• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Heteroskedastisitas

Dalam dokumen ANALISIS PELAYANAN HARGA PROMOSI DAN BRA (Halaman 62-98)

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2006). Deteksi ada tidaknya problem heteroskedastisitas adalah dengan media grafik, apabila grafik membentuk pola khusus maka model terdapat heteroskedastisitas (Ghozali, 2006). Dasar pengambilan keputusan :

a. Jika ada pola tertentu, seperti titik - titik (point - point) yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka telah terjadi Heteroskedastisitas.

b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik - titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas. Tolak Ho bukti autokorelasi Daerah keragu- raguan Daerah keragu- raguan Tolak Ho bukti autokorelasi positif Menerima Ho atau Ho*

3.6.2.3 Uji Multikolinearitas

Penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas adalah penyimpangan yang terjadi antar variabel independen yang terdapat pada model penelitian dan memiliki hubungan yang sempurna atau mendekati sempurna.

Diagnosa secara sederhana terhadap adanya penyimpangan multikolinearitas di dalam model regresi adalah sebagai berikut :

1) Besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas: - Mempunyai nilai VIF di sekitar angka 1.

- Mempunyai angka Tolerance mendekati 1.

2) Mengkorelasikan antara variabel independen, apabila memiliki korelasi yang sempurna (โ‰ฅ 0,5), maka terjadi problem multikolinearitas demikian sebaliknya.

3.6.3 Analisis Regresi Linear Berganda

Alat ini digunakan untuk menjelaskan bentuk hubungan antar dua variabel atau lebih. Analisis ini akan menghubungkan dua jenis variabel pengaruh (variabel bebas diberi notasi X) dan variabel tergantung (variabel tak bebas diberi notasi Y), apabila bentuk hubungan antar variabel bebas dan variabel tak bebas adalah hubungan yang linear, maka regresi ini disebut regresi linear. Jika variabel pengaruhnya terdiri dari satu, maka analisis tersebut disebut regresi berganda. Model regresi linear berganda untuk populasi umum ditunjukkan sebagai berikut :

Keterangan :

Y : Keputusan Pembelian Tiket ฮฑ : Bilangan konstanta

b : Koefisien regresi dari masing - masing variabel (b1, b2,

b3, b4)

X1 : Pelayanan

X2 : Harga

X3 : Promosi

X4 : Brand Image

ยต : Variabel penelitian yang tidak terdeteksi.

Adapun tahapan yang dilakukan dalam menganalisis model regresi linear berganda adalah :

3.6.3.1 Analisis Korelasi

Analisis korelasi menggambarkan keeratan hubungan antara variabel independen (pelayanan, harga, promosi, dan brand image) terhadap variabel dependen (keputusan pembelian tiket kereta api). Rumusnya adalah sebagai berikut :

๐‘Ÿ

๐‘ฅ๐‘ฆ= ๐‘› ๐‘‹๐‘Œโˆ’ ๐‘‹ ๐‘Œ

๐‘› ๐‘ฅ2โˆ’ ๐‘ฅ 2 ๐‘› ๐‘Œ2โˆ’ ๐‘Œ 2

Dalam uji koefisien, jika nilai hasil perhitungan mendekati angka satu (1) berarti terdapat hubungan yang erat antara keseluruhan variabel independen terhadap variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai perhitungan jauh dari angka satu (1) berarti bahwa tidak erat hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen.

3.6.3.2 Pengujian Hipotesis a. Uji Parsial (Uji - t)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Hipotesis nol (Ha) yang hendak diuji adalah apakah suatu parameter (bi) sama dengan nol, atau Ha : bi = 0 yang artinya adalah apakah suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatifnya (Ha) parameter suatu variabel tidak sama dengan nol, atau Ha : bi โ‰  0 yang artinya adalah variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (Kuncoro, 2001). Pengambilan keputusan dengan tingkat signifikansi (ฮฑ) = 0,05 ditentukan sebagai berikut : Dasar pengambilan keputusan ditentukan dengan cara sebagai berikut :

a. Jika tingkat signifikansi t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan

Ha ditolak.

b. Jika tingkat signifikansi t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan

Ha diterima.

b. Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel- variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi- variasi dependen (Kuncoro, 2001).

