Bab 2. Tinjauan pustaka
2.1 Pemasangan Infus
2.1.2 Tujuan Pemasangan Infus
Menurut Rohani tahun (2016) memaparkan tujuan tentang terapi insersi kateter intravena sebagai berikut :
a. Untuk menjaga / memperbarui cairan tubuh yang telah hilang atau yang tidak dapat diperoleh melalui oral.
b. Untuk memperbaiki serta menjaga proporsi larutan dan elektrolit c. Menjaga kesetimbangan larutan asam basa.
d. Pada pasien yang mengalami pendarahan, sehingga perlu diberikan tranfusi darah
e. Memberikan cairan atau obat melintasi intravena. Insersi kateter intravena juga tindakan yang efisien untuk memberikan obat–obatan kepada pasien.
f. dan untuk memberikan nutrisi melalui parenteral.
2.1.3 Lokasi insersi kateter intravena
Menurut Perry dan Potter tahun (2005), daerah pembuluh balik perifer yang kerap digunakan untuk insersi kateter intravena yaitu pembuluh balik supervisial atau perifer kutan yang berlokasi didalam fasia subkutan dan ialah akses yang amat efektif guna melakukan tindakan insersi kateter intravena pada pasien. Lokasi insersi kateter intravena yang dapat menjadi pilihan yaitu permukaan dorsal tangan yaitu (pembuluh balik supervisial dorsalis, pembuluh balik basalika, pembuluh balik sefalika), lengan bagian dalam seperti (pembuluh balik basalika, pembuluh balik sefalika, pembuluh balik kubital median, pembuluh balik median lengan bawah, dan pembuluh balik radialis), permukaan dorsal seperti (pembuluh balik safena magna, ramus dorsalis). Dougherty et al, (2010), menyebutkan bahwa penentuan tempat untuk insersi intravena perlu meninjau beberapa aspek seperti:
2.1.3.1 Usia pasien : Penentuan tepi yang akan diinsersi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan misalnya pada anak kecil.
2.1.3.2 Aktivitas pasien : seperti pasien merasakan gelisah, pergerakan pasien, tak bergerak, perubahan tingkat kesadaran.
2.1.3.3 Klasifikasi cairan intravena: klasifikasi cairan yang relatif pekat akan membutuhkan vena yang relatif besar oleh karena itu klasifikasi cairan harus disesuaikan dengan pembuluh balik pasien.
2.1.3.4 Lamanya terapi pemasangan infus : pada pengobatan dengan insersi intravena dengan waktu yang lama sangat memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (misalnya mulai di tangan dan pindah ke lengan).
2.1.3.5 Pengalaman Terapi intravena sebelumnya : jika pasien telah mengalami flebitis sebelumnya hal tersebut akan membuat vena menjadi optimal untuk di gunakan, dan kemoterapi juga sering membuat vena menjadi rapuh (misalnya mudah pecah atau sklerosis).
2.1.3.6 Penyakit yang diderita : sebaiknya tidak menggunkan bagian tubuh yang bermasalah pada individu yang mengalami stroke.
2.1.3.7 Lokasi sesuai kesukaan pasien : tanyakan terlebih dahulu kesukaan pasien untuk diinsersi di sebelah kiri atau kanan.
2.1.4 Prosedur Insersi Kateter Intravena
Langkah-langkah insersi kateter intravena yang sesuai SOP menurut kozier et al, (2010) yaitu:
a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk insersi intravena.
b. Menyiapkan klien dengan memaparkan cara menginsersi kateter intravena dan memaparkan maksud dari prosedur
c. perawat membasuh lengan terlebih dahulu
d. Menyiapkan alat dan bahan untuk insersi kateter intravena:
1) membuka dan melepaskan selang dari tempatnya dan tarik keluar, 2) tutup klem terlebih dahulu,
3) biarkan ujung selang infus tertutup dengan plastik hingga insersi kateter intravena siap dilakukan.
e. Tusuk kantong cairan infus:
1) buka penutup dari botol larutan infus,
2) memasang alat tusuk ke lubang botol cairan infus.
