• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

D. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Tujuan uji normalitas adalah untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel terikat dan variabel bebas atau keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Deteksi normalitas dilakukan dengan melihat grafik Normal Probability Plot.

Untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak, dapat dilakukan dengan melihat grafik normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Jika data menyebar di sekitar garis dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas tetapi jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau mengikuti arah garis diagonal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada gambar V.1 berikut ini:

Sumber: data primer yang diolah, 2014 Gambar V.1

Sumber: data primer yang diolah, 2014 Gambar V.2 Hasil Uji Normalitas

Pada gambar V.2 dapat dilihat bahwa grafik normal probability plot menunjukkan pola grafik yang normal. Hal ini terlihat dari titik yang menyebar di sekitar grafik normal. Hal ini terlihat dari titik-titik yang menyebar di sekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti garis diagonal. Oleh karena ini dapat disimpulkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi normalitas.

2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinieritas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan toleransinya. Apabila nilai matrik korelasi tidak ada yang lebih besar dari 0,5 maka dapat dikatakan data yang akan dianalisis bebas dari

multikolinieritas. Kemudian apabila nilai VIF berada di bawah 10 dan nilai toleransi mendekati 1, maka diambil kesimpulan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat multikolinieritas. Hasil uji Multikolinieritas dapat dilihat pada tabel V.7 dibawah ini.

Tabel V.11

Hasil Uji Multikolinieritas Collinearity Statistics

Variabel Tolerance VIF

Kompensasi 0,915 1,093

Komunikasi 0,539 1,856

Kondisi Kerja 0,534 1,871

Sumber: Data primer yang diolah, 2014

Berdasarkan tabel V.7 di atas dapat dilihat bahwa model regresi tidak mengalami gangguan multikolinieritas. Hal ini tampak pada nilai tolerance masing-masing variabel di bawah dari 10. Hasil perhitungan VIF juga menunjukkan bahwa nilai VIF masing-masing variabel lebih besar dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel bebas dalam model regresi tersebut.

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah varian dari kesalahan pengganggu konstan untuk semua nilai variabel independen (bebas). Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk melihat gejala heteroskedastisitas dapat dilihat dengan grafik scatterplot. Dasar pengambilan keputusan untuk mendeteksi heteroskedastisitas adalah jika ada pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian

menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas dan jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Sumber: Data primer diolah, 2014 Gambar V.3

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Dari gambar V.3 Scatterplot antara Studentized Residual dan Standardized Predicted Value di atas didapatkan titik-titik menyebar di bawah dan di atas sumbu Y dan tidak membentuk suatu pola tertentu sehingga dapat dianggap variabel bebas di atas tidak terjadi heteroskedastisitas.

a. Pengujian Hipotesis

1) Analisis Regresi Linier Berganda

Tabel V.12 Hasil Uji t Model Unstandarized Coefficients Standarized Coefficients t Sig B Std. Error Beta 1 (constant) 4,754 2,858 1,663 0,103 Kompensasi 1,153 0,156 0,513 7,406 0,000 Komunikasi 0,022 0,128 0,016 0,173 0,863 Kondisi Kerja 0,657 0,101 0,592 6,528 0,000

Sumber: Data primer yang diolah, 2014

Analisis regresi linier berganda ini digunakan untuk mengetahui pengaruh kemampuan, keterampilan dan pengalaman terhadap prestasi kerja karyawan. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda pada tabel di atas diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 4,754 + 1,153 X1 + 0,022 X2 + 0,657X3 Dimana: Y = Kepuasan Kerja X1 = Kompensasi X2 = Komunikasi X3 = Kondisi Kerja

Persamaan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Konstanta b0 = 4,754. Artinya jika kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja nilainya adalah 0, maka diperoleh nilai kepuasan kerja sebesar 4,754 satuan.

 Koefisien kompensasi (X1) = 1,153. Artinya jika kompensasi meningkat sebesar 1 satuan, maka kepuasan kerja akan meningkat sebesar 1,153 satuan, dengan asumsi variabel komunikasi (X2) dan kondisi kerja (X3) besarnya tetap atau konstan. Dengan demikian variabel kompensasi (X1) yang bernilai positif akan mempengaruhi bertambahnya nilai kepuasan kerja karyawan.

 Koefisien komunikasi (X2) = 0,022. Artinya jika komunikasi meningkat sebesar 1 satuan, maka kepuasan kerja akan meningkat sebesar 0,022 satuan, dengan asumsi variabel kompensasi (X1) dan kondisi kerja (X3) besarnya tetap atau konstan. Dengan demikian variabel komunikasi (X2) yang bernilai positif tidak berpengaruh pada nilai kepuasan kerja karyawan.

