• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR DASAR ATURAN HUKUM MENGENAI PROSES

D. Tuntutan Sebagai Dasar Pertimbangan Hakim

Hakim dalam menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan perkara, khususnya perkara pidana, tidak jarang kita temui bahwa untuk menyelesaiakan satu perkara tersebut memerlukan waktu yang cukup panjang, bisa sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan selesainya suatu perkara di pengadilan. Hambatan atau kesulitan yang ditemui hakim untuk menjatuhkan hukuman terhadap pelaku, hal tersebut didasari dari beberapa faktor penyebab, seperti pembela yang selalu menutupi fakta dilapangan, keterangan saksi yang berbelit-belit atau dibuat-buat, dan adnya perbedaaan keterangan saksi kunci serta tidak lengkapnya bukti materil yang diperlukan sebagai alat bukti dalam persidangan. Sehingga bilamana suatu hukum atau Undang-undang tidak mempunyai tujuan, tentunya acara penegakan hukum dan hak-hak asasi manusiapun akan berjalan dengan ketidakpastian. Oleh sebab itulah di dalam mencapai satu tujuan tersebut kuncinya terletak pada aparat hukum itu sendiri sejalan dengan tugas hakim seperti dijelaskan di atas, yakni kemampuan untuk menumbuhkan putusan-putusan yang dapat diterima masyarakat.

59 https://hariyatnadeny.wordpress.com/2011/04/08/hello-world/ diakses pada tanggal 14 Oktober 2018 jam 14:59 wib.

Peranan hakim dalam menentuksn suatu kebenaran melalui proses peradilan tidak lain adalah putusannya itu sendiri. Maksudnya ada tidaknya kebenaran itu ditentukan atau diterapkan lewat putusan. Dan didalam hubungan tersebut jelaslah apa yang ditegaskan bahwa untuk menemukan kepastian, kebenaran dan keadilan antara lain akan tampak dalam apa yang diperankan oleh hakim dalam persidangan sejak pemeriksaan sampai pada putusan pengadilan bahkan samapai eksekusinya.

Beberapa faktor pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan dijelaskan sebagai berikut :60

1. Faktor Hakim

Beberapa hal yang ada dalam diri hakim yang berpengaruh dalam pembuatan putusan meliputi :

a. Kepribadian b. Jenis kelamin c. Usia

d. Pengalaman kerja 2. Faktor terdakwa

Terdakwa juga dapat memberikan pengaruh terhadap putusan hakim.

Pengaruh yang diberikan dapat dibedakan menjadi karakteristik terdakwa dan keterangan terdakwa.

60 http://jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/pidana/article/viewFile/763/654 di akses pada tanggal 28 september 2018

3. Faktor Saksi

Saksi dapat pula mempengaruhi hakim dalam memutuskan perkara di pengadilan biasa nya keterangan saksi kunci lah yang paling dipertimbangkan.

4. Faktor Jaksa Penuntut Umum

Besarnya tuntuan jaksa mempengaruhi sebagian hakik dalam menentukan pemidanaan. Dalam memutuskan pemidanaan hakim akan menggunakan pasal yang di dakwakan jaksa dan kebebasan hakim, dan dakwaan tersebut akan dibacakan kembali sewaktu tuntutan dibacakan oleh jaksa penuntut umum. Pada kenyataannya masih banyak hakim memutuskan pemidanaan menggunakan tuntutan jaksa.

5. Faktor Pengacara dan Advokat

Pengacara yang menarik dapat memberikan pengaruh besar dalam proses persidangan karena ia dapat berperan sebagaimana komunikator yang persuasive terhadap hakim.

6. Faktor Masyarakat

Faktor masyarakat yang dapat mempengaruhi putusan hakim dapat berupa opini publik dan budaya masyarakat. Opini publik biasanya terbentuk dalam pemuatan kasus yang sedang dilakukan pemeriksaan melalui media televise, radio, surat kabar, dan sebainya, juga dengan budaya masyarakat akan sangat berpengaruh untuk pembuatan putusan oleh hakim.

Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa hakim sangat memperhatikan dakwaan yang di dakwakan oleh jaksa penuntut umum, dan tidak sedikit hakim yang menjadikan dakwaan tersebut menjadi dasar pertimbangan hakim, dan

banyak putusan itu sama dengan tuntutan yang di buat oleh jaksa penuntut umum, oleh karena itu dapat dikatakan tuntutan merupakan gambaran semu sebuah putusan atau vonis hakim.

BAB IV

ANALISIS SINKRONISASI TUNTUTAN DAN VONIS HAKIM TERHADAP PUTUSAN NOMOR 1270/Pid.Sus/2018/PN Mdn

A. Kasus Posisi

Awal mula kejadian pada hari Rabu tanggal 31 Januari 2018 sekira pukul 00.50 Wib di jalan ampere Hendriawan Alias Een bersama dengan saksi SIWA KUMAR (diperiksa dalam berkas perkara terpisah) bertemu dengan Bobo (DPO/Belum tertangkap) dan pada saat itu Bobo menyuruh terdakwa Hendrian Alias Een untuk mengantarkan Shabu kepada saksi Siwa Kumar dengan mengatakan ada Siwa? Nah kasihkan” sambil Bobo menyerahkan 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkoba jenis shabu kepada terdakwa Hendrian Alias Een lalu terdakwa Hendrian Alias Een langsung menerima 2 (dua) bungkus klip yang berisikan narkotia jenis shabu tersebut dengan menggunakan tangan kanan terdakwa Hendrian Alias Een. Selanjutnya terdakwa Hendrian Alias Een langsung menyimpan 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu dengan menggunakan tangan kiri dan langsung meninggalkan Bobo.

Kemudian terdakwa Hendrian Alias Een menemui saksi Siwa Kumar yang sedang duduk-duduk di sekitaran Jalan Ampera III Kecamatan Medan Timur Kota Medan, namun sebelum terdakwa Hendrian Alias Een menyerahkan 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu kepada saksi Siwa Kumar, petugas Kepolisian langsung datang dan karena terdakwa Hendrian Alias Een merasa ketakutan terdakwa Hendrian Alias Een langsung melarikan diri dan pada saat itu juga terdakwa membuang 2 (dua) bungkus plastic klip yang berisikan narkotika jenis shabu dengan menggunakan tangan kiri terdakwa namun

oleh salah satu petugas kepolisian langsung mengetahuinya dan langsung mengambil shabu tersebut kemudian terhadap terdakwa Hendrian Alias Een dan saksi Siwa Kumar beserta barang bukti dibawa ke Kantor Polsek Medan Timur guna diproses lebih lanjut sesuai dengan hukum yang berlaku.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, yang didasarkan atas keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa serta barang bukti diperoleh fakta hukum sebagai berikut :

1. Bahwa benar pada hari Rabu tanggal 31 Januari 2018 sekira pukul 00.50 Wib di Jalan Ampera III Kecamatan Medan Timur Kota Medan terdakwa Hendrian Alias Een bertemu dengan Bobo (DPO/belum tertangkap).

2. Bahwa benar pada saat itu Bobo menyuruh terdakwa Hendrian Alias Een untuk mengantarkan shabu kepada saksi Siwa Kumar dengan mengatakan

“ada Siwa? Nah kasihkan” sambil bobo menyerahkan 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu kepada terdakwa lalu terdakwa langsung menerima 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu tersebut dengan menggunakan tangan kanan terdakwa Hendrian Alias Een.

3. Bahwa benar selanjutnya terdakwa langsung menyimpan 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu tersebut menggunakan tangan kiri dan langsung meninggalkan Bobo.

4. Bahwa benar kemudian terdakwa menemui saksi Siwa Kumar yang sedang duduk-duduk disekitaran Jalan Ampera III Kecamatan Mean Timur Kota Medan.

