HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
K- Tukar Tanah
Data pengukuran K - Tukar tanah 2 minggu setelah inkubasi dan hasil analisis statistik sidik ragam terdapat pada Lampiran 18 dan 19. Dari hasil
organik berpengaruh nyata meningkatkan K-Tukar tanah Entisol. Rataan K-Tukar tanah Entisol dengan pemberian berbagai sumber bahan organik dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan K-Tukar (me/100gr) tanah dengan pemberian berbagai sumber bahan organik
Perlakuan Rataan
B0 (Kontrol)
me/100gr 0,33c B1 (Pupuk Kandang Ayam) 0,98ab B2 (Pupuk Kandang Kambing) 0,71bc B3 (Pupuk Kandang Sapi) 1,25a
B4 (Kompos TKKS) 0,36c
B5 (Urine Kambing) 0,51bc
B6 (Urine Sapi) 0,43c
Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa pada parameter K- Tukar perlakuan pupuk kandang sapi (B3) berbeda tidak nyata dengan perlakuan pupuk kandang ayam (B1) namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan pupuk kandang ayam (B1) berbeda tidak nyata dengan pupuk kandang kambing (B2) dan urine kambing (B5) namun berbeda nyata apabila dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan kompos TKKS (B4) berbeda nyata dengan perlakuan pupuk kandang ayam (B1) dan pupuk kandang sapi (B3) namun berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Rataan tertinggi dengan pemberian pupuk pupuk kandang sapi yakni sebesar (B3) 1,25 me/100gr sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan kontrol (B0) yakni sebesar 0,33 me/100gr.
Bobot Basah Umbi per Sampel (g)
Data pengukuran bobot basah umbi per sampel (g) dan hasil analisis statistik sidik ragam terdapat pada Lampiran 20 dan 21. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa pemberian berbagai sumber bahan organik berpengaruh tidak nyata meningkatkan bobot basah umbi per sampel. Rataan bobot basah umbi per sampel dengan pemberian berbagai sumber bahan organik dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan bobot basah umbi per sampel (g) tanah dengan pemberian berbagai sumber bahan organik
Perlakuan Rataan
B0 (Kontrol)
g 401,67
B1 (Pupuk Kandang Ayam) 396,67
B2 (Pupuk Kandang Kambing) 343,33 B3 (Pupuk Kandang Sapi) 345,00
B4 (Kompos TKKS) 335,00
B5 (Urine Kambing) 370,00
B6 (Urine Sapi) 376,67
Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % Dari Tabel 6 di atas dapat diketahui bahwa rataan tertinggi untuk peubah amatan bobot basah umbi per sampel (g) terdapat pada perlakuan kontrol (B0) yakni sebesar 401,67 g sedangkan rataan terendah pada pemberian kompos TKKS yakni (B4) sebesar 335,00 g.
Bobot Basah Umbi per Plot (g)
Data pengukuran bobot basah umbi per plot (g) dan hasil analisis statistik sidik ragam terdapat pada Lampiran 22 dan 23. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa pemberian berbagai sumber bahan organik berpengaruh tidak
nyata meningkatkan bobot basah umbi per plot. Rataan bobot basah umbi per plot dengan pemberian berbagai sumber bahan organik dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan bobot basah umbi per plot (g) tanah dengan pemberian berbagai
sumber bahan organik
Perlakuan Rataan
B0 (Kontrol)
g 1106,67 B1 (Pupuk Kandang Ayam) 1276,67 B2 (Pupuk Kandang Kambing) 986,67 B3 (Pupuk Kandang Sapi) 1116,67
B4 (Kompos TKKS) 1148,33
B5 (Urine Kambing) 1183,33
B6 (Urine Sapi) 1165,00
Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % Dari Tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa pada peubah amatan bobot basah umbi per plot (g) rataan tertinggi untuk pemberian berbagai sumber bahan organik terdapat pada pemberian pupuk kandang ayam (B1) yakni sebesar 1.276,67 g sedangkan rataan terendah pada pemberian pupuk kandang kambing (B2) yakni sebesar 986,67 g.
