ANALISIS DAN PEMBAHASAN 5.1.Deskriptif Data
5.2. Analisis Data 1. Uji Kualitas Data 1.Uji Kualitas Data
5.2.2. Uji Asumsi Klasik
Dalam analisis ini perlu dilihat terlebih dahulu apakah data tersebut bisa dilakukan pengujian model regresi. Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk menentukan model regresi dapat diterima secara ekonometrik. Pengujian asumsi klasik ini terdiri pengujian normalitas, multikolinearitas, dan pengujian heteroskedastisitas. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah
cross-section. Oleh karena itu, pengujian autokorelasi tidak perlu dilakukan. 5.2.2.1 Uji normalitas data
Kriteria pengujian satu sampel Kolmogorov-Smirnov (K-S) menggunakan pengujian satu sisi (one-tailed), Berdasarkan hasil uji normalitas data dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov maka dapat disimpulkan bahwa data mempunyai distribusi normal. Hal ini dapat diketahui dengan melihat Peran Inspektorat dalam Reviu Laporan Keuangan Daerah merupakan variabel terikat dengan nilai Kolmogorov Smirnov sebesar 0.953 dengan tingkat signifikansi
sebesar 0,324. Jika signifikansi nilai Kolmogorov Smirnov lebih besar dari 0.05, maka dapat dinyatakan bahwa data mempunyai distribusi normal. Ringkasan hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut ini:
Tabel 5.5 Uji Normalitas Data dengan Uji Kolmogorov-Smirnov Variabel/Faktor K-S Value K-S Sign Status
Peran Inspektorat dalam Reviu
Laporan Keuangan Daerah (Y) 0,953 0,324 Normal
Pengetahuan tentang Proses Audit
Internal (X1) 0,950 0,327 Normal
Intuisi (X2) 0,794 0,553 Normal
Pemahaman terhadap Standar
Akuntansi Pemerintahan (X3) 0,902 0,390 Normal
Pengetahuan tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (X4) 1,187 0,119 Normal
Sumber : Data primer setelah diolah
Berdasarkan hasil uji normalitas data dengan menggunakan uji grafik, maka dapat disimpulkan bahwa data mempunyai distribusi normal. Hal ini juga didukung dengan grafik dimana data mengikuti garis diagonal. Grafik uji normalitas dapat dilihat pada pada gambar berikut ini.
Gambar 5.1 Pengujian Normalitas Data
5.2.2.2Uji heteroskedastisitas
Pengujian asumsi heteroskedastisitas menyimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Dengan kata lain terjadi kesamaan varian dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Kesimpulan ini diperoleh dengan melihat penyebaran titik-titik yang menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y . Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar 5.2 berikut ini.
Gambar 5.2. Uji Heteroskedastisitas
5.2.2.3Uji multikolinearitas
Berdasarkan pengujian multikolinearitas yang dilakukan dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas karena tidak ada nilai VIF yang lebih besar dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1. Ringkasan pengujian multikolinearitas dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.6 Uji Multikolinieritas
Collinearity Statistics
Model t Sig. Tolerance VIF
(Constant) 2.173 .039 Audit 1.533 .138 .121 8.273 Intuisi 1.853 .076 .171 5.848 SAP 4.166 .000 .187 5.354 1 PKD 5.895 .000 .307 3.263 5.3. Pengujian Hipotesis
Setelah dilakukan pengujian asumsi klasik dan diperoleh kesimpulan bahwa model telah dapat digunakan untuk dilakukan pengujian analisa regresi berganda, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis. Hipotesis yang akan diuji adalah pengaruh pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah terhadap peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah
Ringkasan hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 5.7 berikut ini.
Tabel 5.7 Pengujian Hipotesis
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .969a .939 .929 .86725
a. Predictors: (Constant), PKD, Intuisi, SAP, Audit b. Dependent Variable: Reviu
Nilai R pada intinya untuk mengukur seberapa besar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Berdasarkan hasil pengujian,
diperoleh nilai R sebesar 0,969, hal ini menunjukkan bahwa variabel pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
Sedangkan nilai R square (R2) atau nilai koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R2 adalah diantara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel dependen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum R2 untuk data silang (crossection) relatif tinggi karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan.
