• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Karakteristik Hasil Pengeringan

2.5.2 Uji Densitas

Densitas (ρ) adalah massa atau berat sampel yang terdapat dalam satu satuan volume. Densitas sering disebut sebagai massa jenis atau berat jenis atau biasa juga disebut dengan kerapatan bahan.

Densitas adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi densitas (massa jenis) suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat yang memiliki massa jenis yang berbeda dan satu zat berapapun massanya, berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama (Bahtiar, 2016).

Pada penelitian ini, lobak akan diuji untuk mengetahui berapa densitas dari lobak (sampel) dengan berbagai variasi ketebalan.

14

Universitas Sumatera Utara

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di rumah sendiri, tepatnya di Simpang Empat, Desa Banjar Ganjang, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara.

3.2 BAHAN DAN PERALATAN 3.2.1 Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

1. Aquadest

2. Lobak (Raphanus sativus L.)

3.2.2 Peralatan Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

1. Cutter 2. Gelas Ukur 3. Penggaris Besi 4. Timbangan Elektrik 5. Terpal

3.3 PROSEDUR KERJA 3.3.1 Penyediaan Sampel

Prosedur penyediaan sampel adalah sebagai berikut :

1. Sampel dipotong dengan menggunakan cutter dan diukur dengan penggaris besi. Ukuran sampel adalah panjang 4 cm, lebar 2 cm, dan tebal 0,5; 1,0; dan 1,5 cm.

2. Sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik.

3. Sampel diukur massa jenisnya dengan menggunakan gelas ukur dan aquadest.

4. Dicatat semua data hasil penimbangan dan pengukuran.

3.3.2 Pengeringan Sampel

Prosedur pengeringan sampel adalah sebagai berikut : 1. Sampel yang telah dipotong ditimbang.

2. Sampel yang telah ditimbang diletakkan pada terpal.

3. Terpal diletakkan di dalam ruangan dan di luar ruangan.

4. Dilakukan penimbangan sampel setiap 1 jam sekali.

5. Dicatat semua data hingga sampel mencapai massa konstan.

3.4 FLOWCHART PENELITIAN 3.4.1 Flowchart Penyediaan Sampel

Flowchart proses penyediaan sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.

Gambar 3.1 Flowchart Penyediaan Sampel Selesai

Mulai

Dipotong lobak dengan panjang 4 cm, lebar 2 cm, dan tebal 0,5; 1,0; 1,5 cm

Ditimbang lobak yang telah dipotong

Diukur massa jenis lobak dengan menggunakan gelas ukur dan aquadest

Dicatat semua hasil timbangan dan pengukuran

16

Universitas Sumatera Utara

3.4.2 Flowchart Pengeringan Sampel

Flowchart proses pengeringan sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut.

Gambar 3.2 Flowchart Pengeringan Sampel Mulai

Ditimbang lobak yang digunakan

Sampel diletakkan di atas terpal sebagai alas

Dijemur di dalam ruangan dan di luar ruangan

Ditimbang berat lobak setiap 1 jam

Apakah berat sampel sudah

konstan?

Ya

Tidak

Selesai

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 SIFAT FISIK SAMPEL BERDASARKAN VARIASI UKURAN

Densitas bahan merupakan suatu parameter yang dapat memberikan informasi keadaan fisika suatu bahan. Pada penelitian ini, dilakukan pengukuran densitas pada sampel dengan berbagai variasi ukuran. Masing-masing sampel ditimbang dan diukur volumenya, dimana data yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Identifikasi Sifat Fisik Lobak Sampel Ketebalan

Data berat dan volume dapat memperkirakan berat jenis pada masing-masing sampel. Pada Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa setelah dilakukan penimbangan dan pengukuran, berat jenis keseluruhan diperoleh yaitu sebesar 0,988 gr/ml. Pengukuran densitas berguna untuk membandingkan tingkat pengeringan bahan hasil pertanian lainnya. Semakin kecil densitas suatu bahan yang digunakan, semakin besar penyerapan air oleh bahan (T.Kapasiang, 2017).