5. Bahwa benar sebelum terdakwa Hendrian Alias Een menyerahkan 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu kepada saksi

Siwa Kumar, petugas Kepolisian langsung datang dan karena terdakwa merasa ketakutan terdakwa langsung melarikan diri dan pada saat itu juga terdakwa membuang 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika, kemudian terdakwa berhasil dilakukan penangkapan.

6. Bahwa benar selanjutnya terdakwa dan saksi Siwa Kumar beserta barang bukti dibawa ke kantor Polsek Medan Timur.

7. Bahwa benar terdakwa dan temannya tidak memiliki ijin dari pihak yang berwenang.

8. Bahwa berdasarkan Berita Analisis Laboratorium Barang Bukti Narkotika dan Urine No.LAB : 1351/NNF/2018 tanggal 07 februari 2018 yang ditandatangani oleh Zulni Erma dan Supiyani, S.Si M.Si pada puslabfor Bareskrim Polri Cabang Medan mengambil kesimpulan bahwa barang bukti berupa :

a. 2 (dua) bungkus plastik klip berisi Kristal berwarna putih dengan berat brutto 1,06 (satu koma nol enam) gram dan berat netto 0,38 (nol koma tiga delapan) gram milik terdakwa Siwa Kumar Hendrian Alias Een b. 1 (satu) botol plastik berisi 25 (dua puluh lima) urine milik terdakwa

an. Siwa Kumar.

c. 1 (satu) botol plastik berisi 25 (dua puluh lima) urine milik terdakwa an. Hendrian Alias Een.

Barang bukti A milik terdakwa Siwa Kumar dan Hendrian Alias Een dan urine c milik terdakwa Hendrian Alias Een adalah Positif mengandung Metamfetamina dan terdaftar dalam Golongan I (satu) nomor urut 61 Lampiran I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dan barang bukti urine B adalah Negatif mengandung Narkortika.

B. Dakwaan Dakwaan kesatu

Perbuatan terdakwa Hendrian Alias Een sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 114 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 dijelaskan bahwa setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, mejadi perantara dalam jual beli, menukar, atau, menyerahkan Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penajara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.

100.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). jo Pasal 132 ayat (1) percobaan atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekusor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129, pelakunya dipidana dengan pidana penjara yang sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal-Pasal tersebut. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009.

Dakwaan kedua

Perbuatan terdakwa Hendrian Alias Een sebagaimana diatur dan diancam Pidana Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dijelaskan bahwa setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta

rupiah) dan paling banyak Rp. 8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah) jo Pasal 132 ayat (1) percobaan atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekusor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129, pelakunya dipidana dengan pidana penjara yang sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal-Pasal tersebut. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009.

Dakwaan ketiga

Perbuatan terdakwa Hendrian Alias Een sebagaiman diatur dan diancam pidana pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dijelaskan bahwa Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;

C. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum

Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa serta memeriksa barang bukti yang diajukan dipersidangan. Setelah mendengar tuntutan pidana yang dibacakan Penuntut Umum yang pada pokoknya agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan sebagai berikut :

1. Menyatakan terdakwa Hendrian Alias Een terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan percobaan atau pemufakatan jahat, secara tanpa atau hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, atau meyediakan narkotika Golongan I (satu) bukan tanaman, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal

112 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dalam surat dakwaan kedua.

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Hedrian Alias Een berupa pidana penjara selama 6 (enam) tahun dan 6 (enam) bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dan membayar denda sebesar Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) subsidair 6 (enam) bulan penjara.

3. Menyatakan barang bukti berupa 2 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narkotika jenis shabu disita dan terdakwa Hendrian Alias Een agar dirampas untuk dimusnahkan.

4. Menetapkan agar terdawka membayar biaya perkara sebesar Rp.

5000.- (lima ribu rupiah).

