• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

4.3 Hasil Analisis Model Permintaan dan Penawaran Kedelai Provinsi

4.3.2 Uji Asumsi Klasik Model Permintaan dan Penawaran

Provinsi Sumatera Utara

Setelah ditetapkan bahwa metode yang dipakai untuk menduga model adalah 2SLS maka tahap selanjutnya dilakukan adalah melakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik digunakan agar asumsi-asumsi yang diasumsikan dalam melakukan regresi tidak menyimpang dari asumsi BLUE (Best, Linear, Unbiased dan Estimator).

Berdasarkan pengujian yang dilakukan baik pengujian Normalitas (dengan metode histogram), pengujian autokorelasi (dengan serial correlation LM Test), dan pengujian multikolinearitas (dengan spasial korelasi) dapat disimpulkan bahwa baik persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara maupun persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara tidak menyimpang dari asumsi BLUE (Best, Linear, Unbiased dan Estimator). Sehingga layak digunakan untuk mengestimasi faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan penjelasan sebagai berikut :

4.3.2.1 Hasil Pengujian Normalitas Model Persamaan Permintaan dan Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Uji Normalitas dilakukan dengan menggunakan eviews 8 dengan metode Histogram. Widarjono, (2013) menyatakan bahwa apabila Prob. JB pada model > 0.05 maka model yang diuji tidak mengalami masalah normalitas disebabkan residual terdistribusi Normal. Tabel Hasil pengujian normalitas pada persamaan permintaan dan penawaran kedelai disajikan pada tabel 3.

Hasil pengujian normalitas pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) disajikan pada Lampiran 1. Berdasarkan hasil pengujian normalitas nilai probability JB adalah 0.37. Hasil pengujian normalitas pada penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara disajikan pada Lampiran 2. Berdasarkan hasil pengujian, nilai probability JB untuk persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara adalah 0.37.

Setelah dilakukan pengujian baik pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara maupun persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa seluruh persamaan terdistribusi normal dan memenuhi asumsi klasik (Normalitas).

Tabel 4. Tabel Hasil Pengujian Normalitas Model Persamaan Permintaan dan Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Persamaan Nilai Prob

JB Kesimpulan

Permintaan 0.23 Residual Terdistribusi Normal

Penawaran 0.37 Residual Terdistribusi Normal

4.3.2.2 Hasil Pengujian Autokorelasi Model Persamaan Permintaan dan Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak eviews 8. Pada perangkat lunak yang dipakai (eviews 8) pengujian autokorelasi diuji dengan serial correlation LM Test, dimana nilai Prob. Chi-Square Obs*R-Squared pada model dibandingkan dengan refrensi α sebesar 0.05. Menurut Widarjono, (2013) Prob. Chi-Square Obs*R-Squared pada model > 0.05 maka model yang diuji tidak mengalami masalah autokorelasi. Ringkasan hasil pengujian autokorelasipada model persamaan dan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara disajikan pada tabel 4.

Tabel 5. Ringkasan Hasil Pengujian Autokorelasi Model Permintaan Dan Penawaran Kedelai Prov. Sumatera Utara

Persamaan Prob Chi-Square (2) Kesimpulan

Permintaan 0.07 Tidak Terjadi Autokorelasi

Penawaran 0.28 Tidak Terjadi Autokorelasi

Sumber : Lampiran 3, Lampiran 4

Hasil pengujian Autokorelasi pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara disajikan pada Lampiran 3. Berdasarkan hasil dari pengujian autokorelasi pada permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara menujukkan bahwa nilai dari Prob. Chi-Square Obs*R-Squared bernilai 0.0732. Hasil ini menunjukkan bahwa model permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara tidak mengalami masalah Autokorelasi.

Hasil dari pengujian autokorelasi pada penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (Lampiran 4) menujukkan bahwa nilai dari Prob. Chi-Square (2) Obs*R-Spuared dari model permintaan bernilai 0.28. Hasil ini menunjukkan

bahwa model penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara tidak mengalami masalah Autokorelasi.

Setelah dilakukan pengujian baik pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara maupun persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa seluruh persamaan tidak terjadi autokorelasi dan memenuhi asumsi klasik (Autokorelasi).