 Koefisien kondisi kerja (X3) = 0,657. Artinya jika kondisi kerja meningkat sebesar 1 satuan, maka kepuasan kerja akan meingkat sebesar 0,657 satuan, dengan asumsi variabel kompensasi (X1) dan komunikasi (X2) besarnya tetap atau konstan. Dengan demikian variabel kondisi kerja (X3) yang bernilai positif akan mempengaruhi bertambahnya nilai kepuasan kerja karyawan.

2) Uji F

Dalam penelitian ini, uji F digunakan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh variabel-variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen. Untuk melihat seberapa

jauh pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen, maka bisa dilihat pada koefisien determinasi. Rumusan hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

H0 : Variabel-variabel bebas yaitu kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya yaitu kepuasan kerja.

Ha : Variabel-variabel bebas yaitu kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya yaitu kepuasan kerja. Hasil uji F disajikan pada tabel dibawah ini:

Tabel V.13

Hasil Uji Adjusted R Square

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 0,893 0,798 0,785 1,725

Sumber: Data primer yang diolah, 2014

Pada analisis uji koefisien determinasi mengunakan software SPSS 16.0 for windows dapat dikemukakan bahwa nilai Adjusted R square sebesar 0,785 memberikan arti bahwa kontribusi perubahan perubahan dalam kepuasan kerja karyawan yang disebabkan oleh variabel yang terdiri dari kompensasi, komunikasi, dan kondisi kerja sebesar 78,5%. Ini berarti bahwa 78,5% variasi atau naik turunnya nilai kepuasan kerja karyawan dipengaruhi ketiga variabel tersebut diatas, dan sisanya sebesar 21,5 % dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja.

Tabel V.14 Hasil Uji F Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig 1 Regression 539,658 3 179,886 60,479 000 Residual 136,822 46 2,974 Total 676,480 49

Sumber: Data primer yang diolah, 2014

Kriteria pengujian pada uji F yaitu:

Jika nilai signifikansi > 5% maka H0 diterima atau H0 diterima apabila F hitung ≤ F tabel. Diketahui nilai F tabel adalah 4,0427. Jika nilai signifikansi < 5% maka H0 ditolak atau H0 ditolak (Ha diterima) apabila F hitung≥ F tabel.

Berdasarkan hasil uji F pada tabel di atas diperoleh koefisien sebesar 60,479 dengan p-value sebesar 0,000 yang tertera pada tabel Anova. Koefisien inilah yang digunakan untuk menguji keberartian regresi. Nilai Fhitung yang diperoleh menunjukkan nilai yang lebih besar dari Ftabel dan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 5% ( Fhitung > Ftabel; 60,479 > 4,0427 dan 0,000 < 0,05). Hal ini berarti bahwa hipotesa 0 (H0) ditolak sehingga variabel-variabel bebas dalam penelitian ini seperti kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja secara simultan atau bersama-sama mempengaruhi variabel terikatnya (kepuasan kerja).

Pada tabel Model Summary dapat dilihat besarnya pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependennya. Pada kolom R besarnya koefisien korelasi ganda adalah 0.893. Kolom

R Square menunjukkan besarnya koefisien determinasi sebesar 0.798 atau 79,8% . Hal ini menunjukkan bahwa presentase pengaruh variabel independen (kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja) terhadap variabel dependen (kepuasan kerja) sebesar 79,8%. Sedangkan sisanya dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

3) Uji t

Tabel distribusi t dicari pada α = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) = n-2. Maka nilai t tabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2,111. Kriteria pengujian dalam penelitian ini didasarkan oleh:

Apabila nilai thitung > ttabelpada α = 5% maka H0 ditolak Apabila nilai thitung < ttabel pada α = 5% maka H0 diterima

Tabel V.15 Hasil Uji t Model Unstandarized Coefficients Standarized Coefficients T Sig B Std. Error Beta 1 (constant) 4,754 2,858 1,663 0,103 Kompensasi 1,153 0,156 0,513 7,406 0,000 Komunikasi 0,022 0,128 0,016 0,173 0,863 Kondisi Kerja 0,657 0,101 0,592 6,528 0,000

Sumber: Data primer yang diolah, 2014

1. Hasil pengujian Pengaruh Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja (X1)

H0 : Variabel kompensasi tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

Ha : Variabel kompensasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Berdasarkan hasil analisis uji t di atas maka dapat dilihat nilai koefisien thitung lebih besar dari ttabel (7.406 > 2,011) dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak, dapat disimpulkan bahwa kompensasi berpengaruh secara parsial terhadap kepuasan kerja.

2. Hasil pengujian Pengaruh Komunikasi Terhadap Kepuasan Kerja (X2)

Rumusan hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: H0 : Variabel Komunikasi tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

Ha : Variabel komunikasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja Berdasarkan hasil analisis uji t di atas maka dapat dilihat nilai koefisien thitung lebih kecil dari ttabel (0,173 < 2,011) dengan p-value sebesar 0.863 < 0,05. Hal ini berarti bahwa H0 diterima, dapat disimpulkan bahwa komunikasi tidak berpengaruh secara parsial terhadap kepuasan kerja.