f. pasang tabung larutan infus ditiang infus, larutan infus terletak 1 m dari atas kepala pasien.
g. Mengecek terlebih dahulu apakah cairan infus dapat keluar dari bilik tetes infus.
h. Isi selang infus :
1) buka penutup dan pertahankan kesterilan ujung kanul,
2) buka penjepit cairan agar mengalir lalu perhatikan hingga tidak ada buih-buih diselang, jentikkan jari untuk membantu mengeluarkan gelembung jika masih ada di selang,
3) jepit selang dan tutup kembali selang.
i. perawat membasuh lengan kembali
j. Menentukan lokasi untuk insersi kateter intravena:
1) pilih lengan pasien yang tidak terlalu sering digunakan dan yang pembuluh balik nya tampak lurus tidak berkelok-kelok.
2) taruh alas dibawah ekstremitas pasien guna mencegah seprei basah dari cairan infus yang tumpah.
k. untuk mendilatasi pembuluh balik :
1) posisikan ekstremitas pasien menggantung lebih rendah dari jantung pasien.
2) kemudian pasangkan turniqet 15 hingga 20 cm diatas daerah yang akan dinsersi.
3) lalu perawat memakai handscoon yang bersih serta sterilkan lokasi untuk insersi kateter intrvena dengan alkohol swab antiseptik dengan cara memutar dari dalam lalu ke luar, lalu biarkan diamkan sampai cairan alcohol swab kering.
l. Masukkan kanul intravena:
1) tangan perawat yang tidak dominan digunakan untuk meregangkan kulit pasien yang akan diinsersi,
2) kanul dipegang lalu masukkan kedalam vena melalui kulit dengan kemiringan 15 sampai 30 derajat
3) selanjutnya darah akan keluar dari bagian kanul lalu sejajarkan kanul dengan kulit kemudian dorong kanul lebih dalam kurang lebih 0,5 – 1 cm sampai kanula mencapai pusatnya.
4) kemudian lepaskan tourniqet dari tangan pasien.
5) lalu lepaskan tutup selang dan hubungkan ke kanul, lalu pastikan ujung kanul tetap steril
6) kemudian lepas kanul lalu pasangkan kembali kanul dengan ujung selang kateter intravena.
m. Fiksasi Kateter intravena.
n. Tuliskan tanggal, waktu pemasangan, dan inisial perawat yang melakukan tindakan insersi kateter intravena pada label.
o. Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan: pengkajian, tanggal, waktu, jumlah dan jenis cairan infus yang telah digunakan.
2.1.5 Ukuran Kateter Intravena
Kanula intravena biasanya memiliki warna yang berbeda-beda agar petugas kesehatan mudah mengetahui ukuran kateter intravena yang dibutuhkan.
Ukuran kateter intravena yang rendah memiliki jarum kateter intravena yang lebih besar. Jarum kateter intravena menentukan keberhasilan pada saat insersi kateter intravena dikarenakan ukuran kateter intravena harus sesuai dengan kondisi dan ukuran vena pasien. Menurut Potter & Perry (2005) ada beberapa macam ukuran jarum kateter intravena, yaitu :
2.1.5.1 Ukuran 16
Biasa digunakan pada orang dewasa untuk bedah mayor, trauma, dan untuk memasukkan cairan infus dalam jumlah besar. Hal yang perlu diperhatikan yaitu dan memerlukan pembuluh balik yang besar.
2.1.5.2 Ukuran 18
Digunakan pada anak dan dewasa untuk mamasukkan darah, komponen darah atau cairan infus kental lainnya. Hal yang perlu diperhatikan yaitu sakit pada insersi dan memerlukan vena yang besar.
2.1.5.3 Ukuran 20
Jarum kateter intravena ukuran 20 umum dipakai pada saat pemasangan infus, bisa digunakan pada anak dan dewasa.
2.1.5.4 Ukuran 22
Diperuntukan untuk usia lanjut tetapi bisa juga digunakan untuk semua kalangan usia. Pembuluh balik yang kecil dan tipis lebih mudah menggunakan ururan 22 karena ukuran ini sulit bila digunakan pada kulit yang keras.
