BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. HASIL PENELITIAN
2. Uji Asumsi
Sebelum dilakukan analisis data dengan menggunakan korelasi Product Moment Pearson, terlebih dahulu harus memenuhi dua syarat yaitu melakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui sebaran item kedua variabel normal atau tidak, bila sebaran tidak normal maka tidak dapat dilakukan analisis dengan menggunakan analisis Product Moment Pearson (Hadi, 2000). Penelitian ini menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov
(K-S) pada program SPSS 12.0 dan diperoleh hasil yaitu variabel penyesuaian diri dalam perkawinan diketahui K-S sebesar 0,518 dengan probabilitas sebesar 0,951, hal ini berarti sebaran item pada variabel penyesuaian diri dalam perkawinan adalah normal karena probabilitasnya lebih dari 0,05 (p>0,05). Sedangkan hasil dari variabel kepuasan dalam perkawinan diketahui K-S sebesar 0,444 dan probabilitasnya sebesar 0,989 yang menunjukkan bahwa sebaran item pada variabel kepuasan dalam perkawinan juga normal karena probabilitasnya lebih dari 0,05 (p>0,05).
Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sebaran item pada kedua variabel adalah normal.
b. Uji Linearitas
Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah kedua variabel bersifat linear atau tidak, apabila bersifat linear maka korelasi yang dihasilkan akan semakin tinggi, namun apabila tidak linear maka korelasi yang dihasilkannya akan menjadi rendah (Hadi, 2000). Uji linearitas pada penelitian ini menggunakan SPSS 12.0, dan hasilnya menunjukkan bahwa kedua variabel bersifat linear karena memiliki probabilitas sebesar 0,000 (p<0,05).
c. Uji Hipotesis
Analisis korelasi yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis Product Moment Pearson. Teknik ini digunakan untuk melihat apakah ada hubungan antara variabel penyesuaian diri dalam perkawinan dan variabel kepuasan dalam perkawinan. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Pearson pada SPSS 12.0 dengan taraf signifikasi 1% (0,001), artinya bahwa kemungkinan penolakan hipotesis yang benar adalah satu
diantara seratus atau dengan kata lain adanya kepercayaan terhadap kebenaran hipotesis sebesar 99% (Hadi, 1996).
Hasil dari uji hipotesis menunjukkan bahwa koefisien korelasi (R) antara variabel penyesuaian diri dalam perkawinan dan kepuasan dalam perkawinan adalah sebesar 0,629 dengan probabilitas sebesar 0,000 (p<0,001) yang berarti bahwa kedua variabel terbukti berkorelasi. Hasil uji hipotesis tersebut menyatakan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara kedua variabel, sehingga hipotesis yang diajukan yaitu ada hubungan antara penyesuaian diri dalam perkawinan dengan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja diterima, maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat penyesuaian diri dalam perkawinan maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan dalam perkawinan dan demikian pula sebaliknya bila semakin rendah tingkat penyesuaian diri dalam perkawinan maka akan semakin rendah pula tingkat kepuasan dalam perkawinan.
Koefisien determinasi (R2) diperoleh hasil sebesar 0,3956 yang berarti
bahwa penyesuaian diri memberikan sumbangan sebesar 39,56% terhadap kepuasan dalam perkawinan. Adanya sumbangan sebesar 39,56% tersebut menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi kepuasan dalam perkawinan sebesar 60,44%.
D. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan teknik Product Moment Pearson maka hipotesis penelitian yang diajukan yaitu ada hubungan antara
penyesuaian diri dalam perkawinan dan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja diterima.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel penyesuaian diri dalam perkawinan dan kepuasan dalam perkawinan menghasilkan korelasi sebesar 0,629 dengan probabilitas sebesar 0,000 (p<0,001), hal tersebut menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat penyesuaian diri dalam perkawinan maka semakin tinggi pula kepuasan dalam perkawinan dan begitu pula sebaliknya.
Dalam perkawinan, suami istri menginginkan kebahagiaan yang ditandai dengan adanya kepuasan dalam perkawinan tersebut. Kepuasan dalam perkawinan dapat tercapai apabila kebutuhan, keinginan dan harapan dapat terpenuhi (Bahr, dkk dalam Nainggolan, 2003). Kebutuhan, keinginan dan harapan tersebut dapat terpenuhi bila terjadi penyesuaian diri yang efektif dan timbal balik. Dengan penyesuaian diri yang baik maka akan tercipta suatu kepuasan dalam diri masing- masing maupun bersama sehingga dapat membina keluarga yang bahagia dan harmonis (Padma, 2007).