4.3.2.3 Hasil Pengujian Multikolinearitas Model Persamaan Permintaan dan Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Hasil pengujian multikolinearitas dari model persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara disajikan pada Tabel 5. Persamaan pengujian multikolinearitas persamaan Permintaan (M.1) merupakan regresi TSLS dari variabel permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) terhadap variabel harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), Variabel Jumlah Penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) dan variabel pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP). Nilai koefisien determinasi R2QD (M.1) adalah 0.94%.

Persamaan M.1.1 merupakan hasil regresi dari variabel-variabel penjelas dari Permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) yaitu Harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) terhadap variabel penjelas lain seperti Jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) dan pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara PKP. Koefisien determinasi dari M.1.1 adalah 0.32 (hasil estimasi disajikan pada (lampiran 7).

Persamaan M.1.2 merupakan hasil regresi dari variabel-variabel penjelas dari QD yaitu JPSU terhadap variabel penjelas lain seperti HKDSU dan PKP.

Koefisien determinasi dari M.1.2 adalah 0.79 (hasil estimasi disajikan pada lampiran 8).

Persamaan M.1.3 merupakan hasil regresi dari variabel variabel penjelas dari QD yaitu PKP terhadap variabel penjelas lain seperti JPSU dan HKDSU. Koefisien determinasi dari M.1.3 adalah 0.78 (hasil estimasi disajikan pada lampiran 9).

Bedasarkan nilai-nilai dari M.1, M.1.1, M.1.2, M.1.3 didapatkan kesimpulan bahwa pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara tidak terjadi multikolinearitas. Hal ini ditandai dengan nilai koefisien determinasi variabel dependen lebih besar dari koefisen determinasi variabel-variabel independennya (M1 > M.1.1, M.1.2, M.1.3).

Tabel 6. Tabel Hasil Pengujian Multikolinearitas Model Persamaan Permintaan Kedelai Provinsi Sumatera Utara

No PERSAMAAN R2

M.1 QD = f(HKDSU, JPSU,PKP) 0.94

M.1.1 HKDSU = f(JPSU,PKP) 0.32

M.1.2 JPSU = f(HKDSU,PKP) 0.79

M.1.3 PKP = f(HKDSU, JPSU) 0.78

Lampiran 7, Lampiran 8, Lampiran 9.

Hasil pengujian multikolinearitas dari model persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara disajikan pada tabel 7. Persamaan pengujian multikolinearitas persamaan penawaran (M.2) merupakan regresi dari variabel penawaran (QS) terhadap variabel harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), variabel harga riil Jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) dan luas lahan panen kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU). Nilai koefisien determinasi R2QS adalah 0.97.

Persamaan M.21 merupakan hasil regresi dari harga riil kedelai terhadap variabel harga riil jagung (HJG) dan luas areal panen jagung (LPKSU). Hasil regresi dari M.2.1 adalah 0.46 (hasil estimasi disajikan pada lampiran 10).

Persamaan M.2.2 merupakan hasil regresi dari variabel-variabel penjelas dari QS yaitu harga riil jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) terhadap variabel penjelas lain seperti Harga riil Kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) dan luas areal panen kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU). Koefisien determinasi dari M.2.2 adalah 0.44 (hasil estimasi disajikan pada lampiran 11).

Persamaan M.2.3 merupakan hasil regresi dari variabel variabel penjelas dari QS yaitu luas areal panen kedelai kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) terhadap variabel penjelas lain seperti harga riil jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) dan harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU). Koefisien determinasi dari M.2.3 adalah -3.73 (hasil estimasi disajikan pada lampiran 12).

Bedasarkan nilai-nilai dari M.2, M.2.2, M.2.3 didapatkan kesimpulan bahwa pada persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara tidak terjadi multikolinearitas. Hal ini ditandai dengan nilai koefisien determinasi variabel dependen lebih besar dari koefisen determinasi variabel-variabel independennya (M2 > M.2.1, M.2.2, M.2.3). Sehingga dapat disimpulakan baik pada persamaan permintaan (M.1) maupun penawaran (M.2) tidak terjadi masalah multikolinearitas.

Setelah dilakukan pengujian baik pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara maupun persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa seluruh persamaan tidak terjadi multikoliniearitas dan memenuhi asumsi klasik (multikoliniearitas).