2.1.5.5 Ukuran 24 dan ukuran 26
Sama halnya dengan ukuran 22 namun kecepatan tetesan lebih lambat 2.1.6 Komplikasi Pemasangan Infus
Menurut Handaya (2010) terdapat beberapa komplikasi yang mungkin bisa dialami oleh pasien pada saat pemasangan infus yaitu :
a. Hematoma, pembuluh darah arteri vena atau kapiler yang pecah menyebabkan terjadinya penggumpalan darah di dalam jaringan dan hal ini terjadi karena insersi yang berulang pada pembuluh darah.
b. Infiltrasi, yaitu terjadi karena cairan infus yang telah habis sehingga darah masuk kedalam selang infus.
c. Trombofeblitis atau pembengkakan pada pembuluh balik, disebabkan karena kurangnya pemantauan terhadap infus yang telah terpasang.
d. Emboli udara dapat terjadi pada saat ada udara yang masuk ke dalam cairan infus sehingga udara masuk ke dalam sirkulasi darah.
e. Flebitis yaitu pengerasan pada pembuluh darah balik yang memiliki tanda-tanda seperti area sekitar insersi menjadi merah, kemudian bengkak, terdapat sensasi panas dan juga indurasi (Alaxander et al, 2010).
2.2 Konsep Nyeri 2.2.1 Definisi Nyeri
Nyeri ialah respons subjektif terhadap stressor fisik dan psikologis (LeMone et al, 2015). Menurut International Association for the Study of Pain (IASP) nyeri ialah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yaang berkaitan dengan kerusakan jaringan, aktual ataupun potensial (Black &
Hokanson, 2014). Margo McCaffery (1979 dalam Black, 2014) mendefenisikan nyeri sebagai segala sesuatu yang dikatakan oleh individu yang merasakan nyeri dan ada ketika individu tersebut mengatakan ada.
Nyeri ialah sebagai gejala yang dirasakan individu yang menandakan ada nya kerusakan atau injuri jaringan yang bersifat subjektif (Potter & Perry, 2005).
Nyeri ialah proses pertahanan fisiologis manusia guna untuk melindungi diri.
Individu yang merasakan nyeri akan mengalami perubahan perilaku, misalnya, seseorang yang merasakan nyeri dibagian kaki nya akibat terkilir maka akan menjauhi segala aktivitas yang dapat membuat rasa nyeri tersebut semakin parah seperti menghindari mengangkat beban yang berat dan juga berjalan secara perlahan-lahan (Muttaqin, 2008).
2.2.2 Teori Nyeri
Teori spesifitas dan pola menjelaskan impuls saraf berbagai intensitas yang diakhiri di pusat nyeri di otak depan. Teori ini memberikan penjelasan mengenai dasar neurofisiologis nyeri. Selanjutnya pada tahun 1965, Melzack dan Wall mengeluarkan teori kontrol gerbang (gate control theory) yang menyatakan pada stimulus taktil aktivasi serat nyeri yang diameter besar dan serat pemicu yang lebih cepat akan mengaktivasi mekanisme gerbang yang kemudian akan menghambat impuls dari serat nyeri yang lebih kecil. Mekanisme ini diyakini terjadi pada medulla spinalis. Penelitian yang berkelanjutan menunjukkan bahwa control dan modulasi nyeri jauh lebih kompleks dibandingkan dengan penjelasan mengenai teori kontol gerbang. Melzack kemudian mengembangkan teori nyeri neuromatriks yang lebih kompleks dari teori kontrol gerbang. Berdasarkan teori
neuromatriks, otak berisi neoromatriks dari tubuh yang mendistribusikan jaringan neuron secara luas yang dipengaruhi oleh factor genetik dan pengalaman sensori.
Neuromatriks mengintegrasikan berbagai sumber input selain stimulus nyeri dan sentuhan. Pengalaman nyeri bagi individu dipengaruhi oleh input dari system sensori lain yang membantu menginterpretasikan stimulus (mis., melihat luka).
