• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Pengelompokan Berdasarkan Kategori Guild

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi struktur komunitas burung.

2. Mengukur kesamaan komunitas dan pola penyebaran burung.

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah data mengenai komunitas burung dan burung gagak banggai di Pulau Peleng dan sebagai bahan pertimbangan untuk upaya pelestarian burung, khususnya burung gagak banggai di Pulau Peleng.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Mengingat banyaknya dan luasnya berbagai aspek dari komunitas burung secara umum dan khususnya burung gagak banggai, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada keanekaragaman jenis burung, kemerataan jenis burung, kesamaan jenis burung dan pola penyebaran burung pada tipe habitat yang diteliti, serta preferensi habitat dan pola sebaran dari burung gagak banggai.

1.6 Kerangka Pemikiran

Pulau Peleng merupakan habitat bagi jenis-jenis burung dan gagak banggai. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, mengakibatkan terjadinya degradasi habitat, yang menyebabkan jenis-jenis burung yang ada di Pulau Peleng terganggu, sehingga perlu dilakukan usaha pelestarian. Untuk upaya pelestarian tersebut, dibutuhkan penelitian yang menyeluruh terkait komunitas burung dan aspek ekologi gagak banggai. Data dan informasi yang diperoleh dari hasil penelitian tersebut dapat dijadikan dasar untuk menganalisis atau membuat kebijakan terkait komunitas burung secara umum dan burung gagak banggai secara khusus.

Komunitas burung dibentuk oleh berbagai faktor, seperti jenis penyusun komunitas, faktor vegetasi, perubahan musiman, waktu dan faktor lainnya. Perbedaan struktur dan komposisi jenis penyusun suatu komunitas akan berbeda antara tipe vegetasi yang ada. Perubahan musim dan perubahan vegetasi sejalan dengan waktu juga akan mempengaruhi komunitas burung. Komunitas burung bisa diamati dengan menggunakan parameter suatu komunitas seperti kekayaan, keanekaragaman, kelimpahan relatif dan komposisi jenis.

Preferensi habitat dan pola penyebaran gagak banggai diduga disebabkan oleh faktor fisik maupun biofisik dari habitat gagak banggai. Komponen fisik habitat terdiri atas: kelerengan lahan, ketinggian tempat, suhu udara, jarak terhadap kebun terdekat dan jarak terhadap tempat aktivitas manusia (Gambar 1).

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian Faktor Interspesies: - Keanekaragaman - Kemerataan - Kelimpahan - Komposisi jenis

Preferensi habitat dan pola penyebaran gagak banggai Komponen Fisik Habitat: - Kelerengan lahan - Ketinggian tempat - Suhu udara

- Jarak terhadap kebun terdekat

- Jarak terhadap tempat aktivitas manusia

Dasar untuk menganalisis atau pembuatan kebijakan terkait komunitas burung secara umum dan burung gagak banggai Struktur komunitas Burung Faktor Musim Faktor Lainnya: - Ketersediaan pakan Faktor Waktu Faktor Intraspesies - Perkembang biakan - Guild Faktor Vegetasi - Struktur vegetasi

2.1 Habitat

Habitat adalah kawasan yang terdiri dari berbagai komponen baik fisik maupun biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembang biaknya satwa liar (Alikodra 1990).

Menurut Odum (1993) habitat terdiri atas komponen abiotik dan biotik yang bersama-sama menyusun kumpulan sumberdaya yang secara langsung maupun secara tidak langsung mendukung kehidupan organisme untuk hidup di tempat tersebut. Tumbuhan merupakan bagian habitat yang berfungsi sebagai penyedia berbagai macam makanan, tempat sarang serta tempat berlindung bagi satwa liar. Tumbuhan yang terdapat di habitat tersebut merupakan faktor penting dalam kehidupan burung karena beberapa bagian dari tumbuhan yaitu bagian generatif dan bagian vegetatif menjadi sumber makanan (Fleming 1992).