Penyesuaian diri dalam perkawinan sangat diperlukan pada awal masa perkawinan. Penyesuaian yang baik pada awal perkawinan akan membantu individu untuk melakukan penyesuaian di masa yang akan datang yang lebih sulit karena adanya pertumbuhan keluarga (Landis & Landis dalam Wahyuningsih, 2005).
Penyesuaian diri dalam perkawinan memiliki 4 aspek yaitu penyesuaian dengan pasangan, penyesuaian seksual, penyesuaian keuangan, dan penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan. Keempat aspek tersebut memilki korelasi terhadap kepuasan dalam perkawinan, aspek penyesuaian dengan pasangan memiliki korelasi
yang paling tinggi, disusul dengan aspek penyesuaian seksual, penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan dan yang terakhir penyesuaian keuangan. Hasil yang ditemukan terkait dengan keempat aspek tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penyesuaian Dengan Pasangan
Penyesuaian dengan pasangan memiliki korelasi sebesar 0,545 dengan probabilitas 0,000 (p<0,001), sehingga aspek penyesuaian dengan pasangan memiliki korelasi yang cukup kuat dan signifikan dengan kepuasan dalam perkawinan.
Penyesuaian dengan pasangan berkaitan dengan hubungan interpersonal subjek bersama pasangannya. Pengalaman dalam hubungan interpersonal antara subjek dengan pasangannya dapat membuat subjek semakin mampu mengembangkan wawasan sosial, mau bekerjasama dengan orang lain dan mampu menyesuaikan diri dengan baik dalam perkawinannya (Hurlock, 1980). Hurlock (1980) menambahkan bahwa perkawinan yang bahagia akan membuahkan kepuasan yang diperoleh dari peran yang mereka mainkan bersama.
Subjek mampu menunjukkan bahwa ia senang dengan kebersamaannya bersama pasangan, mampu mengeluarkan pendapat dan bertukar pikiran, memberi perhatian, pengertian, saling mencintai serta mampu bekerjasama dalam mengerjakan tugas rumah tangga.
Subjek adalah wanita yang selain menjadi ibu rumah tangga juga mempunyai pekerjaan di luar rumah, sehingga intensitas pertemuan subjek dengan pasangannya menjadi berkurang. Akan tetapi, pertemuan dengan waktu yang terbatas tidak membuat subjek kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan
pasangannya. Kemampuan subjek untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya tersebut dapat memberikan kepuasan dalam perkawinan.
2. Penyesuaian Seksual
Penyesuaian seksual memiliki koefisien korelasi sebesar 0,443 dengan probabilitas 0,001, sehingga aspek ini mempunyai korelasi yang cukup kuat dan signifikan terhadap kepuasan dalam perkawinan.
Penyesuaian seksual menyangkut pengungkapan cinta dan tercapainya kepuasan dalam berhubungan seksual (Hurlock, 1980). Blumstein & Schwartz (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa istri lebih sering memberi ciuman dan pelukan spontan kepada pasangan mereka.
Ada komunikasi yang terjalin ketika subjek atau pasangannya menginginkan untuk berhubungan intim, subjek mampu memahami kondisi yang baik maupun yang buruk dari pasangannya apabila ia menginginkan untuk berhubungan intim. Cinta yang matang dan mantap antara subjek dengan pasangannya dapat memberikan kepuasan dalam hubungan seksual. enyesuaian seksual yang baik dapat membuat subjek merasakan kepuasan dalam perkawinannya.
3. Penyesuaian Dengan Pihak Keluarga Pasangan
Penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan memiliki koefisien korelasi sebesar 0,425 dengan probabilitas 0,002 (p>0,001), sehingga dapat dikatakan bahwa aspek ini memiliki korelasi yang cukup kuat dan signifikan terhadap kepuasan dalam perkawinan.
Penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan meliputi penerimaan anggota keluarga pasangan dengan saling menghormati dan menghargai.
Apabila suami istri memiliki hubungan yang baik dengan pihak keluarga pasangan, maka kecil kemungkinannya terjadi pertengkaran dan ketegangan hubungan dengan mereka (Hurlock, 1980).
