BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Metode Analisis Data
2. Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah persamaan regresi yang telah ditentukan merupakan persamaan yang
dapat menghasilkan estimasi yang tidak bias. Uji asumsi klasik ini terdiri dari:
a. Uji Multikolonieritas
Multikolonieritas adalah suatu kondisi yang menunjukkan satu atau lebih variabel independen terdapat korelasi dengan variabel independen lainnya. Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ada korelasi antar variabel independen (bebas).
Model regresi dikatakan baik apabila tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Adanya multikolonieritas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Batas dari nilaitolerance adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10. Apabila nilai tolerance dibawah 0,01 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolonieritas (Ghozali, 2011:108). b. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan suatu varian pengganggu yang tidak mempunyai varian yang sama untuk setiap observasi, sehingga mengakibatkan penaksiran regresi yang tidak efisien. Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk megetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain.
Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji statistik karena lebih dapat menginterpretasikan hasil pengamatan.
Uji statistik yang digunakan adalah uji glejser. Uji glejser dilakukan dengan cara meregres nilai absolute residual terhadap variabel independen. Kebanyakan data crossection mengandung situasi heteroskedatisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran baik ukuran kecil, sedang maupun besar (Ghozali, 2011:139).
c. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji variabel pengganggu (residual) dalam model regresi memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi datanya normal atau mendekati normal. Uji F dan uji t mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Variabel pengganggu atau residual dapat dideteksi berdistribusi normal dengan menggunakan dua pendekatan analisis, yaitu analisis grafik dan uji statistik. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji statistik non-parametik Kolmogorov-Smirnov untuk menguji normalitas data. d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (t-1). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena “gangguan”
pada seorang individu atau kelompok cenderung mempengaruhi
“gangguan” pada individu atau kelompok yang sama pada periode berikutnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2011:110).
Autokorelasi dapat dideteksi dengan beberapa cara yaitu uji Durbin-Watson, uji Lagrange Multiplier, Run Test dan uji Box Pierce dan Ljung Box. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Run Test. Uji run test sebagai bagian dari statistik non-parametik digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Apabila nilai Asymp. Sig. > 0,05 maka data terjadi secara random dan tidak terjadi autokorelasi antar nilai residual. 3. Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi berganda (multiple regression). Model regresi berganda umumnya digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen dengan skala pengukuran interval atau rasio dalam suatu persamaan linier.
Analisis regresi berganda merupakan eksistensi dari model regresi dalam analisis bivariate yang umumnya digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan atas enam variabel dengan menggunakan rumus persamaan matematis seperti di bawah ini:
Y = α + β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4+ β5X5+ε
Dimana :
Y = Pengungkapan sukarela (voluntary disclosure)
α = Konstanta (tetap)
β1-β5 = Koefisien variabel independen, apabila nilai β positif
maka akan terjadi kenaikan pada variabel dependen (Y), sedangkan jika nilai β negatif akan terjadi penurunan pada variabel dependen (Y)
X1 = Proporsi dewan komisaris independen (IND)
X2 = Ukuran dewan komisaris (COM) X3 = Ukuran perusahaan (SIZE)
X4 = Profitabilitas (PROFIT) X5 = Leverage(LEV)
ε = Kesalahan baku/error 4. Uji Statistik
a. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crosssection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan.
Kelemahan mendasar dalam menggunakan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan dalam model. Apabila satu variabel independen ditambah, R2akan meningkat tanpa mempedulikan apakah variabel tersebut berpengaruh secara siginifikan atau tidak terhadap variabel dependen. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan nilai adjusted R2 untuk mengevaluasi model regresi. Nilai adjusted R2 mampu naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan dalam model regresi. Seperti halnya koefisien determinasi (R2), nilai adjusted R2 juga berkisar antara nol dan satu. Apabila mendekati nilai 1 berarti semakin kuat kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya (Ghozali, 2011:97).
b. Uji Signifikansi Simultan (Statistik F)
Uji F pada dasarnya menunjukkkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik F dengan kriteria pengambilan keputusan bahwa apabila nilai signifikansi > 0,05
maka Ha ditolak, sedangkan apabila nilai signifikansi < 0,05 maka Ha diterima (Ghozali, 2011:98).
c. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji t-test ini pada dasarnya untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011:99). Kriteria pengambilan keputusan dilakukan dengan tingkat signifikansi 5 %. Hipotesis diterima jika tingkat signifikansi < 5% (kurang dari 0,05) dan hipotesis ditolak apabila tingkat signifikansi > 5%.
