani: 2017: 67).
a. Pengertian Manajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan pembelajaran. Kata yang pertama adalah manajemen. Manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu dari asal manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan. Managere diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.
Sedangkan Menurut istilah (terminologi) terdapat banyak sekali pendapat mengenai pengertian manajemen. Berikut ini disebutkan beberapa pendapat tokoh-tokoh dalam mendefinisikan arti manajemen.
Pendapat para tokoh memang ada perbedaan dan kesamaan, hal ini di sebabkan karena sudut pandang dan pengalaman mereka berbeda.
Pendapat tersebut diantaranya : Secara terminologis dalam buku Principles of Management disebutkan management is the coordination of all resources through the processes of planning, organizing, directing and controlling in order to attain stated objectives. Artinya
manajemen adalah proses Pengkoordinasian seluruh sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian inilah yang kemudian disebut sebagai prinsip-prinsip manajemen. (Husaini Usman, 2006: 3).
Dari pengertian di atas, dapat diambil suatu pengertian manajemen adalah didasari dengan ilmu untuk melakukan sebuah pekerjaan dengan tindakan-tindakan yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang telah ditetapkan dan ditentukan sebelumnya.
Kata yang kedua adalah Pembelajaran berasal dari kata
“instruction” yang berarti “pengajaran”. Menurut E. Mulyasa, pembelajaran pada hakekatnya adalah interaksi peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar sebagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap (E. Mulyasa, 2004: 100)
Menurut Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan Pembelajaran adalah proses interaktif peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Undang-Undang RI No. 20, 2003: 6). Dari pengertian di atas dapat diambil suatu pengertian pembelajaran adalah proses interaktif yang berlangsung antara guru dan siswa sehingga terjadi tingkah laku ke arah yang lebih baik, yang tersusun juga meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tujuan pembelajaran.
Manajemen pembelajaran adalah sebagai usaha dan tindakan kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional di sekolah dan usaha maupun tindakan guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas
dilaksanakan sedemikian rupa untuk memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan program sekolah dan juga pembelajaran (Syaiful Syagala, 2003: 140)
b. Langkah-langkah manajemen pembelajaran 1. Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memiliki definisi yang beragam.
Para ahli belum memiliki kesepakatan dalam mendefinisikan istilah perencanaan pembelajaran. Menurut Asep Jihad dan Abdul Haris bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari kombinasi dari dua aspek, yaitu : belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada aspek pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa disaat pembelajaran sedang berlangsung. Dengan kata lain pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi antara peserta didik dengan pendidik serta antar peserta didik dalam rangka perubahan sikap.
Sedangkan menurut Hamzah B. Uno, istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan dan perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa-siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (Martinis yamin. Maisah, 2009:
123).
Perencanaan itu dapat bermanfaat bagi guru sebagai control terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara pengajarannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru sehubungan dengan kemampuan merencanakan pembelajaran antara lain:
a) Silabus
Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu. Sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan dan penyajian materi kurikulum yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.
Sedangkan silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, Materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) (Abdul Majid, 2007: 38).
b) Menyusun program tahunan dan semester
Dalam menyusun program semester dapat di tempuh langkahlangkah sebagai berikut : a) menghitung hari jam efektif selama satu semester; b) mencatat mata pelajaran yang akan diajarkan selama satu semester; c) membagi alokasi waktu yang tersedia selama semester.
c) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang mencapai satu lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD (Kompetensi Dasar). Sedangkan RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan (Abin Syamsudin Makmun, MA, 2010:
221).
2. Pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses berlangsungnya belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan di sekolah. Jadi pelaksanaan pengajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pengajaran. Pelaksanaan pembelajaran juga merupakan Implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan, dalam kegiatan pendahuluan, guru:
menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Kegiatan inti dimana pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Dalam kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman atau kesimpulan pelajaran; kemudian melakukan penilaian atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram , memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling atau memberikan tugas, baik tugas individu maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; menyamakan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya (B. Suryo Subroto, 1997: 227).