R2 = r2 X 100%

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan dalam menerangkan variasi variabel dependen. nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu. nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel- variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti dibutuhkan untuk memprediksi variabel- variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (crossection) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing- masing pengamatan, sedangkan untuk data runtut (time series) biasanya mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi (Ghozali, 2005). Untuk mengetahui besarnya variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikatdapat diketahui melalui nilai koefisien determinasi ditunjukkan oleh nilai adjusted r square (R2). nilai adjusted r square dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model.

Rumus perhitungan:

Dimana :

R2 = koefisien determinasi r 2 = koefisien regresi berganda

c. Uji F (Uji Simultan)

Uji F digunakan untuk menganalisis secara simultan atau bersama-sama pengaruh variabel independen (pelayanan, harga, promosi, dan brand image) terhadap variabel dependen (keputusan pembelian tiket kereta api).

Langkah - langkah pengujiannya :

- Menentukan formulasi Ho dan Ha.

Ho : Secara simultan tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel independen (pelayanan, harga, promosi, dan brand image), terhadap variabel dependen (keputusan pembelian tiket kereta api).

Ha : Secara simultan ada pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel independen (pelayanan, harga, promosi, dan brand image), terhadap variabel dependen (keputusan pembelian tiket kereta api).

- Taraf nyata ๏ก = 0. 05 atau 95%. - Derajat kebebasan F tabel (๏ก, k, n โ€“ k).

- Menentukan kriteria pengujian Ho diterima apabila Fhitung < Ftabel

Ha diterima apabila Fhitung > Ftabel

Dimana:

a = 0,05.

K = Jumlah variabel bebas. N = Jumlah sampel.

- Menghitung nilai F dengan rumus (Suharsimi Arikunto,2009:9):

Dimana:

R2 = Koefisien determinasi berganda. N = Jumlah responden.

K = Jumlah variabel bebas. - Kesimpulan

Bila Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak,

berarti secara simultan tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel independen (pelayanan, harga, promosi, dan brand image), terhadap variabel dependen (keputusan pembelian tiket kereta api).

Bila Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima

berarti secara simultan ada pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel independen (pelayanan, harga, promosi, dan brand image), terhadap variabel dependen (keputusan pembelian tiket kereta api).

F = 1 - k - n / R - 1 /k R 2 2

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1 Sejarah Singkat PT. Kereta Api (Persero)

Perkeretaapian di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dalam perkembangannya terbagi dalam tiga fase atau periode, adapun ke tiga fase tersebut sebagai berikut :

1. Zaman Kolonial Belanda

Penyelenggaraan kereta api di Indonesia dimulai pada tanggal 17 Juni 1868 dengan pemasangan lintas pertama yang lebih bersifat komersial di Semarang (Kemijen) dengan pelaksanaannya oleh NISM

(Nederlands Indische Spoorwegh Maatschapy), lintas yang ditempuh pada saat itu Jakarta sampai Surabaya.

Pada tahun- tahun berikutnya dibuka angkutan umum lintas Semarang, Kedung Jati, Gundih, Surakarta, Yogyakarta dan Lempungan, juga Bogor- Jakarta yang selanjutnya diambil alih oleh perusahaan Kereta Api SS (Staart Spoorweg) yang kemudian dilanjutkan ke lintas Bogor, Bandung, Sukabumi, Banjar, Yogyakarta dan Surabaya.

Setelah pemasangan lintas Semarang dan Surabaya, pemerintah mengizinkan modal swasta turut serta mengusahakan pengusaha perkeretaapian di Indonesia. Jumlah perusahaannya adalah 12 perusahaan yang pada umumnya bermotif komersil. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan lintas di Cilele dan Kotaraja (Banda Aceh) yang digunakan untuk perang Aceh, serta pemasangan di Makasar dan Taktar.

