TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Sel Fibroblas
2.5.2 Uji Efek Penyembuhan Luka dari Bahan Alam
Berdasarkan penelitian Freiesleben et al., (2017), metode in vitro dalam uji efek penyembuhan luka dari bahan alam dengan menggunakan sel NIH 3T3 dari fibroblas. Sebuah sel monolayer tumbuh dalam medium dilengkapi dengan serum dan lapisan sel digores dengan pipet tip untuk meniru luka. Ekstrak tumbuhan kemudian diuji dalam pengujian untuk melihat apakah bahan tersebut meningkatkan proliferasi dan / atau migrasi sel. Migrasi NIH 3T3 menjadi parameter dalam uji efek penyembuhan luka.
Sel ditanam dalam microplate 24 sumuran selama 24 jam pada suhu 37°C, dengan konsentrasi 7,6 × 104 sel/mL, dan dikultur dalam medium 1 mL yang mengandung serum janin bovine 10% apabila sel monolayer telah dalam kondisi 80% konfluen. Sebuah goresan linier dibuat pada monolayer dengan pipet tip steril (Fastrak, 1250 μL Tip Makro, FR1250, Alpha Laboratories Ltd.), dan mediumnya diganti dengan 500 μL media baru (kelompok kontrol), 20 ng / mL PDGF (kontrol positif), dan ekstrak kasar (10 μg / mL). Percobaan dilakukan dirangkap tiga. Sel-sel diinkubasi pada suhu 37° C selama 21 jam. Tiga gambar difoto dari masing-masing sumuran dibawah mikroskop Leica DMLS pada perbesaran 4x/0,10 sebelum, dan sesudah inkubasi untuk mengukur proliferasi dan/atau migrasi sel. Data dianalisis dengan menggunakan aplikasi Leica.
Nilai proliferasi/migrasi sel dihitung sebagai persen penutupan luka dalam waktu 21 jam. Hasil yang diperoleh ada lima dari tujuh belas tumbuhan yang persen penutupan lukanya lebih dari 120% yaitu ekstrak panas dan dingin dari herba Allophylus spicatus; ekstrak panas daun dan buah Philenoptera cyanescens;ekstrak panas herba Melanthera scandens; ekstrak dingin herba
Universitas Sumatera Utara
24
Ocimum gratissimum; ekstrak panas daun Jasminum dichotomum. Hasil dari penelitian ini hanya lima yang mampu meningkatkan proliferasi dan migrasi fibroblas.
Topman et al., (2012) juga menggunakan metode in vitro dalam uji efek penyembuhan luka dari bahan alam dengan menggunakan sel NIH 3T3 dari fibroblas. Sebuah sel monolayer tumbuh dalam medium dilengkapi dengan serum, dan lapisan sel dirusak dengan mikro indentor logam untuk meniru luka. Medium segera diganti untuk membersihkan dari serpihan. Mikrograf luka (perbesaran 2560x1920; 3 pixels/ µm) akan direkam secara otomatis setiap 2 jam selama 14 jam menggunakan kamera digital (DS-Fi1, Nikon) yang dihubungkan ke mikroskop fase kontras. Ada 5 pengukuran yang dilakukan yaitu tingkat migrasi maksimum (Maximum Migration Rate=MMR), waktu untuk migrasi (Time for Onset of Mass Cell Migration=TOMCM) ketika penutupan luka sekitar 10%, waktu akhir migrasi (Time for End of Mass Cell Migration=TEMCM) ketika penutupan luka sudah 95 %, rata-rata migrasi (Average Migration Rate=AMR) slope antara TOMCM dengan TEMCM, dan integral daerah kurva.
Pengukuran TOMCM satu-satunya cara melihat perbedaan signifikan antara curcumin dan ginger tetapi secara statistik tidak menunjukan perbedaan dengan kontrol. Semua kelompok bahan alam tidak ada perbedaan dengan data kontrol. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bahan alam tersebut tidak mempengaruhi kinematik migrasi fibroblas. Uji penyembuhan luka juga dilakukan secara in vivo.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, madu juga dapat menyembuhkan luka. Madu memiliki kemampuan untuk meningkatkan
Universitas Sumatera Utara
25
pembentukan granulasi jaringan, merangsang pertumbuhan jaringan, mengurangi edema, peradangan, dan meningkatkan sintesis kolagen (Dorai, 2012).
Berdasarkan penelitian Sukur, et al., (2011), menggunakan metode in vivo percobaan dibagi ke dalam tiga kelompok tikus. Kelompok A diinokulasi dengan Pseudomonas aeruginosa, kelompok B diinokulasi dengan Klebsiella pneumoniae, dan kelompok C diinokulasi dengan Acinetobacter baumannii.
Setiap luka diberi madu tualang, gel kitosan, dan hydrofibre silver. Pada hari ke-21, luka yang diobati madu tualang lebih kecil dibanding dengan gel kitosan dan hydrofibre silver. Pemberian topikal madu tualang pada luka bakar yang terkontaminasi dengan P. Aeruginosa dan A. Baumannii menunjukan tingkat penyembuhan luka tercepat dibandingkan dengan obat lain.
Yang et al., (2017) melakukan uji efek penyembuhan luka dari ekstrak Angelica dahurica (Dahurian) and Rheum officinale (Kalembak). Penelitian dilakukan terhadap lima kelompok tikus. Kelompok A diberi normal salin (NS), kelompok B diberi ekstrak Angelica dahurica (AE), kelompok C diberi ekstrak Rheum officinale (RE), kelompok D diberi Ekstrak Angelica dahurica and Rheum officinale (ARE), dan kelompok E diberi Biomisin (BM).