Tabel 7. Tabel Hasil Pengujian Multikolinearitas Model Persamaan Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

No PERSAMAAN R2

M.2 QS = f{HKDSU, HJG, LPKSU} 0.97

M.2.1 HKDSU = f{HJG, LPKSU } 0.46

M.2.2 HJG = f{HKDSU, LPKSU } 0.44

M.2.3 LPKSU = f{ HKDSU, HJG} -3.73

Lampiran 10, Lampiran 11, Lampiran 12.

4.3.3 Intepretasi dan Evaluasi Model Permintaan dan Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Hasil estimasi sistem persamaan permintaan dan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara disajikan pada Lampiran 13. Hasil pedugaan model permintaan dan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara menunjukan nilai koefisien determinasi masing-masing persamaan dalam model secara keseluruhan cukup kuat 0.94-0.97, dimana kedua persamaan yang diuji memiliki nilai koefisien lebih dari 0.67. Menurut Chin (1998) suatu model dikatakan kuat apabila koefisien determainasi terdapat pada rentang 0.67 hingga 1.00. Selanjutnya akan dibahas estimasi dari parameter-parameter yang mempengaruhi permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara maupun penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara.

4.3.3.1 Interpretasi dan Evaluasi Model Permintaan Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Estimasi dilakukan pada persamaan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) dengan variabel independen harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP), dan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) dengan variabel instrumen/predeterminan antara lain, pendapatan perkapita Provinsi Sumatera

Utara (PKP), Harga riil Jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG), jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU), luas area panen kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) dengan metode Two Stage Least Square (TSLS). Hasil estimasi adalah sebagai berikut :

QD = -66508.25 - 3.779 *HKDSU + 6268.6 *JPSU + 6681.15 *PKP

Prob t : (0.000) (0.637) (0.000) (0.001)

R2= 0,94 Prob F= 0.000

4.3.3.1.1 Hasil Estimasi dan Interpretasi Uji F Model Permintaan Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Nilai dari prob F pada persamaaan permintaan adalah 0.000 hal ini menandakan bahwa keseluruhan variabel independen (harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP), dan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) berpengaruh terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD).

4.3.3.1.2 Hasil Estimasi dan Interpretasi Koefisien Determinasi Model Permintaan Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Nilai dari koefisien determinasi dari persamaan permintaan bernilai 0.94. Nilai ini mengandung arti bahwa jumlah permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) mampu dijelaskan oleh variasi faktor-faktor independen yaitu harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP), dan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) sebesar 94% dan sisanya sebesar 6% dijelaskan oleh variabel lain diluar persamaan.

4.3.3.1.3 Hasil Estimasi dan Interpretasi Koefisien Regresi Pada Model Permintaan Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Variabel harga kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) berpengaruh negatif terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) sesuai dengan hipotesis. Pengaruh negatif ini dapat dilihat dari nilai koefisen regresi yang lebih kecil dari nol yaitu -3.779. Berdasarkan koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa apabila harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) naik sebesar seribu rupiah akan menurunkan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) sebesar 3,779 ton. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Desai (2010) dimana permintaan untuk produk pertanian dipengaruhi oleh harga komoditas. Secara umum senakin tinggi harga, semakin rendah jumlah yang diminta.

Variabel jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) berpengaruh positif terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) sesuai dengan hipotesis. Pengaruh positif ini dapat dilihat dari nilai koefisen regresi yang lebih besar dari nol. Berdasarkan koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa apabila jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) naik sebesar satu juta jiwa akan meningkatkan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) sebesar 6,268 ton. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Menurut Pratama & Mandala (2002), dimana pada suatu tingkat harga, peningkatan jumlah penduduk akan menyebabkan jumlah permintaan terhadap suatu komoditi akan meningkat.

Variabel pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP) berpengaruh positif terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) sesuai dengan hipotesis. Pengaruh positif ini dapat dilihat dari nilai koefisen regresi yang lebih besar dari nol. Berdasarkan koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa apabila pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP) naik sebesar satu juta rupiah