Salah satu teori yang benar-benar signifikan dalam istilah klinis menjelaskan efek sensibilitas system saraf pusat dan perifer tergadap stimulus nyeri. Berdasarkan teori ini tanda penyebab membuat perubahan rangkaian pada system saraf yang meningkatkan responsivitas neuron perifer dan sentral.
Perbuhan tersebut pada akhirnya meningkatkan respons terhadap tanda nyeri selanjutnya dan menguatkan rasa nyeri. Sensibilitas terjadi akibat serangan nosiseptif dan inflamasi sehingga mengakibatkan cedera atau membutuhkan tindakan insisi (Lemone et al, 2015).
2.2.2 Fisiologi Nyeri
Reseptor saraf untuk nyeri disebut dengan nosiseptor. Ujung saraf bebas ini bergelombang melalui seluruh jaringan tubuh kecuali otak. Nosiseptor merupakan beberapa bagian yang utama pada kulit dan otot. Nyeri terjadi ketika jaringan yang mengandung nosiseptor dicederai. Intesitas dan durasi stimulus menentukan sensasi. Stimulus yang intens dan berlangsung lama menghasilkan nyeri yang lebih hebat dibandingkan stimulasi yang singkat dan ringan.
Nosiseptor berespons terhadap beberapa jenis stimulus berbahaya yang berbeda : mekanik, kimia, atau termal. Beberapa nosiseptor hanya berespons
terhadap satu jenis stimulus tunggal sedangkan nosiseptor lain berespons terhadap ketiga jenis stimulasi.
Trauma jringan, inflamasi, dan iskemia cenderung mengeluarkan sejumlah biokimia. Biokimia ini memiliki beberapa efek. Zat kimia ini seperti bradikinin, histamine, serotonin, dan ion kalium merangsang nosiseptor secara langsung, dan mengahasilkan nyeri. Zat kimia ini dan zat lainnya (seperti ATP dan prostaglandin) juga merangsang nosiseptor, meningkatkan respons nyeri dan menyebabkan stimulus yang normalnya tidak berbahaya (seperti sentuhan) diterima sebagai nyeri. Mediator kimia juga bekerja untuk memicu inflamasi, yang akhirnya menyababkan peneluaran zat kimia tambahan yang menstimulasi reseptor nyeri (Lemone et al 2015).
2.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respons Nyeri 2.2.3.1 Usia
Usia dapat mengubah persepsi dan pengalaman nyeri. Individu dewasa mungkin tidak melaporkan adanya nyeri karena takut bahwa hal tersebut mengindikasikan diagnosis yang buruk. Nyeri juga dapat berarti kelemahan, kegagalan, atau kehilangan kontrol bagi orang dewasa.
Individu lansia mungkin menjadikan nyeri mereka sebagai arti yang berbeda. Nyeri dapat diartikan sebagai manifestasi alami penuaan (Black &
Hokanson, 2014) 2.2.3.2 Jenis Kelamin
Studi klinis menunjukkan bahwa wanita mengalami ambang batas nyeri yang lebih rendah dan mengalami intensitas nyeri yang lebih tinggi dibandingkan
pria (Toomey, 2008; Wilson, 2006 dalam LeMone et al, 2015 ). Sirkuit yaang memfasilitasi respons nyeri berbeda antara pria dan wanita, terutama sistem modulatori nyeri opioid. Karena perbedaan ini, wanita dan pria dapat merespons secara berbeda terhadap analgesik opioid seperti morfin (Wilson, 2006 dalam LeMone et al, 2015).
2.2.3.3 Pengaruh Psikologis
Intensitas nyeri yang dirasakan dan ditunjukkan dipengaruhi oleh variabel psikologis, seperti perhatian, harapan dan sugesti. Sensasi nyeri dapat dihambat oleh konsentrasi yang sering (mis., selama aktivitas olahraga) atau kemungkinan memburuk karena ansietas atau ketakutan. Tidak adanya dukungan orang lain atau pemberi asuhan yang benar-benar peduli tentang penatalaksanaan nyeri juga dapat mengubah status emosional dan persepsi nyeri (LeMone et al, 2015).