Subjek mampu menjalin hubungan yang baik dengan mertua dan iparnya, menerima mereka apa adanya, keluarga pasangan juga dapat menerima subjek dengan baik seperti keluarga sendiri. Hubungan baik yang terjalin antara subjek dengan keluarga pasangan dapat membantu subjek menyesuaikan diri pada lingkungan baru. Dengan penyesuaian yang baik dengan pihak keluarga pasangan, maka subjek akan merasa puas dengan kehidupan perkawinannya. 4. Penyesuaian Keuangan
Penyesuaian keuangan menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,299 dengan probabilitas 0,031 (p>0,001). Aspek ini memiliki korelasi yang lemah dan kurang signifikan terhadap kepuasan dalam perkawinan.
Penyesuaian keuangan terkait dengan pengelolaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, keluarga perlu belajar untuk membelanjakan pendapatannya dan menghindari hutang sehingga dapat menikmati kepuasan atas usahanya dengan sebaik-baiknya (Hurlock, 1980).
Subjek mampu mengelola keuangan dengan baik, dapat memiliki harta benda yang cukup, adanya keterbukaan dengan pasangan dalam hal keuangan, memiliki catatan pengeluaran dan pemasukan keuangan. Ada kemungkinan subjek memiliki penghasilan kurang lebih separuh dari total pendapatan keluarga, dan dengan adanya manajemen keuangan yang baik maka kebutuhan keluarga dapat terpenuhi sehingga kepuasan dalam perkawinan tercapai.
Kepuasan perkawinan dapat tercapai apabila subjek dapat melakukan penyesuaian diri pada aspek-aspek yang telah dijelaskan diatas. Semakin baik penyesuaian yang dilakukan maka kepuasan dalam perkawinan akan lebih mudah dicapai. Tercapainya kepuasan dalam perkawinan dapat mewujudkan kebahagiaan dan keharmonisan pada subjek dan keluarganya.
Uji hipotesis menunjukkan bahwa koefisien korelasi sebesar 0,629 dan koefisien determinasi sebesar 0,3956, hal ini berarti bahwa penyesuaian diri dalam perkawinan memberi sumbangan sebesar 39,56% terhadap kepuasan dalam perkawinan, sehingga masih ada 60,44% dari faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi kepuasan dalam perkawinan. Faktor-faktor tersebut antara lain :
Komunikasi memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan perkawinan. Komunikasi yang baik antara subjek dengan pasangan dapat membantu subjek untuk mengetahui setiap keadaan yang dialami oleh pasangannya, begitu pula sebaliknya, oleh karena itu komunikasi tersebut harus selalu dibina (Stimet & Defrain dalam Lailatushifah, 2003), terlebih karena subjek adalah wanita bekerja yang intensitas pertemuannya dengan pasangan menjadi terbatas. Komunikasi yang baik dan efektif dalam perkawinan dapat menimbulkan rasa puas pada diri subjek terhadap perkawinannya.
Berperilaku asertif dalam perkawinan dapat membantu subjek mencapai kepuasan dalam perkawinan. Ketika subjek mampu untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, keinginan dan aspirasinya kepada pasangan maka pasangan dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan subjek serta dapat membantu subjek dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya tersebut (Leibo,
2004). Apabila kebutuhan dan keinginan tersebut dapat terpenuhi maka kepuasan dalam perkawinan dapat tercapai.
Pada perkawinan yang bahagia, pasangan suami istri dalam berselisih tidak menggunakan kekerasan baik fisik maupun psikis, tetapi menggunakan humor dan permintaan maaf untuk mengakhiri perselisihan (Wahyuningsih, 2005), sehingga perkawinan tersebut dikatakan sebagai perkawinan yang cerdas secara emosional (Gottman & Silver, 2001). Ketika subjek memiliki kemampuan untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, berempati, dan mampu membina hubungan, maka ia dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang baik sehingga ia juga mampu mencapai kepuasan dalam perkawinan.
Kesadaran akan kesetaraan gender merupakan salah satu faktor penting yang berperan bagi terciptanya kepuasan dalam perkawinan. Kesadaran ini akan membuat suami istri dapat berperan secara luas dan luwes sesuai kebutuhan rumah tangga (Lailatushifah, 2003). Subjek memiliki pekerjaan dengan sistem pembagian waktu (shift), sehingga kesadaran akan kesetaraan gender sangat penting. Pasangan akan mampu dan mau melakukan banyak hal menyangkut peran sosial dalam rumah tangga ketika subjek sedang bekerja dan begitu pula sebaliknya, sehingga dapat memberi kepuasan dalam perkawinan.