4.2 KINETIKA PENGERINGAN

Proses pengeringan lobak dilakukan secara alami dengan kondisi di luar dan di dalam ruangan. Pengeringan dengan kondisi di luar ruangan dilakukan menggunakan bantuan cahaya matahari secara langsung dengan meletakkan sampel pada terpal yang ditempatkan di bawah cahaya matahari secara langsung. Pada pengeringan dengan kondisi di dalam ruangan, sampel dikeringkan di dalam ruangan tertutup yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Pengeringan sampel dilakukan selama 5 jam mulai dari pukul 10.00 - 15.00 WIB dan dilakukan penimbangan berat sampel setiap 1 jam. Setelah jam 15.00 WIB semua sampel disimpan di dalam wadah yang kedap udara dan dilakukan pengeringan keesokannya dengan waktu dan kondisi yang sama seperti hari sebelumnya hingga berat sampel setimbang/konstan.

18

Universitas Sumatera Utara

Untuk kinetika pengeringan, berat sampel yang hilang diukur menggunakan timbangan digital setiap interval waktu yang ditentukan. Berat sampel yang hilang dihitung dengan persamaan :

WL(t) = W(0) – W(t) (4.1)

Dimana :

WL(t) = berat sampel yang hilang pada interval waktu tertentu W(0) = berat awal sampel sebelum dikeringkan

W(t) = berat kering sampel pada interval waktu tertentu (Haryanto, dkk., 2020)

Penelitian ini dilakukan untuk memperkirakan pengurangan massa selama proses pengeringan. Kinetika pengeringan lobak pada hari pertama di luar ruangan dan di dalam ruangan dapat dilihat pada Gambar 4.1.

(a)

(b)

Gambar 4.1 Kinetika Pengeringan Hari Pertama (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Dapat dilihat bahwa selama 5 jam, berat sampel menurun selama proses pengeringan. Pada kondisi luar ruangan, Sampel 1 (tebal 0,5 cm) berat awalnya adalah 4,06 gr sampai lima jam berikutnya beratnya menjadi 1,82 gr. Sampel 2 (tebal 1,0 cm) berat awalnya adalah 6,7 gr sampai lima jam berikutnya beratnya menjadi 3,56 gr. Sampel 3 (tebal 1,5 cm) berat awalnya adalah 10,55 gr sampai lima jam berikutnya beratnya menjadi 6,88 gr. Sedangkan pada kondisi dalam ruangan, Sampel 1 (tebal 0,5 cm) berat awalnya adalah 3,65 gr sampai lima jam berikutnya beratnya menjadi 2,70 gr. Sampel 2 (tebal 1,0 cm) berat awalnya adalah 6,65 gr sampai lima jam berikutnya beratnya menjadi 5,97 gr. Sampel 3 (tebal 1,5 cm) berat awalnya adalah 10,42 gr sampai lima jam berikutnya beratnya menjadi 9,08 gr. Hal ini dapat dilihat bahwa sebagian berat pada sampel telah hilang ke udara yang mana berat yang telah hilang merupakan kadar air pada sampel.

Dari hasil penelitian yang diperoleh, proses pengeringan hari pertama menunjukan penurunan kadar air relatif cepat dan dalam jumlah yang besar. Hal ini disebabkan air yang menguap adalah air bebas yang terdapat dipermukaan bahan (Ridhatullah dan Rosdanelli, 2019). Dan pada hari selanjutnya penurunan kadar air perlahan-lahan menurun hingga mencapai kadar air keseimbangannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju pengeringan terdapat dua faktor, yaitu faktor internal seperti bentuk atau ukuran bahan, dan faktor eksternal seperti suhu, humiditas, kecepatan udara, dan arah udara (Berk, 2018). Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa setiap ketebalan bahan membutuhkan waktu yang berbeda untuk mencapai batas kesetimbangannya. Perbedaan ketebalan bahan lobak menunjukan bahwa semakin tebal bahan, maka waktu pengeringan berlangsung lebih lama. Oleh karena itu, adanya variabel perbedaan ukuran bahan dan waktu mengakibatkan perbedaan kinetika pengeringan untuk setiap sampel.

