• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 14-42)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.2 Tujuan

Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di PT Kalbe Farma Tbk, khususnya di Business Development, bertujuan agar para calon Apoteker :

1. Memahami peranan apoteker di industri yang bergerak di bidang farmasi, khususnya pada bagian Corporate Business Development.

2. Mempelajari peran pengembangan bisnis dalam kelangsungan pertumbuhan perusahaan farmasi.

3 Universitas Indonesia

TINJAUAN UMUM

2.1. PT. Kalbe Farma Tbk

2.1.1. Sejarah dan Perkembangan

Kalbe Farma didirikan oleh dr. Boenyamin Setiawan pada tanggal 10 September 1966 di Jalan Simpang I No. 1 Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sejarah Kalbe Farma diawali dari garasi pendiri Perseroan tahun 1966 sebagai perusahaan produk kesehatan dengan prinsip-prinsip dasar: inovasi, merek yang kuat dan manajemen prima. Kalbe Farma menempati pabrik yang lebih luas di Jalan Ahmad Yani, Pulomas, Jakarta Timur dan memperoleh status PMDN pada tahun 1974.

Kalbe Farma meraih kemajuan melalui semangat, tekad kuat, dan kerja keras. Dimulai pada tahun 1977, Kalbe Farma mengakuisisi PT. Dankos Laboratories. Pada tahun 1981, bisnis distribusi dialihkan kepada PT. Enseval sesuai dengan ketentuan peraturan pemerintah. Selanjutnya pada tahun 1985, Kalbe Farma melakukan ekspansi usaha produk kesehatan melaui akuisisi PT. Bintang Toedjoe dan PT. Hexpharm Jaya. Kemajuan Kalbe Farma semakin pesat dengan diakuisisinya PT. Sanghiang Perkasa pada tahun 1992 dan konsolidasi bisnis nutrisi dilakukan dalam anak perusahaan ini. Kalbe Farma group kembali mempertajam fokus bisnisnya pada produk kesehatan lainnya yang memiliki tingkat pertumbuhan menjanjikan seperti produk suplemen makanan dan obat tradisional melalui akuisisi 80% saham PT. Saka Farma pada tahun 1997.

Pada tahun 1998, pabrik Kalbe Farma berpindah lokasi ke Cikarang Bekasi dengan luas area dan bangunan yang lebih luas sehingga dapat menampung kegiatan industri yang makin berkembang secara menyeluruh. Pada tanggal 16 Desember 2005, dilakukan penggabungan usaha antara PT. Kalbe Farma, Dankos Laboratories (yang telah berubah nama menjadi Dankos Farma), dan PT. Enseval menjadi satu perusahaan terintegrasi dalam rangka menciptakan suatu perusahaan farmasi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Fokus PT. Kalbe Farma di tahun berikutnya yaitu untuk memperluas cakupan regional, membangun

merek dan infrastruktur global, meningkatkan pengembangan penemuan obat, dan membangun jaringan dan kemitraan global.

Logo Kalbe Farma diluncurkan pada tahun 2007 dengan bentuk DNA Helix yang menunjukkan bahwa perusahaan memfokuskan diri untuk masyarakat, peduli, dan berbagi juga warna hijau yang diasosiasikan sebagai lambang kehidupan, pertumbuhan dan inovasi. Di tahun yang sama, PT. Kalbe Farma, Tbk. juga mendirikan Stem Cell and Cancer Institute (SCI) yang bergerak di bidang riset sel punca dan kanker, yang memiliki potensi besar menjadi terapi masa depan menggantikan obat-obatan konvensional saat ini. Di tahun 2010, Manajemen Perseroan juga telah mengambil satu langkah besar yakni divestasi divisi kemasan Kalbe yaitu PT. Kageo Igar Jaya, Tbk. beserta anak perusahaannya. Hal ini dilakukan sehingga Kalbe dapat kembali fokus pada bisnis inti serta dapat mengalokasikan sumber daya yang ada ke bisnis inti Kalbe yakni menyediakan solusi kesehatan yang lengkap.