2.2.3.4 Ansietas
Tingkat ansietas yang dialami klien juga mungkin memiliki pengaruh terhadap respons individu dengan nyeri. Ansietas meningkatkan persepsi nyeri.
Jika penyebab nyeri tidak diketahui, ansietas cenderung lebih tinggi dan nyeri semakin memburuk (Black & Hokanson, 2014).
2.2.3.5 Faktor Sosial Budaya
Setiap respons individu terhadap nyeri sangat dipengaruhi oleh keluarga, komunitas, dan budaya. Pengaruh sosial budaya memengaruhi perilaku nyeri, ekspresi nyeri standar yang tepat dan tidak tepat. Pada umumnya, respons budaya terhadap nyeri dibagi menjadi dua kategori, yaitu toleransi dan sensitif (Andrew &
Boyle, 2008 dalam LeMone et al, 2015), misalnya jika budaya pasien
mengajarkan bahwa individu harus menoleransi nyeri dengan sabar, pasien mungkin terlihat diam dan menolak (atau tidak meminta) obat nyeri. Jika norma budaya menganjurkan ekspresi emosional yang terbuka dan sering, pasien mungkin menangis dengan bebas dan terlihat nyaman ketika meminta obat nyeri.
2.3 Intensitas Nyeri
2.3.1 Pengertian Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri merupakan gambaran mengenai seberapa parah sensasi tidak menyenangkan yang dirasakan oleh seseorang, pengukuran intensitas nyeri sangatlah individual dan nyeri dengan intensitas yang sama akan mungkin dapat dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Intensitas nyeri adalah sejumlah nyeri yang dialami oleh seseorang dan biasanya diungkapkan oleh kata-kata seperti ringan, sedang, dan berat (Harahap, 2007).
2.3.2 Pengukuran Intensitas Nyeri
Terdapat beberapa skala yang dapat mengukur intensitas nyeri, yaitu:
2.3.2.1 Skala Intensitas Nyeri Deskriptif Sederhana
Skala intesitas nyeri deskriptif sederhana ialah media untuk mengukur tingkat intensitas nyeri yang lebih objektif. Skala ini berbentuk garis lurus dan memiliki enam kata pendeskripsi yang disusun sepanjang garis dan memiliki jarak yang sama. Pendeskripsian ini diurutkan dari “tidak nyeri” hingga “nyeri paling hebat”. Klien dapat memilih kata pendeskripsi pada skala sesuai dengan nyeri yang ia rasakan sesuai dengan kategorik yang terdapat pada skala VDS.
Tidak ada Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri Paling Nyeri Ringan Sedang Hebat Sangat Hebat Hebat 2.3.1.2 Skala Intensitas Nyeri Numerik
Skala numerik merupakan skala yang mudah untuk digunakan dalam menentukan intensitas nyeri pasien (Kozier et al, 2010).
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Nyeri Nyeri Nyeri berat Nyeri berat Nyeri ringan sedang terkontrol tidak terkontrol 2.3.1.3 Skala Intensitas Nyeri Analog Visual
Tidak Nyeri Nyeri Sangat Hebat
VAS ialah garis lurus yang hanya terdiri dari 2 kata pendeskripsi yang diurutkan secara bertingkat. Dengan menggunakan skala ini pasien dapat bebas memilih tingkat nyeri sesuai dengan nyeri yang ia rasakan. Pengukuran menggunakan VAS ini diketahui lebih sensitif karena pasien diberi kebebasan untuk memilih setiap titik yg ada pada sebuah garis lurus, berbeda dengan skala pengukuran yang lain dimana klien harus memilih satu dari beberapa pilihan angka ataupun kategorik (Potter & Perry, 2005).