Komposisi komunitas burung dapat dipengaruhi oleh perubahan komposisi jenis tumbuhan dalam suatu habitat. Perubahan suatu habitat mengakibatkan beberapa jenis burung mengubah perilaku makannya dan memperluas daerah jelajahnya (Lambert 1992). Penggunaaan habitat oleh burung berubah-ubah tergantung ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan dan adanya seleksi terhadap beberapa bagian dari habitat sesuai dengan kebutuhannya (Wiens 1992). Selain itu, kehadiran jenis burung pada suatu komunitas dipengaruhi oleh fragmentasi habitat dan ketersediaan sumberdaya di habitat seperti makanan (Hobson & Bayne 2000; Haslem & Bennett 2008; Fleming 1992).

2.2 Komunitas Burung

Menurut Wiens (1992) komunitas burung merupakan kumpulan populasi dari jenis-jenis burung yang hidup pada suatu habitat yang saling berinteraksi membentuk sistem komposisi, struktur dan peranannya sendiri. Morin (1999) menyatakan bahwa parameter penting dalam mempelajari suatu komunitas adalah taxocene dan guild. Taxocene adalah pengelompokan secara ekologi berdasarkan kelompok taksa tertentu. Taxocene merupakan unit dasar dalam penelitian makroekologi dan mempunyai parameter seperti kelimpahan dan keanekaragaman (Kaspari 2001). Guild adalah sekelompok jenis burung yang menggunakan

tempat mencari pakan untuk kelangsungan hidupnya (Connel et al. 2000). Pengelompokan burung dalam kategori guild dilakukan berdasarkan pola mencari pakan, kebiasaan makan, tempat mencari pakan atau pemilihan tempat mencari pakan pada tingkatan vegetasi (Rakotomanana 1998; Aleixo 1999).

Menurut Karr (1971) komposisi jenis dalam komunitas dapat dilihat dari komposisi atau kategori pakan dan cara makan dari jenis-jenis burung yang ada. Pada suatu habitat yang kaya dengan serangga akan memiliki jumlah burung insektivora yang melimpah atau jika suatu habitat cukup beragam sumber pakannya tetapi produktivitas masing-masing sumberdaya tidak melimpah, maka sebagian besar jenis pembentuk komunitas adalah jenis burung-burung omnivora. Demikian pula apabila produksi biji dan buah melimpah, maka pembentuk komunitasnya adalah jenis burung frugivora dan jenis burung graminivora.

2.3 Keanekaragaman Jenis Burung

Keanekaragaman jenis adalah suatu karakteristik tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologisnya dan dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak jenis dengan kelimpahan jenis yang sama atau hampir sama. Sebaliknya jika komunitas disusun oleh sangat sedikit dan hanya sedikit dari jenis itu yang dominan, maka keanekaragaman jenisnya rendah. Keanekaragaman jenis yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas tinggi, karena dalam komunitas itu terjadi interaksi yang tinggi pula (Soegianto 1994; Krebs 1989; Wiens 1992).

Menurut Helvoort (1981) keanekaragaman merupakan sifat yang khas dari komunitas yang berhubungan dengan banyaknya jenis atau kekayaan jenis dan kelimpahan jenis sebagai penyusun komunitas. Kekayaan merupakan jumlah jenis yang ada sedangkan kelimpahan jenis menunjukkan kelimpahan relatif dari masing-masing jenis. Suatu komunitas yang stabil dan baik akan mempunyai keanekaragaman jenis burung yang tinggi. Variasi yang besar pada vegetasi akan memberikan kekayaan dan keanekaragaman burung yang tinggi.

habitat lainnya, hal ini tergantung pada kondisi lingkungan dan faktor yang mempengaruhinya (Alikodra 1990). Keanekaragaman jenis di suatu habitat ditentukan oleh faktor seperti struktur vegetasi, komposisi jenis tumbuhan, sejarah habitat, tingkat gangguan dari predator dan manusia (Welty & Baptista 1988), serta ukuran luas habitat (Wiens 1992). Oleh karena itu, kondisi suksesi vegetasi berkaitan erat dengan perubahan komposisi jenis yang menempatinya (Alikodra 1990). Keanekaragaman jenis cenderung lebih rendah di ekosistem yang homogen dan lebih tinggi di ekosistem yang alami dan kompleks. Peningkatan jumlah jenis burung juga berkaitan dengan pertambahan luas habitat (Wiens 1992).