D. Putusan Pengadilan

Majelis Hakim mempertimbangkan secara adil dan patut dan juga mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan hukuman terdakwa ;

Keadaan yang memberatkan : 1. Meresahkan masyarakat ;

2. Bertentangan dengan upaya pemerintah dalam hal pemberantasan Narkotika ;

3. Terdakwa sudah pernah dihukum dalam kasus yang sama ; Keadaan yang meringankan :

1. Terdakwa berlaku sopan dipersidangan ;

2. Terdakwa tidak mempersulit jalanya persidangan dan mengakui terus terang perbuatannya ;

Memperhatikan ketentuan hukum dan perundang-undangan khususnya Pasal 122 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan serta peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan perkara ini, majelis hakim mengadili :

1. Menyatakan Terdakwa Hendrian Als Een tersebut diatas terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Tanpa Hak atau melawan hukum, memiliki, menyimpan, menguasai Narkotika Golongan I bukan tanaman” sebagaimana didakwakan dalam dakwaan kedua ;

2. Menjatuhkan Pidana kepada Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 5 (Lima) tahun dan denda sebesar Rp. 800.000.000- (delapan ratus juta rupiah) dan penjara selama 3 (tiga) bulan apabila tidak dibayarkan ;

3. Menetapkan masa penagkapan dan penahanan Terdakwa dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;

4. Memerintahkan Terdakwa tetap ditahan ; 5. Menetapkan barang bukti berupa :

- 12 (dua) bungkus plastik klip yang berisikan narko - tika jenis shabu disita dari terdakwa Hendrian Als Een;

6. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 5000,- (lima ribu rupiah);

D. Analisis Yuridis terhadap Putusan Nomor 1270/Pid.Sus/2018/PN-Mdn

Dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum kepada terdakwa semula terdiri dari beberapa dakwaan yang diajukan secara alternatif, yaitu pertama dikenakan Pasal 114 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009, kedua, Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009, dan yang ketiga, Pasal 127 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009. Selanjutnya, Majelis hakim setelah mempertimbangkan fakta-fakta dan bukti-bukti dalam persidangan memutuskan dakwaan yang sesuai dengan perbuatan terdakwa yaitu dakwaan Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika, yang menyatakan dipidana penjara paling sedikit 4 tahun dan paling lama 12 tahun bagi setiap orang yang menyalahgunakan Narkotika golongan I.

Dakwaan Jaksa Penuntut Umum disusun dalam bentuk alternative

Kesatu : Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 114 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 terntang Narkotika yaitu “Percobaan atau pemufakatan jahat melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan I bukan tanaman.

Kedua : Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika yaitu “Melakukan percobaan atau pemufakatan jahat, secara tanpa hak

atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman.

Ketiga : Perbuatan terdakwa sebagaiman diatur dan diancam pidana Pasal 127 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika yaitu “Penyalahgunaan Narkotika Golongan I bagi diri sendiri.

Maksud dan tujuan surat dakwaan disesuaikan, secara alternatif ialah tidak dipertimbangkan seluruh dakwaan, akan tetapi demi hukum berdasarkan Pemeriksaan perkaa bagu Majelis Hakim memberi Pilihan atas salah satu dakwaan untuk dipertimbangkan yaitu dakwaan yang lebih bersesuaian dengan fakta hukum perkara.

Jaksa Penuntut Umum membuktikan dakwaan alternatif kedua Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika yaitu “Melakukan percobaan atau pemufakatan jahat, secara tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman.

Majelis sependapat dengan dakwaan kedua yang dibuktikan oleh Jaksa Penuntut Umum yaitu Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Berdasarkan fakta tersebut Majelis Hakim berpendapat untuk mepertimbangkan dakwaan alternatif kedua Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika yaitu “Melakukan percobaan atau pemufakatan jahat, secara tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan I bukan

tanaman yaitu pejara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas tahun)

Unsur Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yaitu :

1. Unsur setiap orang

Unsur setiap orang atau barang siapa selaku subjek hukum. Barang siapa adalah orang (een eider) atau manusia (naturlijke person) yang dianggap cakap dan mampu sebagai subjek hukum. Secara obyektif orang yang disangka atau didakwa melakukan tindak pidana haruslah sudah dewasa secara hukum serta cakap dan mampu dalam arti tidak, terganggu ajal pikirannya serta dapat memahami dan menyadari sepenuhnya akan apa yang diperbuat hingga akibat yang akan ditibulkan dari perbuatannya itu dan secara subyektif orang tersebut tidak sedang berhalangan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dalam perkara ini telah dihadapkan terdakwa setelah ditanyakan identitasnya pada prinsipnya sama seperti yang termuat dalam dakwaan jaksa penuntut umum, dan menurut Majelis hakim bahwa terdakwa mampu bertanggungjawab sehingga unsur setiap orang telah terpenuhi.