Bobot Kering Umbi per Sampel (g)
Data pengukuran bobot kering umbi per sampel (g) dan hasil analisis statistik sidik ragam terdapat pada Lampiran 24 dan 25. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa pemberian berbagai sumber bahan organik berpengaruh tidak nyata meningkatkan bobot kering umbi per sampel (g). Rataan bobot basah umbi per plot dengan pemberian berbagai sumber bahan organik dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan bobot kering umbi per sampel (g) tanah dengan pemberian berbagai sumber bahan organik
Perlakuan Rataan
B0 (Kontrol)
g 300,00
B1 (Pupuk Kandang Ayam) 313,33
B2 (Pupuk Kandang Kambing) 263,33 B3 (Pupuk Kandang Sapi) 246,67
B4 (Kompos TKKS) 276,67
B5 (Urine Kambing) 303,33
B6 (Urine Sapi) 290,00
Keterangan: Angka yang diikuti notasi yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % Dari Tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa rataan tertinggi pada pemberian pupuk kandang ayam (B1) yakni sebesar 313,33 g sedangkan rataan terendah pada pemberian pupuk kandang kambing (B2) yakni sebesar 263,33 g.
Bobot Kering Umbi per Plot (g)
Seperti pada Lampiran 27 menunjukkan bahwa pemberian berbagai sumber bahan organik berpengaruh tidak nyata meningkatkan bobot kering umbi per plot. Rataan bobot kering umbi per plot dengan pemberian berbagai sumber bahan organik dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan bobot kering umbi per plot (g) tanah dengan pemberian berbagai sumber bahan organik
Perlakuan Rataan
B0 (Kontrol)
g 950,00 B1 (Pupuk Kandang Ayam) 1026,67 B2 (Pupuk Kandang Kambing) 833,33 B3 (Pupuk Kandang Sapi) 866,67
B4 (Kompos TKKS) 926,67
B5 (Urine Kambing) 950.00
B6 (Urine Sapi) 920,00
Dari Tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa rataan tertinggi untuk pemberian berbagai sumber bahan organik pada pemberian pupuk kandang ayam (B1) yakni sebesar 1026,67 g sedangkan rataan terendah pada pemberian pupuk kandang kambing (B3) yakni sebesar 833,33 g.
Pembahasan pH (H2O) Tanah
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter pH tanah, perlakuan pemberian bahan organik baik berupa pupuk kandang ayam, kambing, sapi, urine sapi, urine kambing, serta kompos TKKS berpengaruh tidak nyata meningkatkan pH tanah Entisol. Hal ini disebabkan karena bahan organik yang diberikan belum matang sehingga masih mengalami dekomposisi yang akan melepaskan asam – asam organik yang menyebabkan menurunnya pH tanah. Hal ini menurut Atmojo (2003) dikarenakan penambahan bahan organik yang masih mengalami proses dekomposisi akan melepaskan asam – asam organik yang menyebabkan penurunan pH tanah. Namun, apabila diberikan pada tanah yang masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, akan menyebabkan peningkatan pH tanah, karena asam –asam organik hasil dekomposisi akan mengikat Al membentuk senyawa komplek (khelat), sehingga Al tidak terhidrolisis lagi. Peningkatan pH tanah juga akan terjadi apabila bahan organik yang kita tambahkan telah terdekomposisi lanjut (matang), karena bahan organik yang telah termineralisai akan melepaskan mineralnya, berupa kation – kation basa.
Didukung oleh Hakim (2006) menyatakan bahwa pelapukan bahan organik akan menghasilkan asam-asam organik seperti asam humat, asam fulvat, serta asam-asam organik lainnya. Asam-asam itu dapat mengikat logam seperti Al
dan Fe yang dapat mengurangi kemasaman tanah, semakin tinggi jumlah asam-asam organik tanah yang dihasilkan dari proses mineralisasi bahan organik maka pengikatan logam-logam Al dan Fe yang menyebabkan kemasaman tanah semakin meningkat.
