• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI

5.2 Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan

5.3.2 Tumbuhan obat

Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat mempunyai jumlah spesies terbanyak jika dibandingkan dengan kelompok kegunaan yang lainnya, yakni sebanyak 74 spesies tumbuhan dari 36 famili (Lampiran 3). Spesies tumbuhan obat yang paling banyak digunakan berasal dari famili Zingiberaceae. Hal ini disebabkan spesies tumbuhan dari famili Zingiberaceae merupakan spesies tumbuhan yang paling mudah diperoleh masyarakat Miduana karena budidayanya relatif mudah serta memiliki sejumlah kegunaan lain selain dari obat seperti untuk bumbu masak ataupun pangan.

Dalam penggunaan tumbuhan obat ada yang dipakai secara tunggal atau dicampur dengan tumbuhan lain. Sebagian besar responden menggunakan tumbuhan obat untuk menyembuhkan penyakit yang sifatnya ringan seperti batuk, sakit perut dan demam. Pada pengobatan penyakit yang cukup berat dan dalam pembuatan ramuannya cukup sulit biasanya hanya dilakukan oleh beberapa responden yang cukup ahli dalam meramu obat-obatan tersebut. Penyakit berat

yang sering ditangani diantaranya adalah sakit ginjal, sakit liver, kanker, dan tumor.

Tabel 10 Beberapa spesies tumbuhan obat yang sering digunakan

No Nama lokal Nama ilmiah Penyakit yang

diobati

bagian yang digunakan 1 Antanan

beureum

Centella asiatica penambah darah Daun 2 Babadotan Ageratum conyzoides luka luar Daun 3 Winahong Anredera cordifolia batuk menahun,

sariawan, luka, keseleo

Daun

4 Labu siam Sechium edule panas/demam daging buah 5 Katuk Sauropus

androgynus

Sariawan Daun 6 Kumis kucing Orthosiphon

grandiflorus

encok, pegal linu

seluruh bagian 7 Jambu biji Psidium guajava sakit perut pucuk (daun

muda)

8 Cecendet Physalis angulata pegal linu seluruh bagian 9 Kunyit Curcuma domestica sakit gigi Rimpang 10 Pacing Costus speciosus mata gatal air batang

Tumbuhan obat sebagian besar diperoleh dari halaman dan kebun, bahkan ada juga yang dijadikan sebagai tumbuhan hias di pekarangan rumah (Gambar 10). Hal ini menyebabkan pengambilan tumbuhan obat dari hutan tidak terlalu sering dilakukan karena untuk mengobati penyakit yang umum diderita masyarakat lebih memanfaatkan spesies tumbuhan obat yang ada di lingkungan sekitarnya. Pengambilan spesies tumbuhan obat dari hutan biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang akan mengobati penyakit yang cukup berat. Pengolahan tumbuhan obat dilakukan dengan cara direbus, ditumbuk, digosokkan, diparut, dibakar, dan ada pula yang dimakan langsung. Sebagian besar responden tidak menyimpan tumbuhan obat dalam bentuk simplisia karena biasanya langsung mengambil tumbuhan obat pada saat dibutuhkan.

Gambar 10 Winahong (Anredera cordifolia) yang merambat di pagar rumah Kendala dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat adalah sebagian masyarakat lebih menginginkan cara yang lebih praktis dalam mengobati penyakit, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih obat-obatan kimia yang ada di warung atau puskesmas. Hal ini menyebabkan banyaknya pengetahuan mengenai khasiat tumbuhan obat hanya diketahui oleh orang-orang tua dan tidak berlanjut ke generasi mudanya. Meskipun demikian, salah satu responden merupakan generasi muda yang aktif dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Selain dimanfaatkan di dalam lingkungan keluarganya, responden tersebut juga sering mengobati orang lain.

Upaya budidaya sejumlah spesies tumbuhan obat sudah sempat dilakukan oleh tim PKK Desa Balegede dengan dibuatnya demplot tanaman obat. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara pemerintah Desa Balegede dengan BKSDA Jawa Barat I. Akan tetapi saat ini kondisi demplot tanaman obat tersebut terbengkalai dan masyarakat tidak ada yang antusias untuk melakukan budidaya tumbuhan obat lebih lanjut. Selain demplot tumbuhan obat, tim PKK juga melakukan pengembangan TOGA (Tumbuhan Obat Keluarga) di pekarangan. Jika dilihat dalam data statistiknya, Dusun Miduana memiliki pekarangan yang ditanami TOGA paling luas dibandingkan dusun lainnya.

Rendahnya minat masyarakat terhadap budidaya tumbuhan obat disebabkan kurangnya informasi mengenai manfaat tumbuhan obat yang dibudidayakan serta cara budidaya tumbuhan obat yang baik. Selain itu kendala pemasaran juga menjadi salah satu faktor yang menghambat keberhasilan budidaya tumbuhan obat tersebut.