2.4 Konsep Budaya
Budaya dipandang sebagai kumpulan praktik yang dilakukan orang secara sadar, atau tidak sadar. Praktik-praktik ini terus dilakukan secara berkelanjutan oleh orang yang berinteraksi dalam 'budaya' ini. Praktik bersama ini, dalam budaya, mewujudkan struktur bersyarat yang digunakan anggota sebagai kerangka kerja untuk memahami dan menafsirkan kelompok sosial mereka. Budaya adalah tentang pemahaman bersama antara suatu kelompok dalam masyarakat. Budaya dapat dibagi lagi menjadi budaya makro dan budaya mikro. Budaya makro adalah tentang kebangsaan, kelompok ras, dan etnis. Kultur mikro ada di dalam makrokultur. Mereka terdiri dari komponen-komponen seperti usia, jenis kelamin, agama, dan keyakinan spiritual (Berman & Snyder, 2012). Budaya juga didefinisikan sebagai sekelompok orang yang memiliki kepercayaan, nilai, norma, moral, gaya hidup, karakteristik dan tingkah laku yang sama dan mereka mempelajarinya dari anggota lain kelompok atau masyarakat tersebut (Galanti, 2008).
2.4.1 Kebudayaan suku Batak
Suku Batak memiliki beberapa sub-etnik yang terdiri dari Toba, Mandailing, Dairi, Simalungun, dan Karo (Harahap & Siahaan, 1987). Seseorang yang disebut sebagai suku Batak dalam arti geneologis, antropologis dan etnologi adalah yang memiliki tanda-tanda kebudayaan yang serupa, yaitu sistem kekerabatan dan sosial Dalihan na Tolu atau Singkep Sitelu (Karo). Tujuan hidup yang ideal menurut suku Batak yaitu terbentuk dalam konsep : hamoraon, hagabeon, dan hasangapon, yang artinya orang Batak harus mempunyai jaringan
yang luas, pengakuan dan penghargaan sosial yang baik, serta kekuatan ekonomis yang mapan. Untuk mendapatkan semua itu, dalam kehidupan sosial mereka dituntut harus pintar bergaul. Tiga konsep dasar orang Batak dalam pergaulan sosial yakni pertama hati-hati, cermat dan selalu mawas diri ; kedua, menghormati orang lain ; dan ketiga, bersifat membujuk yang tercantum dalam kata istilah
“manat, somba, dan elek” (Nadapdap, 1991).
2.4.2 Kebudayaan suku Jawa
Menurut antropologi budaya, suku bangsa Jawa ialah individu-individu yang memakai bahasa Jawa secara turun-temurun dan mereka yang memiliki tempat tinggal dan tempat asal di sekitar daerah Jawa Tengah dan Jawa (Herusatoto, 2000).
Falsafah dalam budaya Jawa yaitu nrima ing pandum, yang artinya menerima apapun yang telah diberikan oleh Tuhan secara apa adanya yang membuat orang Jawa menjalankan hidupnya dengan tabah dan pasrah. Kemudian falsafah hidup dalam budaya Jawa lainnya yaitu mawas diri yang memili arti pedoman dalam cara bertindak orang Jawa ialah senantiasa mengintropeksi diri sendiri. Dengan mawas diri, maka tindakan yang dilakukan oleh invidu haruslah sesuai dengan moral dan dapat dipertanggungjawabkan. Falsafah ini mengatur hakekat hubungan sesama manusia (Gauthama, 2003).
2.4.3 Kebudayaan suku Melayu
Menurut Perlembagaan Malaysia, istilah “Melayu” hanya merujuk kepada seseorang yang berketurunan Melayu yang menganut agama islam. Kemudian istilah Melayu yang lebih umum merujuk kepada suku bangsa yang menuturkan
bahasa Melayu (Gazali, 1992). Orang Melayu memiliki ciri-ciri kepribadian yang terbentuk tidak lepas dari tuntutan norma-norma adat istiadat yang terdapat dalam masyarakat Melayu (modal personality). Maka terbentuklah watak orang Melayu yaitu pertama sifat merendah diri yang ditunjukan dengan sikap tertib, sopan dan hormat. Kedua, sifat pemalu atau penyegan yaitu segan meminta tolong, segan menonjolkan diri, segan mengambil muka dan lain-lain. Ketiga, sifat suka damai atau toleransi yang ditunjukan dengan mudah menjalin kerja sama, tidak cerewet atau banyak bicara. Keempat, sifat sederhana yaitu tenang, tidak tergesa-gesa, tidak tamak dan tidak serakah. Kelima, sifat sentimentil dan riang yakni menekan perasaan-perasaan dan gejolak sedih dan kembali riang gembira dengan tidak larut dalam kesedihan. Keenam, sifat mempertahankan diri biasanya ditunjukan dengan merajuk yakni menutup diri untuk membicarakan masalah yang menyebabkan perasaannya tersinggung. Kemudian merajuk dapat berkembang menjadi amuk yaitu sikap akhir yang diputuskan untuk membela harga diri yang telah dicemarkan oleh orang lain (Thamrin dan Iskandar (2009) dalam Suciati, 2016).