E. Operasional Variabel Penelitian
Data dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi dua variabel yaitu variabel dependen dan variabel independen. Berikut ini akan diuraikan definisi mengenai variabel yang digunakan beserta dengan dimensi,operasional, indikator dan skala pengukurannya.
1. Variabel dependen (terikat)
Variabel dependen merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Variabel dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi variabel independen (Indriantoro dan Supomo, 2002:63). Dalam penelitian ini, peneliti mengambil voluntary disclosure (VD) sebagai variabel dependen. Pengungkapan sukarela
adalah pengungkapan informasi melebihi yang diwajibkan karena dipandang relevan dengan kebutuhan pemakai laporan keuangan.
Indikator luas pengungkapan sukarela berupa indeks voluntary disclosure, yang merupakan rasio antara jumlah item informasi yang diungkapkan dengan jumlah item informasi yang seharusnya diungkapkan. Makin besar indeks voluntary disclosureberarti semakin luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan.
Indeks voluntary disclosure pada penelitian ini menggunakan empat indikator. Indikator tersebut sebelumnya telah digunakan oleh Barako (2007) pada perusahaan go publicdi Kenya. Selain itu, indeks ini juga pernah diterapkan di Indonesia melalui penelitian yang dilakukan oleh Linda dan Febrianty (2010). Indikator voluntary disclosuretersebut terdiri atas :
a. Indikator informasi umum dan strategis, sebanyak 13 item b. Indikator data ekonomi, sebanyak 9 item
c. Indikator informasi mengenai gambaran ke depan, sebanyak 8 item d. Indikator pengungkapan sosial dan dewan, sebanyak 17 item
Berikut adalah rincian item indeks voluntary disclosure yang digunakan dalam penelitian ini :
a. Indikator informasi umum dan strategis
1) Informasi yang berkaitan dengan pandangan umum ekonomi 2) Misi perusahaan
4) Struktur organisasi
5) Deskripsi barang yang diproduksi
6) Deskripsi jaringan pemasaran barang (produk)
7) Kontribusi perusahaan terhadap perekonomian nasional 8) Strategi bisnis perusahaan saat ini
9) Kemungkinan adanya pengaruh strategi bisnis perusahaan terhadap kinerja masa kini
10) Analisis pasar saham
11) Pengungkapan tentang persaingan industri
12) Pembahasan mengenai perkembangan ekonomi regional 13) Informasi tentang stabilitas politik regional
b. Indikator data ekonomi
1) Ikhtisar data keuangan 6 (enam) tahun terakhir atau lebih 2) Ulasan hasil keuangan saat ini
3) Pembahasan faktor yang mendasari kinerja perusahaan
4) Pernyataan yang berfokus untuk menciptakan kekayaan seperti misalnya pernyataan nilai tambah perusahaan
5) Tambahan informasi inflasi yang disesuaikan dengan laporan keuangan
6) Return On Assets(ROA)
7) Pengembalian dana pemegang saham 8) Rasio likuiditas
9) Rasiogearing
c. Indikator informasi mengenai gambaran atau prospek ke depan 1) Faktor yang dapat mempengaruhi kinerja masa depan
perusahaan
2) Kemungkinan adanya pengaruh strategi bisnis perusahaan terhadap kinerja masa depan
3) Pengembangan produk baru 4) Rencana belanja modal
5) Rencana pengeluaran untuk riset dan pengembangan 6) Rencana pengeluaran untuk iklan dan publisitas 7) Ramalan atau prediksi laba per saham
8) Ramalan atau prediksi pendapatan dan laba d. Indikator pengungkapan sosial dan dewan
1) Jumlah karyawan untuk 2 tahun terakhir atau lebih 2) Alasan atau penyebab perubahan jumlah karyawan 3) Produktivitas per karyawan
4) Indikator produktivitas karyawan
5) Indikasi tentang moril karyawan seperti absensi dan pemogokan karyawan
6) Informasi tentang keselamatan kerja karyawan 7) Data kecelakaan kerja
8) Pernyataan tentangCorporate Social Responsibility(CSR) 9) Pernyataan tentang kebijakan lingkungan
10) Aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan lingkungan 11) Informasi tentang keterlibatan atau partisipasi masyarakat 12) Nama direktur
13) Umur direktur
14) Kualifikasi akademik direktur 15) Pengalaman bisnis direktur
16) Kepemilikan saham oleh dewan direksi dan pihak lain yang berkepentingan seperti opsi saham
17) Pengungkapan yang berkaitan dengan tanggung jawab, pengalaman dan latar belakang manajemen senior
Pengukurannya dengan menggunakan indeks artinya sebuah item diberi skor 1 jika diungkapkan dan skor 0 jika tidak diungkapkan. Perhitungan untuk mencari angka indeks ditentukan dengan formulasi sebagai berikut:
Indeks =
Dimana :
n = jumlah item indeksvoluntary disclosureyang diungkapkan K = total indeksvoluntary disclosureyang seharusnya diungkapkan
Semakin banyak item voluntary disclosure yang dimuat dalam laporan tahunan berarti semakin besar indeks tingkat voluntary
tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut melakukan praktek pengungkapan sukarela secara lebih komprehensif dibandingkan dengan perusahaan lain.
2. Variabel Independen (Bebas)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat, baik secara positif maupun secara negatif. Jika terdapat variabel dependen maka variabel independen juga harus hadir, dan di setiap unit kenaikan dalam variabel independen maka akan terdapat pula kenaikan atau penurunan dalam variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini, variabel independen terdiri dari 2 kelompok yaitu corporate governance (proporsi dewan komisaris independen dan ukuran dewan komisaris) dan karakteristik perusahaan (ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage). Tujuan peneliti adalah untuk menjelaskan dan memprediksi apakah penerapan CG dan karakteristik perusahaan mempengaruhi atau tidak mempengaruhi voluntary disclosure laporan tahunan suatu perusahaan. Hal itu dapat secara umum dipaparkan sebagai berikut:
a. Corporate Governance
1) Proporsi Dewan Komisaris Independen
Unsur komisaris independen dalam struktur organisasi perusahaan beranggotakan dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan. Berdasarkan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor : Kep-305/BEJ/07-2004 Tentang Peraturan
Nomor I-A tertanggal 19 Juli 2004, perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia harus memiliki dewan komisaris independen dengan jumlah yang sekurang-kurangnya 30% dari seluruh jumlah anggota dewan komisaris. Oleh karena itu, dalam penelitian ini menggunakan variabel proporsi dewan komisaris independen yang diukur:
Proporsi komisaris independen = jumlah komisaris independen jumlah anggota dewan komisaris
Data proporsi komisaris independen disajikan dalam skala rasio yang dilambangkan dengan IND.
2) Ukuran Dewan Komisaris
Dewan komisaris bertugas mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perusahaan serta memberikan nasehat kepada direksi. Ukuran dewan komisaris diproyeksikan dengan jumlah anggota dewan komisaris yang terdapat dalam perusahaan. Data ukuran dewan komisaris disajikan dalam skala nominal dengan lambang COM.
b. Karakteristik Perusahaan 1) Ukuran perusahaan
Ukuran perusahaan berkaitan dengan besarnya perusahaan yang diukur berdasarkan total asset. Secara umum, perusahaan besar akan mengungkapkan informasi yang lebih banyak
daripada perusahaan kecil. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus:
Ukuran perusahaan = log (total asset)
Penelitian ini menggunakan total aset dalam mengetahui ukuran perusahaan, karena berdasarkan penelitian Fitriani (2001) dalam Almilia dan Retrinasari (2007) total asset lebih menunjukkan ukuran perusahaan dibandingkan dengan kapitalisasi pasar. Data ukuran perusahaan disajikan dalam skala nominal dengan lambang SIZE.