Menjelang berakhirnya pemerintahan Belanda, SS daerah Eksploitasi dibagi menjadi SS/GI (Jawa Bagian Timur), SS/WL (Jawa Bagian Barat), Aceh Tram (Aceh), Z. SS (Sumatera Selatan), W. SS (Sumatera Barat) dengan pusatnya di Bandung.

2. Zaman Pendudukan Jepang

Pada zaman ini semua perkeretaapian di Indonesia disatukan dalam satu pimpinan dengan nama RIYUKU dan pembagian daerah operasinya sebagai berikut :

a. Bagian Barat (Seibu Kyucuku) b. Bagian Tengah (Khobu Kyucuku) c. Bagian Timur (Tobu Kyucuku)

Pada masa ini terjadi perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan penetapan hari kereta api. Pengambil alihan dan perebutan pucuk pimpinan kereta api selain dilakukan di Balai Besar Kereta Api Bandung, juga dilakukan dibeberapa kantor eksploitasi. Setelah kekuasaan Balai Besar Kereta Api diambil alih, pada tanggal 28 September 1945 dibentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).

3. Zaman Penyerahan kedaulatan (sampai sekarang)

Karena bentuk pemerintahan RI diganti menjadi RIS, maka DKARI pun disesuaikan menjadi DKARIS pada tanggal 1 Januari 1950, tetapi pada akhirnya DKARIS diubah kembali menjadi DKARI karena bentuk pemerintahan kembali menjadi RI. Perkembangan selanjutnya perubahan DKARI menjadi PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api) pada tanggal 25 Mei 1965 berdasarkan undang- undang nomor 12/1965. dan sejak tanggal 1 April 1979 resmi menjadi PJKA.

Berdasarkan PP nomor 57 tahun 1990, sejak 1 Januari PJKA berubah menjadi PERUMKA (Perusahaan Umum Kereta Api). Berdasarkan peraturan tersebut telah dikeluarkan SK Menteri Perhubungan nomor 8/23 Februari 1991 yang isinya menetapkan tugas, fungsi, struktur, organisasi dan tata kerja PERUMKA.

Berdasarkan PP nomor 19 tahun 1998 tanggal 3 Februari 1998, Keppres nomor 38 tahun 1999 tanggal 17 Mei 1999 dan akta notaris

Imah Fatimah, SH nomor 2 tanggal Juni 1999 PERUMKA berubah status menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

4.1.2 Kereta Api yang Beroperasi

Kereta api merupakan moda transportasi yang mempunyai karakteristik pengangkutan secara masal untuk melayani penumpang, kereta api juga merupakan alat utama dalam sistem transportasi nasional untuk mendukung pembangunan nasional. Stasiun tawang memiliki kereta api dengan rute pengoperasian diantaranya :

Tabel 4.1

Jadwal keberangkatan kereta api

Jam Nama Kereta Tujuan

01.15 Bangun Karta Sub Turi 02.05 Sembrani Sub Turi 03.17 Argo Anggrek Sub Turi 05.30 Argo Sindoro Gambir 06.20 Harina Sub Turi 07.09 Blora Jaya Bojonegoro 08.00 Fajar Utama Pasar Senen 09.12 Kalijaga Purwosari 11.58 Argo Anggrek Gambir 12.49 Blora Jaya Cepu 15.20 Argo Anggrek Sub Turi 16.00 Argo Muria Gambir 16.15 Kamandaka Puworkerto 17.02 Cepu Ekpress Cepu 20.00 Monoreh Pasar Senen 20.35 Harina Bandung 21.03 Bangun Karta Gambir

