METODE PENELITIAN
3.4. Metode Analisis Data
3.4.2. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel penggangu atau residual memiliki distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Uji normalitas dapat dilakukan dengan melihat grafik histogram dari residualnya. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas (Priyatno, 2011).
3.4.2.2. Uji Heteroskedasitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual jawaban responden satu ke responden yang lain. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Adapun cara mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dengan cara melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel tersebut dengan residualnya, dengan dasar analisis:
a. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang menyebar kemudian menyempit) maka mengindikasikan terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Priyatno, 2011).
3.4.2.3. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas digunakan untuk menunjukkan adanya hubungan linier di antara variabel-variabel bebas dalam model regresi. Semakin kecil korelasi diantara variabel bebasnya, maka semakin baik model regresi yang akan diperoleh (Priyatno, 2011).
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari besarnya nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor) melalui program SPSS. Tolerance mengukur variabilitas variabel terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai umum yang biasa dipakai adalah nilai
Tolerance ˃ 0,1 atau nilai VIF < 10, maka tidak terjadi multikolinearitas
(Sumodiningrat, 2001).
3.4.2.4. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah keadaan dimana variabel gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan variabel yang pada periode lain, dengan kata lain variabel gangguan tidak random. Akibat dari adanya autokorelasi adalah parameter yang diestimasi menjadi bias dan variannya minimum, sehingga tidak efisien, (Gujarati, 2003). Untuk menguji ada tidaknya autokorelasi salah satunya dilihat dalam pengujian terhadap nilai Durbin Watson (Uji DW) yang dibandingkan dengan nilai dtabel.
Pengujian Hipotesis 2 3.4.2 Skala Likert
Persepsi nelayan terhadap program bantuan pemerintah dianalisis dengan metode analisis skala likert, yaitu mengelompokkan variabel dengan menjumlahkan skor dari nilai seperangkat variabel yang bersangkutan berupa pernyataan positif dan
pernyataan negatif. Adapun skor untuk pernyataan positif adalah SS = 5, S = 4, R = 3, TS = 2, dan STS = 1, sedangkan untuk pernyataan negatif adalah SS = 1, S = 2, R = 3, TS = 4, dan STS = 5 Pengelompokan variabel dapat dilhat pada berikut ini.
Tabel 3.4 Pengelompokan Variabel Pernyataan Positif dan Negatif
No.
Pernyataan Positif Pernyataan Negatif 1 Saya mengetahui dengan baikprogram pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nelayan.
Saya merasa program bantuan yang diberikan pemerintah tidak terlalu berpengaruh terhadap pendapatan saudara
2 Program pemerintah bagi nelayan mampu mengembangkan sektor perikanan di Desa Jaring Halus
Ketentuan untuk mendapatkan bantuan menyulitkan saudara
3 Program pemerintah yang dilakukan mampu memberikan dorongan dan semangat bagi saudara untuk meningkatkan hasil produksi.
Tidak semua nelayan menyukai adanya program bantuan yang diberikan pemerintah.
4 Program pemerintah dapat menjadi alternatif bagi saudara untuk menyelesaikan permasalahan untuk melaut.
Program Dinas Perikanan dan Kelautan yang berjalan tidak sesuai dengan harapan nelayan
5 Saya berharap program pemerintah terus berlanjut
Saya merasa kesulitan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah
6 Saya merasa bantuan dari pemerintah bersifat merata bagi setiap nelayan yang dinyatakan tepat mendapatkan program bantuan
Untuk menjamin kepastian mendapat program bantuan dari pemerintah, saya harus memberikan
“pelancar” bagi oknum terkait di
lembaga pemerintahan terkait 7 Pemerintah transparan dengan
berapa besar jumlah hak yang seharusnya diterima nelayan dari program bantuan yang dicanangkan
Pemerintah tidak mengawasi proses pemberian bantuan hingga sampai ke tangan nelayan
Menurut Azwar (2007), dalam analisis ini responden akan diminta untuk memilih salah satu dari sejumlah kategori yang tersedia dari variabel yang bersangkutan yaitu, Saangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu-Ragu (R), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS), kemudian diukur dengan skala pengukuran persepsi skala Likert dengan rumus :
T = 50 + Keterangan : T = skor standar
X = skor responden pada skala persepsi yang hendak diubah menjadi skor T Xrataan = mean skor kelompok
S = deviasi standar kelompok Kriteria Uji
Jika T ≥ 50, maka persepsi positif
Jika T ≤ 50, maka persepsi negatif
Metode Deskriptif
Metode Deskriptif digunakan untuk memaparkan, program peningkatan pendapatan nelayan apa saja yang dicanangkan dan yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Langkat di Desa Jaring Halus. Serta untuk memaparkan bagaimana persepsi para nelayan terhadap program-program yang telah dijalankan oleh pemerintah tersebut.
1.1Definisi dan Batasan Operasional. 3.5.1 Definisi Operasioanal
Definisi operasional dalam penelitian ini dibuat dengan tujuan agar tidak terjadi kekeliruan dan kesalahpahaman atas penafsiaran dan pengertian dari beberapa istilah dalam penelitian ini.
1. Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya menangkap ikan di laut dengan menggunakan sampan dayung atau biasa nelayan tradisional, perahu motor dan kapal motor.
2. Jam kerja adalah lama waktu nelayan berada di laut (dalam satuan jam). 3. Pendapatan nelayan adalah pendapatan bersih yang dibawa pulang oleh
nelayan yang diperoleh dari hasil penjualan tangkapan/produksi ikan setelah dikurangi modal kerja selama sebulan (satuan Rp.)
4. Harga jual adalah nilai yang diberikan kepada komoditas yang diproduksi oleh nelayan. Nilai yang dimaksudkan adalah dalam satuan rupiah.
5. Modal kerja adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh nelayan dalam proses produksi. Biaya-biaya itu terdiri dari : makan, rokok, minyak solar, minyak bensin, peralatan menangkap ikan (umpan) selama sekali proses produksi atau per trip (satuan Rp.).
6. Tenaga kerja adalah banyaknya orang yang ikut melaut dalam 1 perahu atau kapal motor (satuan jiwa).
7. Pengalaman adalah orang yang sudah menjalani profesi hidupnya sebagai nelayan dalam jangka waktu tertentu (satuan tahun).
8. Teknologi adalah penggunaan alat – alat tangkap modern misalnya perahu motor, troli, jala, dan alat tangkap yang canggih atau alat tradisional seperti
perahu layar / dayung, kail sederhana dan alat tangkap yang masih sangat sederhana. Teknologi dibagi 2 jenis ditinjau dari kapasitas kapalnya yaitu kapasitas 4 GT dan 0 GT. Perbedaan kapasitas kapal ini secara keseluruhan membedakan jenis alat tangkap, jumlah modal dan tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi.
9. Persepsi adalah pengalaman tentang objek (dalam hal ini program bantuan pemerintah), atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
10. Program bantuan pemerintah difokuskan kepada Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaaan (PUMP).