Dengan pedoman “Panca Sradha Kalbe” sebagai nilai dasar Perseroan, Kalbe berhasil meraih pertumbuhan yang solid dan mencatatkan sebagai perusahaan publik tahun 1991 di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia). Melalui proses pertumbuhan organik dan penggabungan usaha & akuisisi, kegiatan usaha Kalbe berkembang meliputi 22 anak perusahaan, dalam empat kelompok divisi usaha: divisi obat resep dengan kontribusi sebesar 24% terhadap pendapatan total, divisi produk kesehatan dengan kontribusi 16%, divisi nutrisi dengan kontribusi 24%, serta divisi distribusi dan logistik dengan kontribusi 36% dihitung pada akhir tahun 2013. Dengan dukungan lebih dari 17.000 karyawan, termasuk 6.000 tenaga penjualan dan pemasaran, kegiatan usaha Perseroan mencakup seluruh wilayah kepulauan Indonesia dan keberadaan di pasar internasional yang terus berkembang. Di pasar internasional, Perseroan telah hadir di pasar Asia Tenggara dan Afrika, serta menjadi perusahaan produk kesehatan nasional yang dapat bersaing di pasar ekspor. PT Kalbe Farma Tbk telah menjadi perusahaan produk kesehatan publik terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar 6,45 triliun rupiah pada akhir tahun 2013 (Kalbe, 2014).

Universitas Indonesia

2.1.2. Visi dan Misi Perusahaan

Visi dari PT Kalbe Farma Tbk adalah “Menjadi perusahaan produk kesehatan Indonesia terbaik yang didukung oleh inovasi, merek yang kuat dan manajemen yang prima” (to be the best Global Health Care Company driven by innovation, strong brands and excellent in management), sedangkan misi dari Kalbe Farma adalah “Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik” (to improve health for a better life).

2.1.3. Nilai Kalbe Panca Sradha

PT Kalbe Farma Tbk memiliki lima nilai perusahaan di dalam menjalankan perusahaannya yang dikenal dengan Kalbe Panca Sradha. Lima nilai tersebut adalah :

1. Trust is the glue of life

Saling percaya adalah perekat di antara kami. Berlandaskan saling percaya, saling menghargai dengan menjunjung tinggi keterbukaan dan kejujuran, kami mengelola Perseroan untuk memberikan yang terbaik bagi sesama.

2. Mindfulness is the foundation of our action

Kesadaran penuh adalah dasar setiap tindakan kami. Kesadaran penuh merupakan landasan kami dalam mengambil tindakan yang selaras dengan nilai-nilai Perseroan agar senantiasa tanggap terhadap kebutuhan semua pemangku kepentingan, masyarakat, dan lingkungan.

3. Innovation is the key to our success

Inovasi adalah kunci keberhasilan kami. Berawal dari kesederhanaan disertai semangat untuk terus berinovasi, kami bertumbuh untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

4. Strive to be the best

Bertekad untuk menjadi yang terbaik. Kami memberi kesempatan yang sama kepada setiap individu untuk mengembangkan potensinya agar menjadi insan yang handal melalui budaya belajar dan perbaikan yang berkesinambungan.

Saling keterkaitan adalah panduan hidup kami. Sebagai bagian dari kehidupan, kami berperan serta memelihara keragaman dan keharmonisan dengan melakukan usaha-usaha yang bermanfaat bagi sesama hingga generasi mendatang.

2.1.4. Motto Perusahaan

Motto perusahaan adalah "The Scientific Pursuit of Health for a Better Life", yang menunjukkan bahwa perusahaan melakukan usaha pencarian di bidang kesehatan melalui ilmu pengetahuan sains dan teknologi untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

2.1.5. Unit Bisnis PT. Kalbe Farma Tbk.

Unit Bisnis yang dimiliki oleh PT Kalbe Farma Tbk terdiri dari: a. Divisi Obat Resep (Prescription Pharmaceuticals Division).