4.3 KINETIKA PENURUNAN BERAT PERHARI

Penurunan berat pada sampel lobak menunjukan bahwa kadar air akan semakin berkurang hingga pada kesetimbangannya. Kinetika pengeringan mengalami penurunan terhadap waktu. Data pengeringan lobak mulai dari hari pertama sampai akhir proses pengeringan dengan kondisi di luar dan di dalam ruangan dapat dilihat pada gambar Gambar 4.2.

20

Universitas Sumatera Utara

(a)

(b)

Gambar 4.2 Kinetika Pengeringan Perhari (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Penurunan berat lobak perhari di luar dan di dalam ruangan dapat dilihat pada gambar diatas. Gambar 4.2 menunjukan bahwa laju pengeringan pada awal periode mengalami penurunan terhadap waktu. Laju pengeringan yang menurun menjelaskan bahwa air dalam bahan masih berpotensi untuk mengalami penguapan selama periode akhir pengeringan. Hal tersebut terjadi sebab selama proses pengeringan, selain adanya air bebas yang cenderung lebih mudah menguap selama periode awal pengeringan, ada pula air terikat yaitu air yang sulit untuk bergerak naik ke permukaan bahan selama pengeringan sehingga laju penguapan air semakin lama semakin menurun (Humair, 2014).

Pada kondisi luar ruangan, berat sampel 1 konstan pada hari ke-4 dengan berat sebesar 0,22 gr, berat sampel 2 konstan pada hari ke-6 dengan berat sebesar 0,37 gr, dan berat sampel 3 konstan pada hari ke-8 dengan berat sebesar 0,57 gr. Sedangkan pada kondisi dalam ruangan, berat sampel 1 konstan pada hari ke-7 dengan berat

sebesar 0,25 gr, berat sampel 2 konstan pada hari ke-12 dengan berat sebesar 0,37 gr, dan berat sampel 3 konstan pada hari ke-15 dengan berat sebesar 0,54 gr.

Berdasarkan Gambar 4.2 tampak bahwa semakin lama proses pengeringan maka kadar air semakin sedikit atau rendah. Dalam proses pengeringan, semakin lama bahan dikeringkan, maka kadar air dalam bahan akan semakin berkurang sampai suatu batas keseimbangan kebasahan bahan tersebut (Mujumdar, 2010).

Proses pengeringan lobak di luar ruangan memerlukan waktu 4-8 hari untuk mencapai berat konstannya, sedangkan di dalam ruangan memerlukan waktu 7-15 hari untuk mencapai berat konstannya. Hal ini menunjukkan bahwa laju pengeringan berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan yang terdiri dari faktor udara pengering dan sifat bahan. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering adalah suhu, kecepatan volumetrik aliran udara pengering, dan kelembaban udara, sedangkan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan yaitu ukuran bahan, kadar air awal dan tekanan parsial dalam bahan (Subarjo, dkk., 2015).

Di bawah ini dapat dilihat kinetika pengeringan sampel 1 yaitu variabel ukuran 0,5 cm untuk luar ruangan dan dalam ruangan yang ditunjukkan pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Kinetika Pengeringan Sampel 1 (0,5 cm)

Gambar 4.3 menunjukkan perbandingan kinetika pengeringan sampel pada ketebalan 0,5 cm di kondisi luar ruangan dan dalam ruangan. Pengeringan sampel dilakukan selama 5 jam mulai dari pukul 10.00-15.00 WIB dan dilakukan penimbangan berat sampel setiap 1 jam. Setelah jam 15.00 WIB semua sampel disimpan di dalam wadah yang kedap udara dan dilakukan pengeringan keesokannya dengan waktu dan kondisi yang sama seperti hari sebelumnya hingga berat sampel

22

Universitas Sumatera Utara

Gambar 4.4 Kondisi Variasi Pengeringan

Gambar 4.4 menunjukkan variasi pengeringan lobak yang dilakukan dalam penelitian. Variasi yang dilakukan yaitu pengeringan di luar dan dalam ruangan.