akan meningkatkan permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) sebesar 17.293 ton. Hasil ini sesuai dengan beberapa pendapat Gorman (2009), menyebutkan bahwa faktor-faktor yang memepengaruhi permintaan adalah pendapatan, selain yaitu harga barang itu sendiri, harga barang dan jasa lainnya preferensi dan persepsi akan harga di masa depan. Menurut Pratama & Mandala (2002) juga berpendapat bahwa penigkatan permintaan suatu komoditas terjadi dikarenakan perubahan tingkat pendapatan konsumen dimana dengan meningkatnya pendapatan akan menyebabkan permintaan terhadap suatu barang bertambah. Sebaliknya dengan menurunnya pendapatan konsumen maka permintaan untuk barang tersebut berkurang. Pada produk-produk pertanian seperti kedelai, Desai (2010) menjelaskan salah satu faktor penting yang mempengaruhi permintaan untuk komoditas pertanian adalah pendapatan rumah tangga. Ketika pendapatan per kapita mengalami peningkatan, masyarakat cenderung akan menambah konsumsinya sehingga kebutuhan akan bahan pangan pagan seperti kedelai atau demand kedelai akan meningkat..

4.3.3.1.4 Hasil Estimasi dan Interpretasi Uji t Model Permintaan Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Variabel harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) berpengaruh secara tidak signifikan terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) pada taraf kepercayaan (α) 5%. Kesimpulan ini dapat dilihat dari prob-t harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) yang bernilai lebih besar dari 0.05 yaitu 0.637. Harga riil kedelai tidak mempengaruhi naik turunnya permintaan terjadi akibat sifat kedelai merupakan bahan makanan pokok utama di Indonesia Sehingga kenaikan atau penurunan harga tidak terlalu mempengaruhi permintaan

terhadap komoditas kedelai. Selain itu, kedelai sebagai bahan baku untuk industri pangan seperti tahu, tempe dan banyak bentuk lain. Kedelai merupakan komoditas bahan pokok yang tidak bisa digantikan oleh komoditas lain (minim komoditas substitusi) sehingga meskipun harga mengalami kenaikan maka kebutuhan demand kedelai harus tetap dipenuhi hal ini membuat kedelai tidak terlalu dipengaruhi harga hingga pada tingkat harga tertentu. Hasil harga kedelai yang tidak signifikan terhadap permintaan juga terjadi di Samarinda (Rohana, 2008), Jawa Tengah (Sahara, 2004) dan di Jawa Timur (Fahma, 2007)

Variabel jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) pada taraf kepercayaan (α) 5%. Kesimpulan ini dapat dilihat dari prob-t jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU) yang bernilai lebih kecil dari 0.05 yaitu 0.000. Hal ini sesuai dengan keadaan nyata dimana pada dasarnya setiap orang membutuhkan pangan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Kedelai merupakan masyarakat Indonesia dan Sumatera Utara yang sangat umum yang dikonsumsi dalam banyak varian produk dan merupakan sumber protein nabati utama bagi masyarakat golongan bawah sehingga pertambahan dan penurunan jumlah penduduk sangat mempengaruhi banyaknya permintaan kedelai . Hal ini juga dikemukakan oleh Adetama (2011) dan Setiabekti (2013).

Variabel pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP) berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan kedelai Provinsi Sumatera Utara (QD) pada taraf kepercayaan (α) 5%. Kesimpulan ini dapat dilihat dari prob-t pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP) yang bernilai lebih kecil dari 0.05 yaitu 0.001. Ketika pendapatan per kapita mengalami peningkatan,

masyarakat cenderung akan menambah konsumsinya baik secara kuantitas maupun kualitasnya penambahan kuantitas secara langsung keragaman produk-produk berbasis kedelai dan penambahan kualitas membuat perubahan pola pangan dari pola pangan karbohidrat tinggi protein rendah menjadi pangan karbohidrat rendah dengan protein tinggi hal ini juga mempengaruhi permintaan kedelai. Hal ini membuat peningkatan pendapatan berpengaruh signifikan terhadap permintaan kedelai. Pendapatan perkapita mempengaruhi permintaan kedelai secara signifikan juga dikemukakan oleh Widjayanti (2005) dan Setiabekti (2013).

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang menyebabkan peningkatan permintaan adalah peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat Provinsi Sumatera Utara. Permintaan permintaan kedelai harus disikapi dengan positif dimana permintaan kedelai yang terus meningkat harus dilihat sebagai peluang pasar yang menjanjikan yang diperlukan untuk pergerakan ekonomi, sumber pendapatan masyarakat yang pada akhirnya diharapkan terwujudnya peningkatan kesejahtraan masyarakat.