5.3.3 Tumbuhan penghasil zat warna

Penggunaan tumbuhan sebagai pewarna di kalangan masyarakat Miduana biasanya digunakan untuk mewarnai makanan. Hal ini bertujuan untuk menambah daya tarik pada makanan atau sebagai bumbu pada masakan tertentu. Pada masyarakat Madura penggunaan tumbuhan sebagai pewarna pada makanan merupakan hal penting karena menjadi identitas derajat sosial seseorang (Rifai & Waluyo 1992). Tumbuhan pewarna yang digunakan masyarakat Miduana sebanyak 4 spesies dari 3 famili (Tabel 11).

Tabel 11 Spesies tumbuhan penghasil zat warna

No Nama lokal Nama ilmiah Famili Warna yang

dihasilkan

1 Pandan Pandanus amaryllifolius Pandanaceae Hijau

2 Cabe merah Capsicum annuum Solanaceae Merah

3 Hangasa Amomum dealbatum Zingiberaceae Merah

4 Kunyit Curcuma domestica Zingiberaceae Kuning

Penggunaan pewarna alami makanan yang berasal dari tumbuhan secara medis memberikan manfaat positif dibandingkan pewarna sintesis (Rostiana et al. 1992). Hal ini disebabkan pewarna sintesis seringkali memberikan efek samping yang negatif bagi yang mengkonsumsinya. Pada masyarakat Kampung Adat Dukuh di Garut, selain mewarnai makanan tumbuhan penghasil warna biasanya digunakan untuk mewarnai peralatan rumah tangga dan bagian tubuh tertentu (Hidayat 2009).

5.3.4 Tumbuhan penghasil pakan ternak

Tumbuhan yang digunakan sebagai pakan ternak ada 12 spesies dari 7 famili (Lampiran 5). Umumnya spesies tumbuhan yang digunakan adalah rumput, sehingga spesies tumbuhan yang digunakan sebagian besar berasal dari famili Poaceae atau bangsa rumput-rumputan. Beberapa spesies tumbuhan yang sering digunakan sebagai pakan ternak adalah jukut jampang (Eleusine indica), jukut pait (Axonopus compressus), dan lameta (Lersia hexandra). Rumput yang digunakan biasanya berasal dari pematang sawah, pinggiran jalan, atau kebun. Selain itu biasanya masyarakat juga menggembalakan ternaknya atau mengikatnya di lapangan yang berumput atau pinggiran kebun. Untuk jenis ternak unggas, pakan yang diberikan biasanya dedak halus atau kasar yang diperoleh dari sisa penggilingan padi atau penumbukan padi.

Penggunaan tumbuhan sebagai hiasan cukup banyak dilakukan oleh masyarakat Miduana. Umumnya tumbuhan hias ini ditanam di halaman depan rumah untuk memanfaatkan lahan kosong dan menambah nilai estetika. Hampir sebagian besar rumah di Dusun Miduana memiliki pekarangan yang ditanami tumbuhan. Selain berfungsi sebagai hiasan, tumbuhan ini ada juga yang digunakan sebagai obat dan keperluan lainnya.

Hasil wawancara dan pengamatan langsung diperoleh sebanyak 35 spesies tumbuhan hias dari 24 famili (Lampiran 6). Tumbuhan hias ini ada yang diambil langsung dari hutan dan ada pula yang berasal dari daerah luar. Spesies tumbuhan hias yang diambil dari hutan diantaranya adalah hariang (Begonia sp.), talas, dan anggrek.

Tabel 12 Beberapa spesies tumbuhan yang sering digunakan sebagai hiasan

No Nama lokal Nama ilmiah Famili Bagian yang

digunakan

1 Alamanda Allamanda cathartica Apocynaceae Bunga

2 Pacar air Impatiens balsamina Balsaminaceae Bunga

3 Nanas kerang Rheo discolor Commelinaceae Daun

4 Hanjuang merah

Cordyline terminalis Liliaceae Daun

5 Lidah buaya Aloe vera Liliaceae Daun

6 Kembang sapatu

Hibiscus rosa-sinensis Malvaceae Bunga

7 Bugenfil Bougainvillea glabra Nyctaginaceae Bunga

8 Anggrek panda

Vanda tricolor Orchidaceae Bunga

9 Kembang ros Rosa chinensis Rosaceae Bunga

10 Pacing Costus speciosus Zingiberaceae Bunga

5.3.6 Tumbuhan aromatik

Tumbuhan aromatik yang sering digunakan masyarakat Miduana sebanyak 12 spesies dari 9 famili (Lampiran 7). Sebagian besar tumbuhan aromatik digunakan sebagai campuran pada masakan untuk menghilangkan aroma tak sedap dan menghasilkan wangi yang khas seperti salam (Eugenia polyantha), jahe (Zingiber officinale), dan pandan (Pandanus amaryllifolius). Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur dengan memanfaatkan sejumlah tumbuhan aromatik sebagai bahan penyedap pada

masakan mereka (Susiarti &Setyowati 2005). Hasil wawancara juga menyebutkan bahwa bunga sedap malam (Polianthes tuberosa) biasanya digunakan sebagai pewangi di kamar pengantin dalam upacara pernikahan. Spesies tumbuhan aromatik ini biasanya diperoleh dari kebun atau halaman rumah, sehingga mudah diperoleh ketika diperlukan.

Dokumen terkait