2.4 Bio-ekologi Gagak Banggai 2.4.1 Klasifikasi dan Morfologi

Secara umum gagak banggai diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, phylum Chordata, class Aves, ordo Passeriformes, familia Corvidae, genus Corvus dan jenis Corvus unicolor (Gambar 2).

Menurut Mallo dan Putra (2007), individu jantan gagak banggai mempunyai panjang tubuh 334,6 mm, paruh 46,7 mm, tarsus 52,9 mm, ekor 110,8 mm dan sayap berukuran 210,1 mm. Warna tubuhnya seluruhnya hitam kusam, jari dan tarsus hitam, paruh hitam, iris berwarna putih kotor. Ukuran tubuh individu betina lebih pendek dari individu jantan yaitu 310 mm, paruh 44,8 mm, tarsus 47,4 mm, ekor 110,7 mm dan sayap 207,7 mm. Warna keseluruhan tubuhnya berwarna hitam kusam, jari dan tarsus hitam, paruh hitam dan iris putih kotor.

Gambar 2 Individu gagak banggai di Pulau Peleng a) dan d) tampak depan, b) tampak samping, c) tampak belakang.

2.5.2 Perkembangbiakan

Gagak banggai diperkirakan bertelur, mengeram hingga membesarkan anaknya dalam sarang pada bulan Juni hingga awal September, masa bercumbu dan membuat sarang diperkirakan sebelum bulan Juni hingga akhir bulan Juni. Masa anak meninggalkan sarang diperkirakan pada awal bulan September sampai Oktober.

Pada masa berkembangbiak gagak banggai membuat sarang yang berukuran 40 cm, berbentuk terbuka yang kurang rapi dari ranting-ranting kayu yang kuat, bahan sarang yang ditemukan ukurannya bervariasi, dari sebesar lidi aren (Arenga pinnata) hingga sebesar jari kelingking orang dewasa. Sarang diletakkan pada pohon toan (Pometia sp.), pada dahan tertinggi, dekat puncak kanopi yang tingginya 19 m dari permukaan tanah (Mallo & Putra 2007).

2.5.3 Makanan

Gagak banggai selain mengkonsumsi serangga, ulat, reptilia kecil (tokek dan cicak), gagak banggai juga diketahui mengkonsumsi buah beringin (Mallo & Putra 2007).

Menurut Mallo dan Putra (2007), gagak banggai sering dijumpai di tepi hutan yang masih banyak terdapat pohon yang berukuran besar dan tinggi yang berbatasan dengan ladang. Gagak banggai juga sering terlihat bertengger pada pohon monas dan malisa atau marisa (Podocarpus sp.) dan pohon uling (Koordersiodendron pinnatum) dengan ketinggian tenggeran sekitar 20- 40 m dari permukaan tanah.

2.5.5 Perilaku

Gagak banggai sering berkelahi dengan gagak hutan (Corvus enca) dan dalam perkelahian tersebut gagak hutan selalu kalah dan menghindari gagak banggai. Gagak banggai selalu menghindari kontak dengan manusia dan selalu menghindari daerah terbuka yang sering dikunjungi manusia atau daerah terdapat aktivitas manusia (Mallo & Putra 2007).