Suhu pengeringan yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu sekitar 24-28oC. Pada kondisi luar ruangan, total berat sampel yang hilang dari awal pengeringan sampai akhir pengeringan pada sampel 1 sebesar 3,84 gr, pada sampel 2 sebesar 6,33 gr, dan sampel 3 sebesar 9,98 gr. Sedangkan pada kondisi dalam ruangan, total berat sampel yang hilang dari awal pengeringan sampai akhir pengeringan pada sampel 1 sebesar 3,4 gr, pada sampel 2 sebesar 6,28 gr, dan sampel 3 sebesar 9,88 gr.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan berat total tertinggi terjadi pada kondisi pengeringan luar ruangan. Kondisi terbaik untuk pengeringan bahan adalah kondisi terbuka yang langsung terkena sinar matahari. Selama operasi pengeringan, perpindahan panas dan massa menyebabkan keluarnya air oleh panas yang melewati permukaan sampel. Semakin tinggi suhu udara pengering, maka energi panas yang dibawa udara semakin banyak, sehingga jumlah massa air bahan yang diuapkan semakin besar (Ummah, dkk., 2016).

4.4 KARAKTERISTIK HASIL PENGERINGAN 4.4.1 Bentuk dan Permukaan Sampel

Salah satu perubahan fisik yang penting selama pengeringan adalah pengurangan volume bahan. Kehilangan air dan pemanasan menyebabkan struktur bahan mengalami perubahan bentuk dan pengecilan ukuran. Perubahan fisik pada sampel lobak dapat dilihat pada Gambar 4.5

0

(a) (b)

Gambar 4.5 Bentuk dan Permukaan Sampel (a) Luar Ruangan, (b) Dalam Ruangan

Gambar 4.5 menunjukkan perubahan bentuk dan permukaan sampel sebelum dan setelah pengeringan. Perubahan struktur permukaan sampel seiring dengan keluarnya air dari sampel, mengakibatkan terjadinya penyusutan. Penyusutan merupakan berkurangnya volume, perubahan bentuk, dan meningkatnya kekerasan bahan. Penyusutan dipengaruhi oleh suhu dan kadar air bahan selama pengeringan.

Semakin banyaknya air yang keluar dari dalam bahan maka penyusutan semakin meningkat. Rongga-rongga bahan yang sebelumnya berisi air menjadi saling terhubung dikarenakan proses pengeringan, sehingga permukaan luar bahan akan mengerut ke dalam dan mengalami pengurangan luas permukaan (Putra dan Heru, 2021). Sehingga dapat dilihat bahwa pengeringan memiliki pengaruh besar terhadap tekstur fisik dan warna sampel (Purwanti, dkk., 2017).

4.4.2 Hasil Analisa Uji SEM (Scanning Electron Microscope)

Pengeringan memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap perubahan morfologi permukaan pada lobak yang dikeringkan. Perubahan struktur permukaan pada sampel lobak seiring dengan berkurangnya kandungan kadar air pada lobak menyebabkan perubahan warna sampel menjadi berwarna gelap (kecoklatan) dan terbentuknya kerutan pada permukaan sampel. Perubahan struktur permukaan sampel sebelum dan sesudah dapat dilihat pada Gambar 4.6.

24

Universitas Sumatera Utara

(a) (b)

Gambar 4.6 Hasil Analisa Uji SEM (a) Sebelum Dikeringkan, (b) Sesudah Dikeringkan

Hasil karakteristik SEM sampel lobak dapat dilihat pada gambar diatas.

Sampel yang digunakan dalam uji SEM ini yaitu sampel 1 (tebal 0,5 cm) kondisi pengeringan pada luar ruangan. Gambar 4.6 menunjukkan permukaan lobak sebelum dan sesudah pengeringan. Sebelum pengeringan, permukaan lobak tampak berongga yang berisi air dan setelah dilakukan pengeringan, rongga-rongga lobak yang sebelumnya berisi air menjadi saling terhubung sehingga permukaan luar lobak akan mengerut ke dalam dan mengalami pengurangan luas permukaan (Putra dan Heru, 2021). Pengeringan memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap perubahan permukaan dan warna pada lobak yang dikeringkan. Penyusutan pada bahan selama pengeringan terjadi karena terjadi penguapan air selama proses pengeringan, bersamaan dengan terjadinya perubahan volume pada bahan (Purwanti, dkk., 2017).