C-organik
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter C-organik, penambahan bahan organik berpengaruh nyata meningkatkan C-organik tanah Entisol. Hal ini dikarenakan bahan organik yang digunakan mengandung sejumlah unsur hara Carbon di dalamnya. Dari pengujian awal yang dilakukan masing-masing bahan organik yaitu pukan ayam, pukan kambing, pukan sapi, urine kambing, urine sapi, dan kompos TKKS memiliki kandungan C- organik (%) berturut-turut 22,66, 27,63, 20,09, 7,27, 13,80, 8,72 (Lampiran 4-9). Hal ini menurut Hakim dkk. (1986) dikarenakan penambahan bahan organik yang menyebabkan aktivitas mikroorganisme akan meningkat dan proses perombakan bahan organik yang menghasilkan karbon juga akan meningkat. Didukung oleh Hanafiah et al (2009) yang menyatakan bahwa kadar karbon dalam bahan organik dapat mencapai sekitar 48%-58% dari berat total bahan organik, sehingga
pengaplikasian bahan organik dengan kadar C-organik tinggi mampu menyuplai kadar C-organik bagi tanah dengan kadar C-organik rendah. Menurut
Stevenson (1982) bahwa asam-asam organik seperti seperti asam humik, asam pulvik, humin, dan asam hematomelanik sebagian besar tersusun oleh rangkaian karbon membentuk benzena dengan gugus karboksil, sehingga pemberian kompos dapat meningkatkan kadar C organik.
tanah Entisol dibandingkan perlakuan tanpa bahan organik (B0). Meskipun kompos tandan kosong kelapa sawit dari hasil analisis awal memiliki kandungan C-organik paling rendah yaitu sebesar 7,27 % (Lampiran 7) namun pada masa inkubasi kandungan karbon pada tanah meningkat melalui proses mineralisasi bahan organik. Hal ini sesuai dengan Anas (2000) dengan penambahan bahan organik berupa kompos tandan kosong kelapa sawit kedalam tanah rata-rata
kandungan C-organik tanah meningkat sekitar 28-54%. Didukung juga oleh Jama et al (2000) yang menyatakan bahwa inkubasi dilakukan untuk dapat
memberikan kesempatan bagi mikroorganisme untuk dapat berkembang dan bermetabolisme untuk menguraikan kandungan bahan organik menjadi senyawa-senyawa anorganik, dan senyawa-senyawa senyawa-senyawa anorganik tersebut nantinya akan diserap oleh tanaman.
N – Total Tanah
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter N-Total, penambahan bahan organik berpengaruh nyata meningkatkan N-Total tanah Entisol. Hal ini dikarenakan bahan organik yang digunakan mengandung sejumlah unsur hara Nitrogen di dalamnya. Dari pengujian awal yang dilakukan masing-masing bahan organik yaitu pukan ayam, pukan kambing, pukan sapi, urine kambing, urine sapi, dan kompos TKKS memiliki kandungan Nitrogen (%) berturut-turut 2,20, 1,05, 1,08, 0,83, 0,02, 0,39 (Lampiran 4-9). Hal ini sesuai dengan Yu et al (2011) yang menyatakan bahwa kadar N anorganik pada tanah yang diberikan bahan organik lebih besar dibandingkan dengan tanah tanpa penambahan bahan organik, yang menunjukkan adanya proses atau reaksi mineralisasi atau adanya penambahan N anorganik hasil pelapukan bahan organik
sehingga unsur hara menjadi tersedia ke dalam tanah. Didukung oleh Rosmarkam dan Yuwono (2002) yang menyatakan bahwa bahan organik merupakan sumber nitrogen yang utama di dalam tanah, unsur hara Nitrogen tidak diperoleh dari hasil pelapukan batuan, melainkan sumber utama N berasal dari hasil dekomposisi bahan organik pada tanah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan kontrol, urine sapi, urine kambing, tidak berpengaruh nyata terhadap N-Total tanah
Entisol. Hal ini disebabkan karena kandungan hara dalam bahan organik belum seluruhnya mengalami proses mineralisasi sehingga diperlukan waktu inkubasi
yang lebih lama untuk melihat perubahan N-Total tanah. Hal ini didukung oleh Roy et al (2014) yang menyatakan bahwa lamanya proses mineralisasi bahan
organik pada tanah merupakan salah satu hal yang menentukan proses pelepasan unsur hara yang dikandung oleh pupuk organik dan pupuk anorganik ke dalam tanah.