2.5.6 Penyebaran dan Populasi

Penyebaran secara global burung gagak banggai terbatas (endemik) pada Kepulauan Banggai subkawasan Sulawesi. Secara lokal gagak banggai hanya dijumpai di Pulau Peleng. Gagak banggai dapat dijumpai pada beberapa tempat di ketinggian antara 700 sampai 800 mdpl. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Mallo dan Putra (2008a), penyebaran gagak banggai hanya dijumpai pada bagian Barat dan Tengah Pulau Peleng dan gagak banggai tidak ditemukan pada bagian Timur Pulau Peleng dan pulau Banggai. Gagak banggai menyebar bukan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut, karena gagak banggai juga dijumpai pada ketinggian 200 mdpl. Jumlah populasi gagak banggai di Pulau Peleng diperkirakan sekitar 150 sampai 200 ekor.

2.6 Pola Sebaran Spasial

Menurut Ludwig dan Reynolds (1988), secara umum individu populasi menyebar dalam tiga pola spasial yaitu pola sebaran acak (random), pola sebaran mengelompok (clumped) dan pola sebaran merata (uniform). Selanjutnya disebutkan juga bahwa pola sebaran acak dari individu-individu populasi suatu jenis menunjukkan adanya keragaman (homogenity) dalam lingkungan hidup jenis itu dan adanya perilaku non selektif dari jenis yang bersangkutan dalam

dari persaingan makanan diantara individu sebagaimana dapat diamati pada hewan yang merumput; sedangkan pola sebaran mengelompok dapat disebabkan oleh sifat jenis yang bergerombol (gregorius) atau adanya keragaman (heterogenity) habitat sehingga terjadi pengelompokan di tempat terdapat makanan dan lainnya.

Menurut Ludwig dan Reynolds, (1988) faktor yang menyebabkan adanya perbedaan pola sebaran spasial diantaranya adalah:

1. Faktor vektorial yang timbul dari adanya gaya-gaya eksternal seperti arah angin, arah aliran air dan intensitas cahaya;

2. Faktor reproduksi yaitu yang berkaitan dengan cara berkembang biak; 3. Faktor sosial sebagai akibat sifat yang dimiliki tertentu misalnya perilaku

teriotorial;

4. Faktor yang timbul sebagai akibat adanya persaingan intraspesifik.

Menurut Tarumingkeng (1994), pola sebaran spasial suatu komunitas ekologi dapat ditentukan dengan berbagai indeks penyebaran (dispersion index), yaitu indeks disperse (ID), indeks agregatif/ index of clumping (IC) dan indeks Green (IG). Pola sebaran satwa dapat berbentuk merata, kelompok dan acak. Pola penyebaran ini merupakan strategi individu maupun kelompok organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kondisi habitat yang meliputi kualitas dan kuantitas sangat menentukan penyebaran populasi satwaliar. Satwa menggunakan habitatnya untuk melakukan beberapa aktivitas. Penggunaannya dapat dilakukan secara horizontal maupun vertikal.

3.1 Status, Luas dan Letak

Pulau Peleng merupakan pulau yang terletak di ujung semenanjung timur Pulau Sulawesi, yang jaraknya dekat perbatasan antara Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku. Jarak pulau ini cukup dekat dengan Kota Luwuk. Pulau Peleng secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah Pulau Peleng terbagi dalam enam kecamatan, yaitu Kecamatan Tinangkung, Kecamatan Bulagi, Kecamatan Bulagi Selatan, Kecamatan Totikum, Kecamatan Liang dan Kecamatan Buko. Daratan Pulau Peleng memiliki luas 3.214,46 km² (BPS 2004).

3.2 Penduduk

Jumlah penduduk Pulau Peleng tahun 2004 adalah 153.827 jiwa. Suku dominan di pulau ini adalah Suku Salakan, dan sebagian kecil suku pendatang dari luar Pulau Peleng, seperti Bugis, Jawa, Luwuk, Gorontalo dan Kendari (BPS 2004).

3.3 I k l i m

Pulau Peleng mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan di Pulau Peleng jatuh pada bulan Maret-Juli dengan curah hujan 66 s/d 235 mm, sementara musim kemarau jatuh pada bulan September- Nopember dengan curah hujan 14 s/d 23 mm (BPS 2004).