Jika variabel independen lebih dari satu, maka sebaiknya untuk melihat kemampuan variabel memprediksi variabel dependen, dalam penelitian ini nilai yang digunakan adalah nilai adjusted R2. Nilai adjusted R2 sebesar 0,929 mempunyai arti bahwa variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabel independen sebesar 92,9%. Dengan kata lain 92,9 % perubahan dalam peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah mampu dijelaskan variabel pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah sisanya sebesar 7,1 % dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini.
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan maka model penelitian adalah sebagai berikut:
Reviu = 3,830 + 0,200 Audit + 0,212 Intuisi + 0,514 SAP + 0,432 PKD + e
Dari persamaan di atas, dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah menunjukkan angka positip. Berarti bahwa hubungan antara variabel pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah dengan peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah adalah positip yaitu semakin tinggi variabel pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah maka semakin tinggi peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
Ringkasan hasil pengujian secara simultan dapat dilihat pada Tabel 5.8 berikut ini.
Tabel 5.8 Uji Statistik F (Simultan)
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Regression 289.864 4 72.466 96.348 .000a
Residual 18.803 25 .752
1
Total 308.667 29
a. Predictors: (Constant), PKD, Intuisi, SAP, Audit b. Dependent Variable: Reviu
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa secara simultan pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah mempunyai pengaruh yang signifikan dengan peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
Dapat dilihat bahwa p-value 0,00 < 0,05, artinya signifikan, sedangkan F hitung 96,348 > dari F tabel 3,257, artinya signifikan (df1=5-1=4 dan df2=30-5=25). Signifikan disini berarti H1 diterima dan H0 ditolak, Artinya pengetahuan tentang proses audit internal, intuisi, pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah mempunyai pengaruh yang signifikan dengan peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
Secara parsial pengetahuan tentang proses audit internal dan intuisi secara keseluruhan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah. Tetapi pemahaman terhadap SAP dan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
Dapat dilihat dari Analisis tabel Coefficient untuk mengetahui pengaruh variabel independent secara parsial terhadap variabel dependen sebagai berikut :
Tabel 5.9 Uji Statistik t (Parsial) Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
(Constant) 3.830 1.763 2.173 .039
Audit .200 .130 .218 1.533 .138
Intuisi .212 .114 .221 1.853 .076
1
PKD .432 .073 .526 5.895 .000 a. Dependent Variable: Reviu
a) Variabel pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah memiliki nilai p-value 0,000 < 0,05 artinya signifikan, sedangkan t-hitung 5,895 > dari t-tabel 2,025 artinya signifikan. Variabel pemahaman terhadap SAP memiliki nilai p-value 0,000 < 0,05 artinya signifikan, sedangkan t-hitung 4,166 > dari t-tabel 2,025 artinya signifikan. Disini berarti H1 diterima dan HO ditolak artinya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah dan pemahaman terhadap SAP berpengaruh secara parsial terhadap peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
b) Variabel Pengetahuan tentang proses audit internal memiliki nilai p-value 0,138 > 0,05 artinya tidak signifikan, sedangkan t-hitung 1,533 < dari t-tabel 2,025 artinya tidak signifikan. Variabel intuisi memiliki nilai p-value 0,076 > 0,05 artinya tidak signifikan, sedangkan t-hitung 1,853 < dari t-tabel 2,025 artinya tidak signifikan. Disini berarti H0 diterima dan H1 ditolak artinya pengetahuan tentang proses audit internal dan intuisi tidak berpengaruh secara parsial terhadap peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah.
5.4. Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan Inspektorat baik tentang pemahaman terhadap SAP maupun pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah mempengaruhi peran dari Inspektorat tersebut dalam reviu
laporan keuangan daerah. Jika Pemerintah Daerah ingin meningkatkan peran Inspektorat dalam reviu laporan keuangan daerah yang nantinya diharapkan dapat mencegah terjadinya kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan daerah, maka perlu ditingkatkan pengetahuan pegawai Inspektorat tersebut melalui pendidikan dan pelatihan.
Pada kenyataannya, Inspektorat sering menjadi tempat “pembuangan” bagi pejabat yang berseberangan dengan kepala daerah. Disamping itu, sering terjadi turn over pegawai di lingkungan Inspektorat, sehingga pegawai Inspektorat merasa tidak perlu meningkatkan kualitasnya dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya sesuai dengan Tupoksi Inspektorat.