Divisi obat resep Kalbe memiliki rangkaian obat resep yang lengkap untuk seluruh segmen ekonomi masyarakat, dimulai dari obat generik, obat generik bermerek hingga obat lisensi; yang didistribusikan ke rumah sakit, apotik hingga toko obat di seluruh Indonesia melalui jaringan distribusi yang terintegrasi. Kalbe juga memiliki tim pemasaran yang kuat yang dibagi menjadi kelompok-kelompok pada masing-masing segmen dan kelas terapi untuk menjamin kegiatan pemasaran yang terfokus dan efektif. Beberapa produk unggulan Kalbe antara lain adalah Brainact, Cefspan, Mycoral, Cernevit, Cravit, Octalbin, Neuralgin, Broadced, Neurotam, dan CPG.

b. Divisi Produk Kesehatan (Consumer Health Division).

Divisi Produk Kesehatan Kalbe meliputi kategori produk obat bebas bersifat kuratif serta produk-produk konsumsi kesehatan yang memiliki manfaat kesehatan seperti suplemen dan produk bersifat preventif lainnya, minuman energi serta produk minuman kesehatan. Pada kategori produk obat bebas, portofolio Kalbe mencakup lebih dari 6 kelas terapi obat bebas dengan merek-merek yang dominan menguasai pangsa pasar dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa produk unggulan Kalbe antara lain adalah Promag, Komix,

Universitas Indonesia Mixagrip dan Entrostop telah menerima berbagai penghargaan dari berbagai institusi. Produk unggulan Kalbe lainnya antara lain adalah Woods, Fatigon, Procold, Mextril, Extra Joss, Hydro Coco dan Original Love Juice.

c. Divisi Nutrisi (Nutritionals Division).

Divisi Nutrisi Kalbe menawarkan ragam produk-produk nutrisi yang lengkap untuk setiap tahapan penting dalam kehidupan konsumen, mulai dari bayi, balita, anak-anak, pra-remaja, dewasa, ibu hamil dan menyusui, hingga usia senja; serta produk-produk nutrisi untuk konsumen dengan kebutuhan khusus. Beberapa produk unggulan Kalbe antara lain adalah Morinaga Chil Kid, Morinaga Chil School, Morinaga Chil Mil, Morinaga BMT, Prenagen, Milna dan Diabetasol yang diluncurkan sejak lebih dari 20 tahun yang lalu dan menguasai pangsa pasar yang dominan di Indonesia dan telah memperoleh beberapa penghargaan antara lain Reader’s Choice Award untuk Prenagen dari majalah Mother & Baby dan Top Brand for Kids 2012 untuk Milna dari Frontier dan Majalah Marketing. Kalbe terus melengkapi portofolio produknya dengan meluncurkan beberapa produk baru yang menawarkan manfaat kesehatan bagi konsumen seperti Zee, Fitbar, Entrasol dan Nutrive Benecol.

d. Divisi Distribusi dan Logistik (Distribution & Logistics Division).

Untuk menjamin ketersediaan produk di seluruh wilayah Indonesia, Kalbe mempunyai Divisi Distribusi dan Logistik yang dijalankan oleh anak perusahaannya PT Enseval Putera Megatrading Tbk. yang bertanggung jawab atas distribusi produk-produk Kalbe dan produk prinsipal pihak ketiga ke lebih dari 1 juta outlet di seluruh pelosok Indonesia. Di samping itu, Kalbe juga telah memperluas portofolio bisnis Divisi tersebut dengan perdagangan bahan baku kimia, peralatan kesehatan serta layanan jasa kesehatan secara ritel. Jaringan distribusi dan logistik Kalbe merupakan jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia untuk produk farmasi. Dengan dukungan 2 Pusat Distribusi Regional (Regional Distribution Center atau RDC) di kota Jakarta dan Surabaya serta 65 cabang yang tersebar di 47 kota, Kalbe mampu

menjangkau lebih dari 1 juta outlet di seluruh Indonesia secara langsung dan tidak langsung bekerja sama dengan perusahaan distribusi lokal. Beberapa prinsipal pihak ketiga utama antara lain adalah PT Abbott Indonesia, PT Mead Johnson Indonesia, PT L’Oreal Indonesia, PT Kara Santan Pertama dan PT Beiersdorf Indonesia.