Hasil menunjukan kontraksi luka pada kelompok ARE secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok NS dan BM (P<0,05). Analisis histologis menunjukan infiltrasi sel inflamasi lebih banyak, serat kolagen, dan miofibroblas pada kelompok ARE daripada kelompok NS pada hari ke 3-5. Pada kelompok ARE, kadar plasma IL-6 meningkat selama hari ke 3-5. Kesimpulan dari penelitian ini, ARE mempercepat penyembuhan luka selama fase inflamasi dan proliferasi.
Universitas Sumatera Utara
26
Nevin and Rajamohan (2010) melakukan uji efek penyembuhan luka dari VCO. Penelitian dilakukan terhadap tiga kelompok tikus. Kelompok kontrol, kelompok yang diberi 0,5 ml VCO, dan kelompok ketiga yang diberi 1 ml VCO.
Hasil yang diperoleh, VCO mengobati luka sembuh jauh lebih cepat, seperti yang ditunjukkan oleh penurunan waktu epitelisasi lengkap dan tingkat yang lebih tinggi dari berbagai komponen kulit. Pepsin-larut kolagen menunjukan peningakatan yang signifikan pada luka yang diberi VCO. Aktivitas glikohidrolase juga meningkat karena kadar kolagen meningkat. Aktivitas enzim antioksidan, dan mengurangi glutation, dan malondialdehid ditemukan meningkat pada hari ke-10 setelah melukai tikus, dan kembali normal pada hari ke-14 pada luka yang diobati. Lipid peroksida lebih rendah pada luka yang diobati. Penelitian ini menunjukan adanya peningkatan proliferasi fibroblas dan neovaskularisasi pada luka yang diberi VCO dibandingkan kontrol.
Silalahi and Surbakti (2015) melakukan metode in vivo dengan menggunakan kelinci. Penelitian terbagi dalam 5 kelompok. Kelompok A ialah kelompok kontrol, kelompok B ialah menggunakan bioplacenton® (kontrol positif), kelompok C ialah menggunakan VCO 0% ( tidak terhidrolisis), kelompok D ialah menggunakan VCO terhidrolisis 35%, dan kelompok E ialah menggunakan VCO terhidrolisis 70%. Luka bakar dibuat dengan menempatkan pelat logam panas berdiameter 2 cm. Bahan dioleskan secara topikal ke luka setiap hari sebanyak 0,1 ml. Diameter lesi diukur setiap hari, dan waktu dicatat sampai diameter luka sembuh adalah nol. Hasil penelitian menunjukan proses penyembuhan paling cepat bila diobati dengan VCO terhidrolisis 70% (12 hari), diikuti dengan VCO terhidrolisis 35% (15,5 hari),
Universitas Sumatera Utara
27
VCO tidak terhidrolisis (17,3 hari), Bioplacenton® (18,1 hari), dan waktu penyembuhan terpanjang yang tidak diobati/kontrol negatif (23,5 hari). Ada perbedaan yang signifikan tingkat penyembuhan luka bakar di antara masing-masing perlakuan. Namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol positif (Bioplacenton®) dan VCO 0% (tanpa hidrolisis).
Kemampuan VCO untuk menyembuhkan luka bakar dipercepat dengan meningkatkan derajat hidrolisis parsial VCO menjadi 12 hingga 15 hari.
Hasil penelitian uji efek penyembuhan luka dari berbagai bahan alam dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Efek penyembuhan luka dari berbagai bahan alam
NO Sampel Metode Hasil Referensi
28 dengan obat lain pada hari ke 21.
5 Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil=VCO) lebih besar yang diberi VCO dibandingkan kontrol.
Nevin and Rajamohan (2010)
6 Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil=VCO)
Keterangan: a=in vitro, b=in vivo
Universitas Sumatera Utara
29 2.6 Minyak dan Lemak
Minyak dan lemak memiliki densitas yang lebih rendah daripada air dan mempunyai konsistensi padat, semi padat atau cair pada suhu lingkungan. Jika trigliserida berupa padatan pada suhu ruang normal maka disebut sebagai lemak, dan jika berupa cairan maka disebut sebagai minyak (ISEO, 2016).
Berdasarkan panjang rantai asam lemak maka lemak terbagi menjadi lemak rantai pendek (short chain triglyceride = SCT), lemak rantai sedang (medium chain triglyceride = MCT) Dan lemak rantai panjang (long chain triglyceride = LCT). Contoh SCT ialah cuka, dan mentega. Contoh MCT ialah minyak kelapa, dan minyak inti sawit, sedangkan contoh LCT ialah minyak kelapa sawit, minyak jagung, dll (Fife, 2004; ISEO, 2016).
Pencernaan MCT terjadi di lambung, yang dikatalisis parsial oleh enzim lipase yang terdapat di mulut (lingual lipase) dan lambung (gastric lipase). Hasil hidrolisis MCT yaitu monoasilgliserol dan MCFA kemudian secara cepat diserap melalui mukosa pencernaan. MCFA berikatan dengan serum albumin dan ditransportasikan dalam bentuk asam lemak terlarut, bukan dalam bentuk kilomikron. Kemudian MCFA masuk ke sistem sirkulasi melalui vena porta , dan langsung menuju ke hati untuk dimetabolisme sehingga MCFA tidak terakumulasi dalam jaringan adipise (Man and Manaf, 2006; Rolfes et al., 2009).