3.4 F l o r a

Menurut Mallo et al. (2006) Pulau Peleng merupakan pulau yang berukuran besar di Kepulauan Banggai yang vegetasinya didominasi hutan tropis dataran rendah. Tumbuhan yang dominan hidup di hutan ini adalah wanga (Pigafetta filaris), berbagai jenis beringin (Ficus sp.), berbagai jenis kenari (Canarium sp.), matoa (Pometia sp.), mahang (Macaranga sp.), melinjo (Gnetum gnemon), mengkirai (Trema orientalis) dan mangga (Mangifera sp.). Hutan tropis ini relatif miskin akan jenis tumbuhan dan kerapatan vegetasinya, karena

tempat di pulau ini terbentuk vegetasi yang mencirikan hutan musim. Tumbuhan yang dominan yang ditemukan pada vegetasi ini adalah jembirit (Tabernaemontana sp.) dan lontar (Borassus sp.). Pada beberapa tempat di Pulau Peleng terbentuk rawa dan rawa yang telah diolah menjadi sawah, tumbuhan yang umum ditemukan pada rawa dan sawah selain padi (Oryza sativa) yang ditanam penduduk, adalah kangkung air (Ipomea aquatica), teki (Cyperus sp.) dan sagu (Metroxylon sagu).

Pantai Pulau Peleng terdiri dari pantai bertebing karang kapur, pantai berpasir dan hutan mangrove. Pada pantai bertebing kapur yang kemiringannya relatif agak landai terbentuk vegetasi hutan tropis dataran rendah bercampur jenis tumbuhan pantai pada formasi Barringtonia, seperti beringin (Ficus sp.), kenari (Canarium sp.), pandan laut (Pandanus tectorius), butun (Barringtonia asiatica), ketapang (Terminalia cattapa) dan bintangor (Calophyllum sp.). Pada pantai berpasir didominasi jenis tumbuhan dari Formasi Pes-Caprae; terdiri dari tapak kuda (Ipomea pes-caprae), rumput angin (Spinifex littoreus), seruni laut (Wedelia biflora) dan kacang laut (Vigna marina). Jenis tumbuhan yang umum terlihat pada hutan mangrove adalah dari marga bakau (Rhizophora sp.) dan di belakang tumbuhan bakau (Rhizophora sp.) pada tempat berawa ditemukan nipah (Nypa fruticans). Selain terbentuk vegetasi alami di Pulau Peleng berupa hutan tropis dataran rendah, rawa dan sawah, berbagai vegetasi pantai, juga terdapat ladang-ladang penduduk yang telah membentuk vegetasinya sendiri, jenis tanaman yang umum ditanam penduduk pada ladang adalah jambu monyet (Anacardium oceidentale), durian (Durio sp.), cacao atau coklat (Theobroma cacao), kelapa (Cocos nucifera), pisang (Musa sp.), keladi (Alocasia sp.) dan ubi banggai (Discorea sp.).

3.5 F a u n a

Pulau Peleng bersama Pulau Banggai, Pulau Labobo, Pulau Bangkurung, Pulau Bowokan dan Kepulauan Sula (terdiri dari Pulau Taliabu, Pulau Mangole dan Pulau Sanana) merupakan kawasan penghubung dua kawasan hewan penting, yaitu Kawasan Sulawesi dan Maluku dan terletak sangat dekat di sisi

Kawasan Oriental dan Kawasan Australo-Papuan, sehingga jenis hewan yang ada di kawasan ini merupakan percampuran antara jenis hewan Kawasan Oriental dan Kawasan Australo-Papuan. Selain itu, karena terletak pada berbatasan antara Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku, di Pulau Peleng dijumpai jenis hewan asli Sulawesi yang bercampur dengan jenis hewan asli Kepulauan Maluku. Jenis-jenis hewan asli Sulawesi yang dijumpai seperti tarsius peleng (Tarsius pelengensis), elang sulawesi (Spizaetus lanceolatus), elang alap kepala kelabu (Accipiter griseiceps), pergam putih (Ducula luctuosa), walik raja (Ptilinopus superbus), dan merpati hitam sulawesi (Turacoena manadensis). Jenis-jenis hewan asli Kepulauan Maluku yang dijumpai di Pulau Peleng seperti serindit maluku (Loriculus amabilis), nuri raja ambon (Alisterus amboinensis) dan perling maluku (Aplonis mysolensis).