Keterangan :

[www.kalbe.co.id, 20 Januari 2014, telah diolah kembali]

Universitas Indonesia

Gambar 2.2. Struktur organisasi PT Kalbe Farma Tbk.

2.2. Corporate Business Development 2.2.1 Regulatory Affairs

Regulatory Affairs (RA) adalah unit fungsi yang melakukan registrasi produk ke badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ataupun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KemenKes RI). Produk-produk yang registrasikan oleh RA adalah Produk-produk dari PT. Kalbe Farma Tbk., PT. Dankos Farma, PT. Hexpharm Jaya, dan PT. Finusolprima Farma Internasional. RA dipimpin oleh seorang General Manager dan membawahi Senior Regulatory Manager, Regulatory Manager, dan

Clinical Research Senior Manager. Senior General Manager bertanggung jawab terhadap Director dan Director bertanggung jawab kepada pimpinan tertinggi operasional yaitu Director In Charge. Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh PT Kalbe Farma, Tbk., maka para pemangku jabatan di Regulatory Affairs (Regulatory Officer) harus memiliki pendidikan minimal Sarjana Farmasi.

Peran dan fungsi Regulatory Officer (RO), yaitu :

a. Mengkoordinasikan dan memonitor kegiatan pendaftaran dan memperole persetujuan produk dan perizinan lain yang dilakukan agar sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

b. Mengevaluasi dan menindaklanjuti proses pendaftaran produk dan perizinan melalui koordinasi dengan bagian terkait di dalam perusahaan maupun dengan pihak luar.

c. Memonitor pendaftaran SMF (Site Master File) dan memperoleh perizinan SMF tepat waktu.

d. Memonitor perolehan CPP (Certificate of Pharmaceutical Product), GMP (Good Manufacturing Practice), PPUB (Persetujuan Pelaksanaa Uji Bioekivalensi), PPUK (Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik), pemasukan obat jalur khusus atau SAS (Special Access Scheme), dan izin impor.

e. Memonitor perolehan persetujuan rancangan iklan dan promosi lainnya.

f. Membina hubungan baik dengan semua instansi terkait registrasi, yaitu BPOM, Kemenkes RI, dan Direktorat Jenderal Hak kekayaan Intelektual (Ditjen HAKI).

g. Memastikan perusahaan update mengenai peraturan terbaru di bidang kesehatan yang berhubungan dengan bisnis perusahaan.

2.2.1. Business Development

Business Development merupakan unit fungsi yang berperan dalam memberikan layanan pengembangan berbagai bisnis, servis, maupun produk baru (obat, alat kesehatan, nutrisi, dan suplemen kesehatan) untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan serta sebagai sarana inovasi

Universitas Indonesia perusahaan dalam persaingan bisnis. Business Development (BD) juga harus memastikan bahwa produk baru yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan dan strategi bisnis. BD dipimpin oleh seorang General Manager yang membawahi beberapa Senior Manager BD yang harus memiliki jiwa pengembangan bisnis yang baik. Hal ini sesuai dengan tujuan jabatannya, yaitu mampu mengembangkan bisnis dengan melihat trend perkembangan pengobatan sehingga dapat memberikan kontribusi penjualan untuk produk baru dan memaksimalkan nilai jual suatu produk.