2. Unsur melakukan Percobaan atau Pemukatan jahat, secara tanpa hak atau melawan hukum, memliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I (satu) bukan tanaman. Dari fakta-fakta persidangan didapati bahwa terdakwa tidak memIliki hak atau

ijin dari pihak yang berwenang untuk memiliki atau menggunakan Narkotika jenis Shabu-shabu.

Maka berdasarkan hal-hal yang dipertimbangkan tersebut diatas, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Percobaan atau pemukatan jahat, secara tanpa hak atau melawan hukum, memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I (satu) bukan tanaman. Sebagaimana diatur dalam dakwaan subsidair melanggar Pasal 112 ayat (1) dan Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dalam surat dakwaan kedua.

Namum dalam Putusan No. 1270/Pid.Sus/2018/PN-Mdn dapat dilihat jelas perbedaan Tuntutan dan Vonis Hakim.

1. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum Yang memberatkan :

1. Perbuatan terdakwa bertentangan dengan program Pemerintah dalam pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika

Yang meringankan

1. Bahwa bersikap dan mengakui perbuatannya 2. Bahwa belum pernah dihukum

2. Vonis Hakim

Keadaan yang memberatkan : 1. Meresahkan masyarakat ;

2. Bertentangan dengan upaya pemerintah dalam hal pemberantasan Narkotika ;

3. Terdakwa sudah pernah dihukum dalam kasus yang sama ; Keadaan yang meringankan :

1. Terdakwa berlaku sopan dipersidangan ;

2. Terdakwa tidak mempersulit jalanya persidangan dan mengakui terus terang perbuatannya ;

Maka dapat dilihat bahwa hakim memutus berdasarkan keyakinan dan fakta-fakta dipersidangan dimana adanya perbedaan faktor pemberat hukuman terdakwa, dalam tuntutan Jaksa Penuntut Umum Mengatakan Bahwa terdakwa belum pernah dihukum, namun dalam Vonis Hakim dikatakan bahwa terdakwa sudah pernah dihukum dalam kasus yang sama.

dan dalam aturan pengulangan sendiri telah diatur dalam Pasal 114 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dimana dikatakan di dalam pasal itu apabila seseorang sudah pernah melalukan perbuatan melawan hukum dengan mengulang perbuatan yang sama maka hukuman pelaku tersebut/terdakwa ditambah 1/3 dari hukuman yang dijatuhkan.

Dalam proses penyidikan, penuntutan sampai dengan vonis, bukti-bukti persidangan dan keterangan saksi menjadi hal yang sangat mempengaruhi putusan Majelis Hakim, hal ini merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

dalam proses penyidikan apabila berkas belum lengkap maka berkas tidak akan berlanjut ketahap selanjutnya, begitu juga selanjutnya, apabila berkas telah lengkap maka jaksa penuntut umum akan memohonkan perkara agar diperiksa dan diadili oleh pengadilan.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :

1. Dalam tindak pidana narkotika proses pemeriksaan dan penyidikannya sedikit berbeda dengan tindak pidana biasa, dalam Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dijelaskan bahwa penyidik yang berwenang adalah Badan Narktotika Nasional dan mengenai proses pemeriksaan dalam Undang-Undang ini lama proses pemeriksaan juga berbeda dengan ketentuan pemeriksaan tindak pidana biasa, dimana dalam Undang-Undang Narkotika lama pemeriksaan adalah 3x24 jam, hal ini dimaksud atau bertujuan agar pemeriksaan lebih detail sehingga tidak ada kesempatan pelaku untuk menghilangkan barang bukti.