Pulau Peleng dihuni 141 jenis burung. Diantara semua jenis burung yang tercatat di Pulau Peleng, 10 jenis diantaranya menjadi penting karena sebarannya terbatas, yaitu gosong sula (Megapodius bernsteinii), mandar muka biru (Gymnocrex rosenbergii), walik malomiti (Ptilinopus subgularis), pergam putih (Ducula luctuosa), serindit maluku (Loriculus amabilis), kepudang sungu kelabu (Coracina schistacea), kepudang sungu sula (Coracina sula), anis punggung merah (Zoothera erythronota), sikatan rimba sula (Rhinomyias colonus) dan raja perling sula (Basilornis galeatus). Hewan mamalia yang umum ditemukan di Pulau Peleng adalah bajing (Prosciurellus sp.), babi hutan (Sus sp.), berbagai jenis kelelawar dan teristimewa di pulau ini terdapat tiga jenis mamalia endemik, yaitu kuskus peleng (Phalanger pelengensis), tarsius peleng (Tarsius pelengensis) dan tikus peleng (Rattus pelurus). Jenis hewan melata yang umum ditemukan adalah biawak (Varanus salvator), kadal terbang (Draco sp.), serta di beberapa tempat ditemukan buaya (Crocodylus sp.). Perairan laut Pulau Peleng sangat kaya dihuni jenis hewan laut. Secara umum hewan laut yang menghuni Pulau Peleng, baik jenis ikan, jenis karang maupun jenis hewan laut lainnya hampir sama jenisnya dengan hewan laut di seluruh perairan Indonesia, tetapi pulau ini menjadi istimewa karena memiliki jenis ikan langka dan endemik, yaitu kardinal banggai (Pteropogon kauderni) (Mallo et al. 2006).

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Peleng Kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah. Pengambilan data dilakukan pada empat tipe habitat alami, yaitu pada tipe habitat hutan musim, tipe habitat daerah rawa, tipe habitat hutan mangrove dan tipe habitat hutan tropis. Sedangkan dua tipe habitat lainnya yaitu daerah kebun dan sawah tidak dilakukan pengambilan data, karena merupakan tipe habitat buatan manusia. Waktu pelaksanaan mulai bulan Maret 2010 sampai dengan bulan Mei 2010.

4.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: peta Pulau Peleng skala 1: 300.000, kompas Brunton, binokuler Pentax ukuran 8x45, buku panduan burung di Kawasan Wallacea (Coates et al 2000), pita meter, altimeter, tambang plastik, alkohol 70%, kamera digital, kertas koran, gunting, label gantung, tally sheet, GPS Garmin 12 dan komputer.

4.3 Jenis Data

A. Komunitas Burung

Data burung yang dikumpulkan berupa data jenis burung dan jumlah individu burung yang teramati setiap pertemuan.

B. Gagak Banggai

Data yang dikumpulkan berupa data jenis burung jumlah individu gagak banggai beserta jenis burung yang merupakan predator dan non predator gagak banggai.

C. Tumbuhan

Pada semua tipe habitat yang diteliti, serta habitat dijumpainya burung gagak banggai, data tumbuhan yang dikumpulkan untuk membuat profil vegetasi adalah jumlah individu setiap jenis pohon, tinggi total pohon, tinggi bebas cabang dan diameter tajuk.