Dalam mekanisme pengelolaan APBD, sesungguhnya Inspektorat
merupakan komponen penting dari sistem peringatan dini (early warning system)
yang dimiliki kepala daerah. Kepala daerah seyogyanya mengetahui dengan baik bagaimana masing-masing organisasi perangkat daerah melaksanakan tanggungjawab pengelolaan APBD. Idealnya, Inspektorat melakukan pemeriksaan dan penilaian tersebut sebelum BPK sebagai auditor eksternal datang melakukan audit.
Bagi auditan - SKPD dan SKPKD, penilaian yang dilakukan Inspektorat seyogyanya menjadi masukan yang berharga untuk memperbaiki dan menyempurnakan kualitas pengelolaan APBD. Inspektorat sesungguhnya merupakan konsultan dan mitra auditan yang penting dalam meningkatkan
Bagi Menteri Dalam Negeri, Gubernur, dan BPK Perwakilan, laporan Inspektorat yang ditembuskan padanya mencerminkan berjalan tidaknya fungsi pengawasan yang menjadi tanggungjawab kepala daerah. Inspektorat dapat saja menyembunyikan fakta yang tidak benar dalam laporan yang disampaikan. Tetapi bila kemudian BPK menemukan fakta yang tidak benar tersebut dan mengungkapkan hal dimaksud dalam laporan hasil auditnya, kepala daerah sebagai penanggungjawab pemerintahan daerah tentu akan dihadapkan pada posisi yang sulit. Kepala daerah yang bersangkutan dapat saja dianggap tidak akuntabel dalam penyelenggaraan pemerintahannya.
Agar peran Inspektorat dapat ditingkatkan ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah daerah terutama oleh Inspektorat diantaranya dengan meningkatkan kompetensi Pegawai Inspektorat dengan mengikutsertakan mereka dalam pelatihan-pelatihan pengelolaan keuangan daerah hal ini diperlukan karena pada kenyataannya masih ada Pegawai Inspektorat yang tidak memahami penatausahan APBD, pertanggungjawabannya dan penyusunan laporan keuangan daerah terutama di dalam mereviu laporan keuangan. Disamping itu Pegawai Inspektorat perlu dibekali pengetahuan teknik dan prosedur reviu, karena dalam kenyataanya masih banyak pegawai yang belum menguasai, sehingga temuan yang diperoleh pegawai tersebut belum dapat mencapai kualitas hasil reviu seperti yang diharapkan karena hanya didasarkan pada pengalaman audit saja.
Pereviu laporan keuangan pemerintah daerah yang handal setidaknya harus memiliki pemahaman yang memadai atas keuangan daerah, akuntansi
keuangan daerah, analisa laporan keuangan daerah, dan sistem pengendalian internal. Inspektorat bertanggungjawab kepada kepala daerahnya dan oleh karenanya harus membuktikan keberadaanya tersebut kepada kepala daerahnya. Satu hal yang harus dipahami, hasil kegiatan Inspektorat yang bernilai konstruktif dalam meningkatkan kinerja SKPD dan SKPKD sesungguhnya merupakan prestasi kepala daerah dalam menjalankan pemerintah daerah yang menjadi tanggungjawabnya.
Agar mampu memberikan kontribusi pada prestasi kepala daerah, Inspektorat harus memiliki pereviu yang mampu memberikan nilai tambah pada upaya perbaikan dan peningkatan kinerja organisasi perangkat daerah. Untuk memperoleh pereviu dengan kualifikasi ini Inspektorat harus mengembangkan program pendidikan berkelanjutan (contuining professional education). Progam pendidikan dan pelatihan dapat dilakukan melalui pendikan formal sertifikasi yang diselenggarakan pemerintah maupun pendidikan non-formal yang diselenggarakan sendiri (in house training) dengan mengundang para ahli dibidang masing-masing. Namun demikian, dalam mengembangkan program pendidikan berkelanjutan perlu diingatkan untuk lebih selektif memilih materi pendidikan yang hendak diajarkan.
Materi pendidikan yang diajarkan hendaknya materi yang terkait dengan penyelenggaraan pemerintah daerah. Sebagai contoh auditing, akuntansi, dan keuangan merupakan 3 (tiga) materi pendidikan yang perlu dimiliki pereviu laporan keuangan. Agar program pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan
kualitas reviu maka materi auditing, akuntansi, dan keuangan yang menjadi bahan pengajaran haruslah yang terkait dengan penyelenggaraan pemerintah daerah
BAB VI