4.3.3.2 Interpretasi dan Evaluasi Model Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Estimasi dilakukan pada persamaan penawaran (QS) dengan variabel independen harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), harga riil jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) sebagai substitusi kedelai, dan luas areal panen Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) dengan variabel instrumen/predeterminan antara lain, pendapatan perkapita Provinsi Sumatera Utara (PKP), jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara (JPSU), luas area panen

kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU). Hasil estimasi adalah sebagai berikut:

QS = -1415.21 + 10.87*HKDSU - 16.23*HJG + 0.96*LPKSU Prob t: (0.000) (0.1919) (0.1865) (0.000)

R2= 0,97 Prob F= 0.000

4.3.3.2.1 Hasil Estimasi dan Interpretasi Koefisien Determinasi Pada Model Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Nilai dari koefisien determinasi dari persamaan permintaan bernilai 0.97. Nilai ini mengandung arti bahwa variasi faktor-faktor independen dalam persamaan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara mampu menjelaskan jumlah penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara sebesar 97% dan sisanya 3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model.

4.3.3.2.2 Hasil Estimasi dan Interpretasi Uji F Pada Model Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Nilai dari prob F pada persamaaan permintaan adalah 0.000 hal ini menandakan bahwa keseluruhan variabel independen yaitu harga riil kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU), harga riil jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG), dan luas areal panen Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) berpengaruh terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS). Kesimpulan ini didapat dari nilai prob F sebesar 0.000 dimana nilai dari Prob F dibawah 0.05.

4.3.3.2.3 Hasil Estimasi dan Interpretasi Koefisien Regresi Pada Model Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Variabel Harga riil Kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) berpengaruh positif terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) sesuai dengan

hipotesis. Pengaruh positif ini dapat dilihat dari nilai koefisen regresi yang lebih besar dari nol. Berdasarkan koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa apabila Harga riil Kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) naik sebesar seribu rupiah akan meningkatkan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) sebesar 10,870 ton. Hal ini sesuai dengan pendapat ahli seperti Desai (2010) yang mengungkapkan bahwa harga merupakan instrumen terpenting yang menentukan keputusan untuk menanam suatu komoditas. Harga sangat berhubungan dengan pendapatan sehingga apabila harga meningkat maka pendapatan meningkat. Peningkatan pendapatan tanpa diikuti oleh peningkatan biaya operasional /ongkos produksi akan meningkatkan keuntungan. Keuntungan merupakan motif petani untuk menanam suatu komoditas pertanian (produksi). Berdasarkan transmisi ini, dapat disimpulkan bahwa apabila apabila harga meningkat penawaran akan meningkat.

Variabel Harga riil Jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) berpengaruh negatif terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) sesuai dengan hipotesis. Pengaruh negative ini dapat dilihat dari nilai koefisen regresi yang lebih kecil dari nol. Berdasarkan koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa apabila Harga riil Jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) naik sebesar seribu rupiah akan menurunkan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) sebesar 16,230 ton. Hal ini sesuai dengan teori, dimana dijelaskan oleh Desai (2010) bahwa peningkatan harga barang/komoditas pertanian lain akan membuat komoditas yang harganya relatif tidak meningkat tidak menarik bagi petani. Pada jangka panjang akan merubah pola tanam dari komoditas yang harganya kurang menarik yang pada akhirnya akan menurunkan penawaran. Hal ini membuat apabila harga

jagung sebagai kompetitor dari kedelai meningkat akan menurunkan penawaran kedelai.

Variabel Luas Areal Panen Kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) berpengaruh positif terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) sesuai dengan hipotesis. Pengaruh positif ini dapat dilihat dari nilai koefisen regresi yang lebih besar dari nol. Berdasarkan koefisien regresi dapat disimpulkan bahwa apabila Luas Areal Panen Kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) naik sebesar satu ha akan meningkatkan penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) sebesar 0.96 ton. Hal ini sesuai dengan teori dimana apabila luas panen meningkat akan meningkatkan penawaran suatu produk pertanian (Tambunan, 2003). Luas panen berpengaruh signifikan juga didapat oleh Fahma (2007) dan Hadipurnomo (2000)