2) Profitabilitas
Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga menunjukkan tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Analisis rasio profitabilitas yang digunakan adalah ROA yang dirumuskan sebagai berikut:
ROA = laba bersih setelah pajak total asset
Rasio ROA menunjukkan besarnya laba bersih yang diperoleh perusahaan apabila diukur dari total nilai asset. Data profitabilitas disajikan dalam skala rasio dengan lambang PROFIT.
3) Leverage
Leverage merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran semua kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Data leverage disajikan dalam skala rasio dengan lambang LEV. Besarnyaleveragediukur dengan rasio:
Debt Ratio = total kewajiban total asset
Berdasarkan penjelasan di atas, maka operasional variabel penelitian dapat disajikan dalam Tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel 3.1 Operasional Variabel
Variabel Indikator Skala
D e p e n d e n Pengungkapan sukarela laporan tahunan perusahaan (VD) Indeks VD = n K Rasio In d e p e n d e n Proporsi Dewan Komisaris Independen (IND) Proporsi dewan = jumlah komisaris independen total anggota dewan komisaris
Rasio
Ukuran Dewan Komisaris (COM)
Ukuran dewan = jumlah dewan
komisaris Nominal
Ukuran perusahaan
(SIZE) Ukuran perusahaan = log (total asset) Nominal Profitabilitas (PROFIT) ROA = laba bersih setelah pajak
total asset Rasio
Leverage(LEV) Debt ratio= total kewajiban
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Deskripsi Objek Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2009 sampai 2011. Perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini termasuk dalam sektor industri manufaktur. Hal ini dipilih karena pertimbangan jumlah perusahaan yang masuk dalam kategori industri manufaktur paling banyak dibandingkan dengan industri lain di BEI. Dengan demikian, industri manufaktur mampu mewakili perusahaan-perusahaan dari industri lain yang terdaftar di BEI. Selain itu, industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang paling diminati oleh kalangan investor seiring mulai pulihnya perdagangan internasional (www.imq21.com). Sehingga industri ini menjadi sorotan bagi para investor dalam menanamkan investasinya.
Periode pengamatan dalam penelitian ini adalah 3 tahun yaitu tahun 2009, 2010, dan 2011. Penggunaan data yang up to date juga diharapkan mampu menggambarkan kondisi pada saat ini sehingga lebih relevan dengan tahun penelitian.
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia diklasifikasikan berdasarkan jenis produk yang dihasilkan, antara lain:
a. Industri Dasar dan Kimia, meliputi: 1) Industri semen
2) Industri keramik, porselen dan kaca 3) Industri logam dan sejenisnya 4) Industri kimia
5) Industri plastik dan kemasan 6) Industri pakan ternak
7) Industri kayu dan pengolahan 8) Industri pulp dan kertas b. Aneka Industri, meliputi:
1) Industri otomotif dan komponen 2) Industri tekstil dan garmen 3) Industri alas kaki
4) Industri kabel 5) Industri elektronika
c. Industri Barang Konsumsi, meliputi: 1) Industri makanan dan minuman 2) Industri rokok
3) Industri farmasi
4) Indusrti peralatan rumah tangga
2. Deskripsi Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih sampel dengan metode purposive sampling dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah ditentukan (judgement sampling). Sampel yang dipilih oleh peneliti adalah perusahaan yang menyajikan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yaitu dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris, total laba bersih, total asset, dan total kewajiban.