4.5 MODEL MATEMATIKA PENGERINGAN

Model kinetika ialah salah satu cara untuk mengontrol proses dan memprediksi kondisi pengeringan seperti apa yang sesuai untuk bahan yang digunakan (Dhanushkodi, dkk., 2016). Model pengeringan yang biasa digunakan pada pengeringan bahan biologi yakni model Newton, model Page, dan model Henderson-Pabis (Mohanty dan Akbari, 2017). Pada penelitian ini nilai MR yang didapatkan sebagai nilai MRexp (Moisture Ratio percobaan) untuk pengeringan lobak. Kemudian dicobakan pada model persamaan kinetika pengeringan yang paling sesuai untuk menggambarkan kinetika pengeringan lobak. Cara penentuan model matematika

pengeringan ini menggunakan software Microsoft Office Excel dengan cara trendline. Bentuk linier dari masing-masing model dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.2 Bentuk Linier Model Kinetika Pengeringan

Nama Model Persamaan Model Bentuk Linier

Newton MR = exp (-kt) ln MR = -kt persamaan dalam tabel 4.2). Untuk model Newton dan Henderson-Pabis digunakan plot ln MR vs t sedangkan untuk model Page digunakan plot ln (-ln MR) vs ln t.

Berdasarkan hasil pengujian trendline pada setiap grafik model pengeringan, diperoleh nilai konstanta yang ada pada masing-masing model serta nilai R2 seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3 Nilai Konstanta dan Koefisien Model Kinetika Pengeringan Model

26 berbeda menunjukkan nilai R2 yang lebih tinggi dibandingkan dengan persamaan model lainnya yaitu model Newton dan Henderson-Pabis. Hal ini menunjukkan bahwa model Page memiliki nilai kesesuaian yang mendekati terhadap pengeringan lobak. Untuk nilai R2 mendekati nilai 1, maka tingkat kesesuaian model pengeringan dengan hasil observasi sangat besar (Clement, dkk., 2009). Dari tabel 4.3 diatas dapat disimpulkan bahwa model page memiliki nilai R2 (Coefficient of Determinat) tertinggi.

4.6 EVALUASI DAN PERBANDINGAN BERBAGAI MODEL KINETIKA PENGERINGAN

Evaluasi berbagai persamaan model kinetika dilakukan dengan melihat seberapa tepatnya prediksi laju pengeringan dengan data aktual yang ada. Prediksi laju pengeringan dihitung menggunakan persamaan yang sudah ditentukan konstanta kinetikanya pada masing-masing model. Berikut merupakan grafik perbandingan prediksi laju pengeringan dengan data aktual pada masing-masing model kinetika.

(a)

(b)

Gambar 4.7 Perbandingan Data Aktual dengan Prediksi Laju Pengeringan Lobak pada Berbagai Persamaan Model Kinetika (a) Luar Ruangan,

(b) Dalam Ruangan

Gambar 4.7 menunjukkan hasil prediksi laju pengeringan lobak di luar dan dalam ruangan pada berbagai model yang dibandingkan dengan data aktual. Model empiris atau analisis statistik dapat diformulasikan untuk menjelaskan mekanisme dasar yang mendasari sistem yang kompleks dan dengan demikian memberikan panduan yang lebih baik dalam proses desain dan kontrol (Shin, dkk., 2008). Gambar 4.7 menunjukkan akurasi berbagai model dalam memprediksi nilai laju pengeringan lobak yang digambarkan pada kedekatan data prediksi pada garis y=x.

Berdasarkan gambar 4.7 diperoleh bahwa prediksi laju pengeringan lobak pada model Newton, Page, dan Henderson-Pabis sama-sama dapat diterima karena nilainya yang hampir mendekati dari data aktual. Model kinetika terbaik yang prediksinya paling mendekati data aktual adalah model Page. Pada kondisi pengeringan di luar ruangan, nilai prediksi yang diperoleh sebesar 0,9731 dan nilai prediksi tersebut mendekati data aktual dengan akurasi 97%. Sedangkan pada kondisi pengeringan di dalam ruangan, nilai prediksi yang diperoleh sebesar 0,9919 dan nilai prediksi tersebut mendekati data aktual dengan akurasi 99%.