Peranan dan tugas BD antara lain :

a. Menganalisis peluang usaha terhadap produk-produk yang akan dikembangkan oleh PT Kalbe Farma Tbk sesuai dengan kondisi marketing perusahaan dan kebijakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku pihak evaluator.

b. Menganalisis paten, profil produk, penerimaan konsep produk oleh dokter dan konsumen, kompetitor, potensi pasar, dan pengembangannya ke depan.

c. Melakukan studi pre-marketing termasuk survei dari business case. d. Melakukan negosiasi dan persetujuan dengan principal baru yang

potensial, baik dalam bentuk lisensi maupun impor bahan baku material dan produk jadi.

e. Mengikuti trend penyakit, pengobatan, tindakan pencegahan, gaya hidup, dan lain-lain yang berhubungan dengan kesehatan.

f. Menentukan dan mengusulkan kriteria delisting product.

g. Berkomitmen terhadap implementasi kebijakan mutu, kesehatan, dan keselamatan kerja dan lingkungan.

Salah satu fungsi penting dalam BD ialah product planning (PPO) yang menangani persiapan peluncuran produk baru dan melakukan pengawasan status perkembangan produk baru, serta mengevaluasi kelayakannya sehingga dapat diluncurkan pada jadwal yang ditetapkan dan sesuai dengan strategi perusahaan. Kompetensi yang diperlukan untuk jabatan ini adalah kemampuan bernegosiasi

dan komunikasi karena berhubungan dengan produk baru. Peran dan fungsi PPO dalam perusahaan antara lain :

a. Melakukan koordinasi persiapan peluncuran produk baru dengan merencanakan rapat penjadwalan peluncuran produk dan rapat koordinasi produk baru.

b. Melakukan pengawasan dan menindaklanjuti status perkembangan produk baru mulai dari penjadwalan sampai produk tersebut dapat diluncurkan ke pasar sesuai jadwal yang telah direncanakan bersama dengan departemen terkait.

c. Melakukan koordinasi review sales, delisting product (pelaksanaan produk yang akan dimatikan peredarannya), transfer (pemindahan), dan rejuvinasi.

d. Berkomitmen terhadap implementasi kebijakan mutu, kesehatan, dan keselamatan kerja dan lingkungan.

13 Universitas Indonesia

TINJAUAN KHUSUS

3.1. Business Development

Bisnis hadir bukan untuk vakum, melainkan menjadi bisnis yang kompetitif, yaitu dengan merespon terhadap beragam tekanan, baik dari internal dan eksternal, maupun kebutuhan akan inovasi (Hugos, 2009). Menurut Dransfield, Needham, dan Hough (2006), business development terdiri dari dari product development dan business development. Product development sendiri menangani pembentukan suatu produk baru atau pengembangan dari produk sebelumnya dengan tampilan (kemasan) atau image yang sedikit atau jauh berbeda. Sementara, business development mengurus pengembangan model bisnis baru. Bisnis baru bukanlah selalu produk baru. Begitu pula produk baru, bukanlah selalu bisnis baru. Jika suatu perusahaan memunculkan produk brand baru, maka hal tersebut bukanlah bisnis baru, tetapi produk baru. Sebaliknya, jika misalnya perusahaan tersebut melebarkan sayap ke luar negeri dan membuat sebuah anak perusahaan di negeri tersebut, maka itu adalah bisnis baru. Bisa jadi produk yang dijual adalah produk yang sama dan nama produk yang sama.

Business development juga secara tidak langsung mempengaruhi bagian marketing (pemasaran) suatu perusahaan. Kegiatan pemasaran sebagian besar melakukan apa yang disebut dengan 4P, yaitu Product, Price, Place dan Promotion (produk, harga, tempat, dan promosi). Bisnis yang akan dilakukan biasanya sudah jelas, hanya bagaimana cara membentuk produk dengan harganya tepat sasaran, didistribusikan di daerah yang sesuai target pasar dan pesan yang disampaikan mengenai produk ini dapat dimengerti oleh calon konsumen. Business development kemudian melakukan pengembangan bisnis dengan mencari kesempatan baru sehingga nantinya akan tercipta suatu bisnis baru yang dapat di-"marketing"-kan. Selama terjadi proses pemasaran, business development team terus melakukan pengembangan. Jadi, jika keduanya berada di dalam proses value chain, maka dapat dikatakan bahwa business development memiliki posisi sebelum dan juga paralel dengan marketing (Rickman, et al., 2011).