3. Evaluasi pembelajaran
Evaluasi diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk rasa, proses, orang objek, dan yang lain) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian. Evaluasi mencakup evaluasi hasil belajar dan evaluasi pembelajaran. Evaluasi hasil belajar menekankan pada diperolehnya informasi tentang seberapa kah perolehan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Sedangkan evaluasi pembelajaran merupakan proses sistematis untuk memperoleh informasi tentang keefektifan proses pembelajaran dalam membantu siswa mencapai tujuan pengajaran secara optimal.
Dengan demikian evaluasi hasil belajar menetapkan baik buruknya hasil dari kegiatan pembelajaran. Sedangkan evaluasi pembelajaran menetapkan baik buruknya proses dari kegiatan pembelajaran.
Evaluasi hasil belajar pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk mengukur perubahan prilaku yang terjadi. Pada umumnya hasil belajar akan menghasilkan pengaruh dalam dua bentuk: (1) peserta akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya atas prilaku yang diinginkan; (2) mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat baik setahap atau dua tahap, sehingga sekarang akan timbul lagi kesenjangan antara penampilan perilaku yang sekarang dengan tingkah laku yang diinginkan.
Untuk dapat menentukan tercapainya tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha dan tindakan atau kegiatan untuk menilai hasil belajar. Penilaian dilakukakan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan
memperbaiki proses pembelajaran.54 Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajari tujuan yang ditetapkan (Dimyati dan Mudjiono, 1999: 156).
6. Pelaksanaan Full Day School
Semula pelaksanaan full day school dikhawatirkan akan sulit diterima oleh siswa karena siswa berada dalam lingkungan sehari penuh yang dianggap dapat memberatkan siswa. Konsep yang digunakan dalam pelaksanaan full day school adalah pengembangan dan inovasi sistem pembelajaran yaitu mengembangkan kreatifitas yang mencakup integrasi dari tiga ranah, yaitu: kognitif, afektif, psikomotorik.
full day school dilaksanakan di luar kelas dan juga ada permainan yang masih mengandung unsur belajar dan pendidikan yang artinya bermain sambil belajar. Sebisa mungkin dapat menciptakan suasana yang rekreatif dalam pembelajarannya, sehinga siswa tidak merasa terbebani meski seharian berada di dalam sekolah.Selain itu penerapan full day school harus memperhatikan kesiapan fasilitas, kesiapan seluruh komponen di sekolah serta kesiapan program-program pendidikan. Pada tingkatan sekolah menengah pertama, orientasi Full day school bertujuan untuk membentuk pribadi yang mampu mengenal potensi diri dan lingkungannya (social skill) serta pada tingkatan ini porsi bermain lebih banyak daripada belajar sehingga bermain sambil belajar akan sangat cocok bagi mereka.
Dalam penerapan full day school sebagian waktunya harus digunakan untuk program-program pembelajaran yang suasananya bersifat informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa, yang tentunya sangat mengharapkan kreativitas dan inovasi dari seorang guru. Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan di atas, jadi penerapan full day school di tingkat menengah pertama lebih baiknya melakukan kegiatan belajar sambil bermain, karena dengan metode belajar sambil bermain sisa tidak akan jenuh berada seharian penuh di sekolah, mereka akan
menikmati semua pelajaran yang diberikan guru (Lisnawati Soapatty:
2014: 723).
Sistem full day school semula berangkat dari sebuah kebutuhan masyarakat (katakanlah masyarakat perkotaan) yang memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Orang tua meninggalkan rumah untuk bekerja pukul 6 pagi dan kembali ke rumah menjelang malam hari. Para orang tua bekerja selama 5 hari per minggu dan mereka libur (weekend) pada hari sabtu dan minggu. Sementara anak-anak berangkat sekolah pukul 6.30 pagi dan pulang pukul 13.00 siang. Mereka sekolah 6 hari dalam seminggu yaitu senin-sabtu. Di saat yang nyaris bersamaan, mereka pun masih harus menjemput buah hati mereka yang duduk di bangku Sekolah Dasar.