2.5 Hubungan Intensitas Nyeri dengan Faktor Sosial Budaya
Ras, budaya dan etnik ialah faktor penting dalam respons indivdu terhadap nyeri. Faktor-faktor ini memengaruhi seluruh respons sensori, termasuk respons terhadap nyeri. Respons terhadap nyeri cenderung merefleksikan moral budaya kita masing-masing (Black & Hokanson, 2014).
Standar budaya juga mengajarkan seseorang tentang seberapa besar nyeri harus ditoleransi, jenis nyeri apa yang harus dilaporkan, kepada siapa harus melaporkan nyeri, dan apa jenis terapi yang harus dicari. Misalnya pasien
keturunan Eropa Utara mungkin menilai “jadilah pasien yang baik, yang dapat menyebabkan mereka menghindari keluhan tentang nyeri, sedangkan pasien keturunan Yahudi dapat menilai dan mencari informasi tentang nyeri yang dapat menyebabkan mereka membahas nyeri secara sering dan detail (LeMone et al, 2015). Sebagai contoh lain, mengutarakan nyeri secara verbal mungkin dianggap sesuai di komunitas Italia, namun tidak demikian bagi komunitas Jerman yang menjunjung tinggi stoicisme (Black & Kokanson, 2014).
Bagi pasien Batak, rasa nyeri memiliki tiga arti: pengalaman mengganggu, tidak nyaman, dan melelahkan. Rasa melelahkan yang mereka rasakan mungkin bukan berati lelah secara fisik tetapi juga melelahkan secara psikologis.
Pengalaman yang melelahkan secara fisik mungkin disebabkan oleh respons pasien Batak terhadap rasa nyeri. Mereka merespons rasa nyeri dengan berteriak, marah atau menangis, yang menghabiskan energi mereka. pasien Batak menganggap nyeri sebagai masalah, ini mungkin karena pengaruh rasa nyeri pada aktivitas hidup mereka dan gangguan kebahagiaan hidup mereka. Pasien Batak percaya bahwa rasa nyeri yang mereka alami harus ditunjukkan kepada orang lain untuk mendapatkan perhatian dan kemudian ingin mendapatkan bantuan dari mereka untuk menghilangkan rasa nyeri (Suza, 2007).
Bagi pasien Jawa, nyeri memiliki 3 arti: penderitaan, gangguan, dan
"cobaan". Studi menemukan bahwa pasien Jawa menunjukkan respons yang bervariasi ketika mereka merasakan nyeri. Sebagian besar pasien Jawa (7 dari 10) menyatakan bahwa mereka berusaha mengabaikannya dan hanya diam saja.
Dalam budaya mereka, ketika berhadapan dengan penderitaan, orang Jawa
diajarkan untuk menghadapinya dengan sabar dan mereka tidak diizinkan untuk mengeluh. Mengeluh berarti kelemahan. Mereka diharapkan kuat dan menerima takdir mereka. Ditekankan bahwa orang yang kesakitan harus menerimanya atau hanya menanggungnya. Selain itu, pasien Jawa percaya bahwa rasa sakit adalah ujian spiritual dari Tuhan (Suza, 2007).
Peneliti belum menemukan literature mengenai respon suku Melayu
Peneliti belum menemukan literature mengenai respon suku Melayu