Prinsip dasar business development adalah melakukan evaluasi strategis dan eksplorasi potensi manfaat dari bisnis tersebut yang maksimal, tentu perlu dilakukan evaluasi yang paling tidak meliputi marketing, finance, knowledge management dan customer service. Hasil analisis inilah yang akan menjadi bekal tim yang terdiri dari fungsi-fungsi marketing, engineering, operations, legal, sales, dan lainnya, dalam membangun bisnis baru tersebut (Dransfield, Needham, dan Hough, 2006). Oleh karena itu, definisi dari business development adalah berbagai aktivitas yang akan membawa “status quo” suatu bisnis. Aktivitas tersebut meliputi planning (perencanaan), adding for growth (penambahan untuk pertumbuhan), substracting for profit (mengurangi keuntungan), business process improvement (kemajuan proses bisnis), dan competitive awareness and advantage (kesadaran kompetitif dan keuntungan) (Austin, 2008).

3.2 Tahapan Business Development

Semua produk dan layanan memiliki siklus hidup tertentu. Siklus hidup ini diartikan sebagai waktu selama produk pertama kali diluncurkan ke pasar hingga akhir penarikan kembali dan hal ini terbagi menjadi beberapa fase. Selama periode ini perubahan yang signifikan dibuat dengan jalan bahwa produk berperilaku di pasar, misalnya refleksinya dalam penjualan menunjukkan perusahaan yang memperkenalkannya ke pasar. Karena peningkatan keuntungan merupakan tujuan yang utama dari perusahaan yang memperkenalkan produk ke pasar, manajemen siklus hidup produk sangatlah penting. Beberapa perusahaan menggunakan rencana strategis dan mengikuti peraturan dasar lainnya dari fase siklus hidup yang dianalisis selanjutnya (Komninos, 2002).

Imajinasi dibutuhkan dalam aktivitas ini karena industri farmasi berada pada puncak inovasi, ilmiah, dan teknologi yang dibawanya ke pasar dan hal inimembutuhkan kreativitas dan aplikasi. Business development harus menggali pengetahuan teknologi dan masa depan. Hal ini membutuhkan perkiraan yang tepat untuk melihat kombinasi dari produk atau proses, bahkan industri itu sendiri untuk menciptakan nilai yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis (Austin, 2008).

Universitas Indonesia Aspek terpenting dalam business development adalah mengikuti proses bagaimana mengakses ide bisnis atau konsep (proyek). Berikut adalah langkah-langkah dasar suatu business development (Hofstrand, 2009) :

a. Mengawali dengan eksplorasi ide, mengidentifikasi dan menaksirkan

b. Ide/konsep dan skenario/model dengan pertimbangan mendalam dan penafsiran c. Keputusan jalan/tidak

d. Persiapan perencanaan bisnis dan implementasi e. Pengoperasian bisnis

[Hofstrand, 2009, telah diolah kembali]

Gambar 3.1. Skema Proses Business Development.