Hal ini karena karakteristik Entisol bertekstur lempung berpasir dan kadar liat yang rendah menyebabkan NH4+ sedikit yang terikat dengan koloid tanah sehingga terjadi volatilisasi dimana NH4+ membentuk NH3 dengan reaksi berikut
NH4+ + OH- NH3 + H2O
Sifat NH3 yang mudah menguap dan porositas Entisol yang besar menyebabkan NH3 mudah keluar dari dalam tanah sehingga kadar N total pada Entisol menurun.
P-tersedia Tanah
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian bahan organik berpengaruh nyata terhadap P-Tersedia Entisol. Dengan pemberian beberapa
sumber bahan organik terjadi penambahan P-tersedia pada tanah Entisol dan pada
perlakuan Pukan Ayam (B1) merupakan bahan organik yang memiliki nilai P-tersedia tanah tertinggi dan tergolong sangat tinggi (Lampiran 4). Hal ini dikarenakan kandungan P yang terdapat pada pukan ayam tergolong kriteria yang tinggi yaitu sebesar 1,42 % sehingga mampu menyumbangkan P kedalam tanah. Pengaruh bahan organik terhadap ketersediaan P dapat secara langsung melalui
proses mineralisasi atau secara tidak langsung dengan membantu pelepasan P yang terfiksasi. Didukung oleh Stevenson (1982) menjelaskan ketersediaan P di
dalam tanah dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan organik melalui 5 aksi seperti tersebut di bawah ini: (1) Melalui proses mineralisasi bahan organik terjadi pelepasan P mineral (PO4 3-); (2) Melalui aksi dari asam organik atau senyawa pengkelat yang lain hasil dekomposisi, terjadi pelepasan fosfat yang berikatan dengan Al dan Fe yang tidak larut menjadi bentuk terlarut,
Al (Fe)(H2O)3 (OH)2 H2PO4+ Khelat => PO42-(larut) + Kompleks AL-Fe- Khelat (Stevenson, 1982). (3). Bahan organik akan mengurangi jerapan fosfat karena asam humat dan asam fulvat berfungsi melindungi sesquioksida dengan memblokir situs pertukaran; (4). Penambahan bahan organik mampu mengaktifkan proses penguraian bahan organik asli tanah; (5) Membentuk kompleks fosfo-humat dan fosfo-fulvat yang dapat ditukar dan lebih tersedia bagi tanaman, sebab fosfat yang dijerap pada bahan organik secara lemah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan kontrol , pukan kambing, kompos TKKS, urine sapi , urine kambing berpengaruh tidak nyata terhadap P-tersedia tanah Entisol. Hal ini dikarenakan setiap bahan organik
yang diaplikasikan memiliki kandungan unsur hara P yang berbeda dan setiap bahan organik memiliki laju dekomposisi yang berbeda serta menghasilkan senyawa asam-asam organik berbeda yang nantinya berfungsi sebagai pengkhelat, sehingga P menjadi tersedia. Hal ini sesuai dengan Hamed (2014) yang menyatakan bahwa kandungan unsur hara yang diberikan dari bahan organik pada tanah berkorelasi dengan lamanya proses mineralisasi yang dibutuhkan suatu bahan organik untuk menyediakan hara bagi tanah.