21.26 Gumarang Jakarta Kota 22.20 Majapahit Malang 22.22 Majapahit Pasar Senen 22.40 Gumarang Sub Turi 23.02 Sembrani Gambir 23.58 Argo Anggrek Gambir Sumber : Stasiun Tawang Semarang, 2014

4.1.3 Visi dan Misi PT. Kereta Api (Persero)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1998 PT. KAI memiliki tugas pokok menyelenggarakan angkutan penumpang dan barang melalui jalan rel. Selain tugas pokok tersebut, sesuai dengan GBHN, PT. KAI juga diwajibkan untuk mengoptimalkan kapasitas angkut, modernisasi teknologi prasarana dan sarana, serta menyempurnakan manajemen dan mutu pelayanan jasa angkutan kereta api.

1. Visi dari PT.Kereta Api (Persero) adalah :

Menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang berfokus pada pelayanan pelanggan dan memenuhi harapan pemangku kepentingan. 2. Misi dari PT.Kereta Api (Persero) adalah :

Menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya melalui praktik bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi pemangku kepentingan dari kelestarian lingkungan berdasarkan empat pilar utama; Ketepatan Waktu, Pelayanan, Keselamatan dan kenyamanan.

4.1.4 Tujuan PT.Kereta Api (persero)

Adapun tujuan dari PT Kereta Api (Persero) sebagai berikut :

1. Turut serta melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional khususnya di bidang transportasi

2. Mendukung penyediaan barang/jasa di bidang perkeretaapian yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat di pasar domestic maupun mancanegara

3. Meningkatkan kemampuan perawatan sarana dan prasarana perkeretaapian, serta menyelengarakan usaha penunjang bidang sarana dan prasarana kereta api dan bermanfaat umum dengan menerapkan prinsip perseroan terbatas.

4.1.5 Struktur Organisasi PT. Kereta Api DAOP IV Semarang

Struktur organisasi merupakan kerangka dari hubungan antara bagian hubungan yang satu dengan yang lain, PT. KAI Daop IV Semarang membentuk struktur organisasi dengan tujuan dapat terlaksananya tugas serta tujuan instansi karena semua tugas dan tanggung jawab telah terbagi secara berjenjang dan setiap bagian telah mengetahui tugas pokok dan hubungan kerjanya.

Gambar 4.1

Struktur Organisasi PT.KAI Daop IV Semarang

Pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab masing -masing bagian dari struktur organisasi adalah sebagai berikut :

1. Kepala bagian administrasi yang mempunyai tugas pokok sebagai staff kepala Daop IV Semarang yang bertanggung jawab atas seluruh urusan administrasi dan seluruh wilayah Daop IV. Seksi Administrasi terdiri dari :

a. Sub Seksi sumber Daya Manusia (SDM)

Bertugas dalam pelaksanaan prencananaan kebutuhan, administrasi dan sistim informasi SDM.

b. Sub Seksi Pendayagunaan Keuangan

Bertugas melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan, pengesahan pembayaran gaji pengawai dan non pengawai.

c. Sub Seksi Anggaran dan Akuntansi

Bertugas dalam bidang penyusunan rencana kerja anggaran tahunan daerah operasi.

d. Sub Seksi Kerumahtanggaan dan Umum

Bertugas melaksanakan kegiatan protokoler, tata usaha, pengadaan alat perlengkapan dan keperluan kantor dan alat tulis kantor (ATK). e. Sub Seksi Hukum

Bertugas dalam hal pelaksanaan pertimbangan bantuan hukum. 2. Kepala Seksi Jalan dan Bangunan, bertugas pokok sebagai pembantu

KADAOP IV serta bertanggung jawab dalam segala urusan jalan dan bangunan milik PT. KAI serta mempersiapkan rencana anggaran belanja, jalan dan bangunan juga mengawasi dan mengkoordinir pekerjaan yang menyangkut bidang jalan dan bangunan seluruh Daop IV Semarang. Seksi jalan dan bangunan terdiri dari :

a. Pengawas

1) WASTEK jalan rel dan jembatan 2) Pengawas jalan rel

b. Sub Seksi Program

Bertugas melaksanakan penyusunan program anggaran dan evaluasi kinerja pemeliharaan jalan rel, sepur simpang dan jembatan.