Berdasarkan perbandingan tersebut maka model persamaan terbaik dalam mengestimasi laju pengeringan lobak adalah model Page. Berdasarkan gambar 4.7

R² = 0,9377

28

Universitas Sumatera Utara

dapat disimpulkan juga bahwa semua model persamaan cocok untuk memprediksi laju pengeringan lobak.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu:

1. Pengeringan dipengaruhi oleh ukuran bahan dan suhu. Semakin kecil ukuran bahan, laju pengeringan akan semakin cepat. Semakin tinggi suhu, laju pengeringan akan semakin cepat.

2. Laju pengeringan tertinggi terjadi pada kondisi luar ruangan dengan ketebalan 0,5 cm dengan waktu pengeringan 4 hari hingga mencapai berat kesetimbangannya.

3. Berat konstan pada sampel 1, sampel 2, dan sampel 3 pada kondisi luar ruangan masing-masing yaitu 0,22 gr, 0,37 gr, dan 0,57 gr. Dan pada kondisi dalam ruangan yaitu 0,25 gr, 0,37 gr, dan 0,54 gr pada sampel 1, sampel 2, dan sampel 3.

4. Model matematika yang paling sesuai untuk pengeringan lobak dengan variasi ukuran dan kondisi pengeringan ini adalah Model Page.

5. Pengeringan memiliki pengaruh besar terhadap perubahan tekstur fisik dan warna pada sampel.

5.2 SARAN

Saran dari penelitian yang telah dilakukan adalah untuk penelitian selanjutnya:

1. Perlunya dilakukan variasi metode pengeringan lainnya, seperti pengeringan buatan untuk membandingkan dengan pengeringan alami.

2. Disarankan melakukan analisa kualitas sampel untuk mendapatkan pengeringan yang baik dalam proses pengeringan sampel.

3. Disarankan melakukan analisa FTIR agar diketahui perubahan functional group sebelum dan sesudah pengeringan.

30

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA

Atika, Vivin dan Isnaini. 2019. Pengaruh Pengeringan Konvensional terhadap Karakteristik Fisik Indigo Bubuk. ISSN 1693-4393.

Bahtiar, B. 2016. Pengaruh Komposisi Variasi terhadap Densitas dan Kekerasan Pada Manufaktur Keramik Lantai. Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Banihani, Saleem Ali. 2017. Radish (Raphanus sativus) and Diabetes.

Barus, Wan Arfiani; Hadriman Khair dan Hartono Putra Pratama. 2020. Karakter Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Lobak (Raphanus Sativus L.) terhadap Aplikasi Ampas Tahu dan Poc Daun Gamal. ISSN 0852-1077, Vol. 22, No.3.

Berk, Z. 2018. Food Process Engineering and Technology. Departement of Biotechnology and Food Engineering. Israel Institute of Technology.

Clement, Akmel Djedjro, Assidjo N. Emmanuel, Kouame Patrice, dan Yao K., Benjamin. 2009. Mathematical Modelling of Sun Drying Kinetics of Thin Layer Cocoa (Theobroma cacao) Beans. Jounal of Applied Science Reasearch. ISSN 1110-1116.

Dessy, M. P. T. 2016. Pengaruh Ketebalan Terhadap Kinetika Pengeringan Ubi Kayu (Manihot utillisima) Menggunakan Pengering Surya Secara Tidak Langsung (Indirect Solar Dryer) dan Penjemuran Langsung (Open Sun Drying).

Dhanushkodi, S., Vincent H. Wilson, K. Sudhakar. 2016. Mathematical Modeling of Drying Behavior of Cashew in a Solar Biomass Hybrid Dryer. Resource-Efficient Technologies.

Dharma, Made Aditya; K. A Nocianitri dan Ni Luh Ari Yusasrini. 2020. Pengaruh Metode Pengeringan Simplisia terhadap Kapasitas Antioksidan Wedang Uwuh. Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan. ISSN : 2527-8010. Vol. 9, No. 1.