K-Tukar
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada parameter K-Tukar, penambahan berbagai bahan organik berpengaruh nyata meningkatkan K-Tukar tanah Entisol. Hal ini disebabkan karena bahan organik yang digunakan juga mengandung sejumlah unsur hara kalium dalam bentuk K2O di dalamnya. Dari pengujian awal yang dilakukan masing-masing bahan organik yaitu pukan ayam, pukan kambing, pukan sapi, urine kambing, urine sapi, dan kompos TKKS memiliki kadar K2O (me/100gr) berturut-turut 2,35, 1,05, 1,70, 0,48, 1,01, 0,43 (Lampiran 4-9) . Hal ini sesuai dengan Damanik et al (2010) bahwa penambahan bahan organik pada tanah akan menyumbangkan berbagai unsur hara terutama unsur hara makro seperti Nitrogen, Fosfor, Kalium, serta unsur hara mikro lainnya, meningkatkan kapasitas menahan air, dan meningkatkan aktivitas organisme tanah pada semua jenis tanah. Hal ini kemudian didukung oleh Novizan (2005) yang menyatakan bahwa penambahan bahan organik akan meningkatkan kapasitas tukar kation di dalam tanah yang nantinya akan berpengaruh dalam meningkatkan kejenuhan basa.
Perlakuan pemberian bahan organik berupa pupuk kandang sapi (B3)
paling tinggi meningkatkan K-Tukar tanah Entisol dibandingkan perlakuan B0 (tanpa bahan organik) dan perlakuan pemberian bahan organik lainnya namun berpengaruh tidak nyata dengan pupuk kandang ayam. Hal ini disebabkan
karena pupuk kandang sapi memiliki kandungan K2O sebesar 1,70 me/100gr (Lampiran 6), sehingga mampu menyuplai unsur hara Kalium ke dalam tanah Entisol. Hal ini didukung oleh Hartatik dan Widowati (2002), menyatakan bahwa pupuk kandang sapi mengandung N, P, K sebesar 0,3%, 0,2%, 0,15%.
Pengaruh Bahan Organik Terhadap Produksi Tanaman Bawang Merah Dari hasil sidik ragam, penggunaan bahan organik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tanaman bawang merah dikarenakan bahan organik banyak yang hilang (habis) karena tingkat mineralisasi yang tinggi pada tanah berpasir
sebab suhunya yang relatif panas tetapi rasio C/N kecil sehingga tidak banyak menyumbang unsur hara. Menurut Tisdale dkk (1999), menyatakan bahwa nitrogen dalam tanah dapat tervolatilisasi dalam bentuk amoniak (NH
3). Volatilisasi dapat terjadi terutama pada tanah-tanah berpasir yang temperaturnya relatif tinggi. Kemungkinan lain hilangnya nitrogen dalam tanah adalah adanya pencucian nitrat (NO
3 -
) pada saat hujan dan penyiraman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutedjo dkk (1991), menyatakan bahwa nitrogen tanah dapat hilang pada saat pencucian nitrat.
Namun perlakuan pukan ayam memiliki rataan tertinggi pada parameter bobot basah umbi per plot (g), bobot kering umbi per sampel (g), bobot kering umbi per plot (g) dibandingkan perlakuan lainnya dikarenakan kandungan K yang terdapat pada pukan ayam paling tinggi dibanding bahan organik lainnya yaitu
sebesar 2,35 %. Hal ini sesuai dengan pernyataan Damanik dkk. (2011) yang menyatakan bahwa kalium sangat dibutuhkan untuk pembentukan pati dan translokasi hasil-hasil fotosintesis seperti gula. Pada tanaman padi-padian unsur ini berperan dalam pembentukan bulir dan pada tanaman umbi-umbian untuk pembentukan umbi termasuk tanaman bawang merah yang memiliki umbi sebagai tempat cadangan makanan. Didukung oleh Hartatik dan Widowati (2002) mengemukakan bahwa pupuk kandang ayam mengandung kalium tiga kali lebih besar dari pada pupuk kandang lainnya. Lebih lanjut dikemukakan kandungan unsur hara dari pupuk kandang ayam lebih tinggi karena bagian cair (urine) bercampur dengan bagian padat.
Dari seluruh hasil parameter yang diamati yakni C-organik, N, P, K, kecuali pH , aplikasi bahan organik padat lebih disarankan penggunaannya dibanding dengan bahan organik cair (urine), hal ini disebabkan karena pada pada tanah entisol porositasnya sangat tinggi diasumsikan tinggi pencucian hara.