2. Sinkronisasi dalam persidangan merupakan hal yang sangat menentukan putusan, dalam proses persidangan haruslah adanya saling sinkron antara jaksa penuntut umum dan majelis hakim agar tercapainya suatu putusan yang tepat, dalam proses penuntutan jaksa penuntut umum harus menjelaskan dalil tuntutan nya dengan jelas dan majelis hakim juga harus mempertimbangkan Tuntuntan tersebut.

3. Penerapan hukuman dalam (Studi Putusan Nomor 1270/Pid.Sus/2018/PN-Mdn) dalam putusan ini terdakwa di dikenakan pasal dakwaan Alternatif dan telah mengakui perbuatan nya, dan perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam Pasal 112 ayat (1) UU No.35 tahun 2009 tentang narkotika.

4. kebijakan hukum terhadap pelaku pengulang kejahatan (residivis) dimana dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dijelaskan dalam pasal 114 ayat (1) dijelaskan barangsiapa melakukan pengulangan perbuatan melawan hukum yang sama, maka hukuman nya ditambah 1/3.

B. Saran

Adapun saran yang ingin disampaikan terhadap permasalahan skripsi ini adalah :

1. Perlu penerapan penyidikan (under coverbuy) dalam pemberantasan tindak pidana narkotika, hal itu diperkuat oleh Pasal 79 Undang-Undang Narkotika dimana penyidikan terselubung sangat membantu dalam proses pengungkapan kasus-kasus narkotika.

2. Hakim perlu memperhatikan dan mengambil keputusan dalam penjatuhan pidana yang sesuai dengan perbuatan pelaku, sehingga hakim tidak perlu menafsirkan sendiri, oleh karena itu tidak akan ada persepsi yang berbeda-beda.

3. Antara Majelis Hakim dengan Jaksa Penuntut Umum antara Tuntutan dan Vonis Harus lah saling berhubungan, agar di dapat putusan yang sesuai dan tidak berbeda antara Tuntutan dengan Vonis.

4. Pihak yang berwenang dalam penanggulangan Tindak Pidana Narkotika, perlu memberikan sosialisasi yang lebih banyak lagi terhadap masyarakat, khususnya kalngan pelajar, melihat angka kematian dan korban yang terjadi akibat penyalahgunaan narkotika.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Achmad Yulianto dan Mukti Fajar ND. 2010. Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Al.wisnubroto. 2014. praktik sidang pengadilan, Universitas Atma Jaya.

Yogyakarta.

Chazawi, Adami. 2002 Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Rajawali Grafindo Persada. Jakarta.

Ekaputra, Mohammad. 2013. Dasar-dasar Hukum Pidana (Edisi II). USU Press.

Gatot Supramono S.H. 2004 Hukum Narkoba Indonesia, Djambatan.

Hamzah Andi, dan Abidin A.Z. 2010, pengantar dalam hukum pidana Indonesia, Yarsif Watampone. Jakarta.

Ibrahim, Johny. 2011 Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normative.

Bayumedia Publishing. Malang

Marzuki Mahmud Peter. 2010. Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta.

Muhammad, Rusli. 2007. hukum acara pidana kontemporer, Citra Aditya, Bandung.

P.A.F Lamintang. 1997. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (Cetakan ketiga), Citra Aditya Bakti, Bandung.

Prodjomidjojo, Martiman. 1995. Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Pradnya Paramita. Jakarta.

Prof. Dr. Prasetyo Teguh,S.H.,M.Si. 2011. Hukum Pidana, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta

Ratna WP. 2017. Aspek Pidana penyalahgunaan Narkotika (Rehabilitasi Versus Penjara), Legality, Yogyakarta

Rusli Muhammad, Wirjonoprodjodikoro. 2007. Kemandirian Pengadilan dalam Proses Penegakan Hukum Pidana Bebas dan Bertanggung Jawab.

Rusli Muhammad, Wirjonoprodjodikoro. 2007. Kemandirian Pengadilan dalam Proses Penegakan Hukum Pidana Bebas dan Bertanggung Jawab.

Dokumen terkait