4.4.1 Komunitas Burung

4.4.1.1 Metode Kelimpahan Titik (IPA)

Metode IPA (Indices Ponctuel d’Abondance) merupakan metode pengamatan burung dengan mengambil sampel dari komunitas burung dalam waktu dan lokasi tertentu. Pengamatan dilakukan dengan menempatkan diri pada titik yang telah dipilih secara sistematik dan telah ditentukan sebelumnya, dengan mencatat dan mengidentifikasi jenis dan jumlah individu setiap jenis yang dijumpai baik secara langsung (visual) maupun secara tidak langsung (suara) (Helvoort 1981).

Pengamatan dilakukan pada periode pagi pukul 05.30 WITA dan berakhir pukul 09.00 WITA. Pengamatan periode sore hari dilakukan mulai pukul 15.30 WITA sampai pukul 18.00 WITA. Lokasi pengamatan burung dengan menggunakan metode ini adalah pada tipe habitat hutan musim dan tipe habitat hutan tropis. Pada masing-masing tipe habitat, dibuat enam titik pengamatan dengan pengulangan sebanyak empat kali pada masing-masing tipe habitat, dengan waktu pengamatan untuk setiap titik yaitu selama 10 menit.

Bentuk unit contoh dalam pengamatan burung dengan menggunakan metode IPA ialah dengan lingkaran yang diameternya atau radius lingkaran 50 m, dengan jarak antara titik tengah 100 m (Gambar 3).

Gambar 3. Bentuk unit contoh untuk inventarisasi satwa liar burung dengan metode IPA : P = Titik pengamatan, r = Radius lingkaran yang ditentukan berdasarkan kemampuan jarak pandang rata-rata (50 m).

P1 P2 P3 Arah Lintasan 100m 500-1000m r r r

Metode ini digunakan pada tipe habitat daerah rawa. Metode ini digunakan karena arealnya terbuka dan tidak terlalu luas serta penyebaran burung terkonsentrasi di daerah tersebut. Menurut Alikodra (1990) bahwa metode Concentration counts efektif digunakan untuk mengetahui populasi satwaliar yang mempunyai pola hidup berkelompok. Pada metode ini, pengamat menempatkan diri pada suatu tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Penentuan titik pengamatan berdasarkan konsentrasi burung yang akan diamati. Untuk pengumpulan data, pada tipe habitat ini digunakan satu titik pengamatan dengan empat kali pengulangan.

4.4.1.3 Metode Transek Jalur (Strip Transect)

Metode transek jalur (strip transect) digunakan pada tipe habitat hutan mangrove. Transek jalur adalah suatu metode pengamatan populasi satwaliar melalui pengambilan contoh dengan bentuk unit contoh berupa jalur pengamatan (Sutherland 2006). Metode ini dilakukan dengan membuat jalur sejajar satu sama lain dengan panjang jalur masing-masing 1 km dan lebar jalur 50 m (25 m ke kanan dan 25 m ke kiri) dengan asumsi kemampuan mata memandang sejauh 25 m. Pada tipe habitat ini ditempatkan dua jalur pengamatan dengan pengulangan empat kali setiap jalurnya. Jarak antar jalur yaitu 200 m (Gambar 4).

Gambar 4. Bentuk unit contoh untuk inventarisasi satwa liar burung dengan metode transek jalur: D= jarak antara pengamat dengan satwa, Xi= posisi satwa, Pi= titik pengamatan, 25 m= jarak pandang pengamat.

Xi Xi

25 m D D

Arah Lintasan Pengamat

Pi

25 m D D

Data burung gagak banggai dikumpulkan dengan menggunakan metode transek jalur (Gambar 4). Penempatan jalur diletakkan pada habitat yang dijumpai burung gagak banggai. Untuk pengumpulan data gagak banggai digunakan delapan jalur dengan pengulangan sebanyak empat kali.

4.4.3 Data Tumbuhan

Pengumpulan data tumbuhan dilakukan pada tiap titik pengamatan burung pada setiap komunitas burung yang diteliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menempatkan petak pengamatan berukuran 10 x 20 m pada setiap tipe habitat.

4.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data

Dokumen terkait