c. Sub Seksi Jalan Rel

Bertugas melaksanakan penyusunan pemeliharaan rel. d. Sub Seksi Jembatan

Bertugas melaksanakan penyusunan pemeliharaan jembatan. e. UPT Resor Jalan Rel

Bertugas melaksanakan pemeliharaan jalan rel dan sepur simpang di wilayah kerjanya (yang sudah diatur batas wilayahnya) dengan dibantu beberapa Distrik jalan rel.

f. UPT Jembatan

Bertugas melaksanakan pemeliharaan jembatan sesuai dengan wilayah kerjanya.

3. Kepala Seksi Operasi, bertugas membantu Kepala Daop IV Semarang serta bertanggung jawab di bidang lalu lintas perjalanan dan menjaga penyelesaian akhir penyelenggaraan lalu lintas.

4. Kepala Staf Traksi, bertugas menyiapkan kereta penumpang atau kereta barang lokomotif.

5. Kepala Seksi Niaga, mempunyai tugas dan bertanggung jawab dalam bidang pemasaran barang maupun pembinaan penumpang guna mencapai program yang ditentukan.

Kepala Seksi Niaga dibantu oleh :

a. Kepala Sub Seksi Pemasaran Angkutan Penumpang

Mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program dan evaluasi kinerja pemasaran angkutan penumpang, menganalisis dan melakukan negosiasi tarif, menganalisis keluhan pengguna jasa serta melaksanakan pembinaan pelanggan.

b. Kepala Sub Seksi Prasarana Barang

Mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program dan evaluasi kinerja pemasaran angkutan penumpang, menganalisis dan

melakukan negosiasi tarif, menganalisis keluhan pengguna jasa serta melaksanakan pembinaan pelanggan.

6. Kepala Unit Pelaksana Teknis, tugas pokoknya adalah membantu KADAOP IV dalam mengatur atau menghitung kebutuhan pengawas di stasiun atau kebutuhan pegawai yang sedang mengalami diklat, serta bertanggung jawab secara langsung dalam mengangani masalah operasional dan lainnya.

4.2 Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian dimulai dari uraian berdasarkan karakteristik responden yang dipergunakan sebagai obyek penelitian. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data yang dapat memberikan informasi berkaitan dengan karakteristik responden penumpang pada PT.KAI Daop IV Semarang. Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh responden diperoleh informasi data identitas responden. Penyajian data mengenai identitas responden di sini, yaitu untuk memberikan gambaran tentang keadaan data individu dari responden, yang meliputi kategori jenis kelamin, umur, pekerjaan dan pendapatan yang dapat dijelaskan pada tabel - tabel berikut :

1. Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari hasil penyebaran kuesioner kepada 100 responden berdasarkan jenis kelamin yang merupakan penumpang kereta api, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.2

Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Responden Presentase %

Pria 35 35,0

Wanita 65 65,0

Total 100 100,0

Dari tabel di atas dapat diidentifikasikan bahwa dari total 100 responden dalam penelitian ini, jumlah responden laki - laki adalah 35 responden (35%) sedangkan jumlah responden wanita adalah 65 responden (65%).

2. Identitas Responden Berdasarkan Umur

Dari hasil penyebaran kuesioner kepada 100 responden berdasarkan umur yang merupakan sampel penumpang kereta api, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.3

Identitas Responden Berdasarkan Umur

Umur Jumlah Responden Presentase % <20 Tahun 7 7,0 21-25 Tahun 23 23,0 26-30 Tahun 44 44,0 >30 Tahun 26 26,0 Total 100 100,0

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.3 Dapat diketahui bahwa untuk responden yang terbanyak adalah yang berumur antara 26-30 tahun yaitu sebanyak 44 responden (44%), umur antara 21-25 tahun sebanyak 23 responden (23%), umur antara >30 tahun sebanyak 26 responden (26%), umur <20 tahun sebanyak 7 responden (7%).