3. Hasil pengujian Pengaruh Kondisi Kerja Terhadap Kepuasan Kerja (X3)

H0 : Variabel kondisi kerja tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

Ha : Variabel kondisi kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

Berdasarkan hasil analisis uji t di atas maka dapat dilihat nilai koefisien thitung lebih besar dari ttabel (6.528 > 2,011) dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti bahwa H0 ditolak, dapat disimpulkan bahwa kondisi kerja berpengaruh secara parsial terhadap kepuasan kerja.

4) Pembahasan

Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis pengaruh dari kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja merupakan sikap positif atau negatif yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap pekerjaannya.

Berdasarkan hasil dari analisis, pengaruh kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja terhadap kepuasan kerja dapat diuji melalui uji F dan uji t. Melalui uji F dapat diketahui bahwa variabel– variabel independen (kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja) mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependennya (kepuasan kerja). Hal ini dapat ditunjukkan melalui hasil uji F dengan nilai Fhitung sebesar 60,479 dengan p-value sebesar 0,000. Nilai Fhitung yang diperoleh menunjukkan nilai yang lebih besar dari Ftabel (Fhitung > Ftabel; 60,479 > 4,0427) dan nilai signifikansi

yang lebih kecil dari 5% (0,000 < 0,05), dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel bebas dalam penelitian ini (kompensasi, komunikasi dan kondisi kerja) secara simultan mempengaruhi variabel terikatnya (kepuasan kerja). Sedangkan melalui uji t diketahui bahwa variabel komunikasi tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (kepuasan kerja).

1) Pengaruh Kompensasi Terhadap kepuasan Kerja

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh di PT Madubaru, menunjukkan bahwa kompensasi yang diberikan kepada karyawan divisi SDM & Umum, sekretariat, dan Agro wisata PT Madubaru tergolong baik.

Keterkaitan kompensasi terhadap kepuasan kerja, kepuasan kerja merupakan sikap positif atau negatif yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap pekerjaannya (Greenberg dan Baron, 2003). Kompensasi merupakan pemberian imbalan jasa yang layak dan adil kepada karyawan-karyawan karena mereka telah memberi sumbangan kepada pencapaian organisasi. Dari definisi di atas jika kompensasi karyawan semakin meningkat maka kepuasan kerja karyawan akan meningkat.

Karena koefisien t hitung lebih besar dari ttabel (7.406 > 2,011) dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05. Menunjukkan bahwa pengaruh kompensasi secara parsial terhadap kepuasan kerja

adalah signifikan positif. Hal ini berarti apabila variabel kompensasi diberikan secara layak dan adil maka kepuasan kerja karyawan semakin tinggi.

2) Pengaruh Komunikasi Terhadap kepuasan Kerja

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh di PT Madubaru, menunjukkan bahwa komunikasi karyawan divisi SDM dan Umum, Sekretariat dan Agro wisata PT Madubaru tergolong tidak baik.

Keterkaitan komunikasi terhadap kepuasan kerja, bahwa komunikasi merupakan kegiatan pengiriman dan penerimaan informasi anggota dalam organisasi yang akan dipengaruhi oleh beberapa faktor selama kegiatan tersebut berlangsung.

Karena koefisien thitung lebih besar dari ttabel 0,173 < 2,011 (p-value sebesar 0.863 < 0,05). maka H0 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi tidak berpengaruh secara parsial terhadap kepuasan kerja. Adapun hal yang membuat variabel komunikasi tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan yaitu beberapa responden tidak memahami pernyataan dari kuesioner yang telah dibagikan.

3) Pengaruh Kondisi Kerja Terhadap Kepuasan Kerja

Keterkaitan kondisi kerja terhadap kepuasan kondisi kerja merupakan lingkungan dimana para karyawan melaksanakan

tugas atau pekerjaannya. Kondisi kerja merefleksi pengaruh lingkungan kerja antara lain suara, ventilasi, resiko, penerangan, dan jam kerja. Kondisi kerja juga meliputi peraturan kerja, standar kinerja, waktu istirahat, jadwal kerja, termasuk prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (dalam Burhanudin, 2006:298).

Karena koefisien thitung lebih besar dari ttabel (6.528 > 2,011) dengan p-value sebesar 0,000 < 0,05. Menunjukkan bahwa pengaruh kondisi kerja secara parsial terhadap kepuasan kerja adalah signifikan positif. Hal ini berarti apabila variabel kondisi kerja diberikan secara layak dan baik seperti membuat peredam sauara disetiap ruangan kerja karyawan maka kepuasan kerja karyawan semakin tinggi.

83

BAB VI

Dokumen terkait