BAB IV KONSEP ISLAM LIBERAL NURCHOLISH MADJID DAN
B. Implikasi konsep Islam liberal Nurcholish Madjid Terhadap
1. Tujuan Pendidikan Islam
Persoalan pendidikan adalah persoalan yang menyangkut hidup dan kehidupan manusia yang senantiasa harus berproses dalam perkembangan kehidupannya. Setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Maka pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan rasa tubuh. Karena itu pendidikan seharusnya memberikan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya secara spiritual, intelektual, imajinatif (seni), fisikal, ilmiah linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif. Di samping memotivasi semua aspek ke arah kebaikan dan
kesempurnaan.243 Dari rumusan bahwa pada akhirnya tujuan pendidikan
Islam ialah membentuk manusia yang berkepribadian muslim, yakni manusia yang takwa dengan sebenar-benarnya, yaitu takwa kepada Allah SWT.
Menurut Ahmad D. Marimba bahwa suatu usaha tanpa tujuan tidak akan berarti apa-apa. Oleh karenanya, setiap usaha pasti ada tujuan dan begitupula dalam pendidikan Islam sangat penting adanya tujuan pendidikan yang dilaksanakan. Ada empat fungsi tujuan dalam pendidikan Islam, yaitu:
243
a. Tujuan berfungsi mengakhiri usaha, dalam hal ini perlu sekali antisipasi ke depan dan efisiensi dalam tujuan agar tidak terjadi penyimpangan.
b. Tujuan berfungsi mengesahkan usaha, dalam hal ini tujuan dapat menjadi pedoman sebagai arah kegiatan.
c. Tujuan dapat merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan lainnya, baik merupakan kelanjutan tujuan sebelumnya maupun bagi tujuan baru.
d. Tujuan berfungsi memberikan nilai (sifat) pada usaha itu, dalam hal ini ada tujuan yang lebih luhur, mulia dari pada usaha lainnya (bisa
juga tujuan dekat, jauh atau tujuan sementara dan tujuan akhir).244
Melihat fungsi tujuan pendidikan seperti tersebut di atas, jelaslah kiranya bahwa faktor tujuan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan.
Tujuan pendidikan Islam dalam pandangan liberal terbagi menjadi tiga bentuk tujuan. Diantaranya, tujuan tertinngi atau terakhir, tujuan umum, tujuan khusus. Tujuan tentinggi atau terakhir dari pendidikan adalah; pertama, menjadi hamba allah yang bertaqwa. Kedua, mengantarkan subjek didik menjadi khalifah fil ard yang mampu
memakmurkannya (membudidayakan alam sekitarnya). Ketiga,
memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Adapun tujuan umumnya bersifat empirik dan realistik adalah berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiaanya dapat diukur karena menyangkut
244
perubahan sikap, prilaku, dan kepribadian subjek didik, sehingga mampu menghadirkan dirinya sebagai sebuah pribadi yang utuh atau disebut
realisasi diri (self realization).245
Sedangkan tujuan khususnya, achmadi lebih berpendapat disesuaikan dengan tiga perkara, yaitu sesuai dengan kultur dan cita-cita suatu bangsa, sesuai dengan minat, bakat dan kesanggupan subjek didik, dan sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi pada kurun waktu tertentu.246
Secara umum tujuan pendidikan Islam dalam perspektif Nurcholish Madjid ialah, agar manusia dapat mencapai keimanan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Maka oleh karenanya dapat dikatakan bahwa ilmu yang benar adalah “mukaddimah” iman yang benar. Ilmu adalah sebuah kemestian bagi manusia yang mempunyai fungsi: pertama, sebagai bekal Allah kepada Adam, dengan ilmu itu manusia memahami alam sekitarnya, yang kemudian digunakan untuk membangun bumi ini, memenuhi tugasnya sebagai khalifah Allah. Kedua, sebagai tujuannya yang lebih mendalam, dengan ilmu manusia memahami dan merasakan kehadiran Allah dalam hidup, sehingga menjadi bertaqwa kepadanya, berkiprah dalam kesadaran penuh dan mendalam akan kehadirannya. Yang pertama menghasilkan kemudahan hidup (manfaat dari “iptek”), dan yang kedua,
245
Soleh Subagja, Gagasan Liberalisasi Pendidikan Islam, konsepsi pembebasan dalam pembelajaran pendidikan Islam (Malang: Madani, 2010), hlm. 154.