Kesehatan merupakan faktor yang sangat penting bagi individu untuk mencapai kepuasan dalam perkawinan. Apabila kesehatan baik, maka individu juga akan dapat menjalankan perannya dengan baik pula, dan bila individu dapat menjalankan perannya dengan baik maka penyesuaian dirinya juga akan semakin baik sehingga kepuasan dalam perkawinan dapat tercapai. McMunn (2006) mengatakan bahwa wanita yang memiliki peran ganda cenderung memiliki
kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang hanya menjadi ibu rumah tangga biasa karena wanita yang memiliki peran ganda tersebut mampu mengkombinasikan karir dan keluarga dalam menjalani kehidupan.
Dalam proses penyesuaian dalam perkawinan, tercapainya harapan individu dan memperoleh rasa puas atas hasil kerjanya merupakan hal yang penting (Hurlock, 1980). Bagi wanita yang menjalani peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja memerlukan dukungan orang-orang terdekat, terutama suami, agar ia bisa menyesuaikan diri dengan baik. Komitmen yang disepakati bersama antara ia dan suami mengenai tugas-tugasnya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja dapat memberi kepuasan dalam kehidupan perkawinannya.
Dari hasil analisis tambahan, ditemukan hasil penelitian pada tabel 4.6 yang menjelaskan bahwa subjek memiliki penyesuaian diri dalam perkawinan yang tinggi yang dilihat dari mean empiris (125,35) yang lebih besar daripada mean teoritisnya (90). Individu yang memiliki penyesuaian diri dalam perkawinan yang tinggi memiliki ciri-ciri antara lain bebas dari tekanan, bebas dari berbagai macam kegoncagan dan ketegangan jiwa, dan mampu menghadapi kesulitan dengan cara yang objektif (Mu’tadin, 2002).
Subjek juga memiliki kepuasan dalam perkawinan yang juga tinggi yang dilihat dari mean empiris (122,15) yang lebih besar dari mean teoritis (90). Individu yang memiliki kepuasan dalam perkawinan yang tinggi mempunyai ciri-ciri mampu menghadapi dan meredakan stres, mampu mendukung pasangan, mampu menghargai dan menghormati pasangan, dan dapat bekerjasama dengan baik dengan pasangannya dalam menghadapi berbagai masalah dalam rumah tangga sehingga
kebutuhan, keinginan dan harapannya dalam kehidupan perkawinan dapat terpenuhi (Lasswell & Lasswell dalam Sembiring, 2003).
Walgito (1984) berpendapat bahwa perkawinan sebaiknya dilangsungkan pada usia 23-24 tahun bagi wanita dan 26-27 tahun bagi pria dengan alasan telah mempunyai sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga. Mappiare (1983) mengatakan bahwa orang yang berusia 20-40 tahun merupakan orang yang sudah mulai matang dan mulai mampu untuk berpikir luas dan realistis sehingga dalam menjalani perkawinan mereka telah mempersiapkannya secara matang. Hal serupa juga dikemukakan oleh Hurlock (1980) bahwa usia 18-40 tahun berada pada masa dewasa dini dan diharapkan siap menerima kedudukannya dalam masyarakat dan mampu bergabung dengan orang dewasa lainnya. Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa untuk mencapai kepuasan dalam perkawinan, faktor usia bukanlah hal yang penting. Dalam penelitian ini subjek berusia antara 22-39 tahun, telah menyelesaikan pendidikan dan dianggap telah siap untuk melangsungkan perkawinan dengan alasan sudah mulai matang, dapat berpikir luas dan realistis serta telah memiliki penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Usia perkawinan dapat berkaitan dengan kepuasan dalam perkawinan. Lamanya usia perkawinan yang dijalani dapat memberikan kesempatan bagi individu untuk dapat lebih menyesuaikan diri dan lebih mengenal pribadi masing- masing dengan tujuan tercapainya kepuasan dalam perkawinan, semakin lama usia perkawinan maka individu cenderung akan lebih puas dengan perkawinannya. Hal ini didukung oleh pernyataan Rose (1987) yang mengatakan bahwa semakin tinggi usia perkawinan maka akan semakin banyak pula penyesuaian yang terjadi. Dalam penelitian ini diperoleh subjek yang memiliki usia perkawinan antara 2-10 tahun
sehingga dapat dikatakan bahwa dalam rentang usia perkawinan tersebut subjek telah memiliki cukup waktu untuk dapat melakukan penyesuaian diri dalam rangka mencapai kepuasan dalam perkawinan.