3. Identitas Responden Berdasarkan Pekerjaan

Dari hasil penyebaran kuesioner kepada 100 responden berdasarkan pekerjaan yang merupakan sampel penumpang kereta api, maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.4

Identitas Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Jumlah Responden Presentase % Pelajar-Mahasiswa 10 10,0 Swasta 57 57,0 Wiraswasta 21 21,0 PNS/TNI/POLRI 10 10,0 Lainnya 2 2,0 Total 100 100,0

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa pekerjaan kategori swasta yaitu sebanyak 57 responden (57%), kategori pelajar/ mahasiswa 10 responden (10%), kategori wiraswasta sebanyak 21 responden (21%), kategori PNS/TNI/POLRI sebanyak 10 responden atau (10%) dan kategori lainnya 2 responden (2%).

4. Identitas Responden Berdasarkan Pendapatan

Dari hasil penyebaran kuesioner kepada 100 responden berdasarkan pendapatan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, maka diperoleh gambaran responden sebagai berikut :

Tabel 4.5

Identitas Responden Berdasarkan Pendapatan

Pendapatan Jumlah Responden Presentase % < Rp. 500.000,- 8 8,0 Rp. 500.001,- s/d Rp. 1.000.000,- 10 10,0 Rp. 1.000..001,- s/d Rp. 2.500.000,- 39 39,0 Rp.2.500.001,- s/d Rp. 4.000.000,- 28 28,0 >Rp. 4.000.001,- 15 15,0 Total 100 100,0

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

Dari tabel di atas dapat diidentifikasikan bahwa pendapatan responden terbanyak adalah Rp. 1.000..001,- s/d Rp. 2.500.000,- sebanyak 39 responden (39%), pendapatan Rp.2.500.001,- s/d Rp. 4.000.000,- sebanyak 28 responden (28%), pendapatan > Rp. 4.000.001,- sebanyak 15 responden (15%), pendapatan Rp. 500.001,- s/d Rp. 1.000.000,- sebanyak 10 responden (10%), dan pendapatan < Rp. 500.000,- sebanyak 8 responden (8%).

4.3 Analisis Kualitatif

1. Tanggapan Responden Terhadap Pelayanan (X1)

Variabel aspek pelayanan bertujuan untuk mengukur pelayanan yang diberikan oleh petugas/ karyawan PT.KAI Daop IV Semarang pada stasiun Tawang kepada pengguna jasa kereta api. Variabel aspek keputusan pembelian tiket kereta api diukur dengan menggunakan indikator variabel aspek pelayanan adalah sebagai berikut :

a. Tanggapan responden mengenai karyawan PT. KAI Daop IV Semarang mempunyai kemampuan dalam melayani penumpang dengan baik.

Tanggapan dari 100 responden bahwa karyawan PT. KAI Daop IV Semarang mempunyai kemampuan dalam melayani penumpang dengan baik, adalah seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6

Karyawan PT. KAI Daop IV Semarang mempunyai kemampuan dalam melayani penumpang dengan baik

Skor Tanggapan Jumlah

Responden Persentase % 1 Cukup Setuju 21 21,0 2 Setuju 45 45,0 3 Sangat Setuju 34 34,0 Total 100 100,0

Sumber : Datar primer yang diolah, 2015

Pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 34 orang (34,0%), responden yang menjawab setuju sebanyak 45 orang (45,0%), dan responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 21 orang (21,0%). Dalam hal ini, karyawan PT.KAI Daop IV Semarang mempunyai kemampuan dalam melayani penumpang dengan baik, responden banyak menjawab setuju.

b. Tanggapan responden mengenai ketepatan waktu dalam pelayanan yang diberikan oleh pihak PT. KAI Daop IV Semarang terhadap konsumen.