Pertimbangan dalam pemilihan sampel pada umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian, yaitu:
a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2009 sampai 2011
b. Perusahaan menerbitkan serta mempublikasikan laporan keuangan auditan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009, 31 Desember 2010 dan 31 Desember 2011.
c. Laporan tahunan perusahaan manufaktur menggunakan bahasa Indonesia dalam pelaporan keuangannya dan mata uang rupiah dalam pelaporan unit moneternya.
d. Perusahaan listing atau terdaftar di BEI dari awal periode pengamatan dan tidakdelistingsampai akhir periode pengamatan. Tabel 4.1 di bawah ini menyajikan proses seleksi sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dalam penelitian ini.
Tabel 4.1 Proses Seleksi Sampel
No Kriteria Pelanggaran
Kriteria Jumlah 1. Total perusahaan manufaktur yang listing di
BEI tahun 2009-2011
131 2. Perusahaan yang melaporkan laporan
keuangan periode 2009-2011
(64) 67
3. Laporan keuangan perusahaan untuk tahun yang berakhir 31 Desember
(1) 66
4. Laporan keuangan menggunakan bahasa Indonesia dan mata uang rupiah dalam pelaporan keuangannya
(8) 58
Jumlah sampel yang memenuhi kriteria 58
Tahun pengamatan 3
Jumlah total sampel 174
Sumber : Data Diolah
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa total perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI berjumlah 131. Namun, berdasarkan hasil seleksi sampel hanya ada 58 perusahaan manufaktur. Periode pengamatan yang diambil oleh peneliti adalah 3 (tiga) tahun, yaitu tahun 2009, 2010, dan 2011. Jadi, total sampel yang diteliti sebanyak 174 data laporan tahunan perusahaan manufaktur.
Dari proses seleksi sampel tersebut diperoleh perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Tabel 4.2 menyajikan daftar nama perusahaan sampel.
Tabel 4.2
Daftar Nama Perusahaan Sampel
No Nama Perusahaan Kode
1. PT Akasha Wira International Tbk ADES
2. PT Polychem Indonesia Tbk ADMG
3. PT Alaska Industrindo Tbk ALKA
4. PT Alumindo Light Metal Industry Tbk ALMI
5. PT Asahimas Flat Glass Tbk AMFG
6. PT Argo Pantes Tbk ARGO
7. PT Arwana Citra Mulia Tbk ARNA
8. PT Astra International Tbk ASII
9. PT Astra Auto Part Tbk AUTO
10. PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk BIMA
11. PT Indo Kordsa Tbk BRAM
12. PT Berlina Tbk BRNA
13. PT Beton Jaya Manunggal Tbk BTON
14. PT Budi Acid Jaya Tbk BUDI
15. PT Delta Djakarta Tbk DLTA
16. PT Darya Varia Laboratoria Tbk DVLA 17. PT Ever Shine Textile Industry Tbk ESTI
18. PT Eterindo Wahanatama Tbk ETWA
19. PT Fajar Surya Wisesa Tbk FASW
20. PT Gudang Garam Tbk GGRM
21. PT Gajah Tunggal Tbk GJTL
22. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk HMSP 23. PT Champion Pasific Indonesia Tbk IGAR 24. PT Inti Keramik Alam Asri Industri Tbk IKAI
25. PT Indofarma Tbk INAF
26. PT Indal Aluminium Industry Tbk INAI 27. PT Indofood Sukses Makmur TbK INDF
28. PT Indospring Tbk INDS
29. PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk INTP
30. PT Jembo Cable Company Tbk JECC
31. PT Kimia Farma Tbk KAEF
32. PT KMI Wire and Cable Tbk KBLI
33. PT Kertas Basuki Rahmat Indonesia Tbk KBRI 34. PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk KIAS
35. PT Kalbe Farma Tbk KLBF
36. PT Krakatau Steel Tbk KRAS
No Nama Perusahaan Kode 39. PT Multistrada Arah Sarana Tbk MASA
40. PT Merck Tbk MERK
41. PT Multi Bintang Indonesia Tbk MLBI 42. PT Pelat Timah Nusantara Tbk NIKL 43. PT Prima Alloy Steel Universal Tbk PRAS
44. PT Prashida Aneka Niaga Tbk PSDN
45. PT Pyridam Tbk PYFA