Latar belakang pendidikan dapat memberi kontribusi yang positif terhadap perkawinan karena dengan memiliki pengetahuan yang luas individu dapat lebih banyak belajar untuk menyesuaikan diri guna mencapai kepuasan dalam perkawinan. Havinghurst (dalam Monks dkk, 1989) berpendapat bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dapat menentukan tugas apa yang dapat dilakukan seseorang dalam hidupnya. Memperoleh pendidikan yang tinggi dapat mempengaruhi tercapainya kepuasan dalam perkawinan karena dengan memiiki pendidikan formal yang tinggi diharapkan individu menjadi lebih mampu untuk menjalankan tugasnya sesuai bidang yang dijalani berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. Subjek dalam penelitian ini memiliki pendidikan yang kebanyakan adalah diploma dalam bidang keperawatan dan kebidanan, sehingga dapat dikatakan bahwa dengan pengetahuan yang dimiliki subjek mampu menjalankan tugasnya dalam merawat anak-anak dan suami sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai perawat atau bidan yang harus melayani pasien dengan baik.
Dalam hal pekerjaan, tidak tertutup kemungkinan bila istri bekerja untuk membantu mencari nafkah atau sekedar mengembangkan ilmu dan bakat yang dimiliki sesuai bidangnya karena dengan menikmati pekerjaannya di tengah perkawinannya dapat memberikan kepuasan dalam perkawinan (Hurlock, 1980). Subjek dalam penelitian ini kebanyakan berprofesi sebagai perawat dan bidan, dimana profesi tersebut memerlukan tanggung jawab yang sangat besar, dengan jam kerja shift serta harus selalu siap apabila sewaktu-waktu dipanggil untuk bertugas.
Pekerjaan ini menuntut subjek untuk lebih mampu dalam menyesuaikan diri serta memerlukan pengertian dan dukungan dari suaminya. Apabila pekerjaannya dapat berjalan seiring dengan kehidupan perkawinannya, maka subjek dapat mencapai kepuasan dalam perkawinan.
Apabila dalam kehidupan perkawinan setiap permasalahan dapat diatasi dengan baik dan sudah mampu memahami diri sendiri maupun memahami pasangan, maka akan muncul perasaan puas yang tercermin dalam perasaan senang, lega, bahagia atau gembira karena hasratnya telah terpenuhi.
Pusat kesuksesan dan kebahagiaan perkawinan adalah kepuasan dalam perkawinan, dan kepuasan dalam perkawinan dapat tercapai bila dalam kehidupan perkawinan individu mampu menyesuaikan diri dengan baik. Individu yang melakukan penyesuaian diri dengan baik akan mencapai tingkat kepuasan dalam perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang kurang mampu menyesuaikan diri dalam perkawinannya.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara penyesuaian diri dalam perkawinan dengan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja, hal ini menunjukkan bahwa semakin baik penyesuaian diri dalam perkawinan maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang diperoleh, demikian pula sebaliknya bahwa semakin buruk penyesuaian diri dalam perkawinan maka akan semakin rendah pula tingkat kepuasan yang dicapai.
Penyesuaian diri dalam perkawinan memberikan sumbangan sebesar 39,56% terhadap kepuasan dalam perkawinan, sehingga masih ada 60,44% dari faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kepuasan perkawinan selain penyesuaian diri.
B. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini hanya mengambil subjek wanita saja, sehingga hasil penelitian merupakan persepsi subjektif dari wanita itu sendiri mengenai penyesuaian diri dalam perkawinan dan kepuasan dalam perkawinan. Selain itu ada kemungkinan terjadi faking mengingat seks dan keuangan adalah hal yang sangat pribadi dalam kehidupan perkawinan.
C. SARAN
1. Bagi Wanita / Istri
Dengan hasil penelitian ini disarankan kepada wanita yang berperan ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga dan wanita bekerja untuk berusaha melakukan penyesuaian diri dengan baik dalam perkawinannya dengan tujuan menyeimbangkan antara pekerjaan dengan keluarga sehingga kepuasan dalam perkawinan dapat tercapai.