246
yang lebih mendalam, membimbing manusia beriman kepada keluhuran
budi pekerti atau akhlaq.247
Menurut Nurcholish Madjid proses pendidikan harus dapat melahirkaan manusia-manusia yang memiliki sumber daya yang berpengetahuan luas dan kebebasan berfikir yang berdasarkan keimanan. Bila ditelusuri ke belakang era 70-an Nurcholish Madjid telah menungkapkan tentang tujuan pendidikan tersebut. Menurut Nurcholish Madjid, dengan mengutip Alan Simpson ahli pendidikan, apapun jenis dan bentuk pendidikan yang ingin dicarikan bentuknya yang berarti adalah pendidikan yang dapat membentuk manusia terpelajar dan bersifat
liberal.248 Dan menurutnya lagi, ciri-ciri yang positif dan konstruktif yang
membedakan antara pendidikan yang baik dari yang jelek atau yang sungguh-sungguh dari yang setengah-setengah terkandung dari perkataan
“liberal” itu.249
Jadi sikap “liberal” itu cerminan utama dari wujud sumber daya manusia tersebut.
Aspek liberal yang menjadi tekanan utama dalam mewujudkan tujuan pendidikan akan mendekatkan pada proses demokratisasi yang menjadi cita-cita suatu bangsa. Asas liberal menumbuhkan sifat yang demokratis dan toleran terhadap pemikiran-pemikiran yang muncul. Sehingga sikap ini sangat mendukung sekali dalam wacana masyarakat madani sebab mayarakat madani tidak bisa terlepas dari unsur dasarnya
247
Nurcholish Madjid, Cendikiawan dan Religiusitas Masyarakat “kolom-kolom di Tabloid Tekad” (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 182.
248
Bersifat liberal itu berkaitan dengan: pada dasarnya alam raya ini terbuka. Siapapun dapat mempelajaarinya. Sehingga ilmu pun terbuka. Maka manusia dianjurkan saling belajar dari sesamanya, tanpa batas kebangsaan, kedaerahan, kenegaraan dan keagamaan. Manusia dengan sikap terbuka dapat belajar dari sesamanya, dari manapun dan kepada siapapun. Nurcholish Madjid, Cendikiawan dan Religiusitas Masyarakat, hlm. 182.
249
yakni pluralitas dan majemuk. Manusia yang liberal menunjukkan kematangannya dari segi emosional dan intelektual, berbeda dengan absolutisme.
Absolutisme dalam pandangan Nurcholish Madjid merupakan suatu cara berfikir yang serba mutlak, sehingga cenderung untuk tidak mentolerir pikiran-pikiran lain. Inilah permulaan perubahan perbedaan menjadi pertentangan atau antagonisme. Absolutisme merupakan gejala kurang matangnya seseorang dari segi intelektual maupun emosional. Ketidakmatangan intelektual menyebabkan orang sempit pandangan, sedangkan ketidak matangan emosional menyebabkan orang tidak kuat
melihat adanya perbedaan orang lain.250 Ini sangat tidak cocok dengan
keadaan di Indonesia yang majemuk, sehingga menuntut adanya sikap pluralis dan toleran.
Untuk pembentukan watak yang liberal itu menurut Nurcholish Madjid perlu dipikirkan metode atau cara penyampaian dalam pengajaran. Maka pemikiran mengenai metode dalam pengajaran jauh lebih penting
dari hal-hal yang berkaitan dengan isi atau materi.251 Pendidikan pesantren
masa lampau tidak memikirkan metode atau cara karena lebih mementingkan hal-hal yang bersifat normatif. Dengan tidak menutup mata atas keberhasilan pendidikan tempo dulu, agaknya pendidikan sekarang harus merelevankan dengan tuntutan zaman di era teknologi dan industrialisasi ini.
250
Nurcholish Madjid, Islam Kerakyatan, hlm. 181-182.
251