• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Sasaran dan Strategi pengembangan Prohisan

D. Misi Prohisan

2. Tujuan Sasaran dan Strategi pengembangan Prohisan

Tabel 3.15

Isu-Isu Strategis Prohisan (PHBS)

KEKUATAN (STRENGTH) KELEMAHAN (WEAKNESS)

1. Adanya pokja AMPL,Pokja SANITASI dan Pokja STBM di Kabupaten Wonogiri

2. Program puskeling masuk dalam SPM Kab, Wonogiri

3. Adanya pokja AMPL

4. Adanya tim STBM tingkat kecamatan 5. Adanya pokja sanitasi

6. Adanya pendataan PHBS/sanitasi

7. Adanya anggaran dari APBN untuk program Pamsimas

8. Anggaran APBD rutin dianggarkan dan terus mengalami peningkatan

9. Adanya anggaran untuk survey PHBS 10. Adanya pendataan rumah sehat

11. Adanya anggaran untuk kegiatan STBM dari dana BOK

12. Adanya kegiatan program pemicuan STBM 13. Adanya kegiatan kampanye CTPS

14. Adanya tenaga Promkes, sanitarian dan Bidan

1. Bulum dapat melaksanakan semua peraturan dengan maksimal 2. Alokasi anggaran masih kurang 3. Sasran kegiatan belum merata

4. Mekanisme laporan belum berjalan dengan baik

5. Kurangnya SDM

6. Kuarang optimalnya Pokja AMPL

7. Kurang singkronisasi program antar SKPDS 8. Belum adanya maksimalisasi anggaran APBD 9. Jangkauan siaran dan kurang minatnya

pendengar radio pemerintah

10. Peralatan puskeling belum mencukupi 11. Terbatasnya media atau alat bantu 12. Jam tayang kurang atau belum rutin 13. Tidak optimalUKS di setiap sekoah karena

SDM pendidikan guru UKS bukan lulusan kesehatan

PELUANG (OPPORTUNITY) ANCAMAN (THREATH)

1. Sanitasi jadi isu utama pembangunan 2. Anggarn dri APBN

3. Anggaran dari APBD Prop

4. Banyak pihak semakin peduli dengan sanitasi 5. Kesadaran PHBS masyarakat semakin

meningkat

6. Adanya budaya gotong royongdi masyarakat 7. Kader kesehatan desa dan tp pkk

8. Lembaga agama

9. ((stbm/pnpm/pamsimas)

10. Adanya csr dalam hal ini pt pertamina 11. Pengajian rutin

12. program solo peduli

13. pengelolaan lingkungan bersih dan sehat mandiri eawarg

14. banyaknya program yang melibatkan swadaya masyarakat di

dalamnya(stbm/pnpm/pamsimas/ppip) budaya partemalis

1. Ego sektoral masih tinggi

2. Rendahnya investasi swasta dibidang sanitasi

3. Csr sulit diakses

4. Belum semua orang sadar akan pentingnya sanitasi

5. Adanya sebagian wilayah yang sering banjir 6. Adanya industry rumah tangga yang

berpotensi mencemari lingkungan 7. Kurang peran dari LSM sebagai motivator

kesehatan lingkungan hidup

8. Belum tentu besar kesadaran akan arti pentingnya lingkungan hidup

9. Masih rendahnya pendapatan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya 10. Makin banyak perusahaan yang berdiri tanpa

mengindahkan aturan dan dampak lingkungan

11. Masyarakat tidak dibekali dengan teknis pembangunan rumah saniter

12. Belum membudaya PHBS

13. Usia produktif banyak yang merantau 14. Kondisi geografis yang sulit dan banyak das Sumber : Buku Putih Sanitasi Kab. Wonogiri, 2013

2. Tujuan Sasaran dan Strategi pengembangan Prohisan

Phbs dan promosi Higiene di Kabupaten Wonogiri didasrkan kepada permasalahan-permasalahan mendesak dan posisi pengelolaan sanitasi saat ini berdasarkan analisa SWOT. Hal ini dilakukan agar dalam pembuatan perencanaan tersebu dapat tepat

sasaran dan sesuai dengan kemampuan penganggaran, sumber daya manusia dan kondisi-kondisi lainnya saat ini, yang akan mempengaruhi perencanaan yang akan dibuat. Posisi pengelolaan sanitasi di Kabupaten Wonogiri saat ini berada di kuadran I, sehingga strategi yang digunakan adalah strategi kekuatan/strength untuk mendapatkan peluang/ opportunity. Berdasarkan hal tersebut, maka telah disusun visi sanitasi Kabupaten Wonogiri , yang akan menjadi dasar dalam penyusunan perencanaan pembangunan PHBS dan Pomosi Higiene di Kabupaten Wonogiri, agar lebih operasional, maka berdasarkan isu-isu strategis yang ada telah dibuat misi sanitasi dalam bidang PHBS dan Pomosi Higiene yang akan menjadi landasan operasional dalam penyusunan tujuan, sasaran, dan strategi pengembangan PHBS dan Pomosi Higiene di Kabupaten Wonogiri, adapun tujuan tujuan, sasaran, dan strategi pengembangan PHBS dan Pomosi Higiene di Kabupaten Wonogiri:

3.5. TAHAPAN PENGEMBANGAN SANITASI KABUPATEN WONOGIRI

Tahapan strategi sector sanitasi Kabupaten Wonogiri, disesuaikan dengan arah pentahapan pembangunan Kabupaten secara menyeluruh. Berdasarkan arahan Pembangunan Kabupaten Wonogiri, maka penetapan pentahapan pembangunan sanitasi dalam Strategi Sanitasi Kabupaten Wonogiri periode tahun 2012-2016 merupakan pentahapan pencapaian sarana pembangunan secara bertahap dengan tepat mengacu pada kebijakan pengelolaan belanja daerah dengan menitik beratkan alokasi pada bidang-bidang wajib dan urusan pilihan yang sesuai prioritas pembanguna daerah.

Penetapan tahapan Pengembangan sanitasi dilakuka untuk mengidentifikasi sistem/pendekatan sanitasi yang paling sesuai dengan wilayah dan membantu perumusan program dan kegiatan yang paling sesuai dengan kondisi wilayah berdasarkan system/pendekatan yang diusulkan

Sistim sanitasi adalah suatu proses multi-langkah, dimana berbagai jenis limbah /permasalahan dikeloladari titik timbulan/kondisi eksisting ketitik pemanfaatan kembali/ pemrosesan akhir/tujuan akhir. Setiap tahap ini disebut kelompok fungsional karna memiliki teknologi/tahapan sendiri-sendiri dengan pengelolaan/pendekatan yang spesifik. Sistim sanitasi ditentukan berdasarkan pentahapan implementasi jangka pendek (1-2 tahun), jangka menengah ( 5 tahun ), dan jangka panjang ( 10-15 tahun ). Zona sanitasi menjelaskan dimana sistim tersebuat akan diterapkan dalam wilayah Kabupaten Wonogiri. Dalam menetapkan sistim sanitasi factor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah:

1. faktor pengelolaan (peraturan, pengelolaan kelembagaan, pengaturan O&M< kepemilikan aset);

2. factor fisik wilayah (kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan dan tipografi);

3.5.1. Tahapan Pengembangan Pengelolaan Air Limbah Domestik

Dalam penyusunan tahapan pengembangan pengelolaan air limbah domestic, digunakan data-data sebagai berikut :

1. Kondisi ekstrim, yaitu suatu kondisi luar biasa yang ada di desa/ kelurahan yang mempengaruhi sanitasi diwilayah tesebut.kondisi ekstim tersebut adalah, wilayah rob (genangan yang disebabkan oleh pasang surut air laut). Kondisi tersebut apabila terjadi disuatu wilayah akan langsung berpengaruh terhadap kondisi sanitasi, terutama dalam permasalahan air limbah rumah tangga, dimana resiko pencemaran akan sangat tinggi.

2. Wilayah komersial/ perdagangan dan jasa (Central Bsiness District/CBD), saat ini maupun yang akan datang, meliputi pasar tradisional/ besar, kawasan wisata, terminal bus dan pelabuhan. Wilayah dengan kondisi tersebut akan sangat rentan terhadap pencemaran, terutama dari limpahan limbah dari wilayah komersial disekitarnya yang akan berpengaruh terhadap sanitasi pemukiman.

3. Resiko kesehatan, dimana wilayah dengan resiko kesehatan yang tinggi akan mempunyai permasalahan terutama disektor pengelolaan air limbah rumah tangga.

4. Kondisi tanah, yaitu dilihat dari tinggi muka air tanah antara 0-5 meter dari permukaan tanah dimana jenis tanah yang mudah menyerap air sehingga infiltrasi pencemaran akan langsung masuk ke air tanah sehingga sangat beresiko terhadap kualitas air tanah tersebut.

5. Kepadatan penduduk, dimana wilayah yang padat penduduk mengharuskan pemilihan opsi teknologi dalam pengelolaan air limbah rumah tangga berupa sistem pengelolaan off-site agar tidak mencemari lingkungan.