2. Bagi Pria / Suami
Penelitian ini menyarankan kepada pria atau suami untuk melakukan penyesuaian diri yang baik dalam perkawinannya dan selalu mendukung serta membantu istri dalam melakukan penyesuaian diri dengan tujuan mencapai kepuasan dalam perkawinan.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
a. Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan variabel kepuasan dalam perkawinan disarankan untuk menggunakan metode pengambilan data yang lain, misalnya dengan melakukan penelitian kualitatif, karena untuk metode dalam penelitian ini ada kemungkinan terjadi faking dari subjek mengingat bahwa kepuasan dalam perkawinan merupakan suatu hal yang bersifat sangat pribadi dan tertutup. Metode lain tersebut diharapkan dapat mengungkap kepuasan dalam perkawinan secara lebih objektif.
b. Diharapkan mencari unsur-unsur lain yang dapat mempengaruhi kepuasan dalam perkawinan selain penyesuaian diri dalam perkawinan seperti
komunikasi, perilaku asertif, kecerdasan emosional, kesadaran akan kesetaraan gender, dan kesehatan.
c. Dalam penelitian ini subjek yang diambil adalah wanita, sehingga untuk penelitian selanjutnya perlu diteliti hal yang sama pada subjek pria atau menggunakan subjek pasangan suami istri agar dapat memperoleh hasil yang lebih objektif.
xix
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar
________. 1998. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar
________. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar
________. 2000. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar
Baron, Robert A & Byrne, Donn. 2003. Psikologi Sosial Jilid 2. Jakarta : Penerbit Erlangga
Bowman, Henry A. 1954. Marriage For Moderns Third Edition. New York : Mc Graw Hill Book company Inc.
Dariyo, Agoes. 2003. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta : Penerbit Grasindo
Gottman, John M & Silver, Nan. 2001. Disayang Suami Sampai Mati. Bandung : Penerbit Kaifa
Gunarsa, Y.S. 1990. Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta : BPK Gunung Mulia ___________. 2002. Asas-Asas Psikologi Keluarga Idaman. Jakarta : PT. BPK Gunung
Mulia
Hadi, Sutrisno. 1984. Metodologi Research Jilid I. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
____________. 2000. Statistik Jilid 2. Yogyakarta : Penerbit Andi
Hauck, P. 1964. Membina Perkawinan Bahagia. Jakarta : Penerbit Arcan Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
Istiadi, I.J. 1958. Sendi Perkawinan. Semarang : Penerbit Yayasan Kanisius
Kartono, Kartini. 1977. Psikologi Wanita Jilid I (Mengenal Gadis Remaja dan Wanita Dewasa). Bandung : Mandar Maju
xx
_____________ . 1977. Psikologi Wanita Jilid ii (Wanita Sebagai Ibu dan Nenek). Bandung : Bandar Maju
Knys, P. 1985. Berkeluarga Secara Arif. Yogyakarta : Penerbit Kanisius Lailatushifah, Siti Noor Fatmah. 2003. Kesadaran Akan Kesetaraan Gender dan
Kepuasan Perkawinan Pada Suami Istri Pekerja Ganda. Jurnal Insight No. 2 Lasswell & Lasswell. 1987. Marriage and The Family Second Edition. California :
Wadsworth Publishing Company
Lazarus, R.S. 1976. Patterns of Adjustment Third Edition. McGraw-Hill Kogakusha LTD
Leibo, Maria Selviana. 2004. Hubungan Antara Asertifitas Istri Suku Jawa dan Kepuasannya Dalam Perkawinan. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
Mappiare, Andi. 1983. Psikologi Orang Dewasa Bagi Penyesuaian dan Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional
Monks, F. J, dkk. 1989. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Gadjah Mada University Press
Nainggolan, Ristawanti. 2003. Hubungan Antara Penyesuaian Diri Pada Perkawinan dan Kepuasan Perkawinan. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
Padma, Astrida. 2007. Perbedaan Cinderella Complex Pada Wanita Yang Bekerja dan Yang Tidak Bekerja. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma
Peck, Jane Cary. 1991. Wanita dan Keluarga (Kepenuhan Jati Diri Dalam Perkawinan dan Keluarga). Yogyakarta: Kanisius
Powell. 1991 . Tampilkan Jati Dirimu . Yogyakarta : Penerbit Kanisius