Dzikrulloh, Fariz Al dan Sri Lestari Purnamaningsih. 2020. Interaksi Genotip x Lingkungan pada Tiga Genotip Lobak (Raphanus sativus L.) di Tiga Lokasi.

Jurnal Produksi Tanaman. ISSN: 2527-8452. Vol. 8, No. 2.

Farikhin, Fahrizal. 2016. Analisa Scanning Electron Microscope Komposit Polyester dengan Filler Karbon Aktif dan Karbon Non Aktif. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Guiné, Raquel P. F. 2018. The Drying of Foods and Its Effect on the Physical-Chemical, Sensorial, and Nutritional Properties. International Journal of Food Engineering. Vol. 4, No. 2.

Hariyadi, Tri. 2018. Pengaruh Suhu Operasi terhadap Penentuan Karakteristik Pengeringan Busa Sari Buah Tomat Menggunakan Tray Dryer. Jurnal Rekayasa Proses. Vol. 12, No. 2.

Haryanto, B., Hasibuan, R., Ashari, M., & Ridha, M. 2018. Herbal Dryer: Drying of Ginger (Zingiber officinale) Using Tray Dryer. In IOP Conference Series:

Earth and Environmental Science. Vol. 122, No. 1. IOP Publishing.

Haryanto B., M. B. Tarigan, N. A. S, and R. Bukit. 2020. Stay Home Practical:

Simulation Model on Ginger As the Samples on Dryer Naturally Operation Module. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 1003(1).

Hassan, Aqeel Kareem; Al-Tufaili; Fouad Abbas Salman dan Ihsan. 2019. Genetic Diversity of Some Radish (Raphanus sativus L.) Cultivars Revealed by Sequencing Method. ISSN:0972-5210. Vol. 19, No. 1.

Heselo, Alfius dan Sumiyati Tuhuteru. 2019. Aplikasi Konsentrasi Air Kelapa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Lobak (Raphanus sativus L.).

Jurnal Ilmu Pertanian. ISSN: 2549-8150. Vol. 2, No. 1.

Humair, N. 2014. Kesesuaian Model Pengeringan Lapisan Tipis Kunyit (Curcuma Domestica Val). Skripsi. Program Studi Keteknikan Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian, Makassar: Universitas Hasanuddin.

Kardiman, Marno, dan Jojo Sumarjo. 2018. Analisis Sifat Mekanik terhadap Bentuk Morfologi Papan Komposit Sekam Padi sebagai Material Alternatif Pengganti Serat Kaca. Jurnal Riset Sains dan Teknologi. ISSN: 2549-9750. Vol. 2, No.

1.

Kashaninejad, A. M. Mortazavi, A. Safekordi, dan L.G. Tabil. 2005. Thin-Layer Drying Characteristics and Modeling of Pistachio Nuts. Journal of Food Engineering.

Lee, Dongyoung; Santosh Lohumi; Byoung-Kwan Cho; Seung Hyun Lee dan Hyunmo Jung. 2020. Determination of Drying Patterns of Radish Slabs under

32

Universitas Sumatera Utara

Different Drying Methods Using Hyperspectral Imaging Coupled with Multivariate Analysis.

Lim, G.W., Jafarzadeh, S. dan Norazatul Hanim, M.R. 2020. Kinetic Study, Optimization and Comparison of Sun Drying and Superheated Steam Drying of Asam Gelugor (Garcinia cambogia).

Maia, Ana Heloisa; Manoel Euzébio de Souza; Flaviana Cavalcanti da Silva; Bianca Ferraz Rebelatto; Theylor Oliveira Silva; Victória Santos Souza dan Laura dos Santos Ferreira. 2018. Productivity of Radish Fertilized with Different Doses of Bovine Manure. African Journal of Agricultural Research. Vol. 13.

Marwati, Yuliani, Yulian Andriyani, dan Mentari. 2017. Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Sale Pisang Kapas (Musa

Marwati, Yuliani, Yulian Andriyani, dan Mentari. 2017. Pengaruh Suhu dan Lama Pengeringan terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Sale Pisang Kapas (Musa

Dokumen terkait