3.5.2. Tahapan Pengembangan Sanitasi

Sistem pengelolaan air limbah domestic di Kabupaten Wonogiri secara teknis dilayani : 1. Sistim setempat (on site system )

Merupakan syistim pengolahan limbah yang dikelola oleh masing-masing individu dimana fasilitas instalasi pengolahan limbah cair hingga rumah tangga didominasi tangki septik. Keberadaan tangki septik yang digunakan tidak sesuai dengan standart yang telah ditentukan misalnya kedap air. Penduduk Kabupaten Wonogiri dalam pembangunan sarana pengolahan limbah cair model tangki septi berupa bak penampungan mempergunakan pelapisan kayu yang tidak dibuat bangunan yang dapat sebagai pengolah limbah cair. Selain itu kondisi geografis Kabupaten Wonogiri yang memiliki banyak sungai dan anak sungai dimanfaatkan juga sebagai pembuangan limpasan limbah

cair rumah tangga. Sedangkan pada wilayah perkotaan limbah cair yang berasal dari buangan dapur dan cucian baju dibuang ke saluran drainase. Untuk layanan pengolahan limbah cair oleh pemerintah belum menyediakan sarana instalasi pengolahan limbah rumah tangga. Berikut diagram pengolaan limbah cair rumah tangga yang dilakukan oleh penduduk Kabupate Wonogiri.

2. Sistem terpusat ( off site system )

Sampai saat ini pengolaan air limbah sistem terpusat yang sesuai standart di Kabupaten Wonogiri belum ada. Namun demikian dalam RPJMD Kabupaten Wonogiri tahun 2011-2015 telah direncanakan pembangunan sanitasi sistem terpusat sesuai dengan kondisi wilayah dan kemampuan daerah. Sistem pengolaan air limbah terpusat tersebut yang akan dibangun disesuaikan dengan standrt teknis maupun operasional sebagai mana program pembangunan sanitasi nasional. Berdasarkan kriteria tersebut dihasilkan suatu peta yang menggambarkan kebutuhan sistem pengolahan air limbah untuk perencanaan pengembangan sistem. Peta tersebut terbagi dalam beberapa zonasi, dimana zona tersebut sekaligus merupakan dasar bagi Kabupaten dalam merencanaka pengembangan jangka panjang pengelolaan air limbah Kabupaten Wonogiri mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Wonogiri than 2011-2015 maka arah kebijakan umum dan strategi pembangunan sektor sanitasi mengacu pada arah kebijakan umum dan strategi pembangunan Kabupaten Wonogiri. Dalam penetapan tahapan pembangunan pengolaan air limbah rumah tangga digunakan program penentuan opsi teknologi dalam zona sanitasi sebagaimana terlampir. Dari hasil pengelolahan data tersebut, diperoleh peta tahapan pengembangan pengelolaan air limbah domestik sebagai berikut:

Tabel 3.16

Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kabupaten Wonogiri

No Sistem

Target cakupan layanan* (%) Cakupan layanan eksisting (%) Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang (a) (b) (c) (d) (e) (f) A Sistem on-site

1 Individual (tangki septik 75% 83% 93% 100%

2 Komunal(MCK, MCK++) 35% 20% 5% 0%

3 Cubluk dan sejenisnya 21% 51% 91% 100%

B Sistem off-site

2 Skala wilayah 0% 0% 5% 10%

C Buang air besar sembarangan (BABS)**

95% 98% 100% 0%

Keterangan:

*) cakupan layanan adalah presentase penduduk terlayani oleh sistim dimaksud atas penduduk total

**) Buang air besar dikebun, kolam, sawah, sungai dll. Termasuk di dalamnya adalah jamban yang tidak memiliki fasilitas pengolahan ( dibuang langsung ke lingkungan ) atau yang dikenal juga dengan

BABS terselubung. Gunakan data hasil ERHA yang terdapat di dalam Buku Putih Sanitasi.

Tabel 3.17

Tahapan Pengembangan Persampahan Kabupaten Wonogiri

No Sistem

Target cakupan layanan* (%) Cakupan layanan eksisting (%) Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang (a) (b) (c) (d) (e) (f)

A Penanganan langsung (direct)

1 Kawasan komersial 26.53% 50% 75% 100%

B Penangana tidak langsung (indirect)

1 Kawasan komersial 0% 15% 30% 50%

2 Caverage > 70% 35.40% 50% 75% 100%

C Penanganan berbasis masyarakat

1 Zona 4 cakupan secukupnya

Dokumen terkait