Tanggapan dari 100 responden mengenai ketepatan waktu dalam pelayanan yang diberikan oleh pihak PT. KAI Daop IV Semarang terhadap konsumen adalah sebagai berikut :

Tabel 4.7

Ketepatan waktu dalam pelayanan yang diberikan oleh pihak PT. KAI Daop IV Semarang terhadap konsumen

Skor Tanggapan Jumlah

Responden Persentase % 1 Tidak Setuju 1 1,0 2 Cukup Setuju 13 13,0 3 Setuju 49 49,0 4 Sangat Setuju 37 37,0 Total 100 100,0

Sumber : Datar primer yang diolah, 2015

Pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 37 orang (37,0%), responden yang menjawab setuju sebanyak 49 orang (49,0%), responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 13 orang (13,0%) dan responden yang menjawab tidak setuju hanya 1 orang (1%). Ketepatan waktu pelayanan yang diberikan oleh pihak PT. KAI Daop IV Semarang terhadap konsumen sudah sesuai dengan yang diinginkan, responden banyak menjawab setuju.

c. Tanggapan responden mengenai kerapian dan kesopanan petugas PT. KAI Daop IV Semarang.

Tanggapan dari 100 responden mengenai kerapian dan kesopanan petugas PT. KAI Daop IV Semarang, adalah seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.8

Kerapian dan Kesopanan Petugas PT. KAI Daop IV Semarang

Skor Tanggapan Jumlah

Responden Persentase % 1 Cukup Setuju 20 20,0 2 Setuju 45 45,0 3 Sangat Setuju 35 35,0 Total 100 100,0

Sumber : Datar primer yang diolah, 2015

Pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 35 orang (35,0%), responden yang menjawab setuju sebanyak 45 orang (45,0%) dan responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 20 orang (20,0%). Mengenai mengenai kerapian dan kesopanan petugas PT. KAI Daop IV Semarang, responden banyak menjawab setuju.

2. Tanggapan Responden Terhadap Harga (X2)

Variabel harga yang diberikan kepada penumpang di stasiun kereta api Tawang Semarang bertujuan untuk memberikan nilai dari suatu pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh perusahaan. Variabel aspek harga diukur menggunakan indikator sebagai berikut :

a. Tanggapan responden mengenai keterjangkauan harga tiket kereta api.

Tanggapan dari 100 responden keterjangkauan harga tiket kereta api, adalah seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.9

Keterjangkauan harga tiket kereta api

Skor Tanggapan Jumlah

Responden Persentase % 1 Tidak Setuju 5 5,0 2 Cukup Setuju 30 30,0 3 Setuju 35 35,0 4 Sangat Setuju 30 30,0 Total 100 100,0

Sumber : Datar primer yang diolah, 2015

Pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 30 orang (30,0%), responden yang menjawab setuju sebanyak 35 orang (35,0%), responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 30 orang (30,0%) dan responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 5 orang (5,0%). Mengenai keterjangkauan harga tiket kereta api, responden banyak menjawab setuju.

b. Tanggapan responden mengenai harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan.

Tanggapan dari 100 responden mengenai harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan, seperti terlihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10

Harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan

Skor Tanggapan Jumlah

Responden

Persentase %

1 Sangat Tidak Setuju 1 1,0

2 Tidak Setuju 1 1,0

3 Cukup Setuju 27 27,0

4 Setuju 47 47,0

5 Sangat Setuju 24 24,0

Total 100 100,0

Sumber : Datar primer yang diolah, 2015

Pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 24 orang (24,0%), responden yang menjawab setuju sebanyak 47 orang (47,0%), responden yang menjawab cukup setuju sebanyak 27 orang (27,0%), responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 1 orang (1,0%) dan responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 orang (1,0%). Mengenai harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas

Dalam dokumen ANALISIS PELAYANAN HARGA PROMOSI DAN BRA (Halaman 62-98)

Dokumen terkait