Berangkat dari hal-hal itulah akhirnya disepakati alternatif sekolah yang menawarkan jam pulang-pergi sekolah sama atau setidaknya mendekati jam pulang-pergi kantor. Ini di dukung oleh kebijakan pemerintah yang menetapkan jam kerja efektif 40 jam atau minggu.
Sementara sabtu minggu dianggap libur.
Berbeda dengan model sekolah pada umumnya, Full day School menerapkan konsep dasar “Integrated-Activity” dan “Integrated- Curriculum”. Artinya seluruh program dan aktivitas anak yang ada di sekolah mulai dari belajar, hiburan dan beribadah dikemas dalam suatu system pendidikan. Sistem pembelajaran full day school memfokuskan segala program pendidikan yang seluruh aktivitas berada di sekolah.
Dengan begitu diharapkan dapat bermanfaat untuk pembinaan generasi sholih dan sholihah. Full day shool juga membentuk siswa agar berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni mendapat kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu maupun kelompok sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Dengan demikian prestasi belajar yang dimaksimalkan dalam full day school dibagi menjadi tiga macam antara lain:
1. Prestasi yang bersifat kognitif
Prestasi bersifat kognitif yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, pengamatan, analisis, sintesis dan lain-lain. Misalnya seorang siswa dapat menyebutkan atau menguraikan kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari pada minggu lalu, maka siswa tersebut bisa dikatakan prestasi dalam kognitifnya.
2. Prestasi yang bersifat afektif
Prestasi yang bersifat afektif yaitu sikap menghargai, penerimaan, penolakan dan lain-lain. Misalnya seorang siswa dapat menunjukan sikap menerima atau menolak terhadap suatu pernyataan atau suatu permasalahan.
3. Prestasi yang bersifat psikomotorik
Prestasi yang bersifat psikomotorik yaitu kecakapan, eksperimen verbal dan non verbal, ketrampilan bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa menerima pelajaran tentang adab sopan santun kepada orang tua, maka anak ini mengaplikasikan pelajaran tersebut kedalam kehidupan sehari-harinya ( M. Zainudin Alanshori: 2016: 139).
7. Kurikulum Pembelajaran Full Day School
Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Sedangkan istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni
“Curriculae”, artinya jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Sedangkan pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu (Oemar Hamalik, 2008: 16)
Kurikulum secara umum didefinisikan sebagai suatu rencana yang dikembangkan untuk memperlancar proses belajar mengajar dengan
arahan atau bimbingan dari institusi atau lembaga terhadap warga pelajarnya tersebut dimaksudkan agar kegiatan pengajaran atau proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar.
Berdasarkan definisi-definisi diatas menunjukkan bahwa kurikulum tidak diartikan secara sempit atau terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi meliputi segala aktifitas yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka mempengaruhi peseta didik untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan, seperti kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan belajar lainnya.
Pengertian kurikulum inti (kurikulum Nasional) disusun dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta kesenian sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan (Abdullah Idi, 2009: 252)
Pengertian Kurikulum Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bagian mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran sendiri. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan.
Muatan local merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan standar Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan local yang diselenggarakan.
Secara umum program pendidikan muatan lokal adalah mempersiapkan murid agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungannya serta sikap dan perilaku bersedia melestarikan dan mengembangkan sumber daya alam , kualitas sosial, dan kebudayaan yangmendukung pembangunan nasional maupun pembangunan setempat
Secara umum program pendidikan muatan lokal adalah mempersiapkan murid agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungannya serta sikap dan perilaku bersedia melestarikan dan mengembangkan sumber daya alam , kualitas sosial, dan kebudayaan yangmendukung pembangunan nasional maupun pembangunan setempat