3.2 Business Development Team

Dalam bukunya, Austin (2008) mengungkapkan bahwa business developer memiliki peranan penting dalam strategi dan arah perusahaan. Mereka harus memiliki keahlian mengumpulkan dan mengorganisir data untuk menganalisis dan membayangkan sehingga dapat melihat mengapa perusahaan berada di posisi saat ini, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan serta meningkatkan perusahaan menjadi lebih baik. Keahlian dasar untuk seseorang bekerja di

business development perusahaan farmasi terbagi menjadi 3 area tertentu, yaitu pengetahuan, analisis, dan komunikasi.

a. Pengetahuan

Pengetahuan spesifik mengenai industri dibutuhkan dalam enam kunci area, yaitu :

1. Penelitian

Pengetahuan akan proses penelitian bukan berarti orang business development haruslah seorang ilmuwan atau menunjukkan perannya dalam hal ini. Sedikit pengetahuan dasar biologi dan aksi obat, serta perbandingan kekuatan dan kelemahan yang mampu membawa sesuatu menjadi produk layak pasar merupakan hal penting untuk mengevaluasi dan menilai suatu produk ketika akan dijual atau didaftarkan nanti.

2. Produksi

Kekompleksan yang melekat dalam proses pembuatan dapat menjadi perlindungan terhadap perusahaan jika prosedur spesifik tetap terjaga kerahasiaannya atau jika akan dipatenkan. Namun, ketika mempertimbangkan sisi produk, kesadaran akan kemudahan produksi adalah komponen utama untuk seorang business developer. Oleh karena itu, pengetahuan produksi cukup penting.

3. Rantai Persediaan

Rantai persediaan, khususnya manajemen logistik, adalah komponen lain yang berpengaruh terhadap nilai suatu produk dan terkadang hal ini sering diabaikan.

4. Pengembangan

Pengembangan bergerak dalam hal tahapan dan uji klinis seperti desain uji coba awal dan toksikologi, studi karsinogenitas, bukti coba pada hewan, pengujian ke manusia, desain uji klinis, statistik untuk studi kekuatan, persetujuan regulasi dan persetujuan proses untuk pasar.

5. Penjualan dan Pasar

Pengetahuan dibutuhkan untuk membuat label produk sehingga harus datang dari pengetahuan pasar yang mendalam. Pasar dibuat oleh

Universitas Indonesia pelanggan dengan kebutuhannya dan bagaimana mengarahkan kebutuhannya pada produk perusahaan.

6. Keuangan

Seorang business developer harus memahami konsekuensi pendanaan dan keuangan dari berbagai elemen dalam suatu rantai, dimana dimulai dengan gambaran perusahaan hingga distribusi dari keuntungan dan pembagian ke pemegang saham. Business developer harus memahami implikasi dari satu pilihan diantara pilihan lain dalam hal pelaksanaan persetujuan pendaftaran, penerimaan perusahaan, pembelanjaan negara dan perpajakan.

b. Kemampuan Analisis

Area kedua dari kemampuan yang dibutuhkan adalah kemampuan menganalisis yang terbagi menjadi empat komponen dasar, antara lain : 1. Kemampuan Analisis Proses

Analisis proses memiliki prinsip dasar menggunakan rangkaian logika untuk memprediksi produk yang dapat diperoleh dari seperangkat data (seperti kumpulan data epidemiologis, kemungkinan penyakit insidental, prevalensi atau kecepatan kematian) yang sebelumnya diolah terlebih dahulu menjadi informasi yang bermakna.

2. Kemampuan Analisis Pola

Analisis pola sebagian merupakan kemampuan bawaan dan sebagian dapat dikembangkan dalam praktik dan pengalaman. Suatu tema dapat disadari dari kumpulan data, rencana produk atau suatu hubungan eksternal, dimana dapat menstimulasi ide atau digunakan dalam bentuk suatu rencana. Pola dalam data, pola dalam tingkah laku, dan pola dalam pasar adalah informasi yang penting dan harus disadari dan dicari sebisa mungkin.

3. Keahlian angka

Teknik statistik dan metode penghitungan untuk business development memiliki kekuatan untuk berpenetrasi ke data mentah dan mempersuasi (atau disuasi) jika digunakan dengan bijaksana.

4. Keahlian heuristik

Analisis heuristik lebih didasarkan pada insight yang merupakan intuisi

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 14-42)

Dokumen terkait