4.3.3.2.4 Hasil Estimasi dan Interpretasi Uji t Pada Model Penawaran Kedelai Provinsi Sumatera Utara

Variabel Harga riil Kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) berpengaruh secara tidak signifikan terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) pada taraf kepercayaan (α) 5%. Kesimpulan ini dapat dilihat dari prob-t Harga riil Kedelai Provinsi Sumatera Utara (HKDSU) yang bernilai lebih besar dari 0.05 yaitu 0.1919. Variabel harga kedelai berdasarkan uji statistik tidak berpengaruh terhadap supply kedelai. Hal ini didukung oleh kenyataan di lapangan, dimana petani menganggap kedelai merupakan tanaman selingan yang ditanam setelah jagung atau padi (tergantung pola pergilirannya) sehingga adanya kenaikan atau penurunan harga kedelai tidak mempengaruhi petani dalam menanam kedelai. Hal ini juga dikemukakan oleh penelitian Fahma (2008). Selain itu,

peningkatan ongkos produksi yang selalu meningkat yang tidak diimbangi oleh peningkatan harga kedelai tidak cukup membuat insentif bagi petani untuk menanam kedelai. Faktor lain yang membuat harga kedelai tidak signifikan terhadap penawaran kedelai adalah kedelai bukanlah komoditas pemimpin pasar pada pertanian pangan secara khusus maupun pertanian lain di Sumatera Utara. Harga nominal kedelai selalu dibawah rata-rata nasional. Hal ini mengindikasikan petani kedelai Sumatera Utara tidak sepenuhnya menanam karena motif harga namun pada motif kebiasaan. Harga tidak berpengaruh signifikan terhadap penawaran juga dikemukakan oleh Hadipurnomo (2000), Fahma (2003) dan Al-Mudatsir (2009).

Variabel Harga Riil Jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) berpengaruh secara tidak signifikan terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) pada taraf kepercayaan (α) 5%. Kesimpulan ini dapat dilihat dari prob-t Harga riil Jagung Provinsi Sumatera Utara (HJG) yang bernilai lebih besar dari 0.05 yaitu 0.186. Jagung di banyak penelitian merupakan kompetitor utama dari kedelai di banyak tempat seperti Jawa Timur dan Jawa Barat seperti yang diteliti oleh Gusti (1995), namun pada kasus di Sumatera Utara bahwa pada sentra-sentra kedelai Sumatera Utara seperti Deli Serdang dan Simalungun kompetitor utama dari kedelai dari segi penggunaan lahan adalah tanaman perkebunan dan permukiman. Hal ini membuat harga jagung berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap penawaran kedelai. Sehingga perlu diteliti lebih lanjut bagaimana pengaruh harga komoditas-komoditas perkebunan terhadap penawaran kedelai di Sumatera Utara.

Variabel Luas Areal Panen Kedelai Provinsi Sumatera Utara (LPKSU) berpengaruh secara signifikan terhadap penawaran kedelai Provinsi Sumatera Utara (QS) pada taraf kepercayaan (α) 5%. Kesimpulan ini dapat dilihat dari prob-t Luas Areal Panen Kedelai Provinsi Sumaprob-tera Uprob-tara (LPKSU) yang bernilai lebih kecil dari 0.05 yaitu 0.000. Hal ini sesuai dengan keadaan empiris dimana penurunan luas panen akan mengakibatkan penurunan penawaran secara signifikan. Variabel Luas Areal Panen Kedelai berpengaruh secara signifikan terhadap penawaran kedelai juga pernah dikemukakan oleh Fahma (2003) dan Pratiwi (2008)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling menentukan penawaran kedelai lokal adalah luas areal panen. Luas panen merupakan tantangan yang harus ditanggapi secara positif dengan menemukan strategi dan kebijakan yang tepat.

Peningkatan luas panen kedelai melalui peningkatan mutu intensifikasi dalam peningkatan produktivitas yang sangat berhubungan dengan teknologi dan penambahan baku lahan (PBL) yang erat hubungannya dengan pencetakan lahan baru. Penerapan teknologi ditempuh melalui penerapan panca usaha yang meliputi peningkatan kualitas benih untuk meningkatkan kualitas benih, penerapan mekanisasi pertanian untuk pengolahan tanah yang lebih baik, pengelolaan air yang berwawasan lingkungan, pemakaian pupuk berimbang dan pengendalian hama dan penyakit untuk mempertahankan/ mengamankan luas areal panen.

Penambahan bahan baku lahan (PBL) dilakukan dengan penambahan areal lahan. Hal ini tidak dapat diserahkan pada pasar, hal ini berdasarkan data dimana

Dokumen terkait