46. PT Bentoel International Investama Tbk RMBA
47. PT Siearad Produce Tbk SIPD
48. PT Sekar Laut Tbk SKLT
49. PT Holcim Indonesia Tbk SMCB
50. PT Selamat Sempurna Tbk SMSM
51. PT Suparma Tbk SPMA
52. PT Sunson Textile Manufacturer Tbk SSTM
53. PT Mandom Indonesia Tbk TCID
54. PT Trias Sentosa Tbk TRST
55. PT Tempo Scan Pasifik Tbk TSPC
56. PT Unilever Indonesia UNVR
57. PT Voksel Electric Tbk VOKS
58. PT Yana Prima Hasta Persada Tbk YPAS Sumber : Data Diolah
B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini diuji dengan model regresi berganda. Tujuannya adalah memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen (corporate governance dan karakteristik perusahaan) terhadap variabel dependen yaitu pengungkapan sukarela (voluntary disclosure).
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Uji data statistik deskriptif menggambarkan kualitas data penelitian yang tercermin pada nilai mean dan standar deviasi. Apabila nilai mean lebih besar daripada standar deviasi maka kualitas data
dapat dikatakan baik. Deskripsi variabel penelitian mengenai pengungkapan sukarela laporan tahunan, proporsi dewan komisaris independen, ukuran dewan komisaris, ukuran perusahaan, profitabilitas danleveragedapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation IND 174 .25000 1.00000 .4328107 .14366080 COM 174 2 11 4.57 1.909 SIZE 174 10.84376 14.18617 12.1362773 .68684715 PROFIT 174 -.61852 .41620 .0838103 .11031604 LEV 174 .07391 3.21000 .5103084 .40469409 VD 174 .49000 .79000 .6539655 .05910526 Valid N (listwise) 174
Sumber : Data Diolah (Output SPSS 20.0)
Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa variabel pengungkapan sukarela atau voluntary disclosure (VD) memiliki nilai rata – rata sebesar 0,6539 lebih besar dibandingkan standar deviasinya yaitu 0,059. Variabel proporsi dewan komisaris independen (IND) menunjukkan rata – rata 0,4328 lebih besar dibandingkan dengan standar deviasinya sebesar 0,1436. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara rata-rata perusahaan sampel telah memenuhi syarat minimal 30% anggota dewan komisaris independen sesuai peraturan Bapepam. Variabel jumlah dewan komisaris (COM) menunjukkan rata – rata
4,57 lebih besar dibandingkan dengan standar deviasinya sebesar 1,909. Variabel ukuran perusahaan (SIZE) menunjukkan rata – rata 12,136 dan variabel leverage menunjukkan rata-rata sebesar 0,5103. Sedangkan variabel profitabilitas memiliki mean 0,0838 lebih kecil dibandingkan dengan standar deviasinya sebesar 0,1103. Hal ini menunjukkan kualitas data profitabilitas kurang baik.
Pada variabel pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan (VD) yang minimum adalah 0,49 atau 49% yang diperoleh PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) untuk tahun 2009, sedangkan tingkat pengungkapan sukarela maksimal diperoleh PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) sebesar 79% pada tahun 2011. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sudah melakukan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) atas laporan tahunan perusahaan. Namun, perusahaan masih menimbang antara cost and benefit atas kebijakannya dalam melakukan pengungkapan sukrela. Manajemen perusahaan akan melakukan pengungkapan yang lebih luas apabila benefit (manfaat) yang didapatkan lebih besar dari biaya pengungkapan (cost) informasi itu sendiri. Biaya pengungkapan informasi yang harus dikeluarkan perusahaan terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung meliputi biaya